Articles

ANALISIS KINERJA SUB TERMINAL AGROBISNIS MANTUNG: STUDI KASUS PADA PEMASARAN SAYURAN KUBIS DI DESA NGABAB, KECAMATAN PUJON, KABUPATEN MALANG

Majalah Ekonomi Vol 18, No 3 (2008): MAJALAH EKONOMI
Publisher : Majalah Ekonomi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.537 KB)

Abstract

Sub  Terminal  Agrobusiness  (STA)  Mantung  is  the  market  improvement  programwhich  the  purpose  is  to  increase  farmers’  income  through  shorten  its  market  chainand  to  create  a  price  transparency.  But  in  fact  the  program  which  had  done  formore  than    two  years  still  cannot  reach  the  farmers,  it  could  be  seen  from  thefarmers  and  merchants  who  only    few  to  do  marketing  transaction  through  STAMantung. The research had purposes to analyze performance of STA and to analyzea  probability  of  farmers  in  selecting  between  traditional  organization  and  STAMantung.  The  result  of  this  research  showed  that  the  performance  of  STA  was  notefficient yet compared to the traditional  organization,  it was shown from the higherof  total  marketing  margin  and  the  lower  of  farmers’  price  share  belong  to  farmerswho  sold  to  STA  Mantung.  The  farmers’  probability  was  higher  to  use  traditionalorganization  compared  to  STA  Mantung  which  effected  by  the  price  informationavailability  and  an  easy  to  make  transaction  procedure.Key  Words: STA  (Sub  Terminal  Agrobusiness); marketing  margin;  farmers’probability.

THRESHOLD COINTEGRATION PADA PASAR JAGUNG DI INDONESIA

Agricultural Socio-Economics Journal Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi hubungan dan struktur antara harga pasar jagung di tingkat petani dan retail di Indonesia. Penelitian ini mengembangkan dan menguji Threshold Vector Error Correction Model (TVECM) dua regim dengan satu vector kointegrasi dan threshold parameter yang didasarkan pada error correction term. Penelitian ini menggunakan 348 data bulanan harga jagung di tingkat petani dan retail pada periode Januari 1993 sampai Desember 2011. Hasil empiris mengindikasikan bahwa TVECM dengan dua regim merupakan pendekatan yang lebih baik untuk mendeskripsikan hubungan antara harga pasar jagung di tingkat petani dan retail di Indonesia. Hubungan kointegrasi diekspektasikan ketika keseimbangan menurun lebih dari 20.8% atau equilibrium relative markup lebih dari 42.69%. Dalam hal ini, harga retail jagung meningkat lebih cepat daripada harga jagung di tingkat petani untuk mengembalikan kesimbangan jangka panjang antara harga jagung di tingkat petani dan retail. Hasil penelitian penyesuaian asimetris harga pada penelitian ini menunjukkan bahwa relative markup lebih dari 42.69%, hal tersebut akan menguntungkan retailer atau industri makanan dan pakan ternak, tetapi di sisi lain akan merugikan petani dan konsumen jagung. Hasil statistik menunjukkan kekuatan pasar sektor industri makanan dan pakan ternak serta retail telah eksis pada industri jagung di Indonesia.   Kata kunci: harga jagung, integrasi pasar, threshold cointegration

ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI BAWANG PUTIH (STUDI KASUS DI DESA GIRIPURNO KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU)

Agricultural Socio-Economics Journal Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan bawang putih dalam negeri dikuasai oleh bawang putih impor, hal ini dikarenakan produksi bawang putih dalam negeri semakin tahun mengalami penurunan. Ini disebabkan selain biaya produksi tinggi juga karena dalam berusahatani bawang putih petani tidak dapat mengalokasikan input usahataninya secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi teknis, efisiensi alokatif dan faktor yang berpengaruh pada tingkat efisiensi teknis dan alokatif. Model yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi adalah fungsi produksi stochastic frontier, dengan faktor produksi yang dimasukan dalam model yaitu luas lahan, bibit, pupuk, insektisida, fungisida dan tenaga kerja. Sedangkan metode efisiensi teknis yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada model efisiensi teknis yang dikembangkan oleh Battese dan Coelli. Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis yang dimasukan dalam model yaitu, pengalaman berusahatani, tanggungan keluarga, tingkat pendidikan dan umur petani. Berdasarkan hasil penelitian petani masih belum mampu untuk mengalokasikan input usahataninya secara optimal, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan petani didaerah penelitian dalam menggunakan faktor produksi baik itu luas lahan, bibit dan pupuk belum efisien secara teknis dikarenakan kemampuan petani dalam mengadopsi teknologi yang ada belum maksimal ini dikarenakan tingkat pendidikan petani berpengaruh pada tingkat efisiensi teknis. Rendahnya tingkat pendidikan dan terbatasnya kecakapan petani merupakan penyebab rendahnya penerapan teknologi oleh petani bawang putih. Terbatasnya pengaplikasian teknologi yang tepat sangat berpengaruh kepada hasil produksi komoditas pertanian, sehingga belum tercapai optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja, fungisida dan isektisida, yang sebenarnya sangat berpotensi untuk memberikan hasil yang lebih optimal dan dapat meningkatkan pendapatan petani itu sendiri.   Kata kunci: efisiensi teknis, produksi, pendapatan, bawang putih

ANALISIS VOLATILITAS HARGA, VOLATILITAS SPILLOVER, DAN TREND HARGA PADA KOMODITAS BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DI JAWA TIMUR

Agricultural Socio-Economics Journal Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Liberalisasi perdagangan di Indonesia menyebabkan impor bawang putih selalu meningkat sehingga harga domestik bawang putih tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan domestik, akan tetapi mengikuti harga impor bawang putih. Hal itu menyebabkan harga domestik bawang putih semakin tidak pasti. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis volatilitas harga, volatilitas spillover, dan untuk mengetahui trend harga pada komoditas bawang putih sebelum dan sesudah liberalisasi perdagangan. Penelitian ini didukung oleh data sekunder (time series), yaitu harga bawang putih di tingkat produsen (petani) dan konsumen (eceran) di Jawa Timur, selama 21 tahun, dari 1992 hingga 2012 (bulanan). Untuk menganalisis volatilitas harga digunakan metode ARCH/GARCH, volatilitas spillover digunakan metode EGARCH, dan untuk mengukur trend harga digunakan metode Kuadrat Terkecil. Hasil-hasil penelitian ditunjukkan bahwa sebelum liberalisasi perdagangan volatilitas harga produsen dan konsumen adalah high volatility, sedangkan sesudah liberalisasi perdagangan volatilitas harga produsen adalah high volatility dan volatilitas harga konsumen adalah low volatility. Sebelum liberalisasi perdagangan mengindikasi volatilitas spillover, sedangkan sesudah liberalisasi perdagangan tidak mengindikasi volatilitas spillover. Trend harga produsen dan konsumen sesudah liberalisasi perdagangan adalah meningkat sangat tinggi daripada trend harga produsen dan konsumen sebelum liberalisasi perdagangan. Kedua trend harga tersebut merupakan garis uptrend.   Kata kunci: bawang putih, volatilitas harga, volatilitas spillover, trend harga

ANALISIS SPILLOVER VOLATILITAS HARGA KEDELAI (Glycine max (L.) Merill) DI JAWA TIMUR

Agricultural Socio-Economics Journal Vol 13, No 3 (2013)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Variabilitas dan fluktuasi harga kedelai dunia memunculkan volatilitas harga kedelai dunia. Fenomena ini menyebabkan resiko dan ketidakpastian harga kedelai. Dampak fluktuasi harga kedelai dunia yang tidak stabil ini (volatilitas) menjadi efek utama yang akan memberikan efek sekunder bagi perkembangan harga kedelai domestik khususnya di Jawa Timur yang disebut sebagai spillover. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spillover volatilitas sementara (temporary volatility) dan dinamis (dinamic volatility) dari harga kedelai di berbagai tingkat pasar kedelai di Jawa Timur dan pasar kedelai di Amerika Serikat. Analisis dilakukan dengan metode GARCH yang sangat relevan dan realistis dalam menganalisis volatilitas komoditi pertanian yang memiliki tingkat fluktuasi harga yang cukup tinggi dibandingkan dengan model ARMA. Data time series harga yang digunakan adalah harga kedelai lokal tingkat petani dan eceran, kedelai impor dan harga kedelai nasional Amerika Serikat tahun 2000 hingga 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga kedelai impor memiliki volatilitas yang cukup tinggi yaitu sebesar 5.94 persen dan tidak berbeda jauh tingkat volatilitasnya dengan harga kedelai nasional Amerika Serikat. Volatilitas harga kedelai di berbagai tingkat harga pada kondisi dinamis bersifat divergen atau cenderung semakin besar pada level petani yang ditandai dengan α + β > 1, dengan volatilitas yang cenderung spiky atau melonjak dengan tajam (α > β), serta konvergen atau semakin kecil secara sementara. Volatilitas harga secara dinamis antara harga kedelai lokal terhadap harga kedelai impor bersifat divergen dengan α + β > 1. Artinya adalah bahwa harga kedelai lokal memiliki fluktuasi yang sangat bergejolak/volatil terhadap harga kedelai impor yang cenderung sangat rendah dibanding harga kedelai lokal atau dimasa yang akan datang kemungkinan terjadi volatilitas yang semakin besar. Sedangkan secara sementara (temporary), volatilitas harga cenderung bersifat konvergen atau menjadi semakin lemah (die down). Keberadaan spillover volatilitas harga kedelai secara kontemporer hanya terjadi secara satu arah diantara berbagai tingkat harga kedelai, sedangkan spillover dua arah hanya terjadi secara dinamis antara harga kedelai lokal (Jawa Timur) di tingkat petani dan eceran, serta antara harga kedelai lokal (Jawa Timur) tingkat eceran dengan harga kedelai impor. Kata Kunci : Fluktuasi, Volatilitas, Spillover, GARCH

PENGARUH GREEN MARKETING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PROGRAM COMMUNITY DEVELOPMENT (Kasus Produk Beras Organik “Lumpang Berlian” Agroindustri Sumber Makmur Desa Sumberngepoh, Lawang, Malang)

Habitat Vol 25, No 1 (2014)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agroindustri Sumber Makmur merupakan sebuah industri yang menciptakan produk hijau yakni beras organik dan sereal beras organik “Lumpang Berlian”. Agroindustri tersebut merupakan salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya potensial daerah khususnya di desa Sumberngepoh. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis 1) Pengaruh Green Marketing terhadap Keputusan Pembelian baik secara parsial maupun secara simultan, 2) Pengaruh Green Product, Green Promotion dan Keputusan Pembelian terhadap program Community Development, 3) Pengaruh Green Marketing secara tidak langsung melalui Keputusan Pembelian terhadap program Community Development. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Variabel Green Marketing berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian yaitu sebesar 81.9% dan sub variabel yang tertinggi adalah Green Product, 2) Variabel Product, Promotion dan Keputusan Pembelian berpengaruh secara signifikan terhadap Community Developmentyaitu sebesar 37.0%. 3) Semua hubungan yang terjadi antara variabel Green Marketing secara tidak langsung melalui Keputusan Pembelian terhadap variabel Community Development memiliki hubungan yang signifikan.   Kata Kunci: Agroindustri Beras Organik, Green Marketing, Keputusan Pembelian, Program Community Development

PERMINTAAN BAWANG PUTIH DI INDONESIA

Habitat Vol 25, No 2 (2014)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini akan bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan bawang putih di Indonesia. Jenis model yang digunakan dalam proses estimasi adalah model penyesuaian permintaan parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh persamaan dalam model signifikan dan memenuhi syarat uji statistik.  Faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap permintaan bawang putih meliputi harga riil bawang putih impor Indonesia dan permintaan bawang putih Indonesia tahun sebelumnya. Tarif impor berpengaruh nyata terhadap harga bawang putih impor Indonesia. Sementara itu, harga bawang putih eceran dipengaruhi secara nyata oleh permintaan bawang putih Indonesia, penawaran bawang putih Indonesia, dan harga bawang putih impor Indonesia. Dalam jangka pendek, seluruh variabel eksogen dalam model inelastis terhadap variabel endogennya. Namun dalam jangka panjang hanya tarif impor yang elastis terhadap harga bawang putih impor. Kata kunci :  bawang putih, model penyesuaian permintaan parsial, elastisitas, jangka pendek, jangka panjang

KINERJA SUPPLY CHAIN MANAGEMENT AGROINDUSTRI EMPING JAGUNG (Kasus di Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang)

Habitat Vol 25, No 3 (2014)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Pandanwangi merupakan salah satu sentra agroindustri emping jagung dengan jumlah agroindustri terbanyak di Kota Malang. Diindikasikan bahwa koordinasi antar pelaku supply chain agroindustri emping jagung di Kelurahan Pandanwangi belum berjalan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi dan menganalisis kondisi supply chain agroindustri emping jagung, dan 2) Mengukur kinerja supply chain management agroindustri emping jagung. Metode untuk menganalisis kondisi supply chain adalah menggunakan pendekatan hubungan jangka panjang sedangkan untuk mengukur kinerja supply chain management menggunakan model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dengan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa pelaku supply chain agroindustri emping jagung terdiri dari beberapa pelaku yaitu petani, pemasok, agroindustri, pengecer dan konsumen, pencapaian kinerja supply chain agroindustri emping jagung adalah 66,28 persen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah koordinasi antar pelaku supply chain belum terjalin dengan baik dan kinerja supply chain management agroindustri emping jagung termasuk katageri advantage atau baik. kata kunci: supply chain, supply chain management, agroindustri

PENAWARAN BAWANG PUTIH DI INDONESIA

Jurnal Agrimeta Vol 4, No 08 (2014): Agrimeta
Publisher : Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the factors that affect the supply of garlic in Indonesia. The type of model used in the estimation process is Nerlove supply model. The results showed that all equations in the model are significant and qualified to statistical tests. The factors that significantly affect garlic harvested acreage this year among others garlic harvested area at one previous year, garlic harvested area at two previous years, rain fall, real price of urea at one previous year and real price of rice at previous year. Garlic productivity this year only significantly affected by garlic productivity at one previous year. While imported garlic is significantly affected by Indonesian garlic production, garlic import tariffs and real exchange rate. In the short term, the entire exogenous variables in the model are inelastic on its endogenous variables. But in the long term harvested area at one previous year and harvested area at two previous year are elastic on harvested area this year, while garlic productivity elastic on garlic productivity this year.

ANALISIS DAYA SAING TEH INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

Jurnal Agrimeta Vol 4, No 08 (2014): Agrimeta
Publisher : Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tea is a beverage that is high demand, in addition to the knowledge about the properties of tea compsution, makes tea an export commodity for Indonesia. Indonesia is the worlds sixth largest tea exporter. The purpose of this study was (1) to analyze the position of Indonesian tea competitiveness in the international market, (2) analyze the trade specialization of Indonesian tea in the international market, (3) analyze the market structure and the position of Indonesian tea in the tea trade in the international market. This study uses annual time series secondary data, with a period of 21 years from 1991 to 2011 for analysis of the competitiveness and trade specialization of Indonesian`s tea, and a period of 11 years from the year 2001-2011 for analysis International tea market structure. In this study used analysis RCA (Revealed Comparative Advantage) and Potter`s Diamond Theory for the competitiveness of Indonesian tea, ISP (Trade Specialization Index) for the analysis of trade specialization of Indonesian tea and IH (Herfindahl Index) and CR4 for analysis International tea market structure. The results of the research conducted is (1) Position the competitiveness of Indonesian tea is comparatively lower than in Kenya, Sri Lanka, India however, still higher than China while on a competitive basis shows that Indonesia tea commodities strong competitiveness because of internal factors and externally in the production of tea is readily available, although there are several factors that must be addressed further, (2) Specialization Indonesian tea trade shows that Indonesian exporters of tea, (3) market structure faced by Indonesia in the international tea market is an oligopoly market. Indonesians position in the International tea is market follower.