Hafni Bachtiar
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Published : 30 Documents
Articles

Found 30 Documents
Search

Hubungan Batu Saluran Kemih Bagian Atas dengan Karsinoma Sel Ginjal dan Karsinoma Sel Transisional Pelvis Renalis

Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.718 KB)

Abstract

Insiden karsinoma sel ginjal dan karsinoma sel transisional pelvis renalis sebagai jenis histopatologis terbanyak pada keganasan ginjal menunjukkan trend peningkatan insiden di seluruh dunia. Batu saluran kemih menunjukkan trend peningkatan insiden yang serupa. Hal ini memungkinkan adanya hubungan. Penelitian sebelumnya mendapatkan hasil yang kontroversial. Tujuan penelitian ini adalah melihat hubungan antara batu saluran kemih bagian atas dengan karsinoma sel ginjal dan karsinoma sel transisional pelvis renalis di RSUP Dr. M Djamil padang dan RSAM Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan desain case control study pada rekam medis yang dilakukan pada bulan September hingga Desember 2018. Didapatkan 34 sampel dengan hasil histopatologi karsinoma sel ginjal dengan rasio jenis kelamin 1:1,3. Sampel terbanyak adalah kelompok umur 50-59 tahun (26,47%), mean: 52,8±13,79. Didapatkan 15 sampel karsinoma sel transisional pelvis renalis dengan rasio jenis kelamin 2,75:1. Sampel terbanyak adalah kelompok umur 50-59 tahun (33,33%), mean: 57,5±11,31. Persentase yang ada batu lebih tinggi pada karsinoma sel ginjal dibandingkan dengan yang tidak karsinoma sel ginjal yaitu 62,5% : 23,1%. Secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna (P>0,05). Peluang untuk timbulnya karsinoma sel ginjal sebesar 5,6 kali pada yang ada batu dibandingkan dengan yang tidak ada. Persentase yang ada batu lebih tinggi pada karsinoma sel transisional pelvis renalis dibandingkan dengan yang tidak karsinoma sel transisional pelvis renalis yaitu 71,4% : 25%. Secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna (P>0,05). Peluang unuk timbulnya karsinoma sel transisional pelvis renalis sebesar 7,5 kali pada yang ada batu dibandingkan dengan yang tidak ada.

Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Berobat Pasien Yang Diterapi Dengan Tamoxifen Setelah Operasi Kanker Payudara

Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.543 KB)

Abstract

Abstrak Banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat pasien yang diterapi dengan tamoxifen setelah operasi kanker payudara. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kepatuhan berobat pasien di RS. Dr. M Djamil, Padang. Sehingga dapat menjadi masukan dan perbaikan untuk meningkatkan kepatuhan berobat pasien. Metode yang digunakan adalah wawancara langsung, penderita mengisi daftar pertanyaan (kuesioner) dan skala likert pelayanan tenaga medis. Periode penelitian dilakukan selama 3 bulan. Analisis univariat, bivariat dan multivariat dilakukan dengan memakai SPSS versi 18.00. Dari 61 pasien didapatkan 9 pasien tidak patuh terapi tamoxifen, hasil penelitian bivariat didapatkan hubungan yang bermakna antara kepatuhan dengan umur, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, ketersediaan asuransi kesehatan dan pelayanan tenaga medis (p<0,05) sedangkan efek samping tidak berhubungan dengan kepatuhan (p>0,05). Analisis multivariat didapatkan faktor yang paling berpengaruh adalah pelayanan tenaga medis dengan p= 0,06. Dapat disimpulkan bahwa pelayanan medis merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan berobat pasien yang diterapi tamoxifen setelah operasi kanker payudara, faktor lain yang berpengaruh adalah umur, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga dan ketersediaan asuransi kesehatan. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan pada tenaga medis sehingga dapat meningkatkan kepatuhan berobat pasien. Kata kunci: Kepatuhan, tamoxifen, kanker payudara.AbstractMany factors affect compliance of treatment in patients treated with tamoxifenAfter breast cancer surgery. This study aims to determine the factors that may affect treatment compliance of patients in the hospital. Dr.M.Djamil, Padang. So it can be sugestion and improvement to enhance patients treatment compliance.Methods. The method is a direct interview, patients filled out a questionnaire (questionnaire) and Likert scale medical services. Period of research carried out for 3 months. Analysis univariat, bivariat and multivariat performed by using SPSS version 18.00.Results. Of the 61 patients we found 9 patients not adherent tamoxifen therapy, the results bivariant a significant association between adherence to the age, level of education, familyIncome, availability of health insurance and medical care (p<0.05). Multivariate analysis found that the most influential factor is the care of medical personnel with p=0.06. Discussion. It can be concluded that the medical services are the most influential factor on treatment compliance of patients receiving tamoxifen after breast cancer surgery, other factors are age, education level, family income and the availability of health insurance. The results of this study can be suggestion on the medical staff so as to improve treatment compliance of patients.Keywords:Compliance, tamoxifen, breast cancer.

Hubungan Pelaksanaan Strategi Directly Observed Treatment Short Course dengan Hasil Pengobatan Tuberkulosis Paru Puskesmas Padang Pasir Kota Padang 2011-2013

Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.169 KB)

Abstract

AbstrakTuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah utama kesehatan global di dunia. Pada tahun 2011, Indonesia berada di posisi keempat dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia. Dalam upaya penanggulangan TB, Indonesia telah mengadopsi strategi DOTS sejak tahun 1995. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2011, angka keberhasilan pengobatan di Puskesmas Padang Pasir yaitu 71,43% dan angka ini belum mencapai target nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan strategi DOTS dengan hasil pengobatan TB paru di Puskesmas Padang Pasir Kota Padang. Jenis Penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional study. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada responden menggunakan kuisioner yang kemudian di analisis melalui uji Chi-Square. Hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan adanya hubungan antara pelaksanaan komitmen oleh petugas kesehatan (p-value : 0,000), pelaksanaan pemeriksaan dahak (p-value: 0,005, ketersedian OAT (p-value : 0,002) dengan hasil pengobatan TB paru. Hasil uji statistik pada peranan PMO (p-value : 0,185) dan pencatatan pelaporan penderita TB paru (p-value 0,184) menunjukkan tidak terdapat hubungan dengan hasil pengobatan TB paru.Kata kunci: tuberkulosis paru, DOTS, hasil pengobatanAbstractTuberculosis (TB) remains a major problem pulmonary global health in the world. In 2011, Indonesia was in fourth position with the highest number of TB patients in the world. InTB controlefforts, Indonesia hasadopted theDOTS strategysince 1995.Based on the annual report of Padang City Health Department in 2011, the treatment success rate in Padang Pasir Health Center is 71.43% and this figure has not reached the national target. The study aims to determine the relationship implementation of the DOTS strategy with pulmonary TB treatment success in health centers Padang Padang Pasir.This type of study design was cross-sectional analytic study. Data were collected through interviews with respondents using a questionnaire which was then analyzed by chi-square test. The results of the chi -square statistical tests showed that the implementation of commitments by health workers (p - value: 0.000), the implementation of sputum examination (p - value : 0.005), availability of OAT (p - value : 0.002) have a correlation with the results of treatment of pulmonary tuberculosis . While results statistical tests on the role of the PMO (p - value : 0.185) reporting and recording of pulmonary TB patients (p– value : 0.184) showed there was no correlation with the results of treatment of pulmonary tuberculosis.Keywords: pulmonary tuberculosis, DOTS, treatment success

Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan Non-Rebreathing Mask Terhadap Tekanan Parsial CO2 Darah pada Pasien Cedera Kepala Sedang

Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.964 KB)

Abstract

AbstrakTekanan parsial CO2sangat berpengaruh terhadap aliran darah otak (ADO) dan tekanan intra kanial. Latarbelakang penelitian ini adalah bahwa dalam teori tekanan gas campuran John Dalton dinyatakan bahwa jika salah satu tekanan gas dalam campuran gas bertambah maka tekanan parsial gas lain akan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peningkatan konsentrasi oksigen dalam Non-Rebreathing Mask (NRM) akan menurunkan tekanan parsial CO2, sehingga dapat digunakan untuk menurunkan PaCO2 sambil memperthankan PaO2 yang tinggi untuk menurunkan TIK (Tekanan Intra Kranial) pada pasien cedera kepala. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Clinical Trial dengan rancangan penelitian one shoot pretest and postest pada pasien cedera kepala sedang dengan GCS 9-13 yang dilakukan terapi konservatif di RS Dr. M. Djamil Padang. Pada pasien dinilai tekanan parsial CO2 darah sebelum dan setelah 6 jam terapi oksigen menggunakan NRM. Jumlah sampel sebanyak 16 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan perbedaan bermakna tekanan parsial CO2 darah sebelum dan setelah terapi oksigen menggunakan NRM (p<0,05). Terjadi penurunan tekanan parsial CO2 darah setelah terapi oksigen mengunakan NRM dari39,00 ± 3,7 menjadi 432,06 ± 6,35. Pembahasan: Terapi oksigen menggunakan NRM dapat menurunkan tekanan parsial CO2 darah sehingga dapat digunakan untuk menurunkan tekanan intrakranial pada pasien cedera kepala sedang.Kata kunci: Terapi Oksigen, Non-Rebreathing Mask, Tekanan Parsial CO2 DarahAbstractThe partial pressure of CO2 is very influential on cerebral blood flow (CBF) and intra kanial pressure. The background of this research is that the pressure of the gas mixture in the theory of John Dalton stated that if one of the gas pressure in the gas mixture increases, the partial pressure of other gases will decline. This study aimed to determine whether the increase in oxygen concentration in the non-rebreathing mask (NRM) will decrease the partial pressure of CO2, so that it can be used to decrease PaCO2 while PaO2 still higher to protect brain from higher of ICT (intra-cranial pressure) state in patients with head injuries. Method: This research is a Clinical Trial with one shoot pretest and posttest design in patients with moderate head injury with GCS 9-13 conducted conservative treatment at the hospital Dr. M. Djamil Padang. In patients assessed blood CO2 partial pressure before and after 6 hours of oxygen therapy using the NRM. Total sample of 16 patients who met the incluton criteria. Result: The result showed significant differences in blood CO2 partial pressure before and after oxygen therapy using the NRM (P <0.05). There was a decrease of bloodCO2partial pressureafter oxygen therapy using NRM from 32.06 ± 6.35 to 39.00 ± 3.74. Discussion: Oxygen therapy using NRM can decrease blood CO2 partial pressure that can be used to reduce the intra-cranial pressure in patients with moderate head injury.Keywords: Oxygen Therapy, Non-Rebreathing Mask, Blood CO2 Partial Pressure

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Anti-Hbs pada Anak Sekolah Dasar Setelah 10-12 Tahun Imunisasi Hepatitis B Di Kota Padang

Sari Pediatri Vol 14, No 5 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Hepatitis B merupakan masalah kesehatan global. Risiko kronis hepatitis B akan jauh lebih besar apabila infeksi terjadi pada awal kehidupan dibandingkan usia dewasa. Imunisasi merupakan cara efektif mengontrol infeksi hepatitis B sampai saat ini. Anak yang diimunisasi memperoleh proteksi selama 5-10 tahun. Kadar anti-HBs protektif adalah ≥10 mIU/ml. Apabila daya proteksi setelah pemberian imunisasi pada masa bayi tidak dapat melindungi sampai dewasa, maka booster seharusnya diberikan pada umur prasekolah atau remaja.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar anti-Hbs pada anak SD setelah 10 -12 tahun imunisasi hepatitis BMetode. Penelitian cross sectional dari bulan Januari sampai Maret 2011 pada 110 anak SD di kota Padang yang berusia 10-12 tahun dan telah mendapatkan 3 kali imunisasi hepatitis B saat bayi. Analisis data menggunakan Chi-square dengan tingkat kemaknaan p=0,05Hasil. Dari 110 sampel didapatkan kadar anti-Hbs <10 mIU/ml dan ≥10 mIU/ml masing-masing 58 (52,7%) dan 52 (47,3%) orang. Umur 12 tahun didapatkan kadar anti-Hbs ≥10 mIU/ml (35%). Semua subyek mempunyai gizi baik. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar anti-Hbs dengan jenis kelamin (p= 0,399) dan dengan jadwal imunisasi (p= 0,364).Kesimpulan. Subyek yang berumur lebih besar mempunyai kadar anti-HBs protektif lebih rendah. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, jadwal imunisasi dengan kadar anti_HBs setelah 10-12 tahun imunisasi Hepatitis B.

Perbandingan Uji Tuberkulin dengan Kadar Interferon Gamma pada Kultur Sel Limfosit Anak Tersangka TB

Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis (TB) pada anak masih merupakan penyakit utama yang menyebabkan kesakitandan kematian. Sampai saat ini, diagnosis TB anak masih menjadi masalah. Uji tuberkulin atau tuberculinskin test (TST) merupakan metode yang masih dijadikan pedoman, tetapi mempunyai sensitivitas yangrendah. Uji interferon-􀁊 (IFN-􀁊) merupakan pemeriksaan yang lebih spesifik untuk mendukung diagnosisinfeksi TB anak.Tujuan. Mengetahui kesesuaian TST dengan IFN-􀁊 pada kultur sel limfosit anak tersangka TB.Metode. Penelitian cross sectional pada anak berusia 3 bulan-14 tahun tersangka TB atau memiliki kontakerat dengan penderita TB paru BTA(+) dewasa yang datang ke poliklinik anak RS dr. M. Djamil Padangpada bulan Februari-November 2012. Semua sampel dilakukan pemeriksaan TST dan IFN-􀁊 kemudiandilakukan uji kesesuaian (kappa=K).Hasil. didapatkan 34 9 (26,5%) sampel memiliki TST positif dan 16 (47,1%) memiliki uji IFN-􀁊 positif.Didapatkan uji kesesuaian 38,2%(􀁎=0,27).Kesimpulan. Pemeriksaan uji IFN-􀁊 memiliki angka kesesuaian cukup dibandingkan TST sehingga belumperlu digunakan sebagai uji diagnostik infeksi TB pada anak tersangka TB.

Hubungan Kadar Serum Aminotransferase dengan Derajat Perlemakan Hati pada Remaja Obesitas

Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Prevalensi penyakit perlemakan hati non alkoholik (PPHNA) meningkat bersamaan dengan peningkatan obesitas pada anak dan remaja. Sebagian besar PPHNA asimtomatis sehingga penting deteksi dini terutama pada remaja obes karena progresifitas dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas sirosis pada dewasa muda.Tujuan. Menganalisis hubungan kadar serum aminotransferase (aspartat aminotransferase dan alanin aminotransferase) dengan derajat perlemakan hati pada remaja obesitas.Metode. Penelitian cross sectional pada remaja obesitas di Kota Padang dengan jumlah subyek penelitian 43 orang.Hasil. Rerata kadar serum ALT lebih tinggi daripada rerata kadar serum AST. Tidak ada subyek pada kelompok bukan PPHNA yang mengalami peningkatan kadar serum aminotransferase. Berdasarkan pemeriksaan USG abdomen, gambaran perlemakan hati derajat I (mild), derajat II (moderate), derajat III (severe) berturut-turut 25 (64%), 8 (20,5%), dan 6 (15,2%) orang. Tidak terdapat hubungan antara kadar serum aminotransferase dengan derajat perlemakan hati pada remaja obesitas.Kesimpulan. Rerata kadar serum aminotransferase pada kelompok PPHNA lebih tinggi daripada kelompok bukan PPHNA. Tidak terdapat hubungan antara kadar aminotransferase dengan perlemakan hati pada remaja obes. Berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi abdomen sebagian besar perlemakan hati adalah derajat I (mild).

High Sensitivity C-Reactive Protein sebagai Parameter Diagnostik dan Prediktor Luaran Sepsis pada Anak yang Menderita Systemic Inflammatory Response Syndrome

Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada anak. Diagnosissepsis ditegakkan berdasarkan gejala Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dan penemuan bakteripada kultur darah. Kultur bakteri darah memiliki sensitifitas yang rendah dan membutuhkan waktu yanglama sehingga sering menyebabkan terjadinya overdiagnosis dan overtreatment. C-reactive protein adalahreaktan fase akut yang kadarnya meningkat pada keadaan infeksi. High sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) adalah metode yang lebih sensitif untuk mengukur kadar CRP dalam jumlah kecil.Tujuan. Mengetahui peran hs-CRP sebagai parameter diagnostik dan prediktor luaran sepsis pada anakyang menderita SIRS.Metode. Penelitian uji diagnostik dengan desain potong lintang terhadap 85 anak dengan gejala SIRS berusia1 bulan sampai dengan 15 tahun dan dirawat di bangsal anak RS.Dr.M.Djamil Padang sejak Juni sampaiNovember 2012. Pemeriksaan hs-CRP dilakukan dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).Data dianalisis dengan SPSS serta dilakukan uji diagnostik. Baku emas sepsis adalah biakan darah.Hasil. Cut off point hs-CRP untuk menentukan sepsis adalah 15,55 ng/ml, (sensitivitas 90,9% dan spesivisitas53,8%). Kadar rata-rata hs-CRP meningkat sesuai dengan beratnya penyakit.Kesimpulan. High sensitivity C-reactive protein dapat dijadikan sebagai parameter diagnostik sepsis padapasien SIRS dengan cut off point 15,55 ng/ml, serta dapat dipakai sebagai prediktor luaran sepsis.

Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Infeksi Clostridium Difficile pada Penderita Diare akibat Antibiotik

Sari Pediatri Vol 15, No 6 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Pemakaian antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan Clostridium Difficile Associated Diarrhea (CDAD).Tujuan. Mengetahui proporsi CDAD, faktor yang berhubungan, dan antibiotik yang paling banyak menimbulkan CDAD.Metode. Penelitian potong lintang terhadap anak yang mendapat antibiotik pada bulan Maret-September 2013. Clostridium Difficile Associated Diarrhea adalah ditemukannya gen tcdB C. difficile dari pemeriksaan PCR. Faktor risiko adalah umur, status gizi, jumlah, dosis, cara dan lama mendapat antibiotik. Analisis dilakukan secara bivariat dan multivariat.Hasil. Terdapat 82 orang anak dengan proporsi CDAD 39%. Persentasenya lebih tinggi pada usia 1 bulan-5 tahun, mendapat lebih dari 1 jenis antibiotik, dosis biasa, pemberian oral dan mendapat antibiotik kurang dari 7 hari dengan nilai p >0,05. Persentase CDAD hampir sama pada anak gizi baik dan gizi kurang. Persentase CDAD tertinggi didapatkan pada anak yang mendapat amoksisilin oral.Kesimpulan. Proporsi CDAD cukup tinggi. Usia muda, jumlah antibiotik, pemberian dosis biasa secara oral dan waktu pemberian yang singkat menunjukkan kecenderungan menderita CDAD lebih besar, walaupun secara statistik tidak bermakna.Usia merupakan faktor paling dominan. Persentase CDAD tertinggi pada anak yang mendapat amoksisilin oral.

The Role of Tumor Necrosis Factor  (TNF ) and Matrix Metalloproteinase9 (MMP9) Serum in Preterm Premature Rupture of Membranes

Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 5, No. 4, October 2017
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.12 KB)

Abstract

Objective: To investigate the role of TNF- and MMP-9 serum in preterm premature rupture of membranes (PPROM). Methods: We used cross-sectional study design. Subjects were all pregnant women with and without PPROM who underwent checkup at Obstetrics and Gynecology Functional Medical Staff General Hospital Dr. M. Djamil and networking hospital. Results: A total of 48 subjects were enrolled in this study. The mean serum levels of TNF- in patients with PPROM 17.43 ng/ml  12.4 ng/ml and without PPROM 8.45 ng/ml  6.86 ng/ml. The mean serum levels of MMP-9 in patients with PPROM 8.77 ng/ml  4.41 ng/ml, and without PPROM 4.46 ng/ml  3.04 ng/ml. Statistical test result p value <0.05, it can be conclude there are differences in the levels of TNF- and MMP-9 serum in premature rupture of membranes and without premature rupture of membranes pregnancy of preterm. Conclusion: There are differences in the levels of TNF- and MMP-9 serum in PPROM and without PPROM.Keywords: MMP-9, premature rupture of membranes, TNF-