p-Index From 2014 - 2019
13.101
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan Jurnal Sodality Forum Pasca Sarjana Jurnal Artikulasi Jurnal Keperawatan Dinamika Akuntansi Keuangan dan Perbankan Dinamik - Jurnal Teknologi Informasi ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Sains dan Pendidikan PPs UNIMA Jurnal AGROTEKNOLOGI English Education Journal Counselium Jurnal Pustaka Nusantara dan Budaya Jurnal INFOTEL Interaksi Online Jurnal Kedokteran Diponegoro Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar KadikmA Pancaran Pendidikan ALCHEMY Jurnal Dinamika Manajemen Students´ Journal of Accounting and Banking Biogenesis Jurnal Pascapanen Pertanian Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Jurnal Pembelajaran Fisika Jurnal NERS JURNAL INTEGRASI PROSES Jurnal Agritech Buletin Keslingmas JI@P Jurnal Ilmiah Mahasiswa FKIP Prodi Biologi Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry Informatika Mulawarman Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery) Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi AKSIOLOGIYA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Al-Ta'dib Jurnal Kesehatan Mesencephalon AKUNTABEL Jurnal Ilmiah Soulmath : Jurnal Edukasi Pendidikan Matematika Indonesian Journal of Chemistry Jurnal Ilmiah Bidan Indonesian Journal of Statistics and Its Applications Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Jurnal Agrotek Tropika Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Muqtasid: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah Zeta - Math Journal Jurnal Teladan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pembelajaran JURIKOM (Jurnal Riset Komputer) An Nabighoh Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab Jurnal Kesehatan Global Jurnal Kesehatan dr. Soebandi J-Dinamika Jurnal Inovasi Ilmu Sosial dan Politik
Articles

Pasta Pati Jagung Putih Waxy dan Non-Waxy yang Dimodifikasi Secara Oksidasi dan Asetilasi-Oksidasi

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.215 KB)

Abstract

Modification of corn starch will give different effects depending on the corn variety. Gel forming capacity increased with increase in concentration of the samples and least gel concentration was maximal in higher amylose starch. Initial pasting temperature of native starch reduced from following oxidation and acetylation. Among the samples, the highest pasting temperature was recorded in native and values for peak viscosity during heating. The modified starch has better stability than native starch and lower tendency for syneresis and improve the freeze thaw stability.Keywords: white corn starch, oxidation, acetylation-oxidation, corn variety

CHARACTERISTICS OF WHITE CORN NOODLE SUBSTITUED BY TEMPEH FLOUR [Karakteristik Mie Putih Jagung dengan Substitusi Tepung Tempe]

Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan Vol 23, No 2 (2012): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.001 KB)

Abstract

CHARACTERISTICS OF WHITE CORN NOODLE SUBSTITUED BY TEMPEH FLOUR [Karakteristik Mie Putih Jagung dengan Substitusi Tepung Tempe] Nur Aini1)*, V. Prihananto1) and S. Joni Munarso2)   1) Department of Agricultural Technology, Jenderal Soedirman University, Purwokerto 2) Center for Estate Crops Research and Development, Bogor   Submitted November 08th 2012 / Accepted December 07th 2012 ABSTRACT   Different corn type and processing of corn flour can produce flour with different physical and chemical characteristics. Processing of such flour into noodle will also result in different properties of noodle. While substitution of corn flour with tempeh flour can improve the protein content of the noodle it also impair its sensory characteristics. The objectives of this research were to determine the best combination of corn flour-type, corn flour processing and proportion of corn:tempeh flour to produce the best corn noodles based on physical, chemical and sensory properties. The observed variables of this study were moisture, ash, soluble protein, fat, elongation, color, flavor, taste, and preferences. The results showed that based on physical, chemical and sensory properties, the best corn noodle could be made ​​from flour made from waxy corn soaked for 24 hours and a ratio of corn:tempeh flour of 80:20. The noodle produced had 12.1% of total protein content, 2.8% of soluble protein, 8.4% of fat, 5.9% of moisture, 3.6% of ash, 69.9% of carbohydrate, 17.6% of elongation, yellow color, slight flavor of corn/soybean, and 2.6 of preferences.   Keywords: corn, noodle, soaking, tempeh, waxy ABSTRAK   Jenis jagung (waxy dan non waxy) serta proses pengolahan tepung menghasilkan perbedaan sifat tepung jagung, dan apabila diaplikasikan pada pembuatan mi akan menghasilkan sifat mi yang berbeda. Substitusi tepung tempe pada pembuatan mi jagung meningkatkan kadar proteinnya, tetapi dapat mengubah sifat sensori mi. Penelitian bertujuan menentukan kombinasi perlakuan terbaik (antara jenis jagung, proses pengolahan tepung dan proporsi tepung jagung:tempe) yang dapat menghasilkan mi jagung terbaik (berdasar sifat fisik, kimia dan sensoris). Variabel yang diukur meliputi kadar air, kadar abu, protein terlarut, lemak, pemanjangan/elongasi, warna, aroma, rasa dan kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasar sifat fisik, kimia dan sensoris, mi jagung terbaik dibuat dari tepung jagung waxy yang dibuat melalui proses perendaman selama 24 jam, dan proporsi tepung jagung: tempe yang digunakan pada pembuatan mi 80:20 (V2P1T2). Karakteristik mi adalah sebagai berikut: kadar protein total 12,1%, protein terlarut 2,8%, lemak 8,4% b, air 5,9% bk, abu 3,6%bk, karbohidrat 69,9% bk, elongasi 17,6%, warna kuning, aroma jagung/tempe yang agak terasa, dan kesukaan 2,6.   Kata kunci: jagung, mi, perendaman, tempe, waxy

Program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Sebagai Alternatif Mempersiapkan Masa Pensiun

Dinamik - Jurnal Teknologi Informasi Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : FTI Unisbank

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan masyarakat baik karena pendidikan, perubahan sosial ekonomi serta faktor lainnya akan mendorong perubahan kebutuhan maupun orientasi. Apabila sebelurnnya karyawan atau pekerja mandiri cukup puas apabila penghasilannya dapat mencukupi kebutuhan mereka saat ini, namun sekarang sudah banyak yang merencanakan dan bahkan merealisasikan program pensiun sehingga mereka akan mendapatkan jaminan pendapatan tetap pada saat mereka memasuki masa pensiun. Sementara di Indonesia program pensiun baru dapat dinikmati sebagian kecil masyarakat khususnya baru mereka yang bekeria sebagai penawai negeri sipil maupun militer, badan usaha milik negara, yang disebut sebagai Dana Pensiun pemberi Kerja. Sementara kelompok pekerja lainnya sebagian besar belum diikutkan atau mengikuti program pensiun. Untuk itu perlu adanya strata revolusi atau gerakan dalam rangka memasyarakatkan program pensiun tidak saja kepada perusahaan tetapi juga terhadap pekerja pada perusahaan maupuan pekerja mandiri.

Chemical and Rheological Properties Correlation of White Corn Flour Influenced by Spontaneous Fermentation of Corn Grits

Forum Pasca Sarjana Vol 32, No 1 (2009): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.261 KB)

Abstract

Fermented was reported to have different physicochemical and functional properties to those of non fermented flour.  The objective of this research was to study the effect of spontaneous fermentation to chemical and rheological properties of corn flour and to identifying correlation among parameters.  Flour was prepared by spontaneous fermentation with variation of fermentation time (0, 12, 24, 36, 48, 60 and 72 hours).  The result indicated that the increasing of corn grits fermentation time was decrease of protein, crude fiber, lipid, ash, starch  and amylase content of corn flour.  The increasing of protein content, reduction sugar, crude fiber, ash, bulk density and gelatinization time were decrease of gel strength.  Gel strength will be promote with increasing of angle of repose and peak viscosity.  Gel stickeness will decrease with increasing of amylosa: amylopecyin ratio and breakdown viscosity.   Key words: white corn, flour,fermentation, chemical, rheological

DESKRIPSI KEMAMPUAN STATISTIKA DESKRIPTIF MAHASISWA TADRIS BAHASA INGGRIS IAIN KENDARI

Al-Ta'dib Vol. 11 No 2, Juli-Desember 2018
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.3 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji secara deskriptif kemampuan statistika deskriptif mahasiswa Tadris Bahasa Inggris IAIN Kendari berdasarkan asal sekolah dan jenis kelamin. Kemampuan statistika deskriptif yang diamati meliputi kemampuan memahami dan menjelaskan pengertian dan jenis-jenis data; menjelaskan dan menggunakan Teknik pengambilan sampel; membuat tabel distribusi frekuensi dan grafiknya; menentukan ukuran pemusatan, ukuran letak, ukuran penyimpangan data; serta kemampuan membaca dan menginterpretasikan data yang disajikan dalam bentuk tabel. Hasil analisis kemampuan statistika deskriptif mahasiswa, menunjukkan bahwa rata-rata mahasiswa tadris Bahasa Inggris IAIN Kendari Semester IV Tahun Ajaran 2017/2018 memiliki kemampuan yang tinggi pada aspek kemampuan membuat tabel distribusi frekuensi dan grafiknya serta kemampuan menentukan ukuran pemusatan, yakni menentukan nilai rata-rata, median dan modus baik untuk data tunggal maupun data berkelompok. Sedangkan kemampuan terendah yang diperoleh mahasiswa Tadris Bahasa Inggris yakni pada aspek kemampuan menjelaskan dan menggunakan teknik pengambilan sampel. Dilihat dari variabel jenis kelamin, mahasiswa laki-laki sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan teknik pengambilan sampel. Sedangkan jika dilihat dari variabel asal sekolah, hanya mahasiswa yang berasal dari MAS dan SMAN saja yang dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan teknik pengambilan sampel.Kata kunci: Kemampuan Statistika Deskriptif; Jenis Kelamin; Asal Sekolah

PENERAPAN KETRAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS 3 SDN KAPASARI IV

Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar Volume 1, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : PGSD FIP UNESA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran pada hakikatnya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang akan dan/atau sedang digunakan dapat diketahui dari langkah-langkah pembelajaran yang telah tersusun dan/atau sedang terjadi. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu. Teknik pembelajaran mengambarkan langkah-langkah penggunaan metode mengajar yang sifatnya lebih operasional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan teknik pembelajaran di antaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian sarana dan waktu, serta kesiapan siswa. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran ialah tujuan pembelajaran, jenis dan tingkat kesulitan materi pelajaran, sarana, waktu yang tersedia, siswa, dan guru.

Stereotip Etnis Tionghoa Dalam Stand-Up Comedy pada lakon “KOPER” (Analisis Semiotika)

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1ABSTRAKSIJudul Skripsi : Stereotip Etnis Tionghoa Dalam Stand-Up Comedy padalakon “KOPER” (Analisis Semiotika)Nama : Nur AiniNim : D2C308012Jurusan : Ilmu KomunikasiKaum minoritas dapat dianggap sebagai kelompok subkultur yang dapat menyebabkan pergolakan di sebuah negara. Perbedaan identitas menjadi kerap muncul sebagai awal permasalahan SARA yang salah satunya ditandai dengan adanya stereotip kelompok, terutama pada kaum minoritas. Kemunculan stand-up comedy di Indonesia yang turut meramaikan hiburan tanah air, menjadi salah satu media bagi kaum minoritas untuk lebih terbuka dalam mengkomunikasikan hal tabu seperti rasisme yang dialami oleh etnis Tionghoa. Melalui stand-up comedy hal tersebut diangkat dengan perspektif dan cara yang lebih dapat diterima.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang makna yang diungkapkan dalam pertunjukan stand-up comedy lakon “Koper” pada sesi Ernest Prakasa, seorang keturunan etnis Cina-Betawi. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk memaknai kode-kode secara denotatif dan konotatif, juga teknik analisis Fiske dengan menguraikan simbol-simbol tayangan yang disajikan melalui tiga level analisis yaitu reality, representation, dan ideology.Hasil penelitian menunjukkan adanya temuan mengenai representasi etnis Tionghoa yang digambarkan melalui stand-up comedy dalam lakon “Koper”. Pertama mengenai diskriminasi sosial yang dialami, etnis Tionghoa seringkali mendapatkan perilaku yang berbeda dari masyarakat karena dianggap sebagai liyan. Kedua, adanya stereotip tentang fisikalitas Tionghoa terutama bentuk mata sipit sebagai ciri khas yang dimiliki masyarakat Tionghoa atau keturunannya, hingga sekarang masih seringkali muncul. Dan yang ketiga adalah kemampuan sosial-ekonominya yang selalu dianggap berada di tingkat menengah ke atas, di mana hal tersebut berdampak pada kecemburuan sosial masyarakat.Disetujui oleh Pembimbing 1Semarang, Maret 2013Drs. Adi Nugroho, M.SiNIP 19651017.199311.1.0012PENDAHULUANIndonesia, sebuah negara besar yang terdiri dari berbagai kepulauan, memiliki begitu banyak ragam etnis kebudayaan. Salah satunya etnis Tionghoa yang meskipun dianggap sebagai kelompok subkultur, namun secara faktual merupakan warga Indonesia. Berbagai peristiwa yang terjadi, di negara ini seolah memandang etnis tersebut dengan sebelah mata. Adanya ketimpangan sosial yang terjadi pada masa lalu antara kelompok pribumi dan Tionghoa (keturunan) membuat pribumi merasa takut dan terancam. Refleksi ketakutan yang muncul dari kalangan pribumi tersebut pada akhirnya berubah menjadi persepsi umum. Charless A. Coppel dan Rizal Sukma (dalam http: //www.yusufmaulana.com/2009/07/menakar-diaspora-etnis-tionghoa.html) mengidentifikasi lima persepsi masyarakat pribumi terhadap karakter umum etnis Tionghoa, yaitu :1. Mereka adalah bangsa (ras) yang terpisah, yakni bangsa Cina;2. Posisi mereka diuntungkan dalam struktur sosial di bawah pemerintahan kolonial Belanda;3. Struktur sosial diskriminatif selama penjajahan Belanda menempatkan mayoritas mereka lebih suka mengidentifikasi dengan bangsa Belanda, memiliki sikap arogan, memandang rendah masyarakat Indonesia asli, cenderung eksklusif, dan mempertahankan hubungan kekerabatan dengan Cina daratan;4. Merupakan kelompok yang tidak mungkin berubah dan akan selalu memperhatikan nilai-nilai kulturalnya di mana pun mereka berada;35. Merupakan kelompok yang hanya peduli kepada kepentingan mereka sendiri, khususnya kepentingan ekonomi.Pemerintahan pasca-reformasi akhirnya kembali mengakui keberadaan etnis Tionghoa. Warga etnis Tionghoa diakui sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) sah yang dilindungi dengan UU No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Etnis Tionghoa mulai menunjukkan eksistensinya pada berbagai aspek kehidupan bermasyarakat mulai dari bidang politik, sosial, budaya, tidak terkecuali dalam bidang hiburan.Dalam dunia hiburan, Indonesia kembali mengalami satu era baru dengan kemunculan stand-up comedy. Stand-up comedy adalah komedi tunggal secara monolog yang ditampilkan di atas panggung, berinteraksi secara langsung dengan audiens, dan memiliki konten atau materi humor yang lebih tajam dan kritis. Dalam bukunya, Sudarmo juga menyebutkan bahwa dengan stand-up comedy, orang-orang berbagi tawa untuk melepas kegetiran hidup (Sudarmo, 2012: 175).Sudarmo (2012: 175) juga menyebutkan bahwa dengan SUC, orang-orang berbagi tawa untuk melepas kegetiran hidup. Ia juga mendefinisikan stand-up comedy sebagai kombinasi antara teater dan lawak improvisasi. Tradisi teater mensyaratkan kesiapan naskah/skenario, latihan, dan arahan sutradara. Lawak improvisasi, meskipun sebenarnya memiliki konsep/naskah, namun tidak tertulis, atau hanya mengandalkan kesepakatan dalam brifing sutradara (Sudarmo, 2012: 182). Dalam Stand-up comedy lakon “Koper”, setiap comic menyampaikan materi mereka dengan tetap menjaga karakter kentalnya masing-masing. Pertunjukan ini menceritakan perjalanan sebuah koper yang tua dan besar yang hendak dibuang4oleh pemiliknya di sebuah terminal karena dianggap berisi kenangan tentang istrinya yang membawa sial. Koper tersebut kemudian berpindah tangan, dari orang yang satu ke orang lainnya yang tidak saling mengenal.Berkaitan dengan penelitian ini, stereotip etnis minoritas yang sudah ada sejak dulu dan secara umum dianggap negatif, digambarkan menggunakan humor yang pada penelitian ini dikemukakan dalam stand-up comedy lakon “KOPER”. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui adalah bagaimana representasi “Stereotip Etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy “KOPER”?”Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan representasi stereotip etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy pada lakon “KOPER”. Peneliti juga berharap agar penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan informasi kepada pembaca dalam memahami serta mengetahui studi semiotik mengenai representasi Stereotip Etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy “KOPER” serta dapat dijadikan bahan rujukan ataupun pertimbangan untuk kajian ilmu komunikasi dan menjadi sumber informasi bagi penelitian selanjutnya, serta menjadi masukan tersendiri di bidang Stand Up Comedy.Metodologi Penelitian1. Tipe PenelitianMenggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Metode penelitian yang digunakan adalah semiotik Barthes.2. Subyek PenelitianSasaran penelitian ini adalah stand-up comedy lakon “KOPER”, dengan subjek penelitian yaitu comic Ernest Prakasa.53. Unit AnalisisItem-item dalam stand-up comedy lakon “Koper” yang terdiri atas scene-scene, monolog yang terdiri dari bit-bit dan punchline yang mempunyai relevansi dengan rumusan masalah.4. Teknik Pengumpulan DataData primer penelitian ini berupa potongan gambar scene-scene dari pertunjukan yang disiarkan di Metro TV pada tanggal 19 dan 26 Februari 2012 dengan tajuk stand-up comedy lakon “Koper”. Sedangkan data sekundernya adalah studi pustaka mengenai sosok tionghoa yang diperoleh dari artikel, buku maupun sumber dari internet.5. Teknik Analisis DataTeknik analisis data pada penelitian ini didasarkan pada konsep The Codes of Television dipaparkan oleh Fiske (1987:5) bahwa peristiwa yang akan disiarkan telah dienkode oleh kode-kode sosial. Kode-kode tersebut terdiri dari beberapa level, sebagai berikut:a. Level 1: “Reality”b. Level 2: “Representation”c. Level 3: “Ideology”6HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANSosok Tionghoa dalam stand-up comedy lakon Koper hanya diwakili oleh karakter Ernest Prakasa sebagai comic. Dalam beberapa bagian, Ernest menggambarkan sebuah keadaan yang menjadi stereotip mengenai etnis Tionghoa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahardjo (2005), dikemukakan persepsi orang Jawa tentang stereotip Cina dalam komunikasi antaretnis, sebagai berikut:Tabel 4.1Persepsi tentang stereotip dalam komunikasi antaretnisNoStereotipJawa - Cina (skala 1-5)1Pelit2,482Licik2,343Curiga2,144Sombong2,445Eksklusif2,276Mementingkan diri sendiri2,397Memandang rendah2,068Malas bekerja1,929Mudah disuap2,4110Hemat3,6611Jujur3,5012Sopan3,9213Ramah3,831. Diskriminasi Sosial Etnis TionghoaMonolog menggunakan kata “rasis” terdengar menyindir (meskipun dengan bercanda), yang ditujukan kepada panitia acara yang memilihkan peran itu untuknya sebagai penjaga toilet.7Seragam PDL. Seragam adalah simbol kepatuhan, kepasrahan, dan tunduk kepada peraturan. Pakaian yang dikenakan Ernest (PDL) adalah pakaian seragam yang digunakan oleh seorang pekerja lapangan, bekerja di luar kantor dan lebih banyak menggunakan tenaga. Seperti yang dikemukakan oleh Bungin (2006: 48), bahwa pekerja kasar, buruh harian, buruh lepas, dan semacamnya yang lebih banyak menggunakan tenaga dari pada kemampuan manajerial distratakan sebagai kelas sosial bawah (lower class).Gesture tubuh yang menyindir, terlihat dari cara mengibaskan baju seragamnya sembari melihat ke arah di luar penonton serta mengucapkan kata “ck..!”. Secara keseluruhan dimaknai sebagai sindiran akan diskriminasi sosial yang dialami oleh kelompok etnis Cina di masa lalu.2. Fisikalitas Etnis TionghoaBentuk mata sipit yang apabila dilihat oleh penonton dari kejauhan seperti orang yang berbicara dengan keadaan mata terpejam.Konotasinya, kalimat-kalimat yang muncul dalam bit tentang bentuk mata sipit merupakan hal yang lucu, ketika seorang comic membuat penonton menertawakannya melalui keadaan fisik yang berbeda pada dirinya. Humor semacam ini menunjukkan sebuah pengakuan atas ketidaksempurnaan dan kelemahan diri kepada penonton. Menurut Malcolm Khusner (dalam Sathyanarayana, 2007 92), meskipun pada menertawakan diri sendiri dapat menjatuhkan, namun sesungguhnya8humor tersebut dapat meningkatkan daya tarik dan membangun empati penonton.Adapun monolog yang sengaja mengganti istilah mata sipit dengan kurang belo, ciri khas yang biasa ditemui pada keturunan India dan Timur Tengah. Dalam teori humor, Ernest menggunakan self deprecating humor dimana mencela kaumnya sendiri merupakan salah satu bagian dari pengungkapan diri dengan menambahkan, “...lha mandang dua mata aja susah..! Apa lagi sebelah..!”. Ungkapan ini memiliki konotasi bahwa orang Cina tidak pernah merendahkan orang lain.Adanya stereotip bahwa orang Cina memiliki sifat angkuh, eksklusif dan memandang rendah etnis lain sengaja ditekankan bahwa hal tersebut tidak benar adanya. Dalam catatan Taher, disebutkan faktor kultural yang memiliki kaitan yang erat dengan permasalahan ini. Meskipun pada masa Orde Baru mengeluarkan kebijakan pemerintah tentang asimilasi (pembauran), ternyata Cina yang merupakan kebudayaan yang tertua di dunia ini cukup kuat dan berpengaruh di wilayah tertentu. Sebagai konsekuensinya, masyarakat Cina menjadi cenderung bersifat chauvinistik, sering memandang rendah kebudayaan bangsa-bangsa lain (Rahardjo, 2005: 19). Namun tentu saja tidak semua dari mereka memiliki sikap yang demikian. Tidak adil apabila stereotip itu dilekatkan pada semua orang Tionghoa padahal masih ada orang Tionghoa yang sangat bersahabat.93. Kelas Sosial-Ekonomi Etnis TionghoaDalam sebuah bit, dimana Ernest menemukan sebuah koper tidak bertuan yang tergeletak begitu saja di jalan. Kemudian dengan rasa penasaran, Ernest memperlihatkan dia sedang memeriksa koper tersebut dan mencoba menentengnya sembari berjalan. Ernest bercerita bahwa ternyata orang Cina tidak semuanya kaya.Konotasinya yaitu anggapan bahwa semua orang Tionghoa di negeri ini dianggap kaya dan memiliki kemampuan ekonomi yang mencukupi. Koper tersebut diartikan sebagai simbol kekayaan yang digunakan untuk menyimpan uang. Dalam bit tersebut Ernest menyebutkan, “gaya ya, kaya business man Shanghai!”. Secara harfiah, kalimat tersebut memiliki makna bahwa comic yang merupakan keturunan Cina-Betawi ini adalah bukan seorang pengusaha kaya seperti yang distereotipkan oleh masyarakat.Stereotip ini sendiri bermula dari pemerintahan kolonial Hindia-Belanda yang membagi masyarakat waktu itu menjadi tiga golongan, yaitu 1) orang Eropa yang kedudukannya paling tinggi; 2) orang Cina, India, dan Arab sebagai golongan Timur Asing dengan kedudukan sosial menengah; dan 3) golongan pribumi yang menempati kedudukan sosial terendah (Rahardjo, 2005: 18). Keistimewaan yang diberikan kepada masyarakat keturunan Cina memiliki posisi (ekonomi) yang lebih dominan dibanding komunitas masyarakat lokal. Hal ini membuat interaksi mereka dengan pribumi menjadi berjarak.10Keberhasilan banyak orang Tionghoa di bidang ekonomi memang seringkali menimbulkan kecemburuan sosial. Hanya saja keberhasilan ini tidak terjadi pada seluruh orang Tionghoa. Masih banyak orang Tionghoa biasa yang hidup secara sederhana dengan usaha mereka dan masih berjuang untuk memenuhi kebutuhannya. Banyak orang Tionghoa yang memiliki kemapanan finansial, namun perlu ditekankan pula bahwa kemapanan tersebut adalah buah dari kerja keras mereka.Selain itu pada bit yang menyampaikan bahwa Engkong atau kakek Ernest adalah seorang warga Tionghoa asli yang merantau ke negeri ini, kemudian ditambahkan bahwa tidak semua produk Cina itu KW, diambil dari kata kualitas dengan pelafalan kwalitas, yang artinya barang tiruan.Ketika dianalisis berdasarkan makna konotasi, terdapat kalimat yang ambigu. Disebutkan di dalam penampilannya, kata asli dalam bit tersebut memiliki artinya yang lain. Stereotip yang ingin diperjelas disini adalah anggapan masyarakat yang menggeneralisasikan bahwa barang made in China (yang berupa produk tekstil/ garmen dan elektronik) bahwa barang Cina seringkali disebut sebagai barang yang memiliki image peyoratif/negatif. dikenal dengan barang tiruan, bermutu rendah, dan murah (dikutip dari republika.co.id), Hal ini seringkali dikaitkan dengan isu ekonomi kapitalis yang digencarkan di negeri tersebut, yang lebih mementingkan bisnis dan ekonomi daripada aspek yang lain, menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan yang berlimpah.11PENUTUPStereotip yang direpresentasikan dalam stand-up comedy lakon Koper berbicara mengenai diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa adalah sebuah kelompok ras yang terpisah, sehingga dibeda-bedakan dengan kelompok masyarakat pribumi. Adapun ciri fisik yang khas dan mencolok yaitu bentuk mata sipit yang menjadi bahan untuk menyudutkan mereka dalam interaksi mereka dengan kaum mayoritas pribumi, dan menyebabkan etnis Tionghoa seringkali mendapatkan serangan verbal sebagai bentuk pengungkungan eksistensi mereka.Status sosial-ekonomi etnis Tionghoa distereotipkan sebagian besar lebih baik dari para pribumi. Padahal untuk mencapai tingkat kesuksesan seperti demikian, kaum Tionghoa telah menjalani kerja keras secara turun temurun. Namun demikian kecemburuan sosial yang merebak dan terstruktur dalam masyarakat Indonesia menyebabkan labelisasi „kaya‟ dan „eksklusif‟ bagi masyarakat Tionghoa. Akibatnya, gerak kaum Tionghoa seolah terkurung dalam ranah ekonomi yang semakin mengukuhkan dominasi finansial mereka.

PERBANDINGAN PEMANFAATAN JURNAL TERCETAK DENGAN JURNAL ELEKTRONIK UNTUK KEBUTUHAN INFORMASI MAHASISWA DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA CABANG KEDOKTERAN

Jurnal Pustaka Nusantara dan Budaya Vol 1, No 01 (2013): Jurnal Pustaka Nusantara dan Budaya
Publisher : Departemen Studi Perpustakaan dan Informasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to compare the use of print journals with electronic journals for the information needs of students at the University of Sumatera Utara Branch Library of Medicine. Analysis includes the use of journals, journal collections conformity with the needs of the user. The research method used is descriptive research with a comparative approach. In determining the sample used technique accidental. The data was collected through observation and questionnaires to students Bachelor’s Degree General Medicine Program. Analyses were performed by grouping data from questionnaires and observation. This study shows the results of a comparison the use of printed journals with electronic journals, the majority of students often take advantage of electronic journals than print journals. Number of electronic journals in general to meet the information needs of students rather than the printed journal. In general, students expressed more sophisticated electronic journals than print journals.

SINTESIS DAN KARAKTERISASI ZEOLIT Y DARI ABU AMPAS TEBU VARIASI RASIO MOLAR SiO2/Al2O3 DENGAN METODE SOL GEL HIDROTERMAL

ALCHEMY: Journal of Chemistry ALCHEMY (Vol.3, No.2
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology UIN Maulana Malik Ibrahim Malan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abu ampas tebu mengandung kadar silika (SiO2) yang tinggi. Silika yang tinggi dapat digunakan sebagai komponen utama sintesis zeolit selain alumina, salah satunya adalah zeolit Y. Zeolit Y merupakan zeolit sintetik jenis faujasit yang kaya akan silika dengan rentang rasio molar SiO2/Al2O3 1,5-3 dengan bentuk struktur SBU D6R. Zeolit Y dalam skala laboratorium maupun industri banyak dimanfaatkan sebagai padatan pendukung katalis untuk reaksi hidrorengkah fraksi berat minyak bumi, bahan adsorben, maupun ion exchange (pertukaran ion). Oleh karena itu, sintesis zeolit  Y perlu untuk disintesis.Tahap sintesis metode sol gel meliputi tahap pencampuran bahan sesuai rasio molar SiO2/Al2O3 2, 2,5 dan 3 dengan komposisi molar 15SiO2 : 1,0Al2O3 : 10Na2O : 300H2O, distirer selama 30 menit dan dieramkan selama 30 menit, dilanjutkan dengan hidrotermal pada suhu 100 ºC selama 24 jam dan tahap yang terakhir adalah pengeringan zeolit Y pada suhu 100 ºC selama 12 jam. Hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan XRF, XRD, FTIR, dan uji luas permukaan dengan metode adsorpsi methylene blue.Analisis XRF menunjukkan bahwa silika abu ampas tebu  sebesar 44,6 %. Analisis XRD menunjukkan hasil sintesis menghasilkan campuran zeolit Y dan P, kristalinitas zeolit Y rasio  SiO2/Al2O33 > rasio SiO2/Al2O3 2,5 > rasio SiO2/Al2O32. Analisis pendukung dengan FTIR menunjukkan puncak-puncak yang muncul pada ketiga rasio zeolit Y merupakan gugus fungsi terbentuknya kerangka zeolit Y. Luas permukaan zeolit Y dengan adsorpsi methylene blue rasio SiO2/Al2O3 2, 2,5 dan 3 berturut-turut adalah sebagai berikut 15,0914 m2/gram, 15,0805 m2/gram, dan 15,1747 m2/gram.

POLA KENAIKAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN PADA TAHUN PERTAMA DI BPM SUNARTI DESA KARANGANYAR KECAMATAN AMBULU KABUPATEN JEMBER

Journal Kesehatan Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : LP3M STIKES dr. Soebandi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ciri-ciri suatu alat kontrasepsi yang ideal yaitu meliputi daya guna yang aman, dapat diandalkan, sederhana, murah, diterima orang banyak, bisa digunakan dalam pemakaian jangka panjang, dan efek samping sedikit. Sampai saat ini belum ada suatu alat kontrasepsi yang 100% ideal/sempurna. Suntikan kontrasepsi dianggap efektif dan banyak menjadi pilihan kaum ibu, dikarenakan aman, sederhana, dan murah. Efek samping yang paling tinggi ialah peningkatan berat badan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola kenaikan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan pada tahun pertama di BPM Sunarti Desa Karanganyar Kecamatan Ambulu Kabupaten JemberTahun 2016. Desain penelitian analitic comparatif study, dengan populasi sebanyak 48 responden, sampling menggunakan probability sampling tipe simple random samplingdengan jumlah sampel sebanyak 46 responden. Instrumen penelitian menggunakan checklist, kemudian data dianalisa dengan uji T Paired T-Test. Hasil penelitian didapatkan nilai sig ρ = 0,322 > α 0,05, maka Ho diterima, yang artinya rata-rata kenaikan BB sebelum dan setelah suntik KB 3 bulan yang pertama adalah sama, setelah suntik KB 3 bulan yang kedua, ketiga dan keempat didapatkan nilai signifikansi ρ = 0,000 < α = 0,05, maka Ho ditolak, yang artinya rata-rata kenaikan BB sebelum dan setelah suntik KB 3 bulan yang kedua, ketiga, keempat adalah berbeda sehingga terjadi pola kenaikan BB pada akseptor KB suntik 3 bulan. Diharapkan tenaga kesehatan perlu menginformasikan efek samping tentang KB suntik 3 bulan kepada calon akseptor dan cara mengatasi kenaikan BB setelah menjadi akseptor KB suntik 3 bulan.

Co-Authors . Budiyanto, . 09.05.52.0002 Pipin Dwi Cahyaningrum 09.05.52.0003 Siti Aminah 09.05.52.0017 Dirgantoro Prakoso 09.05.52.0056 Puji Kristiana 09.05.52.0088 Mita Ardayani 09.05.52.0117 Riris Ratna Fatnanda 10.05.52.0008 Frida Indriyani 10.05.52.0077 Khoerul Zaefudin 10.05.52.0137 Kumaidi Rahmatullah 10.05.52.0171 Aprilia Susi Ayuwardani 11.05.52.0041 Anik Wahyuningsih, 11.05.52.0041 11.05.52.0060 Eva Janu Persiana, 11.05.52.0060 11.05.52.0127 Aisyah Mentari W, 11.05.52.0127 11.05.52.0190 Febry Anggara Wahyu S, 11.05.52.0190 11.05.52.0201 Sinta Pamungkas Siwi 12.05.52.0235 Stefani Gusti Anggra Murti Abdurrahman Abdurrahman Abimanyu Dipo Nusantara Adi Nugroho Age, Ratna Fauziyyah Agung Nugrahaning Widi, 11.05.52.0109 ah. Yusuf Alamsyah Taher, Alamsyah Alfiyah, Silma Darojatun Alifatuz Zahro, Alifatuz Amsal Amri Anni Syafa’ati, 13.05.52.0050 Annisa, Fanny Siti Arif Satria Arimah Arimah Aris Santjaka Bambang Gonggo Murcitro, Bambang Gonggo Bambang Purwono Banasita Pulungga Siwi, 12.05.52.0238 Budi Sustriawan Budiyanto Budiyanto Budyanra, Budyanra Claresta Dara Hermawan Putri, 13.05.52.0182 Dad R. J. Sembodo, Dad R. J. Dahlia Mamik Kholifah, 13.05.52.0003 Daud, Bukhari Desi Rusmiati, Desi Dinawati Trapsilasiwi Dinita Rahmalia, Dinita Dwi Wahyuni Ekawati Sri Wahyuni Elsa Saputriyanti Butarbutar, 12.05.52.0054 F. J. A. Oentoe Fahrul Agus Fanny Anggraeny, 12.05.52.0011 Faulina, Ria Fidiana Fidiana, Fidiana G, Asep Tata Gregorius Anggana L, Gregorius Anggana Gunawan Wijonarko Hasan Zayadi, Hasan Heliza Rahmania Hatta, Heliza Rahmania Hidayah Dwiyanti Hutabarat, Sumiaty Adelina Ichdar Domu IJSA, Indonesian Journal of Statistics and Its Applications Iqmal Tahir Jayanthi, Tri Tustian Joni Munarso, Joni Julia Elfika Lutfiana, 13.05.52.0181 Karseno, Karseno Kentris Indarti Khusnan Mustofa, Khusnan Laili, Fitria Jannatul Lilik Miftahul Khoiroh Lintang Aprilliani, Lintang Mashfufah, Erma Wahyu Masrukhi Masrukhi Muhammad Syaifudin Nengah Maharta Nesya Sefi Ayundari, 12.05.52.0102 Niken Rahma Putri, 15.05.52.0056 Ningsih, Rachamawati Noor Wachid, Noor Nopi Astuti, 12.05.52.0212 Nova Hariani Nuraini, Elysia Dwi Nuri Andarwulan Nuriana, Adha Pratiwi, Selvi Intan Prihananto, Vincentius Purwiyatno Hariyadi Ramadiani - Ratna Fauziyyah Age, 13.05.52.0154 Retno Setyawati Rudy Agung Nugroho, Rudy Agung Rully Anandia Suprapto, 14.05.52.0063 S Susanto S. Joni Munarso saimul Laili, saimul Sari, Yulinda Sasi Syifaurohmi, 12.05.52.0206 Seli Novitasari, 13.05.52.0220 Sigit Kirana Lintang Bhima Sinurat, Sinar Sitti Nurfaidah, Sitti Slamet Hariyadi Sri Wiyanti Suci Amalia Sugiatno Sugiatno Surya Rizky Oktovan, 13.05.52.0153 Susi Nurul Khalifah Syaiful Latif, 13.05.52.0013 Tandri Patih, Tandri Tien R. Muchtadi Tri Kustono Adi Triyono Lukmantoro Tulus Tulus Tuntas Dhanardhono Tutu April Ariani, Tutu April Ubaidillah, Zaqqi V. Prihananto Vicentius Prihananto Wahyu, Avina Cahyaning Widati Fatmaningrum Winata, Anggun Yahya, M.Si, Martunis Yeye Susilowati Yudhi Harini Bertham, Yudhi Harini Zulfadli A. Aziz, Zulfadli A.