Zubaidah Alatas
Center for Technology of Radiation Safety and Metrology, Indonesia

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

PARADIGMA BARD EFEK RADIASI DOSIS RENDAH Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4323.209 KB)

Abstract

Tidak Ada Abstrak
PENGKAJIAN KASUS SINDROMA RADIASI AKUT Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 6, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.538 KB)

Abstract

Radiasi pengion adalah radiasi yang dapat menimbulkan terjadinya ionisasi atau pengionan sebagai proses pelepasan satu atau lebih elektron dari suatu atom/molekul, baik dalam bentuk gelombang elektromagnetik (radiasi gamma dan sinar-X) atau partikel (alpa, beta atau elektron, dan neutron). Kedua jenis radiasi di atas mempunyai daya rusak yang berbeda terhadap materi biologis karena mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menimbulkan tingkat pengionan dan dalam jarak lintasan yang dapat ditempuh. Radiasi partikel mempunyai tingkat pengionan yang jauh lebih tinggi dan jarak lintasan yang jauh lebih pendek dari radiasi elektromagnetik. Dengan demikian partikel alpa dan beta (elektron) mempunyai daya rusak per satuan jarak lintasan yang besar tetapi daya tembusnya rendah. Sedangkan radiasi gamma dan sinar-X meskipun mempunyai daya rusak yang rendah tetapi mempunyai jarak tempuh yang jauh.
EFEK TERATOGENIK RADIASI PENGION Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 6, No 3 (2005): April 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.728 KB)

Abstract

Pajanan radiasi dosis rendah dapat menimbulkan kerusakan sub letal yang berpotensi menyebabkan kematian sel. Pada orang dewasa, hilangnya beberapa sel tidak menjadi masalah karena dapat segera digantikan atau dapat ditoleransi. Sedangkan pada janin, pajanan radiasi dosis rendah dapat menyebabkan kematian lebih banyak sel embrionik dibandingkan sel pada orang dewasa, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa hilangnya sejumlah kecil sel memberikan konsekuensi jangka panjang lebih besar pada embrio dan fetus dibandingkan pada orang dewasa. Jaringan embrionik sangat sensitif terhadap radiasi karena sel pada janin mempunyai tingkat proliferasi yang sangat tinggi dan belum terdiferensiasi dengan baik.
KONSEKUENSI KECELAKAAN REAKTOR CHERNOBYL TERHADAP KESEHATAN DAN LINGKUNGAN Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.42 KB)

Abstract

Kecelakaan nuklir yang paling parah dalam sejarah industri nuklir terjadi pada tanggal 26 April 1986 di Unit 4 reaktor instalasi daya nuklir Chernobyl di negara yang dulu dikenal sebagai Republik Ukrainian, Soviet Union. Ledakan yang menghancurkan pengungkung dan struktur inti reaktor (Gambar 1) menimbulkan kebakaran selama 10 hari dan menyebabkan terjadinya pelepasan sejumlah besar materi radioaktif ke lingkungan. Awan yang berasal dari reaktor yang terbakar tersebut menyebarkan berbagai jenis radionuklida, terutama yodium (131I) dan cesium(137Cs), ke hampir seluruh bagian Eropa. Radionuklida 131I, senyawa yang mempunyai organ target kelenjar tiroid dan berumur paro pendek (8 hari), terlepas ke lingkungan dalam jumlah yang banyak pada beberapa minggu pertama kecelakaan. Sedangkan radionuklida 137Cs yang mempunyai waktu paro lebih lama (30 tahun), memberikan kontribusi paparan radiasi eksterna dan interna pada tubuh, masih terdeteksi keberadaannya dalam tanah dan pada beberapa makanan yang berasal dari beberapa wilayah di Eropa. Deposit radionuklida paling besar terjadi di wilayah sekitar reaktor yang sekarang dikenal sebagai Negara Belarus, Federasi Rusia, dan Ukraina (Gambar 2).
PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA RADIASI DI PTKMR Evalisa, Maria; Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.83 KB)

Abstract

Aplikasi radiasi di berbagai bidang disertai dengan risiko kesehatan bagi para pekerjanya. Berbagai efek radiasi baik yang termasuk sebagai efek deterministik maupun stokastik telah cukup dikenal. Untuk mencegah dan mengurangi efek radiasi tersebut harus dilakukan upaya proteksi dalam setiap aplikasi radiasi, antara lain upaya berupa pengawasan terhadap kesehatan para pekerja radiasi.
EFEK PEWARISAN AKIBAT RADIASI PENGION Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.267 KB)

Abstract

Paparan radiasi pada tubuh dapat menimbulkan kerusakan baik pada tingkat moleku- ler, seluler ataupun jaringan/organ. Dosis radiasi harus mencapai tingkat ambang tertentu untuk dapat menimbulkan kerusakan akut, tetapi tidak sama halnya untuk kerusakan genetik atau induksi kanker. Secara teori, dosis radiasi sangat rendah sudah cukup untuk menimbulkan kerusakan, berarti bahwa tidak ada tingkat dosis radiasi yang dapat dinyatakan aman bagi manusia. Pada saat yang bersamaan, tidak ada tingkat dosis yang berbahaya secara homogen. Bahkan pada dosis yang relatif lebih tinggi tidak setiap orang akan mengalami tingkat kerusakan yang sama karena adanya perbedaan tingkat kemampuan dan ketepatan mekanisme perbaikan terhadap kerusakan yang timbul akibat radiasi. Kematian sel terjadi bila tubuh terpajan radiasi dengan dosis relatif tinggi. Bila dalam waktu yang tidak terlalu lama, tubuh tidak mampu untuk menggantikan sejumlah sel yang mengalami kematian, maka akan timbul efek akut yang dapat segera diamati secara klinik. Pada rentang dosis rendah, radiasi dapat menginduksi terjadinya serangkaian perubahan pada tingkat molekuler dan seluler yang tidak menyebabkan kematian sel tetapi menyebabkan perubahan pada materi genetik sel sehingga terbentuk sel baru yang bersifat abnormal. Sel seperti ini berpotensi untuk mengarah pada pembentukan kanker dan/atau kerusakan genetik yang dapat diwariskan. Kerusakan yang terjadi dapat diperbaiki tanpa kesalahan sehingga struktur DNA kembali seperti semula dan tidak menimbulkan perubahan fungsi pada sel. Tetapi dalam kondisi tertentu, proses perbaikan tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga walaupun kerusakan dapat diperbaiki tetapi tidak secara tepat atau sempurna sehingga menghasilkan DNA dengan struktur yang berbeda, yang dikenal dengan mutasi. Kerusakan yang terjadi pada sebuah sel somatik yang tidak dapat mengalami proses perbaikan secara benar dan tepat maka akan terjadi mutasi somatik. Tetapi bila kerusakan terjadi pada sel telur atau sel sperma, maka akan terjadi mutasi genetik. Sebuah mutasi genetik berpotensi untuk menimbulkan perubahan yang dapat diamati pada generasi berikutnya.
Lack of Radioprotective Potential of Ginseng in Suppressing Micronuclei Frequency in Human Blood Lymphocyte under Gamma Irradiation LUSIYANTI, YANTI; ALATAS, ZUBAIDAH; SYAIFUDIN, MUKH
HAYATI Journal of Biosciences Vol 22, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1686.665 KB)

Abstract

Ginseng appears to be a promising radioprotector for therapeutic or preventive protocols capable of attenuating the deleterious effects of radiation on human normal tissue. This research addresses results on the study of radioprotective potential of ginseng on radiation induced micronuclei in lymphocyte cells in vitro. The peripheral blood samples were exposed to gamma rays at doses of 0.0, 0.5, and 1.0 Gy and then added with 0, 100, and 1000 ug/mL of ginseng extract. These treated samples were cultured for micronuclei (MN) examination using standard procedure. The evaluation of incubation with ginseng extract for 24 h before irradiation was also done. Our results showed that there was no radioprotective effect of ginseng addition to the frequency of MN in lymphocyte cells. Pre-incubation with ginseng extract before irradiation also did not effectively suppress the MN frequency. This research lacks to prove the ginseng’s radioprotective potential that maybe related to its immunomodulating capabilities and its capabilities in scavenging free radicals induced by radiation or in attenuating the deleterious effects of radiation and its important role in increasing levels of several cytokines.
Studi Nilai AgNOR dan MIB-1 pada Kanker Payudara yang Ditangani dengan Operasi Kurnia, Iin; Soetrisno, Esti; Yulian, Erwin D.; Ramli, Irwan; Alatas, Zubaidah
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1011.587 KB)

Abstract

AgNOR dan MIB-1 adalah marker proliferasi sel kanker payudara yang berguna sebagai dasar pemberian radioterapi setelah operasi. Penetapan nilai AgNOR dan indeks MIB-1 dilakukan dengan teknik pewarnaan dan teknik pewarnaan imunohistokimia MIB-1 terhadap 25 sediaan mikroskopik jaringan kanker payudara dari penderita hasil operasi, dan dikelompokkan berdasarkan derajat diferensiasinya menjadi 3 kelompok sediaan berderajat diferensiasi baik (G1), 16 sediaan berderajat diferensiasi menengah (G2), dan 6 sediaan berderajat diferensiasi buruk (antara G2 dan G3). Hasil penelitian menunjukkan nilai AgNOR dan indeks MIB-1 cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya derajat diferensiasi. Terdapat pula kecendrungan korelasi positif antara nilai AgNOR dan indeks MIB-1 (r =0,21) pada seluruh derajat diferensiasi, terdapat korelasi negatif antara AgNOR dan MIB-1 pada G1 (r=-0,97), korelasi positif pada G2 (r=0,36) serta korelasi positif antara G2 dan G3 (r=0,33). Korelasi positif antara AgNOR dan MIB-1 terkait dengan peningkatan fase G1, S dan G2 pada sel yang berproliferasi dan peningkatan jumlah sel yang mengalami mitosis. Korelasi negatif disebabkan oleh perbedaan proporsi antara sel yang berada pada fase G1, S dan G2 dengan yang sedang bermitosisKata kunci: Kanker payudara, AgNOR, MIB-1, operasi Study of AgNOR Value and MIB-1 in Breast CancerTreated With Surgery AbstractAgNOR and MIB-1 are marker for breast cancer cell proliferation and can be use as based for radiotherapytreatment after surgery. Value of AgNOR and MIB-1 index were determined using staining and immunohistochemistry staining method respectively from 25 of microscopic slides of breast cancer tissue patients with surgery, and grouped based on degree of differentiation, 3 slides were good degree (G1), 16 slides were medium degree (G2) and 6 slides were poor degree (between G2 and G3). The result shown that the value of AgNOR and MIB-1 index were tended to increase with the increased differentiation degree. There was a positive correlation between the value of AgNOR and index of MIB-1 in all group of differentiation degree (r = 0.21), there is a negative correlation between AgNOR and MIB-1 on G1 (r =-0,97), positive correlation in G2 (r = 0.36) as well as positive correlation between G2 and G3 (r = 0.33). The positive correlation between AgNOR and MIB-1 were associated to the increased of G1, S and G2 phase in the proliferation cell and an increase of cells undergoing mitosis. The negative correlation were caused by the different cell proportion in G1, S and G2 phase, and undergoing mitotis.Key words: Breast cancer, AgNOR, MIB-1, surgery
RISIKO RADIASI DARI COMPUTED TOMOGRAPHY PADA ANAK Alatas, Zubaidah
Jurnal Forum Nuklir JFN Vol 8 No 2 November 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.66 KB)

Abstract

RISIKO RADIASI DARI COMPUTED TOMOGRAPHY PADA ANAK. Computed Tomography (CT) adalah test medik non invasif yang digunakan untuk deteksi, diagnostik dan menindak penyakit. CT merupakan kombinasi antara sumber sinar x dan sistem komputerisasi yang canggih untuk menghasilkan sejumlah citra atau gambar tentang kondisi internal tubuh. Sejak pengenalan CT pada tahun 1970an, penggunaannya meningkat secara cepat. Berdasarkan sifatnya, CT melibatkan tingkat paparan dosis radiasi pengion yang lebih besar dibandingkan dengan prosedur pencitraan sinar-x konvensional. Dosis efektif radiasi dari prosedur ini berkisar dari 5 sampai 100 mSv, kurang lebih sama dengan rerata manusia menerima paparan radiasi alam selama 8 bulan sampai 3 tahun. Terdapat bukti epidemiologik yang kecil tetapi signifikan terhadap peningkatan risiko kanker akibat dosis radiasi dari tindakan CT. Karena anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi, maka penggunaan CT pada anak hanya jika sangat penting dalam membuat keputusan diagnostik dan tidak dilakukan pengulangan kecuali jika sangat diperlukan. Meskipun risiko individual terhadap kanker tidak besar, terapi peningkatan paparan radiasi dalam populasi berpotensi menjadi isu kesehatan masyarakat di masa datang. Makalah ini membahas sifat dan aplikasi utama CT sebagai alat diagnostik, dosis radiasinya, risiko kanker pada anak sebagai isu kesehatan masyarakat, dau upaya untuk mengurangi dosis radiasi CT pada anak. lnformasi dalam makalah ini diharapkan untuk membantu dalam pengambilan keputusan dan diskusi dengan tim medik, pasien dan keluarga.Kata kunci : Computed tomography, anak, pencitraan diagnostik, radiasi pengion, kanker
Capability of Vitamin E as a Radioprotector in Suppressing DNA Damage Determined with Comet Assay Darlina, Darlina; A., Lusy Dahlia; Alatas, Zubaidah; Kisnanto, Teja; Syaifudin, Mukh
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 9, No 2 (2017): August 2017
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radiation has a potent to damage cells. Radiation may act directly or indirectly on deoxyribonucleic acid (DNA) that results in the degeneration of tissues and necrotic, and thereby it needs a potent radioprotector to prevent these damages. Vitamin E is natural product known as an antioxidant which has potential as radioprotector. This research aimed to determine the capability of vitamin E with emphasized on the searching for its optimal concentration as radioprotector of DNA damage. This study used blood samples of healthy person irradiated with gamma rays at a dose of 6 Gy as the lethal dose to lymphocytes. The cocentrations of vitamin E from 0 to 0.8 mM was added into blood 15 minutes before irradiation. Isolation of lymphocytes was done using gradient centrifugation method. Evaluation on the capability of this compound in suppressing DNA damage was done by using alkaline Comet assay and data analysis was done using CaspLab program. The results show that addition of vitamin E could suppres these DNA damages and 0.8 mM of vitamin could reduce DNA damage up to 94.2%. We conclude that vitamin E effectively suppresed DNA damages induced by radiation. This information may benefit to the patient from negative impacts of radiotherapy.