I Nengah Kerta Besung
Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali
Articles
31
Documents
PEGAGAN (Centella asiatica) SEBAGAI ALTERNATIF PENCEGAHAN PENYAKIT INFEKSI PADA TERNAK

Buletin Veteriner Udayana Vol. 1 No. 2 Agustus 2009
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pegagan merupakan tanaman yangbanyak tumbuh di daerah trofis. Pegaganmengandung bahan aktif triterpenoidsaponin yang bermanfaat untukmeningkatkan total sel darah putih,aktivasi makrofag dan titer antibodi,sehingga dapat dipakai sebagaipencegahan terhadap penyakit infeksipada hewan maupun pada manusia.Dengan demikian perlu diteliti lebihlanjut tentang peranan pegagandalammencegah infeksi virus, bakteri, jamurdan parasit baik pada ternak maupunhewan kesayangan.

PENGARUH EKSTRAK PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA) DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS FAGOSIT MAKROFAG PERITONEUM MENCIT TERHADAP SALMONELLA TYPHI

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No.2 Agustus 2011
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

main problem in controlling and handling the disease is that only few antibiotics areavailable to cure the disease. In addition, the prolonged use of such antibiotics often leadsto a bacterial resistant against the antibiotics. Herbal drugs such as Centella asiatica (inIndonesia is known as pegagan) contains triterphenoids saphonin which acts asimmunostimulant capable of enhancing the phagocytic activity of macrophages. However,no study has been conducted to investigate the use pegagan in capacity of macrophage ofmice infected with Salmonella typhi. A study was therefore conducted to find out the abilityof Centella asiatica in enhancing phagocytic capacity of macrophages toSalmonella typhi.Experimental laboratory studies were conducted using Completely Randomized Design.Mice were divided into 4 groups and they were treated respectively with destilated water(negative control), 125, 250, dan 500 mg/kg bw of Centella asiaticaextract. The treatmentwas conducted daily for 2 weeks and the mice were then inoculated with 105 cells/ml of S.typhi. The capacity of macrophages were examined 24 hours following inoculation with S.typhi. The result showed that treatment of mice withCentella asiatica extract significantly(p<0,05) enhanced capacity of macrophages in phagocyting S. thypi. The highest capacityof macrophages were observed in mice treated Centella asiatica extract at the dose of 500mg/kg bw with the capacity of 209,12±26,17 cells per 50 macrophage.

Pengaruh Pemberian Pegagan (Centella asiatica) terhadap Gambaran Mikroskopis Usus Halus Mencit yang Diinfeksi Salmonella typhi

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian pegagan (Centella asiatica)terhadap gambaran mikroskopis usus halus mencit yang diinfeksi Salmonella typhi.Penelitian ini menggunakan sampel usus halus mencit jantan strain Balb/C yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan berkisar antara 20-35 gram. Sebanyak 24 ekor mencit dipakaidalam penelitian, dibagi empat kelompok, yakni kelompok 1 sebagai kontrol diberikanaquades steril, kelompok 2 diberikan pegagan dengan dosis 125 mg/kg bb, kelompok 3diberikan pegagan 250 mg/kg bb, dan kelompok 4 diberikan pegagan 500 mg/kg bb.Setelah 14 hari seluruh mencit diinfeksi dengan S. typhi. Pada hari ke-15 dilakukannekropsi untuk pengambilan sampel berupa usus halus dan dibuat preparat histology,menggunakan pewarnaan Hematoxilin-Eosin. Selanjutnya dilakukan pengamatan diLaboratorium Histologi Fakultas Kedokteran Hewan, terhadap gambaran mikroskopis yangmeliputi perubahan berupa : perdarahan, infiltrasi sel radang, dan deskuamasi epitel usushalus. Metode pewarnaan menggunakan Hematoxilin-Eosin. Data yang diperoleh dianalisisdengan Uji Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pegagan dengandosis 125 mg/kg bb dengan kontrol tidak berbeda nyata (p>0,05), apabila dibandingkandengan dosis pegagan250 mg/kg bb memberikan hasil yang berbeda nyata (p<0,05) danantara pemberian dosis pegagan 250 mg/kg bb dan 500 mg/kg bb memberikan hasil yangtidak berbeda nyata (p>0,05). Hal ini berarti, pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica)dengan dosis 250 mg/kg bb dapat mencegah perubahan gambaran mikroskopis usus halusakibat infeksi S. typhi.

Pengaruh Pemberian Pegagan (Centella asiatica) terhadap Struktur Mikroskopis Hati Mencit Pasca Infeksi Salmonella typhi

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Centella asiatica (pegagan) merupakan salah satu tanaman obat yang memilikibanyak fungsi, salah satunya adalah sebagai imunostimulator, yang berarti dapatmerangsang tubuh untuk meningkatkan respon imun. Namun efek pegagan terhadapstruktur mikroskopis hati pasca diinfeksi Salmonella typhi (S.typhi) belum pernahdilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak pegagan terhadapstruktur mikroskopis hati mencit yang diinfeksi S.typhi . Penelitian ini menggunakan 24ekor mencit jantan umur 8-12 minggu, yang dibagi menjadi 4 grup. P0 sebagai kontroldiberikan aquades, dan grup P1,P2, dan P3, masing-masing diberikan 125 mg/bb, 250kg/bb mg, 500 mg kg/bb. perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Extrak pegagan diberikansecara oral selama 14 hari, pada hari ke 15 seluruh mencit diinfeksi dengan S.typhi,kemudian pada hari ke 14 semua mencit dinekropsi dan hati diambil untuk diprosespembuatan preparat dengan metode pewarnaan hematoxylin eosin (HE). Pengamatandilakukan terhadap gambaran mikroskopis berupa perdarahan, degenerasi vakuola, dannekrosis. Hasil analisis menunjukkan mencit yang tidak diberikan pegagan dengan mencityang diberikan pegagan dosis 125 mg/kg bb., memberikan hasil yang tidak berbeda nyataNamun mencit yang diberikan pegagan dosis 250 mg/kg bb, dan 500 mg/kg bb memberikangambaran mikroskopis yang berbeda nyata.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KUNYIT PADA ANAK BABI YANG MENDERITA COLIBACILLOSIS

Majalah Ilmiah Peternakan Vol 12, No 3 (2009)
Publisher : Majalah Ilmiah Peternakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kolibasilosis adalah salah satu penyakit pada anak babi yang disebabkan oleh Escherichia coli (E.coli) dan umumnya penyakit tersebut diobati dengan antibiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pengaruh kunyit sebagai obat alternatif untuk mengobati kejadian kolibasilosis pada anak babi. Dua belas ekor anak babi yang menderita kolibasilosis dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yakni kelompok pertama adalah anak babi sebagai kontrol yakni tidak diberikan ekstrak kunyit maupun sulfonamida. Kelompok kedua anak babi diberikan ekstrak kunyit, sedangkan kelompok ketiga anak babi diobati dengan sulfonamida. Data berupa kejadian diare dan total bakteri E. coli dianalisis dengan analisis varian. Pengaruh pemberian kunyit dan pengobatan dengan sulfonamida nampak pada hari kelima setelah perlakuan, yakni berupa penurunan kejadian diare dan pengurangan total bakteri E.coli. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa ekstrak kunyit sangat potensial dapat dipakai sebagai obat alternatif dalam pengobatan penyakit kolibasilosis pada anak babi. THE EFFECT OF TURMERIC (Curcuma longa) ON PIGLETS WITH COLIBACILLOSIS ABSTRACT Colibacillosis is one of diseases in piglets coused by Eschericia coli (E.coli), and commonly antibiotica therapy to used preventively that diseases. The present study was conducted to observe that effect of turmeric (Curcuma longa), as a alternative drugs on therapy of collibacillosis. Twelve of piglets with colibacillosis diseases were devided in to three groups, each group consisted of four piglets. First group was the negative control group without treatment of sulphonamides and turmeric too, the second group was the turmeric extract treatment and the last group was the colibacillosis piglets treated with sulphonamides. Analisis of variance was to analysed of data from diarrhea occurrence and a total of E. coli bacteria. Effect of turmeric and sulphonamides on colibacillosis of all piglets was detected at fifth days, with suppressed of diarrhea occurrence and the reduced of total of E.coli bacteria. The result of this study showed that turmeric has potential alternative drugs for treatment a colibacillosis in piglets.

KEJADIAN KOLIBASILOSIS PADA ANAK BABI

Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13, No 1 (2010)
Publisher : Majalah Ilmiah Peternakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian kolibasilosis pada anak babi berdasarkan kelompok umur. Sebanyak 2005 ekor sampel berupa usap rektal anak babi diambil dari peternakan babi di Kabupaten Badung, Tabanan, Gianyar dan Kodya Denpasar di Provinsi Bali. Seluruh sampel dilakukan isolasi dan identifikasi Escherichia coli (E. coli). Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian kolibasilosis pada anak babi sebesar 846 (42%), dan faktor resiko tertinggi kejadian kolibasilosis ini ditemukan pada anak babi berumur antara 0-2 minggu sebesar 62%. INCIDENCE OF COLIBACILLOSIS IN PIGLETS ABSTRACT A study was conducted to know the incidence of colibacillosis in piglets based of age factors. A total 2005 samples of fecal swab isolated from a piglets in farm of Badung, Tabanan, Gianyar and Denpasar regency, district of Bali. Fecal swab samples were collected from feces and continued by isolation and identification Escherichia coli. This study showed that, the incidence of colibacillosis in piglets were 846 (42%) and the high risk factors occurrence of colibacillosis for young piglets between 0-2 weeks (62%).

Potensi Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia Coli secara In Vitro

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examined the response of Escherichia coli codes ATCC (American Type Culture Collection) 25922 obtained from the Laboratorium Daerah of binahong juice leaf with determination test the ability of the inhibition of growth of Escherichia coli by standard Kirby-Bauer disc using five treatments namely binahong juice leaf (0 %, 25%, 50%, 75% and 100%) and negative controls physiological NaCl 0.9% and a positive control with oxytetracycline with repetition as much as four times. Reaction of Escherichia coli growth inhibition by leaf juice and antibiotics binahong shown by the formation of a subsequent inhibition area was measured as the diameter of the circle of the inhibition. Data were obtained, will be tested with Variety Analysis (Test F), followed by Duncans test of data processing can then proceed to determine the regression analysis. And all the data processed using SPSS. The results of this study indicate that the juice of binahong leaf (Anredera cordifolia (Tenore) steenis) at a concentration of 0% indicates the average resistivity of (0.000 mm); concentration of 25% (7.225 mm); concentration of 50% (8.325 mm) concentration of 75% (10.125 mm) and concentration 100% (12.325 mm). In addition, binahong leaf juice could inhibit the growth of Escherichia coli ATCC 25922, and binahong juice leaf statistically significant (P< 0.01) against the bacteria Escherichia coli and there were highly significant differences (P< 0.01) at each concentration diameter. As well, the increased concentration of binahong leaf juice (Anredera cordifolia (Tenore) steenis) increased the inhibition on the growth of Escherichia coli in vitro.

Haemagglutination Activities of Streptococcus equi SUBSP. zooepidemicus in Pigs Blood

Media Veteriner Vol 6, No 1 (1999): Media Veteriner
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.664 KB)

Abstract

Sixteen isolates of group C streptococci taken during outbreak in pigs and monkeys in Bali were examined for their haemaglutination activities using 2% erythrocyte suspension from pigs. Five isolates (31,25%) showed very strong (++) result with geometric titer mean of 22.8, other isolates (31,25%) gave strong (+) results with geometric titer mean of 22 and the remain six isolates (37,5%) showed weak or negative haemagglutination activities. Nonencapsulated bacteria yielded haemagglutination activities stronger than encapsulated. Treatments with heating up to 90 °C, HCl extraction and opsonization reduced haemagglutination titers.

Analisis Faktor Tipe Lahan dengan Kadar Mineral Serum Sapi Bali

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk melakukan analisis faktor tipe lahan pemeliharaan dengan kadar mineral (Mg, K, Na, Ca, Cu, Co, Zn, Fe) serum sapi bali.  Sampel berupa serum diambil masing-masing 15 ekor, berasal dari tipe lahan tegalan, kebun, sawah dan hutan. Analisis mineral menggunakan metode Apriyantono, dkk. (1989) dengan pengabuan basah, dan kadar mineral dibaca dengan alat AAS (Atomic Absorpsion Spectrophotometry). Hasil penelitian menunjukkan rerata mineral  magnesium sapi bali yang dipelihara pada lahan tegalan : 22,36 mg/l sedangkan tembaga : 0,09 mg/l mg/l. Di lahan perkebunan, kalium : 24,84 mg/l dan kobalt : 1,80 mg/l. Serum sapi bali di lahan hutan, kadar natrium : 19,63 mg/l dan seng: 0,33 mg/l.  Kalsium : 6,23 mg/lt, besi : 8,39 mg/lt diperoleh pada sapi bali yang dipelihara pada lahan persawahan. Hasil analisis membuktikan faktor tipe lahan pemeliharaan sangat terkait dengan kadar mineral serum sapi bali. Sapi bali yang dipelihara pada lahan pemeliharaan dengan ketersediaan mineral yang kurang menyebabkan terjadinya defisiensi mineral.

Pengaruh Pemberian Pegagan (Centella asiatica) terhadap Gambaran Mikroskopis Limpa Mencit yang Diinfeksi Salmonella typhi

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No.1 Pebruari 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak pegagan terhadap gambaran histologis limpa mencit yang diinfeksi Salmonella typhi. Mencit sebanyak 24 ekor dibagi empat kelompok, yakni kelompok I (P0) sebagai kontrol diberikan aquades steril, kelompok II (P1) diberikan pegagan dengan dosis 125 mg/kg bb, kelompok III (P2) diberikan pegagan 250 mg/kg bb, dan kelompok IV (P3) diberikan pegagan 500 mg/kg bb. Setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Pegagan di berikan setiap hari selama 14 hari. Setelah 14 hari seluruh mencit diinfeksi S.typhi. Pada hari ke-15 dilakukan nekropsi untuk pengambilan sampel berupa limpa dan dibuat preparat histologi. Pengamatan preparat dilakukan di Laboratorium Histologi, meliputi persentase nekrosis. Metote pewarnaan menggunakan Haematoxylin Eosin (HE). Data yang diperoleh dianalisis dengan Uji Kruskal-Wallis. Hasil analisis menunjukan gambaran  mikroskopis limpa mencit yang diberikan pegagan dosis 500 mg/kg bb berbeda nyata (P<0,05) dengan limpa mencit yang diberikan pegagan dosis 125 mg/kg bb, 250 mg/kg bb dan mencit yang tidak diberikan pegagan.