Jajang Atmaja
Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Padang

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

Hubungan Faktor Sosial Ekonomi Dengan Kondisi Fisik Bangunan Rumah Tidak Sehat Di Kecamatan Lubuk Alung Atmaja, Jajang
JURNAL R & B Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : JURNAL R & B

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The city development in subdistrict of Lubuk Alung causes to social and economy changes for low-erning people. This mostly affects the condition of their houses and environment, especially for those whose houses do not belong to the requirement of healthy houses, whereas a house is kind of media that may represent the social, economy and culture of people living in. The aim of the research is to find out the conection between social economy factors, which include occupation, education, income, knowledge, land status, length of stayyiing and number of family members and the physical condition of unhealthy houses of people in Lubuk Alung. The research was conducted in three areas of subdistrict of Lubuk Alung. The data was collected and divided into primer and secunder data. The primer data was gained by spreading questioners to respondents within areas, while the secunder data was by interviewing the Subdistrict Head. The research found that the most dominan factior of the physical condition of the unhealthy houses in Lubuk Alung is the less knowledge of people in Lubuk Alung about is the less knowledge of people in Lubuk Alung about healthy and hhygienic houses. The solution that can be applied for shotterm of time is that the subdistrict officials together with other connected administration authorities give explanation and information about a good and healthy condition of a house to their people, meanwhile for longtime solution, the local government (KIMPARSWIL) may do some cooperation with other nongovernment organization (NGO) to undergo programs in the matter of healthy and hygienic houses.
Pengolahan Limbah Daun Kering Sebagai Briket Untuk Alternatif Pengganti Bahan Bakar Minyak Archenita, Dwina; Atmaja, Jajang; Hartati, Hartati
REKAYASA SIPIL Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : REKAYASA SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayu dan minyak tanah merupakan bahan bakar utama yang diperlukan rumah tangga. Kayu merupakan bahan bakar yang murah dan banyak digunakan oleh masyarakat terutama di pedesaan. Namun ketersediaan bahan ini semakin hari semakin menipis. Adapun minyak tanah merupakan bahan bakar yang dewasa ini harganya mulai meningkatkan sehingga menjadi beban bagi masyarakat. Oleh karena itu perlu dicari bahan bakar alternatif yang ketersediaannya banyak dan murah serta mudah didapat. Hasil uji coba yang telah dilakukan mendapatkan suatu bahan bakar alternatif yaitu briket bioarang. Briket bioarang adalah gumpalan-gumpalan atau batangan-batangan yang terbuat dari bioarang (bahan lunak). Bioarang merupakan arang (salah satu jenis bahan bakar) yang dibuat dari aneka macam hayati atau biomassa, misalnya kayu, ranting, daun-daunan, rumput, jerami, kertas, ataupun limbah pertanian lainnya yang dapat dikarbonisasi. Bioarang ini dapat digunakan melalui proses pengolahan, salah satunya menjadi briket bioarang. Bioarang sebenarnya termasuk bahan lunak yang dengan proses tertentu diolah menjadi bahan arang keras dengan bentuk tertentu. Kualitas bioarang ini tidak kalah dari bahan bakar jenis arang lainnya. Pembuatan briket dari limbah pertanian dapat dilakukan dengan menambah bahan perekat, dimana bahan baku diarangkan terlebih dahulu kemudian ditumbuk, dicampur perekat, dicetak dengan sistim hidrolik maupun manual dan selanjutnya dikeringkan. Pembuatan briket ini telah pernah diujicobakan pada masyarakat di daerah Jorong Kubang Pipik Kenagarian Koto Tinggi Kecamatan Baso Kabupaten Agam dan daerah Air Paku Kelurahan Sungai Sapih Kota Padang. Dari hasil kegiatan ini masyarakat terlihat sangat antusias sekali untuk mencoba membuatnya dan setelah diuji, briket tersebut berhasil dapat dibakar dan mutunya cukup baik.
Studi Laboratorium Penggunaan Dinamic Cone Penetrometer (Dcp) Pada Tanah Lempung Yang Dipadatkan Pada Sisi Basah Untuk Lapisan Fondasi Jalan Atmaja, Jajang; Liliwarti, Liliwarti
REKAYASA SIPIL Vol 5, No 2 (2009)
Publisher : REKAYASA SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mendapatkan nilai CBR dari tanah dasar dapat digunakan alat Dinamic Cone Penetrometer (DCP), yaitu alat yang digunakan untuk mengevaluasi nilai California Bearing Ratio (CBR) pada pekerjaan konstruksi jalan. DCP telah dikembangkan di Srilangka untuk mengevaluasi subgrade properties pada pekerjaan jalan. Penggunaan DCP lebih menguntungkan, karena penggunaan lebih mudah dan biaya murah. Pada penelitian ini dibahas mengenai pengunaan DCP dan korelasinya dengan nilai CBR khususnya untuk tanah lempung yang dipadat pada sisi basah (diatas kadar air optimum). Tanah lempung dipadatkan dalam cetakan dengan variasi kadar air diatas kadar air optimum, kemudian dilakukan uji CBR dengan alat uji CBR laboratorium dan dengan alat uji DCP, benda uji terdiri dari rendaman dan tanpa rendaman. Hasil uji CBR laboratorium menunjukkan dengan meningkatnya kadar air (diatas kadar air optimum) diikuti oleh menurunnya nilai CBR, dan begitu juga apa bila menggunakan alat uji DCP menunjukkan pola yang sama. Hubungan antara nilai DCP (mm/blow) dengan CBR perlapis menunjukkan dengan bertambahnya nilai DCP diikuti oleh menurunnya nilai CBR baik sampel yang terendam maupun yang tidak terendam. Sampel tanah yang dipadatkan diatas kadar air optimum (+ 5%) pengaruh perendaman menurunkan nilai CBR sampai 60%, sedangkan penambahan kadar air  10 % diatas kadar optimum menurunkan nilai CBR sebesar 9 % dan apa bila penambahan air sampai 15% diatas kadar air optimum, akibat perendaman tidak mengalami perobahan nilai CBR yang berarti.
How Transport Network Contributes To The Urban Environment Quality Yaldi, Gusri; Atmaja, Jajang
REKAYASA SIPIL Vol 1, No 2 (2005)
Publisher : REKAYASA SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transporlasi, disamping memiliki peranan yang penting bagi masyarakat perkotaan, juga memiliki kontribusi negatif terhadap kualitas lingkungan perkotaan, yang pada akhimya berimbas pada kesehatan masyarakatnya. Efek negatifnya dapat diklasifikasikan atas tiga macam yaitu polusi udara, polusi suara dan visual intrusion. Tetapi, polusi udara di anggap lebih dominan, yang antana lain adanya peningkatan kadar polutan pada kawasan Perkotaan oleh kendaraan bermotor, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, secara drastis bahkan melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh WHO. Berdasarkan WHO, ada 6 macam polutan yrang dominan terdapat pada udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor serta berbahaya pada kesehatan manusia yaitu Lead, TSM, 03, CO, SO2 dan NO2. lGsus yang mulai bermunculan adalah antana lain di China berupa adanya kecenderungan peningkatan penderita pada bagian pemafasan. Di Dhaka, angka premature death tercalat mencapai 3580 kasus. Beber:apa penyebab yang di duga memberikan kontribusi pada penurunan kualitas lingkungan perkotaan adalah meningkatnya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor, ketersediaan kendaraan umum yang kurang memadai, parkir yang belum tertata dengan baik yang di pacu oleh peningkatan jumlah penduduk dan bertambah luasrrya kaurasan perkotaan secarr pesat sedangkan pengembangan sistim transportasi relatif tertinggal dibelakang. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengurangi polutan dan efeknya, antara lain melalui green transport atau ecotransit yaitu sarana transportasi dengan emisi gas dan partikel berbahaya yanil lebih rendah, seperti ULTra di UK U-Bahn di Munich. Di samping itu, kebijaian ‘car pool di Jakarta dan pemakaian sepeda di benua Australia sebagai kendaraan altenatif juga digalakan disamping aplikasi ITS juga sudah mulai dirasakan manfaatnya, terutama di USA dan Negara-negara maju lainnya.
Kecepatan Runtuh Balok Beton Bertulang oleh Temperature Tinggi dalam Variasi Mutu Beton B.Army, B.Army; Amri, Syaiful; Atmaja, Jajang
Jurnal Ilmiah Rekayasa Sipil Vol 14 No 1 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30630/jirs.14.1.108

Abstract

Kombinasi beban statik dan temperatur tinggi  mempercepat terjadinya keruntuhan struktur beton yang sedang terbakar, kecepatan runtuh ditentukan oleh  besarnya beban yang bekerja,  temperatur  dan durasi kebakaran serta  mutu beton             Specimen adalah balok beton bertulang  dimensi  100x150 x1000 mm. jumlahnya 8 balok. Masing-masing balok diberi satu tulangan tarik D=12mm,  tulangan tarik tersebut dibubut dibagian tengahnya sepanjang 10 cm  hingga diameter 8 mm, tujuan agar memberikan konsentrasi tegangan.  Pengujian specimen dibagi 2 yaitu: 2 balok diuji pada temperatur ruang untuk mendapatkan Pcr sebagai beban bagi  6 balok yang diuji pada temperatur tinggi. Untuk melihat kecepatan runtuh balok pada pengujian temperatur tinggi, digunakan tiga variasi pembebanan yaitu: 100% Pcr, 80% Pcr dan 60% Pcr, sedangkan selimut beton (concrete cover) (d’): d’=20 mm  Pelaksanaan pengujian balok pada temperatur tinggi, balok dibakar dalam furnace untuk mutu 20 MPa sambil dibebani: 100%Pcr, 80%Pcr, dan 60%Pcr langsung direkam datalogger data-data lama pembebanan, perubahan suhu,  defleksi Demikian juga untuk mutu beton fc=45 MPa.              Hasil pengujian balok pada temperatur tinggi menunjukan bahwa: semakin besar beban Pcr yang bekerja maka kecepatan runtuh balok beton bertulang semakin tinggi. Semakin tinggi mutu beton maka kecepatan runtuhnya juga semakin tinggi.   Sebanyak 2 balok beton bertulang diuji pada suhu ruang memberikan Pcr masing masing sebagai berikut: untuk mutu beton fc=20 MPa dan dengan cover beton 20cm maka Pcr= 824 kg kondisi crack, dan Pcr’=2870 MPa kondisi ultimate, Untuk mutu beton fc’=45 MPa dan dengan cover beton 20mm maka Pcr=1394 MPa kondisi crack, dan Pcr=3164 MPa kondisi ultimate
Penerapan Sistem Pengendalian Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan Proyek Konstruksi di Kota Padang Atmaja, Jajang; Suardi, Enita; Natalia, Monika; Mirani, Zulfira; Alpina, Marta Popi
Jurnal Ilmiah Rekayasa Sipil Vol 15 No 2 (2018): Edisi Oktober 2018
Publisher : Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30630/jirs.15.2.125

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan masalah yang kompleks pada suatu proyek konstruksi. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja umumnya disebabkan oleh faktor manajemen, disamping faktor manusia dan teknis. Tingkat pengetahuan, pemahaman, perilaku, kesadaran, sikap dan tindakan masyarakat pekerja dalam upaya penanggulangan masalah keselamatan kerja masih sangat rendah dan belum ditempatkan sebagai suatu kebutuhan pokok bagi peningkatan kesejahteraan secara menyeluruh termasuk peningkatan produktivitas kerja. Sistem Pengendalian Keselamatan dan Kesehatan Kerja bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan Kantor Pengadilan Tinggi Negeri Kelas 1A dan Rumah sakit Hermina Padang. Responden dalam penelitian ini adalah 30 responden yaitu pekerja yang terlibat dalam proyek. Pengujian dilakuan dengan menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji korelasi dan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebar kuesioner dan melakukan wawancara dengan kontraktor, dari kuesioner yang disebar menggunakan variable: pekerja, Fasilitas Penunjang Keseharian Untuk Pekerja, Fasilitas Penunjang di Lokasi Proyek dan Penyebaran Informasi K3(Keselamatan dan Kesehatan Kerja ).
Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Change Order pada Proyek Konstruksi Jalan di Sumatera Barat Muluk, Mafriyal; Misriani, Merley; Atmaja, Jajang; Ali, Syaifullah; Monica, Mona
Jurnal Ilmiah Rekayasa Sipil Vol 15 No 2 (2018): Edisi Oktober 2018
Publisher : Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30630/jirs.15.2.126

Abstract

Change order sering terjadi pada proyek konstruksi jalan yang disebabkan oleh faktor planning dan desain, faktor kondisi alam, faktor pengaruh owner, faktor pengaruh kontraktor, dan faktor penyebab lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab change order yang dialami oleh pihak kontraktor, untuk mengetahui faktor dominan penyebab change order yang dialami oleh pihak kontraktor, dan untuk mengetahui besar pengaruh change order pada proyek konstruksi jalan di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini ditujukan kepada kontraktor yang terdaftar sebagai anggota GAPENSI (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia) yang kantornya berada di kota Padang dan pernah mngerjakan proyek jalan di Sumatera Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada kontraktor yang berpengalaman dilapangan dengan kualifikasi M1,M2. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan bantuan program komputer SPSS (Statistical ProductandServiceSolution) yaitu dengan uji  validitas, reliabilitas, korelasi pearson product moment, dan analisa deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab change order yang dialami oleh kontraktor pada proyek konstruksi jalan di Sumatera Barat adalah ketidaksesuaian antara gambar dan kondisi lapangan, terjadinya longsor, percepatan waktu pelaksanaan pekerjaan karena permintaan owner agar cepat selesai, dan permasalahan pembebasan lahan. Faktor dominan yang terjadi pada proyek konstruksi jalan di Sumatera Barat adalah ketidaksesuaian antara gambar dan kondisi lapangan dengan besar pengaruhnya 88%. Hasil pengujian ini diharapkan dapat menginformasikan kepada kontraktor agar dijadikan masukan untuk meminimalisir terjadinya change order pada proyek konstruksi jalan di Sumatera Barat.
Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Cost Over run Pada Proyek Konstruksi Jalan di Sumatera Barat Natalia, Monika; Aguskamar, Aguskamar; Atmaja, Jajang; Muluk, Mafriyal; Fitria, Dona Ria
Jurnal Ilmiah Rekayasa Sipil Vol 16 No 1 (2019): Edisi April 2019
Publisher : Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30630/jirs.16.1.192

Abstract

Cost Over run merupakan sebuah peristiwa dimana pekerjaan yang telah diperhitungkan mengalami tambahan biaya diluar pekerjaan yang telah diperhitungkan.Peristiwa tersebut secara signifikan mempengaruhi kelangsungan proyek konstruksi sehingga menimbulkan instansi yang terkait mengalami kerugian yang besar yang dapat menyebabkan perselisihan sehingga menghambat kemajuan proyek secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya cost overrun, mengetahui faktor dominan dan mengetahui besar pengaruh penyebab cost overrun pada proyek konstruksi jalan di Sumatera Barat yang ditujukan kepada kontraktor jalan yang terdaftar sebagai anggota GAPENSI (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional) di Kota Padang dengan kualifikasi M1 dan M2. Selanjutnya hasil identifikasi tersebut akan di analisis dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 21 dengan melakukan uji validitas dan reliabilitas, uji kolerasi pearson product moment dan analisa deskriptif (mean). Hasil evaluasi cost overrun pada proyek konstruksi jalan di Sumatera Barat di dapat 10 faktor yang menjadi penyebab cost overrun yaitu: Faktor Estimasi Biaya, Faktor Material, Faktor Peralatan, Faktor Tenaga Kerja, Faktor Aspek Keuangan Proyek, Faktor Waktu Pelaksanaan, Faktor Pelaksanaan dan Hubungan Kerja, Faktor Aspek Dokumen Proyek, Faktor Lingkungan Masyarakat dan Faktor Peristiwa Alam. Sedangkan faktor utama yang paling dominan berpengaruh terhadap cost overrun pada proyek konstruksi jalan di Sumatera Barat terdapat pada faktor tenaga kerja yaitu: Produktifitas/keterampilan tenaga kerja yang tidak sesuai harapan kontraktor (X4.3) dan kurangnya kedisiplinan tenaga kerja (X4.5) dengan nilai mean sebesar 4.70 dan nilai pesentase pengaruh sebesar 94% yang dapat mempengaruhi pelaksanaan proyek.
Analisa Investasi Pemilihan Hydraulic Exavator Dengan Pertimbangan Aspek Teknis Dan Ekonomis Partawijaya, Yan; Hamid, Desmon; Mukhlis, M; Atmaja, Jajang; Faris F, Muhammad
Jurnal Ilmiah Rekayasa Sipil Vol 16 No 2 (2019): Edisi Oktober
Publisher : Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30630/jirs.16.2.225

Abstract

The ownership of heavy equipment is one of the most interesting business at this time, because the indonesian government is actively developing infrastructure, mining, plantation and agriculture sectore. So, it will be very profitable to do this heavy equipment business if it followed an accurate investment analysis. In this research, researchers took a case study on analyzing the selection of hydraulic excavator from 5 different brands, its Komatsu, Hitachi, Caterpillar, Kobelco and Hyundai with 3 different classes (economical, medium and high mode).This research was conducted by collecting primary data (interviews and field surveys) and secondary data (previeos research journal and literature studies) as supporting data. Data processing with reference to Permen PU no.11/PRT/M/2013. Decision making analysis is based on calculation of Nett Present Value (NPV) method, Internal Rate of Return (IRR) method and Break Event Point (BEP) method. After conducting the research, researcher concludes as follows : in the economical class, researcher recommends CAT 313D2 to be invested for the purpose of being rented or used alone. In the medium class, researcher recommends Kobelco SK 200-10 to be invested for the purpose of being rented. In the high mode class, researcher recommends Kobelco SK 330 to be invested for the pupose of being rented. The recommendation that the researcher describes are not absolute decisions to be followed and only as a consideration for investors.