Articles

Found 30 Documents
Search

KAPASITAS LEMBAGA MASYARAKAT DALAM KEGIATAN PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BERBASIS MASYARAKAT DI JAWA TENGAH Fultanegara, Anggun Aprinasari; Asnawi, Asnawi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.766 KB)

Abstract

Fenomena kemiskinan merupakan fenomena kompleks yang seolah-olah menjadi momok yang susah untuk dicari solusinya. Fenomena ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, salah satunya Provinsi Jawa Tengah dengan tingkat kemiskinan sebesar 16,56% yang masih berada di atas tingkat kemiskinan nasional 13,33% (BPS, 2010). Upaya pemerintah dalam mempercepat penanggulangan kemiskinan salah satunya adalah kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Masyarakat melalui pengokohan kelembagaan. Akan tetapi, kinerja dari lembaga tersebut bervariatif ada yang berhasil dan ada yang kurang berhasil dalam menjalankan kegiatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kapasitas kelembagaan dalam kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Masyarakat. Penelitian ini mencoba mengkomparasikan dua BKM, yaitu BKM Sejahtera Mandiri Kabupaten Kendal dan BKM Podosugih Kota Pekalongan. Kapasitas kelembagaan diukur dengan dari tiga indikator, yakni aspek individu, kelompok, dan lembaga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif serta menggunakan teknik analisis skoring dan pengumpulan data kuesioner. Dari hasil analisis skoring menunjukkan menunjukkan kapasitas BKM Podosugih dengan skoring 945 pada kelas I yaitu sangat baik, sedangkan BKM Sejahtera Mandiri dengan skoring 897 pada kelas II yaitu baik dalam menjalankan kegiatan. Dengan melihat kapasitas kelembagaan ldi Kelurahan Kebondalem dan Podosugih, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan agar dapat berlangsung efektif dalam upaya penataan kawasan lingkungan.
KEMAMPUAN GURU BAHASA INGGRIS MELAKSANAKAN MODEL PEMBELAJARAN AUTHENTIC ASSESSMENT DI SMA KOTA BANDA ACEH Asnawi, Asnawi
Jurnal Mentari Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan guru Bahasa Inggris melaksanakan model pembelajaran Asesmen Otentik di SMA Negeri Kota Banda Aceh. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui respon siswa terhadap pelaksanaan model pembelajaran Asesmen Otentik di SMA Negeri Kota Banda Aceh. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif-kualitatif. Populasi penelitian ini adalah semua guru bahasa Inggris di SMA Kota Banda Aceh, sedangkan sample/subjek penelitian ini adalah tiga orang guru Bahasa Inggris dan lima orang siswa yang  dipilih dari tiga SMA di Kota Banda Aceh secara acak. Metode pengumpulan data dalam penelitian  adalah dengan menggunakan lembar observasi pengamatan guru dan angket respon siswa. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan pengolahan data diperoleh hasil: (1) tingkat kemampuan guru Bahasa Inggirs SMA dalam melaksanakan model pembelajaran Asesmen Otentik di kota Banda Aceh termasuk kategori baik, (2) pada umumnya siswa SMA memberikan respon senang terhadap pelaksanaan model pembelajaran Asesmen Otentik di kota Banda Aceh. Kata Kunci: kemampuan guru, autentik asesmen, This study aimed to describe the ability of English teachers implement instructional model authentic assessment in high schools in Banda Aceh. The study also aims to determine the students response to the implementation of the teaching model in SMA Authentic Assessment of Banda Aceh. This research is descriptive-qualitative. The study population was all high school English teacher in the city of Banda Aceh, while the sample / subject of this research are three English teachers and five students were selected from three high schools in the city of Banda Aceh at random. Methods of data collection in this research is to use the observation sheet observation of teachers and students questionnaire responses. Data processing is done using descriptive statistics. Based on the obtained results of data processing: (1) the level of high school English cuisine English teachers ability to implement models of authentic assessment of learning in the city of Banda Aceh, including both categories, (2) high school students are generally happy to respond to the implementation of authentic assessment model of learning in the city of Banda Aceh. Keywords: the ability of teachers, authentic assessment,
THE INTERNATIONAL STUDENTS’ MOTIVATION IN LEARNING BAHASA MELAYU AS A FOREIGN LANGUAGE AT UKM, MALAYSIA Asnawi, Asnawi
Jurnal Mentari Vol 13, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi motivasi dan persepsi mahasiswa internasional dalam belajar bahasa Melayu sebagai bahasa asing di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek peneltian ini adalah sejumlah 30 mahasiswa asing yang belajar di UKM dengan menggunakan teknik purposif sampling. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti menyebarkan angket/kuisioner kepada 30 subjek peneltian. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan persentase.  Dapatan kajian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan setuju dengan belajar bahasa Melayu sebagai bahasa asing di universitas dimaksud. Hal ini dapat dilihat persentase yang diperoleh dimana 70% dari 30 responden menyatakan setuju bahasa Melayu dipelajari oleh mahasiswa asing di UKM. Mereka juga menyatakan bahwa dengan belajar bahasa Melayu dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami literature yang ditulis dalam bahasa tersebut. Di samping itu, bahasa Melayu juga dianggap penting karena dengan menguasai bahasa tersebut akan mempermudah mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus di Negara Malaysia.  Berdasrkan temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi/persepsi mahasiswa asing dalam belajar bahasa Melayu sangat positif. Mereka merasa puas terhadap pelaksanaan bahasa Melayu dapat membantu mereka dalam belajar di Malaysia.   Kata Kunci: international students, Bahasa Melayu, motivation
SIBERNETIK DAN TEORI KONSTRUKTIVIS DALAM PENGAJARAN Asnawi, Asnawi
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A teacher should know a lot of theories that can be applied in teaching and learning process either English or other subjects. The current theories nowadays used by teachers are behaviorist theory, nativist approaches, computer-supported collaborative learning (CSCL) theories, cybernetics and constructivism theories. The focus of this article is to elaborate cybernetics and constructivism theories. The aim of this article is to briefly describe the cybernetics and constructivism theories in teaching and learning which covers the definition of cybernetics and constructivism, principles of constructivism learning, the characteristics of constructivism learning and teaching, the role of teachers and students, the challenging of teachers in constructivism classroom. Kew words: cybernetic, constructivism     REFERENCES Atkins, H., Moore, D., and Sharpe, S. 2000. ‘Learning Style Theory and Computer Mediated Communication’. Assicuation of the Advancement of Computing in Education. Available online at Bragg, W.P. 1999. Constructivist learning and Web-based computer conferencing: Qualitative analysis of online interaction among graduate students. Ph.D dissertation. Faifax, VA: George Mason University. Available on line at http://www.csun.edu/sociology/ virexp.htm Accessed on the 3.9.2004 Haythornthwaite, C. 2001. ‘Web-based Education’. Proceedings of the 34th HICSS. IEEE Computer Society Press. Hein, E.G. 1991. Constructivist Learning Theory, International Committee of Museum Educators. Lesley College, Massachusetts USA Lambert, L. et al. 1995. The Constructivist Leader. Teachers College Press. New York. Novak, J. 1998. Learning, Creating and Using Knowledge: Concept maps as tools to understand and facilitate the process in schools and corporations. Lawrence Erlbaum. New Jersey. Norbert Wiener, Cybernetics or Control and Communication in the Animal and the Machine, (Hermann Editions in Paris; Cambridge: MIT Press,Wiley & Sons in NY 1948), Runlee, S. and Daley, B.J. 2002. ‘Constructivist Learning Theory to Web-Based Course Design: an instructional Design Approach’. Australian Journal of Educational Technology. Vol 53(3). Schutte, J.G. (1997). Virtual teaching in higher education: The new intellectual superhighway or just another traffic jam? [verified 2 Nov 2001] http://www.csun.edu/sociology/virexp.htm http://oufcnt5.open.ac.uk/~Hilary_Atkins/emedia.htm Louis Couffignal´s photos & documents (http://histm2.free.fr/H.Couffign.htm)  
KARAKTERISTIK MASYARAKAT PENERIMA DANA BANTUAN UNTUK PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS PERUMAHAN YANG BERBASIS MASYARAKAT DI KELURAHAN KEMIJEN Permatasari, Anggi Yulia; Asnawi, Asnawi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah merupakan kebutuhan mendasar untuk setiap manusia, dalam pemenuhan akan rumah memiliki prioritas yang penting selain pemenuhan sandang dan pangan. Namun  tidak semua manusia bisa terpenuhi akan memiliki sebuah rumah yang layak huni dengan lingkungan yang sehat. Pertambahan penduduk dan keterbatasan lahan merupakan akar dari permasalahan yang timbul pada pengadaan rumah yang layak huni terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pengentasan kemiskinan telah di upayakan oleh pemerintah untuk mengurangi tingkat kemiskinan itu sendiri dengan cara memberikan berbagai macam program bantuan untuk rakyat miskin. Salah satunya adalah dengan memberikan Bantuan Stimulan Pembangunan Perumahan Swadaya dengan program Peningkatan Kualitas Perumahan (PKP). Kelurahan Kemijen merupakan salah satu kelurahan  yang ada di Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang yang mendapatkan bantuan program PKP. Dimana Kelurahan Kemijen merupakan Kelurahan yang terbilang paling banyak masyarakat berpenghasilan rendahnya dan sulit untuk memenuhi kebutuhan akan rumah yang layak huni se-Kecamatan Semarang Timur. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut maka dalam penelitian ini digunakan metode campuran (kualitatif, kuantitatif). Analisis yang diunakan adalah analisis deskriptif kualitatif  yang digunakan untuk mengetahui bagaimana mekanisme penyaluran dana program PKP, sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui bagaimana karakteristik penerima bantuan dana program PKP. Hasil dari penelitian ini adalah rekomendasi untuk pemerintah, masyarakat maupun instansi terkait untuk menyelesaikan masalah tentang pengentasan kemiskinan yang ada di Kelurahan Kemijen dengan cara mensejahterakan hidup mereka dengan memperbaiki taraf hidup mereka melalui perbaikan kualitas rumah, sehingga mereka dapat memiliki rumah yang layak untuk ditempati.
KEBERHASILAN COMMUNITY BASED TOURISM DI DESA WISATA KEMBANGARUM, PENTINGSARI DAN NGLANGGERAN Purbasari, Novia; Asnawi, Asnawi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.803 KB)

Abstract

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Jawa, namun memiliki potensi pariwisata yang tinggi. Hal ini dikarenakan DIY memiliki faktor yang berkenaan dengan keanekaragaman objek, dan ragam spesifikasi objek dengan karakter yang mantap dan unik. Hal ini memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat lokal. Sehingga munculah desa –desa wisata yang berada di sekitar DIY yang dikelola oleh masyarakat lokal yang bergerak di bidang pariwisata yang sering disebut community based tourism (pariwisata berbasis masyarakat). Melalui pariwisata berbasis masyarakat, pemerintah menanggapinya dengan suatu program yaitu PNPM Mandiri Pariwisata. Namun tidak semua desa wisata mampu membawa desa wisata menuju keberhasilan. Desa Kembangarum, Pentingsari dan Nglanggeran mampu menunjukkan keberhasilan community based tourism. Hal itu dilihat dari banyaknya penghargaan yang mereka terima. Hal ini memunculkan pertanyaan penelitian yaitu bagaimana keberhasilan community based tourism di Desa Kembangarum, Pentingsari dan Nglanggeran? Dari pertanyaan di atas maka terumuskanlah tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi ukuran keberhasilan dari Desa Wisata Kembangarum, Pentingsari dan Nglanggeran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik purposive dan mengadopsi snowball sampling. Hasil akhir dari penelitian ini Desa Wisata Pentingsari dan Nglanggeran berhasil melalui upaya pemberdayaan masyarat sedangkan Desa Wisata Kembangarum berhasil melalui pelibatan masyarakat secara tidak langsung.
Pertumbuhan Pembangunan Real Estate Terhadap Perkembangan Urban Sprawl Di Kecamatan Tembalang Shofarini, Dian Indah; Asnawi, Asnawi
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urban sprawl is driven by population growth and need of land. Setioko (2009) and REI of Central Java (2012) says that urban development of Semarang City is sprawling through south and east of Semarang. Tembalang is one distric in Semarang who had the highest landuse changing which many center of activities with positive and negative effect. The aim of this research is to find out how real estate development growth influence the urban sprawl development in Tembalang. The approach of this research using a mixed method with housing growth analysis, housing market analysis, city-shape analysis and urban sprawl analysis. Real estate development for last 5 years affect the development of urban sprawl in Tembalang based on real estate development and people accessibility. Over the last 5 years, real estate development had contributed 0.34% to cover the backlog as many as 29% of the 26,131 houses until 2019. Housing and settlement planning need a grand design to accommodate the synchronization among urban planning, transportation and housing development  in Semarang in order to minimize the sporadic and disorganized development. Keywords: real estate development, urban sprawl
TIPOLOGI TINGKAT URBAN SPRAWL DI KOTA SEMARANG BAGIAN SELATAN Apriani, Vina Indah; Asnawi, Asnawi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1310.655 KB)

Abstract

Saat ini hampir sepertiga populasi penduduk Kedungsepur tinggal di Kota Semarang dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk Kota Semarang sebesar 1,4% pertahun. Semakin besar laju pertumbuhan penduduk, menyebabkan kebutuhan akan perumahan yang semakin besar pula. Pada tahun 2011, laju pertumbuhan penduduk Kota Semarang akibat migrasi sebesar 2,24% (BPS, 2012). Laju urbanisasi yang tidak terkontrol menyebabkan ledakan penduduk semakin memadati kawasan perkotaan dan menyebabkan terjadinya ekspansi. Berdasarkan laporan RPJM Bappeda 2010, pola struktur keruangan Kota Semarang mengalami perembetan meloncat dan tidak kompak yang terjadi seiring dengan kecenderungan perkembangan perumahan dikawasan pinggiran. Permasalahan ini jika terus dibiarkan akan berkembang menjadi permasalahan yang lebih kompleks dan sulit terkendali di masa yang akan datang. Kota Semarang bagian selatan merupakan sasaran dari pengembangan perkotaan terutama dalam bidang perumahan. Pengembangan yang terus menerus serta tidak terkendali pada wilayah yang merupakan ekspansi perkotaan diduga yang akan menimbulkan fenomena urban sprawl yang berdampak negatif dari sisi lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan tingkat urban sprawl di Kota Semarang bagian selatan kedalam tiga tipologi. Untuk menjawab penelitian ini maka tahapan yang dilakukan adalah mengidentifikasi terlebih dahulu wilayah urban sprawl yang ditentukan oleh rasio rumah tangga dan rasio lahan terbangun. Selanjutnya dilakukan analisis karakteristik dan klasifikasi karakteristik pada wilayah yang teridentifikasi sprawl dengan menggunakan 5 variabel. Dari hasil analisis karakteristik dan klasifikasi karakteristik dilakukan analisis tingkat urban sprawl untuk mendapatkan tipologi sprawl. Variabel yang digunakan adalah kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, jarak ke pusat kota, Pembangunan dalam jangkauan jaringan jalan, dan pola pembangunan lompatan katak.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Sumber data utamanya dari citra tahun 2000 dan 2011.Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis spasial, dan analisis scoring. Hasil penelitian ini menunjukkan hampir 50% kelurahan di Kota Semarang bagian selatan teridentifikasi sprawl. 7 kelurahan tergolong dalam tipologi 3 yang menunjukkan tingkat urban sprawl tinggi dengan nilai 11-13, 6 kelurahan tergolong dalam tipologi 2  yang menunjukkan tingkat urban sprawl  sedang dengan nilai 9-10, dan 6 kelurahan yang masuk dalam tipologi 1 yang menunjukkan tingka urban sprawl rendah dengan nilai 6-8. Untuk meminimalisir berkembangnya fenomena urban sprawl penelitian ini merekomendasikan saran untuk pemerintah kota agar bisa memfasilitasi arah pembangunan kota yang lebih baik dan mengontrol pembangunan perumahan skala kecil secara lebih terarah.
RESPONS KULTURAL MASYARAKAT SASAK TERHADAP ISLAM Asnawi, Asnawi
ULUMUNA Vol 9, No 1 (2005): June
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam reached Lombok island at sixteenth century, approximately at 1545. Its well-known spreader was an expedition from Java led by Sunan Prapen son of Sunan Giri, one of the famous wali songo (nine religious leaders, the Islam spreader in Java). Before Islam reached this island, according to some historian, the indigenous Sasak—appellation to indigenous of Lombok people—had had their own traditional religion, Boda. Sometimes Boda was also called Majapahit Religion.Method of spreading Islam at early time of Islam in this island was called three-linked system. A religious leader coming from Java had to teach three indigenous people and then made them be religious leaders. After mastering what was taught they were considered religious leaders and, in turn, respectively have to teach another three candidates. This method of spreading gained effective outputs on one hand, but on other hand it also shaped a kind of viewpoint among indigenous people that the religious obligatories such as daily praying and fasting are only the duty of religious leaders not of common people.Such unexpected point of view in turn has polarized the people into two groups, religious leaders and their common disciples. The later have point of view that they only do what their religious leader and king ask them to do, and this was the embryo of a local Islamic syncretism known as Wetu Telu. After time of Sunan Prapen, the Tuan Guru—a special call to Lombokness religious leaders—take responsiblity on islamization in this island, especially to the Wetu Telu disciples. 
Paham Teologi dan Visi Kebangsaan Masyarakat Lombok Asnawi, Asnawi
ULUMUNA Vol 13, No 2 (2009): December
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Dutch colonialism over Lombok Island in 1894 caused severe sufferings. Under their control, Lombok people were oppressed and suffered. Theology and tariqat practices built anti-imperialist spirit within Muslim society to the infidel imperialists. Consequently, Muslim leaders like Tuan Guru who were also tharîqah teachers aroused the war for the sake of Allah. Tuan Guru propagated Islamic teachings so that Islam then became an ideological base for fights against the infidel Dutch. This urged the Dutch to chase Muslim leaders and look for information about tharîqah movements. Such repressive efforts led them to rebel. Lombok people’s fanaticism to Islam awakened anti-imperialist spirit and movements. Considering Lombok people’s fights against Gel-Gel King of Bali and the Dutch, Islamic spirit was an intrinsic part of the struggle against colonialism. It was clear that the Islamic spirit of independence moved them to struggle.