Articles
37
Documents
PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN YANG DIKELOLA PEMASOK (VENDORS MANAGED INVENTORY)

Research Report - Engineering Science Vol 2 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan - Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem rantai pasok adalah suatu sistem yang bertujuan memenuhi permintaan/kebutuhan dari setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Sistem rantai pasok memegang peranan penting dalam menentukan performansi suatu industri. Tantangan hari ini adalah terciptanya sinergi dalam suatu sistem rantai pasok. Untuk mewujudkan hal ini, industri-industri / perusahaan-perusahaan berusaha meningkatkan efisiensi biaya serta efektivitas pemenuhan permintaan dalam suatu sistem rantai pasok yang diterapkannya. Terdapat beberapa sistem rantai pasok yang diterapkan saat ini. Dua di antaranya adalah sistem tradisional dan sistem Vendor Managed Inventory (VMI). Pada sistem rantai pasok tradisional, setiap pihak yang terlibat baik pemasok ataupun penjual (retailer) mengembangkan solusi optimal masing-masing dengan mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain biaya pemesanan dan biaya simpan. Model Economic Order Quantity (EOQ) adalah salah satu model yang dapat diterapkan pada sistem tradisional untuk mendapatkan solusi optimal dengan mempertimbangkan biaya pemesanan dan biaya simpan.   Dalam penelitian ini dikembangkan suatu model optimalisasi untuk sistem rantai pasok kedua, yaitu sistem VMI. Pada sistem rantai pasok ini, solusi optimal tidak ditentukan oleh masing-masing pihak dalam rantai pasok tetapi hanya oleh satu pihak, yaitu pemasok. Lingkup permasalahan rantai pasok yang dibahas dalam penelitian ini adalah rantai pasok VMI dengan 1 pemasok dan banyak retailer. Pada sistem ini pemasok harus menentukan jumlah barang yang akan dikirim ke retailer tertentu dan seberapa sering pengiriman terjadi dalam suatu periode. Variabel keputusan lainnya yang harus ditentukan pemasok adalah jumlah barang yang harus dipesan ke pihak ketiga untuk memenuhi tingkat persediaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengiriman. Hal-hal ini perlu dioptimalisasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan sistem tradisional. Pengembangan model optimalisasi sistem rantai pasok VMI dilakukan dengan menerapkan konsep dynamic programming dan game theory. Model konseptual yang telah terbentuk diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman AMPL sehingga dihasilkan sebuah perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan dengan karakteristik yang sama.

IMPLEMENTASI MODEL PERSEDIAAN YANG DIKELOLA PEMASOK (VENDORS MANAGED INVENTORY) DENGAN BANYAK RETAILER

Research Report - Engineering Science Vol 2 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan - Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengimplementasikan sebuah model analitis permasalahan rantai pasok Vendor Managed Inventory (VMI). Adapun lingkup permasalahan VMI yang diteliti adalah kondisi sistem rantai pasok yang melibatkan 1 pemasok dan banyak retailer. Sebelum melakukan implementasi model, dilakukan terlebih dahulu proses validasi terhadap model analitis. Tujuannya adalah memastikan model tersebut merepresentasikan sistem VMI dengan tepat, selain itu dimungkinkan pula untuk memperbaiki fungsi-fungsi di dalamnya sehingga didapatkan model yang lebih efisien. Model yang telah melalui tahap validasi akan diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman Lingo. Perangkat lunak yang dihasilkan dari tahap ini akan diverifikasi untuk memastikan ketepatan penerjemahan model ke bahasa pemrograman yang digunakan. Setelah melalui tahap ini perangkat lunak akan diuji coba untuk menyelesaikan beberapa kasus hipotetis. Hasil penyelesaian kasus hipotetis ini merupakan contoh kebijakan distribusi dan pemesanan barang dalam sistem VMI yang dapat diterapkan oleh pihak-pihak yang terlibat. Hasil penyelesaian kasus pun digunakan dalam menguji kesesuaian model dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, salah satu caranya adalah dengan melihat logis tidaknya solusi yang dihasilkan.      

EMPLOYEE ENGAGEMENT INDEX UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

Research Report - Engineering Science Vol 1 (2014)
Publisher : Research Report - Engineering Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3396.522 KB)

Abstract

Employee Engagement adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari organisasi untuk dapat terciptanya kinerja organisasi secara optimal. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat engagement karyawan yang tinggi akan memberikan berbagai keuntungan pada perusahaan tempatmereka bekerja, antara lain peningkatan profit, peningkatan pendapatan operasional, serta lebih banyaknya karyawan yang berkinerja baik dibandingkan perusahaan‐perusahaan lain yang memiliki tingkat engagement lebih rendah. Usaha peningkatan level engagement sangat penting pada semua jenis organisasi termasuk organisasi/institusi pendidikan, khususnya pada Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Sebelum mengetahui usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk peningkatanlevel engagement, suatu organisasi perlu terlebih dahulu mengukur tingkat engagement saat ini. Pengukuran employee engagement di Unpar dilakukan melalui pengukuran terhadap 6 faktor yang mempengaruhi employee engagement atau disebut juga sebagai Six Driver Groups, yaitu Job Design, Organizational Health, Managerial Excellence, Extrinsic Rewards, Workplace Readiness, dan Other. Kuesioner yang berisikan 54 item pertanyaan dibagikan ke 511 responden dengan tingkat pengembalian kuesioner dengan jawaban lengkap hanya 45%. Dari hasil pengolahan menggunakan Structural EquationModel, diperoleh employee engagement di Unpar adalah sebesar 75,25 (skala 100). Unit kerja dengan employee engagement tertinggi adalah Unit PPB (85,75). Untuk profesi dosen, dosen 12 jam memiliki employee engagement tertinggi (82,57). Untuk masa kerja, masa kerja 6‐10 tahun memiliki employee engagement tertinggi (79,26). Golongan yang memiliki employee engagement tertinggi adalah golonganIV (79,85).

IMPLEMENTASI MODEL PERSEDIAAN YANG DIKELOLA PEMASOK (VENDORS MANAGED INVENTORY) DENGAN BANYAK RETAILER

Research Report - Engineering Science Vol 2 (2013)
Publisher : Research Report - Engineering Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2781.758 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengimplementasikan sebuah model analitis permasalahan rantai pasok Vendor Managed Inventory (VMI). Adapun lingkup permasalahan VMI yang diteliti adalah kondisi sistem rantai pasok yang melibatkan 1 pemasok dan banyak retailer. Sebelum melakukan implementasi model, dilakukan terlebih dahulu proses validasi terhadap model analitis. Tujuannya adalah memastikan model tersebut merepresentasikan sistem VMI dengan tepat, selain itu dimungkinkan pula untuk memperbaiki fungsi-fungsi di dalamnya sehingga didapatkan model yang lebih efisien. Model yang telah melalui tahap validasi akan diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman Lingo. Perangkat lunak yang dihasilkan dari tahap ini akan diverifikasi untuk memastikan ketepatan penerjemahan model ke bahasa pemrograman yang digunakan. Setelah melalui tahap ini perangkat lunak akan diuji coba untuk menyelesaikan beberapa kasus hipotetis. Hasil penyelesaian kasus hipotetis ini merupakan contoh kebijakan distribusi dan pemesanan barang dalam sistem VMI yang dapat diterapkan oleh pihak-pihak yang terlibat. Hasil penyelesaian kasus pun digunakan dalam menguji kesesuaian model dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, salah satu caranya adalah dengan melihat logis tidaknya solusi yang dihasilkan.

PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN YANG DIKELOLA PEMASOK (VENDORS MANAGED INVENTORY)

Research Report - Engineering Science Vol 2 (2012)
Publisher : Research Report - Engineering Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.048 KB)

Abstract

Sistem rantai pasok adalah suatu sistem yang bertujuan memenuhipermintaan/kebutuhan dari setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Sistem rantaipasok memegang peranan penting dalam menentukan performansi suatuindustri. Tantangan hari ini adalah terciptanya sinergi dalam suatu sistem rantaipasok. Untuk mewujudkan hal ini, industri-industri / perusahaan-perusahaanberusaha meningkatkan efisiensi biaya serta efektivitas pemenuhan permintaandalam suatu sistem rantai pasok yang diterapkannya. Terdapat beberapa sistemrantai pasok yang diterapkan saat ini. Dua di antaranya adalah sistem tradisionaldan sistem Vendor Managed Inventory (VMI). Pada sistem rantai pasoktradisional, setiap pihak yang terlibat baik pemasok ataupun penjual (retailer)mengembangkan solusi optimal masing-masing dengan mempertimbangkanberbagai faktor, antara lain biaya pemesanan dan biaya simpan. ModelEconomic Order Quantity (EOQ) adalah salah satu model yang dapat diterapkanpada sistem tradisional untuk mendapatkan solusi optimal denganmempertimbangkan biaya pemesanan dan biaya simpan.Dalam penelitian ini dikembangkan suatu model optimalisasi untuk sistemrantai pasok kedua, yaitu sistem VMI. Pada sistem rantai pasok ini, solusi optimaltidak ditentukan oleh masing-masing pihak dalam rantai pasok tetapi hanya olehsatu pihak, yaitu pemasok. Lingkup permasalahan rantai pasok yang dibahasdalam penelitian ini adalah rantai pasok VMI dengan 1 pemasok dan banyakretailer. Pada sistem ini pemasok harus menentukan jumlah barang yang akandikirim ke retailer tertentu dan seberapa sering pengiriman terjadi dalam suatuperiode. Variabel keputusan lainnya yang harus ditentukan pemasok adalahjumlah barang yang harus dipesan ke pihak ketiga untuk memenuhi tingkatpersediaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengiriman. Hal-hal ini perludioptimalisasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkansistem tradisional. Pengembangan model optimalisasi sistem rantai pasok VMIdilakukan dengan menerapkan konsep dynamic programming dan game theory.Model konseptual yang telah terbentuk diterjemahkan ke dalam bahasapemrograman AMPL sehingga dihasilkan sebuah perangkat lunak yang dapatdigunakan untuk menyelesaikan permasalahan dengan karakteristik yang sama.

Language Learning Strategies of High School Students

Media Akademika Vol 26, No 1 (2011)
Publisher : Media Akademika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research has shown that there are many factors, such as gender, age, motivation, performance, culture and achievement that relate to language learning strategies. The majority of research about language learning strategies has been conducted in various countries, especially in university settings. However, there are few studies about language learning strategies conducted in Indonesia. Meanwhile, English is a compulsory subject in Indonesia, but many students are unsuccessful in learning it. This may be closely related to the strategies that students in Indonesia use to learn English. My research investigates language-learning strategies of EFL students at high schools in Jambi, Indonesia. The research examines the relationship between strategies used and gender. The research also emphasizes examining the strategies used by successful and unsuccessful language learners. Therefore, the study was conducted into two parts. The first part included 80 participants who responded to a questionnaire on language learning strategies (SILL). In the second part, 8 participants who were successful and unsuccessful learners were interviewed in order to understand the strategies that are used. The SPSS version 9.0 for Windows was used to analyze the quantitative data from the questionnaire; the qualitative data from interviews was analyzed by using thematic analysis. The result shows that there are no differences of language learning strategies preference between males and females. However, successful students used more strategies than unsuccessful students, especially cognitive and metacognitive strategies. Furthermore, all students frequentlyused social, cognitive and metacognitive strategies. My research led me to conclude that this model of strategies can be used by unsuccessful language learners to help them learn English.

Dampak Sertifikasi Guru terhadap Peningkatan Mutu Proses Pembelajaran: Studi Kasus di MAN Model Jambi

Media Akademika Vol 26, No 2 (2011)
Publisher : Media Akademika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program sertifikasi guru telah berjalan setidaknya lima tahun di Indonesia. Program ini diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional. Selain dibutuhkan syarat-syarat tertentu untuk mendapatkannya, bagi guru yang telah lulus sertifikasi mendapatkan insentif tambahan. Dengan demikian, guru dirangsang untuk menjadi profesional yang berujung pada meningkatnya kualitas pembelajaran. Artikel ini melihat pelaksanaan sertifikasi guru di MAN Model Jambi, apakah program tersebut benar-benar berdampak pada mutu proses pembelajaran. Berdasarkan wawancara terhadap guru, kepala sekolah, siswa, dan pengawas, observasi di MAN Model Jambi, serta studi dokumentasi, didapat bahwa para guru telah memahami apa sesungguhnya program sertifikasi, bagaimana semestinya mereka bekerja setelah sertifikasi, dll. Kenyataannya, mereka belum sepenuhnya melaksanakan sesuai tuntutan sertifikasi. Walhasil, dampak sertifikasi terhadap peningkatan mutu proses pembejaran tidak terlalu signifikan

FUNDAMENTALISME PENDIDIKAN

Edu-Physics Vol 4 (2013)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fundamentalisme dalam pendidikan adalah sebuah idiologi pendidikan yang berakar dari idiologi politik yang eksis pada setiap bangsa. Idiologi ini dalam prakteknya cenderung pada pendidikan doctrinal yang menekankan militansi eksklusif. Salah satu bentuk fundamentalisme adalah sikap konservatisme yang cendrung bersikap reaksioner, satu sikap mempertahankan tradisi dan anti-intelektual (anti-kritik). Idiologi ini merambah sampai pada system persekolahan (guru, siswa, dan kurikulum). Kata Kunci : Fundamentalisme, idiologi pendidikan.

Peningkatan Hasil Belajar IPA Siswa Melalui Penerapan Metode Inquiry

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya hasil belajar tersebut diduga akibat kurang aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran, hal ini disebabkan karena guru masih menggunakan metode ceramah yang masih monoton. Dalam pembelajaran IPA, metode ceramah kurang tepat digunakan karena konsep-konsep alam tidak bisa dipahami hanya dari mendengarkan penjelasan guru melalui metode ceramah. Dengan adanya semangat belajar di harapkan dapat timbul kebebasan dan kebiasaan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dengan penuh inisiatif dan kreatif dalam pekerjaannya. Salah satu metode yang tepat untuk digunakan adalah metode inquiry. Metoda ini terlaksana dimana kelompok siswa dibawa ke dalam suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan di dalam suatu prosedur/struktur kelompok yang digariskan secara jelas. Inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, seperti merumuskan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan. Pada metode inquiry dapat ditumbuhkan sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya. Akhirnya dapat mencapai kesimpulan yang disetujui secara bersama.

Manusia sebagai Sentra Aktivitas Kehidupan Organisasi

EDU-BIO Vol 3 (2012)
Publisher : EDU-BIO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi manusia dalam kehidupan organisasi khususnya dunia pendidikan dan kaitannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta dalam upaya untuk mengaktualisasikan ajaran Islam tersebut di atas, maka di sini penulis mencoba memaparkan bagaimana manusia sebagai sentral dalam setiap aktivitas serta mampu merealisasikan perannya dengan mengacu kepada konsep pengembangan manusia sebagai sumber daya yang potensial sekaligus sebagai aktor utama dan apa manfaat serta tujuan pengembangannya dalam suatu organisasi. Serta pendekatan-pendekatan apa saja yang perlu dilihat dalam kerangka untuk meningkatkan kualitas sebagai sumber daya manusia.