SIGIT SUPADMO ARIF
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Jl. Sosio Yusticia Bulaksumur Yogyakarta.

Published : 27 Documents
Articles

Found 27 Documents
Search

PENGEMBANGAN KONSEP SISTEM OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) DAERAH IRIGASI MULTIGUNA DENGAN MEMBANGUN KOMITMEN UNTUK BERBUAT KONSENSUS ANTAR PELAKU : SEBUAH KASUS DI JAWA TIMUR ARIF, SIGIT SUPADMO; PRABOWO, ABI; -, PURYANTO; -, DJITO
SOCA (SOCIO-ECONOMIC OF AGRICULTURRE AND AGRIBUSINESS) Vol. 7, No. 2 Juli 2007
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Jalan PB.Sudirman Denpasar, Bali, Indonesia. Telp: (0361) 223544 Email: soca@unud.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACT On May 2006, the Government of Republic Indonesia launched the Government Rule (GR) no 20/2006 on irrigation. This GR replaced the previous GR no 77/2001 in the same issue. The changing of GR means also changing of implementation policy. Some constraints problems occurred and came up to hamper policy implementation in the field. Most of them mainly related to the changing of institution structure. The paper aims to discuss how local government and Gadjah Mada University try to solve the problems by developing a concept of solution. In this connection a discussion forum among stakeholder was set up. In the forum, university as a neutral scientific institution does as facilitator. The concept was tried to be implemented in two multipurpose irrigation schemes i.e. Bondoyudo and Siman, respectively in the multi year’s basis. Those two schemes had several problems in irrigation management; one of them was conflict among users. In the first year some commitments and consensuses had already achieved by all stakeholders and would be implemented in the following years. Keywords: Irrigation, Policy, Concept, Discussion, Forum, Local Government, and University. ABSTRAK Peraturan Pemerintah No. 20/2006 tentang Irigasi telah dikeluarkan pada bulan Mei 2006 yang sekaligus menggantikan PP No. 77/2001. Penggantian tersebut berarti juga munculnya implementasi kebijakan baru yang akhirnya memunculkan beberapa permasalahan di lapangan, khususnya pada bidang institusional. Tulisan ini difokuskan pada peran Universitas Gadjah Mada sebagai fasilitator netral diskusi berbagai institusi pemerintah yang terkait dengan irigasi untuk saling berkomitmen menyelesaiakan permasalahan yang muncul setelah adanya PP No. 20/2006. Forum diskusi diterapkan di dua wilayah irigasi multiguna DI Bondoyudo (11.000 ha) dan DI Siman (22.000 ha). Multiguna menggambarkan sifat kemanfaatan air irigasi untuk pertanian tanaman pangan, ikan, tanaman perkebunan dan keperluan pabrik gula. Sifat multiguna yang terdapat dalam sistem irigasi di kedua DI akhirnya menimbulkan berbagai masalah bahkan konflik kepentingan diantara penggunanya. Pada tahun pertama penelitian (2006) telah dicapai komitmen diantara penggunanya. Kata kunci: Irigasi, Kebijakan, Konsep, Diskusi, Forum, Pemerintah Lokal, dan Universitas.
PERENCANAAN MANAJEMEN ASET IRIGASI (PMA): PENGEMBANGAN KONSEPSI DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA Arif, Sigit Supadmo; Prabowo, Abi; Suprapto, Anjar; Kurniawan, Judy
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 21, No 1 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The Government of Republic Indonesia had positively responded the emerging of new paradigm on irrigation management. Government Act No. 7/2004 on water resources as well as tile new Government Regulation No. 20/2006 on irrigation state about concept on good governance in management of water resources as well as irrigation management. One of implementation of the concept is application of irrigation management asset. The Department of Agricultural Engineering, Gadjah Mada University. Yogyakarta had been developed the concept of irrigation asset management plan since 1995. This paper aims to discuss the concept development and its implementation in several irrigation systems in Java. Even though some constraints were also found, in some extend the implementation of irrigation asset management plan could help the management of irrigation system in providing several information in transparent way to all stakeholder especially farmers. Diterima: 15 Pebruari 2007; Disetujui: 4 Maret 2007 
Drainage Problems In the Paddy Fields Arif, Sigit Supadmo
Agritech Vol 9, No 2 (1989)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.19044

Abstract

.
Kajian Aset Nirwujud dalam Manajemen Sistem Irigasi Waskitho, Nugroho Tri; Arif, Sigit Supadmo; Maksum, Moch; Susanto, Sahid
Agritech Vol 32, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9656

Abstract

The research aimed at studying on intangible assets at irrigation system management. The research method consisted oftwo stages. The first stage was data collecting which was done by questionnaire and interview on management of Water Use Associations (WUA) in Mejing irrigation system in Bantul, Sapon irrigation system in Kulon Progo, Yogyakarta, and Molek irrigation system in Malang, East Java. The second stage was data analysis which was done using ANFIS (Adaptive Neuro Fuzzy Inference System).The research result indicated that knowledge management falls into four main components: (i) learning organization, (ii) principle of organization, (iii) policy and strategy of organization, and (iv) information and communication technology which are integrated for controlling intangible assets in irrigation system. Intangible assets consisted of human capital, structural capital, and relation capital which are integrated for controlling performance of irrigation system. Knowledge management in Mejing and Sapon irrigation systems were in moderate-good condition (3.81 in1-5 scale) and in Molek irrigation system was poor (2.37). Intangible assets in Mejing, Sapon, and Molek irrigation systems were in moderate-good condition (3.61). Effectiveness of performance in Sapon, Mejing, and Molek irrigation systems were very good (0.89-0.95) and were very potential to develop. Each irrigation system had different prioritiesABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengkaji kondisi aset nirwujud dalam manajemen sistem irigasi ditinjau dari manajemenpengetahuan. Metode penelitian terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan kuesioner dan wawancara dengan pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di Daerah Irigasi (DI) Mejing di kabupaten Bantul, dan DI Sapon di kabupaten Kulon Progo, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan DI Molek di kabupaten Malang, Jawa Timur. Tahap kedua adalah analisa data yang dilakukan dengan ANFIS (Adaptive Neuro Fuzzy Inference System).Penelitian menghasilkan bahwa manajemen pengetahuan yang terdiri dari organisasi pembelajar, prinsip organisasi, kebijakan dan strategi organisasi, teknologi informasi dan komunikasi secara terpadu mempengaruhi aset nirwujud sistem irigasi. Aset nirwujud yang terdiri dari modal manusia, modal struktural dan modal hubungan secara terpadu mempengaruhi efektivitas sistem irigasi. Manajemen pengetahuan dalam sistem irigasi Mejing dan Sapon tingkat tersier dalam kondisi cukup baik (3,81 dalam skala 1-5) sedangkan dalam sistem irigasi Molek kondisinya jelek (2,37). Aset nirwujud dalam sistem irigasi Mejing, Sapon dan Molek tingkat tersier dalam kondisi cukup baik (3,61). Kinerja sistem irigasi yang ditunjukkan dengan nilai efektivitas dalam sistem irigasi Mejing, Sapon dan Molek sudah sangat baik (0,89-0,95) namun masih berpotensi untuk ditingkatkan. Sistem irigasi mempunyai prioritas yang berbeda dalam upaya peningkatan aset nirwujudnya. Dalam upaya peningkatan modal manusia sistem irigasi Molek, organisasi pembelajar merupakan prioritas pertama. Dalam upaya peningkatan modal struktural dan modal hubungan, kebijakan dan strategi organisasi mendapat prioritas pertama. Dalam sistem irigasi Sapon, prinsip organisasi merupakan prioritas pertama dalam upaya meningkatkan modal manusia, modal struktural dan modal hubungan. Dalam sistem irigasi Mejing, prinsip organisasi merupakan prioritas pertama dalam upaya meningkatkan modal hubungan. Sistem irigasi mempunyai prioritas yang berbeda pula dalam upaya peningkatan kinerja sistem irigasi. Dalam upaya peningkatan efektivitas sistem irigasi Mejing dan Molek, modal hubungan merupakan prioritas pertama, sedangkan dalam sistem irigasi Sapon, modal struktural merupakan prioritas yang pertama.
Analisis Spektral dalam Penentuan Periodisitas Siklus Curah Hujan di Wilayah Selatan Jatiluhur, Kabupaten Subang, Jawa Barat Susilokarti, Dyah; Arif, Sigit Supadmo; Susanto, Sahid; Sutiarso, Lilik
Agritech Vol 36, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.10688

Abstract

Rainfall data was studied to know how rainfall in the region has a span of time to form a repetitive pattern. The cycle is a change or a wave up and down within a period and repeated at other periods. The cycle has a frequency that can be completed in one period of time. Fourier transform is an algorithm to convert the time domain X to the domain or the frequency spectrum Y, by breaking the signal into a sinusoidal component. This study used the Fast Fourier Transform (FFT) to find the nature of the trend recurrence of rainfall in the southern region of Jatiluhur Subang. Simulation model was done using monthly rainfall data 1975 - 2012. The results showed a trend of rainfall in the study area was repeated every 12 months (1 cycle). Rainfall prediction was done by using a 5-year rainfall data and used the data observation of the next 5 years as a comparison result predicted to see the performance. Performance prediction was resulted using the Mean Square Error (MSE) used to obtain the difference between the standard derivation calculation of observed data and data modeling. The results of the analysis at the time of validation of the model was MSE    14.92 with a 95% confidence level. FFT used to calculate the value of the error (the difference between the values calculated by the ANN model and observed data) resulted in the change cycle of rainfall occurs over a period of months or approximately 71.68 months or 5-6 years.ABSTRAKData curah hujan dipelajari salah satunya untuk mengetahui bagaimana curah hujan di suatu wilayah mempunyai rentang waktu untuk membentuk suatu pola berulang. Siklus merupakan suatu perubahan atau gelombang naik dan turun dalam suatu periode serta berulang pada periode lain. Siklus mempunyai frekuensi yang dapat diselesaikan dalam 1 periode waktu. Transformasi Fourier merupakan algoritma untuk mengubah domain waktu X menjadi domain atau spectrum frekuensi Y, dengan cara menguraikan sinyal menjadi komponen sinusoidal.  Penelitian ini menggunakan metode Fast Fourier Trans!orm (FFT) untuk mencari sifat berulangnya trend curah hujan di wilayah selatan Jatiluhur Kabupaten Subang. Simulasi model menggunakan data curah hujan bulanan tahun 1975 - 2012. Hasilnya menunjukkan trend curah hujan di lokasi penelitian berulang setiap 12 bulan sekali (1 siklus). Prediksi curah hujan dilakukan dengan menggunakan data curah hujan 5 tahun dan menggunakan observasi data 5 tahun berikutnya sebagai pembanding hasil prediksi untuk melihat performa yang dihasilkan. Performa hasil prediksi menggunakan Mean Square Error (MSE) sebagai standar perhitungan derivasi perbedaaan antara data real dan data pemodelan. Hasil analisis pada saat validasi model didapatkan MSE    14,92 dengan tingkat kepercayaan 95%. Dengan menggunakan analisis FFT untuk menghitung nilai error (perbedaan antara nilai perhitungan model ANN dengan data sebenarnya), diperoleh perubahan siklus curah hujan terjadi dalam kurun waktu 71,68 bulan atau sekitar 5-6 tahun.
STUDI KOMPARASI PREDIKSI CURAH HUJAN METODE FAST FOURIER TRANSFORMATION (FFT), AUTOREGRESSIVE INTEGRATED MOVING AVERAGE (ARIMA) DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK (ANN) Susilokarti, Dyah; Arif, Sigit Supadmo; Susanto, Sahid; Sutiarso, Lilik
Jurnal Agritech Vol 35, No 02 (2015)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Optimum climate condition and water availability are essential to support strategic venue and time for plants to grow and produce.  Precipitation prediction is needed to determine how much precipitation will provide water for plants on each stage of growth. Nowadays, the high variability of precipitation calls for a prediction model that will accurately foreseethe precipitation condition in the future. The prediction conducted is based on time-series data analysis. The research aims to comparethe effectiveness of three precipitation prediction methods, which are Fast Forier Transformation (FFT), Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) and Artificial Neural Network (ANN).  Their respective performances are determined by their Mean Square Error (MSE) values.  Methods with highest correlation values and lowest MSE shows the best performance. The MSE result for FFT is 14,92; ARIMA is 17,49; and  ANN is 0,07. This research concluded that Artificial Neural Network (ANN) method showed best performance compare to the other two because it had produced a prediction with the lowest MSE value.Keywords: Precipitation prediction, Fast Forier Transformation (FFT), Autoregressive Integrated Moving Average ABSTRAKKondisi iklim dan ketersediaan air yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat diperlukan dalam upaya mendukung strategi budidaya tanaman sesuai ruang dan waktu. Prediksi curah hujan sangat diperlukan untuk untuk mengetahui sejauh mana curah hujan dapat memenuhi kebutuhan air pada setiap tahap pertumbuhantanaman. Variabilitas curah hujan yang tinggi saat ini, membutuhkan pemodelan yang dapat memprediksi secara akurat bagaimana kondisi curah hujan dimasa yang akan datang. Prediksi yang dilakukan adalah prediksi berdasarkan urutan waktu ().  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan akurasi prediksi curah hujan antara metode  (FFT),  (ARIMA) dan (ANN). Kinerja ketiga metode yang digunakan dilihat dari nilai  (MSE). Metode dengan nilai korelasi tertinggi dan nilai MSE terkecil menunjukkan kinerja terbaik. Hasil penelitan untuk FFT diperoleh nilai MSE = 14,92, ARIMA = 17,49 sedangkan ANN = 0,07. Ini menunjukkan bahwa metode   (ANN) menunjukkan kinerja yang paling baik diantara dua metode lainnya karena menghasilkan prediksi yangmempunyai nilai MSE terkecil.Kata kunci: Prediksi curah hujan,FFT, ARIMA dan ANN 
OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) IRIGASI MASA DEPAN Arif, Sigit Supadmo
Jurnal Agritech Vol 26, No 03 (2006)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah Gagasan Mengantisipasi Perubahan Kebijakan dan Lingkungan
Pengendalian Aset Nirwujud dalam Manajemen Sistem Irigasi: Konsep dan Pengembangan Model Waskitho, Nugroho Tri; Arif, Sigit Supadmo; Maksum, Mochammad; Susanto, Sahid
Agritech Vol 33, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9573

Abstract

Irrigation was an important component of the agricultural development in Indonesia, but it had many problems. Irrigation management was inefficient, irrigation networks were damaged and farmers participation were poor. These problems were caused by poor of intangible assets. The research aimed at developing the concept and the model of controlling intangible assets in irrigation system management. The research method consisted of two stages. The first stage was developing the concept. The concept of controlling intangible assets in irrigation system management was developed based on principles of knowledge management. The concept stated that intangible assets in irrigation system can be controlled using knowledge management. The second stage was developing the model which consisted of model building and sensivity analysis. Model of controlling intangible assets in irrigation system management was build using neuro-fuzzy. The model had three submodels: knowledge management, intangible assets and performance of irrigation system. Evaluating the model was done in Sapon irrigation system in Kulon Progo, Yogyakarta. Data collecting was done using questionnaire on nine Water Use Associations. Data analysis was done using Adaptive Neuro Fuzzy Inference System. The model had been evaluated using correlation coefficient, Mean Absolute Percentage Error and Root Mean Square Error. Result of the study indicated that the concept of controlling intangible assets in irrigation system management had developed based on knowledge management. The concept stated that irrigation system management had to balance between tangible assets and intangible assets. Intangible assets which had amortization need be controlled. Controlling intangible assets can be done by knowledge management. The model of controlling intangible assets in irrigation system management could predict intangible assets and performance of irrigation system well. The model linked knowledge management, intangible assets and performance of irrigation system.  Knowledge management felt into four main components: learning organization, principle of organization, policy and strategy of organization and information and communication technology which controlling intangible assets in irrigation system. Intangible assets consisted of moral intelligence, emotional intelligence, creative attitude, institutional culture, and farmer participation which  controlling effectiveness of irrigation system. Learning organization was the most sensitive parameter in influencing moral intelligence and creative attitute.  Policy and strategy were the most sensitive parameter in influencing emotional intelligence, institutional cultura and farmer participation. Farmer participation was the most sensitive parameter in influencing effectiveness of irrigation system.ABSTRAKIrigasi merupakan komponen penting dalam pembangunan sektor pertanian di Indonesia namun masih mempunyai banyak permasalahan. Manajemen irigasi belum efisien, partisipasi petani yang menurun, jaringan irigasi yang rusak sehingga menurunkan kinerja sistem irigasi. Permasalahan tersebut disebabkan rendahnya kualitas aset nirwujud sistem irigasi. Tujuan penelitian adalah mengembangkan konsep dan model pengendalian aset nirwujud dalam manajemen sistem irigasi. Metode penelitian terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah pengembangan konsep. Konsep pengendalian aset nirwujud dalam manajemen sistem irigasi dikembangkan dari prinsip manajemen pengetahuan. Tahap kedua adalah pengembangkan model yang terdiri dari pembangunan model dan analisis sensitivitas. Pembangunan model pengendalian aset nirwujud dalam manajemen sistem irigasi berbasis manajemen pengetahuan dengan prinsip neuro-fuzzy. Model mempunyai tiga submodel yaitu manajemen pengetahuan, aset nirwujud dan kinerja sistem irigasi. Pengujian model dilakukan di Daerah  Irigasi Sapon di Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner terhadap sembilan Perkumpulan Petani Pemakai Air. Analisa data dilakukan dengan   Adaptive Neuro Fuzzy Inference System. Model dievaluasi dengan koefisien korelasi, Mean Absolute Percentage Error dan Root Mean Square Error. Penelitian menghasilkan bahwa konsep pengendalian aset nirwujud dalam manajemen sistem irigasi telah tersusun berbasis manajemen pengetahuan. Konsep menekankan bahwa manajemen sistem irigasi harus menyeimbangkan antara aset wujud dengan aset nirwujud. Aset nirwujud yang selama ini kurang diperhatikan mengalami penyusutan sehingga perlu dikendalikan. Upaya pengendalian aset nirwujud dilakukan dengan manajemen pengetahuan. Model pengendalian aset nirwujud dalam manajemen sistem irigasi yang menggunakan prinsip neuro-fuzzy dapat memprediksi aset nirwujud dan efektivitas sistem irigasi dengan cukup memadai. Model menghubungkan manajemen pengetahuan, aset nirwujud dan kinerja sistem irigasi.  Manajemen pengetahuan yang terdiri dari organisasi pembelajar, prinsip organisasi, kebijakan dan strategi organisasi, teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi aset nirwujud sistem irigasi. Aset nirwujud yang terdiri dari kecerdasan moral, kecerdasan emosional, sikap kreatif, budaya lembaga, dan partisipasi petani mempengaruhi efektivitas sistem irigasi. Organisasi pembelajar merupakan parameter yang paling sensitif dalam mempengaruhi kecerdasan moral dan sikap kreatif.  Kebijakan dan strategi merupakan parameter yang paling sensitif dalam mempengaruhi kecerdasan emosional, budaya lembaga dan partisipasi petani. Partisipasi petani merupakan parameter yang paling sensitif dalam mempengaruhi efektivitas sistem irigasi.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN IKLIM BERDASARKAN DATA CURAH HUJAN DI WILAYAH SELATAN JATILUHUR KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT (Identification of Climate Change Based on Rainfall Data in Southern Part of Jatiluhur, Subang District, West Jawa) Susilokarti, Dyah; Arif, Sigit Supadmo; Susanto, Sahid; Sutiarso, Lilik
Jurnal Agritech Vol 35, No 01 (2015)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesian region is strongly influenced by the monsoon climatic conditions have obvious difference between wet season and dry season. Climate variability and extreme climate phenomenon that often happens lately caused climate change. Climate change is characterized by changes in rainfall patterns and its causes shifting early in the season thatmake it difficult to plan cultivation. It is therefore necessary to study the behavior of the climate through rainfall time series analysis. Statistical tests performed using the F test and t test. This study aims to identify climate change through pattern trends, distribution and similarity of rainfall data at different timescales, using rainfall data rainy season (Octoberto March) and the dry season (April to September) year period from 1975 to 2012. Data obtained from 6 (six) graduated rainfall stations around the study site those are Kalijati, Curugagung, Cinangling, Dangdeur, Subang and Pegaden. Data are grouped in 10-year period with a 4-year timing differences in accordance with the rules of the moving average. Theperiod 1975 -1984 was indicated as an initial period as a basis to look for changes in rainfall patterns that occur. F test shows there has been a change in the distribution of rainfall in every period than normal period. T test showed there has been a change in the pattern of rainfall in the dry season period from 1987 to 1996. While the rainy season is startingto look at the period from 1995 to 2004. Rainy season and the dry season period (1995-2004) shows a similar pattern with the normal period (1975 -1984) so   that it is possible in a certain period of climate change on the location of the cycle is approaching normal conditions.Keywords: Time seriesanalysis,precipitation, climatechange, Subangdistrict ABSTRAKWilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim monsun yang mempunyai perbedaan yang jelas antara musim basah dan musim kering.Variabilitas iklim dan adanya fenomena iklim ekstrim yang sering terjadi akhir akhir ini menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim ditandai adanya perubahan pola curah hujan yangmenyebabkan terjadinya pergeseran awal musim tanam sehingga sulit membuat perencanaan budidaya tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian prilaku iklim melalui analisis deret waktu curah hujan.Uji statistik dilakukan dengan menggunakan uji F dan uji t. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi terjadinya perubahan iklim melalui polakecenderungan, distribusi dan kesamaan data curah hujan pada rentang waktu yang berbeda, menggunakan data curah hujan musim hujan (Oktober – Maret) dan musim kemarau (April – September) periode tahun 1975 – 2012. Data diperoleh dari 6 stasiun penakar curah hujan di sekitar lokasi penelitian yaitu stasiun Kalijati, Curug agung, Cinangling,Dangdeur, Subang dan Pegaden. Data dikelompokkan dalam periode 10 tahunan dengan beda waktu 4 tahun sesuai dengan aturan moving average. Periode tahun 1975 -1984 menjadi periode awal sebagai dasar untuk melihat perubahan pola curah hujan yang terjadi. Uji F menunjukkan telah terjadi perubahan distribusi curah hujan disetiap periode dibanding periode normalnya. Uji t menunjukkan telah terjadi perubahan pola curah hujan musim kemarau sejak periode tahun 1987 – 1996. Sedangkan musim hujan mulai terlihat pada periode tahun 1995 – 2004. Musim hujan dan musim kemarau periode (1995-2004) menunjukkan pola yang sama dengan periode normal (1975-1984) sehingga dimungkinkan pada periode tertentu siklus perubahan iklim pada lokasi ini mendekati kondisi normal.Kata kunci: Analisis deret waktu, curah hujan, perubahan iklim, kabupaten Subang 
Conceptual Approach On Development of Tidal Farming From Water Management Aspect, A Case Study at Kalimantan, Indonesia Susanto, Sahid; Arif, Sigit Supadmo
Agritech Vol 7, No 1 (1987)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.18994

Abstract

A lot of tidal irrigation land development projects were carried out in several locations of Kalimantan for new settlement and food production. A continuous research has been conducted to develop tidal agricultural land since 1971. Based on the research, a new concept for redesigning and reconstructing of tertiary demonstration block (TDB) should be develop. A conceptual approach on development of tidal farming from water management aspect has been proposed. The concept is presented in a model named Micro Water Management Model (MWMM): The basic concept of MWMM is improvement of micro water management and then be followed by improvement of all aspects.