Articles

Found 20 Documents
Search

RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI HASIL SELEKSI TERHADAP PEMBERIAN ASAM ASKORBAT DAN INOKULASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR DI TANAH SALIN Ardiansyah, Muhammad; Mawarni, Lisa; Rahmawati, Nini
AGROEKOTEKNOLOGI Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara-Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.951 KB)

Abstract

Using of saline land to grow up soybean has constraints such yield decreasing. By using ofsaline tolerant soybean, using ascorbate acid, and inoculation of mychorrizha vesicular arbuscular(MVA) aimed to increasing growth and yield of soybean in saline land.This research was conductedat Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang in Februari – Mei 2013, using split split plotdesign with three factors, i.e. variety of saline tolerant soybean (Grobogan no selection andGrobogan F4 selection), giving of ascorbate acid (0 dan 500 ppm) and MVA isolate (MVA type 1,type 2, type 3, type 4 and type 5). Parameter observed were plant height, number of leaves, numberof productive branches, production per plant.The result of the research showed that using of salinetolerant soybean significantly increase all parameters observed. Giving of ascorbate acidsignificantly increase number of productive branches. Inoculation of MVA significantly effect allparameters observed. Interaction between variety of saline tolerant soybean and giving ascorbateacid were not significantly effect all parameters observed. Interaction between variety of salinetolerant soybean and giving of MVA significantly effected number of leaves 5 week after planting(WAP) and production per plant. Interaction between giving of ascorbate acid and MVA were notsignificantly effect all parameters observed. Interaction of three factors were not significantly effectall parameters observed.Keyword : ascorbate acid, michoryza vasicular arbuscular, salinity, soybean
ENCOURAGING STUDENTS’ SPEAKING SKILL BY USING DISCUSSION WEB STRATEGY COMBINED WITH ACADEMIC CONTROVERSY STRATEGY FOR SENIOR HIGH SCHOOL Ardiansyah, Muhammad; Handayani, Handayani
Pendidikan Bahasa Inggris Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Mahasiswa Bahasa Inggris Genap 2012-2013
Publisher : Pendidikan Bahasa Inggris

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPengajaran berbicara dalam bahasa Inggris (Speaking)  adalah krusial bagi siswa. Bagi siswa pada sekolah menengah atas (SMA), mereka harus bisa menguasai kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris (speaking). Dalam aplikasi pembelajaran bahasa Inggris, banyak siswa masih memiliki permasalahan dalam berbicara bahasa inggris (speaking). Banyak siswa yang tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan aktif, ini disebabkan oleh mereka tak punya kesempatan yang lebih untuk meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris.Dalam makalah ini, penulis membahas bagaimana pengajaran speaking melalui penggunaan kombinasi strategi Discussion Web dan strategi Academic Controversy. Strategi kombinasi ini mempermudah guru dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara dalam bahasa Inggris. Selain itu strategi kombinasi ini juga meningkatkan kemampuan analisis, kritis, serta mengambil kesimpulan terhadap sebuah permasalahan. Strategi Discussion Web meningkatan kemampuan siswa dalam menganalisis sebuah permasalahan melalui grup. Strategy Academic Controversy  membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris (Speaking) melalui debate. Tujuan penggabungan dua strategi ini adalah supaya siswa mendapatkan kesempatan lebih dalam proses pembelajaran. Penulis berharap agar strategi kombinasi ini bisa menjadi panduan bagi guru dalam mengajar teks Analitycal Exposition.  
DETEKSI KONDISI KETAHANAN PANGAN BERAS MENGGUNAKAN PEMODELAN SPASIAL KERENTANAN PANGAN Dirgahayu, Dede; Jaya, I Nengah Surati; Purwadhi, Florentina Sri Hardiyanti; Ardiansyah, Muhammad; Triwidodo, Hermanu
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.412 KB) | DOI: 10.29244/jpsl.2.2.85

Abstract

In 2005 and 2009, BKP and WFP has provided food security conditions in Indonesia on Food Insecurity Map which were developed using food availability, food accessibility, food absorption and food vulnerability. There are 100 out of 265 districts in Indonesia or about 37,7%, which fall into the vulnerable to very vulnerable categories, where 11 districts were found in Java. The main objective of this research is to develope a spatial model of the rice production vulnerability (KPB) based on Remote Sensing and GIS technologies for estimating the food insecurity condition. Several criteria used to obtain food vulnerability information are percentage level of green vegetation (PV), rainfall anomaly (ACH), land degradation due to erosion (Deg), and paddy harvest failure due to drought and flood in paddy field (BK). Dynamic spatial information on the greenness level of land cover can be obtained from multitemporal EVI (Enhanced vegetation Index) of MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) data. Spatial information of paddy harvest failure caused by drought and flood was estimated by using vegetation index, land surface temperature, rainfall and moisture parameters with advance image processing of multitemporal EVI MODIS data. The GIS technology were used to perform spatial modelling based on weighted overlay index (multicriteria analysis). The method for computing weight of factors in the vulnerability model was AHP (Analytical Hierarchy Process). The spatial model of production vulnerability (KPB) developed in this study is as follows: KPB = 0,102 PV + 0,179 Deg + 0,276 ACH + 0,443 BK. In this study, level of production vulnerability can be categorized into six classes, i.e.: (1) invulnerable; (2) very low vulnerability; (3) low vulnerability; (4) moderately vulnerable; (5) highly vulnerable; and (6) extremely vulnerable. The result of spatial modelling then was used to evaluate progress production vulnerability condition at several sub-districts in Indramayu Regency. According to the investigation results of WFP in 2005, this area fall into moderately vulnerable category. Only few sub-districts that fall into highly and extremely vulnerable during the period of May ~ August 2008, namely: Kandanghaur, Losarang, part of Lohbener, and Arahan.Keywords: remote sensing, GIS, food vulnerability, vegetation index, AHP
ANALISIS HUBUNGAN KODE-KODE SPBK (SISTEM PERINGKAT BAHAYA KEBAKARAN) DAN HOTSPOT DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KALIMANTAN TENGAH Prasasti, Indah; Boer, Rizaldi; Ardiansyah, Muhammad; Buono, Agus; Syaufina, Lailan; Vetrita, Yenni
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.01 KB) | DOI: 10.29244/jpsl.2.2.101

Abstract

Land and forest fire is one of causes ofland degradation in Central Kalimantan. Remote sensing dataapplications, especially READY-ARL NOAA and CMORPH data, are benefit forthe available climate observation data. The objectives of this research are: (1) to analyzis relationship between hotspots, FDRS and occurences of land and forest fire, and (2) to develop the estimation model of burned area from hotspot and FDRS codes. The result of this research showed that burned area can not be estimated by using number of hotspots. The drought code (DC) wich is one of FDRS codes has correlation with burned area. So, burned area can be estimated using drought code (DC) (R-sq = 58%) by using the following formula: Burned Area (Ha) = -62.9 + 5.14 (DC – 500).Keywords: land and forest fire, NOAA, CMORPH, hotspot
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Penurunan Daya Ingat pada Lansia Khasanah, Novia; Ardiansyah, Muhammad
Jurnal Mutiara Medika Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.567 KB)

Abstract

Prevalensi terjadinya demensia pada lansia di Indonesia semakin meningkat. Demensia dapat terjadi karena berbagai faktor. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang memiliki hubungan dengan kejadian demensia pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan kejadian demensia pada lansia. Penelitian ini dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Wredha Yogyakarta unit Abiyoso dan Budiluhur. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling berjumlah 32 orang lansia usia 70-80 tahun, dengan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu, dengan menggunakan data dari kuesioner, serta instrument MMSE (Mini Mental State Examination) untuk mengetahui derajat demensia pada respoden tersebut. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman dan hasil perhitungan didapatkan hasil korelasi negatif kuat (r=-0,686), dengan nilai p 0,01 (p<0,05), maka ada hubungan yang signifikan. Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian demensia pada lansia. The prevalence of dementia in Indonesia is increasing. Dementia is caused by many factors. Level of education is one of the dementia related factors in elderly. The aim of the research is to identify the correlation between level of education and dementia in elderly. The location of research at Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso and Budiluhur unit. This research is analytic observational which is using cross sectional study. Sampel is taken with purposive technique sampling, 32 elderly 70 – 80 years old, with inclution and exclution  criteria. This research is using data from questioner, and also MMSE (Mini Mental State Examination) to asses their dementia degree. The data analysed with Spearman correlation. The result of correlation is r=-0,686, and p value = 0,01 which is p value < 0,05, it means that the correlation is significant. Based on the result obove show there is significant correlation between level of education with dementia.
ARAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN SAWAH DI WILAYAH PESISIR PROVINSI KALIMANTAN BARAT Yustian, Yustian; Sudadi, Untung; Ardiansyah, Muhammad
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.1.31-37

Abstract

Wilayah Pengembangan (WP) Pesisir merupakan sentra produksi beras bahkan penyuplai untuk tiga WP lainnya di Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2015, penduduk di WP Pesisir diperkirakan 2.29 juta jiwa. Bila terjadi konversi lahan basah 30,000 ha tahun-1 dan tanpa penambahan luas lahan baku sawah, ada indikasi berkurangnya suplai beras diluar WP Pesisir dan tahun 2016 bahkan mengalami defisit beras. Oleh karena itu, diperlukan arahan yang komprehensif dan strategi untuk pengembangan sawah sawah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi lahan potensial, (2) menentukan keunggulan komparatif dan kompetitif, (3) menentukan tipologi lahan dan klaster, dan (4) menyusun arah secara spasial dan strategi untuk pengembangan sawah lahan basah di WP Pesisir. Hasil analisis spasial diperoleh luasan lahan potensial 411,950 ha untuk pengembangan padi sawah dari 5,664,580 ha luas total WP Pesisir. Berdasarkan analisis LQ dan SSA ada lima dari tujuh kabupaten/kota sebagai wilayah basis pertanian padi, sedangkan analisis tipologi membentuk tiga klaster wilayah. Keseluruhan hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kubu Raya adalah Kabupaten yang paling besar luas lahan potensialnya disusul oleh Kota, merupakan wilayah basis unggulan dan aktivitas pertaniannya yang sudah berkembang sehingga paling diprioritaskan untuk pengembangan kawasan padi sawah.
DINAMIKA PENGGUNAAN LAHAN DAN PERKEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN KUBU RAYA DAN SANGGAU TAHUN 1990-2013 Hanjani, Safira Sukma; Ardiansyah, Muhammad; Nadalia, Desi; Sabiham, Supiandi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.17.1.39-45

Abstract

Penggunaan lahan merupakan hasil dari intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup baik materiil maupun spiritual dan mengalami perubahan sejalan dengan meningkatnya jumlah dan aktivitas penduduk dalam menjalankan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Pola penggunaan lahan di Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau selama tiga dekade mengalami perubahan yang signifikan. Tutupan lahan hutan Kubu Raya pada dekade 1970-an masih 100%, kemudian mulai dekade berikutnya sampai tahun 1991 mulai banyak dibuka untuk perkebunan rakyat dan perkebunan besar maupun perkebunan campuran. Sementara itu, di Kabupaten Sanggau dalam periode 1996-2005 perubahan tutupan lahan hutan dan wanatani menurun secara signifikan, yang diikuti dengan meningkatnya perkebunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau dan mengetahui perkembangan perkebunan sawit yang terjadi selama tahun 1990-2013. Data spasial penggunaan/penutupan lahan diperoleh dari Kementrian Kehutanan, kemudian dicermati ulang menggunakan citra satelit Landsat dengan Sistem Klasifikasi Penutupan Lahan Kementerian Kehutanan (SNI 7654:2010). Selama periode 1990-2013, perubahan penggunaan lahan terjadi secara dinamis. Penggunaan/penutupan lahan hutan secara konsisten menurun sedangkan penggunaan/penutupan non-hutan: lahan terbuka, semak belukar, semak belukar rawa, dan kebun sawit relatif meningkat. Secara umum, luas perkebunan sawit di Kabupaten Sanggau meningkat yang sebagian besar berasal dari konversi penggunaan lahan non-hutan. Pada periode 1990-2009 luas penggunaan lahan sawit bertambah dari penggunaan lahan hutan rawa sekunder sedangkan pada periode 2009-2013 dari lahan non-hutan.
Pengembangan Model Ellips Untuk Pendugaan Fluktuasi Muka Air Tanah pada Lahan Rawa Pasang Surut Ngudiantoro, Ngudiantoro; Pawitan, Hidayat; Ardiansyah, Muhammad; J. Purwanto, M. Yanuar; H. Susanto, Robianto
Jurnal Penelitian Sains Vol 11, No 3 (2008)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8466.827 KB)

Abstract

Banyak fenomena pergerakan objek dalam alam berupa elips. Gerakan fluktuasi permukaan air di bawah tanah antara dua saluran tersier juga mungkin digambarkan dalam bentuk elips. Permukaan air di bawah tanah di atas area dataran rendah berubah-ubah sesuai dengan ruang serta waktu. Faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi permukaan air di bawah tanah adalah curah hujan, evapotranspiration, rapi dari permukaan air laut, konduktivitas hidrolik tanah dan sistem reklamasi penjaringan. Tujuan-tujuan penelitian ini untuk mengembangkan satu model fluktuasi permukaan air bawah tanah terhadap area dataran rendah. Hasil dari penelitian adalah diharapkan mendukung pengembangan agrikultur terhadap area dataran rendah, terutama manajemen air, karena manajemen air berperan penting pada agrikultur terhadap area dataran rendah. Kirkham telah merumuskan persamaan dari ketinggian permukaan air di bawah tanah dan pengaturan jarak parit sebagai digambarkan oleh elips Dupuit-Forchheimer. Model fluktuasi permukaan air di bawah tanah dikembangkan pada penelitian ini berbasis pada konsep lonjong. Berlawanan dengan Kirkham, perbatasan parit di model difluktuasi permukaan air di bawah tanah adalah terletak di atas titik utama dari elips (fokus dan titik puncak elips). Hasilnya dari penelitian itu adalah memperkirakan model tabel dalamnya air terhadap area dataran rendah rapi serta persamaan pengaturan jarak parit di blok tersier. Simulasi dari permodelan menunjukkan bahwa parameter dari permukaan air di saluran tersier mempunyai sensitifitas tinggi ke/pada model.
PEMODELAN FLUKTUASI MUKA AIR TANAH UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN AIR PADA PERTANIAN LAHAN RAWA PASANG SURUT TIPE A/B Ngudiantoro, Ngudiantoro; Pawitan, Hidayat; Ardiansyah, Muhammad; J. Purwanto, M Yanuar; Susanto, Robiyanto H.
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol 10 No 2 (2009)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.866 KB)

Abstract

The objectives of this research are to develop a model of water table fluctuation on tidal lowland area of A/B type. The results of the research are expected to support of the agricultural development on tidal lowland area, especially on water management, because the water management play an important role in the agricultural on tidal lowland area. The water table on tidal lowland area fluctuates according to space and time. The water table controls at a certain depth can support the plant growth and the pyrite oxidation restraint. The model of water table fluctuation which is developed in this research based on the ellipse concept. The research was conducted on the reclamation area of tidal lowland at the fourth tertiary block in P8-12S Delta Telang I, Banyuasin district, South Sumatra province. The simulations of model show good result of estimating the depth of water table on tidal lowland area of A/B type. The proportion of variation the depth of water table which can be explained by model that is 89,6% up to 95,5% with standard error of the estimate is 0,021-0,035 meters. The parameter of the water level in the tertiary canals has high sensitivity to the model.
ANALISIS DAN ARAHAN PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK MENCAPAI SWASEMBADA PANGAN DI KABUPATEN MUARO JAMBI, PROVINSI JAMBI Kurniawan, Agus; Ardiansyah, Muhammad; Sudadi, Untung
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.205

Abstract

Sebagai wilayah “hinterland”, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi memiliki potensi sumberdaya lahan yang perlu dikembangkan dan diarahkan untuk mendukung penyediaan pangan di tingkat lokal maupun regional. Penelitian ini bertujuan menyusun arahan pengembangan lahan untuk mencapai swasembada pangan di Kabupaten Muaro Jambi. Hasil analisis menunjukkan potensi ketersediaan lahan prioritas untuk pengembangan padi sawah seluas 55.899 ha dengan kelas kesesuaian S3 (sesuai marginal) dan 100.870 ha lahan lainnya diarahkan untuk pertanian pangan lahan kering. Untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2031, Kabupaten Muaro Jambi membutuhkan sawah dan lahan kering masing masing seluas 30.545 ha dan 1.064 ha, sehingga potensi lahan yang tersedia masih dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan Kabupaten Muaro Jambi maupun untuk penggunaan lain. Di sisi lain, dalam Rencana Pola Ruang Kabupaten Muaro Jambi dialokasikan lahan untuk sawah dan pertanian lahan kering masing-masing seluas 6.271 ha dan 65.972 ha. Dari pola ruang lahan pangan tersebut, seluas 1.962 ha sawah dan 18.807 ha pertanian lahan kering tidak sesuai dengan kondisi eksisting. Oleh karena itu, Rencana Pola Ruang ini perlu direvisi.Kata Kunci: arahan pengembangan, swasembada pangan, kesesuaian lahan, ketersediaan lahan, pola ruangABSTRACTAs an hinterland, Muaro Jambi Regency, Jambi Province has potential land resource needs to be developed to support the provision of food both at local as well as regional levels. This research aimed to formulate a land development direction to achieve food self-sufficiency in Muaro Jambi Regency. Results of analyses showed the availability of prioritized land for rice fields development amounted to 55,899 ha with suitability class of S3 (marginally suitable), while another 100,870 ha of the land could be directed for dryland food-crop farming. To achieve the food self-sufficiency in the year 2031, Muaro Jambi Regency needs rice fields and drylands of 30,545 ha and 1,064 ha, respectively. Thus, the potentially available lands still can be developed to meet the food needs in Jambi City or allocated for other land uses as well. On the other hand, in the Spatial Regional Plan of Muaro Jambi Regency, lands allocated for rice field and dryland food-crop farming are 6,271 ha and 65,972 ha, respectively. Of this food-crop spatial pattern, area of 1.962 ha and 18,807 ha that are allocated for rice field and dryland food-crop farming do not match with the existing condition. Therefore, this Spatial Pattern Plan needs to be revised.Keywords: development direction, food self-sufficiency, land availability, land suitability, spatial pattern