Articles

Found 15 Documents
Search

Coeliac Disease: Focus on Multisteps Immunopathogenesis and Their Correspond Clinical Investigations Asmara, I Gede Yasa
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 58 No. 12 December 2008
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coeliac disease is a chronic inflammatory intestinal disease as a result of gluten hypersensitivity. It affects 1 in 200 people mainly in Western countries. There are four main pathogenic steps of coeliac disease which correspond to each specific clinical investigation; The first begin with the introduction of gluten into the intestinal mucosa which leads to the development of antigliadin antibodies. Specific gluten peptides undergo deamidation by tissue transglutaminase in the lamina propria of the small gut. Serologically, anti endomysial and anti-tissue transglutaminase antibodies can be detected in this phase. Next, local macrophages which act as professional antigen presenting cells (APCs) processed the deaminated peptides and present it to the T cells via specific MHC type II. It is therefore molecular technique is able to detect the present of particular HLA allele of the MHC type II. Finally, small bowel mucosal and villi destruction occur and can be examined using endoscopy and biopsy. The last method of investigations remains the gold standard of diagnosis of coeliac disease. An improved understanding of the immunopathogenesis of coeliac disease is likely to lead to the improvement of diagnostic ability and the development of novel strategies for the treatment of coeliac disease.Keywords: Coeliac disease, immunopathogenesis, clinical investigations, diagnosis
Infeksi Malaria Plasmodium knowlesi pada Manusia Asmara, I Gede Yasa
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v5i4.224

Abstract

Plasmodium knowlesi (P. knowlesi) telah dikenal sebagai penyebab kelima infeksi malaria pada manusia setelah P. vivax, P. falciparum, P. malariae, dan P. ovale. Epidemiologi dan gambaran klinis penyakit ini telah banyak dibahas, namun hanya pada beberapa studi, sejak kasusnya meningkat di Divisi Kapit, Sarawak, Malaysia pada tahun 2004. Penelitian skala besar mengenai angka pasti kejadian penyakit ini di Asia tenggara penting untuk dilakukan. Oleh karena siklus hidupnya yang singkat, jumlah parasit dalam darah dapat cepat meningkat, sehingga infeksi P. knowlesi berpotensi menjadi penyakit yang berat. Aspek patofisiologi penyakit ini masih belum begitu jelas terutama terkait bagaimana sampai timbulnya malaria berat seperti yang terjadi pada infeksi P. falciparum. Deteksi dini menggunakan pemeriksaan molekuler merupakan baku emas diagnosis malaria knowlesi. Walaupun berbagai macam obat antimalaria masih sensitif terhadap infeksi P. knowlesi, tatalaksana segera sangat penting mengingat penyakit dapat memburuk dengan cepat. Kata Kunci: Infeksi, Malaria, Manusia, Plasmodium knowlesi Infection of Plasmodium Knowlesi Malaria in HumanPlasmodium knowlesi (P. knowlesi) has been recognised as the fifth of malaria infections in human after P. vivax, P. falciparum, P. malariae and P. ovale. Epidemiology and clinical features of the disease have much been discussed only in several literatures since the incidence increased in Kapit Division, Sarawak, Malaysia in 2004. A large-scale research investigating real incidence of the infection in South East Asia is important. Because of rapid life cycle, the number of parasite in the blood can increase significantly, result in potential severe malaria. Pathophysiology aspect of the disease has not been clear yet, particularly on how severe malaria can be occurred as similar as in P. falciparum infections. Early detection using moleculer technique is the gold standar of the diagnosis of knowlesi malaria. Although P. knowlesi infection is still sensitive to many anti-malaria drugs, prompt treatment is crucial since the infection might deteriorate fast.
Edukasi Deteksi Dini Stroke Pada Komunitas Diabetes Di Kota Mataram Hunaifi, Ilsa; Harahap, Herpan Syafii; Anggoro, Joko; Asmara, I Gede Yasa; Lestari, Rina; Suryani, Dewi
Jurnal Gema Ngabdi Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Gema Ngabdi
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v1i1.10

Abstract

Stroke remains one of the major causes of death and disability in Indonesia with a mortality and disability rate of 15% and 65%, respectively. Diabetes is known as a modifiable risk fator on stroke. Promptly identifying the symptoms of stroke is crucial as it leads to faster treatment and minimize brain damage. However, most patients are unaware of the early warning signs and symptoms of stroke. Therefore, providing education on early detection of stroke for patients with diabetes is essential as it may improve awareness on early signs of stroke hence allow patients to seek early treatment and later reduce the impact of the disease. The aim of this community education is to increase awareness of stroke and provide information on early signs and prevention of stroke among patients with diabetes.To achieve the aim of this community education include provide a talk/presentation on early sign of stroke and healthy life style for diabetes patient and evaluation of process. Evaluation of the community education was conducted through a pre and posttest to all participant on the related issue. Approximately 18 diabetes patients took part in this community education. The pre-test average score of participants was 73.33%. After providing education on stroke early detection, the participants' average score increased to 86.67 or increased by 18%. Education for early detection of stroke among Diabetes patients increased participants' understanding of the symptoms and early signs of stroke
Hubungan antara Diabetes Melitus dengan Penyakit Arteri Perifer (PAP) Melalui Pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit di Mataram Mutmainah, Hairu Nurul; Pintaningrum, Yusra; Asmara, I Gede Yasa
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit kardiovaskuler dan degeneratif saat ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik secara lokal, nasional, regional, dan global, salah satunya adalah diabetes melitus. International Diabetes Federation (IDF) menyatakan bahwa lebih dari 371 juta orang di dunia yang berumur 20-79 tahun menderita diabetes. Indonesia merupakan negara urutan ke-7 dengan prevalensi diabetes tertinggi. Salah satu komplikasi dari diabetes melitus adalah komplikasi makrovaskuler yang mempunyai gambaran histopatologis berupa aterosklerosis yang akan menjadi prediktor utama terjadinya penyakit arteri perifer (PAP). Skrining awal PAP sangatlah penting. Keparahan PAP dapat dinilai dengan nilai Ankle Brachial Index (ABI). ABI merupakan prosedur pemeriksaan non invasive dan sederhana untuk mendeteksi kemungkinan adanya PAP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara diabetes melitus dengan nilai ankle brachial index (ABI). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan metode crosssectional. Pengambilan sampel dilakukan di RSUD Provinsi NTB, Rumah Sakit Risa Sentra Medika Mataram dan Rumah Sakit Harapan Keluarga Mataram. Terdapat 105 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi, kemudian dilakukan pengukuran ABI. Kadar gula darah didapatkan melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil: Dari 105 sampel terdapat 38 (36,2%) mengalami diabetes melitus, 26 (24,8%) ABI tidak normal. Uji Chi Square diabetes melitus dengan ABI (p = 0,781). Uji Rasio Prevalensi diabetes melitus dengan ABI (RP = 1,102). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara diabetes melitus dengan penyakit arteri perifer melalui pemeriksaan ankle brachial index. Seseorang dengan diabetes melitus memiliki risiko 1,102 kali untuk memiliki nilai ABI yang tidak normal.
Peran Dukungan Keluarga Pasien HIV yang Menjalani Terapi Anti Retroviral di Klinik VCT RSUD Provinsi NTB terhadap Outcome Klinis Wardoyo, Eustachius Hagni; Budyono, Catarina; Asmara, I Gede Yasa
Jurnal Kedokteran Vol 7 No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Jumlah kasus HIV di Provinsi NTB semakin meningkat setiap tahun. Pemberian terapi antiretroviral pada pasien HIV secara signi?kan dapat memperpanjang ketahanan hidup yang tergambar secara obyektif dari gambaran klinis. Namun belum ada data yang menilai peran dukungan keluarga terhadap outcome klinis pasien HIV khususnya di klinik VCT RSUD Provinsi NTB. Oleh sebab itu dilakukan penelitian untuk mengetahui peran dukungan keluarga terhadap outcome klinis pasien HIV yang menjalani Terapi Anti Retroviral di klinik VCT RSUD Provinsi NTB Metode: Studi ini merupakan studi case-control yang terdiri atas dua tahap, yaitu 1) pendataan pasien HIV yang menjalani terapi ARV, dengan kesuksesan terapi sebagai kasus, kegagalan terapi sebagai kontrol dan 2) pendekatan dengan wawancara mendalam terhadap pasien mengenai peran dukungan keluarga. Kriteria inklusi pada penelitian ini, yaitu pasien HIV yang berusia di atas 12 tahun yang telah mengkonsumsi ARV minimal 6 bulan dengan data rekam medis lengkap dan setuju dilakukan wawancara. Hasil: Dari 230 pasien, sebanyak 70 memenuhi kriteria inklusi. Outcome klinis baik sejumlah 58 orang dan 12 sisanya memiliki outcome klinis buruk. Sebanyak 26 orang perempuan dan 44 laki-laki. Faktor risiko penularan didominasi oleh heteroseksual (67,1%) dan pendukung utama yang dianggap memberikan kontribusi paling besar adalah pasangan (45,7%). Penelitian ini membagi 4 fase yang sudah dilalui subjek penelitian yaitu sebelum terdiagnosis, saat terdiagnosis, saat mulai ARV dan saat monitoring ARV. Bentuk dukungan yang memiliki pengaruh terhadap outcome klinis baik (OR; interval) dari tiap fase: sebelum terdiagnosis: memberikan nasehat yang selalu dapat diterima (3.8 [1.01814.178]); saat terdiagnosis: memberikan nasehat yang selalu dapat diterima (5.20 [1.387-19.874]); sedangkan fase saat mulai dan monitoring ARV tidak didapatkan bentuk dukungan yang signi?kan. Kesimpulan: Dukungan yang memberikan efek positif bagi outcome klinis pada pasien HIV dimulai dari keluarga. Bentuk dukungan yang diharapkan dari populasi penelitian ini adalah nasihat yang dapat diterima, terutama pada fase sebelum terdiagnosis dan saat terdiagnosis HIV.
Perbedaan Hasil Pengukuran Kadar Kolesterol LDL antara Metode Direk dan Indirek dengan Menggunakan Rumus Friedewald pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Rosmala, Ahia Zakira; Asmara, I Gede Yasa; Widiastuti, Ida Ayu Eka
Jurnal Kedokteran Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Metode direk merupakan metode yang akurat dan dapat langsung digunakan untuk pemeriksaan kadar kolesterol LDL. Metode indirek dengan rumus Friedewald merupakan metode yang lebih sering digunakan karena sederhana dan harganya yang lebih murah daripada metode direk. Sering kali dalam suatu penelitian yang menggunakan tikus putih sebagai hewan uji coba. Perlu dibuktikan bahwa perhitungan rumus Friedewald dapat digunakan untuk menghitung kadar kolesterol LDL tikus putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signi?kan antara hasil pengukuran kadar kolesterol LDL antara metode direk dan indirek dengan menggunakan rumus Friedewald pada tikus putih (Rattus norvegicus). Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian belah lintang mempergunakan tikus putih. Sampel darah tikus putih diambil melalui intrakardial. Uji statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan hasil pengukuran kadar kolesterol LDL dengan metode direk dan rumus Friedewald. Hasil: Nilai rerata dari hasil pengukuran kolesterol LDL dengan menggunakan metode direk adalah 19,08 ? 6,34 mg/dL dan nilai rerata dengan rumus Friedewald adalah 6,19 ? 3,95 mg/dL. Pada pemeriksaan dengan metode direk didapatkan hasil minimal 10,0 mg/dL dan maksimal 40,0 mg/dL. Adapun hasil minimal dengan rumus Friedewald adalah 1,0 mg/dL dan hasil maksimal 14,0 mg/dL. Terdapat perbedaan yang signi?kan pada hasil pengukuran kadar kolesterol LDL antara metode direk dan indirek dengan menggunakan rumus Friedewald (p=0,000; Uji Wilcoxon). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signi?kan pada hasil pengukuran kadar kolesterol LDL antara metode direk dan indirek dengan menggunakan rumus Friedewald pada tikus putih (Rattus norvegicus).
Faktor-Faktor Prognostik Terjadinya Stroke Associated Infection (SAI) Pada Penderita Stroke Iskemik Akut Hunai?, Ilsa; Lestari, Rina; Asmara, I Gede Yasa; Pintaningrum, Yusra
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Selama perawatan penderita stroke, sering terjadi infeksi sehingga meningkatkan morbiditas penderita stroke iskemik akut (Stroke Associated Infection, SAI). Identi?kasi awal terjadinya SAI sangatlah penting. Banyaknya faktor prognostik terjadinya SAI dan belum adanya model yang dapat memprediksi terjadinya SAI sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor prognosis terjadinya SAI pada penderita stroke iskemik akut. Metode: Penelitian dilakukan dengan rancangan kohort retrospektif pada penderita stroke iskemik akut di RSU Kota Mataram. Dilakukan pengumpulan data sekunder meliputi usia, jenis kelamin, derajat keparahan klinis, diabetes mellitus, gambaran foto toraks, ada tidaknya disfagia, ?brilasi atrial, gagal jantung kongestif, jumlah lekosit dan lokasi infark. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji statistik regresi logistik. Hasil: Didapatkan 125 subyek penelitian. Rerata usia 60,37 tahun, 81 orang (64,8%) laki-laki dan 44 orang (35,2 %) perempuan, 80 (64%) dengan derajat keparahan sedang, 48 (38,4%) penderita DM, Rerata jumlah lekosit 11.015,36, 60 (48%) terdapat disfagia, lokasi infark terbanyak di korona radiata (22,4%), 64,8% dengan gambaran foto toraks normal, 6 (4,8%) menderita ?brilasi atrial dan 35 (28%) menderita gagal jantung kongestif. Didapatkan hubungan usia, disfagia, lokasi stroke, kelainan foto toraks dengan terjadinya SAI. Analisis multivariat menunjukkan faktor prognostik terjadinya SAI adalah abnormalitas foto toraks, jenis kelamin, disfagia, dan gagal jantung kongestif. Didapatkan rumus untuk mempredikasi terjadinya SAI dan probabilitas SAI sebesar 16,6% Kesimpulan: Usia, derajat keparahan klinis, disfagia, lokasi stroke, abnormalitas foto toraks dan gagal jantung kongestif berhubungan dengan terjadinya SAI. Faktor prognostik terjadinya SAI adalah jenis kelamin, ada disfagia, abnormalitas foto toraks dan gagal jantung kongestif.
Uji Diabetes secara Non-Invasif Berbasis Konsentrasi DNA Saliva Prayitno, Oktavianus; Asmara, I Gede Yasa; Geriputri, Ni Nyoman
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Diabetes melitus merupakan suatu kelainan kompleks dari multisistem yang ditandai dengan adanya insufisiensi sekresi insulin secara relatif maupun absolut. Permasalahan saat ini berada pada monitoring diabetes melitus yang secara luas masih menggunakan jarum yang terkadang menyakitkan pada saat pengambilan darah. Dalam saliva ditemukan susunan bahan yang dapat dianalisis (DNA) yang dapat digunakan sebagai biomarker untuk translasi dan aplikasi klinis. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kemungkinan penggunaan konsentrasi DNA saliva sebagai bahan uji non-invasif pada penderita diabetes melitus. Metode: Penelitian ini merupakan studi komparatif. Sampel yang digunakan adalah saliva yang berasal dari 20 orang dan terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok orang dengan diabetes (D), dan kelompok orang normal/tanpa diabetes (N). Saliva yang terkumpul disentrifugasi dan diambil peletnya, Proses isolasi DNA dilakukan dengan tahapan Cell Lysis, DNA Binding, Pencucian, dan Elusi. Setelah didapatkan isolasi DNA dilakukan proses penghitungan konsentrasi DNA saliva dengan menggunakan spectrophotometer NanoDrop. Perbedaan konsentrasi DNA saliva diuji dengan uji Independent sample t test. Hasil: Rerata konsentrasi DNA saliva pada D dan N masing-masing  30.12 ng/?l dan 11.61 ng/?l. Berdasarkan data tersebut, terlihat perbedan konsentrasi DNA saliva yang signifikan secara statistik ( p<0,05). Simpulan: Konsentrasi DNA saliva pada orang dengan diabetes mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan konsentrasi DNA saliva pada orang tanpa diabetes, hal ini menunjukkan konsentrasi DNA saliva dapat digunakan sebagai bahan uji non-invasif pada penderita diabetes melitus.
Uji Diabetes Secara Non-Invasif Berbasis Kadar Asam Sialat Saliva Harlan, Muhammad Fauzan; Geriputri, Ni Nyoman; Asmara, I Gede Yasa
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan metabolisme karbohidrat yang mempengaruhi banyak sistem, ditandai dengan hiperglikemia dan glukosauria akibat insufisiensi sekresi insulin absolut atau relatif, atau resistensi insulin pada target jaringan. Diabetes menyebabkan mortalitas dan morbiditas terutama karena komplikasinya. Self-Monitoring of Blood Glucose (SMBG) merupakan suatu terobosan besar dalam penanganan diabetes karena pasien dapat menentukan kadar glukosa mereka selama kehidupan sehari-hari. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kemungkinan penggunaan kadar asam sialat saliva sebagai bahan uji non-invasif pada penderita diabetes melitus. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian komparatif. Sampel yang digunakan adalah saliva yang berasal dari 20 orang dan terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok orang dengan diabetes (D), dan kelompok orang normal/non-DM (N). Saliva yang terkumpul disentrifugasi dengan 8000 rpm. Hasil sentrifugasi berupa supernatan diambil sebanyak 50 ?l dan ditambahkan 100 ?l reagen Ninhydrin. Hasil campuran dipanaskan pada suhu 60?C dan dibaca dengan spektrofotometer pada 570 nm. Uji statistik dilakukan dengan menggunakan Independent Sample T-test Hasil: Rerata kadar asam sialat saliva pada kelompok D dan N masing-masing  4.579 ? 1.113 dan 1.204 ? 0.549. Berdasarkan data tersebut, secara statistik terlihat perbedan kadar asam sialat saliva yang bermakna ( p<0,05). Kesimpulan: Terjadi peningkatan kadar asam sialat saliva yang bermakna pada penderita diabetes melitus bila dibandingkan dengan kadar asam sialat saliva pada orang tanpa diabetes, hal ini menunjukan konsentrasi DNA saliva dapat digunakan sebagai bahan uji non-invasif pada penderita diabetes melitus.
Uji Diabetes Melitus secara Non-Invasif Berbasis Kadar dan Profil Protein Saliva Depamede, Brian Umbu Rezi; Asmara, I Gede Yasa; Geriputri, Ni Nyoman
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Diabetes merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan keadaan hiperglikemia. Diperlukan pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin gula darah. Pemeriksaan glukosa darah dilakukan dengan proses pengambilan darah. Cara ini merupakan tindakan invasif yang memprovokasi nyeri, sehingga diperlukan prosedur non-invasif lainnya seperti pemeriksaan saliva. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar dan profil protein saliva pada individu sehat dan penderita diabetes. Metode : Penelitian ini merupakan studi komparatif. Sampelnya adalah saliva yang berasal dari 20 orang dan terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok penderita diabetes (D), dan kelompok individu normal (N). Saliva yang terkumpul disentrifugasi dan diambil supernatannya, lalu dilakukan proses pengukuran kadar protein saliva menggunakan spectrophotometer NanoDrop. Profil protein saliva dianalisis menggunakan SDS-PAGE. Uji statistik kadar protein saliva antara individu sehat dan penderita diabetes dilakukan dengan uji Independent Sample T-test. Hasil : Jumlah rata-rata kadar protein saliva pada kelompok penderita diabetes sebesar 2932?526?g/ml dan kelompok individu non-diabetes 2005?253?g/ml. Secara statistik peningkatan tersebut tidak signifikan (P>0,05). Pada profil protein saliva ditemukan 3 band peptida dengan berat molekul antara 25-35kDa pada penderita DM. Simpulan : Terdapat kecenderungan adanya peningkatan kadar protein saliva pada kelompok DM. Namun, secara statistik peningkatan tersebut tidak signifikan. Pada profil protein ditemukan adanya perbedaan band peptida saliva antara penderita DM dan individu normal.