Muhammad Assagaf
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

PENENTUAN KODISI PROSES TERBAIK PEMBUATAN BIOFOAM DARI LIMBAH PERTANIAN LOKAL MALUKU UTARA Saleh, Erna Rusliana Muhamad; Assagaf, Muhammad; Rodianawati, Indah; Warsiki, Endang; Wulandari, Nur
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.671 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menentukan kondisi proses terbaik dalam pembuatan biofoam.  Teknikpembuatan biofoam dilakukan dengan metode thermopressing. Selang suhu yang diujikan berkisar150-225oC, sedangkan lama waktu proses diujikan 10-40 menit. Jumlah adonan yang dimasukkanke dalam cetakan dilakukan dengan variasi 40-60 gram. Karakterisasi biofoam pada penelitian inidilakukan secara visual dengan melihat warna dan penampakan biofoam yang dihasilkan. Kondisiproses  terbaik  adalah  adonan  yang  diproses  sebanyak  50  gram  pada  suhu  200oC  dengan  lamaproses 30 menit.
Karakter Oleoresin Pala (Myristica Fragrans Houtt) yang Dimikroenkapsulasi: Penentuan Rasio Whey Protein Concentrate (WPC):Maltodekstrin (MD) Assagaf, Muhammad; Hastuti, Pudji; Hidayat, Chusnul; Yuliani, Sri; Supriyadi, Supriyadi
Agritech Vol 33, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9562

Abstract

The aim of this study was to determine the best ratio of the encapsulant mixture whey protein concentrate (WPC):maltodextrin (MD) for microencapsulation of nutmeg (Myristica fragrans Houtt) oleoresin. In this study encapsulant used was a mixture of whey protein concentrate (WPC) and maltodextrin (MD) various from (0-24%) and (100-76%) respectively total solids of 20%. The ratio of nutmeg oleoresin and encapsulant was 1:9. The emulsion of encapsulant and oleoresin was dried using a spray dryer inlet temperature 160°C and feed rate of 300 ml/h. Microcapsules produced were analyzed to determine the characters such as microcapsules surface oil, total volatile, non-volatile, moisture content, water activity, the composition of oleoresin before and after microencapsulation as well as microcapsule morphology. The results showed that the microcapsules of nutmeg oleoresin made from encapsulant formula with ratio of WPC MD (1:7,3) or a mixture of 12% WPC and 88% MD, gave microcapsules with lowest surface oil (0.16%) and highest total volatile (26.7%) among other formulas. The average moisture content was 3.4% (db) the water activity between various 0.29 to 0.41 and particle size between 1.39 to 56.6 μm. It can be concluded that from surface oil and total volatile that the most suitable encapsulant for microencapsulation of nutmeg oleoresin was mixture of 12% of WPC and 88% of MD. The 47 components of oleoresin were identifi ed before encapsulated, while after encapsulation into 34 components.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah penentuan rasio campuran enkapsulan whey protein concentrate (WPC):maltodekstrin (MD) yang terbaik dalam pembuatan oleoresin pala (Myristica fragrans Houtt) yang dimikroenkapsulasi. Pada penelitian ini enkapsulan yang digunakan adalah campuran WPC dan MD dengan berbagai rasio WPC (0-24%) dan MD (100-76%), yang diformulasikan dalam 7 formula enkapsulan. Suspensi campuran WPC dan MD dalam air diatur pada total padatan 20%. Emulsi enkapsulan dan oleoresin dengan rasio oleoresin pala dan enkapsulan yaitu 1:9 dikeringkan dengan menggunakan pengering semprot pada suhu inlet 160C dengan laju alir umpan 300 ml/jam. Mikrokapsul yang dihasilkan dianalisis karakternya yang meliputi surface oil, total volatil, non volatil, kadar air, aktivitas air, komponen penyusun oleoresin sebelum dan setelah mikroenkapsulasi serta morfologi mikrokapsulnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikrokapsul oleoresin pala yang dibuat dengan enkapsulan rasio WPC:MD (1:7,3) atau WPC 12% + MD 88%, menghasilkan mikrokapsul dengan surface oil yang rendah (0,16%) dan total volatil yang lebih tinggi (26,7%) dibanding formula lainnya. Sedangkan kadar air rata-rata 3,4% (bk) dengan nilai aktivitas air antara 0,29-0,41 dan ukuran partikel antara 1,39-56,6 μm. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mikrokapsul oleoresin pala yang terbaik adalah mikrokapsul yang terbuat dari campuran enkapsulan WPC 12% dengan indikator rendahnya surface oil dan tingginya total volatil, non volatil dan ekstrak eter. Komponen penyusun oleoresin sebelum enkapsulasi yang teridentifi kasi sebanyak 47 senyawa sedangkan dari oleoresin yang dimikroenkapsulasi teridentifi kasi 34 senyawa.
OPTIMASI EKSTRAKSI OLEORESIN PALA (Myristica fragrans Houtt) ASAL MALUKU UTARA MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM) Assagaf, Muhammad; Hastuti, Pudji; Hidayat, Chusnul; ., Supriyadi
Jurnal Agritech Vol 32, No 04 (2012)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to obtain the optimum extraction conditions by performing the optimization of temperature and extraction time and characterization of constituent chemical components of oleoresin nutmeg (Myristica fragrans Houtt) Origin of North Maluku. Oleoresin extracted using maceration method, for optimization of extraction conditions was done by using Response Surface Methodology (RSM) design with the Central Composite Design (CCD) two factors X1 (temperature / oC) and X2 (times / minute). As for the characterization of the chemical constituent components of nutmeg oleoresin used GC-MS. From the results obtained by the optimization of extraction conditions for extracting the optimum temperature of 51.98 °C and the optimum extraction time was 273.82 minutes with the results for the optimum result of oleoresin obtained by 14.88%. The results of characterization by using GC-MS obtained with 39 components making up oleoresin chemical compound with the largest relative area of ​​the compound methyleugenol (33,397%), myristicine (10,898%), cis-methyl isoeugenol (9,086%), elemicin (8,329% ), and isocoumarin (5,608%) with 34 percent of the components that have relatively minor area.Keywords: Nutmeg oleoresin, extraction optimization, Response Surface Methodology, characterization ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kondisi ekstraksi yang optimum dengan melakukan optimasi suhu dan lama ekstraksi dan karakterisasi komponen kimia penyusun oleoresin pala (Myristica fragrans Houtt) Asal Maluku Utara. Oleoresin diekstrak menggunakan metode maserasi, untuk optimasi kondisi ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan disain rancangan Central Composite Design (CCD) dua faktor yaitu X1 (suhu/oC) dan X2 (waktu/menit). Sedangkan untuk karakterisasi komponen senyawa kimia penyusun oleoresin pala digunakan GC-MS. Hasil optimasi kondisi ekstraksi diperoleh suhu optimum ekstraksi sebesar  51,98oC dan waktu optimum ekstraksi adalah selama 273,82 menit dengan hasil optimum hasil oleoresin yang diperoleh sebesar 14,88 %. Hasil karakterisasi dengan menggunakan GC-MS diperoleh 39 komponen dengan 5 senyawa kimia penyusun oleoresin dengan luas area relatif terbesar yaitu senyawa methyleugenol (33.397%), myristicine (10.898%), cis-methyl isoeugenol (9.086%), elemicin (8.329%), dan isocoumarin (5.608%) dengan 34 komponen  yang memiliki persen relatif luas area minor. Kata kunci: Oleoresin pala, optimasi ekstraksi, Response Surface Methodology, karakterisasi
Perbandingan Ekstraksi Oleoresin Biji Pala (Myrictica Fragrans Houtt) Asal Maluku Utara Menggunakan Metode Maserasi dan Gabungan Distilasi – Maserasi Assagaf, Muhammad; Hastuti, Pudji; Hidayat, Chusnul; Supriyadi, Supriyadi
Agritech Vol 32, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9608

Abstract

The purpose of this study was to compare the composition of oleoresin nutmeg (Myristica fragrans Houtt) madedirectly by maceration and combined distillation – maceration. Nutmeg oleoresin yield amounted to 15.17±0.07 (% db)obtained by direct maceration and oleoresin extraction method combined distillation and maceration obtained yield of20.07±0.23 (% db). While the essential oil yield itself from the water-steam distillation of the results obtained at 6.61(% db). Ethanol extract of oleoresin analysis using GCMS method identiÞ ed a total of 39 kinds of compounds withthe composition of major components is methyleugenol (33.40 %), myristicine (10.90 %), cis-methyl isoeugenol (9.09%), elemicin (8.33 %), and isocoumarin (5.61 %). For nutmeg essential oil contained 31 components of the compound,where the components are located in large numbers was sabinene (34.97 %), !-phellandrene (19.9 %), methyleugenol(7.55 %), myristicine (5.29 %) and elimicine (3.21 %). As for the essential oil is mixed with the oleoresin from the pulpremaining distillation contained 58 components that make up the compound of the oleoresin with a mixture of maincomponents, namely: sabinene (12.38 %) myristicine (10.88 %), elemicin (8.93 %), isocoumarin (6.26 %), myristicacid (5.96 %), and "-pinene (4.73 %).ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membandingkan komponen penyusun oleoresin biji pala (Myristica fragrans Houtt)yang dibuat dengan cara maserasi langsung dan gabungan distilasi – maserasi. Yield oleoresin pala sebesar 15,17±0,07(% bk) yang diperoleh dengan cara maserasi langsung dan oleoresin hasil ekstraksi gabungan metode distilasi danmaserasi diperoleh yield sebesar 20,07±0,23 (% bk). Sedangkan yield minyak atsiri sendiri dari hasil distilasi air-uapdiperoleh sebesar 6,61 (% bk). Senyawa penyusun oleoresin ekstrak etanol hasil analisis menggunakan metode GCMSteridentiÞ kasi senyawa sebanyak 39 macam dengan komponen yang berada dalam jumlah besar adalah methyleugenol(33,40 %), myristicine (10,90 %), cis-methyl isoeugenol (9,09 %), elemicin (8,33 %), dan isocoumarin (5,61 %). Untukminyak atsiri biji pala terdapat 31 komponen senyawa, dimana komponen yang berada dalam jumlah yang besar adalahsabinene (34,97 %), !– phellandrene (9,19 %), methyleugenol (7,55 %), myristicine (5,29 %) dan elimicine (3,21%).Sedangkan untuk minyak atsiri yang dicampur dengan oleoresin dari ampas sisa distilasi terdapat 58 komponen senyawayang menyusun oleoresin campuran tersebut dengan senyawa yang berada dalam jumlah besar yaitu; sabinene (12,38%) myristicine (10,88 %), elemicin (8,93 %), isocoumarin (6,26 %), myristic acid (5,96 %), dan !- pinene (4,73 %).