Articles

STUDY ON THE HISTORY AND ARCHITECTURE OF THE RINZAI ZEN SECT BUDDHIST MONASTERIES IN KYÔTO Antariksa, Antariksa
DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur) Vol 28, No 1 (2000): JULY 2000
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the middle of the 14th century, the Five Temples or Five Mountains (Gozan) of Rinzai Zen sect were developed rapidly in the city of Kyôto. The ranking system of officially sponsored by Zen Buddhist monasteries were created by the Kamakura and Muromachi government. The Gozan system originally included three monasteries in Kyôto and three in Kamakura, but immediately spread to five monasteries in several cities. While the two great monasteries, are not members of the Gozan group, which belonged to the Rinka group of Rinzai Zen sect temples. The system, which corresponds to a Chinese hierarchical model, was established in Japan during the Kamakura period. The purpose of this study is to attempt to clarify the history and architecture of Rinzai Zen sect Buddhist monastery. The central functioning building of the Zen Buddhist monastery reflects the repetition, consistency, persistence, and order of the monastic ritual.
SPACE IN JAPANESE ZEN BUDDHIST ARCHITECTURE Antariksa, Antariksa
DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur) Vol 29, No 1 (2001): JULY 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The beginning in the medieval period the ideas "emptiness" and "nothingness" in Buddhist doctrine influences over the Japanese. Space in Japanese architecture (kukan), as a empty place. This word originally stood for a "hole in the ground", and in on present meaning of a "hole in the universe", or "sky". The ancient Japanese divided space vertically into two parts, sora (sky) and ame or ama (heaven). In the concept of emptiness both of this above it can be said is a part of space. This paper will tries to explain and discusses about the meaning of space in Japanese Zen Buddhist architecture.
PENGARUH KEGIATAN BERDAGANG TERHADAP POLA RUANG-DALAM BANGUNAN RUMAH-TOKO DI KAWASAN PECINAN KOTA MALANG Dewi, Aryanti; Antariksa, Antariksa; Soesanto, San
DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur) Vol 33, No 1 (2005): JULY 2005
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"Pecinan" district as the commercial district in Malang, is the "growth-center" of the town. It because this place is commercial district which is very crowded. The building which becomes is distinctive feature in "Pecinan" is the building which has combination function as dwelling and commercial, later it is known as shop-house. The building plan of shop-house in Chinnese society is a long and narrow shop-house. However it is the most effective plan to exploit the area which is limited. At the beginning, the function of shop-house still in balance both as dwelling and commercial, within years and since commercial activities growing rapidly than dwelling activities, the changing in room pattern has been occured. To know about the changing, a research of shop-houses room patten at Pasar Besar which is the part of "Pecinan" district was made. This research has some purposes: 1.) To see the changing of shop-houses room pattern at "Pecinan"-Malang, 2.)To search the correlation between commercial activities aspect and the changing of shop-houses room pattern at "Pecinan"-Malang. The result of two porpuses is a type or changing characteristic that happenend in shop-house at "Pecinan". The analysis which has been used are quantitative methods. The conclution of this research is the changings characteristic of shop-houses room pattern is medium category. The changing most occur in dwelling room which has been used for commercial room. Abstract in Bahasa Indonesia : Kawasan Pecinan sebagai kawasan perdagangan kota Malang, merupakan "pusat perkembangan" kota karena daerah tersebut merupakan daerah perdagangan yang ramai. Bangunan yang menjadi ciri khas di Pecinan merupakan gabungan bangunan dengan fungsi hunian dan perdagangan atau kemudian dikenal dengan sebutan rumah-toko (Shop house). Perencanaan bangunan rumah toko masyarakat Cina adalah rancangan rumah toko yang panjang dan sempit, tetapi sebenarnya paling tepat-guna dalam memanfaatkan lahan yang terbatas. Pada awalnya, fungsi rumah-toko masih seimbang antara fungsi hunian dan dagang, namun perkembangan zaman serta meningkatnya aktivitas berdagang daripada aktivitas berhuni, telah menyebabkan terjadinya perubahan pola ruang dalam. Untuk mengetahui tentang perubahan tersebut, maka dilakukan penelitian pola ruang dalam pada bangunan rumah-toko di kawasan Pasar Besar yang merupakan daerah Pecinan di Malang. Penelitian ini dilakukan untuk: 1) Melihat perubahan pola ruang-dalam yang terjadi pada bangunan rumah toko di Pecinan-Malang; 2) Mencari faktor-faktor kegiatan berdagang yang diduga menjadi penyebab terjadinya perubahan pola ruang dalam pada bangunan rumah toko di kawasan Pecinan-Malang. Hasil dari dua hal tersebut akan dirumuskan suatu tipe atau karakteristik perubahan yang terjadi pada bangunan rumah toko di Pecinan kota Malang. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif. Dari keseluruhan proses penelitian diperolah hasil bahwa, karakteristik dari perubahan pola ruang-dalam bangunan rumah-toko di Malang, adalah perubahan dengan kategori sedang. Perubahan ini paling banyak terjadi pada ruang-ruang hunian yang digunakan untuk ruang-ruang dagang. Kata kunci: Pecinan, rumah-toko, pola ruang, berhuni, berdagang.
STUDI PERKEMBANGAN DAN PELESTARIAN KAWASAN KERATON KASUNANAN SURAKARTA Hariyani, Septiana; Antariksa, Antariksa; Hardiyanti, Nurul Sri
DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur) Vol 33, No 2 (2005): DECEMBER 2005
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.542 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.33.2.

Abstract

The aiming of this study is to identify and analyze the development square area of Keraton Kasunanan Surakarta, since 1745 up to 2004, then identifying and analyze factors that caused the problems to conserve the square area of Keraton Kasunanan Surakarta. The kind of this study is qualitative research that uses two methods; there are synchronic-diachronic method and evaluative method. Data gathering emphasize on data that originated from secondary survey, about the development of the square area, but other data gathering can be conducted through first survey, there are field observation, questionnaire, and interview. The result of this study showed that the development of this square area since 1745 up to 2004 in physics variable, the development of this square area in politics variable side, the development of this square area in economics variable side, the development of this square area in socials variable side, and the development of this square area in cultures variable side. There are four factors that caused the problems to conserved the square area of Keraton Kasunanan Surakarta, there factors are physics, politics, economics, and socials. Abstract in Bahasa Indonesia : Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perkembangan kawasan Keraton Surakarta dari tahun 1745-2004, serta mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menjadi kendala dilaksanakannya kegiatan pelestarian. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan dua jenis metode, yakni metode sinkronik-diakronik dan metode evaluatif. Pengumpulan data yang dilakukan lebih menitikberatkan pada data-data yang diperoleh dari survei sekunder, yakni data-data tentang perkembangan kawasan, namun pengumpulan data lainnya diperoleh dengan survei primer, yakni dengan observasi lapangan, penyebaran kueisioner, dan wawancara. Adapun hasil temuan studi ini adalah terkait dengan perkembangan kawasan dari tahun 1745-2004 ditinjau dari variabel fisik, perkembangan kawasan ditinjau dari variabel politik, perkembangan kawasan ditinjau dari variabel ekonomi, perkembangan kawasan ditinjau dari variabel sosial, serta perkembangan kawasan ditinjau dari variabel budaya. Adapun faktor yang menjadi kendala dilaksanakannya kegiatan pelestarian di Kawasan Keraton Kasunanan Surakarta adalah faktor fisik, faktor politik, faktor ekonomi, dan faktor sosial. Kata kunci: perkembangan, keraton, pelestarian.
KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KOLONIAL RUMAH DINAS BAKORWIL KOTA MADIUN Sukarno, Pipiet Gayatri; Antariksa, Antariksa; Suryasari, Noviani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.569 KB)

Abstract

Eksistensi bangunan kolonial Belanda semakin mengalami kemunduran di Indonesia khususnya kota-kota kecil karena kurangnya kepedulian akan bangunan bersejarah. Bangunan rumah dinas Bakorwil adalah salah satu bangunan kolonial Belanda yang masih bertahan di Kota Madiun namun telah mengalami perubahan yang telah menyesuaikan kebutuhan dari pengguna bangunan. Tujuan penelitian mengkaji pola ruang dari rumah dinas Bakorwil untuk mengetahui karakter spasial dari bangunan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif yaitu metode dengan cara menganalisis dan mendeskripsikan pola ruang dari bangunan yang kemudian dapat disimpulkan karakter spasial bangunan. Pada awalnya ruang dalam bangunan rumah dinas Bakorwil menggambarkan langgam Indische Empire Style, hal tersebut terlihat dari denah bangunan yang simetris seimbang antara sisi utara dan selatan bangunan. Terdapat pusat ruang atau Centre Room yang menjadi orientasi ruang dan sirkulasi bangunan. Selain itu serambi bangunan yang mengelilingi sisi utara hingga selatan bangunan dan teras depan bangunan yang terhubung dengan teras belakang bangunan melalui ruang tengah bangunan.Kata kunci : Pola ruang, karakter spasial, bangunan kolonial Belanda
POSISI WANITA PADA RUMAH TRADISIONAL BAANJUNGAN DI BANJARMASIN Rifqi, Muhammad; Antariksa, Antariksa; Suryasari, Noviani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.156 KB)

Abstract

Arsitektur merupakan hasil kebudayaan manusia. Masyarakat Banjar memposisikan wanita dalam posisi yang sangat penting. Posisi wanita sebagai pengguna dari ruang sosial dalam masyarakat Banjar memegang peranan penting dalam keluarga, hal ini dibuktikan dengan beberapa aktivitas utama yang hanya dikerjakan oleh wanita dalam kehidupan sehari-hari. Bahasan ini menggunakan metode penelitian deksriptif kualitatif yang didapat dari data primer dan sekunder. Bahasan ini memfokuskan pada Rumah Tradisional Banjar Baanjungan yang merupakan arsitektur klasik Banjar yang tidak banyak dibuat lagi dalam bentuk aslinya. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa peran wanita dalam masyarakat Banjar sangat penting yang dibuktikan dengan penempatan posisi wanita dalam rumah Baanjungan yang sangat terlindung. Posisi wanita berada pada ruang Palidangan dan Padapuran yang berada setelah ruang paling depan yaitu ruang Palataran dan Panampik Basar.Kata kunci: posisi wanita, rumah Baanjungan
PENGARUH FAKTOR NON FISIK TERHADAP PEMBENTUKAN POLA RUANG BANGUNAN PADA RUMOH ACEH DI KABUPATEN ACEH BESAR Sabila, Farisa; Antariksa, Antariksa; Handajani, Rinawati Puji
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.343 KB)

Abstract

Kabupaten Aceh besar merupakan daerah yang mengawali perkembangan arsitektur Rumoh Aceh di Provinsi Aceh. Rumoh Aceh memiliki pola ruang bangunan yang terdiri dari ruang bawah, berupa kolong bangunan, dan ruang atas berupa ruang dalam. Terdapatnya keunikan dari penerapan konsep pola ruang pada Rumoh Aceh, yaitu dengan adanya nilai segitiga keseimbangan berupa hubungan antara manusia, Tuhan, dan lingkungan. Faktor non fisik sangat mempengaruhi pembentukan pola ruang bangunan pada Rumoh Aceh . Tujuan dari penelitian yaitu untuk menemukan pengaruh faktor non fisik terhadap pembentukan pola ruang bangunan Rumoh Aceh , serta menjadi gagasan dan pengetahuan bagi masyarakat agar dapat mengambil manfaat dari penerapan konsep pola ruang Rumoh Aceh. Masyarakat diharapkan dapat menerapkan nilai kearifan lokal pola ruang Rumoh Aceh ke dalam rumah tinggal mereka saat ini. Hal ini juga tidak menutup kemungkinan adanya penelitian lanjutan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap pola ruang bangunan yang terbentuk, serta menemukan kecenderungan pengaruh pada faktor non fisik yang ditemukan di lapangan. Terbentuknya pola ruang bangunan dan terdapatnya perubahan sangat dipengaruhi oleh pertimbangan terhadap faktor non fisik, yaitu nilai keislaman sebagai bentuk karakter masyarakat Aceh, kekerabatan, adat, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Aceh.Kata kunci: Pola ruang bangunan, faktor non fisik
Karakter Visual Bangunan Utama Kompleks Asrama Inggrisan Kota Banyuwangi Risdyaningsih, Agustinha; Antariksa, Antariksa; Suryasari, Noviani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.016 KB)

Abstract

Karakter visual merupakan bagian yang dapat dilihat langsung pada bangunan. Studi ini bertujuaan untuk mengetahui karakter visual pada bangunan utama kompleks Asrama Inggrisan di kota Banyuwangi yang merupakan bangunan bersejarah yang saat digunakan Inggris berfungsi sebagai Lodge atau tempat penginapan dan kemudian digunakan juga sebagai barak prajurit. Dalam studi ini, digunakan metode deskriptif-analitis. Variabel yang digunakan adalah elemen visual bangunan yang meliputi bentuk denah, jendela, ventilasi, pintu, lantai, dinding, atap, kolom, kolong bangunan dan fasade. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa bangunan utama kompleks Asrama Inggrisan memiliki bentuk denah simetris yang dibentuk dari geometri sederhana tanpa ada elemen lengkung. Bangunan didominasi dengan pintu yang pada bangunan utama memiliki ukuran yang besar dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan pada bangunan pendukung. Bangunan yang berbentuk panggung menciptakan ruang pada bagian bawahnya (kolong bangunan) dan bangunan disokong oleh kolom yang berperan seperti umpak. Fasade bangunan didominasi dengan atap bangunan yang besar dan banyak terjadi pengulangan pada kolom dan bukaan lengkung pada kolong bangunan yang memberikan kesan kokoh pada bangunan ini.Kata kunci: karakter, visual, kolonial
POLA RUANG DALAM BANGUNAN RUMAH GADANG DI KAWASAN ALAM SURAMBI SUNGAI PAGU – SUMATERA BARAT Abdullah, Maulana; Antariksa, Antariksa; Suryasari, Noviani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.136 KB)

Abstract

Rumah Gadang merupakan salah satu rumah tradisional yang terdapat di Indonesia, terletak di Sumatera Barat. Rumah Gadang merupakan rumah tinggal bagi kaum Minangkabau. Keberadaan Rumah Gadang saat ini masuk dalam kategori terancam karena adanya bencana alam yaitu gempa, karena kawasan yang terdapat Rumah Gadang merupakan daerah pergerakan lempeng bumi pada bagian barat Indonesia. Selain itu, perawatan dan pemeliharaan Rumah Gadang semakin berkurang di berbagai kawasan di Minangkabau. Kawasan Alam Surambi Sungai Pagu merupakan salah satu kawasan yang masih banyak terdapat Rumah Gadang dan memiliki ruang dalam yang asli dengan berbagai bentuk penambahan sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Kawasan ini juga disebut sebagai Nagari Saribu Rumah Gadang yang terletak di Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini fokus pada permasalahan pola ruang dalam bangunan Rumah Gadangdi kawasan Alam Surambi Sungai Pagu yang terletak di Provinsi Sumatera Barat. Pelaksanaan penelitian menggunakan metode deskriptif dengan survei langsung ke lapangan, objek penelitian berupa Rumah Gadang yang difungsikan sebagai rumah tinggal dan tempat kegiatan adat. Hasil studi menunjukkan susunan-susunan ruang dalam bangunan Rumah Gadang dari berbagai jenis klasifikasi yang telah dibagi berdasarkan pola ruang dalam yang terdapat di kawasan tersebut.Kata kunci: Rumah Gadang, rumah tradisional, pola ruang dalam
Kualitas Visual Fasade Bangunan Modern Pasca Kolonial di Jalan Kayutangan Malang Fauziah, Nur; Antariksa, Antariksa; Ernawati, Jenny
RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies) Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.034 KB) | DOI: 10.21776/ub.ruas.2012.010.02.2

Abstract

Malang is one of the cities designed by Dutch with spesific attention to the aesthetic of urban environments. Kayutangan Street is a historic street corridor which plays a prominent role on the physical development of the city of Malang. In visual architectural context, a row of building facades along the Kayutangan streetscape is the main element of visual beauty and character creation of the characteristic in the Kayutangan corridor. The aims of this research are to investigate the general public and professional in the field of architecture judgment about the role of visual elements to the appearance of modern building facades in Kayutangan corridor, as well as to find out the most influential visual element to the appearance of modern building facades at Kayutangan Street. The method used is quantitative method by the independent sample t-test, factor analysis, and multiple linear regression analysis. The results showed that both groups of respondents rating are not much different, on a range of “less important” to “important” assessment scale. The visual components which are the most influential on modern building facades in Kayutangan Street are Geometric Component (architectural style, facade form, horizontal line, and vertical line). The next influential component is Visual Touching Effect & Color Dimension Component (texture, decorative ornament, material, facade color, saturation, brightness)Keywords: visual elements, modern building facade, Kayutangan streetscape
Co-Authors Abraham M. Ridjal Abraham Mohammad Ridjal Achmad Faried Hanafi, Achmad Faried Achmad, Agung Dewangga Agung Murti Nugroho Agus Suman Agustinha Risdyaningsih Akbar, Hidayatul Allafa Aryati, Allafa Amin Setyo Leksnono, Amin Setyo Amin Setyo Leksono Andri Satrio Pratomo Aryanti Dewi Ayu Indeswari Bagyo Yanuwiadi Bahar, Faisal Budi Santosa Christia Meidiana Dewi, Oktavia Altika Dhinda Ayu Dian Kusuma Wardhani Dianing Primanita Ayuninggar Ema Yunita Titisari Erlina Laksmiani Wahjutami, Erlina Laksmiani Erna Winansih, Erna Farisa Sabila Galih Widjil Pangarsa Gobang, Ambrosius A.K.S. Hana Ayu Pettricia Hardianty, Annis Hendra, F H Irma Fitriyani, Irma Ismu Rini Dwi Ari Ismu Rini Dwi Ari Jenny Ernawati Joko Triwinarto Santoso Kartika Eka Sari L Hakim Leksono, A S Lisa Dwi Wulandari Lisa Dwi Wulandari M. Ruslin Anwar Maulana Abdullah Megantara, Elriesta Mike Yuanita Muammar Ardli Hafiid, Muammar Ardli Muhammad Rifqi Noviani Suryasari Nugroho, A M Nur Fauziah Nurul Sri Hardiyanti Pipiet Gayatri Sukarno Purnama Salura Putri, Meilinda Helza Rachmat Budihardjo, Rachmat Resty Linandi Cipta, Resty Linandi Rinawati P. Handajani Rinawati Puji Handajani Risqi Cahyani, Risqi Rudy Trisno, Rudy Rumiati R. Tobing San Soesanto Santoso, Dian Kartika Septiana Hariyani Setyoleksono, Amin Sri Utami Sri Winarni Sriyanti Andayani Sulistyo, B W Sumardiyanto Sumardiyanto Surjono Surjono Thomas Kurniawan Dima Timang, Vica Vanessa Sesaryo Vica Vanessa Sesaryo Timang Wagistina, Satti Widisono, Adrian Winansiha, Erna Yohanes Wilhelmus Dominikus Kapilawi, Yohanes Wilhelmus Yusran, Yusfan Adeputera Yusran, Yusfan Adeputera