Articles

Found 4 Documents
Search

Gis-Based Method in Developing Wildfire Risk Model (Case Study in Sasamba, East Kalimantan, Indonesia)

JURNAL MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Vol 7, No 2 (2001)
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.586 KB)

Abstract

Analisis pemetaan lengkap (Cemplete Mapping Analysis) yang berbasis sistem informasi geografis (SIG) digunakan untuk melakukan pembobotan terhadap nilai “vulnerability” dari faktor-faktor resiko dalam rangka membangun suatu model dan memetakan kelas-kelas resiko kebakaran liar. Ada dua faktor utama, yaitu faktor lingkungan fisik dan aktifitas manusia yang sangat mempengaruhi terjadinya kebakaran hutan. Model yang ditemukan pada saat ini memperlihatkan bahwa kelembaban relatif adalah faktor terpenting diantara faktor lingkungan fisik, sementara jarak terhadap pusat-pusat pemukiman merupakan faktor terpenting diantara faktor aktifitas manusia. Diketahui juga bahwa, terjadinya kebakaran liar lebih banyak dipengaruhi oleh faktor aktifitas manusia daripada faktor lingkungan fisik. Pada studi ini, wilayah resiko kebakaran liar dibagi atas 3 kelas, dimana ditemukan bahwa kelas resiko kebakaran tertinggi mendominasi lokasi penelitian, selanjutnya diikuti dengan kelas resiko sedang dan rendah. Berdasarkan hasil verifikasi, model hanya berhasil menduga kelas resiko tinggi yaitu sebesar 76,05%, sementara gagal dalam menduga resiko kebakaran sedang dan rendah (lebih rendah dari 40%).

Peran Sains dan Teknologi dalam Membangun Peradaban Islam

Jurnal Kajian Peradaban Islam (Journal of Islamic Civilization Study) Vol 1 No 1 (2018): Telaah Kritis dan Komparatif Implementasi Sistem Demokrasi
Publisher : Penerbit Sinergi Mandiri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.878 KB)

Abstract

Peradaban adalah suatu susunan masyarakat yang kompleks yang dicirikan oleh pembangunan perkotaan, stratifikasi sosial yang diterapkan oleh elit budaya, sistem komunikasi simbolik (misalnya, sistem penulisan), dan pemisahan yang dirasakan dari dan dominasi atas lingkungan alam.  Peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun di atas dasar aqidah Islam, bertujuan sesuai maksud-maksud (maqashid) syariah, dan diwujudkan dengan mencontoh perbuatan (sunnah) Nabi Muhammad, para shahabatnya serta rambu-rambu halal dan haram.  Islam berada di puncak peradaban saat sistem Khilafah masih tegak, meski mengalami pasang surut.  Pada tulisan ini dibahas kondisi dunia sains dan teknologi terkini di Indonesia dan dunia, komparasinya dengan sistem Islam saat berada di puncak peradaban, dan tawaran solutif pengembangan sains dan teknologi saat ini.

PELUANG DAN TANTANGAN EKONOMI GEOSPASIAL DI INDONESIA

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.719 KB)

Abstract

Salah satu dari tujuan UU No. 4/2011 tentang Informasi Geospasial adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pemerataan dan keberlanjutan. Pemerataan selain berdimensi sosio-demografis juga geografis-finansial. Dan keberlanjutan selain memperhatikan aspek ketersediaan sumber daya alam juga dampak lingkungan. Tulisan singkat ini akan membahas 3 aspek dari sekian aspek ekonomi geospasial di Indonesia. Pertama menelaah gagasan bahwa bila Informasi Geospasial Dasar (IGD) yang menjadi domain Badan Informasi Geospasial (BIG) digratiskan, maka akan terjadi dampak positif ekonomi yang cukup signifikan, dan berbagai cabang ekonomi kreatif spasial akan tumbuh subur. Kedua menelaah aspek-aspek penguatan SDM yang diperlukan untuk menunjang tumbuhnya ekonomi geospasial. Dan ketiga ide pengaturan agar masyarakat tetap mendapatkan IGDyang paling berkualitas, di tengah keterbatasan sumberdaya BIG – meski mendapat mandat UU menjadi satu-satunya penyelenggara, namun pada saat yang sama ada inisiatif baik dari pemerintah daerah, swasta maupun masyarakat.Kata Kunci : Informasi Geospasial, Ekonomi, Tarif Gratis, Pemetaan Partisipatif.ABSTRACTOne of the purposes of Law No. 4/2011 on Geospatial Information is to increase economic growth based on equity and sustainability. Equalization in addition to socio-demographic dimension is also geographically-financial. And sustainability in addition to the aspect of the availability of natural resources also impacts to the environment. This short article will discuss three aspects of the geospatial aspects of Indonesias economy. The first examines the idea that if the Base Geospatial Information (IGD) which is the domain of the Geospatial Information Agency (BIG) is free, there will be a quite significant positive economic impact, and the various branches of creative spatial economy will flourish. The second examines aspects of strengthening human resources needed to support the geospatial economic growth. And the third idea is regulating so that people still get the most qualified geospatial information, among constraints of BIG - although received a legal mandate to be the sole provider, but at the same time there is a good initiative from the local government, private and public.Keywords : Geospatial Information, Economic, Free Charge, Patisipatory Mapping.

EKSTRAKSI GARIS PANTAI MUKA LAUT RATA-RATA DARI CITRA MULTI PASUT

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.329 KB)

Abstract

Setiap garis pantai yang didapatkan dari foto udara atau citra satelit adalah garis aktual atau temporal, yang dipengaruhi oleh fenomena pasang surut (pasut). Pada sebuah peta, diperlukan tinggi garis pantai muka laut rata-rata, yang harus dicari dengan bantuan data pasut. Di paper ini, penulis mencoba mendapatkan garis pantai muka laut rata-rata dari citra multi pasut. Hasilnya adalah garis pantai rata-rata dengan akurasi vertikal desimeter sedang akurasi horisontalnya tergantung kelandaian (slope) pantai yang bersangkutan. Penggunaan citra radar lebih mudah sebab citra radar multipasut dengan perbedaan ekstrim lebih mudah diperoleh karena tidak ada kendala awan. Kombinasi metode DEM dan metode median line pada citra radar akan menghasilkan hasil yang nyaris berimpit, sedang pada citra optik, hasilnya akan cukup jauh.Kata Kunci: Garis Pantai, Pasang Surut, Muka Laut Rata-RataABSTRACTAny coastline extracted from aerial or satellite imageries is an actual or temporal line, influenced by tidal phenomena. Mean sea level coastline is needed on a map, which must be extracted with the help of tidal data. In this paper we tried to extract the mean sea level coastline from multi-tidal-imageries. The result was mean sea level coastlines with vertical accuration in decimeter level, while the horizontal accuration depending on slope of the coast. The used of radar data for extracting coastline is easier because the multi-tidal radar images with extreme tidal differences can be obtained since radar data is free of cloud cover problem. Combination method of DEM and median line on radar data would result on a nearly similar coastline.Keywords: Coastline, Tidal, Mean Sea Level