Articles

Found 19 Documents
Search
Journal : Jurnal Ilmu Tanah

PEMANTAUAN BAHAYA KEKERINGAN DI KABUPATEN INDRAMAYU Darojati, Nina Widiana; Barus, Baba; Sunarti, Euis
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 2 (2015): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1052.876 KB) | DOI: 10.29244/jitl.17.2.60-68

Abstract

The drought as a natural event and attacked slowly. Drought as a natural event and attacked slowly, has caused harm to the farmers in the district Indramayu. In vew of the drought is an event that can be repeated, it is necessary to monitor and identify factors associated risk of drought, so as to develop a model of the hazard of drought. Besides, it should be made maps to be known distribution of drought useful for the development of agriculture and other policies, as well as to minimize losses that may in the future. This research used a method to identify factors associated risk of drought and develop models of drought. Each factor was scored and weighted in order of importance or influence on the risk of drought and then overlay is connected through the MCE method (Multi Criteria Evaluation). The model is applied to three (3) points in that 2003, 2008 and 2012. The model is built for two versions. Model version 1, implementaed by excluding the distance from the irrigation network and model version 2, include a range of irrigation networks. The results showed that the drought hazard factor that has the most impact to the lowest is the rainfall, land use, distance to water sources, soil texture, soil surface temperature, in order to obtain a model with the formulation: H=(0.34SPI)+(0.20L)+ (0.19B)+(0.17Jt)+(0.10LST). The spread of the hazard on the model version 2 has an area at risk of drought less than the model version 1 and version 2 have a value lower accuracy than version 1. Model version 2 is an ideal condition, however, irrigation is less a role during the dry season. Meanwhile, the model version 1 has a significant level of validation. Version 1 is a condition close to the real situation on the ground. Keywords: Drought, hazard, land surface temperature, multi criteria evaluation, Standar Presipitation Index
PEMETAAN LAHAN SAWAH DAN POTENSINYA UNTUK PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PASAMAN BARAT, SUMATERA BARAT Zulfikar, Muhammad; Barus, Baba; Sutandi, Atang
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.581 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.1.20-28

Abstract

Kabupaten Pasaman Barat terbentuk dari pemekaran Kabupaten Pasaman melalui Keputusan Pemerintah No.38 / 2003 tanggal 18 Desember 2003. Sejak tahun 1990 masalah yang dihadapi oleh Kabupaten Pasaman adalah konversi lahan pertanian ke penggunaan lain yang sangat cepat, terutama lahan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit. Pengesahan UU No 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), diharapkan dapat mengendalikan laju perubahan penggunaan lahan pertanian ke penggunaan lain. Peraturan ini masih baru, sehingga implementasi peraturan ini belum banyak dilakukan, termasuk perencanaan dan penetapan wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap faktor utama yang mempengaruhi penentuan lahan sawah berkelanjutan, (2) untuk menganalisis proyeksi kebutuhan luas sawah di tingkat kabupaten, dan (3) untuk menentukan area sawah berkelanjutan di wilayah penelitian berdasarkan batas wilayah kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor fisik yaitu ketersediaan aktual dan potensial (kesesuaian lahan), diutamakan dalam penentuan sawah yang akan dipertahankan. Ketersediaan lahan sawah eksisting di Kabupaten Pasaman Barat masih cukup untuk mencukupi kebutuhan pangan lokal selama kurang lebih 20 tahun yang akan datang. Terdapat lahan sawah (aktual) seluas 27,317 ha yang cocok untuk dilindungi di Kecamatan Barru, dengan penggunaan lahan eksisting berupa sawah irigasi (budidaya). Selain itu, terdapat lahan potensial untuk dilindungi seluas 9,871 ha, dengan penggunaan lahan eksisting berupa semak-semak, rawa dan rawa lebak. Lahan yang diusulkan di lindungi dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu: area yang surplus produksi, adanya irigasi, dan penerimaan oleh masyarakat. Lahan yang mencakup ketiga kriteria tersebut terdapat seluas 18,670 ha yang terdistribusi di beberapa kecamatan.
PENENTUAN INDEKS BAHAYA KEKERINGAN AGRO-HIDROLOGI: STUDI KASUS WILAYAH SUNGAI KARIANGO SULAWESI SELATAN Syarif, Muhammad Munawir; Barus, Baba; Effendy, Sabri
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1587.66 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.1.12-19

Abstract

Kekeringan agro-hidrologi dapat diartikan sebagai kekurangan air permukaan, air tanah dan mencukupi untuk tanaman dan kebutuhan masyarakat untuk jangka waktu tertentu. Sejauh ini belum ada indeks kekerigan agro-hidrologi yang menggabungkan faktor iklim, air permukaan, dan air bawah permukaan tanah. Penelitian ini merumuskan sebuah indeks bahaya kekeringan (Ibk) sebagai indikator kekeringan agro-hidrologi. Model yang dikembangkan dari kombinasi curah hujan musim kering, kedalaman air tanah, jarak sumber air, tekstur tanah dan indeks ketersediaan air bagi tanaman dengan menggunakan metode penginderaan jauh dan GIS. Indeks bahaya kekeringan agro-hidrologi yang telah dikembangkan adalah Ibk= (0.33CH) + (0.27KAT) + (0.20SA) + (0.13T) + (0.0WSVI) dengan hasil validasi model menunjukkan kemiripan yang tinggi kekeringan di lapangan.
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PESISIR KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN Maesaroh, Siti; Barus, Baba; Iman, Laode Syamsul
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.643 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.2.45-51

Abstract

Wilayah pantai Kabupaten Pandeglang saat ini dipenuhi oleh aktivitas ekonomi dan mempunyai potensi pengembangan dengan berbagai problem. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi problem dan menganalisis faktor dominan yang mempengaruhi pemanfaatannya serta kesesuaiannya secara ruang untuk perikanan, budidaya perikanan, pariwisata marin, pelabuhan perikanan, dan konservasi laut. Analisis dilakukan dengan pencarian kriteria melalui pendapat ahli melalui metode Proses Analisis Jaringan (ANP ? Analytic Network Process) dan analisis spasial tumpang-tindih. Pembobotan kriteria dan parameter mempunyai pengaruh bersama dalam pengelompokan fungsi kebijakan, ekologi dan sosial-ekonomi. Kriteria yang berperan adalah perencanaan ruang provinsi (RTRWP) dan kabupaten (RTRWK), transportasi, struktur populasi, infrastruktur, kesesuaian fisik, penggunaan lahan dan risiko ancaman bahaya. Lokasi yang sesuai untuk budidaya perikanan laut adalah wilayah pantai kecamatan Pagelaran hingga Panimbang. Daerah konservasi terletak di perairan Taman Jaya di sekitar pulau Badul. Wilayah yang sesuai untuk daerah pariwisata adalah Sukaresmi ke Tanjung Jaya serta pulau-pulau kecil di Ujung Kulon. Pelabuhan perikanan sesuai dibangun di kampung Caringin, Cigondong, Pejamben dan Teluk. Daerah paling sesuai untuk aktivitas perikanan di Kecamatan Labuan, Panimbang dan Sukaresmi.
DEVELOPMENT OF LAND CAPACITY STATUS FOR LABOUR ABSORPTION IN HORTICULTURE AREA USING GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM, A CASE STUDY IN SAMARANG SUBDISTRICT, GARUT, WEST JAVA Barus, Baba
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 No 2 (2004): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.333 KB) | DOI: 10.29244/jitl.6.2.57-69

Abstract

An index for labor absorption capacity of an agricultural cropping system requires worker number from direct activities and non-direct activities in a field The number of workers from direct activities can be generated from landmanagement (ploughing, fertilization, weeding, etc), meanwhile, the number of workers from non-direct activities such as transportation of manure and product, has to include a distance effect. A distance of a farm from a collection point, where agricultural facilities distributed, contributes to the number of workers required for carrying such products or fertilizers.To calculate a distant effect to absorption capacity is hampered by difficulty in measuring of farm distance in a field,which implies it is rarely found such proper data in producing a labor absorption capacity. GIS as a spatial technology has the capability to produce such as distance effect. This research demonstrated the use of GIS in producing labor absorption capacity index and map of status labor absorption in Samarang sub-district, where several intensive agricultural activities such as paddy, vegetable and perfume grass crops were found The map could be used to understand indirectly the economic situation of the area. Keywords: Cropping system, distance, GIS, labor absorption capacity, Samarang sub-district
KAJIAN POLA PEMANFAATAN RUANG DI KABUPATEN GARUT BERBASIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN HIDUP Firdian, Ardhy; Barus, Baba; Pribadi, Didit Okta
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 12 No 2 (2010): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417 KB) | DOI: 10.29244/jitl.12.2.40-46

Abstract

Enviromental carrying capacity was measured in three methods,i.e land capability, land carrying capacity and water carrying capacity. Garut Regency which is located at the upstream Cimanuk Watershed has an important role in the sustainability of capacity for downstream area. The aims of this study are: (1) to identify land use in Garut Regency in 2009, (2) to identify land capability in Garut Regency, (3) to assess the suitability of land use with land capability and space pattern in Garut Regency, (4) to identify the status of environmental carrying capacity in Garut Regency, and (5) to set a space pattern based on environmental carrying capacity. Based on the interpretation of Landsat Satellite Imagery in 2009, dryland agriculture has dominated the coverage about 45.4% and forest cover about 23.8%. This study also shows that most area in Garut Regency is belong to Class IV land capability (36.4% of the regency area) without Class I of land capability. Suitabilty evaluation between land cover and land capabilty describe that 48,45% area is suitable, 50.4% area is not suitable and 1.18% area is conditionally suitable depending on limitation factors that affect land capability. Another evaluation between space patern and land capability shown that 59.0% area is suitable, 32.1% area is not suitable, and 8.84% area is conditionally suitable. Both status of land carrying capacity and water carrying capacity are deficit. According to spatial pattern based on land capability and existing forest, space that can be use as the preservation area is about 58.5% of the area, and space that can be use as the cultivation area is about 41.5% of the area of Garut Regency.Keywords : Land capability, land cover/use, spatial pattern, water carrying capacity
SPATIAL MODEL OF LAND DEGRADATION AND WATER POLLUTION CAUSED BY ILLEGAL GOLD MINING ACTIVITIES IN RAYA WATERSHED, W Romiyanto, Romiyanto; Barus, Baba; Sudadi, Untung
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 2 (2015): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.742 KB) | DOI: 10.29244/jitl.17.2.47-53

Abstract

Aktivitas pertambangan emas tanpa izin menyebabkan terbentuknya lubang tambang, tailing, vegetasi tercekam dan lahan terbuka. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengembangkan model spasial kerusakan lahan dan pencemaran perairan akibat penambangan emas tanpa izin di DAS Raya, Kalimantan Barat. Model kerusakan lahan dikembangkan berdasarkan perkalian skor umur tambang dan jenis tailing, sedangkan skor untuk model pencemaran perairan didasarkan hasil analisis distribusi spasial kadar total dissolved solids (TDS) dan Hg air Danau Serantangan. Vegetasi di area terdegradasi menunjukkan gejala defisiensi dan toksisitas hara. Berdasarkan NDVI (normalized difference vegetation index), area terdegradasi menghasilkan kisaran nilai 0.1-0.6. Tingkat kerusakan lahan di areal penelitian diklasifikasikan agak rusak (29.33%), rusak (28.70%) dan sangat rusak (41.97% dari total luas 4,551 ha), sedangkan 65.87% atau 83 ha areal perairan Danau Serantangan diklasifikasikan sangat tercemar berdasarkan kadar Hg dan TDS. Tingkat akurasi model spasial kerusakan lahan dan pencemaran perairan yang dikembangkan masing-masing mencapai 88.30 dan 82.57%. Kata kunci: Pertambangan emas tanpa izin, kerusakan lahan, model spasial, pencemaran air
ANALISIS PERENCANAAN PRIORITAS JARINGAN JALAN UNTUK PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN TANA TORAJA Miri, Gersony; Barus, Baba; Soma, Soekmana
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 1 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.195 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.1.1-8

Abstract

Jaringan jalan merupakan salah satu penunjang kegiatan perekonomian yang bermuara pada peningkatan taraf hidup masyarakat. Kabupaten Tana Toraja memiliki 166 ruas jalan kabupaten dengan total panjang 1,252 km yang sebagian besar (74.24%) berada dalam kondisi rusak. Hal ini disebabkan oleh adanya kebijakan pendanaan karena keterbatasan anggaran, akibatnya semua ruas jalan tidak dapat tertangani seluruhnya, sehingga membutuhkan prioritas jaringan jalan yang perlu ditangani untuk pengembangan wilayahnya ke depan. Penelitian ini menggunakan metode analisis skalogram untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang menjadi pusat pelayanan dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mendapatkan persepsi stakeholder terhadap faktor yang menjadi prioritas dalam memilih jaringan jalan yang akan ditangani. Hasil penelitian menunjukkan 2 kecamatan merupakan pusat pelayanan (Hirarki I), 5 kecamatan merupakan subpusat pelayanan (Hirarki II), dan 12 kecamatan merupakan wilayah hinterland (Hirarki III). Dari analisis AHP diperoleh pilihan prioritas jaringan jalan berdasarkan potensi obyek wisata. Sehingga jaringan jalan yang dapat diprioritaskan adalah: 1). Alternatif I, terdiri atas: (i) Jalan lingkar wisata, (ii) Kokkang ? Buakayu, (iii) Pasobo ? Kondodewata, (iv) Tetebassi ? Kondoran, (v) Batupapan ? Rantekurra; 2). Alternatif II, terdiri atas: (i) Jalan lingkar wisata, (ii) Kokkang ? Buakayu, (iii) Pasobo ? Kondodewata, (iv) Tetebassi ? Kondoran, (v) Batupapan ? Rantekurra, (vi) Makale ? Kaduaja.
PRIORITAS PERLINDUNGAN LAHAN SAWAH PADA KAWASAN STRATEGIS PERKOTAAN DI KABUPATEN GARUT Afif, Zluyan Firdaus; Barus, Baba; Baskoro, Dwi Putro Tejo
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 2 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.213 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.2.67-74

Abstract

Perlindungan lahan sawah di Kabupaten Garut perlu dilakukan sejak dini, hal ini dimaksudkan untuk menjaga keberadaan lahan sawah serta jati diri Kabupaten Garut sebagai lumbung padi Provinsi Jawa Barat. Upaya ini dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional ditengah maraknya isu konversi lahan pertanian. Terutama pada Kawasan Strategis Perkotaan yang pada dasarnya merupakan pusat perekonomian di Kabupaten Garut. Hasil kajian ini diharapkan diperoleh gambaran kondisi aktual lahan sawah di Kawasan Strategis Perkotaan Kabupaten Garut. Penghitungan neraca lahan dilakukan dengan membandingkan kebutuhan dan ketersediaan lahan pada Kawasan Strategis Perkotaan di Kabupaten Garut. Penentuan lahan prioritas dilakukan atas parameter: 1) kelas kesesuaian lahan; 2) intensitas pertanaman (IP); 3) sistem Irigasi; 4) luas hamparan; dan 5) jarak dari bahu jalan. Selanjutnya dilakukan pengelompokan berdasarkan kriteria fisik yang homogen, sehingga diperoleh empat karakteristik tipologi perlindungan lahan sawah di Kawasan Strategis Perkotaan. Sebaran lahan prioritas pertama kemudian di bandingkan dengan pola ruang dalam RTRW Kabupaten Garut tahun 2011-2013, sehingga diperoleh luas lahan prioritas pertama yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kawasan Strategis Perkotaan adalah sebesar 2,079 ha atau setara dengan 25.67% dari luas wilayah. Artinya, jika lahan sawah prioritas pertama ini digunakan sebagai sumber untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan standar minimal 30%, pemerintah hanya tinggal mengakumulasi kekurangan sebesar 4.33%.
BINARY LOGISTIC REGRESSION AND NORMALIZATION FOR LANDSLIDE HAZARD ANALYSIS IN CIANJUR DISTRICT, WEST JAVA Tejo, Reni Kusumo; Baskoro, Dwi Putro Tejo; Barus, Baba
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.302 KB) | DOI: 10.29244/jitl.18.1.35-41

Abstract

Cianjur had 33 times occurrence landslides during 2002-2007. The objectives of this study were: (i) to identify the main cause of landslide hazard; and (ii) to analyze the landslide hazard areas in Cianjur. Analysis methods to identify the main cause of landslide hazards were based on binary logistic regression and normalization. Based on binary logistic regression and normalization result, rainfall is the main cause of landslide hazard in this study area. This was shown by the highest coefficient value of rainfall at the 3 equation (0.542 by using SPSS, 0.920 by using Idrisi, and 0.29 by using normalization). Positive coefficient value means that the occurrence of landslide mainly influenced by the highest class of rainfall. The three landslide hazard maps resulted from different methods showed different locations with moderate to very high-level hazards. A hazard map of binary logistic regression using SPSS showed that the moderate to very high-level hazard was found in the northwest and southeast part of Cianjur. Hazard map using binary logistic regression on Idrisi showed that the moderate to very high-level hazard was found in middle and north part of Cianjur. Hazard map using the normalization method showed the domination of moderate level hazard which was spread through all subdistricts in Cianjur. The landslide hazard map of binary logistic regression on Idrisi was better than two other maps, indicated by the highest determinant coefficient value which is 0.980. Keywords: Binary logistic regression, hazard, landslide, normalization
Co-Authors A Akbar Akhmad Fauzi Andria, Andri Yushar Arya Hadi Dharmawan Atang Sutandi Bambang H. Trisasongko Bambang Juanda Bambang Pramudya Bayusukmara, Yuda Pringgo Boedi Tjahjono, Boedi Budi Mulyanto Danang Pramudita, Danang Darojati, Nina Widiana Deddy S. Bratakusumah Dessy Arianti, Dessy Diar Shiddiq, Diar Didit Okta Pribadi DP Tejo Baskoro, DP Tejo Drajat Martianto Dwi Maryanto, Dwi Dwi Putro Tejo Baskoro Dwi Ratnawati Christina, Dwi Ratnawati Dyah R. Panuju Dyah Retno Panuju Edi, Harisman Ernan Rustiadi Euis Sunarti Fahimuddin, Muhammad Mu?min Faris Rahmadian Febrianti, Nur Febrianti, Nur Firdian, Ardhy Fredian Tonny Nasdian, Fredian Tonny Gersony Miri, Gersony Hana Indriana Hans Moravia Hari Wijayanto Hendra Setiawan Hidayah, Nursantri Hikmat, Muhammad Hilda Nurul Hidayati, Hilda Nurul Indaryanti, Yoyoh Irzaman Irzaman Iskandar Iskandar Kukuh Murtilaksono Kusumastuti, Ayu Candra Lala M. Kolopaking Lala Mulyowibowo Kolopaking Laode Syamsul Iman, Laode Syamsul Mahmud A. Raimadoya Mardianingsih, Dyah Ita Muhamad Firdaus Muhammad Ardiansyah Muhammad Munawir Syarif, Muhammad Munawir Muhammad Zulfikar Munawir, M Noer Azam Achsani Rahmi Fajarini, Rahmi Rilus A Kinseng Rizaldi Boer Romiyanto, Romiyanto Roslinawati, Ade Mirza Ruman, Rifyan Sabri Effendy, Sabri Setia Hadi Siti Maesaroh Soekmana Soma Sri Mulatsih Suwardi Suwardi Tb Iwan Mulyawan, Tb Iwan Tejo, Reni Kusumo Tommi Tommi, Tommi Tono, Tono Tuni, Muhd. Siraz Umar, Iswandi Untung Sudadi, Untung Werenfridus Taena Widiatmaka . Widiatmaka Widiatmaka Wihadanto, Ake Zluyan Firdaus Afif, Zluyan Firdaus