Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : Jurnal Ilmu Tanah

Land Suitability Model for Curry Sutandi, Atang; Barus, Baba
Jurnal Ilmu Tanah & Lingkungan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Jurnal Ilmu Tanah & Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.626 KB)

Abstract

Agribusiness of herbal medicine is more important in the future due to raw material pharmaceutical industry tends to usematerials naturally produced To develop herbal medicine with high quality requires the criteria of land suitability based onyield quality, which is represented by active compounds. The compounds are resulted from secondary metabolite that isrelated to environmental conditions. The purpose of this study was to generate the land suitability criteria for curry withcurcuma production base. A total of 49 curry plantation sites were sampled for plant age, productivity, and landcharacteristics, as well as soil and rhizome samples for laboratory analysis. Age-adjusted curcuma production was used as the yield response, which were plotted against land characteristics. Boundary lines confining the resultant scatter of points were then mathematically described. The boundary lines defined curcuma yields that may occur under a given set ofconditions and could be used to determine land suitability criteria. The criteria were done by using projection of lineintersection between boundary line and yield cut off. Land characteristic and curcuma yield relationships had similar pattern, the scalier data were more skewness with higher yields and the scalier confined by boundary lines. By using the lines, every land characteristics that were studied, could be determine to establish land suitability criteria for curry, except for wateravailability and aluminum saturation.
Landslide Hazard Mapping based on GIS Univariate Statistical Classification: Case Study of Ciawi - Puncak - Pacet Regions, West Java Barus, Baba
Jurnal Ilmu Tanah & Lingkungan Vol 2, No 1 (1999): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Jurnal Ilmu Tanah & Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.046 KB)

Abstract

Regarding environmental degradation in Puncak and its surrounding area due to the rapid landuse changes during 1981-1994, some mitigation schemes for soil erosion have been implemented but landslides. Data on landslide and its causative factors (landuse, soil, geology, slope, climate, and terrain mapping unit) and their relationships in the area are still not available. The objective of this research is to develop method and procedure to map landslide hazard by using GIs(Geographical Information System) univariate-statistical analysis applied on the area as a case study.For this purpose, three methods to classify and to map landslide hazard were evaluated. They were respectively developed by considering: (a) unweighted density total number of landslide, Method#l, (b) density total number, weighting value, and age of landslide, Method#2, and (c) density totalnumber, weighting value, age, and activity level of landslide, Method#3. The density number is counted by overlying´each of the landslide maps and each of the causative factors maps used, and from this step the weighting value is derived. The resulting density number of landslide given as cumulative percentage and the corresponding weighting value were then plotted on an X-Y graph. From the graph, the level of landslide hazard is classified by applying: (1) standard classificationprocedure as the default statistical analysis given by the software used, and (2) natural classification procedure as it based on the nature of the curve slope of the cummulative graphic. The result given by the three methods were varied but in general they gave landslide hazard map with a similar pattern in which the very high and very low hazard level in the study area increased during the period of 1981- 1994. Of the three methods, applying the natural classification gave a better result than that of the standard classification procedure. Method#2 and Method#3 were better than Method#l in predicting the future landslide occurence. Apparently, MethoM3 should show the best result but the effect of conversion from raster to vector data in GIs significantly reduced the quality of the resulting map.
ANALISIS PERENCANAAN PRIORITAS JARINGAN JALAN UNTUK PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN TANA TORAJA Miri, Gersony; Barus, Baba; Soma, Soekmana
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.195 KB)

Abstract

Jaringan jalan merupakan salah satu penunjang kegiatan perekonomian yang bermuara pada peningkatan taraf hidup masyarakat. Kabupaten Tana Toraja memiliki 166 ruas jalan kabupaten dengan total panjang 1,252 km yang sebagian besar (74.24%) berada dalam kondisi rusak. Hal ini disebabkan oleh adanya kebijakan pendanaan karena keterbatasan anggaran, akibatnya semua ruas jalan tidak dapat tertangani seluruhnya, sehingga membutuhkan prioritas jaringan jalan yang perlu ditangani untuk pengembangan wilayahnya ke depan. Penelitian ini menggunakan metode analisis skalogram untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang menjadi pusat pelayanan dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mendapatkan persepsi stakeholder terhadap faktor yang menjadi prioritas dalam memilih jaringan jalan yang akan ditangani. Hasil penelitian menunjukkan 2 kecamatan merupakan pusat pelayanan (Hirarki I), 5 kecamatan merupakan subpusat pelayanan (Hirarki II), dan 12 kecamatan merupakan wilayah hinterland (Hirarki III). Dari analisis AHP diperoleh pilihan prioritas jaringan jalan berdasarkan potensi obyek wisata. Sehingga jaringan jalan yang dapat diprioritaskan adalah: 1). Alternatif I, terdiri atas: (i) Jalan lingkar wisata, (ii) Kokkang – Buakayu, (iii) Pasobo – Kondodewata, (iv) Tetebassi – Kondoran, (v) Batupapan – Rantekurra; 2). Alternatif II, terdiri atas: (i) Jalan lingkar wisata, (ii) Kokkang – Buakayu, (iii) Pasobo – Kondodewata, (iv) Tetebassi – Kondoran, (v) Batupapan – Rantekurra, (vi) Makale – Kaduaja.
POTENSI EKONOMI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN PEREKONOMIAN WILAYAH DI DESA-DESA PENYANGGA TAMAN NASIONAL UJUNG KULON Mulyawan, Tb Iwan; Barus, Baba; Firdaus, Muhamad
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.635 KB)

Abstract

Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Berdasarkan RTRW Kabupaten Pandeglang 2013, kedua wilayah tersebut diperuntukkan sebagai pusat pengembangan perdagangan dan jasa. Pada kenyataannya masih terkendala dengan keterbatasan infrastruktur. Kondisi ini menjadi permasalahan utama dari rencana pengembangan wilayah yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan: (1) Menganalisis hierarki wilayah berdasarkan aksesibilitas dan jumlah fasilitas per desa; (2) Menganalisis sektor unggulan yang mendukung pengembangan wilayah; (3) Menyusun arahan program pengembangan perekonomian di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis skalogram mengindikasikan beberapa desa penyangga TNUK, yaitu terdapat dua belas yang termasuk hierarki III. Dari desa-desa yang termasuk hierarki III terdapat lima desa yang memiliki penduduk prasejahtera tinggi (79.9% - 87.8%). Selanjutnya terdapat enam desa yang termasuk hierarki II, sedangkan satu desa berada pada Hierarki I. Sektor unggulan di Kecamatan Sumur adalah pertanian, peternakan, perikanan dan pariwisata. Sektor unggulan di Kecamatan Cimanggu adalah pertanian, peternakan, dan perkebunan. Adapun arahan pengembangan wilayah di Kecamatan Sumur adalah perikanan dan pariwisata, program penerapan teknologi perikanan, pembangunan pelabuhan/darmaga, pembangunan kantor lembaga keuangan, sarana, dan prasarana wisata, sedangkan arahan pengembangan di Kecamatan Cimanggu adalah pertanian dan perkebunan, program penerapan teknologi pertanian.
PRIORITAS PERLINDUNGAN LAHAN SAWAH PADA KAWASAN STRATEGIS PERKOTAAN DI KABUPATEN GARUT Afif, Zluyan Firdaus; Barus, Baba; Baskoro, Dwi Putro Tejo
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.213 KB)

Abstract

Perlindungan lahan sawah di Kabupaten Garut perlu dilakukan sejak dini, hal ini dimaksudkan untuk menjaga keberadaan lahan sawah serta jati diri Kabupaten Garut sebagai lumbung padi Provinsi Jawa Barat. Upaya ini dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional ditengah maraknya isu konversi lahan pertanian. Terutama pada Kawasan Strategis Perkotaan yang pada dasarnya merupakan pusat perekonomian di Kabupaten Garut. Hasil kajian ini diharapkan diperoleh gambaran kondisi aktual lahan sawah di Kawasan Strategis Perkotaan Kabupaten Garut. Penghitungan neraca lahan dilakukan dengan membandingkan kebutuhan dan ketersediaan lahan pada Kawasan Strategis Perkotaan di Kabupaten Garut. Penentuan lahan prioritas dilakukan atas parameter: 1) kelas kesesuaian lahan; 2) intensitas pertanaman (IP); 3) sistem Irigasi; 4) luas hamparan; dan 5) jarak dari bahu jalan. Selanjutnya dilakukan pengelompokan berdasarkan kriteria fisik yang homogen, sehingga diperoleh empat karakteristik tipologi perlindungan lahan sawah di Kawasan Strategis Perkotaan. Sebaran lahan prioritas pertama kemudian di bandingkan dengan pola ruang dalam RTRW Kabupaten Garut tahun 2011-2013, sehingga diperoleh luas lahan prioritas pertama yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kawasan Strategis Perkotaan adalah sebesar 2,079 ha atau setara dengan 25.67% dari luas wilayah. Artinya, jika lahan sawah prioritas pertama ini digunakan sebagai sumber untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan standar minimal 30%, pemerintah hanya tinggal mengakumulasi kekurangan sebesar 4.33%.
PENENTUAN INDEKS BAHAYA KEKERINGAN AGRO-HIDROLOGI: STUDI KASUS WILAYAH SUNGAI KARIANGO SULAWESI SELATAN Syarif, Muhammad Munawir; Barus, Baba; Effendy, Sabri
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1587.66 KB)

Abstract

Kekeringan agro-hidrologi dapat diartikan sebagai kekurangan air permukaan, air tanah dan mencukupi untuk tanaman dan kebutuhan masyarakat untuk jangka waktu tertentu. Sejauh ini belum ada indeks kekerigan agro-hidrologi yang menggabungkan faktor iklim, air permukaan, dan air bawah permukaan tanah. Penelitian ini merumuskan sebuah indeks bahaya kekeringan (Ibk) sebagai indikator kekeringan agro-hidrologi. Model yang dikembangkan dari kombinasi curah hujan musim kering, kedalaman air tanah, jarak sumber air, tekstur tanah dan indeks ketersediaan air bagi tanaman dengan menggunakan metode penginderaan jauh dan GIS. Indeks bahaya kekeringan agro-hidrologi yang telah dikembangkan adalah Ibk= (0.33CH) + (0.27KAT) + (0.20SA) + (0.13T) + (0.0WSVI) dengan hasil validasi model menunjukkan kemiripan yang tinggi kekeringan di lapangan.
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PESISIR KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN Maesaroh, Siti; Barus, Baba; Iman, Laode Syamsul
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.643 KB)

Abstract

Wilayah pantai Kabupaten Pandeglang saat ini dipenuhi oleh aktivitas ekonomi dan mempunyai potensi pengembangan dengan berbagai problem. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi problem dan menganalisis faktor dominan yang mempengaruhi pemanfaatannya serta kesesuaiannya secara ruang untuk perikanan, budidaya perikanan, pariwisata marin, pelabuhan perikanan, dan konservasi laut. Analisis dilakukan dengan pencarian kriteria melalui pendapat ahli melalui metode Proses Analisis Jaringan (ANP – Analytic Network Process) dan analisis spasial tumpang-tindih. Pembobotan kriteria dan parameter mempunyai pengaruh bersama dalam pengelompokan fungsi kebijakan, ekologi dan sosial-ekonomi. Kriteria yang berperan adalah perencanaan ruang provinsi (RTRWP) dan kabupaten (RTRWK), transportasi, struktur populasi, infrastruktur, kesesuaian fisik, penggunaan lahan dan risiko ancaman bahaya. Lokasi yang sesuai untuk budidaya perikanan laut adalah wilayah pantai kecamatan Pagelaran hingga Panimbang. Daerah konservasi terletak di perairan Taman Jaya di sekitar pulau Badul. Wilayah yang sesuai untuk daerah pariwisata adalah Sukaresmi ke Tanjung Jaya serta pulau-pulau kecil di Ujung Kulon. Pelabuhan perikanan sesuai dibangun di kampung Caringin, Cigondong, Pejamben dan Teluk. Daerah paling sesuai untuk aktivitas perikanan di Kecamatan Labuan, Panimbang dan Sukaresmi.
KAJIAN POLA PEMANFAATAN RUANG DI KABUPATEN GARUT BERBASIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN HIDUP Firdian, Ardhy; Barus, Baba; Pribadi, Didit Okta
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417 KB)

Abstract

Enviromental carrying capacity was measured in three methods,i.e land capability, land carrying capacity and water carrying capacity. Garut Regency which is located at the upstream Cimanuk Watershed has an important role in the sustainability of capacity for downstream area. The aims of this study are: (1) to identify land use in Garut Regency in 2009, (2) to identify land capability in Garut Regency, (3) to assess the suitability of land use with land capability and space pattern in Garut Regency, (4) to identify the status of environmental carrying capacity in Garut Regency, and (5) to set a space pattern based on environmental carrying capacity. Based on the interpretation of Landsat Satellite Imagery in 2009, dryland agriculture has dominated the coverage about 45.4% and forest cover about 23.8%. This study also shows that most area in Garut Regency is belong to Class IV land capability (36.4% of the regency area) without Class I of land capability. Suitabilty evaluation between land cover and land capabilty describe that 48,45% area is suitable, 50.4% area is not suitable and 1.18% area is conditionally suitable depending on limitation factors that affect land capability. Another evaluation between space patern and land capability shown that 59.0% area is suitable, 32.1% area is not suitable, and 8.84% area is conditionally suitable. Both status of land carrying capacity and water carrying capacity are deficit. According to spatial pattern based on land capability and existing forest, space that can be use as the preservation area is about 58.5% of the area, and space that can be use as the cultivation area is about 41.5% of the area of Garut Regency.Keywords : Land capability, land cover/use, spatial pattern, water carrying capacity
DINAMIKA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PREDIKSINYA UNTUK TAHUN 2025 SERTA KETERKAITANNYA DENGAN PERENCANAAN TATA RUANG 2005-2025 DI KABUPATEN BOGOR Fajarini, Rahmi; Barus, Baba; Panuju, Dyah Retno
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.084 KB)

Abstract

Kebutuhan lahan selalu meningkat dipicu oleh pertumbuhan penduduk, perkembangan struktur masyarakat dan perekonomian, sementara penawaran terhadap lahan tidak pernah bertambah, sehingga cepat atau lambat kondisi tersebut akan menimbulkan konversi lahan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan Kabupaten Bogor tahun 1989-2013, menentukan faktor-faktor penentu perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bogor, memprediksi penggunaan lahan tahun 2025 dan menguji akurasinya, serta mengevaluasi keselarasan prediksi penggunaan lahan tahun 2025 dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor 2005-2025. Lahan yang paling banyak berubah adalah lahan pertanian baik lahan pertanian basah (sawah) maupun lahan pertanian kering (kebun dan tegalan). Total areal pertanian yang berubah menjadi lahan terbangun sebesar 47,953 ha atau 16.04% dari luas Kabupaten Bogor. Faktor-faktor yang meningkatkan perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian adalah izin lokasi tahun 2005, penetapan kawasan industri dalam kebijakan tata ruang, jarak ke/dari jalan kolektor, jarak ke/dari pusat aktivias ekonomi. Faktor – faktor yang menurunkan perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian adalah kelas lereng (16 – 25%), jenis tanah podsolik, dan jarak ke/dari pusat pemerintahan kabupaten. Prediksi penggunaan lahan tahun 2013 memiliki nilai ketepatan 80.49% sehingga model digunakan dalam prediksi penggunaan lahan tahun 2025. Hasil analisis keselarasan RTRW 2005-2025 dengan penggunaan lahan aktual 2013 menunjukkan adanya ketidakselarasan yang dapat menjadi masalah tata ruang di Kabupaten Bogor 63,822 ha atau 21.36%, dimana hutan hilang 64.90%, pertanian lahan basah hilang 20.68% serta tubuh air hilang 6.49%. Hasil analisis keselarasan RTRW 2005-2025 dengan penggunaan lahan hasil prediksi tahun 2025 menunjukkan adanya ketidakselarasan dengan alokasi ruang yang berpotensi menjadi permasalahan tata ruang sebesar 75,577 ha atau 25.29%, dimana terdapat potensi berkurangnya hutan, pertanian lahan basah dan tubuh air masing-masing sebesar 72.41%, 33.62%, 24.64%. Nilai tersebut menunjukkan adanya kenaikan ketidakselarasan dari tahun 2013 sebesar 11,856 ha atau 3.96%.
MODEL SPASIAL KERUSAKAN LAHAN DAN PENCEMARAN AIR AKIBAT KEGIATAN PERTAMBANGAN EMAS TANPA IZIN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI RAYA, KALIMANTAN BARAT Romiyanto, Romiyanto; Barus, Baba; sudadi, untung
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.742 KB)

Abstract

Illegal gold mining activities create mine pits, taillings, stressed vegetation and unvegetated land. The aims of this study were to identify and to develop spatial model of land degradation and water pollution caused by illegal gold mining activities in Raya watershed, West Kalimantan. The spatial land degradation model was developed by multiplication the score of mine age and type of mine tailings, while the scores for water pollution was based on the results of spatial distribution analysis of the water’s total dissolved solids (TDS) and Hg concentration levels in Lake Serantangan. Vegetations of the degraded area showed nutrient deficiency and toxicity symptoms. Based on the NDVI (normalized difference vegetation index), the degraded area generated a value range of 0.1-0.6. Mine land in the study area were classified as rather degraded (29.33%), degraded (28.70%), and severe degraded (41.97% of the total 4,551 ha area). While, 65.87% or 83 ha of the Lake Serantangan area was classified as severely polluted based on the water’s concentration of Hg and TDS. The accuracy of the spatial model developed was 88.30 and 82.57% for land degradation and water pollution, respectively.Keywords: Illegal gold mining, land degradation, spatial model, water pollution