Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : MAJALAH ILMIAH GLOBE

PREDIKSI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN PASCATAMBANG NIKEL DI KABUPATEN HALMAHERA TIMUR

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.118 KB)

Abstract

Halmahera Timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Maluku Utara dengan potensi sumberdaya mineral yang besar yaitu pertambangan nikel. Namun, sumberdaya mineral yang tersedia belum memberikan dampak yang berarti bagi pertumbuhan ekonomi. Vegetasi tutupan lahan semakin berkurang dengan adanya aktivitas penambangan dan jumlah produksi pertanian tiap kecamatan terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan pascatambang nikel yang mendukung perkembangan wilayah melalui beberapa pendekatan yaitu : analisis dan prediksi perubahan tutupan lahan; evaluasi tingkat perkembangan wilayah dari data PDRB dan identifikasi sektor basis tiap kecamatan; membuat skenario penggunaan lahan pascatambang nikel. Penelitian ini memperlihatkan perubahan tutupan lahan terjadi pada kelas hutan dan kebun campuran yang terkonversi menjadi bukaan tambang, sawah dan tegalan/semak/belukar terkonversi menjadi permukiman. Selain itu, sektor basis tiap kecamatan menurun dari hasil produksi karena ada konversi lahan, seperti kelas kebun campuran menjadi kelas bukaan tambang. Perubahan ini tidak diikuti dengan peningkatan ekonomi wilayah yang tinggi. Tren perkembangan ekonomi wilayah periode 2000-2010 menunjukkan peningkatan yang rendah yaitu 0,8%. Perkembangan ekonomi wilayah dan sektor basis tiap kecamatan di Kabupaten Halmahera Timur belum berkembang, sehingga perlu adanya skenario perencanaan penggunaan lahan pascatambang nikel yang sesuai dengan fungsi ruang yaitu tanaman pangan, perkebunan rakyat, hutan tanaman rakyat,dan hutan.Kata Kunci : Perencanaan Penggunaan Lahan, Lahan Pascatambang, Sektor Basis, Pengembangan Ekonomi Wilayah.ABSTRACTEast Halmahera is one of the regency in North Maluku Province with great mineral resource potential especially nickel mining. However, these mineral resources have not provided a significant impact to the economic growth. Vegetation of land cover decreased in the presence of mining activities and the amount of agriculture production from each sub district is disrupted. This study aims to utilize post-mining land of nickel supporting regional development, through a few parameters, namely : analysis and prediction of land cover change; evaluation of regional growth rate of GDP and identifying leading sector in each sub district; making scenario of ex-nickel mining land. This study showed land cover occurred on the forest class and mixed plantation class converted to land clearing mines, paddy and moors / bush / shrubconverted to settlements. Beside that, leading sector of each sub district decreased of existing production due to land conversion, such as mixed plantation class to be class of mine openings. These changes were not followed by regionaleconomy development. The trend of regional economic development of the period 2000-2010 showed a low increase of 0,8%. Regional economic growth and leading sector each sub district in East Halmahera Regency is undeveloped, so that this needs the presence of scenarios for land use planning of ex-nickel mining appropriate with the spatial function namely food crops, smallholder plantations, community plantation forests, and forest.Keyword : Land Use Planning, Ex-Mining Land, Leading Sector, Regional Economic Development.

ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.704 KB)

Abstract

ABSTRAKKawasan hutan Kabupaten Lombok Tengah saat ini tidak bisa memproduksi hasil hutan kayu karena kondisi vegetasi hutan kurang optimal sehingga terjadi defisit kebutuhan kayu di wilayah ini. Salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan kayu adalah melalui produksi hutan rakyat. Saat ini produksi hutan rakyat masih rendah tetapi berpotensi besar, untuk itu dibutuhkan perencanaan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendapatkan jenis tanaman yang potensial berdasarkan referensi masyarakat dan identifikasi tingkat kelayakan dari pengusahaan hutan rakyat; (2) memetakan kesesuaian lahan untuk pengembangan hutan rakyat; (3) mendapatkan potensi ketersediaan lahan untuk pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Lombok Tengah; dan (4) menyusun arahan pengembangan hutan rakyat. Analisis data pada penelitian ini mencakup analisis data spasial berbasis Sistem Informasi Geografi (SIG), analisis finansial, identifikasi jenis tanaman hutan rakyat prioritas menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan lahan yang dialokasikan untuk hutan rakyat di Kabupaten Lombok Tengah yang sesuai dan tersedia untuk sengon yaitu seluas 2.552,2 ha, mahoni seluas 4.363,7 ha dan jati seluas 8.825,8 ha. Analisis finansial menunjukkan bahwa pengusahaan hutan rakyat layak untuk dikembangkan terlihat dari nilai NPV, BCR, dan IRR yang memenuhi kriteria layak walaupun pada tingkat suku bunga yang berbeda. Arahan jenis tanaman hutan rakyat yaitu, pada bagian utara untuk sengon (Paraserianthes falcataria) dan mahoni (Swietenia mahogany) sedangkan di bagian selatan untuk jati (Tectona grandis). Lokasi arahan pengembangan terdapat di 8 kecamatan prioritas yaitu Pujut, Praya Barat, Batukliang, Praya Barat Daya, Batukliang Utara, Kopang, Praya Timur, dan Pringgarata. Saat ini posisi tawar petani masih rendah sehingga harga kayu dari hutan rakyat dikuasai oleh pengumpul/pedagang kayu, karena pola pengembangan dan kelembagaan kelompok tani belum terkoordinasi secara baik. Pola pengembangan kemitraan yang berbasis koperasi merupakan solusi yang tepat.Kata Kunci: hutan rakyat, pengembangan hutan rakyat, prioritas pengembanganABSTRACTCurrently, Central Lombok forest area is unable to produce timber because the forest vegetation is not in optimum condition, and resulted to the lack of wood products. Development of community forest is an alternative to meet the need for timber. Although the timber production derives from the community forest is still low, it is actually potential. Therefore, a good planning is required to boost the production. The objectives of this study were: (1) to obtain an excellent potential of plant types based on the community reference and identifiy the community forest feasibility level in terms of economic value; (2) to map potential land availability for developing community forest; (3) to assess the potential of land availability used to developed the community; and (4) to formulate the direction of community forest development. The data analyses covered in this research include spatial analyses based on Geographic Information System (GIS), financial analysis, plant type identification of the community forest priority, and conducting an Analytical Hierarchy Process (AHP). The results shows that the land allocated for the community forest in Central Lombok was suitable and available for growing sengon (Paraserianthes falcataria) (2,552.2 ha), mahogany (Swietenia mahogany) (4,363.7 ha), and teak (Tectona grandis) (8,825.8 ha). The financial analysis showed that community forest business was feasible to be developed based on the values of NPV, BCR, and IRR that met the feasibility criteria in spite of the different interest rates. The northern part of the community forest was suggested to grow sengon and mahogany while the southern part was recommended to grow teak. The recommended locations for developing the community forests consist of eight sub-districts, namely Pujut, Praya Barat, Batukliang, Praya Tenggara, Batukliang Utara, Kopang, Praya Timur and Pringgarata. The farmer’s bargaining position is apparently low so that the pricing of forest products has been controlled by the timber collectors/traders. This is due to the patterns of institutional development and farmer groups that exist today are not well coordinated. Therefore, developing a pattern of a cooperative-based partnership would be a right solution.Keywords: community forest, community forest development, development priority

PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN BERBASIS KONSERVASI SUMBER DAYA AIR DI SUB DAS CISADANE HULU

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.923 KB)

Abstract

ABSTRAKPermasalahan penggunaan lahan di Sub DAS Cisadane Hulu sudah mengganggu kondisi tata airnya. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk (1) mengidentifikasi kinerja sub-sub DAS; (2) menentukan arahan penggunaan lahan; dan(3) mengidentifikasi preferensi masyarakat tentang jenis penggunaan lahan yang optimal. Parameter penilai kinerjasub-sub DAS meliputi Indeks Penggunaan Lahan (IPL), koefisien limpasan (C), Indeks Bahaya Erosi (IBE) dan kadarsedimen (SC). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 44 sub-sub DAS Cisadane Hulu, 36 sub-sub DAS berkinerjaBuruk dan 8 lainnya berkinerja Sedang. Untuk meningkatkan kinerjanya digunakan skenario terbaik dalam rangkakonservasi sumberdaya air. Skenario Fungsi Kawasan menghasilkan komposisi penggunaan lahan yang terbaik,dibanding skenario Kemampuan Lahan dan RTRW. Dalam skenario terbaik, Sub DAS Cisadane Hulu terbagi atas 3kawasan dengan prioritas penggunaan lahan yang berbeda. Kawasan Lindung diarahkan untuk hutan, kawasanpenyangga diarahkan untuk hutan dan perkebunan campuran, dan kawasan budidaya diarahkan untuk sawah.Analytic Hierarchy Process (AHP) menunjukkan bahwa masyarakat memilih kawasan penyangga diarahkan untukperkebunan campuran dan kawasan budidaya diarahkan untuk sawah. Untuk melaksanakan arahan penggunaanlahan terbaik tersebut, diperlukan strategi kebijakan yaitu penetapan status kawasan, sosialisasi dan pengendalianpemanfaatan ruang yang ketat.Kata Kunci: DAS, Konservasi Sumberdaya Air, Arahan Penggunaan Lahan.ABSTRACTLand use problem in Cisadane Hulu sub watershed has led to deterioration of water resources, so that moreattention should be given to water resources conservation. The objectives of this research were: (1) to identify theperformance of sub watersheds, (2) to evaluate alternatives of land use allocation, and (3) to identify people’spreference on optimum land use. Parameters used for assessing the performance of sub watersheds include LandCover Index (IPL), coefficient of runoff (C), Erosion Hazard Index (IBE) and Suspended Sediment Concentration (Sc).Among the sub watersheds, 36 sub watersheds showed “Poor” performance, and 8 sub watersheds showed “Medium”performance. To improve the performance, 3 scenarios of land use allocation were simulated, those based onFunctional Zone, Land Capability, and Land Use Planning (RTRW). The result showed that Functional Zone scenarioproduced the best result. The best scenario directed the Cisadane Hulu sub watershed into 3 main areas with differentland use priorities. Within this scenario, protected area is directed as forest, buffer zone area as forest or mixedplantation, and cultivated area as rice field. Meanwhile, Analytic Hierarchy Process (AHP) result showed that peopleprefer to use the buffer zone area as mix plantation and the cultivation area as rice field. To implement the best landuse allocation, strategic policy is required such as defining legal status of particular area, socialization andimplementation of tight control of the land use.Keyword: Watershed, Water Resources Conservation, Land Use Allocation.