Articles

Found 8 Documents
Search

Makrozoobentos sebagai bioindikator kualitas perairan Pulau Penyengat, Kepulauan Riau Rosdatina, Y; Apriadi, Tri; Melani, W R
Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management) JPLB, Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) se-Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB (PPLH-IPB)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.975 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, berdasarkan keberadaan makrozoobentos. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive sampling, yang terdiri dari 5 stasiun yaitu: daerah pelabuhan, pemukiman penduduk, reklamasi, ekosistem mangrove dan tempat pembuangan sampah sementara. Pengukuran parameter fisika dan kimia perairan serta pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan sebanyak 3 kali ulangan pada setiap stasiun. Analisis kualitas perairan berdasarkan makrozoobentos menggunakan indeks AMBI (A Marine Biotic Index). Hasil penelitian menggambarkan bahwa parameter fisika dan kimia perairan Pulau Penyengat masih memenuhi baku mutu. Makrozoobentos yang dijumpai sebanyak 14 spesies terdiri dari 6 kelas. Indeks keanekaragaman pada setiap stasiun tergolong rendah, indeks keseragaman tergolong sedang-tinggi, sedangkan indeks dominansi tergolong rendah. Berdasarkan indeks AMBI, perairan Pulau Penyengat tergolong tidak tercemar.
Fitoremediasi limbah budidaya sidat menggunakan filamentous algae (Spirogyra sp.) Apriadi, Tri; TM Pratiwi, Niken; Hariyadi, Sigid
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 3, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.162 KB)

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari filamentous algae (Spirogyra sp.) sebagai agen bioremediasi dalam mereduksi kandungan bahan organik limbah budidaya sidat. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan perbedaan dosis limbah (25 %, 50 %, 75 %, 100%).  Wadah penelitian berupa akuarium resirkulasi menggunakan sistem carrousel. Dilakukan pengukuran secara rutin terhadap beberapa parameter kualitas air serta perubahan bobot Spirogyra sp. selama dua minggu retensi. Diperoleh hasil bahwa penurunan konsentrasi bahan organik menggunakan Spirogyra sp. berlangsung efektif hingga hari keenam. Spirogyra sp. mampu mentolelir limbah budidaya sidat pada dosis limbah 25% dan 50%. Spirogyra sp. pada perlakuan dosis limbah 50% memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menurunkan bahan organik limbah budidaya sidat.Kata kunci : Bahan organik; Limbah budidaya sidat; Spirogyra sp.
Kajian Aspek Ekologis dan Daya Dukung Perairan Situ Cilala Pratiwi, Niken T.M.; Hariyadi, Sigid; Ayu, Inna Puspa; Iswantari, Aliati; MZ, Novita; Apriadi, Tri
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 11, No 2 (2015): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.912 KB)

Abstract

ABSTRACTEcological aspect (morphometry, a complexity of community structure, trophic state, and carrying capacity) are one of basic information to build comprehensive management concept of aquatic ecosystem, as Lake Cilala.  The concept was addressed to develop ornamental fish floating cage and natural fishery activity.  Lake Cilala is a longwise shape small lake with maximum length, average width, and average depth as 1141 m, 161 m, 2.67 m respectively.  Lake Cilala has various genera of phytoplankton and zooplankton, 8 genera of benthos, 5 genera of aquatic plants, and 12 fish species including planktivore, herbivore, and carnivore fishes.  Those organisms established food chains, by grazing and detritus food chain.  The trophic state of Lake Cilala was categorized as middle to heavy eutrophic level by Trophic State Index (TSI).  The carrying capacity analysis of Lake Cilala is 130 tons/year. It is resulted a possibility to increase ornamental fish floating cage to 165 units from 300 existed units. Furthermore, the carrying capacity for natural fish was reached 3.77 tons/year. Keywords: carrying capacity, food chain, lake fisheries, small lake management, trophic state 
KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN ESTUARI SEI TERUSAN, KOTA TANJUNGPINANG Syafriani, Ria; Apriadi, Tri
LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 24, No 2 (2017)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.657 KB)

Abstract

Penelitian keanekaragaman fitoplankton dan beberapa parameter fisika dan kimia perairan perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi suatu perairan. Penelitian keanekaragaman fitoplankton di perairan estuari Sei Terusan dilakukan pada bulan Desember 2016. Fitoplankton yang ditemukan di perairan Sei Terusan terdiri dari 3 kelas yaitu kelas Dinophyceae, Coscinodiscophyceae, dan Bacillariophyceae. Kelas Dinophyceae terdiri dari Ceratium sp., Protoperidinium sp.,dan Prorocentrum gracile. Kelas Coscinodiscophyceae terdiri dari Coscinodiscus sp., Skeletonema sp., dan Rhizosolenia sp. Kelas Bacillariophyceae terdiri dari Chaetoceros sp., Pleurosigma sp., Cylindrotheca closterium, dan Pseudo-nitzschia sp. Kelimpahan terbesar dari 4 stasiun pengamatan ditemukan pada kelas Dinophyceae yang mendominansi di semua stasiun pengamatan. Indeks keanekaragaman dari 4 stasiun pengamatan adalah 0,052 – 1,872, indeks keanekaragaman ini < 2,306 sehingga termasuk kategori keanekaragaman rendah dan kestabilan komunitas rendah. Indeks keseragaman fitoplankton di 3 stasiun dari 4 stasiun pengamatan cukup rendah berkisar 0,032 – 0,050 dengan indeks dominansi 0,975 – 0,986. Dengan rendahnya indeks keseragaman menyebabkan adanya dominansi spesies tertentu dan menunjukkan adanya tekanan ekologis perairan. Ceratium sp. dari kelas Dinophyceae mendominansi di semua stasiun pengamatan.Phytoplankton diversity research and some physical and chemical parameters of waters needs to be done to determine the condition of a body of water. Phytoplankton diversity research in waters of the Sei Terusan estuarine was conducted in December 2016. Phytoplankton were found in the waters of the Sei Terusan consists of three classes, namely Dinophyceae, Coscinodiscophyceae, and Bacillariophyceae. Dinophyceae class were consisted of Ceratium sp., Protoperidinium sp., and Prorocentrum gracile. Coscinodiscophyceae class consists of Coscinodiscus sp., Skeletonema sp., and Rhizosolenia sp. Bacillariophyceae class consists of Chaetoceros sp., Pleurosigma sp., Cylindrotheca Closterium, and Pseudo-Nitzschia sp. The higest phytoplankton abundance were found in Dinophyceae that dominated at all observation stations. Shannon Diversity indice of four observation stations was 0.052-1.872, this diversity indice < 2.306 thus categorized low diversity and community stability was low. Eveness indice of phytoplankton in three stations of four observation stations was low enough ranged from 0.032-0.050 with dominance index from 0.975- 0.986. The low Eveness indice due to dominance of certain species and indicate their ecological pressure waters. Ceratium sp. (Dinophyceae) was dominate at all observation stations. 
Studi Kontaminasi Logam Berat (Pb dan Cr) Pasca Pertambangan Bauksit Sebagai Potensi Lokasi Kegiatan Budidaya Perikanan Putra, Risandi Dwirama; Apriadi, Tri
Intek Akuakultur Vol 2 No 1 (2018): Intek Akualultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bauxite is one of the mining activities, which can lead to the phenomenon of Acid Mine Drainage (AMD). Activities developed by bauxite mining, since the beginning of operations are able to degrade environmental conditions and cause modifications to the main structure of the environment. Alternative to reducing the negative impact of bauxite mining production with re-utilize abandoned bauxite which forms puddles. The puddle of water on bauxite post-mining have potential for Aquaculture. Each sampling site is located in 5 (five) site based on post bauxite mining activities and determine the heavy metal concentraion of Pb and Cr. Soil and sediment samples were collected to analyze the grain size.  Total heavy metal concentrations using Atom Flame Absorption Spectrophotometer (AAS). Analysis of heavy metal concentration (Pb dan Cr) with enrichment factor (EF) value of heavy metals Pb indicates extremely high enrichment for post-mining bauxite site at Simpang Dompak, Dompak and Wacopek (EF> 40). Enrichment Factor (EF) Cr on post-mining bauxite post in Simpang Dompak and Sei.Carang site have EF value > 5 indicating this site contamination with Cr. Index Value, Igeo > 5 indicating very strongly contaminated Pb and Cr with Igeo <5 is contaminated moderately. Water quality in Post-mining bauxite shows good condition of water. In general, the post-mining area of ​​bauskit have potential for aquaculture activities although there is high Pb contamination on the substrate but the water quality parameter can utilized for dynamic organisms such as fish. Proper aquaculture techniques to manage the post-mining bauxite in order to be optimally utilized for cultivation activities.
Inventory of Epiphytes Aquatic Microfungi in Pond of Tailing Bauxite in Tanjungpinang, Bintan Island, Riau Islands Province Aryani, Rima; Apriadi, Tri
Journal Omni-Akuatika Vol 14, No 3 (2018): Omni-Akuatika November
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.937 KB)

Abstract

On the washing process of bauxite mining will produce waste, that was red mud. Those red mud will be streamed in pond of tailing bauxite. Eleocharis sp. has been pioneer plant in pond of tailing bauxite. The objective of this study was identify the epiphytes aquatic microfungi in pond of tailing bauxite, at Tanjungpinang, Bintan Island. Samples were collected by three different stations from Eleocharis sp. density with three samples points in each stations. In this research, the results of epiphyte aquatic microfungi were cultured got five genera and six different species of aquatic microfungi, such as Mucor sp., Curvularia sp. (1 and 2), Phialophora sp., Phoma sp., and Arthrographis sp.Keywords: aquatic microfungi, bauxite, Bintan, Eleocharis sp., tailing
Struktur Komunitas Fitoplankton pada Kolong Pengendapan Limbah Tailing Bauksit di Senggarang, Tanjungpinang Apriadi, Tri; Ashari, Irvan Hasan
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.955 KB)

Abstract

Senggarang merupakan salah satu kelurahan di Kota Tanjungpinang yang memiliki kolam pengendapan limbah tailing bauksit. Fitoplankton merupakan salah satu organisme pionir pada ekosistem yang baru terbentuk. Berdasarkan hasil penelusuran, belum ditemukan penelitian mengenai komunitas fitoplankton pada kolam pengendapan limbah tailing bauksit. Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan, serta indeks ekologi fitoplankton yang terdapat pada kolam pengendapan limbah tailing bauksit di Senggarang, Kota Tanjungpinang. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun: inlet, outlet, tengah, serta tepi perairan.Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel fitoplankton adalah metode dinamis secara vertikal. Pencacahan fitoplankton menggunakan metode sensus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fitoplankton berkisar 1.692-2.525 sel/L. Tiga dari empat stasiun didominasi oleh divisi Charophyta, serta satu stasiun lainnya didominasi oleh divisi Chrysophyta. Dominasi divisi Charophyta dipengaruhi oleh tingginya kelimpahan genus Mougeotia sp. Bagian tengah kolong memiliki indeks ekologi yang lebih baik dari pada tepi perairan. Keanekaragam yang rendah pada semua stasiun menujukan kondisi perairan yang labil dan komunitas fitoplankton masih rentan terhadap gangguan. Hal ini sesuai dengan kategori kolong pengendapan limbah tailing bauksit di senggarang tergolong muda (< 5 tahun).
Inventarisasi Mikrofungi Akuatik Pada Perairan Madong, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau Apriadi, Tri; Panjaitan, Andreas Bona Christian
Biospecies Vol 12 No 1 (2019): Vol. 12 No. 1, Januari 2019
Publisher : University of Jambi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.319 KB)

Abstract

Inventarisasi keanekargaman mikrofungi akuatik perlu dilakukan untuk dapat menambah informasi mengenai jenis-jenis baru maupun spesifik yang terdapat di perairan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman mikrofungi akuatik yang berada di perairan Madong, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Penelitian keanekaragaman mikrofungi dilakukan melalui metode survei pada tiga stasiun (daerah mangrove, pemukiman nelayan dan Keramba Jaring Apung, serta pesisir kampung Madong). Sampel dikumpulkan dengan menggambil sampel serasah yang berada di perairan (akar, daun, ranting mangrove, serta rumput laut). Isolasi dan kultur mikrofungi akuatik dilakukan di laboratorium. Isolat mikrofungi yang tumbuh dan berhasil diidentikasi yaitu: Aspergillus sp., Epicoccum sp., Colletotrichum sp., Penicillium sp., dan Stemphylium sp. &nbsp; &nbsp;