I Wayan Batan
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 45 Documents
Articles

Keragaman Silak Tanduk Sapi Bali Jantan dan Betina

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sapi merupakan salah satu hewan bertanduk dan tanduk berfungsi sebagai pertahanan diridari predator. Pada penelitian ini dicari persentase silak, dari berbagai ragam silak, yakni :silak bajeg, congklok, cono, pendang, manggulgangsa, dan anoa yang ditemukan pada sapibali di Pasar Hewan Beringkit. Penelitian ini menggunakan sampel 1000 pasang tanduksilak sapi bali dewasa, yang terdiri dari 500 pasang tanduk sapi bali jantan dan 500 pasangtanduk sapi bali betina. Hasil penelitian menunjukkan pada sapi bali jantan ditemukantanduk silak bajeg (26,3%) tanduk silak congklok (1,6%), tanduk silak cono (9,1%), tanduksilak pendang (13%), sedangkan tidak ditemukan ragam silak manggulgangsa dan tanduksilak anoa. Sapi bali betina terdiri dari 3,5% silak bajeg, 0,1% silak congklok, 36%, 5,9%silak cono, 2,1% silak pedang , 2,4% silak manggulgangsa dan tanduk silak anoa. Silaktanduk yang paling banyak ditemukan pada sapi bali jantan yaitu tanduk silak bajeg,sedangkan pada sapi bali betina yaitu tanduk silak cono. Silak pada sapi bali bervariasi,baik dari jenis, ukuran dan bentuk. Silak manggulgangsa dan anoa hanya muncul pada sapibali betina.

Analisis Faktor Risiko Penyakit Distemper pada Anjing di Denpasar

Jurnal Veteriner Vol 10, No 3 (2009)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study was conducted to identify the risk factors of canine distemper in Denpasar, Bali. Risk factorsfor canine distemper were characterized using hospital records of private veterinary practitioners. Thisstudy showed that there was no difference in the susceptibility to canine distemper virus infection betweenmales and females. The occurrence of canine distemper disease is not significantly affected by the season.The risk of canine distemper disease for young dogs, between 0 and 1 year was 4.95-fold increase ascompared the risk of disease for dogs that were older than 1 year (Oods-Ratio: 4.95). Incomplete vaccinationwas associated with a 3.77-fold increase in the risk of canine distemper (Oods-Ratio: 3.77).

Vitrifikasi Blastosis Mencit dengan Metode Kriolupv ?O

Jurnal Veteriner Vol 10, No 4 (2009)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cryopreservation is an ultra rapid freezing process to preserve tissue or organ. The studywas conducted to identify the effectiveness of cryoloop vitrification method and the viability ofembryos following vitrification. Embryos at blastocyst stage were vitrified by placing them inequilibration medium containing 10% ethylene glycol (EG) and phosphate buffer saline (PBS) wichsupplemented with 20% new born calf serum for 8-10 minutes. The blastocysts were then removedand put in vitrification medium (15% dimethyl sulfoxide, 15% EG, and 0.5M sucrose), and theprocess in the vitrifivcation medium not longer than 25-30 seconds. The blastocysts were immediatelytransferred to the vitrification medium film in the cryoloop and plunged into 100 ml liquid nitrogen.The warming process was done by immersing the cryoloop which carried the vitrified blastocstsinto PBS supplemented with 20% serum and 0.5M sucrose for 1 minute, and then removed to samesolution supplemented with 0.25M sucrose and 0.1M sucrose for 2 minutes respectively. Theblastocysts were washed 4 times in kalium simplex optimized medium (KSOM) and cultured indrops of KSOM in 5% CO2 incubator at 370C. The observations were done every 6 hours for 48hours using inverted microscope ( Olympus IX70 Japan). The viability of embryos was assessed onthe basis of the intact morphology, reexpansion of the blastosul, and the development of embryosinto advance stage. The results showed that 85.71% of vitrified embryos, developed into advancestages and 19% of them hatched. In conclusion the cryoloop can be used to vitrify the embryos.

Kebuntingan Hasil Transfer Blastosis Mencit yang Dibekukan dengan Metode Vitrifikasi Kriolup

Jurnal Veteriner Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the study was to assess the viability of vitrified embryo using cryoloop as a carrier ofembryo. The blastocyst stage embryos were collected from superovulated mice. Embryos were frozenusing vitrification method and vitrified embryos were loaded on copper filament cryoloop before dipped inliquid nitrogen. The viability of vitrified embryos was assess in vitro by medium cultered and in vivo bytransfered them to recipient mice. The result shows the viability of vitrified embryos was 85,7% after 24hours cultured and the embryos were born from two pregnant recipient mice out of nine (22%) or fouroffspring out of 63 trasfered embryos (6%). In conclusion, vitrified blatocyst stage embryos using cryoloopas a carrier could keep the viability of the embryos and they could be transfered to the recipient mice andwere born normally.

Jenis Ular dan Sebarannya di Kecamatan Kuta Selatan Badung Bali

Indonesia Medicus Veterinus Vol.1 (1) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian untuk mengetahui jenis ular dan sebarannya di wilayah Kecamatan Kuta Selatan Badung Bali telah dilakukan dengan metode observasi langsung (Visual Encounter Survey) dengan cara menjelajah dan mengidentifikasi ular pada habitat yang dikelompokkan menjadi enam: (i) semak belukar, (ii) jalan, (iii) hutan pantai, (iv) hutan bakau, (v) pekarangan dan (vi) dalam tanah; di 5 lokasi: (i) Kelurahan Benoa dan (ii) Kelurahan Jimbaran; (iii) Desa Kutuh, (iv) Desa Pecatu dan (v) Desa Ungasan. Observasi dilakukan selama 45 hari (21 Mei 2011 sampai dengan 5 Juli 2011) pada tiga waktu berbeda yaitu: (i) pukul 11.00-12.00 WITA; (ii) pukul 18.00-19.00 WITA; dan (iii) pukul 21.00-22.00 WITA.Sebelas spesies ular berhasil diidentifikasi yaitu: Ahaetulla prasina, Cerberus rynchops, Dendrelaphis pictus, Lycodon aulicus capucinus, Ptyas korros, Phyton reticulatus, Ramphotyphlops braminus, Trimeresurus albolabris insularis, Naja sputatrix, Laticauda colubrina, dan Laticauda laticaudata; dengan sebaran 7 spesies ditemukan di Kelurahan Benoa; 8 spesies di Kelurahan Jimbaran; sedangkan di Desa Kutuh, Desa Pecatu, dan Desa Ungasan masing-masing lokasi satu spesies ular. Selama penelitian telah berhasil dikumpulkan 134 data pengamatan; dari 134 pengamatan peluang ditemukannya ular di wilayah Kecamatan Kuta Selatan adalah 33.8% sementara 66.2% tidak ditemukannya ular. Berdasarkan habitatnya, 4 spesies ular (A. prasina, C. rynchops, P. reticulatus dan P. korros) ditemukan di hutan bakau dan di jalan (D. pictus, T. albolabris insularis, L. aulicus capucinus, dan P. korros); dua spesies ditemukan di semak belukar (A. prasina, dan D. pictus), pantai (L. colubrina dan L. laticaudata), dan pekarangan (D. pictus dan N. sputatrix); sedangkan dalam tanah satu spesies (R. braminus). Berdasarkan waktu observasi, sebagian besar (35.0%) spesies ular ditemukan pada pukul 11.00-12.00 WITA, kemudian malam hari pukul 21.00-22.00 WITA (19.0%), sedangkan pada pagi hari (11.00-12.00 WITA) peluang menemukan ular relatif sedikit (8.0%). Secara umum wilayah Kecamatan Kuta Selatan masih merupakan wilayah daya dukung bagi keberanekaragaman spesies ular dan merupakan indikator lingkungan ekologi yang baik.

Karakteristik Simpul Tali Telusuk Sapi Bali dan Tali Keluh Sapi

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanganan ternak sapi membutuhkan keterampilan. Sapi adalah ternak bertubuh besar yang memiliki tenaga lebih kuat daripada manusia, memiliki tanduk yang bisa membahayakan bagi keselamatan orang yang menangani, mempunyai kemampuan menendang, serta memiliki tubuh yang berlipat ganda bobotnya dibandingkan dengan peternak. Penggunaan tali telusuk untuk merestrain sapi bali bagi masyarakat Bali bermata pencaharian sebagai peternak merupakan hal yang lumrah, begitu pula penggunaan tali keluh sapi di Jawa.

Gambaran Klinik Sapi Bali Tertular Rabies di Ungasan, Kutuh dan Peminge

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rabies di Bali terjadi sejak Oktober 2008. Awalnya Bali merupakan provinsi bebas rabies. Rabies di Bali telah menyebar ke beberapa kabupaten seperti Denpasar, Badung, Buleleng, Bangli, Tabanan, Gianyar, dan Karangasem. Hingga saat ini korban rabies pada manusia mencapai 122 orang. Desa Ungasan, Kuta Selatan, Badung, merupakan tempat awal terjadinya rabies pada manusia, dengan adanya laporan 4 warga meninggal, 2 diantaranya positif rabies. Rabies pada sapi bali dilaporkan telah terjadi di Kabupaten Tabanan. Berdasarkan informasi dari masyarakat desa Kutuh (tetangga desa Ungasan) tentang sapi-sapi milik warga yang mati dengan tanda-tanda rabies bersamaan dengan kejadian rabies pada anjing dan manusia.

Alur Penyebaran Rabies di Kabupaten Tabanan Secara Kewilayahan (Spacial)

Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rabies menulari Bali pada akhir 2008 dan hingga Februari 2011 kasus rabies terus menyebar di Bali dan menyebabkan 122 orang meninggal dunia. Di Kabupaten Tabanan sendiri terdapat 18 kasus meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran rabies di Kabupaten Tabanan secara kewilayahan (spasial), sehingga dapat diketahui daerah yang tertular rabies. Data dikumpulkan dari berbagai instansi seperti Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Peternakan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Dinas Peternakan Kabupaten Tabanan, Balai Besar Veteriner Denpasar. Data yang didapat kemudian disusun sedemikian rupa, ditabelkan dan selanjutnya dipetakan, sehingga ditemukan kasus rabies pertama dan bagaimana penyebaran rabies di Tabanan. Hewan Penular Rabies (HPR) di Tabanan yaitu Anjing, rabies pertama kali ditemukan di Desa Buahan (12 Agustus 2009), dan selanjutnya terus menyebar hingga menulari 13 desa di Kabupaten Tabanan. Penyebaran ini terjadi karena adanya campur tangan manusia dan penanganan rabies yang kurang tepat di daerah yang pertama tertular di Provinsi Bali. Rabies di tabanan telah menimbulkan 18 orang meninggal dunia, serta menulari 13 Desa.

Sebaran Umur Korban Gigitan Anjing Diduga Berpenyakit Rabies pada Manusia di Bali

Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

rabies termasuk penyakit zoonosis yang menyerang susunan saraf pusat serta dapat menyebabkan kematian. Kasus kematian akibat gigitan anjing rabies pada manusia di Bali dari Oktober 2008 sampai Februari 2011 adalah sebanyak 122 orang. Sebaran umur dari 122 orang korban gigitan akibat penyakit rabies bervariasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang didapat dari beberapa instansi seperti Dinas Peternakan Kabupaten dan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi Bali, dan BBVet Denpasar. Survey lapangan dilakukan dengan wawancara terhadap sejumlah keluarga korban rabies di Provinsi Bali. Data tersebut ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban gigitan hewan pembawa rabies (anjing) yang paling banyak berumur 41-50 tahun. Umur 81-90 tahun merupakan umur yang paling sedikit tergigit oleh hewan pembawa rabies (anjing). Untuk memperkecil jumlah korban penyakit rabies perlu digalakkan program vaksinasi secara berkala, pengontrolan terhadap populasi anjing, serta memberikan penyuluhan ke masyarakat luas tentang bahaya penularan penyakit rabies.

Tinjauan Pustaka: Kolaborasis pada ayam pedaging

Hemera Zoa Vol 75, No 2 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolibasilosis pasa unggas merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan, disebabkan oleh infeksi kuman Eschericha coli.

Co-Authors - HERBERT Abdul Azis Nasution Abdul Azis Nasution Adryani Ris Aida Louise Tenden Rompis Aisjiah Girinda ARIEF BOEDIONO Bibiana W Lay Bibiana W. Lay BIBIANA WIDIATI LAY Budiartawan, I Komang Alit Calvin Iffandi Depari, Eldarya Envisari Diana Mustikawati Ekowati Handayani Elpira Sukaratha, Elpira Emy Sapta Budiari Eustokia Yulisa Madu, Eustokia Yulisa Fanggidae, Betharia Criselda Farhani, Annas FERDANIAR FAKHIDATUL ILMI Findri Andriani, Findri Herbert . Hernomoadi Hoeminto Hutagaol, Wanda Della Oktarin I Gede Soma I Gusti Agung Gde Putra Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra I Gusti Agung Gede Putra Pemayun I Gusti Made Krisna Erawan I Ketut Gunata I KETUT SUADA I Ketut Suatha I Made Kardena I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Putu Gede Yudhi Arjentinia, I Putu Gede Yudhi I Putu Sampurna imam sobari INNA RAKHMAWATI ITA DJUWITA Ketut Adnyane Mudite Luh Putu Listriani Wistawan, Luh Putu Listriani Mas ruroh, Mas Minda Nealma Ni Nyoman Sutiati, Ni Nyoman Ni Wayan Listyawati Palgunadi Ni Wayan Sri Wiyanti, Ni Wayan Sri Nicolas Yarisetouw, Nicolas Nining Handayani Nining Handhayani NURUL FAIZAH Nurul Faiziah Nurul Masyita, Nurul PRANSIKA EKSY YONITA Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Putu Wirat, Putu Rasdi yanah Rasdiyanah . Sayu Raka Padma Wulan Sari, Sayu Raka Padma Wulan Sri Kayati Widiastuti, Sri Kayati Sri Kayati Widyastuti Sri Milfa Supar - Supar . Tjokorda Sari Nindhia Utami, IGA Monica Rizki Wahono Esti Prasetyaningtyas Wahono Esti PrasetyoningtyaserB Wirawan, I Gede Yunita Lestyorini