Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS RESIDU PESTISIDA PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI KABUPATEN BREBES

Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Vol 24, No 1 (2013): Vol.24, No.1 (2013) : JURNAL ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Edisi Maret 2013
Publisher : Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.867 KB)

Abstract

The onion (Allium ascalonicum L.) is one of the horticultural crops that having a significant economic value. The center of  onion production is in Brebes regency central of Java. It supplies about 50% nationaly need. The efforts of increased production of onion often faced constraints in the form of pests and diseases, thus failing to harvest crops or at least reduced. One way of action of plant maintenance is the use of pesticides. Pesticides are toxic chemicals, excessive use of pesticides can be a source of contaminants for food, water, and environment. The purpose of the study is determination of the type of pesticide applied, the frequency of spraying pesticides, and pesticide residues in onion crops in Brebes regency. The experiment was conducted in the Larangan subdistrict,  Brebes district from June to November 2010. Onion crop’s samples were taken from the most extensive farmers as much as 10% of whole villages in the subdistrict of Larangan, Brebes. Research methods by interviewing and laboratory analyzed by gas of chromatography (GC). The observed variables include the type of pesticide applied, the frequency of use of pesticides, and pesticide residues in onion crop. The analysis data made by way of recapitulation, described and compared with maximum residue limits of pesticides in accordance with the Joint Degree of the Ministry of Agriculture and Ministry of Health, No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996; 711/Kpts/TP.270/8/1996. The results showed that the type of pesticide that was applied to the onion plant consists of several kinds of pesticides, with an average frequency of spraying fifteen times in one planting season, while the pesticide of residues in onion crop is below the maximum residue limits (MRL), so that it is still relatively safe for consumption. Keywords: Pesticide of residues, Onion, Brebes

UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI MENTIMUN (Cucumis sativus L) MELALUI WAKTU PEMANGKASAN PUCUK DAN PEMBERIAN PUPUK POSFAT

Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Vol 20, No 1 (2011): Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi, Maret 2011
Publisher : Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.083 KB)

Abstract

The experimental design used was randomized complete block design. The first factor istime pruning consist of without pruning apical (W1), pruning time during the vegetativephase of the age of 14 HST (W2), and the pruning phase of generative shoots at age 21HST (W3), whereas the second factor is composed of phosphate fertilizer from withoutphosphate fertilizer (P0), 75 kg of phosphate fertilizer / ha (P1), phosphate fertilizer 150kg / ha (P2), and phosphate fertilizers 225 kg / ha (P3). Data analysis by F test and if thereare significant differences followed by DMRT test and orthogonal contrasts. Variablesobserved were samples of plant height per plant, number of leaves per plant sample, wetweight of sample plants per plant, plant dry weight per plant samples, flowering, fruitnumber per plant sample, the sample length of the fruit per plant, weight of fruit per plantsample, wet weight of plants per plot effectively, and dry weight of plants per ploteffective. The results showed that the timing of pruning shoots were significantlydifferent to all the observed variables, except variable flowering, while phosphatefertilizer were significantly against all variable. There is interaction between time ofpruning shoots and phosphate fertilizers to the plant height per plant sample, the numberof leaves per plant sample, wet weight of sample plants per plant, plant dry weight perplant sample, weight of fruit per plant sample, wet weight of plants per plot effectively,and dry weight of plants per plot effectiveKey words: cucumber, shoot pruning, fertilizer phosphate

TEKNOLOGI AMONIASI UNTUK MENGOLAH LIMBAH JERAMI PADI SEBAGAI SUMBER PAKAN TERNAK BERMUTUDI DESA PABUARAN KECAMATAN BANTARBOLANG KABUPATEN PEMALANG

Jurnal Abdimas Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hijauan merupakan sumber pakan utama ternak ruminansia yang harus disediakan dalam jumlah yang cukup. Hijauan yang umum diberikan adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan, tegalan, pematang, serta pinggiran jalan yang semakin sulit didapat, terlebih saat musim kemarau panjang. Sumber pakan ternak yang belum dimanfaatkan secara optimal yaitu jerami. Jerami merupakan bagian dari batang tanaman padi tanpa akar. Karakteristik jerami padi adalah rendahnya kandungan nitrogen, kalsium, fosfor, serta kandungan serat kasarnya termasuk tinggi, sehingga daya cerna rendah dan konsumsinya menjadi terbatas. Jerami padi yang langsung diberikan kepada ternak, daya cernanya rendah dan proses pencernaannya lambat, sehingga total yang dimakan per satuan waktunya menjadi sedikit. Upaya untuk meningkatkan nutrient jerami padi salah satunya dengan teknik amoniasi menggunakan urea. Teknologi amoniasi dapat meningkatkan daya cerna dan kandungan protein. Jerami padi yang telah diamoniasi memiliki nilai energi yang lebih besar karena kandungan senyawa karbohidrat yang sederhana menjadi lebih besar serta sangat efektif untuk membebaskan dari kontaminasi mikroorganisme dan menghilangkan aflatoksin yang ada di dalam jerami.

IbM Kelurahan Degayu yang Terinterusi Air Laut

E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 8, No 2 (2017): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1860.834 KB)

Abstract

Tujuan kegiatan ini adalah untuk membentuk dan mengembangkan model budidaya tanaman padi, sayur, dan ikan lele secara bertingkat pada lahan pekarangan. Metode yang dikembangkan terdiri atas beberapa tahapan meliputi koordinasi, sosialisasi, pengadaan bahan dan alat, praktek dan pendampingan pembuatan model budidaya padi, sayur, dan ikan lele secara bertingkat di lahan pekarangan. Model ini dikembangkan dalam rangka memberikan solusi alternatif terhadap lahan yang terinterusi air laut, sehingga penyediaan bahan pangan dapat disediakan dan diproduksi di lahan pekarangan yang dimiliki oleh anggota dari kelompok tani mitra. Model ini berimplikasi terhadap penyediaan bahan pangan berupa padi, sayur, dan ikan lele yang dibutuhkan untuk memenuhi karbohidrat dan gizi keluarga. Hasil panen didapatkan tanaman cabe rawit hijau per pohon bisa menghasilkan 33 buah dengan bobot 52,66 gr; tanaman tomatmenghasilkan 5-7 buah per pohon, tanaman terong menghasilkan 2-3 buah perpohon dengan berat rata-rata 72,4 g, panjang rata-rata 16,71 cm. Tanaman padi menghasilkan 32 malai per rumpun dengan panjang rata-rata 16,86 cm dengan berat total per rumpun 57,87 gr. Panen ikan lele menghasilkan 176 kg dengan panjang rata-rata 26,64 cm dan berat rata-rata 0,13 kg.

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI ENAM GENOTIPE BAWANG MERAH YANG DIPERLAKUKAN DENGAN VARIASI PUPUK K DAN SAAT PANEN

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 11, No 2 (2007): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk K dan saat panen enam genotipe bawangmerah yang tetap, sehingga diperoleh hasil maksimal. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan PusatPenelitian dan Pengembangan Kedelai (SRDC) Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, sejak bulanJuni sampai September 2006. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT)dengan 3 kali ulangan. Petak utama adalah pepumukan K, K0: kontrol dan K1=150 kg KCl/ha, dan anakpetak berupa kombinasi antara genotipe bawang merah dan saat panen. Keenam genotip bawang merahmenunjukkan pertumbuhan dan hasil bervariasi, tetapi bukan disebabkan oleh variasi pemupukkan K. Hasilumbi bervariasi ketika panen dilakukan pada saat yang berbeda. Umur panen 70 hst (U2) memberikan hasillebih baik daripada umur panen 60 hst (U1). Bobot kering askip tanaman per rumpun, dan diameter umbisetiap genotip bawang merah ditentukan oleh saat panen. Galur K (V3) pada umur panen 70 hst (U2)menunjukkan hasil yang paling tinggi. Jumlah umbi per rumun keenam genotip bawang merah ditentukanoleh pemberian pupuk K dan saat panen. Jumlah umbi per rumun Galur K (V3) dan varietas Tiron (V6)meningkat sejalan dengan pemberian pupuk K (K1) dan jika dipanen pada umur 70 hst (U2), sehinggadiameter umbinya menjadi kecil-kecil.Kata Kunci: bawang merah, genotipe, pupuk K, saat panen. ABSTRACTThis research project aimed to find out the proper dose of K fertilizer and harvest time for shallot, soas to gain their maximal yield. Its was carried out in Soybean Research and Development Center (SRDC)field of Jenderal Soedirman University, Purwokerto, since June until September 2006. A three replication ofSplit Plot Design arranged in Randomized Completely Block Design was employed. The main plot consistedof K0: control and K1: 150 kg KCL per hectare, whilst sub plot was combination between six shallotgenotype and harvesting time. The growth and yield of six shallot varieties varies and its variation dependedon K fertilizer and harvesting time. K application (K0 and K1) was not affect all of observed variables. Bulbyield varies when its harvest was done in different time. Harvesting time in 70 days after planting (U2)resulted higher yield than those of 60 days after planting (U1). Askip dry weight of crop per clump and bulbdiameter of each variety depended on harvesting time. K line (V3) produced the highest yield when shallotwaa harvested in 70 days after planting (U2). The number of tuber per clump for all varieties was determinedby both K application and harvesting time. The number of tuber for K line (V3) and Tiron variety (V6)increased when K fertilizer was applied and shallot was harvested in 70 days after planting (U2), and hencethe diameter of tuber decreased.Key words: shallot, genotype, K fertilizer, harvesting time.