Asril Aminullah
Departemen Pediatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Dr . Ciptomangunkusuma Jakarta

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

The role of plasma C-reactive protein in the evaluation of antibiotic treatment in suspected neonatal sepsis Aminullah, Asril; Sjachroel, Djaja N.; Hadinegoro, Sri R.; Madiyono, Bambang
Medical Journal of Indonesia Vol 10, No 1 (2001): January-March
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.668 KB) | DOI: 10.13181/mji.v10i1.3

Abstract

Analysis of serial C-reactive protein (CRP) levels was done to evaluate the effectiveness of antibiotic treatment in 35 suspected neonatal sepsis (SNS) patients who were hospitalized at Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. This cross sectional study was conducted from April to September 1999. Among 35 SNS patients, 18 had positive blood culture, 10 of which had positive CRP level at the time of diagnosis. Among 17 patients with negative blood culture, 9 had negative CRP level. Serial CRP in severe cases with positive CRP titer showed persistent high CRP level, and in those with negative CRP titer rose up to day 4 of treatment. On the other hand patients who were discharged and have negative blood culture demonstated low CRP level in day 4. This study confirms the benefit of serial CRP examination in the evaluation of antibiotic treatment in SNS. (Med J Indones 2001; 10:16-21)Keywords: neonatal sepsis, antibiotic treatment, serial CRP level measurements, prognosis
The influence of intrauterine growth retardation on cardiac function, left ventricular mass and superior vena cava return in newborns Soetadji, Anindita; Advani, Najib; Aminullah, Asril; Sastroasmoro, Sudigdo
Paediatrica Indonesiana Vol 51 No 3 (2011): May 2011
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.664 KB) | DOI: 10.14238/pi51.3.2011.170-7

Abstract

Background Low birth weight (LBW) in neonates is a problem leading to high morbidity and mortality. Barker hypothesized that fetal cardiac remodeling during hypoxic conditions or maternal under????nutrition is a risk factor for coronary heart disease in theyoung. Early vascular changes may influence cardiac function and newborns' cerebral blood flow.Objective The aim of this study was to detennine the effects of being small for gestational age (SGA) on newborns' cardiac function, left ventricular (LV) mass and superior vena cava (SYC) return.Methods This cross????sectional study was conducted in Cipto Mangunkusumo Hospital from February to June 2008. LBW and nonnal newborns who fulfilled the inclusion criteria were recruited as subjects. Maternal history, infant physical examination, and echocardiography were obtained Mthin 48 hours oflife to exclude those with congenital heart disease, and assess cardiac function and SYC flow.Results Subjects were 21 preterm appropriate for gestational age (AGA), 19 SGA and 19 normal newborns. SGA newborns showed lower LV mass, stroke volume and cardiac output than normal newborns. However, these SGA parameters were not different from preterm AGA babies. In additio n, LV mass index was sig nificantly different but no difference ofSVC return between the three groups.Conclusion SGA newborns' LV function was lower than that of nonnal newborns, as low as pretenn AGA newborns. N onnal SVC return was observed in the three groups. This finding may be due to a brain????sparing effect to maintain sufficient cerebral blood flowin the fetus.
Kadar Oksidan yang Tinggi Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Hemolisis pada Neonatus Sepsis R, Kamilah Budhi; Aminullah, Asril; Hadisaputro, Soeharyo; Soemantri, Ag; Suhartono, Suhartono
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.198-204

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus. Penyebab hemolisis pada neonatos meliputi: fisiologis, proses imun, stres oksidatif, aktivasi komplemen, kelainan eritrosit, enzim hemolisin. Penyebab hemolisis pada neonatus sepsis belum banyak diteliti. Tujuan. Membuktikan bahwa kadar oksidan (MDA) yang tinggi sebagai faktor risiko terjadinya hemolisis pada neonatus sepsis.Metode. Penelitian di RS Dr. Kariadi, Semarang tahun 2009, desain observasional prospektif dengannested case – controlpada 94 neonatus sepsis terdiri 47 kelompok kasus (hemolisis positif ) dan 47 kontrol (hemolisis negatif ). Diagnosis sepsis ditegakkan dengan kriteria SIRS (systemic inflammatory response syndrome)1 atau lebih, gejala klinik, pemeriksaan laboratorium atau penunjang lain. Hemolisis ditegakkan dengan metode indeks retikulosit >3, hari ke-1 dan ke-3. Pemeriksaan faktor risiko kadar MDA, GPx dengan metode spektrofotometri, vitamin C dengan metode colorimetric assay, vitamin E dengan metode ELISA, hemolisin dengan kultur darah media agar darah. Uji hipótesis menggunakan Chi-square, OR (95% Cl), Mantel-Haenszeldan regresi logistik.Hasil. Kejadian hemolisis pada neonatus sepsis 49%. Kadar MDA kelompok kasus (5,3±2,06) lebih tinggi bermakna dibanding kelompok kontrol (3,3±1,27) p=0,0001. Analisis bivariat, kadar MDA tinggi (>2,90 ng/dL) merupakan faktor risiko hemolisis pada neonatus sepsis (OR 11,6; 95% CI 2,5-54,1) Analisis multivariat, kadar MDA tinggi (> 2,90 ng/dL) dengan memperhitungkan interaksi GPx (OR 5,16; 95%CI 1,22-21,86), vitamin E (OR 5,77; 95%CI 1,49-22,26) dan vitamin C (OR 11,26:2,38-53:30) merupakan faktor risiko kejadian hemolisis pada neonatus sepsis. Hemolisin belum dapat dibuktikan Kesimpulan. Kadar oksidan (MDA) yang tinggi (>2,90 ng/dL), merupakan faktor risiko terjadinya hemolisis pada neonatus sepsis.
Profil Mikroorganisme Penyebab Sepsis Neonatorum di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Juniatiningsih, Anita; Aminullah, Asril; Firmansyah, Agus
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.60-5

Abstract

Latar belakang. Angka morbiditas dan mortalitas sepsis neonatorum (SN) masih tinggi. Pemberian antibiotiksesuai dengan hasil kultur diperlukan untuk mencegah resistensi kuman terhadap antibiotik.Tujuan. Mengetahui profil mikroorganisme penyebab SN serta sensitivitasnya terhadap antibiotik diDepartemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (IKA-RSCM) JakartaMetode. Studi potong lintang, dilakukan di ruang rawat Divisi Perinatologi Departemen IKA, pada Desember2006 - Juli 2007, pada neonatus tersangka sepsis untuk pertama kalinya, belum pernah mendapat antibiotiksebelumnya, tidak terdapat kelainan kongenital mayor dan mendapat persetujuan dari orang tua.Hasil. Terdapat 334 kasus tersangka SN, 102 kasus di antaranya memenuhi kriteria inklusi dan dapatdianalisis. Empat puluh dua kasus (41,2%) memiliki biakan darah positif. Mikroorganisme penyebab SNterbanyak adalah bakteri gram negatif seperti Acinetobacter calcoaceticus, Enterobacter aerogenes, Pseudomonassp dan Eschericia coli. Bakteri gram negatif mempunyai sensitivitas yang rendah terhadap antibiotik linipertama dan kedua, kecuali Enterobacter aerogenes yang masih sensitif terhadap gentamisin dan Pseudomonasyang masih sensitif terhadap seftazidim. Sensitivitas bakteri gram positif dan negatif umumnya masih sangatbaik terhadap meropenem. Sensitivitas bakteri gram negatif cukup baik terhadap imipenem namun bakterigram positif kurang sensitif terhadap imipenem.Kesimpulan. Etiologi SN umumnya adalah bakteri gram negatif dengan isolat terbanyak Acinetobactercalcoaceticus. Umumnya bakteri gram negatif mempunyai sensitivitas yang rendah terhadap antibiotik linipertama dan kedua, kecuali Enterobacter aerogenes yang masih sensitif terhadap gentamisin dan Pseudomonasterhadap seftazidim.
Nilai APGAR, Trauma Lahir Mekanik dan Mortalitas Neonatal Dini pada Bayi Lahir dengan Presentasi Bokong Di RSUPN Cipto Mangunkusumo Felisia, Wynda; Aminullah, Asril; Sastroasmoro, Sudigdo
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.412-6

Abstract

Latar belakang. Presentasi bokong merupakan bentuk malpresentasi tersering yang ditemukan pada kehamilancukup bulan, sekitar 3%-4% kelahiran. Fasilitas dan pelayanan kebidanan telah banyak mencatat kemajuan,namun mortalitas dan morbiditas bayi presentasi bokong 2-3 kali lebih tinggi dibanding presentasi kepala.Tujuan. Mengetahui gambaran nilai APGAR, trauma lahir mekanik dan mortalitas neonatal dini padabayi presentasi bokong.Metode. Penelitian retrospektif pada bayi yang lahir dengan presentasi bokong di RSUPN CiptoMangunkusumo pada 1 Januari 2004 sampai dengan 31 Desember 2005. Kriteria inklusi adalah bayipresentasi bokong yang lahir hidup, usia gestasi >28 minggu. Kriteria eksklusi apabila dijumpai lahir matidan malformasi kongenital berat.Hasil. Terdapat 386 bayi lahir dengan presentasi bokong yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Mortalitasneonatal dini lebih sering terjadi pada persalinan pervaginam dibanding bedah kaisar (12,2% vs 2,8%). NilaiApgar menit ke-5 <7 lebih sering pada persalinan pervaginam dibanding bedah kaisar (12,9% vs 4,0%). Traumalahir mekanik lebih sering pada persalinan pervaginam dibanding bedah kaisar (14/139, 10,1% vs 15/247, 6,1%)Kesimpulan. Mortalitas neonatal dini, nilai Apgar rendah dan trauma lahir mekanik pada bayi presentasibokong lebih sering terjadi pada persalinan pervaginam
Kadar Antioksidan Rendah Meningkatkan Risiko Hemolisis pada Sepsis Neonatus Budhi, Kamilah; Soemantri, Agustinus; Aminullah, Asril; Suhartono, Suhartono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.10

Abstract

Hemolisis  pada  neonatus  sepsis  terjadi  akibat  aktivasi  komplemen  yang  dipicu  oleh  reaksi  inflamasi  sebagai  respons terhadap  invasi  mikroba.  Penyebab  lain  meliputi:  proses    fisiologis,  kelainan  eritrosit  kongenital,  proses  imun,  stres oksidatif ,  obat  dan  enzim  hemolisin.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  membuktikan  hubungan  antara  kadar  antioksidan dengan kejadian hemolisis pada neonatus  sepsis. Penelitian dilakukan dengan desain observasional prospektif ,  nested case-control  pada  94  neonatus  sepsis  yang  terdiri  47  kelompok  kasus  (hemolisis  positif)  dan  47  kelompok  kontrol (hemolisis negatif). Hemolisis ditegakkan dengan kriteria indeks retikulosit &gt; 3 pada hari ke 1 dan hari ke 3. Variabel yang diukur  meliputi: antioksidan  (GPx,  vitamin  E,  vitamin  C)  dan  oksidan  (MDA),  hemolisin.  Pemeriksaan  kadar  MDA,  GPx dengan  metode  spektrofotometri,  vitamin  C    metode  colorimetric  assay,  vitamin  E  metode  ELISA,  hemolisin  dengan media  agar  darah.  Data  dianalisis  dengan  Chi-square,  uji  t  tidak  berpasangan,  Mantel-Haenszel  dilanjutkan    regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan kadar GPx rendah (75µ/gHb), vitamin E rendah ((&lt;17,8 µg/mL) merupakan faktor risiko signifikan terjadinya hemolisis dengan OR berturut-turut 6,14 ,  3,12. Kadar antioksidan rendah (GPx  dan vitamin E) merupakan  prediktor  kuat  terjadinya  hemolisis  pada  neonatus  sepsis.
Neonatal birth trauma: incidence and predisposing factors Aminullah, Asril; Budiwardhana, Novik; Firmansyah, Agus
Paediatrica Indonesiana Vol 43 No 6 (2003): November 2003
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi43.6.2003.220-5

Abstract

Background The incidence of birth trauma and its predisposingfactors at a major teaching hospital in Indonesia had not been reported.Objective To find the incidence of birth trauma, calculate a riskassessment of predisposing factors, to study whether cesareansection lowers birth trauma, and to identify the variety of morbidityand mortality due to birth trauma.Methods The incidence was studied retrospectively from 4843medical records from January 2000 through June 2001 using theICD-10 classification. Birth trauma cases were then included in acase-control study for a risk assessment profile of predisposingfactors with logistic regression analysis.Results Three hundreds and thirty five out of 4843 neonates wereidentified to have birth trauma. Analysis revealed that forcepsextraction (OR=48.29; p&lt;0.01), vacuum extraction (OR=25.37;p&lt;0.01), breech vaginal delivery (OR=3.94; p=0.03), and cesareansection (OR=3.44; p&lt;0.01) were significant risk factors.Macrosomic infant (OR=3.86; p=0.04) was also significant. Birthinjury to face (ICD-10 code P15.4) was the most common finding,followed by cephalhematoma and bruising of the scalp.There was no mortality due to birth trauma.Conclusions The incidence of birth trauma was still high. Cesareansection was found to be one of the risk factors, butcompared to forceps and vacuum extraction, the risk of traumais considered to be more acceptable.
Peran Eritromisin terhadap Toleransi Minum Bayi Prematur Harahap, Lily Indriasary; Aminullah, Asril; Pardede, Sudung O; Hegar, Badriul
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.167-73

Abstract

Latar belakang. Eritromisin merupakan salah satu obat prokinetik untuk mengatasi intoleransi minum pada bayi prematur karena imaturitas sistem pencernaan. Beberapa penelitian mengenai efektifitas eritromisin dalam mengatasi intoleransi minum akibat imaturitas saluran cerna masih merupakan kontroversi.Tujuan. Mengetahui peran eritromisin dalam meningkatkan toleransi minum bayi prematur.Metode. Penelitian uji kinis prospektif acak terkontrol tersamar ganda pada bulan September 2011-Februari 2012 dengan subyek bayi prematur usia gestasi (UG) 28-36 minggu. Diagnosis intoleransi minum ditetapkan bila residu lambung lambung ≥25% jumlah pemberian minum 6 jam sebelumnya Hasil. Terdapat 36 subyek bayi prematur dengan intoleransi minum yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 19 subyek mendapat eritromisin (3 mg/kgbb/dosis, 4x sehari selama 7 hari) dan 17 subyek mendapat plasebo berupa larutan sukrosa. Tidak terdapat perbedaan bermakna jumlah episode terjadinya residu pada kedua kelompok (p=0,271), demikian juga dengan analisis subgrup pada UG ≤32 minggu dan >32 minggu (p=0,25) dan (p=0,39). Median lama hari mencapai nutrisi enteral penuh antara kedua kelompok tidak terbukti bermakna secara statistik (p=0,82). Hasil yang tidak bermakna juga didapatkan pada UG ≤32 minggu dan >32 minggu (p=0,61) dan (p=0,60.)Kesimpulan. Pada penelitian ini pemberian eritromisin dosis rendah (3 mg/kgbb/dosis, setiap 6 jam) per oral selama 7 hari tidak terbukti dapat mengurangi residu lambung maupun mempercepat pencapaian nutrisi enteral penuh pada bayi prematur dengan UG 28-36 minggu yang mengalami intoleransi minum.
Factors associated with mortality in newborn infants with meconium aspiration syndrome Aminullah, Asril; Sarmili, Jonardi; Sastroasmoro, Sudigdo
Paediatrica Indonesiana Vol 41 No 1-2 (2001): January 2001
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi41.1.2001.6-10

Abstract

Meconium aspiration syndrome (MAS) is still one of the common causes of morbidity and mortality in neonatal period. A retrospective study was conducted from January 1993 to December 1999, to identify factors associated with mortality in MAS. Univariate analysis disclosed that preeclampsia/eclampsia, sex, Apgar scores, consistency of meconium, and use of mechanical ventilation were significantly associated with mortality in MAS, while gestational age, mode of delivery, hypertension, birth weight, tracheal suctioning, blood cultures, and complications were not. Logistic regression analysis showed that mode of delivery, preeclampsia/eclampsia, Apgar scores, consistency of meconium, and use of mechanical ventilation were associated with mortality in MAS, while other variables were not.
Sex Chromatin in Female Neonates born at Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital Jakarta Suryapranata, F.J.; Suryono, Isnani; Suradi, Rulina; Aminullah, Asril
Paediatrica Indonesiana Vol 18 No 11-12 (1978): November 1978
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.542 KB) | DOI: 10.14238/pi18.11-12.1978.328-31

Abstract

Buccal smears from 147 fullterm newborns have been studied. Twenty-nine newborns who had negative sex chromatin, were male infants. Hundred and eighteen newborns with sex chnomatin positive were females showing a lower incidence than previously reported. The peak value was on the 3rd day of life and lowered thereafter.