Articles

Found 22 Documents
Search

KINERJA HUBUNGAN MASYARAKAT PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN DAN KOTA DI JAWA BARAT Rahmat, Agus; Bakti, Iriana
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.067 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v4i2.8612

Abstract

Kebutuhan pemerintah Indonesia atas Humas pemerintah tidak lagi dalam tataran wacana atau sekedar konsep secara keIlmuan, keberadaan Humas pemerintah didorong atas kebutuhan pemerintah untuk menjelaskan apa yang dilakukan oleh pemerintah kepada ,asyarakat guna memperoleh dukungan dan untuk menerangkan apa dan bagaimana yang dilakukan pemerintah sehingga lingkungan masyarakat dalam dan masyarakat luar percaya. sudah sejak lama pemerintah di Indonesia termasuk pemerintah daerah memiliki Humas pemerintah, bahkan khusus di lingkungan pemerintah, profesi ini tergabung dalam wadah BakoHumas. Fakta yang ada dan berkembang mengisyaratkan sekaligus mempertanyakan mengenai kinerja Humas Pemerintah selama ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsi kinerja Humas pemerintah khususnya Humas Pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket. Temuan dari penelitian ini memperlihatkan bahwa: pertama, kinerja Humas pemerintah lebih banyak menerimaan teguran dibanding pujian/penghargaan atas hasil kerja; kedua, pegawai di bagian Humas pemerintah sangat sedikit yang berlatar belakang pendidikan formal komunikasi, terlebih lulusan keHumasan selain itu pegawai juga jarang mendapat pendidikan non formal bidang keHumasan; ketiga, aktivitas Humas pemerintah lebih tertumpu pada kegiatan rutin berupa penyediaan informasi bagi media. Konsekuens dari temuan penelitian ini adalah perlunya pengembangan kompetensi pegawai Humas pemerintah melalui linieritas bidang kerja dan pendidikan bagi pegawai baru dan pelatihan bidang keHumasan bagi petugas yang sudah ada.DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.2
Simbolisasi Logo SMA Taruna Nusantara Fadhani, Reiza; Bakti, Iriana; Komariah, Kokom
Student e-Journal Vol 1, No 1 (2012): Wisuda Agustus 2012
Publisher : Student e-Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.694 KB)

Abstract

Reiza Fadhani 210110070433, Public Relations Department, S-1 Program Regular Padjadjaran University Faculty of Communication Sciences. The title of this undergraduate thesis is the "Symbolization Taruna Nusantara Senior High School Logo". Charles Sanders Peirces Semiotics Analysis of symbolization logo As SMA Taruna Nusantara Corporate Identity. Drs. H. Iriana Bakti, M.Si as the main supervisor and Dra. Kokom Komariah, M.Si As a companion guide.This study aims to find the icon, index and simbolitas at Taruna Nusantara Senior High School logo that serves as a corporate identity. This research uses a paradigm interpretivisme to find out the values and ideology behind the symbols on the logo. The data required in this study gained through observation, interview and literature study. Informants of the study were Dr.. Ismu Triparmi, M.Pd as one witnesses the founding of SMA Taruna Nusantara in 1990. Other samples from this study is Dra. Andras Setyotini, M.Si as Taruna Nusantara Senior High School Head of Public Relations, as well as some students and alumni of Taruna Nusantara Senior High School. The results of this study is the iconic logo of SMA Taruna Nusantara Indonesia archipelago, the Red-white, lotus flower, Segi five, writing "one homeland-one nation-one language", a circular rope knot, blue and yellow colors. Index of Taruna Nusantara Senior High School logo is located in Indonesia, all students of Indonesian nationality, bringing elements of the TNI and the Garden of students, and to unite all students. SMA Taruna Nusantara Simbolitas Logo archipelago was insights, the concept of nationalism, insight kejuangan, nationalism, Pancasila, unity and integrity of the nation.The conclusion from this study indicate that the SMA Taruna Nusantara logo display symbols that represent the values, ideology and institutional basis of the logo is also in accordance with the vision and mission of the institution. Suggestions in this study should SMA Taruna Nusantara more use this logo to make it more known to the public. Taruna Nusantara Senior High School then you should put the logo on the media effectively and efficiently. Kata kunci : Simbolisasi,logo sma
ANALISIS FAKTOR PERSONAL PADA SUMBER KOMUNIKASI DALAM PENGELOLAAN TANAMAN OBAT KELUARGA DI JAWA BARAT Bakti, Iriana; Dewi, Evie Ariadne Shinta; Romli, Rosnandar; Budiana, Heru Ryanto
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.906 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v3i2.7403

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada upaya pemerintah melakukan penyebarluasan informasi tentang tanaman obat melalui saluran interpersonal dengan tujuan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tanaman obat. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor: biologis, sosiopsikologis, dan sosiogenis yang melekat pada diri narasumber (komunikator). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang menggambarkan masalah berdasarkan sifat data kualitatif sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata narasumber (komunikator) memiliki posisi penting sebagai salah satu komponen komunikasi yang dapat membangun efektivitas komunikasi interpersonal dengan anggota masyarakat. Pentingnya keberadaan narasumber ini dapat dilihat dari faktor biologis yang meliputi alasan mengelola toga karena sesuai dengan latar belakang pendidikan, dan tugas pokok dan fungsi pekerjaan yang digelutinya. Adapun dilihat dari faktor sosiopsikologis, narasumber menyatakan toga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pertolongan pertama terhadap masalah kesehatan, bisa menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat, menjadikan pekarangan rumah indah, mengurangi biaya pengeluaran keluarga untuk obat, dan bisa dibuat makanan olahan, misalnya kripik bayem. Sedangkan faktor sosiogenis menanam toga bukan pengalaman baru, masyarakat merespon positif, sesuai dengan bidang ilmu, dan menjadi jaminan dalam bertugas. DOI: 10.24198/jkk.vol3n2.4
City Branding Sawahlunto Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya Melalui Event Sawahlunto International Songket Carnival (Sisca) 2016 Fajrini, Nurkhalila; Bakti, Iriana; Novianti, Evi
PRofesi Humas : Jurnal Ilmiah Ilmu Hubungan Masyarakat Vol 2, No 2 (2018): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.683 KB) | DOI: 10.24198/prh.v2i2.12861

Abstract

Songket Silungkang merupakan produk andalan hasil kerajinan masyarakat kota Sawahlunto. Sejarah songket dan sejarah tambang memperkuat city branding Sawahlunto dalam mewujudkan visi “Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya” yang tertuang dalam Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2001 pada event SISCa. Pada SISCa 2016, transformasi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya direalisasikan melalui konsep dan desain penampilan peserta karnaval. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan dan latar belakang penyelenggara menjadikan Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) 2016 dalam city branding Sawahlunto Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, pemahaman penyelenggara terkait SISCa 2016 dan tindakan komunikasi yang dilakukan penyelenggara SISCa 2016 dalam rangka city branding Sawahlunto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teori konstruksi sosial atas realitas dan konsep city branding menjadi landasan dalam membahas hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan penyelenggara menjadikan SISCa 2016 dalam city branding Sawahlunto adalah adanya keterkaitan dampak yang ditimbulkan dari SISCa 2016 tersebut yakni, dampak ekonomi dan dampak pariwisata. Pemahaman penyelenggara SISCa 2016 terkait city branding kota Sawahlunto tertuang dalam Misi SISCa 2016 sebagai bentuk transformasi visi kota dengan mengangkat konsep wisata tambang. Tindakan komunikasi yang dilakukan penyelenggara melalui tiga tahapan komunikasi, yakni (1) komunikasi tahap awal SISCa antara pemerintah dengan pihak internal dan eksternal, (2) komunikasi saat berlangsungnya SISCa 2016 secara verbal dan non verbal, dan (3) komunikasi pasca SISCa 2016 dilakukan untuk menjalin hubungan baik dalam persiapan SISCa selanjutnya. Dengan demikian, penyelenggaraan SISCa 2016 dianggap sebagai salah satu bentuk promosi daerah sebagai perwujudan visi kota Sawahlunto.
PEMBERDAYAAN PRANATA SOSIAL MELALUI KOMUNIKASI LINGKUNGAN: MENAKAR PELIBATAN PERAN PEREMPUAN DALAM MITIGASI BANJIR CITARUM Bakti, Iriana; Hafiar, Hanny; Budiana, Heru Riyanto; Puspitasari, Lilis
Jurnal Kawistara Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.247 KB) | DOI: 10.22146/kawistara.24313

Abstract

The study is titled implementation of environmental communication based on the social institution in coping with the flood in the Citarum Watershed Upstream. Citarum river pollution and silting are currently in a state of particular caused by forest encroachment in the upstream, land use, household waste, animal husbandry, industry, offices, etc, so when the rainy season caused the occurrence of floods. In addition, these conditions have resulted in water quality being unfit to be utilized, both for drinking water, washing, bathing, irrigation for agriculture and so on. The actuator environment seeks to restore the Citarum Watershed upstream conditions by building public awareness so they may want to change their attitudes and behavior, one of them by not disposing of waste into the river. The selected communities are those that are incorporated in a social institution in the region. The purpose of the research is to find out about the types of institution, the reason for utilizing the institution, and the role of the environment actuator communication in a social institution. The methods used in this research is descriptive with qualitative data to describe the various realities of communication activities related to the environment by leveraging social institution in coping with the disaster of the flood in the area of Citarum Watershed Upstream. Research results showed in the region there are four types of institutions, namely the institution of religious, economic, agricultural and social. Institution related to religious activity is Majlis Talim (the place of informal Islamic teaching and education), institution related to the activity of the economy is an arisan (regular social gathering), institution related to social activity is the PKK (Family Welfare Guidance), and institution related to the agricultural activity is The Association of Farmers Group (Gapoktan). The reason for the environment actuator utilizing social institution are as the entrance (access) to carry out flood mitigation program, already familiar, easy to invited to cooperate and to expand the network. The role of the environment actuator in the institution as a communicator and facilitator in conducting dissemination of information and training of waste utilization to the members of the institutions.
Citra Kampung Adat Cireundeu pada Ritual Suraan Widyaputra, Fauzan Ahdi; Novianti, Evi; Bakti, Iriana
PRofesi Humas Vol 3, No 2 (2019): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.371 KB) | DOI: 10.24198/prh.v3i2.14953

Abstract

Cireundeu merupakan salah satu kampung adat di Jawa Barat  yang sampai saat ini masih memelihara tradisi kearifan lokal berupa ritual Suraan yang diselenggarakan setiap tahun. Melalui tradisi ini,   Cireundeu berusaha  mempertahankan citra sebagai Kampung Adat yang masih mempertahankan tradisi peninggalan jaman dahulu ditengah modernisasi ritual ini pada dasarnya merupakan kegiatan komunikasi yang sarat dengan simbol yang mengandung makna. Studi ini bertujuan untukmenjelaskan tentang aktivitas komunikasi yang dilakukan masyarakat Kampung Adat Cireundeu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan sifat datanya kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan  observasi parsitipasif, wawancara dengan informan yang menjadi pelaku ritual, dan studi kepustakaan yangrelevan dengan masalah yang diteliti.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual upacara Satu Sura ini merupakan manifestasi dari rasa syukur masyarakat adat Cireundeu atas keberkahan yang diberikan Sang Pencipta, dan menjadi alat kontrol dalam tindakan atau pergaulan antar sesama manusia.Perilaku komunikasi yang terlihat  pada aktivitas ritual Suraan initermasuk pada perilaku terbuka, karena semua orang diperkenankan untuk terlibat di alamnya untuk mengekspresikan perasaannya, sehingga  masyarakat Kampung Adat Cireundeu merespon stimulus dalam hal ini rangkaian ritual dengan bentuk tindakan dan praktek (practice), sehingga masyarakat akan melakukan komunikasi sesuai dengan kebutuhannya. Citra yang terbangun pada Kampung Adat Cireundeu adalah kampung yang masih memelihara kearifan lokal di tengah modernisasi.
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK INDIVIDU PETANI DENGAN KOHESIVITAS KELOMPOK TANI TANAMAN OBAT Bakti, Iriana; Novianti, Evi; Priyatna, Centurion Chandratama; Budiana, Heru Ryanto
PRofesi Humas : Jurnal Ilmiah Ilmu Hubungan Masyarakat Vol 1, No 2 (2017): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.875 KB) | DOI: 10.24198/prh.v1i2.10294

Abstract

Petani merupakan salah satu elemen penting dalam proses pengelolaan tanaman obat di Jawa Barat. Mereka berusaha berinteraksi, baik dengan sesama anggota kelompoknya, maupun dengan kelompok lain, serta dengan para petugas yang membinanya, sehingga dari interaksi tersebut terbangun kohesivitas kelompok di antara mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) hubungan antara jenis kelamin petani dan kohesivitas kelompok tani, 2) hubungan lamanya bertani dengan kohesivitas kelompok tani, dan 3) hubungan antara luas lahan yang dimiliki dan kohesivitas kelompok tani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini survei eksplanatif. Teknik analisis menggunakan korelasional, dan rumus statistik untuk menguji hipotesis adalah rank order Spearmans. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, pedoman wawancara, dan studi kepustakaan. Populasi penelitian ini adalah kelompok tani tanaman obat di Jawa Barat. Teknik sampling yang digunakan adalah multy stage cluster sampling. Sampel penelitian berasal dari Kabupaten Bogor (K. T Lindung harapan dan K. L Tani Mekar), Kabupaten Sukabumi (Gapoktan Kamuningjaya), dan Kabupaten Majalengka (KT Melati, KT Dahlia, dan Cempaka Mukti). Seluruhnya ada 114 anggota. Hasil penelitian ini antara lain: 1) terdapat hubungan antara jenis kelamin petani dengan kohesivitas kelompok tani tanaman obat, 2) terdapat hubungan antara lamanya bertani dengan kohesivitas kelompok tani, dan 3) terdapat hubungan antara luas lahan yang dimiliki dengan kohesivitas kelompok tani. Secara umum karakteristik individu petani memiliki hubungan yang positif dengan kohesivitas kelompok tani. Petani mayoritas wanita pada umumnya memiliki kesamaan pandangan, senang pada kegiatan kelompok, menjadikan pertemuan kelompok sebagai wadah belajar untuk meningkatkan wawasan, pembagian tugas, dan kerja sama. Demikian pula dengan luas lahan yang dimiliki, relatif terbatas, menjadikan anggota kelompok tani tersebut merasa senasib dan tidak terdapat gap kepemilikan tanah, sehingga mereka bisa bekerja sama untuk mengelola tanaman obat disesuaikan dengan lahan yang ada. Lamanya bertani tidak ada hubungannya dengan kohesivitas, karena komoditas yang ditanam bukan komoditas unggulan.
CORPORATE REBRANDING FRAMEWORK OLEH CGV CINEMAS Khairunnisa, Silka; Hafiar, Hanny; Bakti, Iriana
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.12249

Abstract

Abstract. The purpose of research are to determine the stages of analysis, planning and eval-uation of corporate rebranding framework of CGV Blitz to be CGV Cinemas. This research uses descriptive method with qualitative data type. Data collection method used in this research is in-terview, observation, and literature study.The results of this research showed that CGV Cinemas has been rebranding but in reality there are still many stakeholders from CGV Cinemas that tar-geted for rebranding that still not aware of the rebranding of CGV Blitz to CGV Cinemas by doing three stages of analysis, planning and evaluation. In this study concluded that at the analysis stage, planning and evaluation, communication campaign that CGV Cinemas do to internal cus-tomer has not been able to optimally because there’s still employee that did not undetstand with CGV Cinemas concept and still miscalled the old brand.At the evaluation stage, CGV Cinemas are not doing an evaluation after communication campaign and only doing an evaluation at the time of execution of socialization in the form of question and answers and CGV Cinemas are doing evaluation in focus group discussion to some customers but those evaluation was evaluation non formal and not spread and did not have a structured results that’s why those evaluation could not be used as a measure of success while doing or after doing a rebranding to customers Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tahapan analisis, perencanaan dan evaluasi corporate rebranding framework CGV Blitz menjadi CGV Cinemas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CGV Cinemas sudah melakukan rebranding namun pada ken-yataannya masih banyak stakeholders dari CGV Cinemas yang menjadi target untuk rebranding yang masih tidak mengetahui adanya rebranding CGV Blitz menjadi CGV Cinemas dengan melakukan tiga tahapan yaitu tahapan analisis, perencanaan dan evaluasi. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa pada tahap analisis, perencanaan dan evaluasi, communication campaign yang CGV Cinemas lakukan ke internal customer masih belum optimal dikarenakan, masih ada karya-wan yang belum paham dengan konsep CGV Cinemas dan masih salah menyebut merek lamanya dan CGV Cinemas tidak mengadakan evaluasi sesudah mengadakan kampanye komunikasi dan hanya melakukan evaluasi pada saat pelaksanaaan sosialisasi dalam bentuk tanya jawab dan CGV Cinemas melakukan evaluasi focus group discussion ke beberapa customer namun evaluasi terse-but merupakan evaluasi non formal dan tidak menyeluruh serta tidak mempunyai hasil yang ter-struktur maka dari itu evaluasi tersebut tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan saat melakukan maupun sesudah melakukan rebranding terhadap customer.
Tahapan Kampanye “This Album is Gold” oleh Band Indie Elephant Kind Effendy, Tiara Putri; Bakti, Iriana; Hafiar, Hanny
J-IKA Vol 5, No 1 (2018): JURNAL J-IKA
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.047 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan kampanye “This Album is Gold” yang dilakukan oleh Band Indie Elephant Kind. Metode Penelitan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif menggunakan paradigma positivisme. Konsep yang digunakan dalam kampanye ini adalah model kampanye The Five Functional Stages Development Model yang dikemukakan oleh tim peneliti dari Yale University Terdapat 5 lima tahap dalam model ini, yaitu identifikasi, legitimasi, partisipasi, penetrasi, dan distribusi. Hasil dari penelitian ini adalah, identitas yang digunakan dalam kampanye ini adalah warna emas dan logo yang digunakan adalah logo City J. Elephant Kind mendapatkan legitimasi dari Detikhot.com sebagai Top Album 2016. Masyarakat terlibat dalam kampanye ini dengan membeli CD mereka, datang ke konser mereka, memberikan karya seni, mengunggah foto dan video dengan tagar #thisalbumisgold, dan memberikan apresiasi secara langsung. Penetrasi yang didapatkan berupa simpati yaitu apresiasi secara langsung dan masyarakat turut bernyanyi dalam konser, juga mendapatkan tempat di hati masyarakat dilihat dari masyarakat mau membeli konser Elephant Kind juga mengundang Elephant Kind dalam acara. Tahap terakhir yaitu tahap distribusi merupakan tahap yang belum berhasil dalam kampanye ini. Elephant Kind masih belum bisa menjual CD Fisiknya dalam jumlah yang diinginkan. Saran yang diberikan untuk Elephant Kind adalah sebaiknya mereka menambah media untuk promosi, menambah jaringan distribusi, dan menambah tim khusus untuk melakukan distribusi CD Fisik.
MANAJEMEN SPECIAL EVENT HALLYU COME ON SPECIAL MANAGEMENT OF HALLYU COME ON Anwar, Auliani; Bakti, Iriana; Budiana, Heru Ryanto
Metacommunication: Journal of Communication Studies Vol 3, No 1 (2018): Maret
Publisher : Metacommunication: Journal of Communication Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  The tittle of this research is “Special Management of Hallyu Come On”. This study aims to determine the management event process of Hallyu Come On, namely research, planning, design, coordination, and evaluation. The method of this research is qualitative descriptive study with the paradigm of positivism. Engineering research data collection was carried out through interviews, observation, documentation and literature study. The results showed that Hansamo implement special event management process in Hallyu Come On 2016 which is a research, planning, design, coordination, and evaluation. The research phase by FGD and internet fact finding, design phase by designing event mascot, event venue decoration and publication. Planning phase with goal setting, time, place and ticketing, event concepts, event content, rundown, event tempo, performers, sponsorship, parter media, licensing and publication. Coordination phase conducted by forming committees divided into three parts namely, the core committee or the committee of the upper line, the mid-line committee and the lower line committee and then coordinate with internal parties which is internal members of Hansamo and coordinate with external parties like media partners, sponsors, Korean Association, police, PMI, residents around the location pickles, stage vendors and lighting, guest star. The conclusion of this research is Hansamo as the organizer of Hallyu Come On is good enough to carry out special event management at each phase even though there are still shortcomings, but the event runs in accordance with the planning and success of media coverage that reported Hansamo as Korean community.Keywords:  Managemenet Special Event, Hallyu Come On, Public Relations Process, Hansamo.  ABSTRAK Judul penelitian ini adalah, “Manajemen Special Event Hallyu Come On”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses manajemen special event Hallyu Come On yang diselenggarakan oleh Hansamo Bandung – Korean Community, yakni riset, desain, perencanaan, koordinasi dan evaluasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dekriptif, dengan paradigma positifisme. Teknik pengumpulan data ini dilakukan melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hansamo menerapkan manajemen special event dalam pelaksanaan Hallyu Come On 2016 yakni, riset, desain, perencanaan, koordinasi dan evaluasi. Tahap riset yakni dengan FGD dan fact finding melalui internet, tahap desain dengan mendesain maskot, dekorasi venue acara, lighting dan publikasi, tahap perencanaan dengan penetapan tujuan, waktu, tempat dan ticketing, konsep acara, konten acara, rundown, tempo acara, pengisi acara, sponsorship, media parter, perizinan dan publikasi. Tahap koordinasi dilakukan dengan membentuk kepanitiaan yang dibagi menjadi tiga bagian yakni, panitia inti atau panitia lini atas, panitia lini tengah dan panitia lini bawah lalu berkoordinasi dengan pihak dan internal anggota Hansamo dan eksternal Media partner, sponsor, Korean Association, kepolisian, PMI, warga sekitar lokasi acar, vendor stage dan lighting, guest star. Tahap evaluasi dilakukan dua kali yaitu evaluasi acara dan evaluasi pasca acara. Simpulan dari penelitian ini adalah Hansamo sebagai penyelenggara Hallyu Come On sudah cukup baik melaksanakan manajemen special event meskipun pada setiap tahapnya terdapat kekurangan, namun acara berjalan sesuai dengan perencanaan dan berhasil mendapatkan liputan media yang memberitakan Hansamo sebagai komunitas penyuka Korea.Kata Kunci: Manajemen Special Event, Hallyu Come On, Proses Public Relations, Hansamo