Muslim Akmal
Laboratorium Embriologi dan Histologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Published : 40 Documents
Articles

Found 40 Documents
Search

Peningkatan Konsentrasi Testosteron pada Tikus Akibat Paparan Ekstrak Air Biji Pinang Akmal, Muslim; Mahdi, Chanif; -, Aulanni’am
Jurnal Veteriner Vol 11, No 4 (2010)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Areca catechu which is known in Indonesia as pinang, contains alkaloids such as arecoline, arecaine,arecaidine, arecolidine, guvacine, guvacoline, and isoguvasine. Arecoline has an ability to change gonadmorfofunction, including shape abnormality of sperm. The aim of this research was to find out the prospectof extract betel nut of A.catechu as male anti fertility agents based on its activity to increase the testosteroneconcentration. Animal models used consisted of 5 groups of 2-3 months male rats (Rattus norvegicus,Wistar strain) and induced for 1 week by water extract of betel nut at the dose of 0, 1, 2, 3, and 4 gram/200gram body weight. Testosterone concentration was determined by ELISA technique. The result showedthat extract betel nut of A. catechu is potential source of natural and beneficial male anti fertility agentsas it can increase the testosterone concentration.
MEASUREMENT OF SERUM TESTOSTERONE IN KACANG GOAT BYUSING ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) TECHNIQUE: THE IMPORTANCE OF KIT VALIDATION (Pengukuran Testosteron Serum Kambing Kacang dengan Teknik Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA): Pentingnya Validasi Kit) G, Gholib; Wahyuni, Sri; Kadar, Okta Hilda; Adam, Mulyadi; Lubis, Triva Murtina; A, Azhar; Akmal, Muslim; Siregar, Tongku Nizwan; Armansyah, Teuku; Nugraha, Taufiq Purna
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 1 (2016): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.054 KB)

Abstract

This study was conducted to validate a commercial testosterone enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) kits (DRG EIA-1559) inanalytic and biological manner for measuring serum testosterone concentrations in kacang goats. This study used 18 healthy kacang goats, six bucks (>2 years), six kids (<6 months), and six does (>2 years). Blood samples were collected from jugular vein and prepared as serum. Two validation tests were performed, an analytical validation comprises a parallelism, accuracy, precision and sensitivity and a biological validation by comparing testosterone concentration from bucks, kids, and does. Testosterone concentrations were measured using ELISA technique. Data of analytical validation were analyzed descriptively and test of equality of slope was performed to see the parallelism between samples and standard curves. Analysis of variance (ANOVA) was used for biological validation data. Results of parallelism showed that sample curve was parallel to the standard curve. Accuracy, precision (% CV of intra-and inter-assay) and sensitivity of the assay were 99.65±4.27%, <10%, <15% and 0.083 ng/ml, respectively. Results of biological validation showed that the assay used were accurately measured testosterone which testosterone concentrations in bucks were significantly higher compared to kids and does (P<0.05). In conclusion, a commercial testosterone ELISA kits (DRG EIA-1559) is a reliable assay for measuring serum testosterone concentration in kacang goats. Key words: analytical and biological validations, ELISA, testosterone, kacang goat
CYCLOOXYGENASE-2 (COX-2) EXPRESSION ON TESTIS CONNECTIVE TISSUE OF Rattus norvegicusAFTER TREATMENT WITH BETEL NUT EXTRACT (Areca catechu) Akmal, Muslim; Riawan, Wibi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Betel nut contains alcaloids such as arecoline, arecaine, arecaidine, arecolidine, guvacine, guvacoline and isoguvasine. Arecoline has ability to change gonad morph-function, including shape abnormality of sperm. This research was conducted to prove the ability of betel nut extract (Areca catechu) in causing apoptosis on testis connective tissue of Rattus novergicus. This research used male; 2-3 months age, 150-200 grams body weight of white rats Rattus norvegicus strain Wistar. The rats were divided into 5 groups in equalnumber, 3 rats respectively. They were a control group without treatment and 4 groups as treatment groups which were given doses of betel nut extract, i,e., 1, 2, 3  and 4 gram during seven days. The result showed that dose variation ofbetel nut extract could induction of COX-2 expression on rats (Rattus norvegicus) strain Wistar testicular seminiferous tubule. Keywords: Betel nut extract, Rattus norvegicus, testis, cyclooxygenase-2
PENGARUH INJEKSI PROTEIN MEMBRAN SPOROZOIT Eimeria tenella TERHADAP INDEKS REPRODUKSI OOSISTA PADA AYAM = THE EFFECT OF INJECT/ON OF PROTEIN MEMBRANE SPOROZOITES TO REPRODUCTION INDEX OF Eimeria tenellas OOCYST IN CHICK Akmal, Muslim; Nurcahyo, R.Wisnu; ., Sumartono
Jurnal Sain Veteriner Vol 19, No 2 (2001): en
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh injeksi _protein membran sporozoit Eimeria tenella terhadap Indeks Reproduksi E. tenella pada ayam. Dalam penelitian ini, sebanyak 60 ekor DOC jantan petelur (strain Isa Brown) digunakan sebagai hewan percobaan. Ayam percobaan tersebut setelah berumur 4 hari dibagi acak menjadi tiga kelompok (kelompok kontrol, I dan II), masing-masina kelompok terdiri dari 20 ekor. Ayam-ayam pada kelompok I diinjeksi dengan protein membran sporozoit E tenella dengan dosis 2,1 jig per ekor secara intravena. Ayam-ayam pada kelompok [1. dinjeksi secara intrakutan dengan protein yang sama seperti yang diinjeksikan pada kelompok I, sedang ayam pada kelompok kontrol tidak dilakukan perlakuan. Semua ayam percobaan kemudian dimasukkan ke dalam kelompoknya masing-masing dan diberi pakan non koksidiostat dan air minum secara ad libitum. Pada hari ke-22 setelah perlakuan, semua ayam pereobaan diinfeksi dengan 1500 oosista iafektifE tenella per ekor sebagai infeksi tantangan. Data jumlah oosista per gram feses dikumpulkan mtdai hari ke-4 sarnpai dengan hari ke-11 setelah infeksi ta.ntangan. Hasil perhitungan Indeks Reproduksi dianalisis secara deskriptif Dari hasil penelitian ini dapat ditarilc ksimpulan bahwa injeksi 2,1 pg protein membran sporozoit E. tenella baik secara intravena maupun intrakutan tidak mempengaruhi Indeks Reproduksi El tenella pada ayam-ayam percobaan terhadap infeksi taniangan E. tenellcr.
INHIBIN B MENGHAMBAT EKSPRESI MOLEKUL PROTAMINE P2 DI DALAM KEPALA SPERMATOZOA TIKUS (Rattus norvegicus) a, Aulanniam; Akmal, Muslim; Widodo, M. Aris; Sumitro, Sutiman B.; Purnomo, Basuki B.
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 2 (2011): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.877 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek inhibin B terhadap ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada kauda epididimis. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus jantan berumur 4 bulan yang dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok (KO, KI, KII, dan KIII), setiap kelompok terdiri atas 6 ekor tikus. Kelompok KO merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan PBS. Kelompok KI, KII, dan KIII diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis masing-masing adalah 25, 50, dan 100 pg/ekor. Tikus diinjeksi sebanyak 5 kali secara intra peritoneal dengan interval waktu pemberian 12 hari selama 48 hari. Injeksi pertama, inhibin B dicampur dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml CFA. Injeksi kedua hingga kelima, inhibin B dicampur dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml IFA. Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, hewan coba dikorbankan secara dislocatio cervicalis lalu jaringan kauda epididimis dikoleksi dan difiksasi dengan paraformaldehid 4%. Setelah melalui proses dehidrasi, jaringan blok di dalam parafin dipotong dengan ketebalan 6 mikron dan diwarnai secara imunohistokimia dengan menggunakan antibodi anti protamine P2. Pengamatan secara imunohistokimia menunjukkan adanya ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada semua kelompok perlakuan. Akan tetapi, seiring dengan penambahan dosis inhibin B menyebabkan terjadinya penurunan tingkat ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada kauda epididimis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan secara nyata jumlah ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada epididimis (P<0,05) dibanding KO.
PERBANDINGAN INTENSITAS BERAHI SAPI ACEH YANG DISINKRONISASI DENGAN PROSTAGLANDIN F2 ALFA DAN BERAHI ALAMI Hafizuddin, Hafizuddin; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; Melia, Juli; rizal, Husnur; Armansyah, Teuku
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.871 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan intensitas berahi sapi aceh antara yang disinkronisasi berahi dengan prostaglandin F2 alfa (PGF2α) dan berahi alami. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor sapi aceh betina yang dibagi atas dua kelompok. Kriteria sapi yang digunakan adalah umur 5-8 tahun, mempunyai bobot badan 150-250 kg, dan mempunyai minimal dua siklus reguler. Sapi yang digunakan mempunyai skor kondisi tubuh dengan kriteria baik, yaitu 3 atau 4 pada skala skor 5. Pada Kelompok I (KI) sapi disinkronisasi berahi mengunakan PGF2α sebanyak 5 mg/ml secara intramuskular. Pada kelompok II (KII) sapi dibiarkan memperlihatkan gejala berahi alami. Penilaian intensitas berahi dilakukan dengan memberi skor 1, 2, dan 3, berdasarkan kriteria yang dibuat oleh Kune dan Solihati (2007). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan intensitas berahi sapi aceh baik yang disinkronisasi berahi dengan PGF2α dan sapi yang mengalami berahi alami dengan skor intensitas berahi masing-masing adalah 2,40±0,84 dan 2,70±0,48.
Gambaran histologis folikel ovarium sapi aceh pascavitrifikasi menggunakan etilen glikol Sayuti, Arman; Hidayah, Jamilatun; Akmal, Muslim; Panjaitan, Budianto
ARSHI Veterinary Letters Vol 3, No 1 (2019): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran histologis folikel ovarium sapi aceh pasca vitrifikasi menggunakan etilen glikol (EG) dengan berbagai konsentrasi berbeda yaitu 10%, 20% dan 30%. Phosphate buffered saline (PBS), 0.25 M sukrosa, 0.5 M sukrosa dan krioprotektan EG digunakan sebagai larutan vitrifikasi. Ovarium dipaparkan dengan larutan mengandung krioprotektan EG konsentrasi 10%, 20%, dan 30% selama 5 menit masing-masing pada suhu kamar, dikemas dalam straw, lalu divitrifikasi dalam nitrogen cair (-196 ⸰C), dan thawing dalam air pada 37 ⸰C. Kondisi normal dan keutuhan folikel pascavitrifikasi diamati secara histologi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ovarium setelah vitrifikasi dengan EG 10% dan 20% memperlihatkan presentase keutuhan folikel 32.83% dan 45.04%, sedangkan EG 30% memperlihatkan presentase tertinggi yaitu 54.96%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa EG 30% lebih baik dalam mempertahankan keutuhan folikel ovarium sapi aceh dibandingkan dengan EG 10%  dan 20%.
PEMBERIAN EKSTRAK VESIKULA SEMINALIS MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA TETAPI TIDAK MEMENGARUHI KONSENTRASI SPERMATOZOA DAN TESTOSTERON TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) Nizwan Siregar, Tongku; Akmal, Muslim; Wahyuni, Sri; Tarigan, Hermawaty; M, Mulyadi; Nasution, Idawati
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.635 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak vesikula seminalis terhadap kualitas spermatozoa dan konsentrasi testosteron tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor tikus putih jantan dewasa, galur Wistar, berumur 3 -4 bulan, berat badan 250-300 g dan dibagi menjadi 4 kelompok (K1, K2, K3, dan K4), masing-masing kelompok berturut-turut diberikan 0,2 ml NaCl fisiologis, 25 μg cloprostenol, 0,2 ml ekstrak vesikula seminalis (EVS), dan 0,4 ml EVS secara intraperitoneal. Pada akhir perlakuan, seluruh tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis. Selanjutnya, kauda duktus epididimis dinekropsi untuk dikoleksi spermatozoanya. Pemeriksaan kualitas spermatozoa, meliputi motilitas dan konsentrasi spermatozoa. Pemeriksaan konsentrasi testosteron serum darah dilakukan menggunakan teknik enzymelinked immunosorbant assay (ELISA). Motilitas dan konsentrasi (x10 6 ) spermatozoa pada kelompok K1; K2; K3; dan K4 masingmasing adalah 3,00±0,00; 3,20±0,28; 2,00±0,86; dan 3,20±0,28 dan 146,60±71,90; 187,80±60,80; 124,20±64,70; dan 129,40±27,07. Konsentrasi testosteron pada kelompok K1; K2; K3; dan K4 masing-masing adalah 5,53+1,75; 4,68+4,56; 2,51+1,33; dan 2,40+1,60 ng/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EVS mampu meningkatkan motilitas spermatozoa tetapi tidak memengaruhi konsentrasi spermatozoa dan testosteron serum darah tikus putih.
INHIBIN B MENURUNKAN KONSENTRASI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus): UPAYA PENGEMBANGAN KONTRASEPSI HORMON PRIA BERBASIS PEPTIDA Akmal, Muslim; A, Aulanni’am; Widodo, M. Aris; Sumitro, Sutiman B.; Purnomo, Basuki B.; Siregar, Tongku Nizwan; Hambal, Muhammad; A, Amiruddin; S, Syafruddin; Aliza, Dwinna; Sayuti, Arman; Adam, Mulyadi; Armansyah, T.; Rahmi, Erdiansyah
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.745 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B terhadap penurunan konsentrasi follicle stimulating hormone (FSH) di dalamserum pada tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 24 ekor tikus putih berjenis kelamin jantan dengan strain Wistar berumur 4 bulan dengan bobot badan 150-200 g. Tikus-tikus dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu KK0, KP1, KP2, dan KP3, masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor. Kelompok KK0 merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan phosphate buffer saline (PBS), sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis berturut-turut 25, 50, dan 100 pg/ekor. Injeksi inhibin B dilakukan secara intraperitoneum sebanyak 5 kali selama 48 hari dengan interval waktu 12 hari. Injeksi pertama inhibin B dilarutkan dengan0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s complete adjuvant (FCA). Injeksi kedua sampai kelima, inhibin B dilarutkan dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s incomplete adjuvant (FICA). Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis,lalu darah dikoleksi langsung dari jantung dan didiamkan hingga didapatkan serum untuk pemeriksaan konsentrasi FSH dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan konsentrasi FSH secara nyata (P<0,05) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut, inhibin B berpeluang untuk dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria hormon berbasis peptida.
PENINGKATAN AKTIVITAS LUTEOLITIK SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK VESIKULA SEMINALIS SAPI PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) r, Rahmandi; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; Armansyah, Teuku; s, Syafruddin
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.505 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak vesikula seminalis terhadap penurunan konsentrasi progesteron serta diameter korpus luteum pada tikus putih. Dalam penelitian ini digunakan 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) betina dewasa, galur Wistar, berumur 3-4 bulan dengan berat badan antara 200-250 g dan dibagi atas dua kelompok (K1 dan K2) masing-masing diberi 25 μg cloprostenol dan 0,2 cc ekstrak vesikula seminalis secara intravaginal pada hari ke-7 kebuntingan. Tiga ekor tikus masing-masing kelompok dibunuh pada jam ke-0, 3, 6, 12, dan 26. Pemeriksaan progesteron dilakukan menggunakan metode enzymelinkedimmunosorbantassay (ELISA). Konsentrasi progesteron pada kelompok perlakuan PGF2α dan ekstrak vesikula seminalis pada lima periode waktu pengukuran yakni jam ke-0, 3, 6, 12, dan 26 memperlihatkan perbedaan yang signifikan (P<0,05). Ekstrak vesikula seminalis mempunyai kemampuan yang sama dengan PGF2α komersial dalam menurunkan diameter korpus luteum yang ditandai secara mikroskopis dengan berkurangnya vaskularisasi darah menuju ovarium (P>0,05). Disimpulkan bahwa ekstrak vesikula seminalis mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan PGF2α komersial dalam menurunkan konsentrasi progesteron tikus putih dan mempunyai kemampuan yang sama dengan PGF2α komersial dalam menurunkan diameter CL.
Co-Authors a, Aulanniam Abdul Harris Agik Suprayogi Al Azhar Amiruddin A Andi Novita Anwar A, Anwar Arman Sayuti Armansyah, TR, T. Athaillah, Farida Aulanni’am -, Aulanni’am Aulanni’am a Azhar A, Azhar Azhari A Basuki B. Purnomo Boni Anggara, Boni budianto panjaitan Chanif Mahdi Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi, Cut Nila Darmayanti, Susi Dasrul Dasrul Desfariza, Chintya Dian Masyitah, Dian Dwinna Aliza Erdiansyah Rahmi Fitra Aji Pamungkas, Fitra Fitriani Fitriani Flaggellata, Patrick Gholib G, Gholib Gholib Gholib, Gholib Ginta Riady Hafizuddin ., Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin, Hafizuddin Hamdan - Hamdan h Hamdan Hamdan Hamdani Budiman Hamdani H, Hamdani Hamny H, Hamny Hamny Hamny Hermawaty Tarigan, Hermawaty Hidayah, Jamilatun hidayat, nikhofebri Husmimi, Husmimi Husnur rizal husnurrizal, husnurrizal I. Ketut Mudite Adnyane, I. Ketut Mudite Idawati Nasution Iqwal, Yuza Al Joharsyah J, Joharsyah Juli Melia Listin Handayani, Listin M Nur Salim, M Nur M. Aris Widodo Mahdi Abrar Mohd. Agus Nashri Abdullah Muhammad Aris Widodo Muhammad Hambal Muhammad Jalaluddin, Muhammad Muhammad Toras, Muhammad Mulyadi Adam, Mulyadi Mulyadi M, Mulyadi murtina lubis, triva Mustafa Sabri Nanda Yuliansyah, Nanda nengsih, nadya septia Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda Putra, Regi R.Wisnu Nurcahyo Rahmandi r Rastina, Rastina Razali R rina aulia barus Rinidar -, Rinidar Rinidar R, Rinidar Roslizawaty r Rusli -, Rusli Saddat Nasution, Saddat Sariadi Sariadi Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sugito s Sugito Sugito Sumartono . Suriadi S, Suriadi Sutiman B. Sumitro Sutiman B. Sumitro Syafruddin s Syafruddin Syafruddin T. Armansyah T. Reza Ferasyi, T. Reza Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Armansyah Teuku Reza Ferasyi Teuku Reza Ferasyi, Teuku Tongku N Siregar Tongku N. Siregar, Tongku Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Triva Murtina Lubis Wahyu Sihombing, Wahyu Wibi Riawan Zainuddin Z Zainuddin Zainuddin Zuhrawati Zuhrawati, Zuhrawati Zulyazaini, Zulyazaini