Raden Ario
Jurusan Ilmu Kelautan FPIK Universitas Diponegoro Semarang 50239 Telp/Faks: 024-7474698
Articles
10
Documents
Daya Serap Rumput Laut (Gracilaria sp) Terhadap Logam Berat Tembaga (Cu) Sebagai Biofilter

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.161 KB)

Abstract

Studi absorpsi metal tosik tembaga (copper) oleh Gracilaria sp. telah dilakukan. Tujuan dari studi ini adalah meneliti kemungkinan kemampuan vegetasi akuatik yang akan digunakan sebagai biofilter. Pada kegiatan budidaya air payau di Indonesia, logam tembaga sering digunakan sebagai desinfektan pemusnah predator pada saat tahapan persiapan kolam/tambak. Namun di lain pihak tembaga juga memiliki potensi toksisitas yang tinggi terhadap lingkungan. Studi ini dilakukan secara laboratoris, dengan melakukan pemaparan rumput laut Gracilaria sp. pada tiga perlakuan konsentrasi tembaga yang berbeda (K1: kontrol; K2: 0,5 ppm; dan K3:1 ppm) selama empat perbedaan waktu pemaparan (M1: 1 minggu; M2: 2 minggu; M3: 3 minggu; dan M4: 4 minggu). Analisis kandungan tembaga pada Gracilaria sp. dilakukan pada setiap minggu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gracilaria sp. mampu menyerap tembaga yang terlarut dalam air laut. Penyerapantembaga meningkat secara sangat nyata sejalan dengan peningkatan perlakuan konsentrasi dan lama waktu dedah. Konsentrasi tembaga yang diserap pada K2 (0,5 ppm Cu) adalah, masing-masing, 12,745 ppm(setelah pemaparan 1 minggu), 27,604 ppm (setelah pemaparan 2 minggu), 29,890 ppm (setelah pemaparan 3 minggu), dan 30,215 ppm (setelah pemaparan 4 minggu). Sementara itu, konsentrasi tembaga setelah pemaparan Gracilaria sp. pada K3 (1 ppm Cu) masing-masing adalah 31,980 ppm (setelah pemaparan 1 minggu), 50,564 ppm (setelah pemaparan 2 minggu), 53,884 ppm (setelah pemaparan 3 minggu), dan54,486 ppm (setelah pemaparan 4 minggu).Kata kunci: Gracilaria sp., tembaga, logam toksik, absorpsi/penyerapan.Absorption of toxic metal (copper ) by Gracilaria sp. had been studied. The aim of the study reported in this paper was to investigate the possibility of Gracilaria sp. as a biofilter. In brackish water pond culture in Indonesia, copper is usually used as the predator eradicator in pond preparation. But in other hand, copper has potentially high toxicity to the aquatic environment. The study was conducted in the laboratory, by exposing seaweed Gracilaria sp. to three different concentrations of copper (K1: control; K2: 0,5 ppm; and K3: 1 ppm), during four different exposure times (M1: 1 week; M2: 2 weeks; M3: 3 weeks; and M4: 4 weeks). Analyses of copper metal accumulated by Gracilaria sp. were done every week. The results of present works revealed that Gracilaria sp. is able to absorb copper metal dissolved in seawater. Absorption of copper increase significantly by increasing of copper concentration and exposure duration. The concentrations of copper absorbed in K2 (0,5 ppm Cu) are, respectively, 12,745 ppm (after 1 week exposure), 27,604 ppm (after 2 weeks exposure), 29,890 ppm (after 3 weeks exposure), and 30,215 ppm (after 4 weeks exposure). Meanwhile, the concentrations of copper after exposure Gracilaria sp. to K3 (1 ppm Cu) are 31,980 ppm (after 1 week exposure), 50,564 ppm (after 2 weeks exposure), 53,884 ppm (after 3 weeks exposure), and 54,486 ppm (after 4 weeks exposure),  respectively.Key words: Gracilaria sp., copper, toxic metal, absorption.

Studi Kelimpahan Gastropoda di Bagian Timur Perairan Semarang Periode Maret – April 2012

Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research
Publisher : Journal of Marine Research

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coastal environment in Eastern part of Semarang is an area that changed in ecological conditions caused by the influence of a variety of human activities such as ports activity, industries, fishing activity, and common people’s residence which causes a decrease in water quality that directly affect the presence, and abundance of gastropods in that area. Purpose of this study is to find out the abundance of gastropods in coastal water environment, Eastern part of Semarang, during periods March to April 2012. This study using the descriptive method, sample survey method, and method used in determining station is purposive sampling method. Sample collected are including water quality measurement, sediments, and samples of biota that is gastropods. Sample of gastropods taken by using the dredge, by width 138cm, height 137cm, and net 500 cm long. Samples of gastropods founded then identified in Marine Biological Laboratory, Marine Faculty, Diponegoro University. Water quality measurement including physical factors, are : depth, water brightness, temperature, substrate, and chemical factors, they are : salinity, acidity (pH), dissolved oxygen (DO), and organic content. There are 14 spesies founded, they are : Architectonica perdix, Busycon canaliculatum, Conus tenuistriatus, Engina zonalis, Fasciolaria salma, Murex trapa, Nassarius javanus, N. pullus, Natica lineata, N. tigrina, Pseudoeptunea varicose, Terebralia palustris, Trigonostoma scalariformis, and Turricula javana. Highest abundance is on station II (183,67), and the lowest abundance is station VII (2,67).

Studi Kesesuaian Wisata dan Mutu Air Laut untuk Ekowisata Rekreasi Pantai di Pantai Maron Kota Semarang

Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research
Publisher : Journal of Marine Research

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semarang as nautical city has tourism recreation of them is Maron beach. The recent problem is, Maron beach has great potential in nautical tourism, while management have not done optimally. The developing of tourism in Semarang need to be implemented by developing design which is more emphasizes of quality than quantity to be based on the potential and growing problem. The purposes of the study are to determine assess the suitability of Land and Water Quality for Marine Ecotourism in Coastal Recreation Maron Semarang. Research conducted in April 2012-January 2013. The objective method used in this research is a case study conducted explorative. Analyzing data is used index conformity Tourism and Water Quality Standard Marine for Marine Tourism in appropriate with the Policy of the Minister of Environment Number 51 of 2004 as soon as Index Environmental Water Quality. The results show that the calculation of index suitability travel beach recreation activities is 66%. This indicates that the coastal Maron Beach Semarang classified in the category Match (S2). While the value of Index Environmental Water Quality as much as 31.1 for category as bad category.

KONDISI MORFOMETRI DAN KOMPOSISI ISI LAMBUNG IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) YANG DIDARATKAN DI WILAYAH PRIGI JAWA TIMUR

Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan Cakalang yang ditemukan di PPN Prigi memiliki ukuran yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan (food habit) ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) berbagai ukuran yang didaratkan di perairan pantai Prigi, Kabupaten Trenggalek . Sebanyak 68 ekor sampel ikan Cakalang diambil pada bulan September – November 2013 dari pengepul di pantai Prigi, untuk selanjutnya di lakukan pengukuran panjang total, berat tubuh dan analisis hubungan panjang-berat serta analisis isi lambung dengan metode frekuensi kejadian, metode volumetrik dan indeks preponderance. Data yang telah dihitung antara hubungan panjang total ikan dengan berat tubuh semua ikan Cakalang bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,824. Hasil yang telah didapatkan dari semua perhitungan indeks preponderance organisme ikan yang bernilai sebesar 63,78%. Berdasarkan hasil perhitungan indeks preponderance yang didapatkan, ikan merupakan makanan utama bagi ikan Cakalang di wilayah Prigi dengan jumlah total sampel lambung berisi sebanyak 37 lambung. Dari 68 sampel ikan Cakalang yang diperoleh dari wilayah Prigi kisaran panjang total ikan Cakalang yaitu 20 cm - 60,5 cm dengan kisaran berat ikan 250 gram - 4200 gram.

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PERAIRAN PANTAI PRAWEAN BANDENGAN, JEPARA

Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fitoplankton merupakan salah satu mikroorganisme autotrop yang hidup di perairan dan memiliki fungsi sebagai produsen primer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton pada ekosistem padang lamun di kawasan pantai Prawean Bandengan Jepara yang meliputi pengukuran kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dominansi dan kesamaan komunitas fitoplankton. Penelitian ini di laksanakan pada bulan Juli sampai September 2012 pada padang lamun alami dan buatan yang meliputi studi literatur, observasi awal lokasi penelitian, pengambilan sampel dan analisis data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan sifat eksploratif. Pengumpulan data menggunakan sampel survey method dan penentuan lokasi dengan metode purposif. Komposisi fitoplankton yang ditemukan pada Ekosistem Padang Lamun Alami dan Buatan di Perairan Pantai Prawean Jepara, terdiri dari 44 genera yang termasuk dalam 3 kelas yaitu kelas Bacillariophyceae, Cyanophyceae, dan Dinophyceae. Hasil Kelimpahan fitoplankton tertinggi ditemukan pada stasiun IV yaitu 220530 sel/m³. Kelimpahan fitoplankton terendah ditemukan pada stasiun II yaitu 170829 sel/m³. Hasil Indeks Keanekaragaman fitoplankton tertinggi terdapat pada stasiun IV bernilai rata-rata 2,15. Kisaran tersebut tergolong sedang. Dan terendah ada pada stasiun II bernilai rata-rata 2,05. Hasil Indeks Keseragaman fitoplankton tertinggi terdapat pada stasiun IV bernilai rata-rata 0,57 dan terendah ada pada stasiun II bernilai rata-rata 0,54 yang berarti keseragaman sedang. Hasil Indeks Dominansi tertinggi ada pada stasiun II bernilai rata-rata 0,46. Stasiun IV bernilai terendah yaitu 0,43 menunjukkan tidak ada dominasi diperairan tersebut. Indeks Kesamaan Komunitas fitoplankton tertinggi terjadi pada stasiun III dan IV sebesar 73,44 % yang menunjukkan kesamaan atau hampir mirip.

Physical Effects On The Behavior Of Littorina Littorea (L)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 1, No 1 (1993): Juni 1993
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3492.29 KB)

Abstract

Gastropoda, Uttorina littorea (l.) dipelihara pada salinitas antara 9-33"- . Hewan tidak dapat berlahan hidup pada salinitas kurang dari 8%.. Pada salinitas antara 15.6-19.4"- hewan tampak lebih aktif dalam kondisi dengan atau tanpa cahaya. Penurunan tingkat aktifitas umumnya terjadi dengan menurunnya salinitas media.Kata-kat. kunci: Littorina littorea, tingkah laku, salinitas, cahaya

Pengaruh Volume Air Pada Media Terhadap Pertumbuhan Panjang Dan Berat Ikan Sidat (Anguilla bicolor bicolor)

BULETIN OSEANOGRAFI MARINA Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya ikan sidat (Anguilla sp.) di Indonesia baru mulai berkembang beberapa tahun belakangan meskipun ikan ini memiliki banyak prospek di berbagai negara Asia maupun Eropa. Kegiatan budidaya yang dilakukan di beberapa daerah baru pada taraf pembesaran pada kolam persawahan (earthen pond) dan hanya sebagian kecil yang menggunakan sistim resirkulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh volume air terhadap pertumbuhan panjang dan berat ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor) stadia awal dari elver dengan sistim budidaya resirkulasi. Metode eksperimental digunakan dalam penelitian ini dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 3 perlakuan volume air yang berbeda (E: 942 l, F: 1413 l, dan G: 750 l). Sampling panjang dan berat dilakukan setiap 2 minggu selama 8 minggu budidaya. Hasil penelitian pertumbuhan panjang dan berat tiap Kolam menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata (α > 0.05). Pertumbuhan Mutlak (berat) pada kolam E: 33,33 g, F: 23,33 g, dan kolam G: 40,00 g, sementara pertumbuhan mutlak (panjang) pada kolam E: 8,67 cm, F: 7,67 cm, serta kolam G: 9,50 cm selama 8 minggu budidaya. Hasil dari perhitungan Spesific Growth Rate (SGR) pada kolam E: 0,48; F:0,33 dan G: 0,57 %/hari selama 70 hari budidaya. Pertumbuhan panjang dan berat ikan sidat pada percobaan ini mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan korelasi antara 83,5 – 94,5%. Hasil percobaan ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan sidat stadia awal elver akan meningkat dengan menurunnya volume air pada kondisi suhu optimum 28±2 ºC. The eel (Anguilla sp.) cultivation in Indonesia recently has just begun to develop, eventhough this species has so many economic prospect especially in eastern Asia and European countries. Aquaculture activities in some province (of Indoesia) still using earthen pond and only certain places which used Resirculating Aquaculure System (RAS) for racing the local eels. The aims of this study were to determine the effect of water volume on early elver of Anguilla bicolor bicolor length and weight growth and it’s corelations. Experimental method was used, complitely random design with 3 treatments of different water volumes i.e. E: 942 liter, F: 1413 liter, and G: 750 l. Sampling were taken every fortnight during 8 weeks culture. The results shows that length and weght growth have no significantly different (α > 0.05). Absolute growth (of weight) in each tank i.e. E: 33.33 g, F: 23.33 g, and G: 40.00 g, meanwhile the length absolute growth i.e. E: 8.67 cm, F: 7.67 cm, and G: 9.50 cm. Spesific growth rate of early elver were: E = 0.48, F=0.33 and G= 0.57 ini % d-1 during 70 d culture. Length and weght growth have a tight correlation i.e. 83.5 to 94.5%. The results of this study indicate that the growth of early eel (Anguilla bicolor bicolor) increased by decreasing water volume in the optimum water temperature of 28±2 ºC.

Pemberian Pakan Pada Tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas Linnaeus, 1758) Di Konservasi Pulau Bangka

BULETIN OSEANOGRAFI MARINA Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingkat keberhasilan hidup tukik menuju dewasa dapat ditentukan dengan pemberian pakan. Rumput laut sebagai pakan tukik telah diujikan pada tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas). Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh pemberian rumput laut sebagai pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan tukik Penyu Hijau (C. mydas) selama masa pemeliharaan 4 minggu. Penelitian ini menggunakan Metode eksperimen laboratorium dengan materi tukik usia 4 bulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tukik yang diberi kombinasi pakan Udang ebi dan Rumput laut Sargassum sp. menunjukkan rerata laju pertumbuhan1,56 ± 0,11 gram lebih besar dari tukik yang diberi kombinasi Pelet dan Rumput laut sebesar 1,47 ± 0,14 gram dan kontrol 0,51 ± 0,57 gram. Perlakuan kombinasi tambahan rumput laut terhadap pakan tukik menunjukan hasil yang signifikan (P 0,05) pada laju pertumbuhan. The existence of turtles on the island of Bangka already slowly becomes extinct as the result of increasing mining activity. Feeding can for the survival of adulthood. The purpose of this study is to determine the affect of combinations of different feed on the growth of Green Turtle (Chelonia mydas) period of 4 weeks. This study use laboratory experimental method with the material used was the green turtle hatchlings around the age of 4 months and was conducted in Bangka Beach, Bangka. Result from the study showed that were given a combination of shrimp and Sargassum sp. show that specific growth rate on average 1,56 ± 0,11 gram bigger than that were given a combination of pellets and Sargassum sp. namely 1,47 ± 0,14 gram and 0,51 ± 0,57 gram control. Specific growth rate feeding treated with different combinations shows 17,17 F count > F table 0,05 and 0,01. It is claimed that the two highly significant treatment on a significant 0,05 and 0,01. 

Analisis Kelayakan Investasi Pada Budidaya Karamba Jala Apung (KJA) Ikan Kerapu Di Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara

BULETIN OSEANOGRAFI MARINA Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian Investasi budidaya ikan kerapu di Karimunjawa adalah salah satu usaha guna menumbuhkan promosi investasi di wilayah studi. Kajian ini akan membuat peluang investasi menjadi lebih fokus dan tajam baik dari segi sektor maupun lokasinya, sehingga akan memudahkan investor guna merealisasikan rencana bisnisnya. Studi ini akan memberikan detail informasi kepada investor tentang peluang bisnis pada budidaya ikan kerapu yang sangat layak dilakukan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir dan wilayah kabupaten Jepara pada umumnya. Metode yang digunakan adalah metode survei. Peluang Investasi dianalisa secara deskriptif. Hasil kajian menunjukan bahwa berdasakan potensi alam, fasilitas infrastruktur produksi, nilai ekonomi serta aspek financial maka kelayakan investasi adalah sangat prospektif dan berpeluang untuk sukses. Analisis financial menunjukan bahwa investasi pada budidaya ikan kerapu di Karimunjawa adalah sangat layak untukdirealisasikan bagi investor. Budidaya ikan kerapu Tikus (Cromileptis altivelis)adalah paling prospektif, dimana nilai Net Present Value (NPV)> 0,yaitu  1,772,764,729,  dan  Profitability Index  (PI) lebih besar dari  1, yaitu 5,543291036.  Payback Periodadalah  2.82 tahun, jika tidak mempertimbangkan nilai uang (Discount Factors) dan 3.65 tahun  jika mempertimbangkan nilai uang. Sedangkan untuk budidaya ikan kerapu bebek(Ephinephelus fuscoguttatus), Net Present Value (NPV)> 0 yaitu  69,938,924, - dan Profitability Index (PI) lebih besar dari 1, yaitu 1,20558783.  (Pay Back Period) adalah  4,13tahun apabila tidak mempertimbangkan nilai uang (Discount Factor), sedangkan apabila mempertimbangkan nilai uang maka menjadi  and 4.64 tahun. Dari analisis yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa meskipun kedua spesies ikan kerapu layak investasi, tetapi ikan kerapu tikuspaling layak investasi, sedangkan ikan kerapu macansebagai produk sampingan investasi, yaitu dengan memanfaatkan sisa pakan yang tidak digunakan dalam budidaya ikan kerapu tikus, sehingga hasilnya akan dapat maksimal. Keseluruhan aspek yang dikaji menunjukan bahwa budiddaya ikan kerapu di Kepulauan Karimunjawa adalah layak investasi. The study of feasibility floating cage culture of grouper fish investment in Karimunjawa is one of the efforts for investment promotion in the studied region. This study will make the investment opportunities become more focus and sharp, both sectoral and location, so it will be easier for investors to execute their investment interest. The purpose of this study, is to provide initial information for investors about business opportunities of grouper fish farming as a very feasible investment opportunities so that can boost the economy of the region and the society of Jepara Regency. The method used in this study was survey  method, descriptive analysiswas conducted to see a of investment opportunities. Based on potential natural resources, location, infrastructure facilities, production, economy value, and financial aspect, the  results of study concluded  that the overall investment is highly prospective and has a fairly high chance to success. The financial analysis showed that investment in grouper fish cultivation in jepara regency is very feasible as a business investment for the investors. Humpback or Polka dot grouper (Cromileptis altivelis) culture is highly prospective and has a fairly high chance. This can be seen from the Net Present Value (NPV) > 0 is equal to 1,772,764,729,  and Profitability Index  (PI) value greater than 1, which is 5,543291036.  While the longer the period the funds invested will return (Payback Period) is 2.82 years if the without considering the time value of money (Discount Factors) and 3.65 years when considering the time value of money. Whereas,  for Brown marbled grouper (Ephinephelus fuscoguttatus), the Net Present Value (NPV) > 0 is equal to  69,938,924, - and Profitability Index (PI) greater than 1, which is 1,20558783. While the longer  period the funds invested will return (Pay Back Period) are 4,13 year if without considering the time value of money (Discount Factors) and 4.64 years when considering the time value of money. From the analysis it can be concluded that all these choices on the investment plan is feasible to run and prospective advantageous. While the best option is an investment plan on investments Humback or Polka Dot grouper (Cromileptis altivelis) cultivation, Brown marbled grouper (Ephinephelus fuscoguttatus) culture whereas it is only a sideline activity and only utilize food wastes are left, so the whole will be able to deliver optimal results in grouper culture.All examined aspects of Grouper cultivation in karimunjawa  gave results that investment activity  is able to be executed. The financial analysis shows that investment in grouper fish cultivation in jepara regency is very feasible to be a business investment for the investors.

Evaluasi Beban Pencemaran Terhadap Kualitas Perairan Pesisir Kota Semarang

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.494 KB)

Abstract

Penelitian inl bertujuan untuk mengetahul beban pencemaran (fisika dan klmia) dan hubungannya dengan kualitas perairan pesisir. Materi yang digunakan adalah ssmpel air dan substrat dasar yang diambil mingguan dari beberapa stasiun yang dipertlmbangan sebagal daereh lingkungan pesislr Kota Semarang yang terkena beban pencemaran. Data kualltas perairan terukur dibandingkan dengan baku mutu lingkungan sebagai Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kep. 02/MENKLH/I/1988). Analisis juga dilakukan terhadap hubungan beban pencemaran dengan kualitas perairannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter kualitas perairan yang melampaui ambang batas baku mutu lingkungan untuk kehidupan organisme adalah kecerehan, BOD, COD, Muatan padatan tersuspensi (MPT), dan H2S . Sedangkan beban pencemaran dan kualitas perairan cenderung pada kondisl tlngkat sedang. Produktivitas perairan tinggi kecuali di muara Sungal Babon, yang diduga dlpengaruhi oleh kegiatan manusia di daerah hulu sungal sepertl kegiatan industrl, pemukiman, dan pelabuhan.Kata kunci: pencemaran; perairan pesisir; Kota Semarang  The increasing development activities in Semarang coastal area such as industrial, urbanisation and agricultural has lead to increasing of westeload into the coastal waters and finally has caused the disturbance of the ecosystem. The aims of the research were to investigate the pollution status based on physical and chemical characteristics of the seawater and the relationship between westeload and Water quality at Semarang coastal area. Sample analysis were done at Ecodevelopment Coastal Laboratory, Jepara. The result showed that the water quality which exceeded the quality threshold according to “Kep.02/MENKLH/I/1988" for the sea organism activities were turbidity, Dissolved/ Particuled Organic Matter (DOM/ POM), COD, BOD. and H2S . The pollution status and water quality on Semarang coastal tended to be at medium level condition. The water productivity was high, except at the canal "Babon" rivers which may be caused by human activities impact such as industrial, urbanisation, and harbour.Keyword: Pollution; coastal waters; Semarang city