Mohammad Bakhriansyah
Department of Pharmacology, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat. Jl. A Yani Km 36 Banjarbaru Kalimantan Selatan Telepon dan faksimili: (0511) 4773470

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Aktivitas antiproliferasi ekstrak etanol biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) pada sel kanker payudara T47D

Jurnal Kedokteran Yarsi Vol 14, No 2 (2006): Jurnal kedokteran Yarsi
Publisher : Jurnal Kedokteran Yarsi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.108 KB)

Abstract

ABSTRACTThe mahkota dewa (P. macrocarpa (Schefi) Boerl.) seed empirically has been used for cancer treatment. There is no scientific evidence yet to support it. This work was done to investigate the proliferative inhibition activity of the ethanol extract of mahkota dewa seed on breast cancer cell line T47D in vitro. Experimental method with post-test control group design was used in this study. Proliferative inhibition activity of efhanol extract of the mahkofa dewa seed was visuallyinvestigated after 24, 48, and 72 hours of incubation by friphan blue method. The results showed that the ethanol extract of the mahkota h asee d inhibited the proliferative activity of breast cancer cell lines T47D that makes prolonged its doubling time from 27,89 f 0.46 hours to 53,62 f 1,14 hours at 3,125 pdml and to 37,73 k 2,65 hours at 1,5625 pgml. Based on this result it is concluded that the ethanol extract of mahkofa dewa seed inhibited proliferative activity of breast cancer cell line T47D.KEYWORDS Antiproliferative; mahkota dewa; breast cancer

Antibacterial invitroand antidiarrhea invivoeffects of the infusion of sago roots (Metroxylon sagu)

INDONESIAN JOURNAL OF PHARMACY Vol 22 No 3, 2011
Publisher : Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Skip Utara, 55281, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.044 KB)

Abstract

Fresh  root  of  sago  (Metroxylon  sagu)  traditionally  has  been  used  as  an antidiarrhea  in  South  Kalimantan  community.  However,  there  is  no  scientific data  yet  to  support  it.  The  aims  of  this  study  were  to  investigate  the antibacterial effect of the infusion of sago root on Salmonella typhi(S. typhi) as one  of  bacteria  causing  diarrhea in  vitro and  to  find  out  its  effects  as  anti diarrhea  in  male  mice  induced  by  castor  oil in  vivo. This  experimental  study measured the inhibitory zone in S. typhiculture and to count the frequency and duration  of  diarrhea.  It  used  3  concentrations,  i.e  10%;  20%  and  40%  of  the infusion of sago root. Chloramphenicol and aquadest were used as positive and negative  control  groups  respectively  in in  vitro study,  whereas  in  in  vivo one loperamide was positive control group. Chloramphenicol was used since it is an antibiotic  standard  for  eradicating S.  thypi, whereas  Loperamide  is  anti peristaltic  agent  from  declining  the  frequency  and  duration  of  diarrhea.  The infusion  inhibited  radical  zone  of  S.  typhi culture  by  7.8;  9.8  and  10  mm, decreased  the  frequency  of  diarrhea  24.23%;  40.54%  and  16.22%  and decreased  the  duration  of  diarrhea  26.69%;  52.92%  and  10.27%  at concentration  10%,  20%  and  40%,  respectively. As  conclusion  the  infusion  of sago  root  has  the  potency  as  anti  bacteria  and  decrease  the  frequency  and duration of diarrhea. The best concentration of the infusion of sago root is 20%.Key words: Metroxylon sagu, Mice, Anti diarrhea, Anti bacteria

Hubungan Merokok dengan Kecenderungan Demensia pada Laki Laki Lanjut Usia di Kecamatan Banjarmasin Barat Periode Juni-September 2013

Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: A cigarette contains about 4000 elements and with more than 200 of them are harmful. Smoking behaviour is a risk factor for declining in cognitive function, such as dementia. Dementia is defined as a clinical symptoms characterised by short-term memory loss and impaired of global mental functions including language function, the decrease in abstract thinking, the difficulty of taking care of themselves, behavioural changes, emotional labile and disorientation of time and places. Dementia is mostly experienced by the elderly, in particular those of aged by over 60 years old. This research aimed to find out the relationship between smoking behaviour and the tendency of dementia in elderly men at Kecamatan Banjamasin Barat over the period June-September 2013. It was an observational analytic study with cross-sectional approach involving 150 elderly men. Respondents were selected randomly by using simple random sampling method. The tendency of dementia was determined by Mini Mental State Examination (MMSE) questionnaire. The results showed that 53 (61.63%) of 86 smoking elderly had a tendency of dementia, and 30 (46.88%) of 64 non-smoking elderly also had it. The statistical analysis using Chi-Square test showed that the p value was 0.073 and the odd ratio was 1.82. It could be concluded that there is no significant relationship between smoking behaviour and the tendency of dementia in elderly men at Kecamatan Banjarmasin Barat June-September 2013.Keywords : dementia, men, elderly, smoking ABSTRAK: Rokok mengandung sekitar 4000 elemen dengan 200 di antaranya yang berbahaya bagi kesehatan. Merokok juga merupakan faktor risiko terhadap penurunan fungsi kognitif, seperti demensia. Demensia adalah kumpulan gejala klinik yang ditandai dengan hilangnya daya ingat jangka pendek dan gangguan global fungsi mental termasuk fungsi bahasa, penurunan cara berpikir abstrak, kesulitan merawat diri sendiri, perubahan perilaku, emosi labil dan disorientasi waktu dan tempat. Demensia sering dialami kaum lansia, khususnya yang berusia di atas 60 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan merokok dengan kecenderungan demensia pada laki-laki lanjut usia di Kecamatan Banjarmasin Barat periode Juni-September 2013. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pemilihan responden penelitian dilakukan dengan cara simple random sampling. Sampel penelitian adalah 150 laki-laki lanjut usia. Kecenderungan demensia ditentukan dengan kuesioner Mini Mental State Examination (MMSE). Hasil penelitian menunjukkan dari 86 lansia perokok yang mengalami kecenderungan demensia adalah 53 orang (61,63%), serta dari 64 lansia bukan perokok yang mengalami kecenderungan demensia adalah 30 orang (46,88%). Data kemudian dianalisis dengan uji statistik Chi-Square. Hasil  analisis data dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai p=0,073 dan nilai Odd Ratio (OR)= 1,82. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan merokok dengan kecenderungan demensia pada laki-laki lanjut usia di Kecamatan Banjarmasin Barat periode Juni-September 2013.                                                  Kata-kata kunci: demnsia, laki-laki, lansia, merokok

Hubungan Antara Perilaku Merokok Dan Kejadian Insomnia: Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Cigarettes contain about 4000 toxic substances thataffecting health status and cigarettes consumption leads to some diseases such as cardiovascular and respiratory diseases, malignancy, mental and other disorders, including insomnia. This researchwas aimed to analyze the association between smoking behavior and insomnia on Medical Faculty student of LambungMangkurat University. It was an observational analytic studywith cross-sectional approach. The population was108 male students who met the inclusion criteria. Insomnia was assessed by Insomnia Rating Scale questionnaire. The result showed that 5 smoker students with insomnia (15.15%), 28 smokers students without insomnia (84.85%), 2 non-smoker students with insomnia (2.67%), and 73 non-smoker students without insomnia (97.33%). The data were analyzed by usingFisher’s statistic test with 95% confidence interval.Statistical analysis revealed that the p value 0.027. Hence, there was anassociation between smoking behavior and insomnia. It couldbe concluded that there wasan significant association betweensmoking behavior and insomnia on Medical Faculty student of LambungMangkurat University.Keywords: smoking behavior, insomnia, male, Medical Faculty student of LambungMangkurat University.ABSTRAK: Rokok memiliki sekitar 4000 zat beracun yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Berbagai gangguan seperti penyakit kardiovaskular, pernapasan, keganasan, mental dan gangguan lainnya, termasuk insomnia dapat muncul sebagai akibat konsumsi rokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok dan kejadian insomnia pada mahasiswa FK UNLAM. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 108 mahasiswa laki-laki di FK UNLAM yang memenuhi kriteria inklusi. Kejadian insomnia ditentukan dengan menggunakan kuesioner Insomnia Rating Scale. Dari kuesioner didapatkan data mahasiswa perokok dengan insomnia 5 orang (15,15%), mahasiswa perokok tanpa insomnia 28 orang (84,85%), mahasiswa nonperokok dengan insomnia 2 orang (2,67%), dan mahasiswa nonperokok tanpa insomnia 73 orang (97,33%). Data kemudian dianalisis dengan uji statistik Fisher’s.Hasil  analisis data menggunakan uji Fisher’s dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai p = 0,027. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan risiko terjadinya insomnia pada mahasiswa perokok FK UNLAM. Kata-kata kunci:perilaku merokok, insomnia, laki-laki, FK UNLAM 

Hubungan Antara Status Keakraban Orang Tua-Anak Dan Kecenderungan Antisosial: Pada Pelajar SMK YPK Kota Banjarbaru

Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Juvenile delinquency is a form of antisocial behavior. Teenagers who have no proximity with their parents tend to have antisocial behaviors compared to them who have it with their parents. This study aimed to determine the relationship between the status of the parents-child proximity and the antisocial tendency on students at YPK Senior High School Banjarbaru. This was a descriptive analytical study with cross sectional approach. Samples involved in this study were 48 students and were selected by purposive sampling technique. Status of the parents-child proximity and the antisocial tendency were determined by using ‘Instrumen Keakraban Remaja-Orang tua (IKRO)’ and The Manson Evaluation Test, respectively. The samples consisted of 16 students had no proximity with their parents and 32 students who had it. The data showed that students who had no proximity with parents having antisocial tendency were 16 (33%) and none of students with no antisocial tendency (0%), whereas, students who had proximity with parents having antisocial tendency were 24 (50%) and those with no antisocial tendency were 8 (17%). Statistical analysis using Fisher test at 95% confidence level showed a significant relationship between proximity status of parents-child and the antisocial tendency on students at SMK YPK Banjarbaru (p=0,039). Keywords:  proximity of parents-child, antisocial behavior, YPK Senior High School                    Banjarbaru. ABSTRAK: Kenakalan remaja merupakan salah satu bentuk perilaku antisosial. Remaja yang tidak memiliki keakraban dengan orang tua cenderung memiliki perilaku antisosial dibandingkan dengan remaja yang memiliki keakraban dengan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status keakraban orang tua-anak dan kecenderungan antisosial pada pelajar SMK YPK Kota Banjarbaru. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan sampel penelitian sebanyak 48 orang dan dipilih secara purposive sampling. Status keakraban orang tua-anak dan kecenderungan antisosial ditentukan dengan menggunakan masing-masing kuesioner yaitu Instrumen Keakraban Remaja-Orang tua (IKRO) dan The Manson Evaluation Test. Sampel terdiri atas, 16 orang pelajar yang tidak memiliki keakraban dengan orang tua dan yang memiliki keakraban dengan orang tua berjumlah 32 orang. Hasil pengumpulan data tersebut menunjukkan bahwa pelajar SMK YPK yang tidak memiliki keakraban dengan orang tua memiliki kecenderungan antisosial sebanyak 16 orang (33%), sementara tidak ada pelajar yang tidak memiliki kecenderungan antisosial (0%). Selain itu, pelajar SMK YPK yang memiliki keakraban dengan orang tua memiliki kecenderungan antisosial sebanyak 24 orang (50%) dan tidak memiliki kecenderungan antisosial sebanyak 8 orang (17%). Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Fisher pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara status keakraban orang tua-anak dan kecenderungan antisosial pada pelajar SMK YPK Kota Banjarbaru (p=0,039). Kata kunci: keakraban orang tua-anak, perilaku antisosial, SMK YPK Banjarbaru

Profil Penderita Kanker Paru Primer Di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2006-2011

Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Lung cancer is one of the most common malignancies causing very high morbidity and mortality. Many factors can contribute to the incidence of lung cancer instead of the mayor factor, smoking. It was the ten of pulmonary diseases at RSUD Ulin Banjarmasin. The aim of this research was to describe the profile of patients with primary lung cancer at RSUD Ulin Banjarmasin in 2006-2011. It was a descriptive study using medical records data. There were 134 data with confirmed case of lung cancer. Most of patients with lung cancer were male (76.12%), and male and female ratio was 3: 1. The mean age of patients was 57 years old, particularly at the fifth decade (29.85%). The most common clinical symptom was shortness of breath (53.73%). The most common histological type of lung cancer was adenocarcinoma (61.96%). Most patiens were diagnosed in the final stages of the disease, i.e IVA and IVB (56.72% and 17.91%). There were 33.59% patients with of primary lung cancer living in the city of Banjarmasin.  Keywords:      primary lung cancer, risk factors of primary lung cancer, histological  type, clinical stage, RSUD Ulin Banjarmasin ABSTRAK: Kanker paru merupakan salah satu keganasan yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya kanker paru, selain faktor utamanya yaitu merokok. Di RSUD Ulin Banjarmasin, kanker paru masuk dalam urutan sepuluh besar penyakit paru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil penderita kanker paru primer di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2006-2011. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder. Penelitian ini melibatkan 134 data pasien yang didiagnosis kanker paru primer. Sebagian besar penderita kanker paru primer adalah laki-laki (76,12%) dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan 3:1. Umur rata-rata adalah 57 tahun dengan umur terbanyak pada dekade kelima (29,85%). Gejala klinis yang paling sering dikeluhkan adalah sesak nafas (53,73%). Jenis histologi kanker paru primer yang terbanyak adalah adenokarsinoma (61,96%). Sebagian besar pasien berada pada stadium akhir yaitu stadium IVA dan IVB (56,72% dan 17,91%). Sebanyak 33,59% penderita kanker paru primer bertempat tinggal di kota Banjarmasin. Kata kunci:  kanker paru primer, faktor risiko kanker paru primer, jenis histologi sel,  stadium klinis, RSUD Ulin Banjarmasin

Studi Interaksi Farmakodinamik Efek Analgesik Kombinasi Perasan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) dengan Parasetamol: Kajian terhadap waktu reaksi nyeri menggunakan metode hot plate pada mencit (Mus musculus)

Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Mengkudu (Morinda citrifolia) has been proven in  possessing the analgesic effect. The similarity of analgesic activity of mengkudu and paracetamol enable the existence of analgesic effect interaction synergistically when they are both combined. The objective of this research is to find out the pharmacodynamic interaction between the juice of mengkudu and paracetamol. The research was an experimental research with posttest-only with control group design. The control group consists of 6 groups, and each group had 5 mice. The 1st group was given aquadest 0.5 ml; the 2nd group was given the juice of mengkudu 0.042 mg/g BB; the 3rd group was given paracetamol 0.065 mg/g BB; while the 4th , 5th, 6th groups were given the combination of mengkudu juice 0.042 mg/g BB and paracetamol with the dosages 0.01625 mg/g BB; 0.0325 mg/g BB; 0.065 mg/g BB, respectively. Treatments were given 10 minutes before mice were painly induced by using hot plate. The average of onset of pain for group I, II, III, IV, V, VI were 5.36; 8.28; 8.02; 9.67; 10.5 and 11.74 seconds, respectively. Statistical anaysis using Kruskal Wallis showed that there was significance difference among groups (p = 0.000) while the very potential effect was in group with paracetamol dosage on 0,065 mg/g BB. Based on this research, it can be concluded that there is sinergycal interaction between the combination of mengkudu juice with paracetamol on mice. Keywords : analgesic effect, mengkudu, paracetamol, onset of pain, synergycal interaction ABSTRAK: Mengkudu (Morinda citrifolia) telah terbukti memiliki efek analgesik. Kesamaan aktivitas analgesik buah mengkudu dan parasetamol memungkinkan adanya interaksi efek analgesik yang sinergis ketika keduanya dikombinasikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi farmakodinamik efek analgesik kombinasi perasan buah mengkudu dengan parasetamol. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan pendekatan posttest-only with control group design, terdiri dari 6 kelompok. Setiap kelompok memiliki 5 ekor mencit. Kelompok I diberikan aquadest 0,5ml, kelompok II diberikan perasan buah mengkudu dengan dosis 0,042 mg/g BB, kelompok III diberikan parasetamol 0,065 mg/g BB sedangkan, kelompok IV, V, VI diberikan kombinasi perasan buah mengkudu 0,042 mg/g BB dan parasetamol dengan dosis masing-masing: 0,01625 mg/g BB; 0,0325 mg/g BB; 0,065 mg/g BB, diberikan 10 menit sebelum dilakukan induksi nyeri di atas hot plate. Rerata waktu reaksi nyeri mencit pada kelompok  I, II, III, IV, V, dan VI berturut-turut adalah 5,36; 8,28; 8,02; 9,67; 10,5 dan 11,74 detik. Hasil analisis statistik Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara berbagai kelompok dengan nilai p = 0,000, dengan dosis kelompok kombinasi yang paling potensial memberikan efek analgesik adalah kelompok dengan dosis parasetamol 0,065 mg/g BB. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi yang sinergis pada kombinasi perasan buah mengkudu dengan parasetamol pada mencit. Kata-kata kunci: efek analgesik, buah mengkudu, parasetamol, waktu reaksi, interaksi.

Hubungan Kejadian Premenstrual Syndrome (PMS) dengan Kejadian Insomnia pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Unlam Banjarmasin: Kajian pada Mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Angkatan 2010-2012

Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Pre Menstrual Syndrome (PMS) is a set of physical, psychological and emotional symptoms within, 7-10 days prior to menstruation. Some epidemiological studies showed that PMS are common in women of reproductive women, including university student. A variety of symptoms such as anxiety, fatigue, concentrating difficulty, lack of energy, headaches, abdominal pain, and other symptoms, including insomnia can be found in women who suffered from PMS. This research was aimed to analyze the association between PMS and insomnia within school of medicine students. It was an observational analytic study with cross - sectional approach. The population was 58 female students who met the inclusion criteria. Insomnia was assessed by Insomnia Rating Scale questionnaire. The result showed that 7 students with PMS having insomnia (29.16 %), 17 students with PMS having no insomnia (70.84 %), 5 students without PMS having insomnia (14.70 %), and 29 students with no PMS having no insomnia (85.30 %). The data were analyzed statistically by using chi-square test with 95% confidence interval. The p value was 0.184. It could be concluded that there is no significant association between PMS and insomnia in School of Medicine students of Lambung Mangkurat University. Key words : PMS, insomnia, students, School of Medicine ABSTRAK: Pre Menstrual Syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang biasanya terjadi 7-10 hari sebelum menstruasi. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa gejala PMS banyak ditemukan pada wanita usia reproduksi, termasuk salah satunya adalah mahasiswi. Berbagai gejala seperti cemas, lelah, susah konsentrasi, hilang energi, sakit kepala, sakit perut, dan gejala lainnya, termasuk insomnia dapat ditemui pada wanita yang mengalami PMS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian PMS dengan kejadian insomnia pada mahasiswi PSPD FK UNLAM. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 58 mahasiswi PSPD FK UNLAM yang memenuhi kriteria inklusi. Kejadian insomnia ditentukan dengan menggunakan kuesioner Insomnia Rating Scale. Dari kuesioner didapatkan data mahasiswi PMS dengan insomnia sebanyak 7 orang (29,16%), mahasiswa PMS tanpa insomnia sebanyak 17 orang (70,84%), mahasiswa non PMS dengan insomnia sebanyak 5 orang (14,70%), dan mahasiswa non PMS tanpa insomnia sebanyak 29 orang (85,30%). Hasil  analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai p = 0,184. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian PMS dengan kejadian insomnia pada mahasiswi penderita PMS PSPD FK UNLAM. Kata kunci: PMS, insomnia, mahasiswi, PSPD FK UNLAM

Efek Pajanan Kadmium (Cd) terhadap Kadar Malondialdehyde (MDA) pada Ovarium Tikus Putih (Rattus norvegicus)

Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Cadmium (Cd) is heavy metal that pollutant in the environment. Chronic intake of Cd induces toxicity on liver, kidney, and ovary. Cd could damage the tissue with stress oxidative damage mechanism. Malondyaldehyde (MDA) is the product of lipid peroxidation used as a measure of lipid peroxidation and stress oxidative damage. This was an experimental laboratoric using two groups. The control group P(0) was given aquadest 2 ml per day for 4 weeks and the exposure group P(1) was given a solution of Cd with a concentration of 1.2 x 10-2 mg for 4 weeks. The results showed the mean of MDA level in the P(0) and the P(1) were 214.80 μM and 232.00 μM, respectively. Statistical analysis using Unpaired Test-T obtained the result p = 0.016 (p<0.05). It can be concluded that Cd causes increased MDA levels in rats ovary. Keywords: Cadmium, malondialdehyde, ovarium, oxidative stress, rats. ABSTRAK : Kadmium (Cd) merupakan logam berat bersifat polutan yang mencemari lingkungan. Paparan kronik Cd berefek toksik terhadap hati, ginjal, dan ovarium. Cd merusak jaringan melalui mekanisme stres oksidatif. Malondialdehyde (MDA) merupakan produk akhir dari peroksidasi lipid  yang menjadi parameter dalam mengukur kerusakan oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pajanan Cd terhadap kadar MDA ovarium tikus putih. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik yang dilakukan pada 2 kelompok, yakni kelompok kontrol P(0) yang diberi aquadest sebanyak 2 ml selama 4 minggu dan kelompok perlakuan P(1) yang diberi Cd dengan konsentrasi 1,2 x 10-2 mg dalam 2 ml aquadest setiap hari selama 4 minggu. Hasil penelitian didapatkan rerata pada kelompok kontrol P(0) sebesar 214,80 ± 22,90 μM dan pada kelompok perlakuan P(1) sebesar 232,00 ± 20,40 μM dengan nilai p = 0,016 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa Cd menyebabkan peningkatan kadar MDA pada ovarium tikus putih. Kata-kata kunci: Kadmium, malondialdehyde, ovarium, stres oksidatif, tikus putih. 

Korelasi antara Lama Studi dan Tingkat Kecemasan Mahasiswa

Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 1, No 2 (2012): JULI
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.794 KB)

Abstract

Background: Medical students face many changes when they entered higher education. These changes of learning occurred in competency-based curriculum compared to at high school learning such as approach of problem based learning and skills lab. The changes create anxiety for them. However, theoretically, anxiety decreases with longer exposure. The aims of this study were to find out the different of students’ anxiety status when they were at semester 1 and 2. It was also to find out the correlation between the length of study and anxiety level.Method: This was a descriptive study involving UNLAM medical students. 73 students were involved in this study at semester 1 and 88 students were involved in semester 2. Anxiety status was defined by using ADS questionnaire. Afterward the data were analyzed using Chi-square and Coefficient of Correlation at 95% level of confident.Results: There was 20 students (37.4%) experiencing anxiety at semester 1 and 11 students (12.5%) at semester 2, the different was statistically different (p=0.000). The correlation between the length of study and anxiety level was also statistically different (p=0.008), with very weak negative correlation (p=0.188).Conclusion: There is a significant difference of anxiety level among medical students at semester 1 and 2. There is also significantly negative correlation between anxiety level and the length of study on medical students.