Articles

Found 16 Documents
Search

SPIRITUAL PASIEN PALIATIF DI RUMAH SAKIT, YOGYAKARTA Afifah, Milatul; Arianti, Arianti
Media Ilmu Kesehatan Vol 7 No 3: MIK Desember 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat FKes Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.751 KB)

Abstract

Background: Palliative care goal is to improve the quality of life of the patient. Spiritual is believed can improve the quality of life in palliative patients. Objective: The purpose of this research is to identify the spiritual status of palliative patients in PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta Hospital. Methods: This study is a non-experiment research. It used descriptive survey research method with 100 subjects which used total sampling technique. FACIT-Sp is choosen based on this validity(r=0,5) dan realibity (r=0,768) to get the spiritual status of the sample. Results: The result of univariate analysis showed that the spiritual level of palliative patients in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital with the mean values of 36,79 (0-48) and the spiritual component consisted of mean is 12,26 (0-16), faith is 12,85 (0-16) and peace 68 (0-16). Conclusion: The spiritual status of palliative patients at Muhammadiyah Gamping Yogyakarta Hospital in the categories of meaning, faith, peace and spiritual level most  have passed the cut of point, it showed that the palliative patient is headed to the good spiritual.   Keyword : Palliative care, spiritual, mean, faith, peace
Hubungan Antara Perawatan Kaki dengan Risiko Ulkus Kaki Diabetes di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Arianti, Arianti
IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices) Vol 2, No 1 (2015): Muhammadiyah Journal of Nursing
Publisher : IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.062 KB)

Abstract

Background: Diabetes Melitus (DM) is one of chronic diseases that exist in all countries in the world and keep growing signifi cantly from year to year. There were 366 million people with diabetes mellitus worldwide in 2011, and is expected to increase to 552 million people in 2030. Most of the people with diabetes live in low and middle income countries. Indonesia has 7.3 million people with diabetes in 2011, and is predicted to increase to 11.8 million in 2030. Long term complication from diabetes, both microvascular and macrovascular, can cause insuffi ciently blood supply to hills which can culminate to ulcer infection and will end with an amputation.Goal:The purpose of this research is to know the relationship between foot care and ulcer risk of diabetes foot.Methode: This research method is non experimental- correlational with cross sectional design. In this research, there are 45 respondents.Result:Based on bivariate analysis, it is known that self foot care (p=0.003) and footwear choice and usage (p=0.009 have significant correlation with ulcer risk of diabetic foot. Continued with multivariate analysis, self foot care related to ulcer risk with p<0.005 (p=0.01). People with diabetes who get good foot care have chance to prevent diabetes foot ulcer risk 14 times compared with people with diabetes who get poor foot care.Conclusion: The conclusion of this study are highly correlated independently foot care in the prevention of diabetic ulcers. Based on this study are expected for nurses to conduct a study to diabetic foot conditions and provide education about diabetic foot care.Key words: foot care, foot ulcer, diabetes melitus.
Status Cairan Pada Pasien Pasca Pembedahan di RS PKU Muhammadiyah Gamping Kurianto, Endar; Arianti, Arianti
IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices) Vol 2, No 2 (2018): Indonesian Journal Of Nursing Practices
Publisher : IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.292 KB)

Abstract

AbstrakLatar belakang : Tindakan pembedahan dapat menimbulkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang akan menyebabkan gangguan fisiologis yang berat apabila tidak diatasi. Pemantauan status kebutuhan cairan pada pasien pasca pembedahan diperlukan untuk memenuhi dan mempertahankan kebutuhan cairan dalam tubuh.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status cairan pada pasien pasca pembedahan di RS PKU Muhammadiyah Gamping.Metode : Penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan rancangan survei dan pendekatan cross-sectional, sampel dalam penelitian ini adalah 44 responden. Pengambilan data menggunakan metode wawancara dan observasi menggunakan lembar observasi pemantauan status cairan berdasarkan kebutuhan cairan dan balance cairan. Analisa data menggunakan metode univariat untuk menghitung distribusi frekuensi variabel yang telah ditetapkan.Hasil : Mayoritas responden memiliki kebutuhan cairan cukup dengan presentase sebanyak 31 orang (70,5 %) dan balance cairan kurang dengan presentase sebanyak 29 orang (65,9 %).Kesimpulan : Mayoritas responden pasca pembedahan di RS PKU Muhammadiyah Gamping memiliki kebutuhan cairan cukup, namun status balance cairan kurang. Diharapkan perawat dapat melakukan pengukuran kebutuhan cairan dan balance cairan pasien dengan tepat, selain itu peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lanjutan terkait faktor-faktor yang mempengaruhi balance cairan pada pasien pasca pembedahan.Kata kunci : Pembedahan, pasca pembedahan, cairan, kebutuhan cairan, balance cairan AbstractBackground: Surgery can cause fluid and electrolyte imbalances that will cause severe physiological disturbances if not treated. Monitoring fluid status in postoperative patients is needed to meet and maintain fluid requirements in the body. The purpose of this study was to determine fluid status in postoperative patients in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital.Method : This study used descriptive analytic with survey design and cross-sectional approach, the sample in this study were 44 respondents. Retrieval of data using interview method and observation using observation sheet monitoring fluid status based on fluid requirements and fluid balance. Data analysis uses the univariate method to calculate the specified frequency distribution of variables.Result : The majority of respondents have enough fluid requirement with a percentage of 31 people (70.5%) and less fluid balance with a percentage of 29 people (65.9%).Conclusion: The majority of respondents after surgery at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital had sufficient fluid requirements, but the balance status of fluids was lacking. It is expected that nurses can properly measure the fluid needs and fluid balance of patients, besides that the next researcher can conduct further research related to the factors that affect fluid balance in postoperative patients. Keywords: Surgery, post operative, fluid, fluid requirement, fluid balance
PERFORMANS ITIK PEDAGING (LOKAL X PEI Arianti, Arianti; Ali, Arsyadi
JURNAL PETERNAKAN Vol 6, No 2 (2009): September 2009
Publisher : JURNAL PETERNAKAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.985 KB)

Abstract

The study was conducted to determine the effect and maximum percentage of wa~supplementation in diet on the peformance of starter duct meaty (Lokal X Peking). Sixty day old duck (OOP) cross breed Lokal X Peking were used in completely randomized design with four treatments and three replications. They were fed . comercial ration (Bus 602-crumble) with four level of water sUPleJnenlation at 0 (A), 10 (B), 20 (q and 30% (0) of the total weight of fation. Supplementation of water in ration hom 10 to 30% were not significantly (P>O.05) different for all treatments for feed intake, daily gain, feedlgain (conversion) and water consumption of starter duct meaty (Lokal X Peking). Nevertheless, supplemented with10% of water in ration result the best performance of starter duct meaty (Lokal X Peking).
ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN POLYETHYLENE TEREPHALATE (PET) TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN LASTON AC-BC Arianti, Arianti; Nasrul, Nasrul; Balaka, Rudi
DINAMIKA – Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : HALUOLEO UNIVERSITY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.736 KB)

Abstract

Salah satu alasan utama kerusakan dan penurunan kekuatan perkerasan lentur jalan raya adalah rendahnya kekuatan dan keawetan di dalam lapisan aus dan bahan ikat konstruksi perkerasan jalan. Untuk menanggulangi hal ini dibutuhkan suatu bahan tambah yang dapat meningkatkan lapis aspal beton. Polyethylene Terephalate (PET) atau lebih dikenal dengan botol minuman bekas ternyata dapat dimanfaatkan sebagai polimer yang dapat meningkatkan kualitas campuran, yaitu karakteristik Marshallnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar aspal optimum (KAO) serta karakteristiknya pada campuran aspal beton dengan atau tanpa menggunakan Polyethylene Terephalate (PET). Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen dengan percobaan untuk mendapatkan hasil, dengan demikian akan terlihat pemanfaatan Polyethylene Terephalate (PET) paca campuran AC-BC, dengan variasi kadar PET 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% dengan 0% sebagai pembanding terhadap total campuran. Hasil penelitian menunjukkan KAO pada kadar PET 0% adalah 5,55 %, pada kadar PET 0,5% adalah 5,55 %, pada kadar PET 1% adalah 5,55 %, pada kadar PET 1,5% adalah 5,6 %, dan pada kadar 2% adalah 5,65 %. Penggunaan Polyethylene Terephalate (PET) mempengaruhi campuran AC-BC. Seiring meningkatnya kadar Polyethylene Terephalate (PET) maka akan meningkatkan stabilitas, meningkatkan VMA, menurunkan VIM, meningkatkan VFA, meningkatkan flow dan meningkatkan MQ. Hal ini bersifat baik bagi campuran karena dapat meningkatkan kualitas campuran ditinjau dari karakteristik mekanisnya. PET yang terbaik untuk karakteristik Marshallnya adalah pada kadar 2 %.
Hubungan Antara Perawatan Kaki dengan Risiko Ulkus Kaki Diabetes di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Arianti, Arianti
Muhammadiyah Journal Of Nursing Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Muhammadiyah Journal Of Nursing

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.605 KB)

Abstract

Background: Diabetes Melitus (DM) is one of chronic diseases that exist in all countries in the world and keep growing signifi cantly from year to year. There were 366 million people with diabetes mellitus worldwide in 2011, and is expected to increase to 552 million people in 2030. Most of the people with diabetes live in low and middle income countries. Indonesia has 7.3 million people with diabetes in 2011, and is predicted to increase to 11.8 million in 2030. Long term complication from diabetes, both microvascular and macrovascular, can cause insuffi ciently blood supply to hills which can culminate to ulcer infection and will end with an amputation.Goal:The purpose of this research is to know the relationship between foot care and ulcer risk of diabetes foot.Methode: This research method is non experimental- correlational with cross sectional design. In this research, there are 45 respondents.Result:Based on bivariate analysis, it is known that self foot care (p=0.003) and footwear choice and usage (p=0.009 have significant correlation with ulcer risk of diabetic foot. Continued with multivariate analysis, self foot care related to ulcer risk with p<0.005 (p=0.01). People with diabetes who get good foot care have chance to prevent diabetes foot ulcer risk 14 times compared with people with diabetes who get poor foot care.Conclusion: The conclusion of this study are highly correlated independently foot care in the prevention of diabetic ulcers. Based on this study are expected for nurses to conduct a study to diabetic foot conditions and provide education about diabetic foot care.Key words: foot care, foot ulcer, diabetes melitus.
Penerapan Metode Bayesian Network Model Untuk Menghitung Probabilitas Penyakit Sesak Nafas Bayi Hasniati, Hasniati; Arianti, Arianti; Philip, William
JURNAL REKAYASA TEKNOLOGI INFORMASI Vol 2, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.842 KB)

Abstract

Bayesian Network dapat digunakan untuk menghitung probabilitas dari kehadiran berbagai gejala penyakit. Dalam tulisan ini, penulis menerapkan bayesian network model untuk menghitung probabilitas penyakit sesak nafas pada bayi. Bayesian network diterapkan berdasar pada data yang diperoleh melalui wawancara kepada dokter spesialis anak yaitu data nama penyakit, penyebab, dan gejala penyakit sesak nafas pada bayi. Struktur Bayesian Network penyakit sesak nafas bayi dibuat berdasarkan ada tidaknya keterkaitan antara gejala terhadap penyakit sesak nafas. Untuk setiap gejala yang direpresentasikan pada struktur bayesian network mempunyai estimasi parameter yang didapat dari data yang telah ada atau pengetahuan dari dokter spesialis. Data estimasi ini disebut nilai prior probaility atau nilai kepercayaan dari gejala penyakit sesak nafas bayi. Setelah diketahui prior probability, langkah berikutnya adalah menentukan Conditional probability (peluang bersyarat) antara jenis penyakit sesak nafas dengan masing-masing gejalanya. Pada langkah akhir, nilai posterior probability dihitung dengan mengambil nilai hasil joint probability distribution (JPD) yang telah diperoleh, kemudian nilai inilah yang digunakan untuk menghitung probabilitas kemunculan suatu gejala. Dengan mengambil satu contoh kasus bahwa bayi memiliki gejala sesak, lemah, gelisah dan demam, disimpulkan bahwa bayi menderita penyakit sesak nafas Pneumoni Neonatal sebesar 0,1688812743.
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mandiri Berbasis Soal Terbuka dalam Pembelajaran Kalkulus pada Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Makassar Arianti, Arianti; Hardiyanto, Hardiyanto
MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN Vol 6, No 1 (2018): MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.59 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran mandiri berbasis soal terbuka berupa Satuan Acara Perkuliahan (SAP) dan Modul. Proses Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mandiri Berbasis Soal Terbuka ini mengikuti model pengembangan Plomp, yaitu: (1) Fase Investigasi Awal (Preliminary Investigation Phase), mencakup kajian teori pendukung, analisis masalah pembelajaran, analisis kurikulum, analisis karakteristik mahasiswa, dan analisis konsep, (2) Fase Perancangan (Design Phase), pada fase ini dirancang perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian yang dibutuhkan, (3) Fase Realisasi/Konstruksi (Realization/Construction Phase), pada fase ini dilakukan penyusunan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian berdasarkan rancangan pada fase perancangan, dan (4) Fase Tes, Evaluasi, dan Revisi (Test, Evaluation and Revision Phase), pada fase ini dilakukan dua kegiatan utama, yaitu: (a) Validasi perangkat pembelajaran dan (b) Uji Coba. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran yang diperoleh yaitu (1) perangkat pembelajaran telah memenuhi kriteria kevalidan (valid: 2,5 M < 3,5) berdasarkan nilai rata-rata total validasi oleh dua orang validator terhadap SAP sebesar 3,48 dan Modul sebesar 3,42, (2) perangkat pembelajaran yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria kepraktisan (terlaksana seluruhnya: 1,5 ≤ M ≤ 2,0) berdasarkan nilai rata-rata total aspek keterlaksanaan pembelajaran dari dua orang pengamat sebesar 1,54, (3) perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat dikatakan efektif karena ketuntasan belajar mahasiswa secara klasikal sebesar 87% telah memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu minimal 85% mahasiswa, sebanyak 24 atau 61% mahasiswa memiliki nilai kreativitas di atas nilai minimal 65, aktivitas mahasiswa dapat dikatakan ideal karena setiap kegiatan berada pada interval toleransi waktu yang diberikan, serta sebanyak 75% mahasiswa memberikan respons positif terhadap perangkat dan pelaksanaan pembelajaran. Kata kunci: Perangkat Pembelajaran Mandiri, Soal Terbuka, Kalkulus   Abstract The research aims was conducted to develop independent learning devices with open-questfon basis in fomrs of Satuan Acara Perkuliahan (SAP) or Course Unit and Module. The development process of independent learning devices with open-questions basis refered to Plomp's development model, namely: (1) Preliminary Investigation Phase, consisted of theoretical literature study, learning problem analysis, curriculum analysis, students’ characteristics analysis, and conceptual analysis; (2) Design phase, where the researcher designed the necessary learning devices and research instruments; (3) Realization/ Construction phase, where the researcher produced the learning devices amd research instruments based on the design form of the design phase; (4) Test, evaluation and revision phase, conducted in two main activities: (a) Learning devices validation, and (b) Trial process. The results of development of learning devices reveal that: (1) the learning devices have met validation criteria (valid: 2.5 ≤ M ≤ 3.5) based on validation average score of two assessors on SAP is 3.48, and the module is 3.42, (2) the development of learning devices have met the practical criteria (implemented entirely: 1.5 ≤ M ≤ 2.0) based on the average score of learning implementation aspect from two observer, 1.54; (3) the development of leaming devices is stated as effective because the students' classical learning completeness is 87% which have met the completeness criteria, where minimal 85% of the sfudents, 24 students or 61% of them obtain creative score above minimal standard of 65, students' activity can be stated as ideal because each activity is in the tolerant given time, and 75% of the students give positive response to learning instruments and learning process. Keyword: Independent Learning Devices, Open-Questions, Calculus
PENERAPAN METODE BAYESIAN NETWORK MODEL PADA SISTEM DIAGNOSA PENYAKIT SESAK NAFAS BAYI Hasniati, Hasniati; Arianti, Arianti; Philip, William
IKRA-ITH INFORMATIKA : Jurnal Komputer dan Informatika Vol 3 No 2 (2019): IKRA-ITH INFORMATIKA Vol 3 No 2 Bulan Juli 2019
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.92 KB)

Abstract

Dalam tulisan ini dibahas penerapan Bayesian Network pada sistem diagnosa penyakit sesak nafas pada bayi. Data yang diambil adalah data berdasarkan wawancara dengan dokter spesialis yang profesional di bidang kesehatan khususnya pada bayi dan anak. Dengan melihat permasalahan yang ada, bahwa hampir semua orang tua pasti khawatir jika bayinya terkena penyakit, apalagi penyakit itu adalah gangguan pada pernafasan bayi yang sangat sering dan banyak bayi alami. Sistem diagnosa bertindak layaknya seorang pakar atau dokter, dimana pada sistem ini terdapat data gejala-gejala dari gangguan pernafasan pada bayi dari hasil wawancara. Data-data gejala kemudian diolah dengan metode Bayesian network untuk menghitung probabilitas penyakit sesak nafas pada bayi. Langkah-langkah dalam penerapan Bayesian network dimulai dari penentuan parameter, membuat conditional probability table (CPT), menentukan Join Probability Distribution (JPD), menghitung posterior probability, dan terakhir melakukan inferensi probabilistik. Berdasarkan probabilitas penyakit sesak nafas pada bayi ini, dihasilkan diagnosa sementara mengenai kemungkinan penyakit yang diderita oleh bayi.
Efektifitas Edukasi Video Animasi Mobilisasi Dini Dengan Kecepatan Pemulihan Kemampuan Berjalan Pada Pasien Pasca Pembedahan Arianti, Arianti
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 5 (2018): FEBRUARI 2018
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.432 KB)

Abstract

Mobilisasi merupakan faktor utama dalam mempercepat pemulihan dan pencegahan komplikasi pasca bedah.Pemberian edukasi tentang pentingnya mobilisasi sebaiknya diberikan kepada pasien pembedahan, guna untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pasien untuk melakukan mobilisasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif Quasy Experimental, dengan rancangan penelitian posttest with control group design. Tiga puluh responden yang memenuhi kriteria inklusi selanjutnya dibagi dalam 15 orang responden pada kelompok eksperimen dan kontrol. Pengukuran kecepatan kemampuan berjalan menggunakan format observasi dilakukan sejak jam ke-0 pasca pembedahan. Terdapat perbedaan kecepatan pemulihan kemampuan berjalan pada kelompok kontrol dan intervensi. Kecepatan berjalan pada kelompok kontrol adalah 51,4 jam, sedangkan pada kelompok intervensi adalah 34,33 jam.  Hasil uji independent sample test ditemukan nilai signifikansi p=0,000. Pemberian edukasi video animasi mobilisasi dini mampu meningkatkan kecepatan pemulihan kemampuan berjalan pada pasien pasca pembedahan. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dapat menggunakan edukasi dengan video animasi mobilisasi dini untuk mempercepat pemulihan kemampuan berjalan pasien pasca pembedahan.