Articles

Found 7 Documents
Search

APLIKASI METODE FOAM- MAT DRYING PADA PROSES PENGERINGAN SPIRULINA Asiah, Nurul; Sembodo, Rangkum; Prasetyaningum, Aji
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spirulina is a microalgae fine plant (Cyanobacteria) single celled, blue green colored, spiral typed growed in warmwater around the world. Spirulina have many Phytonutrient (Beta-carotene, Chlorophyl, Xanthophyl, Phyocianin, etc)functioned as anti-carcinogen (Tri Panji & Suharyanto, 2001). Drying process usually use high cost drying tools(freeze dryer, spray dryer, roller dryer, or dehumidifier). Drying with the foam type faster the water evaporationprocess in a low temperature that is not destroyed the cell system, so the nutrition value is save (Kumalaningsih, etc,2005). In general, this research done to compare two drying method, there are: non foam-mat drying method and withfoam-mat drying method that show the optimum drying process condition to get the high quality of spirulina dryingproduct and the high efficiency process too. The result of the research show that the foam-mat drying method give thebetter drying rate compared with non foam-mat drying process. The sample with the foam agent composition (eggwhite) 2,5% and the foam stabilizer (metil celulose) 0,5% give the highest drying rate compare with the others. Thehighest average rate showed the sample with the thickness 1mm, which is 0,632 g H2O steamed per second.. Based onconsideration of product quality and drying process efficiency, drying temperature is relatively good to the applicationof foam-mat drying in spirulina is 60oC. The result of beta-carotene test show that the quality of dry product with foammatdrying method still on the dry product quality standard in the market, that is 149,025 mg/ 100 g. The data obtainedfrom the research be expected become the reference in the equipment design of the spirulina drying process andbecome the solution of cheap, efficient, and effective drying method, without decrease the nutrition value of thematerial.
DRYING TIME ESTIMATION OF CARRAGEENAN-EGG WHITE MIXTURE AT TRAY DRYER Djaeni, Mohamad; Prasetyaningrum, Aji; Asiah, Nurul; Hartono, Ratnawati
International Journal of Science and Engineering Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.327 KB)

Abstract

The drying is the last step to find carrageenan product. Currently, the carrageenan drying still deals with too long drying time. This because, during the process carrageenan and water forms gel stucture in which hampers the water diffusion to the surface. Foaming agent introduction such as egg white can be considered to break the gel structure and make the drying process being smooth and fast. This paper discusses the effect of egg white as foaming agent on the drying time of carrageenan. In this study, the carrageenan was mixed with egg white to form foam that can break the gel and create the pore for improving the surface area.  The carrageenan and egg white mixture was then dried at different air temperature and humidity. Results showed that the drying time was shortened with the presence of egg whiet as well as the increase of air temperature. For example, the drying time at air temperature 80oC with  20 % egg white was about 60 minutes shorter than that of without foam. In addition, the lowering air dehumidification affected the drying time positively.
Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Perendaman dengan Larutan Kalsium Hidroksida Terhadap Mutu Sensori Produk Vacuum Frying Buah Nanas Asiah, Nurul; Handayani, Dwi
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1178.68 KB)

Abstract

AbstrakVacuum frying merupakan suatu alat yang telah terbukti banyak digunakan untuk mengolah buah-buahan menjadi kripik dengan kualitas sensori dan nutrisi yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perendaman dengan larutan kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 terhadap kualitas kripik nanas yang diproduksi dengan menggunakan vacuum frying. Rancangan percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap yang variabel pertamanya adalah konsentrasi larutan perendaman (0,5, 1, dan 1,5%) serta variabel kedua adalah waktu perendaman (30, 60, dan 90 menit). Selanjutnya produk dianalisis sensori dengan metode uji mutu hedonik. Hasil menunjukkan bahwa perendaman dengan larutan kalsium hidroksida memberikan pengaruh terhadap intensitas sensori warna, rasa dan tingkat kerenyahan. Semakin besar konsentrasi dan lama perendaman dengan larutan kalsium hidroksida dapat meningkatkan kadar air produk dan mengurangi susut masa produk. Tingkat kecerahan produk bisa dipertahankan dengan peningkatan konsentrasi larutan kalsium hidroksida. Rasa kecut pada buah nanas juga bisa dikurangi dengan peningkatan konsentrasi larutan kalsium hidroksida. Kesimpulannya, produk dengan intensitas kerenyahan paling tinggi didapat dengan konsentrasi kalsium hidroksida sebesar 0,5% selama 30 menit.Effect of Concentration and Soaking Time of Calcium hydroxide Solution on Sensory Quality of Pineapple Vacuum Frying ProductAbstractVacuum frying is a tool that has proven widely to be used in the process of making fruits into chips that results in good sensory and nutrition quality of product. The present study was conducted to determine the effect of soaking with a Ca(OH)2 solution on the quality of pineapple chips that were manufactured using vacuum frying. The design of experiments were performed with a completely randomized design in which the first variable was the concentration of the solution (0.5, 1, and 1.5%) and the second variable was the soaking time (30, 60, and 90 minutes). Furthermore, the products were analyzed for sensory with hedonic quality test method. The results showed that soaking with Ca(OH)2 solution provided effect to the intensity of color, flavor, and crispness. The greater concentration and soaking time were able to increase the moisture content of the product and reduce shrinkage lifetime of the product. The brightness level could be maintained by increasing Ca(OH)2 solution. Sour taste in pineapple could also be reduced by increasing Ca(OH)2 solution. As conclusion, products with the highest intensity crispness were obtained with Ca(OH)2 concentration of 0.5% for 30 minutes of soaking time.•|•|•|||
Sensory Evaluation And Yield Value of Vco Produced By Various Culture Asiah, Nurul; Cempaka, Laras; Maulidini, Tiara
AGRICULTURAL SCIENCE Vol 2 No 1 (2018): September 2018
Publisher : Faculty of Agriculture Universitas Merdeka Surabaya Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Virgin Coconut Oil (VCO) adalah minyak kelapa yang diolah dari kelapa segar dengan atau tanpa pemanasan dan tidak melalui proses pemurnian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan sensory dan nilai rendemen VCO yang diproduksi dengan metode fermentasi menggunakan berbagai kultur mikroorganisme (Saccharomyces cerevisiae, Lactobacillus plantarum dan Rhizopus oligosporus). Ketiga jenis kultur tersebut dicampurkan ke dalam krim sebanyak 5% (v/v), kemudian dilakukan proses fermentasi pada suhu 35oC selama 24 jam. VCO hasil fermentasi berwarna bening, memiliki aroma khas kelapa, dan memiliki rasa yang hambar. Dari uji sensori secara hedonik, secara keseluruhan panelis memberi nilai lebih dari 3. Rendemen VCO berkisar antara 22.01—25.74%. Perbedaan penggunaan jenis mikroba tidak berpengaruh secara signifikan (p>0,05) terhadap hasil rendemen dan hasil uji organoleptik dari VCO yang dihasilkan.  
IDENTIFIKASI CITA RASA SAJIAN TUBRUK KOPI ROBUSTA CIBULAO PADA BERBAGAI SUHU DAN TINGKAT KEHALUSAN PENYEDUHAN Asiah, Nurul; Septiyana, Feny; Saptono, Uji; Cempaka, Laras; Sari, Dessy Agustina
Barometer Vol 2, No 2 (2017): Barometer
Publisher : Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.084 KB)

Abstract

Kopi robusta Cibulao merupakan salah satu produk unggulan yang banyak dikonsumsi masyarakat dan memiliki kekhasan dalam sajian tubruk. Dalam teknik penyeduhan, suhu dan tingkat kehalusan bubuk menjadi faktor penentu yang mempengaruhi kualitas cita rasa seduhan kopi yang dihasilkan.  Semakin tinggi suhu penyeduhan maka hal tersebut akan meningkatkan laju ekstraksi komponen komponen kimia yang larut dalam air. Kehalusan partikel kopi akan meningkatkan luas permukaan dan laju ekstraksi kopi pada saat penyeduhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi atribut cita rasa kopi pada berbagai suhu penyeduhan (85, 92, 99oC) pada berbagai tingkat kehalusan bubuk (halus, medium dan kasar). Penilaian tiap sampel dilakukan secara skoring dengan 2 (dua) kali pengulangan. Dari keseluruhan penilaian, atribut cita rasa seduhan kopi dilakukan oleh panelis terlatih. Hasil menunjukkan bahwa atribut cita rasa sajian tubruk kopi robusta Cibulao dengan penilaian tertinggi berada pada suhu penyeduhan 92oC dengan tingkat kehalusan medium. 
Iradiasi Bahan Pangan: Antara Peluang dan Tantangan untuk Optimalisasi Aplikasinya Asiah, Nurul; Kusaumantara, Kezia Nadira; Annisa, Arianti Nur
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.612 KB)

Abstract

Iradiasi bahan pangan merupakan salah satu teknologi yang telah mapan dan berkembang di dunia pangan dalam upaya peningkatan keamanan dan kualitas pangan. Penelitian beberapa dekade telah membuktikan bahwa ir­adiasi bahan pangan merupakan teknologi yang aman. Teknologi ini memiliki potensi yang sangat besar dan sudah banyak diterapkan di berbagai negara. Namun demikian dalam aplikasinya selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan yang menghambat optimalisasi pemanfaatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji faktor kritis dalam peluang dan tantangan aplikasi iradiasi bahan pangan di berbagai negara. Penelitian ini menggunakan metode meta analisis dengan menggunakan 40 jurnal sebagai sumber referensi. Berdasarkan hasil pengkajian, terdapat berbagai faktor kritis yang mempengaruhi optimalisasi aplikasi iradiasi bahan pangan. Faktor kritis tersebut meliputi sumber daya, teknologi, proses, keamanan produk, persepsi konsumen dan regulasi. Dengan mengetahui posisi semua aspek ini, maka diperlukan rancangan tindakan agar proses optimalisasi dapat diwujudkan. Hal ini bisa dilakukan dengan eksplorasi, pemetaan dan inventaris sumber daya yang ada, peningkatan kualitas maupun kuantitas fasilitas dan kegiatan penelitian, pengetatan teknik pengemasan dan pelabelan, monitoring dan pengawasan kualitas produk sepanjang rantai proses dan distribusi dari produsen kemudian distributor hingga konsumen, edukasi kepada konsumen terkait terminologi iradiasi bahan pangan, dan penetapan regulasi terkait baik di dalam negeri maupun di negara lain melalui bilateral agreements. Langkah-langkah optimalisasi ini diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam dunia pangan. Hal ini sejalan dengan tantangan peningkatan jumlah populasi manusia dan terbatasnya lahan pertanian, isu globalisasi dan perdagangan internasional yang membutuhkan keamanan maupun ketahanan pangan yang baik. Semua ini bisa diwujudkan dengan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah, pelaku dunia industri pangan, pemegang pasar serta masyarakat sebagai konsumen.
PADDY DRYING IN MIXED ADSORPTION DRYER WITH ZEOLITE: DRYING RATE AND TIME ESTIMATION Djaeni, Mochammad; Ayuningtyas, Dewi; Asiah, Nurul; Hargono, Hargono; Ratnawati, Ratnawati; Wiratno, Wiratno; Jumali, Jumali
Reaktor Volume 14, No. 3, APRIL 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recently, the main problem of the rice stock and distribution in Indonesia is the quality degradation as indicated in unpleasant odor (smelly), stained, yellowness, and high percentage of broken rice. This is due to the low of paddy quality dried by from either direct sunlight or conventional fluidized bed dryer. As a result, the paddy cracks and breaks easily during milling in which causes the storage life being shorter as the enzymatic degradation by germ or fungi occurs. Air dehumidified with zeolite at drying medium temperature is potential to improve the quality of paddy. Zeolite is a material having high affinity to water vapor. In this case, the paddy and zeolite was mixed and fluidized with the air. The air will evaporate water from paddy, and at same time, the zeolite will adsorb water from air. Hence, the humidity of dryer can be kept low in which improves the driving force for drying. This work discusses the effect of presence of zeolite in the dryer, operational drying temperature, air velocity and relative humidity on drying rate of paddy. The results showed that increasing of zeolite as well as operational temperature increased the drying rate. In addition, using the model, the air dehumidification with zeolite and increase of air velocity can speed up drying time significantly at operational temperature below 80oC. This condition is very suitable for paddy drying since the quality degradation can be avoided.