Restiana Wisnu Ariyati
Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Ketahanan Nonspesifik Ikan Mas (Cyprinus Carpio) Yang Direndam Ekstrak Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius) Terhadap Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila

Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was aimed to study the clinical symptoms of fish infected by Aeromonas hydrophila and examine the effect of leaf extract Acanthus ilicifolius usage through the method of soaking to prevent Motile Aeromonas Septicemia disease. 96 fish was soaked with leaf of extract A. ilicifolius for 30 minutes. The challenge was done by injecting of bacterial suspensions Aeromonas hydrophila with 108 CFU/ml density intra-muscularly to the fish. The results showed clinical symptoms of moribund fish such as moving slowly, swimming on the surface, swim upsided, expothalmia, ulcer and accumulation of fluid in the abdominal cavity. Further results showed that extract of A. ilicifolius leaf did not significantly protected (P>0.05) the survival of tested fish. Observations of blood profile after infection showed the average from the highest to lowest total erythrocytes were C (500 ppm) of 2.69 x 106 cells/mm3, B (300 ppm) 2.31 x 106 cells/mm3, A (0 ppm) 2.29 x 106 cells/mm3 and D (700 ppm) 2.18 x 106 cells/mm3 recpectively. The average of the total leukocytes from the highest to lowest D (700 ppm) of 3.63 x 104 cells/mm3, C (500 ppm) 3.60 x 104 cells/mm3, B (300 ppm) 3.53 x 104 cells/mm3 and A (0 ppm) 3.47 x 104 cells/mm3 recpectively. The average value of the levels of highest to lowest hematokrit C (500 ppm) of 22.53%, D (700 ppm) 21,33% B (300 ppm) 20,67% and A (0 ppm) 20.33% recpectively. Leaf extract A. ilicifolius with dosage up to 700 ppm had not been able to improve imunne respone against infections of A. hydrophila

PENGARUH CARA PEROLEHAN BIBIT HASIL SELEKSI, NON SELEKSI DAN KULTUR JARINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN, KANDUNGAN AGAR DAN Gel strength RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Broadcast DI TAMBAK

Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa di minati para pembudidaya karena dengan teknologi yang sederhana dapat menghasilkan produk yang tinggi dan biaya produksi rendah. Permasalahan yang dihadapi pembudidaya adalah pemilihan bibit rumput laut G. verrucosa berkualitas yang digunakan dalam budidaya belum seluruhnya diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kualitas produksi rumput laut G. verrucosa dari bibit hasil seleksi, bibit kultur jaringan dan bibit non seleksi. Rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit rumput laut G. verrucosa bibit hasil seleksi, bibit kultur jaringan dan bibit non seleksi dengan berat awal tanam sebesar 100 g. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan, perlakuan A (Bibit hasil seleksi), B (Bibit kultur jaringan) dan perlakuan C (Bibit non seleksi),  masing – masing perlakuan di ulang 21 kali. Pengumpulan data pada penelitian ini meliputi penimbangan berat dan pengukuran parameter kualitas air secara langsung meliputi (suhu, kecerahan, kedalaman, pH, salinitas) dan kandungan unsur hara yang di uji laboratorium. Hasil penelitian menunjukan pertumbuhan G. verrucosa  bibit non seleksi mempunyai pertumbuhan yang paling baik (pertumbuhan relatif rata – rata  106,18%) dari pada G. verrucosa. Bibit hasil seleksi (pertumbuhan relatif rata – rata 90,95%) maupun bibit kultur jaringan (pertumbuhan relatif rata - rata 77,14%). Kandungan agar rumput laut G. verrucosa bibit hasil seleksi mempunyai rendemen/kandungan agar terbaik rendemen agar 5,63%, sedangkan bibit dari kultur jaringan mempunyai Gel strength tertinggi yaitu 648, 312 g/f. G. verrucosa. culture becomes highly demanded by tambak farmers because by using simple technology and low production cost can  produce high yield. Good quality seed of G. verrucosa seems to be the main problem of its cultivation. The aims of this research were to find out the growth and quality of different seed of  G. verrucosa : the selection of seeds, tissue culture and non selection seeds with weigth of 100 gram. A completely randomaized design was applied in this research with 3 treatments : A (selection seed), B (tissue culture seed) and C (non selection seed.) each treatment replicated 21 times. Data collection in this study includes growth, water quality parameters (temperature, brightness, depth, pH, and salinity) and the nutrient content. The results show that the best growth was found at non selection seed (average relative growth rate 106,18%) but the best agar content found at the selection seed ( 5,63%) and the best gell strength was found at tissue culture seed (648,312% g/f).

KUANTITAS DAN KUALITAS RUMPUT LAUT Gracilaria sp. BIBIT HASIL SELEKSI DAN KULTUR JARINGAN DENGAN BUDIDAYA METODE Longline DI TAMBAK

Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumput laut merupakan komoditas yang potensial dalam meningkatkan ekonomi rakyat, dan dapat di aplikasikan dengan cara budidaya yang mudah. Permintaan rumput laut semakin meningkat seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Hal ini perlu diimbangi dengan kemajuan teknik budidaya rumput laut yaitu dengan menggunakan bibit hasil seleksi dan bibit kultur jaringan dengan metode tanam longline. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas rumput laut, agar, dan gel strength dari bibit unggul kultur jaringan dan seleksi benih yang ditanam dengan metode longline. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan blok acak lengkap (RBAL). Rumput laut diberikan 2 perlakuan: bibit hasil seleksi dan bibit kultur jaringan, serta dilakukan sebanyak 21 ulangan. Secara kuantitas hasil produksi bibit hasil seleksi memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi dari pada bibit kultur jaringan dengan pertumbuhan mutlak 125,33 ± 4,87 gram bibit hasil seleksi dan 103,76 ± 2,12 gram kultur jaringan, sedangkan pertumbuhan harian 1,55 + 0,15 %  bobot/hari , bibit hasil seleksi dan 1,41 + 0,11 % bobot /hari untuk bibit kultur jaringan. Hasil ini berbeda bermakna dengan uji independent t-test p<0,05.  Secara kualitas bibit kultur jaringan lebih baik dari bibit hasil seleksi, ditunjukkan dengan kandungan agar bibit kultur jaringan memiliki jumlah yang lebih banyak dari pada bibit hasil seleksi dengan rendemen agar 3,70% bibit hasil seleksi dan 4,22% kultur jaringan, sedangkan gel strength sebesar 208,802 (g/f) bibit hasil seleksi dan 129,279 (g/f) untuk bibit kultur jaringan. Seaweeds are one of main commodities to improve the economy of people and coastal civilian, one of kinds of seaweeds is Gracilaria sp. The increasing of demand of seaweeds must be balanced by the improvement of seaweeds culture using tissue culture and seeds selection with longline culture method. This research aims to find out the quality and quantity of seaweeds, gel, and gel strength from both seeds cells those planted by longline method. This research was experimental study with randomize complete block design. Seaweeds was divided in 2 acts: cells culture seeds and selection seeds with 21 repetitions. The selection seeds has a better growth than cells culture with 125.33 ± 4.87 grams for seeds selection and 103.76 ± 2.12 grams for cells culture and the selection growth rate 1.55 + 0.15 %  mass/day for seeds selection and 1.41 + 0.11 % mass/day for cells culture. The tissue culture seeds has a better quality in agar contents and gel strength.  The agar contents of 3.70 % for seeds selection and 4.22% for tissue culture seeds, and gel strength 208.802 (g/f) for seeds selection and 129.279 (g/f) for tissue culture.

PENGARUH DOSIS PEMBERIAN PAKAN BUATAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN JUVENIL KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manajemen pemberian pakan adalah suatu usaha untuk memaksimalkan pemanfaatan pakan untuk pertumbuhan. Pakan merupakan salah satu komponen dalam budidaya ikan yang sangat besar peranannya, baik itu berfungsi sebagai penentu pertumbuhan ikan dan juga sebagian besar biaya produksi pada ikan adalah biaya pakan. Pemberian pakan yang diberikan dalam Dosis yang optimum akan diperoleh efisiensi pakan yang optimal dan menekan penurunan kualitas lingkungan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis pemberian pakan buatan terhadap pertumbuhan juvenil kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Metode penelitian ini adalah metode eksprimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 3 pengulangan per perlakuan. Perlakuan yang diujikan adalah dosis pemberian pakan 3%(A), 5%(B), 7%(C) dan 9%(D) dari biomassa ikan dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari (08.00, 12.00 dan 16.00). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah juvenil kerapu macan yang berukuran 4-5cm.  Benih tersebut dipelihara dalam wadah pemeliharaan berukuran 20 liter dengan kepadatan 10 ekor/wadah. Masa pemeliharaan juvenil kerapu macan adalah 28 hari. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa dosis pemberian pakan berpengaruh nyata terhadap efisiensi pemberian pakan, laju pertumbuhan spesifik dan rasio efisiensi protein, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. Dosis pemberian pakan 7% dari bobot biomassa ikan memberikan nilai terbaik pada efisiensi pemberian pakan sebesar (64,51%) dan laju pertumbuhan spesifik (1,30% berat tubuh per hari). Nilai rasio efisiensi protein berkisar 1,05-1,43% dan nilai kelulushidupan 100% pada semua perlakuan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian pakan dengan dosis 7% dari bobot biomassa perhari dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi dalam penggunaan pakan bagi juvenil kerapu macan. Feeding management was an effort to optimize the utilization of feed given for growth. The feeding given like a optimum dose will be obtained geting optimal feed efficiency and suppress the cultivation of environmental degradation. This method could be applied by managing feeding frequencies  The purpose of this study was to find the effects of feeding dose on the growth of juveniles tiger grouper. This study was an experimental method.  The design of the experiment was a completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates. The treatments were feeding dose 3%(A), 5%(B), 7%(C) and 9%(D) of the weight of biomass, frequency of feeding the times a day (08:00, 12:00 and 16:00). The samples of fish used were juvenile tiger grouper measuring 4-5 cm. The fish were treated in containe-sized 20 liters with a density of 10 fish/containe. The observation was done for 28 days. This study showed that various feeding dose significantly affected on the feed utility efficiency, spesific growth rate and protein efficiency ratio  but not significantly affected on the survival rate. Feeding dose 7%  of the weight of biomass resulted on the best value of feed utility efficiency (64,51%) and spesific growth rate ((1,30% per day) of the fish. The values of protein efficiency ratio 1,05-1,43% and survival rate 100% of the fish. It was concluded that feeding dose 7% of the weight of biomass a day could increase the growth of the tiger grouper juveniles.

PENGARUH PADAT TEBAR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KERANG DARAH (Anadara granosa) YANG DIBUDIDAYA DI PERAIRAN TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerang darah merupakan salah satu kelompok hewan moluska dari kelas Bivalvia yang dapat dikonsumsi sebagai sumber protein hewani dan bernilai ekonomis. Kondisi perairan terabrasi yang banyak ditumbuhi oleh pohon mangrove dalam upaya bioremediasi perairan tersebut dapat diikuti dengan kegiatan budidaya kerang darah sebagai solusi dari pemanfaatan lahan terabrasi dan juga permasalahan ekonomi masyarakat sekitar perairan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan Kerang darah (A.granosa), dan mengetahui padat tebar yang menghasilkan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah  kerang darah  dengan bobot individu rata-rata 4,87±1,46 gram yang diperoleh dari pengumpul di sekitar lokasi penelitian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (padat penebaran 20 ekor/wadah), B (padat penebaran 30 ekor/wadah), C (padat penebaran 40 ekor/wadah), D (padat penebaran 50 ekor/wadah). Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, dan kelulushidupan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa padat tebar berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kerang darah (Anadara granosa) yang dibudidaya di perairan tambak terabrasi Kaliwlingi Kabupaten Brebes. Padat tebar yang terbaik untuk pertumbuhan dan kelulushidupan kerang darah adalah 20 ekor/wadah yang menghasilkan laju pertumbuhan relatif (1,06%), dan kelulushidupan (73,33%). Blood cockles is one of a group of molluscs from the class of bivalvia that can be consumed as a source of animal protein and have economical value. The condition of eroded water territory which is overgrown by mangrove trees for water bioremediation that could followed by blood cockles culture activity to solution the economic problems for community around these area. The purpose of this research is to know the influence of different stocking density for growth and survival rate of blood cockles (A. granosa), and knowing the stocking density that giving the best of growth and best survival rate. The blood cockles obtained from the collector around these area. Experimental design that used in these research was complete randomied design with 4 treatment and 3 replication treatment that are A (stocking density 20/container), B (stocking density 30/container), C (stocking density 40/container), D (stocking density 50/container). Variable observed were relative growth rate,and survival rate. Based on the result can be concluded that the different stocking density effect for the growth and survival rate of blood cockle (A. granosa) that cultivated in the eroded waters teritory of Kaliwlingi Brebes Regency. The best stocking density for growth and survival rate of blood cockles are 20/container that produce relative growth rate (1,06%), and survival rate (73,33%).

PEMBESARAN SIPUT ABALON (Haliotis squamata) DALAM KARAMBA TANCAP DI AREA PASANG SURUT DENGAN PADAT TEBAR YANG BERBEDA

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abalon merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Mengingat permintaan pasar lokal maupun internasional terus meningkat maka budidaya abalon perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh padat tebar terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan abalon. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah abalon (H. squamata) dengan ukuran panjang 3,4 ± 0,251 cm, bobot 6,17 ± 1,67 g. Pakan yang digunakan selama penelitian adalah Gracilaria verrucosa sebanyak dari 30% bobot abalon. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Metode eksperimental. Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuannya adalah Perlakuan A : 25 ekor abalon/karamba. Perlakuan B : 50 ekor abalon/karamba. Perlakuan C : 75 ekor abalon/karamba. Adapun karamba yang digunakan adalah 30x20x18 cm3. Data pertumbuhan dan kelulushidupan dianalisis dengan analisa ragam meliputi laju pertumbuhan relatif/Relative Growth Rate (RGR), panjang mutlak, bobot mutlak abalon. Uji Duncan dilakukan apabila analisa ragam data pertumbuhan dan kelulushidupan didapatkan hasil berbeda nyata apabila tidak berbeda nyata maka tidak dilakukan uji Duncan. Penelitian ini dilakukan pada pada tanggal 6 Februari – 21 Maret 2014 di Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok Desa Gili Genting, Kecamatan Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Padat tebar abalon (H. squamata) yang berbeda tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan cangkang dan bobot tubuh abalon. Padat tebar abalon (H. squamata) yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan. Laju pertumbuhan panjang cangkang akan bobot lebih tinggi nilainya untuk ukuran benih abalon  < 4 cm, seiring dengan bertambahnya umur dan ukuran benih abalon. Hasil pertumbuhan mutlak untuk perlakuan A panjang mutlak 5,25 mm, bobot mutlak 2,88 g, perlakuan B panjang mutlak 4,52 mm, bobot mutlak 2,69, perlakuan C panjang mutlak 3,22 mm, bobot mutlak 2,19 g. hasil pertumbuhan relative (RGR) untuk perlakuan A panjang relatif 0,35%/hari, bobot relatif 1,09%/hari, untuk perlakuan B panjang relatif 0,31%/hari, untuk bobot 1,05%/hari, untuk perlakuan C panjang relatif 0,22%/hari, bobot relatif 0,71%/hari. Untuk kelulushidupan menunjukkan hasil 100%. Abalone is one of commodity that has a high economic value. With the local and international market demand always increase so the culture of abalone needs to be done. The aim of this study was to determine the effect of stocking density on the growth and survival rate of abalone. The animals used in this study are abalone (H. Squamata) with a length of 3.4 ± 0.251 cm, the weight of 6.17 ± 1.67 g. Feed used during the study was Gracilaria verrucosa with 30% of the abalone weight. The method used in this study is the experimental method. The experimental design in this study is completely randomized design (CRD). The treatments were A: 25 abalone / cage. B: 50 abalone / cage. C: 75 abalone / cage. The size of cages used were 30x20x18 cm3. Data of Growth and survival  rate were analyzed by analysis of variance include the ot Relative Growth Rate (RGR), the absolute length, and the absolute weight of abalone. Duncan test used if the analysis of variance showed significantly different, if it was not significantly different so it did not need Duncan test. The research was held on 6 February to 21 March 2014 in the Mariculture Center (BBL) Lombok Gili Genting Village, District of West Senggigi, West Lombok, West Nusa Tenggara. The results show that defferent the stocing density do not significantly effect the growth and survival rate of abalone. The results for the absolute growth, treatment A absolute length is 5.25 mm, the absolute weight is 2.88 g, the absolute length of treatment B is 4.52 mm, absolute weight is 2.69 g, absolute length of treatment C is 3.22 mm, absolute weight is 2.19 g . Results of relative growth rate (RGR) for treatment A relative length is  0.35 % / day, the relative weight is of 1.09 % / day, for the treatment B relative length is 0.31% / day, weight is 1.05 % / day, for treatment C relative lengths is 0.22 % / day, the relative weight is of 0.71 % / day. The results of survival rate ia 100 %.

ANALISA KESESUAIAN LAHAN PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU (Epinephelus sp.) PADA KERAMBA JARING APUNG DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI SIG

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan kerapu (Epinephelus sp.) merupakan salah satu spesies unggulan dalam pengembangan budidaya laut di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat kesesuaian wilayah perairan untuk keramba jaring apung ikan kerapu (Epinephelus sp.) di zona budidaya laut di Pulau Pari berdasarkan parameter fisika dan kimia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus yaitu pengumpulan data dan analisis data. Data primer didapatkan secara langsung dengan pengukuran langsung di lapangan, sedangkan data sekunder yang didapatkan kemudian diolah pada citra Landsat 8 sehingga dihasilkan suatu model dasar peta tematik. Peta tematik yang dihasilkan kemudian diolah untuk menduga nilai kesesuaian perairan untuk keramba jaring apung. Hasil pengukuran kecepatan arus berkisar antara 3,0 – 4,7 m/s, suhu 29oC – 30oC, salinitas 31,9 – 33,7 ppt, DO 7,0 – 8,1 mg/L, kecerahan 7,5 – 9,0 m, kedalaman 20 – 30 m. Peta Hasil kesesuaian lahan budidaya di Pulau Pari menunjukkan daerah yang tingkat kesesuaian untuk budidaya ikan kerapu berada pada perairan terbuka. Suatu perairan yang terlindung untuk kawasan budidaya ikan kerapu sistem keramba jaring apung berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha budidaya. Daerah pada semua stasiun direkomendasikan untuk dijadikan usaha budidaya karena merupakan daerah yang tidak berada pada jalur pelayaran dan termasuk dalam kelas kesesuaian sesuai. Berdasarkan total skor yang digunakan untuk penilaian kesesuaian perairan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu diperoleh tujuh stasiun yaitu stasiun I – stasiun VII termasuk pada kategori S2, sedangkan kedua stasiun lainnya yaitu stasiun VIII dan stasiun IX termasuk dalam kategori S3. Grouper (Epinephelus sp.) is one of the flagship species in marine culture development in Indonesia. This research aimed to analyze the level of suitability waters for floating net cages grouper (Epinephelus sp.) based on parameters of physics, chemistry, and biology waters in mariculture zone in Pari Island. The method of this research used a case study of data collection and data analysis. Primary data were directly obtained by direct measurement in the field, while the secondary data were obtained then processed on Landsat 8 to get a basic model of thematic maps. The thematic maps were obtained then processed to estimate the suitability of water for floating net cages. The measurement results of current velocity is 3.0 – 4.7 m/s, temperature 29oC - 30oC, salinity 31.9 – 33.7 ppt, DO 7.0 - 8.1 mg/L, transparency 7.5 – 9.0 m, depth of 20 – 30 m. The results of the land suitability of marine culture in Pari Island indicated that the level of suitability for grouper is in the open water. A sheltered waters for marine culture area with floating net cage systems are affect the sustainability of farming. All stations are recommended to be used for marine culture of grouper because the areas are not on cruise lines and are included in the corresponding suitability classes. Based on the total score for the assessment of the suitability of waters in Pari Island, Thousand Islands gained seven stations are stations I - VII included in the category of station S2, while the other stations are stations VIII and IX station included in the S3 category.

PERTUMBUHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni Dan Gracilaria sp.) DENGAN METODE LONG LINE DI PERAIRAN PANTAI BULU JEPARA

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan di daerah pesisir. Dalam rangka pengembangan potensi ini diperlukan salah satu teknik budidaya yang dapat mengoptimalkan daerah perairan tersebut. Metode long line merupakan salah satu metode yang diterapkan pada budidaya rumput laut Eucheuma cottoni dan gracilaria sp. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pertumbuhan dua jenis rumput laut yang berbeda dengan metode budidaya yang sama di perairan pantai bulu jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis E. cottonii dan Gracilaria sp. dengan bobot awal 100 gram pada setiap perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dan 30 kali ulangan yaitu perlakuan A (E. cottonii), dan perlakuan B (Gracilaria sp.). Data yang dikumpulkan  adalah laju pertumbuhan relatif dan laju pertumbuhan harian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumput laut E. cottonii dan Gracilaria sp. yang di budidayakan dengan metode long line di perairan laut bulu mempunyai pertumbuhan berbeda. Rumput laut E. cottonii memiliki pertumbuhan yang lebih baik dari pada Gracilaria sp., perlakuan A (E. cottonii) menunjukkan pertumbuhan relatif terbaik (190,00%), dan laju pertumbuhan harian (2,36%/hari). Sedangkan pada perlakuan B (Gracilaria sp) pertumbuhan relatif (95,33 %), dan laju pertumbuhan harian (1,49%/hari). Seaweed is one very potential comodities to be developed in coastal areas. In order to develop this potential takes a cultivation techniques that can optimize the area of water sea. Long line method is one method that is applied to the culture of seaweed Eucheuma cottoni and gracilaria sp. The purpose of this study was to compare growth of two different types of seaweed with same method in bulu sea Jepara. The research was conducted in July - August 2014.Test plants used in this study was the seaweed E. cottonii and Gracilaria sp. with initial weight of 100 grams in each treatment. The experimental design used was a completely randomized design with 2 treatments and 30 replications is A (E. cottonii), and B (Gracilaria sp.). The data collected is the relative growth rate and daily growth rate. The results showed that the seaweed E. cottonii and Gracilaria sp. is cultivated with a long line methods in bulu sea have different growth. Seaweed E. cottonii have better growth than in Gracilaria sp., Treatment A (E. cottonii) showed the best relative growth (190.00%), and daily growth rate (2.36% / day). While on treatment B (Gracilaria sp.) relative growth (95.33%), and daily growth rate (1.49% / day).

ANALISA KESESUAIAN PERAIRAN PULAU PARI SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DENGAN APLIKASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tiram mutiara merupakan komoditas ekspor yang penting bagi indonesia karena memiliki nilai jual tinggi. Kegiatan budidaya tidak lepas dari penentuan lokasi yang sesuai bagi organisme yang dikultur, tetapi keyataanya penentuan lokasi masih berdasarkan feeling atau trial error. Hal ini menyebabkan pengembangan budidaya laut tidak berjalan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran variabel oseanografi fisika, kimia dan biologi serta model spasial kesesuaian perairan untuk budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima.) di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yaitu pengumpulan data lapangan kemudian analisis data melalui pendekatan spasial. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran langsung ke lapangan, kemudian data yang telah didapatkan diolah pada citra Landsat 8  dengan menggunakan software Er Mapper 7.0 dengan tahapan terdiri dari Plotting titik koordinat, Pemodelan geo-statistik, cropping citra, gridding, overlay, pembuatan layout dan scoring  sehingga dihasilkan suatu model spasial. Peta yang dihasilkan kemudian diolah untuk menduga nilai kesesuaian perairan untuk budidaya tiram mutiara. Analisa kesesuaian perairan dilakukan dengan pembuatan matriks kesesuaian kemudian pembobotan dan penghitungan skor berdasarkan tingkat pengaruh dari setiap parameter terhadap daerah yang berpotensi untuk dijadikan kawasan budidaya laut. Peta hasil kesesuaian lahan budidaya di Pulau Pari menunjukkan daerah dengan tingkat kesesuaian berada pada kelas sesuai dan sesuai bersyarat. Daerah kesesuaian berada pada perairan terbuka. suatu perairan yang terlindung untuk kawasan budidaya tiram mutiara berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha budidaya. Daerah pada semua stasiun direkomendasikan untuk dijadikan usaha budidaya karena merupakan daerah yang  tidak berada pada jalur pelayaran dan termasuk dalam kelas kesesuaian sesuai. Pearl Oyster is an important export comodity for Indonesia which has a high value. The cultivation activity can not be separated from the election of land suitability for the organism which cultured. The problem of land election is based on the feeling or trial error. It makes the marine cultivation is not running optimally. The aim of this research is surveying the oceanography variable such as physics, chemistry and biology with spatial modelling as a land suitability for land Pearl Oyster (Pinctada maxima.) Cultivation in Pari Islad water, Seribu Island. The method of this research is survey methode which is data accumulation then data analyze by spatial modelling. Data accumulation was got by measuring in that place, then the data processing was did by using Er Mapper 7.0 Software. The stage of data processing was coordinate plotting, geo-statistic  modelling, gridding, overlay, make the layout, and scoring until product spasial modelling. Then the map was processed to presume land suitability value for pearl oyster culvation. The Analyze of land suitability is did by using a suitability matrices. The rating and scoring was based on the effects level of each parameter from the potencial region to be a sea cultivation area. The results map of the land suitability cultivation in Pari Island indicate that the level of suitability region is in suitable and marginally suitable. The suitable are is in the open water. The protect area of a pearl oyster cultivation give an effect for  an cultivation activity. All the station are recommended to make a cultivation area because the areas is not a ship traffic and included  a suitable area.

PENGARUH BOBOT AWAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Gracilaria sp. YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Longline DI PERAIRAN TAMBAK TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertambakan di desa Kaliwlingi Kabupaten Brebes mengalami abrasi sehingga berubah menjadi perairan terbuka dan tidak termamfaatkan. Perairan tambak terabrasi tersebut masih berpotensi memberikan peluang untuk dimanfaatkan kegiatan budidaya. Salah satu bentuk pemanfaatan perairan tambak terabrasi tersebut adalah untuk kegiatan budidaya laut antara lain untuk budidaya rumput laut Gracilaria sp. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bobot awal yang memberikan pertumbuhan terbaik bagi Gracilaria sp dan mengetahui pengaruh bobot awal yang berbeda terhadap pertumbuhan Gracilaria sp yang dibudidayakan dengan metode longline. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis Gracilaria sp. yang dibudidayakan dengan metode longline. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (bobot 50 g), B (bobot 100 g), dan C (bobot 150 g).  Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, laju pertumbuhan harian, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai RGR terbaik pada perlakuan A (50 g) 26.79% , perlakuan B (100 g) 19.85% ,dan perlakuan C (150 g) 17.45%. Nilai SGR pada perlakuan A (50 g) 14.16%, perlakuan B (100 g) 12.41%, dan perlakuan C (150 g)  11.63%. Kesimpulan yang didapat adalah pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp  dengan bobot awal 50 g memberikan pertumbuhan relatif terbaik yaitu sebesar (26.79 0.36) dan SGR terbaik (14.16 0.07) dan di rekomendasikan untuk dibudidayakan. Fishpond in the Kaliwlingi village of Brebes District has been abraded, so that to turned into open water and not utilized. Abraded fishpond water is still potentially provide opportunities to be utilized aquaculture. One of the alternative uses fishpond water abraded is for marine culture activities among others for the cultivation of seaweed Gracilaria sp. The objective of research were to discover the initial weight that gives the best growth and different initial weights on the growth of Gracilaria sp cultivated with longline method. This study was conducted in May-June, 2014. The seaweed used in this study is the seaweed of Gracilaria sp. cultivated with longline method. The experimental design used was a completely randomized design (RAL) with 3 treatments and 3 replications: treatment A (weight 50 g), treatment B (weight 100 g) and treatment C (weight 150 g). Variables observed were relative growth rate, daily growth rate, and water quality. The results showed that the value of RGR treatment A (50 g) 26.79%, treatment B (100 g) 19.85%, and treatment C (150 g) 17.45%. SGR value treatment A (50 g) 14.16%, treatment B (100 g) 12.41%, and treatment C (150 g) 11.63%. The conclusion is the growth of seaweed Gracilaria sp cultivated with longline method of initial weight of 50 g (treatment  A) gives the best RGR value 26.79 0.36 and the best value SGR 14.16 0.07 and recommended for cultivation.