Articles

Found 31 Documents
Search

ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KREATIVITAS INDUSTRI KERAJINAN BATIK Bakhtiar, Arfan; Sriyanto, Sriyanto; Amalia, Amalia
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 4, No. 1, Januari 2009
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Industri kreatif merupakan salah satu industri yang saat ini menjadi strategi pembangunan industri di Indonesia. Industri batik merupakan salah satu industri kreatif  yang termasuk dalam sektor kerajinan. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kreativitas dan perbedaan faktor dominan pengembangan kreativitas di industri batik berskala kecil, menengah, dan besar, sehingga dari ketiga skala industri ini dapat dilakukan upaya-upaya pengembangan kreativitas. Penelitian dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan angket pada ketiga kelompok industri batik. Obyek penelitian adalah PT. Tri Ratna Batik (industri kecil), CV. Tobal Batik (industri menengah), dan PT. Batik Danar Hadi (industri besar). Variabel yang diteliti pada ketiga industri yaitu SDM kreatif, pekerjaan kreatif, konteks organisasi, lingkungan, dan inovasi produk. Berdasarkan data observasi dan penilaian angket yang telah valid dan teruji keandalannya, ketiga industri sama-sama kreatif, karena total nilai mean dan modus secara keseluruhan berada pada rentang 3.01 sampai 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kreativitas pada: (1) variabel SDM kreatif yaitu motivasi, bakat/minat, komunikasi, dan kompetensi; (2) variabel pekerjaan kreatif yaitu pekerjaan, kepemimpinan, dan kewirausahaan; (3) variabel konteks organisasi yaitu kinerja perusahaan, kebijakan, struktur dan budaya organisasi, serta sistem komunikasi; (4) variabel lingkungan yaitu pemberdayaan sumberdaya eksternal, teknologi, persaingan, dan peraturan pemerintah; (5) variabel inovasi produk yaitu desain, bahan, alat, dan pemanfaatan limbah batik. Secara keseluruhan, pada semua variabel terdapat faktor-faktor yang mendukung pengembangan kreativitas. Faktor dominan pada variabel SDM kreatif terletak pada komunikasi (IK, IB), dan motivasi (IB). Faktor dominan pada variabel pekerjaan kreatif adalah pekerjaan (IK) dan kepemimpinan (IM, IB).  Faktor dominan variabel inovasi produk adalah desain (IK, IM, IB) dan juga alat (IM). Faktor dominan variabel konteks organisasi ketiga industri, sama, yaitu kebijakan. Faktor dominan variabel lingkungan adalah sama pada ketiga industri yaitu pemberdayaan sumber daya eksternal. Ketiga industri termasuk dalam kategori kreatif, meskipun faktor dominan pengembangan kreativitas pada ketiga industri, berbeda. Kreativitas masih perlu ditingkatkan, terutama pada faktor kritis. Pada industri kecil dan besar, faktor kritisnya adalah alat. Kedua industri harus mengembangkan kreativitas mereka agar dapat membuat inovasi alat sendiri, sehingga tidak memiliki ketergantungan terhadap pengrajin alat dan impor luar negeri. Faktor kritis di industri menengah yaitu teknologi, dimana industri ini sebaiknya membuka diri terhadap perkembangan zaman dan teknologi. Kata kunci : industri kreatif, industri batik, faktor-faktor pengembangan kreativitas   Abstract This research aims to identify the factors which influence the development of creativity and the differences of the dominant factors in the development of creativity in a small, medium, and large batik industry, so that from those kinds of industries can be practiced the efforts in the development of creativity. This research employed observational method, interview, and questioner on those kinds of batik industries. The subjects of this research were PT. Tri Ratna Batik as a small industry, CV. Tobal Batik as a medium industry, and PT. Batik Danar Hadi, as a large industry. The variables which are researched on those kinds of batik industries are the creative human resource, the creative work, the organizational context, the environment, and the product innovation. Based on the observational data and questioner that are valid and reliable, those kinds of batik industries are as creative as, because total mean value and modus is in the range 3.01 – 4. Overall, all of variables have supported factors in the development of creativity. The dominant factors on the creative human resource variable are communication (IK, IB) and motivation (IB). The dominant factors on the creative work variable are work (IK) and leadership (IM, IB). The dominant factors on the product innovation variable are design (IK, IM, and IB) and product (IM). The dominant factors on the organizational context variable for those kinds of industries are same, policy. And the dominant factors on the environment variable for those kinds of industries are same, external resource development. Three kinds of industries include on creative category, in spite of the differences among the dominant factor of the development creativity in those kinds of industries. The creativity needs increasing, especially in critical factor. In the small and large industries, the critical factor is product. These kinds of industries have to develop their creativity thus can produce their own product innovation, so that they don’t have a dependency with product maker and product import. The critical factor in medium industry is technology, where this industry should open itself in technology and era development. Key words: creative industry, batik industry, factors in development of creativity.  
STRATEGI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN IKM KONVEKSI SEBAGAI SALAH SATU INDUSTRI KECIL MENENGAH DI INDONESIA Ririh, Kirana Rukmayuninda; Anggrahini, Dewanti; Amalia, Amalia
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 6, No.3, September 2011
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.851 KB)

Abstract

Melihat kondisi yang terjadi setelah runtuhnya kondisi perekonomian Indonesia akibat krisis 1998, pemerintah mulai melirik industri kecil dan menengah (IKM) karena terbukti lebih tahan terhadap krisis ekonomi. Buktinya saat pertumbuhan industri secara keseluruhan terjun bebas dari 5,90% (2005) menjadi 5% (2006), pertumbuhan IKM justru meningkat dari 3,48% (2005) menjadi 4,6% (2006). Namun demikian IKM yang dipercaya sebagai andalan kekuatan ekonomi bangsa, masih banyak menghadapi masalah. Salah satu contohnya IKM “Dedi Konveksi” di Bandung.  Dalam penelitian ini, identifikasi masalah dilakukan dengan menggunakan metode “three level characteristics of manufacture”. Kemudian dilakukan analisis SWOT sebagai dasar penentuan strategi korporasi.  Strategi bisnis yang diusulkan menjadi acuan untuk menyusun strategi teknologi. Dari strategi-strategi yang telah tersusun (strategi korporasi, strategi bisnis dan strategi teknologi) diperlukan adanya suatu kebijakan. Kebijakan tersebut digunakan sebagai arahan untuk dapat mengembangkan dan membina industri kecil modern. Kebijakan pengembangan dan pembinaan IKM  konveksi ini  menggunakan 4 perspektif yaitu finansial, customer, proses bisnis internal, dan pertumbuhan-pembelajaran. Unsur dalam kebijakan tersebut melibatkan seluruh stakeholder dalam IKM. Kata kunci : Manajemen, Industri Kecil Modern, Strategi Bisnis, Strategi Korporasi, Strategi Teknologi.    Review to  the conditions that occurred after the collapse of Indonesias economy from the crisis of 1998, the government will begin to consider  small and medium enterprises (SME) because it has proved to be more resilient to the economic crisis. This could be figured out when the overall industrial growth just plummeted from 5.90% (2005) to 5% (2006), and the growth of SMEs had increased from 3.48% (2005) to 4.6% (2006). Eventhough  SMEs are believed as centre of the nations economic strength, those still faces many problems. One example IKM "Dedi Konveksi" in Bandung. In this study, identification of problems is done by using the three-level characteristics of manufacture.This identification will determine a  SWOT analysis as a basis for determining corporate strategy. Business strategy is proposed as the benchmark for technology strategy. Those  strategies that have been organized (corporate strategy, business strategy and technology strategy) required the existence of policies. The policies aimed as guidance to develop and foster a modern small industries. Strategy for  development and promotion policies of SMEs convection implemented through  four perspectives; namely financial, customer, internal business processes, and human resource growth-learning. Element in this policy strategy  involves all stakeholders in the SMEs. Keywords : Management, SMEs, Bussiness Strategy, Corporate Strategy, Technology Strategy.
PEMANFAATAN LIMBAH DEBU PELEBURAN BIJIH BESI (DEBU SPONS) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN PADA MORTAR Amalia, Amalia; BB, Agung
Poli-Teknologi Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4.956 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti sifat-sifat mortar yang menggunakan limbah debu spons sebagai pengganti semen. Adukan dibuat dengan komposisi 1 PC : 3 pasir dengan 11 variasi perlakuan, yaitu jumlah debu spons yang mengganti semen dengan variasi jumlah debu 0% sampai 50% dari berat semen dengan interval 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Untuk membuat adukan yang mempunyai workability yang baik dan plastis, adukan yang menggunakan debu spons sebagai pengganti semen 5 % sampai 50 % membutuhkan jumlah air sebesar 67 % - 70 % dari berat semen. Penggunaan limbah debu spons sebagai pengganti semen sebesar 5 % sampai dengan 50 % membuat adukan lebih plastis dan mempunyai workability yang lebih baik dibandingkan dengan adukan tanpa limbah. (2) Berat isi adukan berkisar antara 2,217 gr/cm3 – 2,353 gr/cm3. (3) Adukan yang menggunakan debu spons mempunyai kekekalan bentuk yang lebih baik dibandingkan dengan adukan tanpa debu. (4) Adukan dengan jumlah debu spons yang menggantikan semen sebesar 5 % sampai 50 %, menghasilkan kuat tekan yang memenuhi standar ASTM. Kuat tekan tertinggi dihasilkan oleh adukan dengan substitusi debu spons sebesar 5 %. (5) Kuat lentur adukan cenderung turun seiring dengan meningkatnya jumlah debu spons yang menggantikan sebagian semen. (5) Debu spons dapat digunakan sebagai pengganti semen pada adukan sampai dengan 50 %. Penggunaan jumlah debu spons yang menggantikan fungsi semen pada adukan tergantung dari tujuan penggunaan adukan tersebut. Kata kunci : adukan, limbah debu spons
POTENSI DAN PERANAN ZAKAT DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN DI KOTA MEDAN Amalia, Amalia; Mahalli, Kasyful
Ekonomi dan Keuangan Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Departemen Ekonomi Pembangunan USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.031 KB)

Abstract

Zakat is one of the alternative solutions to reduce poverty. the results of field studies indicate that the benefits of Zakat is distributed fairly good, but not optimal. although the year-over-year increase zakat but its realization is still less than the potential of the existing zakat. This research was conducted aimed to determine the potential level of relationship and influence the role of zakat to the poor in the city of Medan The method used in this study is the method of Spearman Rank correlation analysis. Data was collected by interview and questionnaires were distributed to District 10 of 21 district in the city of Medan with a total sample of 100 people.Once the data is collected, the authors analyze and interpret resulting conclusions. From the research it can be concluded that most people agree the Medan distribution and utilization of zakat, especially in the form of loans and capital are Qadrul Hasan and accompanied the training and skills provided to increase business progress.
Studi Potensi Limbah Debu Pengolahan Baja (Dry Dust Collector) sebagai Bahan Tambah pada Beton Amalia, Amalia
Poli-Teknologi Vol 10, No 1 (2011)
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4.956 KB)

Abstract

Abstract This research has the objectives of finding out the concrete properties, which are, workability, unit weight, compressive strength, flexural strength and finding out an optimum composition of dry dust collector waste in the concrete mixture. In this research, 3 different kinds of concrete mixture were created based on the amount of waste substitution in the concrete. The examined concrete mixture compositions were the concrete with water cement ratio = 0.68, with the waste substitution as much as 0%, 10%, and 20% of sand weight. The mechanical behavior of the concrete was tested at the age of 28 days.The research results show that, an addition of dry dust collector waste in the concrete influence concrete workability, unit weight of concrete with 10 % waste as much as 2497,44 kg/m3. The concrete with 10 % waste had the higher unit weight compare with the normal concrete without waste. The dry dust collector waste substitution as much as 10% in the concrete can improve compressive strength and flexural strength concrete. The compressive strength of the concrete increases as much as 21.21%, flexural strength of the concrete increases as much as 3.48%. Keywords: concrete, dry dust collector waste, compressive strength, flexural strength
Kualitas Beton Aspal dengan Filler Limbah Debu Spons Pengolahan Bijih Besi Amalia, Amalia; D, Supriyan
Poli-Teknologi Vol 13, No 1 (2014)
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4.956 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meneliti sifat-sifat beton aspal yang menggunakan filler debu spons dibandingkan dengan beton aspal dengan filler semen portland. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pada campuran beton aspal dengan filler debu spons, diperlukan kadar aspal lebih banyak dibandingkan campuran dengan filler semen. (2) Campuran beton aspal dengan filler debu spons mempunyai keawetan lebih tinggi dibandingkan campuran dengan filler semen. (3) Campuran beton aspal dengan filler debu spons mempunyai nilai stabilitas dan kelelehan lebih rendah dibandingkan campuran dengan filler semen. (4) Dilihat dari nilai Marshall Quotientnya, campuran dengan filler debu spons mempunyai kekakuan lebih tinggi dibandingkan dengan campuran filler semen portland (5) Debu spons dapat digunakan sebagai filler pada campuran beton aspal dengan kinerja baik, yang memenuhi standar Bina Marga. (6) Penggunaan debu spons sebagai filler pada beton aspal, membutuhkan kadar aspal yang tidak jauh berbeda dengan filler semen portland untuk mencapai kadar aspal optimum. Kata kunci : beton aspal, debu spons, filler, semen portland, stabilitas ABSTRACT This study aims to investigate the properties of asphalt concrete using filler dust sponge compared to asphalt concrete with portland cement filler . The results showed that ( 1 ) On the asphalt concrete mixture with a sponge dust filler , bitumen content required more than mix with cement filler . ( 2 ) asphalt concrete mixes with dust sponge filler has higher durability than mix with cement filler . ( 3 ) asphalt concrete mixes with dust sponge filler stability and melting has a value lower than the mixture with cement filler . ( 4 ) In terms of the value of Marshall Quotientnya , mix with dust sponge filler has a higher stiffness compared with a mixture of portland cement filler ( 5 ) Dust sponge can be used as a filler in asphalt concrete mixtures with good performance , which meets the standards of Highways . ( 6 ) The use of sponge dust as filler in asphalt concrete , asphalt content that does not require much different with portland cement filler to achieve the optimum bitumen content . Keywords: asphalt concrete, dust sponge, filler, portland cement, stability
KARAKTERISTIK PAPAN SEMEN PARTIKEL DARI LIMBAH PABRIK KUAS Amalia, Amalia; Riyadi, Muhtarom
Poli-Teknologi Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4.956 KB)

Abstract

ABSTRACT This study aims to investigate the properties of cement particle board from brush factory waste using Portland Puzzolan Cement (PPC) as adhesive. Characteristics of cement particle board was studied consists of: density, heavy boards, thickness swelling, water absorption, flexural strength and modulus of elasticity. the test object is made with 4 variations in the amount of PPC, namely: 1 waste: 1 PPC, 1 waste: 1.5 PPC, 1 waste: 2 PPC, 1 waste: 3 PPC. The results showed that (1) weight of cement board average was 10.60 kg/m2-12,89 kg/m2, (2) Based on the density, cement particle board with brush factory waste included in the category of high-quality cement boards, (3) water absorption 12,45%-24,98 %, (4) thickness swelling 2,24% - 4,39 %, (5) flexural strength 40,26 kg/cm2 - 45,56 kg/cm2, and (6) modulus of elasticity 1302,46 kg/cm2 - 1642,18 kg/cm2. The cement particle board with brush factory waste for all compositions meet the standard of wood wool cement boards (SNI 03-2104-1991). The best Characteristics of cement particle board with brush factory waste is 1 waste : 2 PPC. Keywords: cement particle board, brush factory waste, portland pozzolan cement, cement board characteristics ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meneliti karakteristik papan semen partikel dari limbah pabrik kuas dengan perekat jenis Portland Puzzolan Cement (PPC). Karakteristik papan semen partikel yang diteliti terdiri dari: kerapatan, berat papan, pengembangan tebal, daya serap air, kuat lentur dan modulus elastisitas. Benda uji papan semen partikel dibuat dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 1 cm. Penelitian ini menggunakan empat variasi perbandingan antara jumlah limbah pabrik kuas dengan perekat PPC, yaitu: 1limbah : 1 PPC, 1 limbah : 1,5 PPC, 1 limbah : 2 PPC, dan 1 limbah : 3 PPC. Kata kunci : papan semen partikel, limbah pabrik kuas, portland puzzolan cement, karakteristik papan semen
PERSEPSI TEKNOLOGI INFORMASI, KEMUDAHAN PENGGUNAAN, RESIKO DAN FITUR LAYANAN AIS TERHADAP MINAT ULANG DOSEN MENGGUNAKAN ACADEMIC INFORMATION SYSTEM (AIS) Amalia, Amalia
Akuntabilitas Vol 7, No 3 (2014): Akuntabilitas
Publisher : Department of Accounting-Faculty of Economic and Business (FEB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.15408/akt.v7i3.2739

Abstract

This study aimed to examine the relationship between the perception ofInformation Technology, Ease of Use, Risks and AIS Service Features Of Interests BirthdayLecturer in the Use of Academic Information System (AIS): The sample was a lecturer of thefaculty of economics and faculty of sharia and law with a total sample of 50 respondents. Theresearch method used survey method by using tools such as questionnaires and interviews andsampling technique with purposive sampling. Test equipment reliability analysis usingvaliditasdan test, Spearman correlation test and swot analysis. The results showed that thereis a correlation between the perception of technology ais (X1) with an interest in re-facultyusing ais (Y), there is a correlation between the perceived ease of use AIS (X2) with an interestin re-using the AIS, there korealsi between risk perception ais (X3) with interest in re-using ais(Y) and also there is a correlation between the perception of the service features ais (X4) withan interest reset menggunakann ais (Y)
ANALISIS KELAYAKAN USAHA BURUNG PUYUH PETELUR (Coturnix coturnix japonica) DI KELURAHAN TEBING TINGGI OKURA KECAMATAN RUMBAI PESISIR KOTA PEKANBARU Sanjaya, Boni; Amalia, Amalia; Yasid, Hamdan
Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) Menganalisis kelayakan usaha ternak burung puyuh petelur di Kelurahan Tebing Tinggi Okura Kecamatan Rumbai Pesisir Kota Pekanbaru, yaitu ditinjau dari aspek finansial kriteria investasi seperti NPV (Net Present Value), Net B/CR (Net Benefit Cost Rasio), IRR (Internal of Rate Return) dan PBP (Pay Back Period). (2)  Menganalisis kelayakan usaha ternak puyuh ditinjau dari aspek BEP (Break Event Point). (3) Mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi pada usaha Ternak Puyuh di Kelurahan Tebing Tinggi Okura Rumbai Pesisir.            Manfaat Penelitian ini memberikan masukan kepada pengusaha ternak puyuh menganalisis usaha ternak puyuh dan juga memberikan masukan pada instansi terkait dalam pengembangan usaha ternak puyuh di masa mendatang.            Hasil penelitian (1) Analisis kriteria investasi diperoleh nilai Net Present Value (NPV) Rp. 64.518.459, Internal Rate Return (IRR) 18,94%, Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) 1,2.  Dari ketiga analisis menunjukkan hasil usaha ternak Puyuh  di Kelurahan Tebing Tinggi Okura layak untuk diusahakan dan Pay Back Period (PBP) 2 tahun 7 bulan 27 hari (2) Analisis kelayakan usaha ternak puyuh ditinjau dari aspek Break Event Point (BEP)  dilihat dari jangka waktu adalah 5 tahun 2 bulan 8 hari, 3) Permasalahan yang dihadapi pengusaha ternak puyuh adalah pada saat terjadinya meningkatnya penawaran meningkat  permintaan  telur puyuh juga meningkat sehingga harga menjadi turun, biasanya terjadi pada bulan Ramadhan.  Yang terjadi adalah kecendrungan menurunnya pendapatan. Kata Kunci:  Burung puyuh petelur, Kelayakan Usaha
ANALISIS USAHATANI JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotusostreatus) DI KELURAHAN SIMPANG BARU KECAMATAN TAMPAN KOTA PEKANBARU Shintia, Retno Dewi; Amalia, Amalia
Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 13, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 This study aims to (1) analyze costs and farm income oyster mushroom in the village of Simpang Baru subdistrict Tampan Pekanbaru, (2) analyzing the viability of farming oyster mushroom in the village of Simpang New District of Pekanbaru, (3) Analyze Break Even Point (BEP ) white oyster mushroom business in the village new intersections Handsome District of the city of Pekanbaru.          The sampling technique using census method. The results showed that during the production process (4 months) from 5000 baglog oyster mushrooms can produce immediate of 1200 kg, with a selling price at farmer level Rp. 30,000 / Kg. Total gross revenue for Rp.36.000.000, total production cost of Rp. 17,604,912. and net income of Rp. 18,395,088. BEP value sales of Rp. 5,668,708 and BEP unit amounted to 189.88 Kg. BCR value of 0.24 so that it can be concluded that the oyster mushroom farm in the village of  Simpang Baru Subdistrict Tampan Pekanbaru City deserves to be continued Keywords: white oyster mushroom, BEP, BCR