Efrida Basri
Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor. Telp. 0251-8633378

Published : 43 Documents
Articles

IMPREGNASI EKSTRAK JATI DAN RESIN PADA KAYU JATI CEPAT TUMBUH DAN KARET Basri, Efrida; Balfas, Jamal
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.074 KB)

Abstract

Penelitian sebelumnya menunjukkan karakteristik fisis, mekanis dan keawetan kayu jati cepat tumbuh (JCT) relatif lebih rendah dibanding kayu jati tradisional.  Berdasarkan hal tersebut, perlakuan modifikasi kayu dapat dilakukan dengan perlakuan tertentu untuk meningkatkan kualitas kayunya. Penelitian ini bertujuan menyempurnakan karakteristik kayu JCT dan karet dengan perlakuan impregnasi ekstrak jati dan resin hingga mendekati atau setara dengan karakteristik kayu jati tradisional.  Dalam penelitian ini dilakukan ekstraksi serbuk kayu jati tradisional dengan pelarut metanol.  Larutan ekstrak tersebut kemudian diimpregnasi ke dalam struktur kayu JCT dan karet dengan beragam konsentrasi menurut penambahan resin organik.  Resin yang digunakan sebagai campuran dalam penelitian ini adalah sirlak dan damar, masing-masing dengan konsentrasi berat 4, 6 dan 8% dari volume ekstrak.  Hasil penelitian menunjukkan perlakuan impregnasi larutan ekstrak jati terhadap kayu JCT dan karet mampu meningkatkan stabilitas dimensi kedua jenis kayu tersebut dengan nilai ASE lebih dari 50%, hingga setara dengan stabilitas jati tradisional. Penambahan resin sirlak maupun damar ke dalam larutan ekstrak jati secara nyata dapat lebih menyempurnakan sifat stabilitas dimensi kayu JCT dan karet secara proporsional menurut konsentrasi resin. 
PENGARUH UMUR POHON TERHADAP SIFAT DASAR DAN KUALITAS PENGERINGAN KAYU WARU GUNUNG (Hibiscus macrophyllus Roxb.) Basri, Efrida; Prayitno, T A; Pari, Gustan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 4 (2012):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data sifat kayu waru gunung sebagai indikator kualitas kayu didasarkan pada umur dan arah aksial serta pengaruhnya terhadap kualitas pengeringannya. Sifat dasar kayu yang diamati yaitu panjang serat, berat jenis (BJ), dan penyusutan kayu. Bahan kayu untuk penelitian diambil dari 3 umur, yaitu 8, 12, dan 16 tahun. Contoh uji ditentukan pada arah aksial batang, yakni pangkal, tengah dan bagian ujung. Untuk sifat dasar kayu, dari setiap bagian aksial dibuat contoh uji pada arah radial dari dekat empulur, tengah, dan dekat ke kulit. Ukuran dan prosedur untuk uji panjang serat mengacu pada prosedur di Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor, BJ dan penyusutan dengan standar ASTM D143-94 yang dimodifikasi, sedangkan pengujian sifat dan kualitas pengeringan mengacu pada metode Terazawa yang dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan panjang serat dan BJ waru gunung dipengaruhi oleh umur pada kedua arah aksial maupun radial. Berdasarkan sifat dasar dan kualitas pengeringan dari ketiga umur kayu menunjukkan hanya kayu umur16 tahun bisa memenuhi persyaratan untuk bahan mebel.
KARAKTERISTIK FISIS DAN MEKANIS GLULAM JATI, MANGIUM DAN TREMBESI Hadjib, Nurwati; Abdurachman, Abdurachman; Basri, Efrida
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.502 KB)

Abstract

BASIC PROPERTIES IN RELATION TO DRYING PROPERTIES OF THREE WOOD SPECIES FROM INDONESIA Basri, Efrida; Hadjib, Nurwati; Saefudin, Saefudin
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 2, No 1 (2005): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1081.8 KB) | DOI: 10.20886/ijfr.2005.2.1.49-56

Abstract

The objectives of this study were to investigate basic and drying properties of three wood species from Indonesia, i.e. kuda (Lannea coromandelica Merr.), waru (Hibiscus tiliaceus L. and mindi besar (Melia dubia Cav.). The basic properties include density, shrinkages, modulus of rupture (MOR), compression parallel to grain (C//), wood strength and anatomical structures. Meanwhile, the drying properties included drying time and drying defects. The initial-final temperature and humidity for each species was based on defects that resulted from high temperature drying trial.The results showed that the drying properties were significantly affected by wood anatomical structure. The initial-final drybulb temperature and wetbulb depression   for kuda wood are 50 -70ºC and 3-30ºC respectively, while the corresponding figures for waru wood are 65-80ºC and 6-30ºC, and for mindi besar wood are 55-80ºC and 4-30ºC. These drying schedules, however, still need further trial prior to their implementation in the factory-scale operation. All wood species studied have density and considerable strength recommended in their use for light medium construction purposes. Mindi besar wood has decorative appearance so it is suitable for furniture.
EFFECT OF SAPPAN WOOD (Caesalpinia sappan L) EXTRACT ON BLOOD GLUCOSE LEVEL IN WHITE RATS Saefudin, Saefudin; Pasaribu, Gunawan; Sofnie, Sofnie; Basri, Efrida
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 1, No 2 (2014): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.55 KB) | DOI: 10.20886/ijfr.2014.1.2.109-115

Abstract

Sappan wood or kayu secang (Caesalpinia sappan L.) was reported of having medicinal properties,  such as  natural antioxidant, relieve vomiting of blood, and mix of ingredients for malaria drugs.  The research was conducted to study the influence of ethanol extract from sappan wood on blood glucose level of white rats. The study of the blood glucose level in rats was carried out by using glucose tolerance method. It was measured by Refloluxs (Accutrend GC) with Chloropropamide 50 mg/200 g BW (Body weight) as positive control. The ethanol extracts were used in various concentrations 10, 20, 30, 40 and 50 mg/200 g BW per-oral and was observed every  hour,  beginning one hour before to 7 hours after the extract being administered. The results showed that treatment of ethanol extract of sappan wood by administer doses gave remarkable effect on the blood glucose level in white rat. It reduced the glucose level in the blood compared to the negative and positive control. Treatment of dose 30 mg/200 g BW gave similar effect to positive controls, while a dose of 50 mg/200 g BW gave lower blood glucose level (93 mg/dl) than the positive controls.
DRYING RASAMALA WITH COMBINED HEAT RELEASED FROM SOLAR ENERGY, FUEL-POWERED STOVE AND HEATER Yuniarti, Karnita; Basri, Efrida
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.2.181 - 190

Abstract

Pengeringankcryu rasamala dilakukan dalam 2 tahap. Padatahap awal,pengeringan dilakukan dari kondisi basah hingga mencapai kadar air rata-rata 40% denganbanya menggunakanpanas surya. Pada tahap berikut fiJa, kcryu rasamala dengan kadar air 40% dikeringkan hingga mencapai kering udara menggunakan kombinasi panas surya dan panas tungkupada siang hari dan panas heater untuk proses pada malam hari.Waktu pengeringan kayu rasamala pada tahap pertama berlangsung selama 16  hari dan pada tahap kedua hanya selama 5 hari. Selama proses pengeringan dengan kombinasi energi surya dan panas buatan (tungku  bakar dan heater), penggunaan bahan bakar solar adalah 9,52 liter danpemakaian listrik sekitar 592,2 kwh.  Sebagian besar kayu rasamala yang dikeringkan memiliki kualitas yang baik. Analisa kelcryakanftnansial lebih lanjut menunjukkan bahwa pada tingkat suku bunga 15% dan dengan asumsi harga jual kayu rasamala kering adalah F.p 4.000.000 per,,/ diperoleh nilai NPV F.p 2.991.465 dan IRR 15,9%. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat suku bunga 15%, pengeri·ngan rasamala dalam bangunan pengantar tenaga surya dengan teknik yang digunakan dalam penelitian ini layak diterapkan pada skala industri. Biaya investasi yang dikeluarkan kembali dalam jangka waktu 5,1 tahun, sedangkan titik impas produksi akan tercapai pada produksi kayu rasamala kering sebesar4 3, 95 m1.
PENGARUH UMUR, POSISI BATANG DAN TINGKAT KEKERINGAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN KUALITAS PENGERINGAN BAMBU ANDONG Saefudin, Saefudin; Basri, Efrida; Hadjib, Nurwati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.4.289 - 298

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh umur, posisi batang dan tingkat kekeringan terhadap sifat fisik dan kualitas pengeringan bambu andong. Sifat fisik yang diuji dalam penelitian adalah kadar air segar, kerapatan dan penyusutan pada arah tebal dan lebar bilah batang pada 3 tingkat kekeringan bambu.. Metoda pengeringan yang digunakan adalah metode pengeringan alami dan metode pengeringan oven. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu andong utuh umur 3 tahun yang dikeringkan kualitasnya kurang baik dibandingkan dengan bambu yang berumur 5 tahun. Penyusutan dimensi pada bambu berumur 3 tahun, baik pada arah tebal maupun lebar bilah batang sangat tinggi, sehingga batang bambu yang dikeringkan menjadi keriput/kolap. Ini disebabkan pada bambu berumur 3 tahun, kadar air segar lebih tinggi, porsi berkas pembuluh lebih rendah dan porsi parenkim lebih tinggi dibandingkan bambu umur 5 tahun.
STABILISASI DIMENSI KAYU JATI CEPAT TUMBUH DAN JABON DENGAN PERLAKUAN PEMADATAN SECARA KIMIA Basri, Efrida; Balfas, Jamal
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 4 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1188.895 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2015.33.4.315-327

Abstract

Kayu yang berasal dari hutan tanaman umumnya memiliki dimensi yang tidak stabil, sehingga penggunaannya sangat terbatas. Tulisan ini mempelajari  stabilitas dimensi pada kayu jati cepat tumbuh (JCT) dan kayu jabon yang diberi  perlakuan densifikasi secara kimia.  Kayu JCT dan jabon diimpregnasi dengan  larutan campuran ekstrak serbuk kayu jati tua dan resin. Resin yang digunakan adalah vinil akrilat dan polivinil asetat, masing-masing dengan konsentrasi 8, 10, dan 12% (b/v),  serta 2 komposisi resin resorsinol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kayu yang diberi perlakuan impregnasi menjadi lebih stabil dari yang tidak diimpregnasi.  Kayu yang diimpregnasi dengan larutan campuran ekstrak jati dan resin resorsinol memberikan nilai stabilitas dimensi yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan resin lain.
EFFECT OF SAPPAN WOOD (Caesalpinnia sappan L) EXTRACT ON BLOOD GLUCOSE LEVEL IN WHITE RATS Saefudin, Saefudin; Pasaribu, Gunawan Trisandi; Sofnie, Sofnie; Basri, Efrida
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 1, No 2 (2014): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.078 KB) | DOI: 10.20886/ijfr.2014.1.2.%p

Abstract

Sappan wood or kayu secang (Caesalpinia sappan L.) was reported of having medicinal uses,  such as  for natural antioxidant, relieve vomiting of blood, and ingredients mix for malaria drugs.  The research was conducted to study the influence of ethanol extract from sappan wood on blood glucose level of white rats. The blood glucose level in rats was carried out by using glucose tolerance method. It was measured by Reflolux S (Accutrend GC) and Chloropropamide 50 mg/200 g BW (Body Weight) as positive control. The ethanol extracts were used in various concentration 10, 20, 30, 40 and 50 mg/200 g BW per-oral and observed every an hour and beginning one hour before to 7 hours after the extract being administered. The results showed that the administered dose 30 mg/200 g BW of the ethanol extracts equal the positive control. Statistical analysis gave significant differential (P<0,05) in 2 and 3 hour after treatment.
KUALITAS FILAMEN DAN BENANG SUTRA DARI KOKON HASIL UJI COBA PENGERINGAN DAN PENYIMPANAN MENGGUNAKAN ALAT DESAIN P3HH BOGOR Basri, Efrida; Kaomini, Kaomini; Yuniarti, K.
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 3 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.3.213 - 222

Abstract

Kokon segar memiliki masa simpan yang singkat untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan benang sutra. Pupa dalam kokon akan tumbuh menjadi ngengat dalam waktu +5 hari. Proses pengeringan tidak hanya akan mematikan pupa, tapi juga menurunkan kadar airnya. Akan tetapi, karena kokon yang telah kering masih mudah menyerap air kembali dari lingkungannya, maka diperlukan alat penyimpanan kokon untuk mempertahankan mutunya. Permasalahan yang dihadapi di lapangan selama ini adalah pengamanan terhadap kokon  kering masih belum dilakukan dengan tepat. Kokon dimasukkan ke dalam karung bawang kemudian ditumpuk di ruangan terbuka yang kondisi suhu dan kelembabannya tidak diatur, sehingga selama penyimpanan kokon yang sudah kering akan menarik air kembali atau diserang jamur maupun serangga. Tujuan penelitian adalah mengamati kualitas filamen dan benang sutra dari kokon hasil uji coba menggunakan alat pengeringan EB-2005D dan penyimpanan EB-2007S yang didesain P3HH Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas filamen maupun benang sutera dari kokon yang dikeringkan dan disimpan pada alat yang didesain P3HH Bogor lebih baik dibandingkan dengan kualitas dari kokon yang disimpan pada ruang yang tidak dikondisikan.