Articles

Found 13 Documents
Search

EVALUASI HASIL PELATIHAN GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP) UNTUK PEREMPUAN PESISIR: ANALISIS KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF

Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor perikanan tangkap adalah sektor yang memberikan kontibusi yang cukup besar bagi perikanan Indonesia. Sektor ini diharapkan bisa menjadi peranan strategis bagi pembangunan perikanan Indonesia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah peningkatan hasil perikanan tangkap. Indramayu merupakan daerah dengan hasil perikanan tangkap yang memberikan kontribusi sebesar 60% dari perikananan tangkap Jawa Barat, menjadikan Indramayu sebagai daerah dengan tingkat kontribusi produksi perikanan terbesar diantara daerah-daerah lainnya. Produksi dari aktivitas perikanan ini didapatkan rata-rata sebesar 2500 ton dengan nilai rata-rata 30 miliar perbulan. Nilai ini akan lebih meningkat dengan adanya aktivitas pengolahan menjadi suatu produk. Untuk mendapatkan hasil produk perikanan yang bernilai tinggi, diperlukan suatu upaya salah satunya adalah dengan praktik manufaktur yang baik atau good manufacturing practice (GMP). Universitas Padjadjaran melalui program  pelatihan GMP Eretan telah melakukan pelatihan GMP dari tahun 2013-2015. Sebagai evaluasi, analisis kesejahteraan dilakukan. Sejauh ini kesejahteraan dinilai secara objektif. Pada penelitian ini, kesejahteraan secara subjektif dianalisis untuk memberikan gambaran dari perspektiv individu responden dengan analisis kesejahteraan subjektif dan regresi logistik untuk mengetahui faktor lain yang berpengaruh. Hasilnya kesejahteraan subjektif di pesisir Indramayu bisa meningkat dengan adanya pelatihan GMP dimana responden yang mendapatkan pelatihan GMP meningkat kesejahteraan subjektifnya dibandingkan dengan sebelum adanya pelatihan. Title: Training Results Evaluation on Good Manufacturing Practices (GMP) for the Coastal Women: A Subjective Well-being AnalysisCapture fisheries give significant contribution to Indonesian fisheries. This sector is expected to be a strategic role in Indonesia fisheries development. One of the strategies is increasing capture fisheries products. Indramayu is an area with capture fisheries products which contributes 60% of West Java capture fisheries, therefore, Indramayu has the most significant contribution to fisheries production among other regions. Average production of this sector is 2500 tons with average value of 30 billion per month. This value will increase with the fisheries processing product actitivites. Good Manufacturing Practice (GMP) is one of effort to obtain high-value fishery products. Padjadjaran University has conducted GMP Eretan training from 2013 to 2015. There is an evaluation to analyzed the welfare of the community. So far, welfare has been assessed objectively. In this study, subjective welfare was analyzed to provide an overview of individual respondents’ perspectives with subjective welfare analysis and logistic regression to determine other influential factors. As a result, subjective welfare on the coastal area of Indramayu can be increased with GMP training. It means that respondents with GMP training have increased subjective welfare compared with before training. 

Characteristics of High Protein Snackbar Made of Modified Sweet Potato Flour

International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MOSEP (Modified Sweet Potato) flour that made of sweet potato is potentially used as an emergency food due to its high content of carbohydrate. Snack bar becomes an option of emergency food form because practical in its preparation and serving. Mung beans flour and commercial WPC (whey protein concentrate) were added to produce a new food product that high in protein content of at least 10 – 15% to meet emergency food requirements. The objective of the study was to obtain a proper formulation between MOSEP composite flour and mung beans flour by adding 5% commercial WPC in the making of snack bar emergency food. The method used in the study was Randomized Block Design consisting of four treatments and three repetitions. The treatments were the ratio of MOSEP flour: mung beans flour, 70:30; 65:35; 60:40 and 55:45. Results showed that the best formulation was the treatment of MOSEP flour: Mung beans flour 55:45, having characteristics of 13.96% protein content, 3.45% raw fiber, 120.23 kkal/30 gram calorific value, 2255.93-gF hardness, 94.53% rendement and organoleptic tests of preference, color, flavor, and aroma were accepted.

SIFAT REOLOGI DAN TEKSTUR GEL SUSU ASAM SEBAGAI AKIBAT VARIASI DALAM KADAR LEMAK DAN PERLAKUAN PEMANASAN

Jurnal Teknotan Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gel susu fermentasi dibuat dari bubuk kasein dan whey protein yang direkonstitusi dengan kadar lemak divariasikan 0, 2 dan 4 % dipanaskan dengan tiga taraf kombinasi suhu-waktu yang berbeda yaitu 760C / 0 detik, 85 0C /0 detik dan 850C /20 menit, kemudian di asamkan dengan menggunakan glucono-d-lactone (GDL) pada 35°C selama 5 jam. Sifat reologi dan tekstur dari gel yang terbentuk kemudian di analisis dengan menggunakan dynamic low-amplitude oscillatory rheology dan texture profile analyis (TPA).Pemberian perlakuan panas menyebabkan peningkatan derajat whey protein terdenaturasi cenderung meningkatkan nilai Loss angle (δ) yang diukur pada frekuensi 1 Hz dan sebaliknya dengan meningkatnya kadar lemak dari sistem mengakibatkan nilai Loss angle (δ) semakin kecil. Meningkatnya derajat whey protein terdenaturasi akibat perlakuan  pemanasan juga mengakibatkan naiknya nilai storage modulus (G’) pada semua taraf kadar lemak sedangkan nilai G’ sedikit mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya kadar lemak pada sampel. Pengukuran TPA pada sampel menunjukan nilai kekerasan, fracturability, adhesivitas dan kohesivitas mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya derajat denaturasi whey protein namun pada pemanasan 850C /20 menit, semua parameter tersebut mengalami penurunan. Peningkatan kadar lemak sebesar 2 dan 4 % menyebabkan penurunan nilai kekerasan, fracturability, adhesivitas dan kohesivitas pada semua perlakuan pemanasan yang diberikan kecuali pada pemanasan 850C /20 menit. Kata kunci : Lemak, Pemanasan, Rheologi, Texture profile analysis

PENGARUH KADAR AIR AWAL BAWANG DAN KUALITAS MINYAK GORENG TERHADAP SERAPAN MINYAK OLEH BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L) GORENG

Jurnal Teknotan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kadar air awal bawang dan kualitas minyak goreng terhadap serapan minyak oleh bawang merah goreng. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Agustus 2006. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan kelompok  acak lengkap dengan dua factor (kadar air awal dan kualitas minyak goring) dan replikasi sebanyak dua kali digunakan dalam penelitian ini.  Penurunan kadar air bawang merah selama proses penggorengan terjadi melalui mekanisme difusi dan dimodelkan terbaik dengan persamaan eksponensial orde satu 3,8247e-0.0044t  dengan nilai R kuadrat sebesar 0,957. Karakteristik fisik dan kimia minyak yang telah digunakan beberapa kali mengalami perubahan. Semakin sering minyak yang digunakan, semakin tinggi bilangan peroksida, bilangan asam, sementara itu semakin rendah titik asap minyak tersebut. Kadar air awal bawang merah memberikan pengaruh yang nyata terhadap minyak yang terserap oleh bawang merah goreng. Semakin rendah kandungan air awal bawang maka makin sedikit minyak yang terserap oleh bawang merah goreng. Tetapi pengaruh kualitas minyak yang digunakan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap minyak terserap oleh bawang merah goreng. Kata kunci: Kadar air, kualitas minyak, penyerapan minyak, bawang goreng, model eksponensial

PENGARUH IMBANGAN TEPUNG BONGGOL PISANG BATU (Musa brachycarph) DAN TEPUNG JAGUNG TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK COOKIES

Jurnal Teknotan Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung bonggol pisang sebagai bahan baku pengganti terigu dalam pembuatan cookies, mempunyai rasa sepat dan mengandung protein yang rendah. Penambahan tepung jagung dapat mengurangi rasa sepat dan meningkatkan nilai protein cookies. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan imbangan tepung bonggol pisang dan tepung jagung yang tepat sehingga dihasilkan cookies yang mempunyai karakteristik baik dan disukai oleh panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari imbangan tepung bonggol pisang dan jagung 90:10 ; 80:20 ; 70:30 ; 60:40 ; 50:50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan tepung bongol pisang dan tepung jagung 50 : 50 memberikan hasil yang terbaik dari segi kandungan kimia (kadar air 1,30%, kadar abu 3,79%, kadar protein 3,26%, kadar lemak 36,10%, karbohidrat 55,53%, nilai kalori 560,14 kkal) dan sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, kerenyahan, keremahan dan kenampakan keseluruhan) yang dapat diterima oleh panelis. Kata kunci: Rasio tepung bonggol pisang dan jtepung jagung, Kandungan kimia, Tes organoleptik

FOOD FULFILLMENT FOR CHILDREN UNDER FIVE BY FAMILY IN DISASTER RESERVE AREA

ASIAN JOURNAL FOR POVERTY STUDIES (AJPS) Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Regional Network on Poverty Eradication

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The ability of families to meet the food needs becomes one of the determining factors in the fulfillment of food of children under five. For the communities living in disaster areas, the situation can be further complicated by the conditions of the natural environment damaged by the disaster. This research describes the fulfillment of food of children under five, especially those aged between three to five years, by families who lived in disaster-prone areas. This research was conducted in Nagrakjaya Village, Curug kembar Subdistrict, Sukabumi Regency which is prone to earth movement disaster and part of its territory is considered as the red zone. The research employed a qualitative method using data obtained from parents informant of children under five, health cares, and community leaders. The aspects covered in this study were: food access, food availability, consumption pattern, coping strategy food, and food preparedness. The results showed that in terms of access to food, people obtained their foodstuffs depending on what was available to mobile vendors and small shops regardless of their financial ability to obtain food. Moreover, people did not provide special foods for toddlers. In dealing with difficult situations during the event of a disaster, people reliedon the provision of food from fellow citizens or small shop owners and outside help. People also felt no need to store food supplies for the possibility of difficult situations, both for adults and toddlers, even though toddlers have a different consumption pattern to adults and require balanced nutritional needs.As a recommendation, it is necessary to conduct campaigns and dissemination of healthy food for children under five to increase parents knowledge about healthy consumption for children under five, especially in the disaster-prone areas.

Penerapan Good Manufacturing Practices Pada Produksi Sistik Ebi Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Produk Olahan Ikan di Pesisir Eretan - Indramayu

Agricore Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

GMP (Good Manufacturing Practices) merupakan salah satu metode mitigasi resiko dalam proses produksi pangan beresiko tinggi diantaranya produk pangan berbasis ikan yang banyak ditemui di daerah pesisir pantai khususnya di Desa Eretan Kulon Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Sistik ebi merupakan salah satu produk olahan ikan lokal Eretan yang memiliki kelemahan diantaranya umur simpan yang relatif singkat karena terjadinya perubahan kualitas selama penyimpanan yang diakibatkan metode pengolahan dan pengemasan yang kurang baik. Penelitian ini  mengevaluasi penerapan GMP selama proses produksi sistik ebi dan memperbaiki kemasan dalam rangka meningkatkan kualitas produk dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa sistik ebi yang mengandung protein tinggi ( 59,4%) memerlukan implementasi GMP dalam memitigasi resiko selama pengolahan. Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat ketidaksesuaian terhadap persyaratan GMP dengan jumlah ketidaksesuaian mayor (MA) 5 elemen dan minor (MI) 21 elemen dari total keseluruhan 37 elemen pemeriksaan yang meliputi elemen lokasi, bangunan, dan sanitasi pekerja, peralatan produksi, sanitasi peralatan dan ruangan produksi, penyimpanan, pengendalian proses, pelabelan, dokumentasi dokumen dan legalitas produk. Proses pendampingan mampu mereduksi ketidaksesuaian elemen sebesar 96,16%. Penerapan GMP didalam produksi sistik ebi membuka peluang bagi pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas produk sekaligus meningkatkan peluang bagi produk tersebut dalam memasuki pasar global.

CHARACTERISTICS OF SWEET POTATO INSTANT CREAM SOUP FOR EMERGENCY FOOD

Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol 29, No 2 (2018): JURNAL TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PANGAN
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.13 KB)

Abstract

A convenient food such as instant cream soup is the most suitable choice for practical lifestyle but can also be applied in an emergency situation such as in an area affected by disaster. The addition of milk powder as the main ingredient in cream soup creates a complex binding of fat and starch that complicates the rehydration process and affects other physical appearances. This research aimed to obtain the appro-priate concentration of full cream milk powder to obtain the best physical and chemical characteristics and the most preferable instant cream soup of dried sweet potato. Research method used was a randomized block design with six variables and two repetitions. Instant cream soup with 20% full cream milk powder gave the best physical and chemical characteristic and organoleptically preferred by panelists. The physi-cal and chemical characteristic of the most preferred soup had 6% water content, 95.47% rehydration po-wer, 18% protein, 20.7% fat, 1080 cP viscosity, 30.5% yield. The most favored by panelists were flavor, aroma, colour and thickness after rehydrated.

PENGARUH KADAR AIR AWAL BAWANG DAN KUALITAS MINYAK GORENG TERHADAP SERAPAN MINYAK OLEH BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L) GORENG

Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kadar air awal bawang dan kualitas minyak goreng terhadap serapan minyak oleh bawang merah goreng. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Agustus 2006. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan kelompok  acak lengkap dengan dua factor (kadar air awal dan kualitas minyak goring) dan replikasi sebanyak dua kali digunakan dalam penelitian ini.  Penurunan kadar air bawang merah selama proses penggorengan terjadi melalui mekanisme difusi dan dimodelkan terbaik dengan persamaan eksponensial orde satu 3,8247e-0.0044t  dengan nilai R kuadrat sebesar 0,957. Karakteristik fisik dan kimia minyak yang telah digunakan beberapa kali mengalami perubahan. Semakin sering minyak yang digunakan, semakin tinggi bilangan peroksida, bilangan asam, sementara itu semakin rendah titik asap minyak tersebut. Kadar air awal bawang merah memberikan pengaruh yang nyata terhadap minyak yang terserap oleh bawang merah goreng. Semakin rendah kandungan air awal bawang maka makin sedikit minyak yang terserap oleh bawang merah goreng. Tetapi pengaruh kualitas minyak yang digunakan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap minyak terserap oleh bawang merah goreng. Kata kunci: Kadar air, kualitas minyak, penyerapan minyak, bawang goreng, model eksponensial

PENGARUH IMBANGAN TEPUNG BONGGOL PISANG BATU (Musa brachycarph) DAN TEPUNG JAGUNG TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK COOKIES

Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung bonggol pisang sebagai bahan baku pengganti terigu dalam pembuatan cookies, mempunyai rasa sepat dan mengandung protein yang rendah. Penambahan tepung jagung dapat mengurangi rasa sepat dan meningkatkan nilai protein cookies. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan imbangan tepung bonggol pisang dan tepung jagung yang tepat sehingga dihasilkan cookies yang mempunyai karakteristik baik dan disukai oleh panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari imbangan tepung bonggol pisang dan jagung 90:10 ; 80:20 ; 70:30 ; 60:40 ; 50:50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan tepung bongol pisang dan tepung jagung 50 : 50 memberikan hasil yang terbaik dari segi kandungan kimia (kadar air 1,30%, kadar abu 3,79%, kadar protein 3,26%, kadar lemak 36,10%, karbohidrat 55,53%, nilai kalori 560,14 kkal) dan sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, kerenyahan, keremahan dan kenampakan keseluruhan) yang dapat diterima oleh panelis. Kata kunci: Rasio tepung bonggol pisang dan jtepung jagung, Kandungan kimia, Tes organoleptik