Articles

Found 37 Documents
Search

Perbedaan Jumlah Bakteri Orofaring Pada Tindakan Oral Hygiene Menggunakan Chlorhexidine Dan Povidone Iodine Pada Penderita Dengan Ventilator Mekanik Helmi, Mochamat; Arifin, Johan; Pujo, Jati Listiyanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Oral hygiene antiseptic is one of the manner can reduce incident ventilator associated pneumonia (VAP). Chlorhexidine and povidone iodine can reduce number of bacteria on decontamination oropharyngel processObjectives: To find the difference in decrease in the number of oropharyngeal bacteria on oral hygiene with chlorhexidine 0.2% and povidone 0.1% on patients with mechanical ventilatorMethods: A randomized clinical control trial study on 30 patients with mechanical ventilator. Patients were divided into 2 groups (n=15), group 1 using chlorhexidine 0,2% and group 2 using povidone iodine 1%. Each group was given oral hygiene every 12 hours for 48 hours. Each group was taken secretions from the oropharynx before and after treatment, for later examination in counting the number and type of oropharyngeal bacteria. Statistical test using paired t-test, Wilcoxon, and Mann Whitney (with degrees of significance <0.05)Result: In this study, a decrease in the number of oropharyngeal bacteria of chlorhexidine group 140±76.625 (significant difference, p =0.000) while in povidone iodine group amounted to 100.80±97.209 (significant difference, p=0.008). While the comparative difference test result obtained both groups did not differ significantly (p-0.234).Conclusion: The decrease number of oropharyngeal bacteria on oral hygiene with chlorhexidine 0,2% was not different from povidone iodine 1%Keywords : Chlorhexidine 0,2%, povidone iodine 1%, number of oropharyngeal bacteria, oral hygiene, mechanical ventilator.ABSTRAKLatar belakang: Antiseptik oral hygiene merupakan salah satu cara yang dapat menurunkan insiden ventilator associated pneumonia (VAP). Chlorhexidine dan povidone iodine merupakan antiseptik yang mampu menurunkan jumlah bakteri pada proses dekontaminasi orofaring.Tujuan: Untuk mengetahui adanya perbedaan penurunan jumlah bakteri orofaring pada tindakan oral hygiene dengan chlorhexidine 0.2% dan povidone iodine 1% pada penderita dengan ventilator mekanik.Metode : Merupakan penelitian Randomized clinical control trial pada 30 penderita dengan ventilator mekanik. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok (n=15), kelompok 1 menggunakan chlorhexidine 0,2% dan kelompok 2 menggunakan povidone iodine 1%. Masing-masing kelompok diberikan oral hygiene tiap 12 jam selama 48 jam. Tiap kelompok diambil sekret dari orofaring sebelum dan setelah perlakuan, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan hitung jumlah dan jenis bakteri orofaring. Uji statistik menggunakan paired ttest, Wilcoxon, dan Mann Whitney (dengan derjat kemaknaan < 0,05).Hasil : Pada penelitian ini didapatkan penurunan jumlah bakteri orofaring pada kelompok chlorhexidine sebesar 140±76,625 (berbeda bermakna, p=0,000) sedangkan pada kelompok povidone iodine sebesar 100,80±97,209 (berbeda bermakna, /p=0,008). Sedangkan pada uji selisih komparatif kedua kelompok didapatkan hasil berbeda tidak bermakna(p=0,234).Kesimpulan : Penurunan jumlah bakteri orofaring pada tindakan oral hygiene dengan chlorhexidine 0,2% tidak berbeda bermakna dengan povidone iodine 1%.
Efektifitas Magnesium Sulfat Sebagai Pencegahan Mengigil Pasca Anestesi Ratnawati, Anna; Arifin, Johan; ., Witjaksono
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Shivering is a common problem faced in every operation. The use of anesthesia regimens for induction, enviromental temperature and surgery can cause shivering.Objective: To compare the effectiveness of magnesium sulphate 30mg/kg intravenous with meperidin 0,5mg/kg intravenous as a control preventing shivering after general anesthesia.Methods: This randomized double-blind controlled trial in 20 patients undergoing general anesthesia. Patients were divided in two groups (n=10). Group A using meperidine 0,5mg/kg intravenously and group B using magnesium sulphate 30mg/kg intravenously. Each group of blood taken before and after extubation, for examination of calcium and magnesium while in the recovery room patients were observed incidence of shivering. This study using Chi Square test, Mann – whitney test and independent sample T- test (p<0,05).Results: This study showed incidence of shivering in the meperidine group and one of the patients in the magnesium sulphate group 2 of patients (p=1,00). Decrease in calcium levels after surgery in the magnesium sulphate group (0,2212±0.048) did not differ significantly (p=0.366) compared with meperidine group (0,1973±0,135), whereas the magnesium content increase in the magnesium sulphate group (0.434±0,4103) and decrease in meperidine group (0,119 ± 0.1180), significantly different (p=0,003).Conclusions: The incidence of shivering after surgery with general anesthesia in patients who received magnesium sulphate 30mg/kg iv did not differ from that received meperidine 0,5mg/kg iv.Keywords : meperidine, magnesium sulphate, shivering, magnesium and calcium levels.ABSTRAKLatar Belakang: Menggigil (shivering) merupakan masalah yang sering dihadapi dalam setiap operasi. Penggunaan obat induksi anestesi, suhu lingkungan dan pembedahan dapat menyebabkan menggigil.Tujuan: Membandingkan efektifitas magnesium sulfat 30mg/kgBB intravena dengan meperidin 0,5mg/kgBB intravena sebagai kontrol dalam mencegah mengigil pasca anestesi umum.Metode: Penelitian menggunakan randomized double blind controlled trial pada 20 pasien yang menjalani anestesi umum. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok (n=10), kelompok A menggunakan meperidin 0,5mg/kgBB intravena dan kelompok B menggunakan magnesium sulfat 30mg/kgBB intravena. Masing – masing kelompok diambil darah sebelum dan sesudah ekstubasi, untuk dilakukan pemeriksaan kadar kalsium dan magnesium. Saat berada di ruang pemulihan pasien di observasi adanya kejadian menggigil. Uji statistik menggunakan Chi-Square, Man-Whitney Test dan independent sample T-test (dengan derajat kemaknaan p<0,05).Hasil: Penelitian ini didapatkan kejadian menggigil pada kelompok meperidin 1 dari 10 pasien dan pada kelompok magnesium sulfat 2 dari 10 pasien (p=1,00). Penurunan kadar kalsium setelah operasi pada kelompok magnesium sulfat (0,048±0,2212) berbeda tidak bermakna (p=0,366) dibandingkan dengan kelompok meperidin (0,135±0,1973), sedangkan kadar magnesium terjadi peningkatan pada kelompok magnesium sulfat (0,434±0,4103) dan menurun pada kelompok meperidin (0,119±0,1180), berbeda bermakna (p=0,003).Simpulan: Kejadian menggigil pasca pembedahan dengan anestesi umum pada pasien yang mendapat magnesium sulfat 30mg/kgBB iv tidak berbeda dengan yang mendapat meperidin 0,5mg/kgBB iv.
The Comparison Of The Effect Of Etomidate And Propofol On Serum Cortisol Level ., Yusmalinda; Arifin, Johan; Sutiyono, Doso
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: The choose of anesthetic agent not only based on primary effect as an ideal anesthetic for surgical procedure, but also took attention for their effect to various organ system. Etomidate is known as an ideal anesthetic agent because its hemodynamic stability, minimally respiratory effect and neuroprotection properties, but become not popular as it suppress cortisol synthesis although it significant clinical effect remain controversy.Purpose: To analyze the different effect etomidate and propofol on serum cortisol concentration in patient underwent elective surgery in general anesthesia.Method: This double blind, Randomized Controlled Trial with 34 subjects which divided into two groups (n=17), control group and treatment group which received either intravenous propofol 2,5mg/kgBW or etomidate 0,2mg/kgBW pre-operation respectively. Each group was then examined for serum cortisol concentration pre-anesthesia, 2 hours post induction, and 8 hours post induction. Wilcoxon Signed Rank Test and Paired T Test were performed to compare cortisol serum concentration in each group. Mann Whitney and Independent Sample T Test were used to compare between control and treatment group.Results: There were significant different of cortisol serum level between pre-anesthesia and 2 post induction in etomidate group [244,15(181,39-382,75)] vs [195,07(119,96-236,35)]. It showed that decrement of etomidate dosage into 0,2mg/kgBW still decrease cortisol serum production significantly from 2 to 8 hours. It proved that propofol did not decrease cortical synthesis. Compared with propofol, etomidate significantly suppress serum cortisol level at 2 hours post induction.Conclusion: Etomidate 0,2mg/kgBW decrease serum cortisol concentration at 2 hours post induction, but return to its normal level at 8 hours post induction. Propofol 2,5mg/kgBB did not decrease serum cortisol concentration.Keywords : Etomidate, Propofol, General anesthesia, CortisolABSTRAKLatar belakang penelitian: Pemilihan suatu obat anestesi tidak hanya didasarkan pada efek utamanya sebagai anestesi yang ideal untuk suatu prosedur pembedahan, melainkan turut pula mempertimbangkan efeknya terhadap berbagai sistem organ. Etomidat diketahui memiliki sifat obat anestesi yang ideal baik dari segi hemodinamik, respirasi, maupun neuroproteksi, akan tetapi menjadi kurang populer akibat efeknya terhadap fungsi adrenal meski konsekuensi klinis nyata dari efek hambatan ini masih kontroversi.Tujuan: Membuktikan adanya perbedaan pengaruh pemberian etomidat 0,2mg/kgBB intravena dan propofol 2,5mg/kgBB intravena terhadap penurunan kadar kortisol serum.Metode: Merupakan penelitian Randomized Clinical Control Trial pada 34 pasien yang menjalani anestesi umum, dibagi menjadi 2 kelompok (n=17), etomidat dan propofol. Masing-masing kelompok diperiksa kadar kortisol serum sebelum induksi, 2 dan 8 jam setelah induksi. Uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test dan Paired T Test digunakan untuk membandingkan kadar kortisol di masing- masing kelompok. Sedangkan uji statistik Mann Whitney U Test dan Independent Sample T-Test digunakan untuk membandingkan antar kelompok perlakuan.Hasil: Terdapat perbedaan bermakna kadar kortisol sebelum dan 2 jam pasca induksi pada kelompok etomidat (mean 244,15 vs 195,07), tetapi tidak pada 8 jam pasca induksi. Hal ini menunjukkan bahwa pengurangan dosis etomidat sampai 0,2mg/kgBB masih menurunkan kadar kortisol secara signifikan sampai < 8 jam pasca induksi. Pada kelompok propofol terdapat peningkatan bermakna kadar kortisol 2 jam pasca induksi (p=0,013). Hal ini membuktikan bahwa propofol tidak memiliki efek menurunkan síntesis kortisol.Kesimpulan: Pemberian etomidat 0,2mg/kgBB menurunkan síntesis kortisol pada 2 jam pasca induksi namun kembali normal 8 jam pasca induks i. Pemberian propofol 2,5 mg/kgBB tidak menyebabkan penurunan kadar kortisol serum.
Ventilasi Satu Paru Kisara, Aditya; Satoto, Hari Hendriarto; Arifin, Johan
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

One lung ventilation is to provide mechanical ventilation in a selected one of the lungs and block the airway of the other lung. One lung ventilation is indicated to improve surgical access, protects lung ventilation and intensive care. During one lun g ventilation, mixing of oxygenated blood that is not the collapse of the lung with oxygenated blood from the dependent lung terventilasi widen PA-a O2 gradient. In vitro studies showed that inhalation anesthetic agents directly reduce the action of hypoxi c pulmonary vasocontriction and theoretically lead to increased blood flow to the lungs is not ventilated thereby increasing pulmonary shunt and PaO2 became decrease and often cause hipoksemi. Three techniques are performed: (1) placement of a double lumen bronchial tubes, (2) the use of a single lumen tracheal tube in his contact with the bronchial inhibitor, or (3) the use of single lumen bronchial tubes. High tidal volume used to maintain arterial oxygenation decrease in tidal volume, combined with the use of positive end-expiratory pressure (PEEP), can minimize the occurrence of parenchymal injury.Keywords : -ABSTRAKVentilasi satu paru adalah memberikan ventilasi mekanik pada salah satu paru yang dipilih dan menghalangi jalan napas dari paru lainnya. Ventilasi satu paru diindikasikan untuk meningkatkan akses bedah, melindungi paru dan perawatan intensif ventilasi. Selama ventilasi satu paru, percampuran darah yang tidak teroksigenasi dari paru atas yang kolaps dengan darah teroksigenasi dari paru dependen yang terventilasi memperlebar gradien O2 PA-a. Penelitian secara in vitro memperlihatkan bahwa agen anestesi inhalasi secara langsung mereduksi aksi dari hypoxic pulmonar vasocontriction dan secara teori menyebabkan meningkatnya aliran darah ke paru yang tidak terventilasi sehingga meningkatkan shunt pulmoner dan akhirnya PaO2 menjadi turun dan sering menyebabkan hipoksemi. Tiga teknik yang dilakukan: (1) penempatan sebuah tabung bronkial lumen ganda, (2) penggunaan tabung trakeal lumen tunggal pada penghubungnya dengan penghambat bronkial, atau (3) penggunaan lumen tunggal tabung bronkial. Volume tidal yang tinggi digunakan untuk mempertahankan oksigenasi arteri Penurunan volume tidal, dikombinasi dengan penggunaan akhir ekspirasi tekanan positif (PEEP), dapat meminimalkan terjadinya cedera parenkim.Kata kunci : -
Pengelolaan Cairan Pediatrik Kisara, Aditya; Satoto, Hariyo; Arifin, Johan
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Different fluids in children with fluid administration in adults, physiology of body fluids, renal and cardiovascular different from adults affect the type of fluid in children. For ease of maintenance amount of fluid in the childs needs can use the formula of Holliday. Maintenance fluid requirements should be added in children with fever and sweating a lot hypermetabolic status. In children who will operation, fluid replacement should be fasting. All the fluids lost during surgery should be replaced with isotonic crystalloid fluids, colloid or blood products.Keywords : -ABSTRAKPemberian cairan pada anak berbeda dengan pemberian cairan pada dewasa. fisiologi dari cairan tubuh, ginjal dan kardiovaskuler yang berbeda dari orang dewasa mempengaruhi jenis cairan yang diberikan pada anak. Untuk memudahkan menghitug jumlah kebutuhan cairan rumatan pada anak dapat digunakan rumus dari Holliday dan Segar. Kebutuhan cairan rumatan harus ditambah pada anak dengan demam keringat yang banyak dan status hipermetabolik. Pada anak yang akan mejalani operasi, perlu diberikan cairan pengganti puasa. Semua cairan yang hilang selama operasi harus diganti dengan cairan isotonik kristaloid, koloid atau produk darah.Kata kunci : -
Perbedaan Efektifitas Oral Hygiene Antara Povidone Iodine Dengan Chlorhexidine Terhadap Clinical Pulmonary Infection Score Pada Penderita Dengan Ventilator Mekanik Sebayang, Kurniadi; Pujo, Jati Listiyanto; Arifin, Johan
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : Oral hygiene antiseptic can reduce incidence of Ventilator Associated Pneumonia (VAP) that reduce Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) in patients with mechanical ventilation. Chlorhexidine can prevent formation of biofilm compare with povidone iodine. Objectives : This study was performed to find out wether chlorhexidine 0, 3 % was better than povidone iodine 1 % on Clinical Pulmonary Infection Score in patients with mechanical ventilation. Methods : An experimental study, as consecutive sampling on 32 subjects was decided in two groups (n = 16). Povidone iodine 1% was administrated in first group and cholrhexidin 0,2 % in second group. Clinical Pulmonary Infection Score was determined using Mann-Whitney before and after treatment in each group temperature, blood gas analysis, tracheal secretion, blood analysis and chest x-ray. Statistical analysis was performed with Wilcoxon test to compare CPIS and corelative test to analyzed GC plaque and spearman test to analyzed the correlation between GC plaque score and CPIS. Result : There were significant diference in the first group on CPIS (p<0,05) and no difference in the second group (p>0,05). The difference score before and after treatment in both group were significantly different (p=0,05). GC plaque score in chlorhexidinee group were significantly different (p=0, 0000). There were no correlation between GC plaque score and CPIS. Conclusion : Chlorhexidinee 0,3% is more effective in oropharing decontaminated antisepcic that decrease CPIS than povidone iodine on patients with mechanical ventilation. No correlation between GC plaque score with score of CPIS.Keywords : Povidone iodine 1 %, chlorhexidine 0, 2%, CPIS, mechanical ventilation, GC plaqueABSTRAKLatar belakang : Antiseptik oral hygiene merupakan salah satu cara non farmakologi yang dapat menurunkan insiden Ventilation Associated Pneumonia (VAP) dengan menurunkan skor Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) pada penderita dengan ventilator mekanik. Chlorhexidine adalah antiseptik yang lebih mampu mencegah pembentukan biofilm dibandingkan dengan povidone iodine. Tujuan : Mengetahui chlorhexidine 0,2% lebih efektif menurunkan angka Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) dibandingkan dengan povidone iodine 1% pada penderita dengan ventilator mekanik. Metode : Merupakan penelitian eksperimental, dua subjek dibagi dua kelompok sama besar (n =16). Kelompok chlorhexidinee 0,2 % dan kelompok kontrol povidone iodine 1%. Kedua kelompok sebelum dan setelah perlakuan dilakukan pemeriksaan CPIS, yaitu: suhu, analisa gas darah, sekret trakea, darah rutin dan foto ronsen dada. Uji wilcoxon adalah uji korelatif untuk melihat GC plaque sebelum dan setelah perlakuan.Sedangkan uji spearman melihat korelasi GC plaque dan skor CPIS pada kelompok perlakuan. Hasil : Hasil skor CPIS berbeda makna pada kelompok I (p<0,05). Analisis komparatif selisih skor sebelum dan sesudah perlakuan kedua kelompok berbeda bermakna (p<0,05). Skor GC plaque sebelum [6,00 (5,60-7,00)] dan setelah aplikasi chlorhexidinee 0,2% [7,00 (6,80-7,20)] menunjukkan hasil berbeda bermakna (p= 0,000). Uji spearman skor GC plaque dan CPIS menunjukkan hasil berbeda tidak bermakna, hasil korelatif negatif. Kesimpulan : Chlorhexidinee 0,2% merupakan antiseptik orofaring yang lebih efektif menurunkan skor CPIS dibandingkan dengan povidone iodine 1% pada pasien dengan ventilator mekanik. Tidak ada korelasi antara kenaikan skor GC plaque dengan penurunan skor CPIS.
PENGARUH PEMBERIAN HEPARIN SUBKUTAN SEBAGAI PROFILAKSIS TROMBOSIS VENA DALAM (TVD) TERHADAP NILAI D-DIMER PADA PASIEN SAKIT KRITIS DI ICU RSUP DR. KARIADI Kartadi, David Hani; Arifin, Johan
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang : Pasien sakit kritis adalah pasien dengan penyakit atau kondisi yang mengancam keselamatan jiwa pasien tersebut. Pasien dengan kondisi semacam ini memiliki risiko yang tinggiterhadap kejadian komplikasiseperti trombosis vena dalam (TVD). Pemberian antikoagulan dapat digunakan untuk membantu mencegah komplikasi ini.Tujuan : Membuktikan efektivitas pemberian heparin subkutan sebagai profilaksis trombosis vena dalam (TVD) pada pasien sakit kritis di ICU RSUP dr. Kariadi.Metode : Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan crosssectional yang dilaksanakan dengan cara mengumpulkan data dari catatan medik RSUPdr. Kariadi Semarang. Jumlah sampel 15 pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi daneksklusi, dimana data yang di ambil yaitu nilai D-dimer sebelum dan setelah pemberian heparin subkutan. Datadideskripsikan dengan tabel dan dilakukan uji beda wilcoxon signed rank test dengan program komputer.Hasil : Terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai D-dimer sebelum dansesudah pemberian heparin subkutan pada hari kedua (p=0,033) dan hari ketiga (p=0,005). Nilai rerata D-dimer menunjukan adanya penurunan dari hari pertama (4082.27 ± 319.790) menjadi 3672.20 ± 343.138 pada hari kedua dan 3122.53 ± 357.180 pada hari ketiga.Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang bermakna pada nilai D-dimer sebelum dan setelah mendapatkan terapi heparin subkutan dosis profilaksis pada pasien sakit kritis dengan risiko trombosis vena dalam di ICU RSUP dr. Kariadi.
PERBEDAAN EFEK PEMBERIAN LOADING 500 CC HYDROXYETHYL STARCH 130 DAN 200 KD TERHADAP JUMLAH PRODUKSI URIN PADA ANESTESI SPINAL PASIEN BEDAH CAESAR DI RSUP DR KARIADI Gunawan, Monica Sari; Arifin, Johan
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang   Dewasa ini bedah caesar banyak menggunakan anestesi spinal. Pemberian loading cairan koloid digunakan untuk mencegah komplikasi dari anestesi spinal yaitu hipotensi. Salah satunya adalah HES. Namun ada yang mengatakan penggunaan HES dapat mengakibatkan acute kidney injury.Tujuan    Mengetahui perbedaan efek pemberian loading 500 cc HES 130 kD dan 200 kD terhadap jumlah produksi urin pada anestesi spinal pasien bedah caesar.Metode   Penelitian ini merupakan penelitian analitik obervasional retrospektif dengan studi cross-sectional. Sampel adalah 54 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I menggunakan HES 130 kD dan kelompok II menggunakan HES 200 kD. Penelitian dilakukan dengan cara mencatat data yang diperlukan dari rekam medis pasien RSUP Dr Kariadi Semarang. Data diolah dan dianalisis menggunakan software komputer. Uji statistik menggunakan Mann Whitney dan derajat kemaknaan p = 0,15. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.Hasil    Data karakteristik menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna. Uji normalitas data Shapiro-wilk didapatkan data berdistribusi tidak normal. Pada uji Mann Whitney didapatkan perbedaan yang tidak signifikan antara kelompok I dan kelompok II (p=0,169).                                                   Kesimpulan   Ada perbedaan yang tidak bermakna terhadap jumlah produksi urin pada pemberian loading 500 cc HES 200 kD dan HES 130 kD pada anestesi spinal pasien bedah caesar.
PENGARUH PEMBERIAN HEPARIN SUBKUTAN SEBAGAI PROFILAKSIS TROMBOSIS VENA DALAM (TVD) TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN SAKIT KRITIS DI ICU RSUP DR KARIADI Wijaya, Wimardy Leonard; Arifin, Johan
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang : Pasien sakit kritis yang dirawat di ruang ICU RSUP dr Kariadi mengalami imobilisasi dalam waktu yang cukup lama. Imobilisasi ini meningkatkan resiko terjadinya trombosis vena dalam (TVD) pada pasien tersebut. Dalam mencegah terjadinya TVD diberikan profilaksis berupa heparin subkutan. Pemberian heparin ini dapat menyebabkan terjadinya heparin induced thrombocytopenia sehingga pemberiannya harus dipantau dengan baik. Salah satu cara memantau pemberian heparin ini adalah dengan menghitung jumlah trombosit.Tujuan : Membuktikan pengaruh pemberian heparin subkutan terhadap jumlah trombosit pada pasien sakit kritis di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi SemarangMetode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik retrospektif dengan rancangan cross sectional. Data yang diambil adalah data dari rekam medis dengan jumlah sampel sebesar 15. Jumlah trombosit dicatat sebelum dan setelah pemberian heparin pada hari kedua dan ketiga, kemudian dibandingkan perbedaannya.Hasil : Didapatkan perbedaan yang tidak signifikan (p=0,730) pada jumlah trombosit pada pemberian heparin sebelum dan setelah hari pertama (1555353,33 ± 80033,215 vs 153306,67 ± 65472,529) dan juga didapatkan perbedaan yang tidak signifikan (0,976) antara jumlah trombosit sebelum dan hari kedua pemberian (1555353,33 ± 80033,215 vs154940,08 ± 53623,6559)Kesimpulan: Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada jumlah trombosit pada pemberian heparin subkutan sebagai profilaksis TVD pada pasien kritis di ICU RSUP dr Kariadi Semarang 
PENGARUH PEMBERIAN HEPARIN INTRAVENA SEBAGAI PROFILAKSIS TROMBOSIS VENA DALAM (TVD) TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN SAKIT KRITIS DI ICU RSUP DR KARIADI Septiawaty, Kwa Angela Ricke; Arifin, Johan
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang Pasien yang dirawat di ICU memiliki kemungkinan meninggal sebesar 20%.Imobilisasi dan inactivity pada pasien sakit kritis, disfungsi endotel vaskuler, hiperkoagulabilitas, dan pengaruh penyakit yang mendasarinya berperan dalam pembentukan penggumpalan darah (clot). Gumpalan darah yang terbentuk dapat menyebabkan trombosis yang seringkali terjadi di vena dalam. Kondisi ini membutuhkan suatu penatalaksanaan agresif karena trombus yang terbentuk dapat lepas ke jantung dan paru-paru yang akhirnya mengakibatkan kematian . Heparin yang digunakan sebagai terapi maupun sebagai profilaksis primer TVD pada pasien sakit kritis tetap perlu dikontrol agar tidak terjadi perdarahan. Salah satu cara mengontrol pemberian heparin dengan memperhatikan jumlah trombosit. TujuanMembuktikan pengaruh pemberian heparin intravena sebagai profilaksis trombosis vena dalam (TVD) terhadap jumlah trombosit pada pasien sakit kritis di  ICU  RSUP dr. Kariadi Semarang.Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian diambil dari 15 catatan medis pasien RSUP dr. Kariadi Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemilihan sampel dengan mengumpulkan catatan medik dari pasien sakit kritis yang masuk ICU RSUP dr. Kariadi Semarang selama periode Januari 2012 sampai dengan Juni 2012 yang mendapat heparin intravena sebagai profilaksis TVD. Hasil pemeriksaan dibandingkan dengan datadasar dan diuji statistik. Data diolah dan dianalisis dengan menggunakan programsoftware komputer. Uji statistik menggunakan Wilcoxon Sign Rank Testdan derajat kemaknaan p =0,1. Hasil analisis data akan disajikan dalam bentuk tabel.Hasil Terdapat penurunan nilai trombosit pada hari kedua (24600,0 ± 46560,07; p=0,132) maupun hari ketiga (30186,7 ± 53488,88; p=0,047) pemberian heparin intravena sebagai profilaksis. Penurunan nilai trombosit pada hari kedua dengan nilai p > 0,1 tidak bermakna secara statistik, sedangkan  penurunan trombosit pada hari ketiga dengan p < 0,1 bermakna secara statistik.Kesimpulan Terdapat penurunan bermakna jumlah trombosit pada pasien sakit kritis di ICU RSUP dr. Kariadi setelah pemberian heparin intravena sebagai profilaksis trombosis vena dalam.