MS Anam
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi, Jl. Dr. Sutomo 16-18 Semarang, Indonesia

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Komposisi Tubuh dan Kesegaran Kardiovaskuler yang Diukur dengan Harvard Step Test dan 20m Shuttle Run Test pada Anak Obesitas

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2012:MMI VOLUME 46 ISSUE 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.313 KB)

Abstract

Body composition and cardiovascular fitness measured by Harvard step test and 20m shuttle run test in obese childrenBackground: One of the impacts of obesity are physical and cardiovascular problems. Harvard step test and 20m shuttle run test can be used to measure cardiovascular fitness. Objective of this research is to determine the association between body composition with cardiovascular fitness in obese children measured by Harvard step test (HST) and 20m shuttle run test (SRT).Method: Cross sectional study was conducted to 31 students of Bernardus Elementary School Semarang in August 2010. Body composition (body mass index/BMI and fat percentage) was measured by Tanita BC545. Cardiovascular fitness was measured by HST and 20m SRT. During the step test Polar Vantage? Heart Rate (HR) monitor was attached to the subjects. Data were analyzed with Spearman correlation.Result: The average age was 10.7 (0.68) years. Only 17 children finished level III of Harvard test. The HR recovery never met the normal limit. There was no difference of physical fitness index (PFI) level I, II, and III (p=0.130) but the HR recovery decreased significantly (p=0.020). The mean of VO2max measured by 20m SRT was 20.5 (1.2) ml/kg/min, significantly lower compared with HST 24.2 (2.27) ml/kg/min. There were negative correlation between PFI and BMI (r=-0.381; p=0.034) and VO2max and BMI(r=-0.448; p=0.012).Conclusion: There are negative correlation between body mass index and cardiovascular fitness. However there are difference result of VO2max from Harvard step test comparing with 20m shuttle run test.Keywords: Harvard step test, 20m shuttle run test, physical fitness, obesityABSTRAKLatar belakang: Salah satu dampak obesitas adalah masalah fisik dan kardiovaskuler. Harvard step test (HST) dan 20m shuttle run test (SRT) merupakan tes yang digunakan untuk mengukur tingkat kesegaran kardiovaskuler. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan komposisi tubuh dengan tingkat kesegaran kardiovaskuler pada anak obesitas menggunakan HST dan 20m SRT.Metode: Penelitian belah lintang dilakukan di SD Bernardus Semarang bulan Agustus 2010. Komposisi tubuh (indeks massa tubuh/ IMT) dan persentase lemak tubuh diukur dengan Tanita BC545. Dilakukan Harvard step test dan denyut jantung selama tes direkam menggunakan Polar Vantage Heart Rate (HR) monitor, serta dilakukan 20m SRT. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Hasil: Tiga puluh satu anak obesitas berumur 10,7(0,68) tahun mengikuti penelitian ini. Hanya 17 anak yang bisa menyelesaikan tes Harvard sampai tahap III. Didapatkan rerata HR saat istirahat lebih tinggi dibanding normal. Tidak didapatkan perbedaan physical fitness index (PFI) antara tes I, II, dan III (p=0,130) tetapi didapatkan penurunan HR recovery I, II, dan III yang bermakna (p=0,020). Rerata VO2max SRT 20,5(1,2) ml/kg/menit lebih rendah secara bermakna dibandingkan HST I yaitu 24,2(2,27) ml/kg/menit. Didapatkan hubungan terbalik antara PFI dengan IMT (r=-0,381, p=0,034) dan VO2max dengan IMT (r=-0,448, p=0,012).Simpulan: Didapatkan hubungan terbalik antara indeks massa tubuh dengan kesegaran kardiovaskuler pada anak obesitas, tetapi tidak didapatkan kesesuaian VO2max berdasarkan Harvard step test dan 20m shuttle run test.

Pengaruh Intervensi Diet dan Olah Raga Terhadap Indeks Massa Tubuh, Lemak Tubuh, dan Kesegaran Jasmani pada Anak Obes

Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Obesitas telah berkembang menjadi epidemi baik di negara maju maupun negaraberkembang. Diduga bahwa intervensi diet dan olah raga dapat menurunkan risiko obesitas.Tujuan. Mengetahui pengaruh intervensi diet dan olah raga terhadap indeks massa tubuh, lemak tubuhdan kesegaran jasmani pada anak obesMetode. Uji intervensi one group pre and post test design pada anak SD usia 9–10 tahun di SD BernardusSemarang pada bulan Juni-September 2009. Intervensi diet berupa konseling pada anak dan orangtua.Intervensi olahraga tiga kali 45 menit per minggu selama 8 minggu. Pengambilan data pada awal danakhir penelitian berupa data antropometri dengan menggunakan timbangan Tanita BC 545 Inner ScanBody Composition dan tingkat kesegaran jasmani diukur menggunakan 20 meter shuttle run test, kemudiandilakukan analisis data dengan t-test berpasangan dan analisis multivariat.Hasil. Dua puluh subjek (17 laki-laki dan 3 perempuan) menyelesaikan penelitian. Didapatkan penurunanrerata indeks massa tubuh 0,6 kg/m2 (p=0,006) dan peningkatan rerata tingkat kesegaran jasmani sebesar1,66 ml/kg/menit (p=0,000), tetapi tidak didapatkan perbedaan secara bermakna terhadap lemak tubuh.Asupan diet harian berkurang 421,3 kkal/hari. Berdasarkan analisis multivariat, asupan makanan merupakanvariabel yang lebih berpengaruh dibandingkan dengan olahraga (rsquare=0,33, p=0,018).Kesimpulan. Intervensi diet dan olahraga selama 8 minggu menurunkan indeks massa tubuh, meningkatkantingkat kesegaran jasmani, tetapi tidak didapatkan pengaruh yang signifikan terhadap lemak tubuh. Asupandiet merupakan variabel yang paling berpengaruh.

Rasio Jumlah Neutrofil-Limfosit pada Awal Masuk Rawat sebagai Faktor Risiko Luaran Pneumonia Anak

Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Data global menunjukkan pneumonia pada anak usia di bawah 5 tahun (balita) menyebabkan kematian 15,5%.Neutrophil to lymphocyte count ratio (NLCR) atau rasio jumlah neutrofil-limfosit merupakan parameter inflamasi sistemik dan stresuntuk pasien kritis. Dari beberapa penelitian didapatkan hubungan antara derajat keadaan klinis dengan peningkatan NLCRTujuan. Membuktikan nilai NLCR awal masuk sebagai faktor risiko luaran pasien pneumonia anak yang dirawat di bangsal anakRSUP dr KariadiMetode. Penelitian kohort prospektif pada anak pneumonia usia 1 bulan – 5 tahun yang dilaksanakan di ruang perawatan anak(bangsal anak, HCU, PICU) RS dr Kariadi, Semarang. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan darah rutin,kemudian dilakukan pemantauan klinis pada hari perawatan ke 10. Pada spesimen darah diperiksa darah rutin dan dilakukanperhitungan NLCR. Analisis statistik menggunakan uji chi square dan Mann-Whitney UHasil. Didapatkan 40 subjek dengan pneumonia. Rerata NLCR lebih tinggi pada luaran yang buruk dari pada luaran yang baik(3,42± 4,063) vs (1,73 ± 1,568) tetapi tidak berbeda bermakna (p= 0,118). Titik potong NLCR ???? 1,335 meningkatkan risiko luaranperburukan pada pneumonia anak sebesar 1,727 kaliKesimpulan. Tidak terdapat perbedaan nilai NLCR awal antara luaran perbaikan dan perburukan. Titik potong dari NLCR awaltidak dapat digunakan sebagai indikator prognosis luaran pneumonia anak