Luh Dewi Anggreni
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

Kadar Glukosa Darah Anjing Kintamani

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan kadar glukosa darah anjing kintamani menggunakan Accu-check Active dilakukan di laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedoktern Hewan Universitas Udayana. Sampel darah diambil dari 50 ekor anjing kintamani untuk menentukan kadar glukosa acak dan 10 ekor untuk mengetahui kadar glukosa darah puasa dan dua jam setelah makan. Sampel darah diambil dari vena chepalica. Anjing yang dipilih sebagai sampel adalah anjing kintamani milik penduduk di daerah Denpasar dan Kintamani. Hasil penelitian ini menunjukkan rerataan kadar glukosa normal darah anjing kintamani secara acak sebesar 86,62 mg/dl  19,09, jantan adalah 84,10 mg/dl  19,11  dan betina 89,81 mg/dl  19,01..  Pada keadaan puasa kadar glukosa darah anjing kintamani adalah 73,4 mg/dl  5,98,   jantan 74 mg/dl  2,82 betina 73 mg/dl  7,69. Kadar glukosa darah anjing kintamani dua jam setelah makan sebesar 75,6 mg/dl  6,13, jantan 76,25 mg/dl  2,36 dan  betina 75,76 mg/dl 7,98. Hasil ini masih berada dalam kisaran normal berdasarkan standar acuan Graham. Dengan demikian Accu-check Active dapat dipakai untuk menentukan kadar glukosa darah anjing kintamani.

Imunitas Protektif Mencit Terhadap Cairan Kista Taenia saginata (PROTECTIVE IMMUNITY OF MICE AGAINST CYST FLUID OF TAENIA SAGINATA)

Jurnal Veteriner Vol 16, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research was to determine immune response of mice against vaccines derived fromcyst fluid of Taenia saginata. The study was conducted using four BALB/c mice aged 6 weeks as experimentalanimals. All experimental animals were vaccinated intra peritoneal with Taenia saginata cyst fluidemulsified in Freund’s adjuvant. Immune response in the mice was determined by detecting antibodiesusing ELISA and by the presence of lymphocytes through evaluation of blood smear. The results showedthat the cyst fluid of Taenia saginata was antigenic and capable of inducing antibody responses that weredetected by ELISA. Mean antibody titers obtained in the results of the first, second, third, and fourth ofvaccination was 3.3 units; 17.9 units; 21.2 units; and 72.1 units; respectively. Evaluation of blood smear ofvaccinated mice showed an increase in the percentage of lymphocytes after vaccination with an average66.75%, compared with the average of lymphocytes before vaccination which was 40.75%. Further researchis still required in experimental animals by vaccination followed by challenge test with Taenia saginataeggs.

Dosis Aman Parasetamol Terhadap Aktivitas Aspartate Aminotransferase dan Alanine Aminotranferase pada Ayam Pedaging

Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (4) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Parasetamol adalah obat yang digunakan secara luas sebagai antipiretik dan analgesik. Pada ayam, parasetamol juga digunakan sebagai pemacu tumbuh dan pemberik rasa nyaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan parasetamol pada ayam dapat menyebabkan kerusakan hati yang ditandai dengan peningkatan aktivitas enzim Aspartate Aminotransferase (AST) dan Alanine Aminotransferase (ALT) pada darah tepi. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan besar sampel 24 ekor dog old chiken (DOC) ayam pedaging yang dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok P0 merupakan kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan normal. Kelompok P1, P2 dan P3 merupakan kelompok ayam yang diberikan pakan dengan campuran parasetamol sebanyak masing-masing 1 g/kg pakan, 2 g/kg pakan, dan 4 g/kg pakan. Perlakuan diberikan selama 21 hari dan pengamatan dilakukan pada hari ke 21 dan ke 35 setalah perlakuan. Spesimen yang diamati berupa darah tepi dan variabel yang diamati adalah kadar AST dan ALT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbadaan kadar AST dan ALT antara kelompok kontrol, kelompok dosis 1 g/kg pakan, 2 g/kg pakan, dan 4 g/kg (p>0,05). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Pemberian parasetamol pada ayam pedaging sampai dosis 4 g/kg pakan selama 21 hari masih tergolong dosis aman.

Leukosit Ayam Pedaging setelah Diberikan Paracetamol

Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil hematologi (total leukosit dan diferensial leukosit) pada ayam pedaging yang diberikan paracetamol dalam pakan mulai umur 14 – 35 hari, Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap yaitu P0 (kelompok ayam pedaging yang hanya diberi pakan standar SB-11), P? (pakan standar SB-11 dan paracetamol 1 g/kg pakan), P? (pakan standar SB-11 dan paracetamol 2 g/kg pakan), P? (pakan standar SB-11 dan paracetamol 4 g/kg pakan) masing-masing kelompok terdiri dari enam ekor ayam pedaging. Pengambilan darah pada vena brachialis dilakukan sebelum diberikan perlakuan dan pada hari ke 21 setelah diberikan perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian paracetamol dosis 1-4 g/kg pakan tidak berpengaruh nyata terhadap total leukosit (P>0,05) akan tetapi hanya berpengaruh nyata terhadap monosit (P

Profil Kimia Klinik Darah Sapi Bali (BLOOD CLINICAL CHEMISTRY PROFILES OF THE BALI CATTLE)

Jurnal Veteriner Vol 13, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

For the evaluation of clinical tests in veterinary laboratories a reference basis of normal values ofclinically healthy farm animals is essential. It is well known that variables such as breed, age and sex havean influence on many blood parameters. The reference value of blood chemistry of bali cattle is scanty. Theaim of the current study was to evaluate blood chemistry of bali cattle includes alanine aminotransferase(ALT), aspartate aminotransferase (AST), urea, creatinine and glucose, measured by an auto analyzer.These data were used to establish reference intervals in bali cattle of different ages and sex. Blood wascollected from 195 (21 young males, 54 adult males, 60 young females, and 60 adult females) clinicallyhealthy bali cattle by means of jugular venipuncture. Values from different age and sex were comparedstatistically. The results of the study was obtained that ALT and blood glucose significantly higher inmales Bali cattle (P <0.05) then in females. ALT, AST and urea were significantly higher in adults Balicattle (P<0.05) then in young Bali cattle. However, glucose of young Bali cattle was higher when comparedwith the adult. There was no significant difference in the creatinine levels between adults and the youngones. The results of the current study provide reference intervals for clinical chemistry of Bali cattle

Toksisitas Ekstrak Daun Sirih Merah pada Tikus Putih Penderita Diabetes Melitus (TOXICITY OF RED BETEL EXTRACT IN DIABETIC WHITE RAT )

Jurnal Veteriner Vol 14, No 4 (2013)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research was to study the toxicity of red betel  (Piper crocatum) extract in diabeticwhite rat based on ALT and AST activities. This research used 20 male white rats, which randomlydivided into five groups, P1: given only aqua; P2: given alloxan 120mg/kg bw; P3: given alloxan 120 mg/kgbw and red betel leaf extract 50 mg/kg bw; P4: given alloxan 120 mg/kg bw and red betel leaf extract 100mg/kg bw; P5: given alloxan 120 mg/kg bw and glibenclamide suspension 1 mg/kg bw. ALT and ASTactivities were measured by using reflovet plus Machine. The collected data were analyzed by usinganalysis of covariance. The result showed no significant  effect (P>0.05) was observed on giving red betelleaf extract in diabetic white rat for ALT and AST activities.  It can be concluded that red betel leaf extractis potential for diabetic treatment in white rat  and it is not toxic for the rat’s ALT and AST activities.

Yuniati Kencana TOTAL DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT AYAM PETELUR PASCAVAKSINASI NEWCASTLE DISEASE DAN AVIAN INFLUENZA

Jurnal Veteriner Vol 19 No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencegahan terhadap penyakit Newcastle Disease (ND) dan Avian Influenza(AI)  pada ayam petelur dilakukan dengan cara vaksinasi. Keberhasilan vaksinasi dapat dideteksi dengan pemeriksaan titer antibodi yang mencerminkan respon imun ayam  pasca divaksinasi. Titer antibodi dipengaruhi oleh kerja sel-sel dari organ limfoid primer maupun sekunder. Sistim imun melibatkan sel-sel leukosit terutama sel-sel limfosit. Respon imun yang diperankan oleh leukosit sifatnya spesifik dan non spesifik Respon imun nonspesifik diperankan oleh monosit atau makrofah, eosinofil, basofil, dan heterofil, sedangkan respon imun spesifik diperankan oleh limfosit.  Leukosit terdiri dari neutrofil (pada unggas dinamakan heterofil), eosinofil, basofil, limfosit dan monosit.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui total dan diferensial leukosit ayam petelur pascavaksinasi ND-AI. Penelitian dilakukan pada peternakan ayam petelur komersial di Desa Denbatas, Kecamatan Tabanan, Bali. Sebanyak 30 ekor ayam petelur digunakan untuk sampel penelitian. Vaksinasi dilakukan dengan vaksin kombinasi ND-AI yang merupakan gabungan vaksin ND strain Lasota dengan vaksin AI subtipe H5N1. Ayam divaksinasi pada umur 18 minggu menjelang  masa bertelur. Pengambilan sampel darah ayam dilakukan sebanyak dua periode yaitu dua minggu dan tiga minggu pascavaksinasi. Pemeriksaan total leukosit dilakukan dengan kamar hitung, sedangkan diferential leukosit diperiksa dari preparat hapusan darah dengan  pengecatan Giemsa. Data hasil pemeriksaan total dan diferensial leukosit dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ayam mengalami leukopenia dan heteropenia yang kemungkinan disebabkan karena  faktor hormon dan stres akibat pengambilan darah. 

Hemogram Anjing Penderita Dermatitis Kompleks

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 5 (2018): Volume 7 (5) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hemogram anjing penderita dermatitis kompleks. Sampel penelitian ini adalah darah anjing yang mengalami dermatitis kompleks yang didapatkan dari daerah sekitar Denpasar. Dermatitis kompleks adalah radang kulit yang disebabkan oleh komplikasi berbagai agen penyebab seperti parasit, bakteri dan jamur. Komplikasi dari berbagai agen itu menyebabkan kerusakan pada kulit dan terganggunya proses vaskularisasi ke kulit, hal ini menyebabkan terjadi pembusukan pada kulit sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap, kerontokan rambut, dan luka borok. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 15 ekor anjing. Pemeriksaan darah untuk mendapatkan nilai hemogram digunakan mesin Animal Blood Counter iCell-800Vet, China. Setelah penghitungan diferensiasi leukosit dari preparat ulas darah dengan pengamatan mikroskop, data dianalisis secara deskriptif. Hasil hemogram anjing penderita dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia, dan basofilia. Neutropenia yang terjadi pada anjing penderita dermatitis kompleks disertai peningkatan neutrofil stab/neutrofil muda, hal tersebut mengindikasikan adanya peradangan yang bersifat akut. Temuan hemogram yang paling umum pada anjing penderita dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia dan basofilia. Neutropenia yang terjadi disertai dengan peningkatan neutrofil muda (stab/band).