Articles

Found 37 Documents
Search

MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA KERETA API DAN BUS RUTE MAKASSAR–PAREPARE DENGAN MENGGUNAKAN METODE STATED PREFERENCE

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.08 KB)

Abstract

Hubungan erat antara kota Makassar dan Parepare sangat berpotensi terhadap terjadinya pergerakan. Potensi pergerakan rute Makassar - Parepare cukup besar dan diprediksi akan semakin meningkat di masa yang akan datang. Di samping itu, adanya rencana dari pemerintah  kota Makassar mengenai pembangunan jalur kereta api rute Makassar-Parepare sehingga diperlukan analisis agar mengetahui model pemilihan moda untuk memberikan suatu pemilihan moda baru yang lebih kompetitif kepada masyarakat. Survei dilakukan dengan penyebaran kuesioner dan wawancara berisi karakteristik sosial ekonomi responden, karakteristik perjalanan, dan kuesioner yang disusun menggunakan teknik Stated Preference dengan atribut selisih biaya perjalanan, selisih waktu tempuh, dan selisih frekuensi keberangkatan antara bus dan kereta api rute Makassar-Parepare. Lokasi studi berada di Terminal Bus Damri Todopuli, Terminal Bus Daya Makassar, dan di dalam bus rute Makassar – Parepare PP. Dari hasil penelitian dapat diperoleh model pemilihan moda berdasarkan selisih biaya perjalanan adalah UKA–UBAK = 0,2842 - 0,000092 ΔX1, sedangkan  model pemilihan moda berdasarkan selisih waktu tempuh adalah UKA– UBAK = 0,4376 - 0,7259 ΔX2, serta model pemilihan moda berdasarkan selisih frekuensi keberangkatan adalah UKA–UBAK = 1,4486+0,4674 ΔX3. Potensi perpindahan penumpang dari bus ke kereta api berdasarkan biaya perjalanan adalah sebesar 57%, kemudian berdasarkan waktu tempuh sebesar 61%, serta berdasarkan frekuensi keberangkatan sebesar 51%. Kata kunci : bus, kereta api, pemilihan moda, stated preference, Makassar, Parepare

STUDI KELAYAKAN FINANSIAL PADA PROYEK PEMBANGUNAN KAWASAN PASAR TERPADU BLIMBING KOTA MALANG

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.404 KB)

Abstract

Sebagai kota terbesar kedua setelah Surabaya, banyak pembangunan terjadi di Kota Malang seperti pembangunan hotel, apartemen, mall, dsb. Akan tetapi permasalahan yang timbul adalah apakah pembangunan yang ada tersebut sudah sesuai dengan analisa kelayakan yang ada. Oleh karena itu diperlukan adanya penelitian dan pengkajian yang seksama dan sistematis untuk menghindari keterlanjuran dalam menanam modal. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui kelayakan finansial pada proyek pembangunan Kawasan Pasar Terpadu Blimbing Kota Malang. Studi kelayakan finansial adalah penelitian tentang layak atau tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan. Pertama-tama dilakukan penyusunan rencana cash flow proyek dari data-data yang ada. Kemudian dilakukan analisa kelayakan proyek dari segi finansialnya menggunakan metode Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Payback Period (PP). Lalu, dilakukan analisis sensitivitas jika terjadi kenaikan biaya dan kenaikan manfaat masing-masing sebesar 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%. Dari hasil analisa uji kelayakan finansial dengan metode NPV, BCR, IRR, dan PP menggunakan suku bunga 7.5% pada kondisi normal, maka proyek Pembangunan Kawasan Pasar Terpadu Blimbing Kota Malang layak untuk beroperasi. Diperoleh nilai positif dari NPV sebesar Rp. 65,345,570,925, nilai >1 dari BCR sebesar 1.3791, dan nilai IRR > suku bunga 7.5% (MARR) yaitu sebesar 11,96218%. Dari uji sensitivitas suku bunga 7.5% dengan metode NPV, BCR, IRR proyek Pembangunan Kawasan Pasar Terpadu Blimbing Kota Malang layak untuk beroperasi. Diperoleh nilai positif dari NPV sebesar Rp. 109,666,153,926 jika terjadi kenaikan biaya dan kenaikan manfaat sebesar 10%, begitu juga nilai BCR > 1 sebesar 1,3734, dan nilai IRR > suku bunga 7.5% (MARR) sebesar 13,68678%. Untuk perhitungan yang selanjutnya dengan sensitivitas sebesar 15%, 20%, 25%, dan 30% juga didapatkan hasil yang sama yaitu proyek Pembangunan Kawasan Pasar Terpadu Blimbing Kota Malang layak untuk dilaksanakan. Waktu pengembalian investasi (Payback Period) dengan menggunakan metode Simple Payback Period yaitu selama 7 tahun 1 bulan 7 hari terjadi pada tahun 2017. Dengan menggunakan metode Discounted Payback Period waktu yang diperlukan adalah 10 tahun 8 bulan 1 hari pada tahun 2020 Kata kunci : NPV, BCR, IRR, PP, analisis sensitivitas

Studi Pengaruh Sedimentasi Kali Brantas Terhadap Kapasitas dan Usia Rencana Waduk Sutami Malang

Rekayasa Sipil Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengelolaan waduk adalah masalah sedimentasi. Sedimentasi yang terjadi pada waduk dapat disebabkan akibat erosi yang terjadi pada lahan-lahan kritis yang terdapat pada daerah tangkapan waduk. Jika material sedimen yang terbentuk akibat erosi lahan tersebut masuk ke dalam aliran sungai dalam jumlah yang besar maka akan menyebabkan laju sedimen yang masuk ke dalam waduk menjadi besar bahkan akan melampaui laju sedimen rencana. Akibat sedimen yang mengendap di dasar waduk, kapasitas tampungan dan kapasitas tampungan efektif waduk akan mengalami penyusutan. Demikian juga dengan usia rencana waduk, usia rencana waduk akan mengalami percepatan pengurangan.Metode yang digunakan dalam analisa erosi lahan adalah metode USLE (Universal Soil Loss Equation). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap erosi lahan adalah faktor erosivitas hujan, faktor erodibilitas tanah, faktor panjang dan kemiringan lereng serta faktor pengelolaan dan pengawetan tanah. Dari analisa metode USLE didapatkan nilai erosi lahan yang terjadi sebesar 42.102.900 ton/tahun. Dengan laju sedimen sebesar 2.836.737,15 ton/tahun maka dapat diketahui besar sedimen yang terakumulasi di dasar waduk dengan menggunakan Sediment Delivery Ratio. Sediment Delivery Ratio (SDR) didapat dengan membandingkan antara laju sedimen yang masuk ke waduk dengan erosi lahan yang terjadi. Nilai SDR yang terjadi pada waduk adalah sebesar 6,73 %. Nilai SDR tersebut memberikan indikasi bahwa erosi lahan yang terjadi memberikan pengaruh terhadap akumulasi sedimen yang terjadi di dasar waduk.Setelah mengetahui adanya pengaruh erosi lahan terhadap akumulasi sedimen yang terjadi di dasar waduk diharapkan dapat ditingkatkan lagi perbaikan tata guna lahan di daerah tangkapan waduk. Perbaikan tata guna lahan dapat menggunakan acuan tata guna lahan pada periode tahun-tahun sebelumnya dimana pada periode tahun tersebut laju sedimen yang terjadi lebih kecil atau hampir mendekati laju sedimen rencana. 

Penanggulangan Erosi Secara Struktural pada Daerah Aliran Sungai Bango

Rekayasa Sipil Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya erosi pada daerah aliran sungai adalah tingkat curah hujan dan kondisi tanah, sehingga perlu dilakukan penanggulangan untuk mengurangi tingkat erosi yang terjadi di DAS Bango. Penanggulangan yang dilakukan di daerah studi menggunakan bangunan dinding penahan tanah berbentuk semi grafitasi.Dalam studi ini, untuk mengetahui besarnya erosi dilakukan dengan menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation). USLE memungkinkan perencana memprediksi laju erosi lahan pada suatu kemiringan dengan pola hujan tertentu untuk setiap macam jenis tanah dan penerapan pengelolaan lahan. Erosi yang terjadi tidak boleh melebihi nilai erosi yang diijinkan (12.5 ton/ha/tahun), sehingga erosi yang besar dapat dilakukan penaggulangan sesuai dengan kondisi lahannya.Untuk penanggulangan dengan cara struktural, bangunan struktural yang digunakan untuk menanggulangi erosi adalah dinding penahan semi grafitasi karena bangunan tersebut tidak memerlukan dimensi yang besar untuk menahan tanah. Sehingga digunakan dinding penahan dengan dimensi: tinggi = 2.5 m, lebar = 1.68 m, tebal kaki dinding = 0.25 m, dan tebal dinding = 0.25 m.Dinding penahan tanah semi grafitasi direncanakan pada kemiringan antara 8%- 30%, dengan kondisi tanah yang mudah tererosi atau pada jenis tanah yang sangat peka terhadap erosi yang disebabkan oleh air hujan dan lahan yang memiliki kemiringan lebig besar dari 30% atau kurang dari 80% akan dilakukan penanggulangan secara vegetatif. 

Produktifitas Alat Dan Pekerja Pada Pengecoran Plat Dan Balok Lantai Gedung (Studi Kasus Pembangunan Proyek Gedung FMIPA Universitas Brawijaya)

Rekayasa Sipil Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses the tools and labor productivity, on the work of casting plate/beam on the 4 floor (Zone 2), and the 5 th floors. That’s on the 4 th floor of the tools used concrete pump, while on the 5 floor using a tower crane. Therefore it can be identified that the tool and the labor affect the casting productivity of resulting. By the casting productivity, it can be seen how much influence the factors of tools and labor on the productivity, so as to know which factors are the most substantial influence on the increase in productivity. There are two kinds of data are qualitative (by questionnaires) and quantitative (field observation). Where tools (X 1 ) and labors (X 2 ) as independent variables, productivity (Y 1 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.2 – 2014 ISSN 1978 - 5658 th ) and the quality of concrete (Y ) as the dependent variables. All data were tested first by test validity, reliability, and coefficient of determination, prior to the hypothesis testing. By the data analysis, we concluded that the variable of tool affect the productivity on the task of casting plate/beam on 4 th floor, while on the 5th floor affected by the variable of labor. On 4 th floor the value of the casting productivity is greater than on the 5 th floor. Thus, it can be indicated that the increase in the height of the floor, so then productivity will decrease. 

Pengembangan Kawasan Wisata Balekambang Kabupaten Malang

Rekayasa Sipil Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak positif pengembangan pariwisata dapat dilihat dari pembangunan sarana dan prasarana pariwisata yang menyerap banyak tenaga kerja. Perkembangan pariwisata Kabupaten Malang di sisi selatan terutama Pantai Balekambang, memang belum dapat optimal akibat banyak kendala yang masih belum dapat diselesaikan. Untuk menunjang hal tersebut diperlukan adanya kajian mengenai Pengembangan Kawasan Wisata Balekambang untuk mengetahui permasalahan dan pengembangan potensi sehingga membantu peran serta Balekambang dalam sektor pariwisata Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik Pantai Balekambang, mengetahui potensi dan masalah serta menyusun strategi pengembangan di kawasan wisata Pantai Balekambang. Analisis yang digunakan pada penelitian ini deskriptif evaluatif dan preskriptif. Hasil studi penelitian ini adalah posisi strategi pengembangan kawasan wisata Balekambang adalah pada kuadran 1 dengan konsep Rapid Growth Strategy, yaitu strategi petumbuhan aliran cepat untuk diperlihatkan pengembangan secara maksimal untuk target tertentu dan dalam waktu singkat. 

Human Resources Performace And Compatancy Management By Using A Method Of Balanced Scorecard (Case Study: The Experience Of Tanjung Peprak Port-Surabaya)

Rekayasa Sipil Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this paper is to carry out an analysis of the performance tools implemented in the Port Authority of Surabaya city and so, determine whether improvements in management can be achieved if the level of efficiency is established with attainable targets as a consequence of opportune and reliable information in Contraction Management. In this article we analyze how the use of a Balanced Scorecard has helped Tanjung Perak port authority from the Indonesia Port System to implement their strategic Plan. The Port Authorities have become reliant on the Competency Management model as an instrument for strategic planning of human resources and also in the progressive use of Process Management, which aims to meet the objectives established in the Strategic Plan. On this premise, we set out how the abovementioned Port Authority of Tanjung Perak can fulfill specific strategic and operational objectives regarding the efficiency and effectiveness of the services they provide 

Peluang Investasi Pada Kawasan Wisata Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) Di Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Tengah Dengan Sistem Built Operate Transfer (BOT)

Rekayasa Sipil Vol 8, No 3 (2014)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of the tourism sector in Indonesia is one of the potential investment is promising. But not all potential can be developed .Such is the case with the tourism sector in Kotawaringin Barat exspecially is the Tanjung Puting National Park (TNTP). One of the barriers are is the limitation of funds and Government resources in developing this sector. Therefore required partnership with the private sector is a Built Operate Transfer (BOT). The purpose of this research are: (1) to know the means of tourism is needed at the time of a visit in the area of tourism, (2) to test the feasibility of financial investments on the TNTP without a BOT system, (3) to test the feasibility of financial investments on the TNTP without a BOT system. The research method used questionnaire for tourist at TNTP, and count financial feasibility with Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), Profitability Index (PI), and descriptive statistical analysis methods.Survey at TNTP location to know real condition and interview with employee Balai Taman Nasional Tanjung Putting. The result of this research is that the facility is needed, campground cottage - inn, restaurant, boat kelotok, audio visual room, trackking area, gift shop, health clinic, and investment in the area of TNTP judged worth doing with BOT for maximum concession periode 18 years. If investment more than 18 years, prefer doing without BOT. 

Kajian Kinerja Pelayanan Operasional Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recently, the importance of ports, which was merely emphazied as storage, has shifted to as a connector to different transportation modes. Thus, it is essential for ports to adapt with a cheap, efficient, and effective transportation system. Efficiency and Effectiveness relate closely with port performance. The study location, the port of Tanjung Perak in Surabaya, is one significant support for the East Java Province’s economy. The aims of the study were to investigate its operational service level, to estimate its operational service level in the future, and to build better comprehension on the determining factors that lead to its operational service level. In this research, the performance evaluation will be measured based upon the General Directorate of Sea Transportation Decree No UM.002/38/18/DJPL-11 about Performance Standard of Port Operational Service (SKPOP). The methods used were correlation regression and IPA (Importance – Performance Analysis). Results showed that the port’s 2013 overall operational service performance has met SKPOP 2011 standards. The port’s waiting time performance was estimated to be over 2 hours in 2016, and raising to over 4.5 hours in 2020. Meanwhile, approach time performance in 2016 was predicted to be more than 7 hours. Moreover, the port’s berth occupancy ratio performance in 2016 was predicted to be above 80 %, shed occupancy ratio performance in 2016 is predicted to have above 70%. Finally, the study found that the determinig factors to Tanjung Perak Port’s operationa service level performance were the number and condition of tug and pilot boats, the availability and number of warehouse/storage yard, loading and unloading facilities, and the condition for road infrastructure. Keywords: IPA, port performance, Tanjung Perak Port, regression.

STUDI ALTERNATIF JALAN AKSES KE PELABUHAN TELUK LAMONG SURABAYA

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Teluk Lamong , merupakan salah satu pelabuhan besar di Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan pelabuhan semakin pesat. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah lalu lintas menuju Teluk Lamong. Oleh karena itu perlu dilakukan pembuatan jalan menuju Teluk lamong agar tidak menggangu jalan arteri yang telah ada. Mengingat bahwa yang akan menuju Teluk Lamong adalah truk kontainer atau truk penganggkut barang perlu dibuatkan jalur khusus menuju Teluk Lamong. Pengumpulan data dilakukan melalui survey Trafic counting, Kondisi lapangan dan AHP untuk menentukan trase-trase terpilih, sedangkan Survey topografi tidak dilakukan. karena topografi di sekitar trase relatif datar. Pengolahan data menggunakan program microsoft excel untuk pengolahan data TC dan ArcGis untuk pembuatan peta trase. Trase-trase terpilih pada jaringan jalan akses Ke Teluk Lamong adalah dari teluk lamong seberangkan denga fly over menuju ke depan pintu gerbang tol Romokalisari, melebarkan jalan arteri dari Jalan Margomulyo dan Jalan Tambak Osowilangun sampai ke Pelabuhan Teluk lamong, melebarkan Jalan Tambak Osowilangun sampai ke Pelabuhan teluk lamong dengan penambahan jalan baru yang menghubungkan ke Tol Romokalisari. Untuk evaluasi, dilakukan dengan membandingkan hasil analisis survey ahp terhadap masing-masing kriteria untuk mendapatkan kinerja alternatif terbaik. Pada perkerasan jalan, mengacu pada Manual Desain Perkerasan Jalan tahun 2013 dan perencanaan perkerasan jalan beton semen PD  T 14-2003. Untuk mengetahui kinerja jaringan jalan eksisting digunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia tahun 1997. Sedangkan untuk syarat ketentuan jalan menggunakan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 19 tahun 2011. Dari hasil analisa kondisi lalu lintas  didapatkan nilai dearajat kejenuhan Jalan Tambak Osowilangun sebesar 0,998 dan 0,903 pada Jalan Margomulyo,oleh karena itu jalan akses menuju  Teluk Lamong diperlukan untuk memperlancar perdagangan baik disekitar kawasan pelabuhan maupun kawasan nasional . Dari survey koridor alternatif ynag dilakukan menunjukkan bahwa keadaan topografi pada rencana trase alternatif jalan akses ke Pelabuhan Teluk Lamong relatif adalah datar. Lokasi alternatif pada Jalan Akses Ke PelabuhanTeluk Lamong terletak pada pergudangan, persawahan dan tambak. Maka dari itu Jalan Akses Ke Pelabuhan Teluk Lamong masih berpotensi untuk dilaksanakan. Dari hasil analisa AHP diperoleh nilai – nilai  pada masing – masing alternatif dengan skor 1,775 pada alternatif 1, skor 1,212 pada alternatif 2 dan skor 1,478 pada alternatif  3. Maka terpilih alternatif 1 yang mempunyai nilai manfaat efisien dan terbaik, dan mempunyai panjang trase sekitar 2,5 km. Struktur perkerasan yang digunakan dalam perencanaan ini adalah perkerasan kaku, dan nilai beban gandar adalah 50.900.000. dari hasil tersebut direncanakan tebal lapisan perkerasan kaku sebesar 31 cm, beton kurus (LMC) sebesar 15 cm , lapis pondasi agregat kelas A sebesar 15 cm dan lapis penopang di bawah pondasi sebesar 180 cm. Kata Kunci : AHP (Analitycal Hierarchy Process),Pemilihan Trase, Perkerasan Kaku,Teluk Lamong.