Articles

Found 9 Documents
Search

Management of Infantil Hemangioma Argentina, Fifa; Sibero, Hendra Tarigan
JUKE Unila Vol 4, No 07 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

~
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN ERYTHEMA NODOSUM LEPROSUM (ENL) DI RSUP DR MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG Gunawan, Anggraini Tiara Septiyana; Argentina, Fifa; Subandrate, Subandrate
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 51, No 2 (2019): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/MKS.v51i2.8531

Abstract

Erythema Nodosum Leprosum (ENL) adalah komplikasi kusta berupa reaksi hipersensitivitas tipe III dengan peradangan akut karena respon berlebihan tubuh terhadap M. leprae. Diagnosis kasus lebih awal, penanganan yang tepat terhadap reaksi kusta dan identifikasi pasien kusta yang memiliki risiko terjadinya komplikasi adalah sebuah tahapan untuk mencegah kecacatan yang disebabkan oleh kusta. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis hubungan faktor risiko dengan kejadian Erythema Nodosum Leprosum  (ENL) pada pasien kusta di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian adalah rekam medik pasien kusta di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2015- Desember 2017 yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Selanjutnya, dianalisis secara bivariat dan multivariat untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh. Penelitian ini menggunakan 123 rekam medik pasien kusta yang memenuhi kriteria inklusi dengan 43 pasien (35%) kusta mengalami reaksi kusta tipe ENL. Faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya reaksi pada pasien kusta tipe ENL adalah indeks bakteri ?2+ (p=0,000) dan lama pengobatan ?1 tahun (p=0,032).
Relationship of Scabies With Pioderma: As a Risk Factor Yahya, Yulia Farida; Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v1i1.6

Abstract

Scabies is a parasitic infestation of the skin, that is affecting on the low income and crowded community in many tropical countries, especially developing countries such as Indonesia. Scabies infestation increases the incidence of secondary pyoderma include impetigo, folliculitis, cellulitis, ecthyma, abscess. Secondary pyoderma is a skin infection disease mainly caused by     group A Streptococcus (GAS) and Staphylococcus aureus (SA). Pyoderma is a risk factor for the glomerulonephritis infection, rheumatic diseases, which significantly increases morbidity and mortality, causing the government burden. The aim of this study is  determining the etiology and correlation of pyoderma infection in scabies patient. To determine sosio-demographic included sex, age in pediatric patients in primary schools (SD) in the district of Kertapati Palembang. The study design was cross sectional, and study samples were new scabies patients in the elementary school (age 6-14-year-old) with or without pyoderma. Clinical findings included history, physical examination and diagnostic procedure, which was investigation of skin scraping specimen material (SSB = skin surface biopsy) in confirmation with dermoscopic polar examination (DS) to show Sarcoptes scabiei mites. Microbiological examination with Gram stain identified the etiology of pyoderma.  Results of this study shows that there was a significance relationship between scabies infestation and pyoderma in children in elementary school. Staphylococcus aureus dan GAS are the most common caused of pyoderma in pediatric patients with scabies. Conclusion is there is a significant correlation between scabies and pyoderma. There is  a need to provide scabies and pyoderma medication at primary care health center as well as counseling for prevention in Palembang area with crowded population periodically.  
Peran Antimicrobial peptide (AMP) pada kusta Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Andarini, Febrina

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v2i2.61

Abstract

Antimicrobial peptides (AMP) berfungsi sebagai sistem pertahanan innate tubuh pada banyak organisme. Antimicrobial peptide ini memiliki peran dalam respon sistem imunitas dengan cara menjadi garis depan sistem pertahanan melawan infeksi. Ditemukan ada beberapa AMP pada manusia dan mamalia. Namun pada pembahasan makalah ini akan difokuskan pada cathelicidin (LL-37) dan human β-defensin-1 (HBD-1), HBD-2, HBD-3, yang merupakan AMP paling banyak pada manusia. Peran AMP penting terutama terhadap penyakit infeksi. Pada penelitian terbaru ditemukan berbagai peran AMP terhadap penyakit kusta. Antimicrobial peptides dapat juga mengaktifkan dan mengerahkan sel imun, sehingga mengakibatkan penghancuran mikroba dan/atau mengontrol inflamasi. Antimicrobial peptide berperan dalam membunuh mikobakteri pada lesi kusta dan sehingga dapat dihubungkan dengan bentuk klinis penyakit tersebut, namun mekanisme kerja AMP masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Kusta ditandai dengan spektrum klinis luas berdasarkan respon imunitas seluler host. Manifestasi klinis dan klasifikasi kusta berhubungan dengan tipe respon imun yang terjadi. Pola ekspresi dan regulasi AMP spesifik pada setiap tipe sel pada masing-masing organ. Telah banyak penelitian mengenai AMP pada berbagai kondisi kulit. Pada keadaaan infeksi, sangat penting untuk mengaktifkan respon imun guna menarik sel imun lain dan juga mengontrol inflamasi.
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU PERAWATAN VAGINA TERHADAP KEJADIAN KEPUTIHAN PATOLOGIS PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA Sukamto, Neubrina Raesuky; Yahya, Yulia Farida; Handayani, Dwi; Argentina, Fifa; Liberty, Iche Andriyani
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 4 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keputihan (leukorea, flour albus, vaginal discharge) adalah sekret yang berlebihan dari vagina selain darah haid, dan tidak disebabkan neoplasma atau penyakit sistemik. Keputihan dapat bersifat fisiologis (normal) dan patologis (abnormal).. Pengetahuan dan perawatan yang baik dalam menjaga kebersihan organ reproduksi dapat memelihara kesehatan reproduksi. Kurangnya pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam perawatan vagina diyakini berpengaruh terhadap kejadian keputihan patologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku perawatan vagina terhadap kejadian keputihan patologis pada mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah semua mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya angkatan 2015-2018.Dari 599 responden, faktor berpengaruh bermakna terhadap terjadinya keputihan patologis adalah pengetahuan (p= 0,044), sikap (p= 0,041) dan perilaku (p= 0,000) sesuai dengan hasil multivariat.pengetahuan, sikap, dan perawatan vagina merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian keputihan patologis
Riskfactors of scabies in students of Aulia Cendikia Islamic BoardingSchool, Palembang Argentina, Fifa; Harahap, Debby Handayati; Lusiana, Evi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 6, No 3 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V6I3.9851

Abstract

Abstract.Scabies is a skin disease caused by infestation and sensitization of Sarcoptesscabiei var. hominis. Scabies can infect everyone at all ages, races, genders and social economic levels. This disease is usually found in places such as dormitories, orphanages, prisons, islamic boarding schools that lack personal hygiene. Observational analytic research with cross sectional design has been carried out at boarding school Aulia Cendikia in Palembang from June to December 2017. There were 199 samples of students of Aulia Cendikia boarding school in Palembang city that met the inclusion criteria. In this study, there were no age differences between students with or without scabies (p = 0.374; p> 0.05). This study showed that the number of people per room was the factor that most contributed to the incidence of scabies (PR = 2.746, p = 0.002) followed by personal hygiene (PR = 2.333, p = 0.007) and gender (PR = 2.068, p = 0.019). Number of people in the room, personal hygiene and gender are risk factors for scabies at the Aulia Cendikiaislamic boarding school in Palembang.
UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT KULIT PADA BAYI MELALUI PENYULUHAN PERAWATAN KULIT SEHAT Argentina, Fifa
Jurnal Pengabdian Sriwijaya Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Pengabdian Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit merupakan organ tubuh terluar yang berhubungan langsung dengan lingkungan sehingga berperan sebagai pelindung organ dalam. Untuk menjaga kesehatan kulit diperlukan perlindungan dan perawatan secara tepat dan teratur dengan memperhatikan berbagai aspek termasuk usia dan kondisi kulit.  Berdasarkan usia kronologik, kulit dibagi menjadi kulit bayi (0-1 tahun), kulit anak-anak (2-12 tahun), kulit remaja (13-19 tahun), kulit dewasa muda (20-40 tahun), kulit dewasa usia pertengahan (40-60 tahun), dan kulit usia lanjut (>60 tahun). Penggolongan lain berdasar kondisi kulit meliputi kulit normal, berminyak, dan kering.Cara perawatan kulit yang baik dan benar tidak selalu sama untuk setiap orang. Perawatan kulit bayi berbeda dengan kulit remaja atau usia lanjut. Dalam melakukan perawatan kulit bayi harus diingat bahwa kulit bayi berbeda dengan kulit dewasa. Kulit bayi relatif lebih tipis dan perlekatan antar sel masih longgar. Produksi kelenjar keringat dan kelenjar sebasea lebih sedikit. Hal tersebut menyebabkan potensi mengalami iritasi meningkat, dan lebih rentan terhadap infeksi, terutama yang disebabkan bakteri. Kulit bayi memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami alergi kontak. Meningkatnya permeabilitas perkutan terjadi terutama pada bayi prematur,  kulit yang rusak, dan  kulit daerah skrotum. Perbandingan luas permukaan kulit terhadap  volume cairan tubuh relatif lebih besar sehingga risiko peningkatan bahan toksik di dalam darah lebih tinggi. Tujuan perawatan kulit pada bayi berhubungan dengan fungsi-fungsi pertahanan kulit bayi yang masih belum sempurna. Perawatan kulit bayi ditujukan untuk mencegah atau mengurangi terjadinya iritasi, serta mempertahankan fungsi utama kulit sebagai pelindung.Kegiatan yang dilaksanakan di Pos Kesehatan Kelurahan Tanjung Jering dengan sasaran kader kesehatan, bidan desa, dan ibu-ibu yang memiliki balita. Pelaksanaan kegiatan berupa penyuluhan dan demonstrasi cara memandikan bayi dan perawatan bayi setaelah mandi dan dalam keihidupan sehari-hari. Pelaksana kegiatan terdiri dari Dokter spesialis Kulit dan Kelamin, dokter umum, serta dibantu oleh dua orang mahasiswa yang telah memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai perawatan kulit bayi. Peserta kegiatan akan mendapatkan leaflet yang berisi informasi tata cara perawatan bayi, menonton video perawatan bayi, serta memperagakan langsung cara perawatan bayi menggunakan alat peraga. Peserta dapat berdiskusi langsung dengan narasumber dan mendapatkan salinan informasi dalam bentuk CD untuk dipelajari ulang Dari kegiatan yang dilakukan terlihat warga masyarakat yag hadir sangat antusias untuk mengikuti kegiatan pengabdian ini. Hal ini dapat diketahui dengan banyaknya pertanyaan yang muncul setelah penyuluhan diberikan. Pertanyaan tidak hanya terbatas pada penyakit kulit pada bayi, tetap peserta yang hadir juga melakukan konsultasi serta diperiksa kulitnya. Akhir kegiatan berupa penyerahan alat perawatan kesehatan bayi, leaflet, dan brosur kepada bidan dan kader kesehatan. Perlu dilakukan kegiatan pengabdian yang berkesinambungan dengan topik-topik penyakit yang berbeda juga pengabdian berupa pelayanan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada masyarakat sehingga selain mendapatkan pengetahuan yang baru juga dapat menikmati langsung pelayanan kesehatan.
Relationship of Scabies With Pioderma: As a Risk Factor Yahya, Yulia Farida; Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana
SRIWIJAYA JOURNAL OF MEDICINE Vol 1 No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v1i1.6

Abstract

Scabies is a parasitic infestation of the skin, that is affecting on the low income and crowded community in many tropical countries, especially developing countries such as Indonesia. Scabies infestation increases the incidence of secondary pyoderma include impetigo, folliculitis, cellulitis, ecthyma, abscess. Secondary pyoderma is a skin infection disease mainly caused by     group A Streptococcus (GAS) and Staphylococcus aureus (SA). Pyoderma is a risk factor for the glomerulonephritis infection, rheumatic diseases, which significantly increases morbidity and mortality, causing the government burden. The aim of this study is  determining the etiology and correlation of pyoderma infection in scabies patient. To determine sosio-demographic included sex, age in pediatric patients in primary schools (SD) in the district of Kertapati Palembang. The study design was cross sectional, and study samples were new scabies patients in the elementary school (age 6-14-year-old) with or without pyoderma. Clinical findings included history, physical examination and diagnostic procedure, which was investigation of skin scraping specimen material (SSB = skin surface biopsy) in confirmation with dermoscopic polar examination (DS) to show Sarcoptes scabiei mites. Microbiological examination with Gram stain identified the etiology of pyoderma.  Results of this study shows that there was a significance relationship between scabies infestation and pyoderma in children in elementary school. Staphylococcus aureus dan GAS are the most common caused of pyoderma in pediatric patients with scabies. Conclusion is there is a significant correlation between scabies and pyoderma. There is  a need to provide scabies and pyoderma medication at primary care health center as well as counseling for prevention in Palembang area with crowded population periodically.  
Peran Antimicrobial peptide (AMP) pada kusta Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Andarini, Febrina
SRIWIJAYA JOURNAL OF MEDICINE Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v2i2.61

Abstract

Antimicrobial peptides (AMP) berfungsi sebagai sistem pertahanan innate tubuh pada banyak organisme. Antimicrobial peptide ini memiliki peran dalam respon sistem imunitas dengan cara menjadi garis depan sistem pertahanan melawan infeksi. Ditemukan ada beberapa AMP pada manusia dan mamalia. Namun pada pembahasan makalah ini akan difokuskan pada cathelicidin (LL-37) dan human ?-defensin-1 (HBD-1), HBD-2, HBD-3, yang merupakan AMP paling banyak pada manusia. Peran AMP penting terutama terhadap penyakit infeksi. Pada penelitian terbaru ditemukan berbagai peran AMP terhadap penyakit kusta. Antimicrobial peptides dapat juga mengaktifkan dan mengerahkan sel imun, sehingga mengakibatkan penghancuran mikroba dan/atau mengontrol inflamasi. Antimicrobial peptide berperan dalam membunuh mikobakteri pada lesi kusta dan sehingga dapat dihubungkan dengan bentuk klinis penyakit tersebut, namun mekanisme kerja AMP masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Kusta ditandai dengan spektrum klinis luas berdasarkan respon imunitas seluler host. Manifestasi klinis dan klasifikasi kusta berhubungan dengan tipe respon imun yang terjadi. Pola ekspresi dan regulasi AMP spesifik pada setiap tipe sel pada masing-masing organ. Telah banyak penelitian mengenai AMP pada berbagai kondisi kulit. Pada keadaaan infeksi, sangat penting untuk mengaktifkan respon imun guna menarik sel imun lain dan juga mengontrol inflamasi.