Ruri Yuni Astari
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung Indonesia

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA SINDROM MENOPAUSE DENGAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN MENOPAUSE DI PUSKESMAS SUKAHAJI KABUPATEN MAJALENGKA Astari, Ruri Yuni; Tarawan, Vita Murniati; Sekarwana, Nanan
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 42, No 3 Sep (2014)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.397 KB)

Abstract

AbstractMenopause is a natural phase experienced by every woman, a reproduction process characterized by the end of the fertile period of a woman because the ovaries are no longer produce estrogen and progesterone, and may cause menopausal complaints which are referred to as menopausal syndrome. Problems or changes experienced by menopause women may lead to a crisis that will affect the quality of life. This study aims to analyze the correlation between menopausal syndrome and the quality of life. The study method was analytic observational with cross sectional design. The population were women who had experienced menopause for 1-2 years in Sukahaji Majalengka Primary Health Center area and met the study criteria such as were still have a husband, had no menstruation experience for 1-2 years and were able to read. Sampling technique was performed by total sampling, conducted in February until March 2013. Menopausal syndrome was measured by using MSQ (Menopause Symptom Questionnaire) and quality of life was measured by using The World Health Organization Quality Of Life questionnaire (WHOQOL - BREF). Data was analyzed with univariate, bivariate and multivariate statistical analysis. The results presented strong negative correlation between physiological and psychological menopausal syndrome aspects in quality of life (r = -0.786, p = 0.000 and r = -0.706, p = 0.000), a negative correlation was simultaneouly strong in physiological and psychological aspects of menopausal syndrome and the quality of life of women (r = -0.772, p = 0.000), a significant correlation between income and education and quality of life (r = -0.313 p = 0.011 and r = -0.359 p = 0.003). Parity was not significantly associated with quality of life of menopause women. Conclusion: menopausal syndrome had impacts on the quality of life of menopause women. Social support, self-confidence and positive attitude towards the complaints of the menopause women to accept menopause as a gift because it is normal for a woman are especially needed.Keywords : Menopausal Syndrome, Quality of Life, MajalengkaAbstrakMenopause merupakan fase alamiah yang dialami oleh setiap perempuan, merupakan proses reproduksi yang ditandai berakhirnya masa subur seorang perempuan karena ovarium sudah tidak menghasilkan hormon estrogen dan progesteron, sehingga menimbulkan berbagai keluhan menopause yang disebut sebagai sindrom menopause. Masalah atau perubahan yang dialami perempuan menopause akan menimbulkan suatu krisis yang akan mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara sindrom menopause dengan kualitas hidup. Metode penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Populasi adalah perempuan yang telah menopause selama 1–2 tahun di wilayah Puskesmas Sukahaji Kabupaten Majalengka dan memenuhi kriteria penelitian, yaitu masih mempunyai suami, sudah tidak mengalami haid selama 1-2 tahun dan mampu membaca.Teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling, dilaksanakan bulan Februari sampai dengan Maret 2013. Sindrom menopause diukur menggunakan kuesioner MSQ (Menopause Symptom Questionaire) dan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner (WHOQOLBREF)The World Health Organization Quality Of Life. Data di analisis secara statistik univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif kuat antara sindrom menopause aspek fisiologis dan psikologis dengan kualitas hidup (r= -0,786 p=0,000 dan r= -0,706 p=0,000), hubungan negatif kuat secara simultan sindrom menopause  aspek  fisiologis  dan  psikologis  dengan  kualitas  hidup  perempuan  (r=  -0,772,  p =0,000), hubungan bermakna antara penghasilan dan pendidikan dengan kualitas hidup (r= -0,313 p=0,011 dan r= -0,359 p=0,003). Paritas tidak berhubungan bermakna dengan kualitas hidup perempuan menopause. Simpulan: sindrom menopause berdampak pada penurunan kualitas hidup perempuan menopause. Perlunya memberikan dukungan sosial, kepercayaan diri dan sikap positif terhadap keluhan yang dialami perempuan menopause sehingga dapat menerima menopause sebagai karunia karena bersifat normal bagi seorang perempuan.Kata Kunci : Sindrom Menopause, Kualitas Hidup, Kabupaten Majalengka
GAMBARAN PENGGUNAAN KB DI DESA HAURSEAH KECAMATAN ARGAPURA KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2017 Anggraeni, Devia Putri; Herlina, Hera Nurmayani; Astari, Ruri Yuni
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.547 KB)

Abstract

Tujuan utama dari program KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan KB di Desa Haurseah Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Argapura Kabupaten Majalengka. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualititatif. Informan pada penelitian ini sebanyak 8 orang informan kunci dan 4 informan pendukung. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam/deep interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari Penggunaan KB oleh akseptor di Desa Haurseah sebagian besar menggunakan KB suntik. Faktor predisposisi dalam penggunaan KB di Desa Haurseah adalah pengetahuan ibu tentang tujuan KB sudah mengerti dengan baik, sikap yang positif terhadap tujuan KB, namun untuk tradisi masih dipengaruhi oleh kondisi religius mengenai penggunaan KB yang masih kurang berkenan di kalangan tokoh agama. Faktor pemungkin dalam penggunaan KB di Desa Haurseah adalah sarana kesehatan yaitu sudah dibangunnya Polindes. Faktor pendorong dalam penggunaan KB di Desa Haurseah adalah dukungan dari petugas kesehatan, tokoh masyarakat dan keluarga yang telah memberikan dukungan untuk ber-KB, sedangkan tokoh agama belum memberikan dukungan sepenuhnya terhadap penggunaan KB. Perlunya meningkatkan kegiatan pemberian informasi dan konseling tentang KB kepada akseptor mengenai cara penggunaannya agar mengurangi keluhan yang dialami oleh pengguna KB serta mengingatkan akseptor untuk memeriksakan kepada petugas kesehatan jika mengalami keluhan atau efek samping. Juga kolaborasi yang baik dengan tokoh masyarakat dan keluarga dengan pendekatan atau advokasi tanpa harus memaksa keyakinannya
GAMBARAN KEMATIAN IBU DI KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2015 (STUDY KUALITATIF) Astari, Ruri Yuni; Sandela, Debby; Elvira, Gita
Midwifery Journal: Jurnal Kebidanan UM. Mataram Vol 3, No 1 (2018): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.306 KB) | DOI: 10.31764/mj.v3i1.149

Abstract

Abstrak: Kematian ibu di Kabupaten Majalengka termasuk dalam peringkat 16 (atau peringkat 10 terbawah) dari 27 kabupaten/ kota yang ada di Propinsi Jawa Barat tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kematian ibu di Kabupaten Majalengka Tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi naratif. Populasi penelitian ibu yang meninggal dunia saat hamil, bersalin, dan nifas di Wilayah Puskesmas Kabupaten Majalengka Tahun 2015 sebanyak 20 orang, dan yang dijadikan partisipan berjumlah 13 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang di adopsi dari hasil penelitian Febriana Prodi Magister Epidemiologi  Program Pasca Sarjana Undip Tahun 2007 serta dokumen autopsi verbal kematian maternal dan perinatal. Pengambilan data melalui wawancara dan dokumentasi. Analisis data secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian lebih dari setengahnya ibu meninggal pada periode nifas penyebab tertinggi kematian ibu karena Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK). Faktor determinan jauh : lebih dari setengahnya pendidikan ibu SMP, sebagian besar tidak bekerja dan rata-rata pendapatan keluarga sesuai dengan UMR Kabupaten Majalengka. Faktor determinan antara : sebagian besar ibu tidak mengalami KEK dan anemia, usia ibu meninggal pada usia 20-35 tahun, lebih dari setengahnya terjadi pada primipara, jangkauan pelayanan kesehatan dari lama rujukan sampai tiba di pelayanan kesehatan ditempuh sekitar 1-2 jam dan hampir seluruh ibu melakukan pemeriksaan kehamilan sampai persalinan dengan tenaga kesehatan. Faktor determinan dekat yang berpengaruh terhadap kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas. Hambatan dan masalah rujukan pada ibu yang meninggal dikarenakan keluarga terlambat merujuk ibu ke fasilitas kesehatan, jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan, akses BPJS serta masalah transportasi yang lama menunggu. Akses pelayanan kesehatan jarak tempuh paling jauh +15 Km dan paling dekat +1 Km. Kecepatan dan ketepatan tenaga kesehatan (baik bidan maupun dokter) dalam mengambil keputusan, merujuk, melakukan penanganan tindakan kegawatdaruratan serta stabilisasi kondisi pasien merupakan faktor penting dalam menyelamatkan  nyawa ibu, karena kematian ibu sering terjadi karena keterlambatan dalam penentuan diagnosa komplikasi, terlambat mengambil keputusan, terlambat merujuk dan terlambat ditangani.Abstract: Maternal mortality in Majalengka District was in the 16th ranking (or the 10th lowest) of 27 districts/cities in West Java Province by 2015. This study aims to determine the description of maternal mortality in Majalengka District in 2015. The study method used was qualitative method through narrative study approach. The populations of the study were mothers who died during pregnancy, childbirth, and postpartum in the work area of Public Health Centers in District Majalengka in 2015 as many as 20 people, and the participants were 13 people. The study instrument used questionnaire which was adopted from the study result of Febriana, Epidemiology Master Study Program of Postgraduate Program of Diponegoro University in 2007 and document of verbal autopsy of maternal and perinatal mortality. Data collection was performed through observation, interview and documentation. Qualitative data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation and conclusion. The results of this study showed that more than half of mothers died during the postpartum period with the highest cause of maternal mortality due to Hypertension In Pregnancy (PIH), the distant determinant factors were: more than half had junior high school education, most of them were unemployed and the average family income was in accordance with Minimum Wage in Majalengka District; the intermediate determinant factors were: most of the mothers did not experience Chronic Energy Deficiency (CED) and anemia, the women died at the age of 20-35 years, more than half deaths occurred in primiparous, health service coverage from referral duration until arrived at health service took about 1-2 hours and almost all mothers did prenatal care until delivery with health personel; the outcome determinant factors affecting maternal mortality were complications during pregnancy, childbirth and postpartum. The referral obstacles and problems in women who died were due to the family performed late referral to health facilities, long distance from health facilities, access to health insurance (BPJS) and long time in waiting transportation. The longest distance of health service access was +15 Km and the closest was +1 Km. The speed and accuracy of health workers (both midwives and doctors) in making decision, referral, performing emergency measures and stabilizing the condition of the patient were important factors in saving the lives of mothers, because maternal mortality often occurs due to delay in the determination of complication diagnosis, delay in making decision, delay in performing referral and delay in receiving care.
GAMBARAN PENGGUNAAN KB DI DESA HAURSEAH KECAMATAN ARGAPURA KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2017 Anggraeni, Devia Putri; Herlina, Hera Nurmayani; Astari, Ruri Yuni
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.251 KB)

Abstract

Tujuan utama dari program KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan KB di Desa Haurseah Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Argapura Kabupaten Majalengka. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualititatif. Informan pada penelitian ini sebanyak 8 orang informan kunci dan 4 informan pendukung. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam/deep interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari Penggunaan KB oleh akseptor di Desa Haurseah sebagian besar menggunakan KB suntik. Faktor predisposisi dalam penggunaan KB di Desa Haurseah adalah pengetahuan ibu tentang tujuan KB sudah mengerti dengan baik, sikap yang positif terhadap tujuan KB, namun untuk tradisi masih dipengaruhi oleh kondisi religius mengenai penggunaan KB yang masih kurang berkenan di kalangan tokoh agama. Faktor pemungkin dalam penggunaan KB di Desa Haurseah adalah sarana kesehatan yaitu sudah dibangunnya Polindes. Faktor pendorong dalam penggunaan KB di Desa Haurseah adalah dukungan dari petugas kesehatan, tokoh masyarakat dan keluarga yang telah memberikan dukungan untuk ber-KB, sedangkan tokoh agama belum memberikan dukungan sepenuhnya terhadap penggunaan KB. Perlunya meningkatkan kegiatan pemberian informasi dan konseling tentang KB kepada akseptor mengenai cara penggunaannya agar mengurangi keluhan yang dialami oleh pengguna KB serta mengingatkan akseptor untuk memeriksakan kepada petugas kesehatan jika mengalami keluhan atau efek samping. Juga kolaborasi yang baik dengan tokoh masyarakat dan keluarga dengan pendekatan atau advokasi tanpa harus memaksa keyakinannya
Perbandingan Metode Kolostrum dan Metode Terbuka Terhadap Lama Pelepasan Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir Astari, Ruri Yuni; Nurazizah, Dinda
Faletehan Health Journal Vol 6 No 3 (2019): Faletehan Health Journal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKes Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.721 KB) | DOI: 10.33746/fhj.v6i3.64

Abstract

Perawatan tali pusat adalah pengobatan dan pengikatan tali pusat yang menyebabkan pemisahan fisik terakhir antara ibu bayi, kemudian tali pusat dirawat dalam keadaan steril, bersih, kering, puput dan terhindar dari infeksi tali pusat. Metode perawatan tali pusat yang efektif mempercepat pelepasan tali pusat dan mengurangi kejadian infeksi. Penelitian ini bertujuan  untuk membandingkan lama pelepasan tali pusat dengan metode kolostrum dan metode terbuka dalam proses pelepasan tali pusat bayi baru lahir. Jenis penelitian  menggunakan experiment static group comparism. Sampel penelitian ini adalah bayi baru lahir sebanyak 30 responden dibagi menjadi 2 kelompok, 15 responden kelompok intervensi dan 15 responden kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pelepasan tali pusat dengan metode kolostrum adalah <5 hari (kategori cepat) dan tidak ada yang >7 hari (kategori lambat). Sedangkan lama pelepasan tali pusat dengan metode terbuka tali pusat lepas <5 hari (kategori cepat) dan tali pusat lepas >7 hari (kategori lambat). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa lama pelepasan tali pusat bayi baru lahir dengan metode kolostrum sekitar 4 hari 9 jam lebih cepat dibandingkan metode terbuka dengan hasil uji statistik ( . Petugas kesehatan perlu mendapatkan informasi tentang perawatan tali pusat dengan metode kolostrum sehingga dapat diterapkan pada bayi baru lahir.