Efa Ida Amaliyah
STAIN Kudus

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Relasi Agama dan Budaya lokal (Upacara Yaqowiyu Masyarakat Jatinom) Amaliyah, Efa Ida
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perayaan Yaqowiyyu di Desa Jatinom sudah menjadi ritual yang dilaksanakan setiap Hari Jum’at minggu kedua di Bulan Safar penanggalan Jawa. Ritual Yaqowiyyu berupa penyebaran kue apem (diambil dari bahasa Arab, afwan=maaf) yang pertama kali dilakukan oleh Ki Ageng Gribig pada abad XV. Ritual tersebut berlangsung hingga saat ini sebagai ungkapan penghormatan terhadap Ki Ageng Gribig berupa menyebar kue apem ke halayak ramai yang sudah menunggu di lapangan yang sudah disediakan. Mereka dating tidak hanya dari wilayah Jatinom, tetapi juga dai luar daerah dengan membawa harapan akan mendapatkan apem tersebut sebagai bentuk keberkahan. Penelitian ini secara khusus membahas tentang makna dari semua unsure yang ada dalam ritual tersebut, seperti pengunjung, pedagang, dan masyarakat sekitar Desa Jatinom. Selain itu juga masuknya modernitas yang tidak bisa terelakkan lagi. Untuk mengetahui bahasan tersebut, maka pendekatan penelitian ini adalah pendekatan fungsionalis. Pendekatan fungsionalis mengadaikan bahwa suatu masyarakat dipandang sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisasi, yang bekerja dalam suatu cara yang relatif teratur menurut seperangkat aturan dan nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat tertentu. Sebuah perilaku atau tindakan social akan bisa dibenarkan karena hal tersebut dalam masyarakat dinilai sebagai fungsional. Makna yang muncul sangat beraneka ragam tergantung harapan dari mereka yang dating di ritual tersebut. Makna keberkahan adalah yang paling dominan. Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan kue apem dari lemparan panitia, hajat-hajat yang mereka inginkan akan cepat terkabul. Sebagai contoh, bagi petani berharap panennya akan melimpah dengan menyebarkan apem hasil tangkapan di Yaqowiyyu ke sawah mereka. Begitu juga yang menghendaki adanya jodoh, berhasil dan sukses dalam pekerjaannya, serta usahanya yang lancar. Salah satu yang mereka lakukan dengan apem tersebut menyimpannya di tempat-tempat yang dianggap bisa aman, seperti lemari dan di bawah tempat tidur. Makna lain didapat oleh para pedagang dadakan, tukang parkir, dan masyarakat sekitar karena kedatangan keluarga jauh mereka. Dengan adanya antusiasisme dari kalangan masyarakat, maka pemerintah setempat mengapresiasi untuk keberlangsungan atau melanggengkan ritual tersebut. Salah satunya dengan mengandeng perusahaan rokok sebagai sponsor tunggal. Karenanya tidak salah kalau ritual Yaqowiyyu dijadikan sebagai wisata religi yang ada di Kabupaten Klaten. Sehingga, unsure-unsur modernitas yang diwakili oleh pemerintah dan perusahaan rokok mendukung untuk melestarikan ritual yang dilakukan oleh pendirinya yaitu Ki Ageng Gribig sebagai bentuk kearifan local bagi masyarakat yang mempercayainya.
KONSEP DAN KOMITMEN MAHASISWA STAIN KUDUS TENTANG PLURALITAS AGAMA Amaliyah, Efa Ida
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.117 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.663

Abstract

RELASI AGAMA DAN BUDAYA LOKAL: Upacara Yaqowiyyu Masyarakat Jatinom Klaten Amaliyah, Efa Ida
FIKRAH Vol 3, No 1 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.842 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v3i1.1825

Abstract

Perayaan Yaqowiyyu di desa Jatinom sudah menjadi ritualyang dilaksanakan setiap hari Jum’at minggu kedua dibulan Safar penanggalan Jawa. Ritual tersebut berlangsunghingga saat ini sebagai ungkapan penghormatan terhadapKi Ageng Gribig berupa menyebar kue apem ke halayakramai yang sudah menunggu di lapangan yang sudahdisediakan. Penelitian ini secara khusus membahas tentangmakna dari semua unsur yang ada dalam ritual tersebut,seperti pengunjung, pedagang, dan masyarakat sekitar desaJatinom. Selain itu juga masuknya modernitas yang tidak bisaterelakkan lagi. Untuk mengetahui bahasan tersebut, makapendekatan penelitian ini adalah pendekatan fungsionalis.Pendekatan fungsionalis mengadaikan bahwa suatumasyarakat dipandang sebagai suatu jaringan kelompokyang bekerjasama secara terorganisasi, yang bekerja dalamsuatu cara yang relatif teratur menurut seperangkat aturandan nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat tertentu.Sebuah perilaku atau tindakan sosial bisa dibenarkankarena hal tersebut dalam masyarakat dinilai sebagaifungsional. Makna yang muncul sangat beraneka ragamtergantung harapan dari mereka yang datang di ritual tersebut. Makna keberkahan adalah yang paling dominan.Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan kue apemdari lemparan panitia, hajat-hajat yang mereka inginkanakan cepat terkabul. Sebagai contoh, bagi petani berharappanennya akan melimpah dengan menyebarkan apemhasil tangkapan di Yaqowiyyu ke sawah mereka. Begitujuga yang menghendaki adanya jodoh, berhasil dan suksesdalam pekerjaannya, serta usahanya yang lancar. Salah satuyang mereka lakukan dengan apem tersebut menyimpannyadi tempat-tempat yang dianggap bisa aman, seperti lemaridan di bawah tempat tidur. Makna lain didapat oleh parapedagang dadakan, tukang parkir, dan masyarakat sekitarkarena kedatangan keluarga jauh mereka. Dengan adanyaantusiasisme dari kalangan masyarakat, maka pemerintahsetempat mengapresiasi untuk keberlangsungan ataumelanggengkan ritual tersebut. Salah satunya denganmenggandeng perusahaan rokok sebagai sponsor tunggal.Karenanya tidak salah kalau ritual Yaqowiyyu dijadikansebagai wisata religi yang ada di Kabupaten Klaten.Sehingga, unsur-unsur modernitas yang diwakili olehpemerintah dan perusahaan rokok mendukung untukmelestarikan ritual yang dilakukan oleh pendirinyayaitu Ki Ageng Gribig sebagai bentuk kearifan local bagimasyarakat yang mempercayainya.
TEOLOGI KONSTRUKSI DALAM MERESPONS BENCANA (STUDI PEMIKIRAN MAHASISWA STAIN KUDUS MELALUI MATA KULIAH IAD, IBD, DAN ISD) Amaliyah, Efa Ida
JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian
Publisher : JURNAL PENELITIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.386 KB)

Abstract

THEOLOGY OF CONSTRUCTION IN RES- PONDING TO DISASTER (THE STUDY OF STAIN KUDUS STUDENTS’ THOUGHTS THROUGH IAD, IBD, ISD COURSES). Indonesia has experienced various natural disasters. After some natural disasters stroke, there is no serious concern about the disaster and the consequences. Students as agents of  change is expected to take an active role in dealing with disasters through productive thoughts. The active role of students is one of  them realized through the course IAD, ISD, and IBD. This paper elaborates on the meaning of  the disaster among students and formulate theological construction that is able to influence him in the handling of  the disaster. Through the method of reviewing secondary data, observation, and interviews, it is concluded that there are ten reasons religious beliefs and practices have significant positions in disaster mitigation, that religion gives a positive view of the disaster, religion gives meaning and purpose in life, belief  systems of  religion enable someone’s ready to face the bad things that befall human life, religious give hope and motivation, religion provides the power personally, religion provides a sense of  control, religion provides examples of exemplary in the face of  suffering, religion provides guidance in making decisions, religion give answers to questions that are not able to be answered by the secular culture and science, and religion provide social support. Thus, students should be prudent in defining the disaster. Do not let them use the arguments that would discourage the victims.Keywords: Teological Construction, Disaster, Student Thought, IAD, IBD, and ISD Courses.Indonesia sudah mengalami bermacam bencana alam. Setelah beberapa bencana alam menimpa, tidak ada perhatian serius tentang bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan ikut berperan aktif  dalam menangani bencana melalui pemikiran-pemikiran yang produktif. Peran aktif mahasiswa tersebut salah satunya direalisasikan melalui mata kuliah IAD, ISD, dan IBD yang merupakan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Tulisan ini mengelaborasi makna bencana di kalangan mahasiswa dan merumuskan teologi konstruksi yang mampu memengaruhinya dalam penanganan bencana. Lewat metode mereview data sekunder, observasi, dan wawancara, disimpulkan bahwa ada sepuluh alasan keyakinan dan praktik keagamaan memiliki posisi yang signifikan dalam mitigasi bencana, yaitu agama memberikan pandangan yang positif terhadap bencana, agama memberikan pemaknaan dan tujuan dalam hidup, sistem keyakinan dalam agama memungkinkan seseorang untuk  siap  menghadapi  kejadian-kejadian  buruk  yang  menimpa hidup manusia, agama memberikan harapan dan motivasi, agama memberikan kekuatan secara personal, agama memberikan sense of control, agama memberikan contoh-contoh teladan dalam menghadapi penderitaan, agama memberikan bimbingan dalam mengambil keputusan, agama memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh kultur sekuler dan sains, serta agama memberikan dukungan sosial. Dengan demikian, mahasiswa harus bijaksana dalam memaknai bencana yang ada. Jangan sampai mereka menggunakan dalil-dalil atau argumentasi yang akan membuat kecil hati para korban.Kata Kunci: Teologi Konstruksi, Bencana, Pemikiran Mahasiswa, Mata Kuliah IAD, IBD, dan ISD.
KONSEP DAN KOMITMEN MAHASISWA STAIN KUDUS TENTANG PLURALITAS AGAMA Amaliyah, Efa Ida
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : FIKRAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesan Moral KiaMat PersPeKtif al-Qur’an Amaliyah, Efa Ida
HERMENEUTIK Vol 7, No 2 (2013): HERMENEUTIK
Publisher : HERMENEUTIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.493 KB)

Abstract

Tulisan ini mencoba mengulas tentang kiamat (kehancuran alamsemesta), yaitu tentang tahapan dan pesan moralnya. Masalahyang digambarkan al-Qur’an sejak masa awal Islam adalah kiamat.Kiamat merupakan persoalan pokok bagi seorang Muslim, selainmasuk dalam wilayah akidah juga merupakan inti agama. Kiamatmerupakan peristiwa dasyat, sehingga disebutkan berulang-ulangdengan segala bentuk rangkaian sebanyak 70 kali. Ada empat(4) tahap terjadinya kiamat. Pertama, peristiwa-peristiwa kecil,yaitu kejadian yang rutin di alam semesta, dalam skala ini, bolehjadi hanya terjadi di kawasan bumi saja. Kedua, adalah peristiwabesar, yaitu terjadi dalam skala yang luas secara kosmos, yangmelibatkan tata surya dan dalam skala yang lebih luas melibatkanseluruh galaksi. Ketiga, adalah kiamat universal, peristiwa initerjadi serentak yang akan melibatkan seluruh alam raya. Keempat,yaitu hari kebangkitan, sebagai kulminasi semua peristiwa kiamatbaik yang kecil maupun yang besar. Ada empat pesan moral yanghendak disampaikan al-Qur’an melewati ayat-ayat kiamat. Pertama,mengubah pandangan hidup duniawi materialistik menjadipandangan hidup yang menyeimbangkan antara kehidupan duniasebagai kesenangan yang sementara, sedikit dan menipu. Kedua,mendorong manusia beraktivitas positif (beramal saleh). Ketiga,menumbuh-kembangkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri.Keempat, pembenahan diri seawal mungkin.
TEOLOGI KONSTRUKSI DALAM MERESPONS BENCANA (STUDI PEMIKIRAN MAHASISWA STAIN KUDUS MELALUI MATA KULIAH IAD, IBD, DAN ISD) Amaliyah, Efa Ida
Jurnal Penelitian Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian
Publisher : P3M STAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.386 KB) | DOI: 10.21043/jupe.v7i2.818

Abstract

THEOLOGY OF CONSTRUCTION IN RES- PONDING TO DISASTER (THE STUDY OF STAIN KUDUS STUDENTS’ THOUGHTS THROUGH IAD, IBD, ISD COURSES). Indonesia has experienced various natural disasters. After some natural disasters stroke, there is no serious concern about the disaster and the consequences. Students as agents of  change is expected to take an active role in dealing with disasters through productive thoughts. The active role of students is one of  them realized through the course IAD, ISD, and IBD. This paper elaborates on the meaning of  the disaster among students and formulate theological construction that is able to influence him in the handling of  the disaster. Through the method of reviewing secondary data, observation, and interviews, it is concluded that there are ten reasons religious beliefs and practices have significant positions in disaster mitigation, that religion gives a positive view of the disaster, religion gives meaning and purpose in life, belief  systems of  religion enable someone’s ready to face the bad things that befall human life, religious give hope and motivation, religion provides the power personally, religion provides a sense of  control, religion provides examples of exemplary in the face of  suffering, religion provides guidance in making decisions, religion give answers to questions that are not able to be answered by the secular culture and science, and religion provide social support. Thus, students should be prudent in defining the disaster. Do not let them use the arguments that would discourage the victims.Keywords: Teological Construction, Disaster, Student Thought, IAD, IBD, and ISD Courses.Indonesia sudah mengalami bermacam bencana alam. Setelah beberapa bencana alam menimpa, tidak ada perhatian serius tentang bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan ikut berperan aktif  dalam menangani bencana melalui pemikiran-pemikiran yang produktif. Peran aktif mahasiswa tersebut salah satunya direalisasikan melalui mata kuliah IAD, ISD, dan IBD yang merupakan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Tulisan ini mengelaborasi makna bencana di kalangan mahasiswa dan merumuskan teologi konstruksi yang mampu memengaruhinya dalam penanganan bencana. Lewat metode mereview data sekunder, observasi, dan wawancara, disimpulkan bahwa ada sepuluh alasan keyakinan dan praktik keagamaan memiliki posisi yang signifikan dalam mitigasi bencana, yaitu agama memberikan pandangan yang positif terhadap bencana, agama memberikan pemaknaan dan tujuan dalam hidup, sistem keyakinan dalam agama memungkinkan seseorang untuk  siap  menghadapi  kejadian-kejadian  buruk  yang  menimpa hidup manusia, agama memberikan harapan dan motivasi, agama memberikan kekuatan secara personal, agama memberikan sense of control, agama memberikan contoh-contoh teladan dalam menghadapi penderitaan, agama memberikan bimbingan dalam mengambil keputusan, agama memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh kultur sekuler dan sains, serta agama memberikan dukungan sosial. Dengan demikian, mahasiswa harus bijaksana dalam memaknai bencana yang ada. Jangan sampai mereka menggunakan dalil-dalil atau argumentasi yang akan membuat kecil hati para korban.Kata Kunci: Teologi Konstruksi, Bencana, Pemikiran Mahasiswa, Mata Kuliah IAD, IBD, dan ISD.
Islam dan Tasawuf di Indonesia: Kaderisasi Pemimpin Melalui Organisasi Matan Farhan, Farhan; Amaliyah, Efa Ida
ESOTERIK Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.377 KB) | DOI: 10.21043/esoterik.v2i1.1892

Abstract

Tulisan ini menyatakan bahwa generasi muda (mahasiswa) tidak sepenuhnya terjerumus kedalam pengaruh kehidupan modern yang hedonistik dan materialistik. Organisasi tarekat ‘MATAN’ (Mahasiswa Ahli at-Tha>riqah al-Mu’t{abarah an-Nahd{iyyah) menjadi dasar dari antitesa tersebut. Bagaimana sebuah organisasi tarekat mampu mencetak generasi muslim yang ka>mil, berakhlakul karimah unggul, bertanggungjawab secara esoterik dan eksoterik serta memiliki jiwa kepemimpinan (leadership) yang s}iddi>q, a>manah, tabli>gh dan fa>t}onah. ‘MATAN’ sebagai sub-divisi dari JATMAN (Jamiyyah Ahli at-Tha>riqah Al-Mu’thabarah An-Nahdliyyah) Indonesia ini bertujuan mencetak pemimpin Islam yang sufistik, intelektual dan nasionalis sebagai penopang eksistensi Negara, Agama dan Bangsa dimasa depan. MATAN diyakini sangat relevan mengembangkan tradisi yang balance, kompetitif, dan kredibel dalam menjaga keutuhan dan kerukunan komunitas keagamaan (religion communities) di Nusantara.
Tasawuf dan Kesalehan Sosial (Keterpaduan Antara Nilai-Nilai Individu dan Sosial) Amaliyah, Efa Ida; Ulfiyati, Nur Shofa
ESOTERIK Vol 3, No 1 (2017): Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/esoterik.v3i1.4088

Abstract

Sufism is believed to be a solution in social problems and is not a passive or apathetic attitude towards social phenomena. Sufism is very active in creating a spiritual moral revolution in society and has a major influence on social change. With the analytical method of description, this article emphasizes that through the tasawuf approach it is expected to be able to integrate individual and social values with moderate Islamic understanding, so that they can carry out da'wah that prioritizes the karimah (noble words), qaulan marufa (good words) and qaulan maisura (proper words), as has been mandated in the Qoran.
HARMONI DI BANJARAN: INTERAKSI SUNNI-SYIAH Amaliyah, Efa Ida
Harmoni Vol 14 No 2 (2015): Mei-Agustus 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.473 KB)

Abstract

This paper shows the interaction of Sunni- Shia followers in Banjaran Bangsri, Jepara and the violence impact experienced by Shia followers in many regions toward Shia followers in Banjaran Bangsri.The relationship between Sunni and Shia shows a harmonious life in social interaction. They realize that they have different ways of worship but they do not want to widen those differences. They live together in socio-humanitarian relation. They respect each other. It occurs because the existence of Mbah Muhammad Arif who unified Sunni and Syiah. Mbah Muhammad Arif was the founder of Banjaran as well as the Islam disseminator at Banjaran. There is no conflict between Sunni-Shia followers although there was any religious sentiment after Sunni-Syiah conflict in Sampang Madura and it does not influence the relationship between Sunni-Syiah at Banjaran Bangsri Jepara.