Norma Afiati
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 23 Documents
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PUPUK KADAR AMONIAK TINGGI DENGAN PROSES GABUNGAN MICROALGAE DAN NITRIFIKASI-DENITRIFIKASI AUTOTROFIK Sumantri, Indro; Sumarno, .; Afiati, Norma
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses biologis konvensional untuk penghilangan urea dan amonium pada air limbah pabrik urea menggunakan proses algae mikro atau proses nitrifikasi-denitrifikasi heterotrofik.  Proses yang menggunakan berbagai mikro algae mempunyai keunggulan input hara hanya senyawa P dan mampu menghilangkan urea secara total tetapi tidak mampu menghilangkan kandungan amoniumnya.  Proses nitrifikasi-denitrifikasi heterotrofik  membutuhkan input karbon organik yang tinggi pada proses denitrifikasinya sehingga biaya pengolahan menjadi tinggi. Tujuan penelitian dengan skala bangku ini untuk mengevaluasi kemampuan sistem gabungan proses algae mikro dan nitrifikasi-denitrifikasi autotrofik.  Algae mikro yang digunakan merupakan spesies algae yang tahan terhadap konsentrasi amonium tinggi dan mampu menghilangkan amonium selain urea.  Untuk proses nitrifikasi-denitrifikasi  menggunakan lumpur nitrifying yang bersifat autotrofik sebagai biokatalis.   Penyediaan lumpur nitrifying secara teknis sangat mudah.  Lumpur nitrifying berasal dari lumpur aktif yang diperoleh dari unit pengolahan limbah industri partikel board yang telah diaklitimasi pada kondisi konsentrasi amonium tinggi dan autotrofik. Keunggulan masing-masing proses tersebut bila digabung akan menghasilkan proses yang lebih efisien dan murah. Penelitian ini dilakukan dengan kondisi sebagai berikut : kadar SVI mikro algae 25 mL/L, kadar SVI lumpur 100 mL/L, laju aerasi yang digunakan 5 L/menit, waktu tinggal limbah 1 hari, rasio Ndan P : 20 : 1. Sedangkan sebagai variabel yang digunakan adalah beban amoniak antara 1000 – 3000 mg/L. Penurunan kadar amoniak yang diukur dilakukan pada akhir pengolahan yaitu setelah  bak lumpur. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa prosentase penurunan kadar amoniak bisa mencapai 67 %. Kata kunci : proses mikroalga, proses nitrifikasi-denitrifikasi autotrofik, pengayaan dan breeding lumpur nitrifikasi  
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Pendegradasi Koprostanol dari Lingkungan Sungai, Muara, dan Perairan Pantai Banjir Kanal Timur Semarang pada Monsun Timur Munir, Misbakul; Afiati, Norma; Radjasa, Ocky Karna; Sabdono, Agus; Bachtiar, Tonny
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.087 KB)

Abstract

Aktifitas manusia yang terus meningkat di wilayah pesisir, telah menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan lingkungan yang berasal dari berbagai macam sumber pencemaran, antara lain limbah industri, pertanian, transportasi, dan limbah domestik. Salah satu sumber pencemar yang cukup dominan di lingkungan perairan pantai adalah pencemaran akibat limbah domestik. Selama ini yang dipakai untuk mengetahui pencemaran lingkungan oleh limbah domestik adalah menggunakan indikator biologi yaitu bakteri coliform. Namunpenggunaan bakteri coliform sebagai indikator pencemaran limbah domestik mempunyai permasalahan antara lain tidak terdeteksinya bakteri coliform tersebut pada perairan pantai, sementara diduga kuat bahwa perairan tersebut tercemar oleh limbah domestik termasuk feces. Oleh karena itu indikator alternatif sangat diperlukan. Salah satu indikator alternatif pencemaran limbah domestik adalah koprostanol, yang mempunyai sifat cukup konservatif, dapat dikuntitatifkan dan dapat dihubungkan dengan sumber pencemar yang spesifik. Namun perlu diingat bahwa di alam, koprostanol mengalami proses degradasi oleh bakteri, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai isolasi dan identifikasi bakteri pendegradasi koprostanol pada lingkungan sungai, muara, dan perairan pantai Banjir Kanal Timur Semarang pada monsun timur. Penelitian dilakukan pada bulan Juli s/d Agustus 2003 pada lingkungan sungai, muara, dan perairan pantai Banjir Kanal TimurSemarang. Isolasi bakteri dari sampel air dan sedimen dilakukan di Laboratorium Mikrobiogenetika, FMIPA Jurusan Biologi UNDIP Semarang dan identifikasi bakteri pendegradasi koprostanol terseleksi dilakukan diLaboratorium Hama dan Penyakit Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Hasil penelitian diperoleh bahwa bakteri pendegradasi koprostanol yang berasal dari lokasi Banjir Kanal TimurSemarang pada berbagai variasi lingkungan dan habitat diperoleh 69 isolat (83,13%) dari 83 isolat yang diuji. Sedangkan hasil identifikasi terhadap 6 isolat terbaik diperoleh 3 (tiga) genus bakteri mampumendegradasi koprostanol, yaitu Achromobacter, Bacillus, dan Branhamella. Dari 3 genus bakteri pendegradasi koprostanol yang didapatkan, ada 2 (dua) genus yang selama ini belum dilaporkan, yaitu genus Achromobacter, dan Branhamella.Kata kunci : Koprostanol, Limbah Domestik, Indikator Pencemar, Isolasi, Identifikasi, BakteriIncreasing human activities in coastal areas have caused an increase of environmental pressures that come from various sources such as industrial disposal, agriculture, transportation, and domestic wastes. One of dominant sources in coastal waters is contamination by domestic wastes. So far to determine environmental contamination by domestic waste is by using biological indicator, coliform bacteria. However the use ofcoliform bacteria have problems for example, they cannot be detected in coastal waters contaminated by domestic waste including faeces. Therefore, an indicator alternative is urgently needed. Alternative indicatorof domestic waste contamination is coprostanol, which is conservative, easy to quantity and related to specific pollutant source. It is important to note coprostanol is naturally degraded by indigenous bacteria.Therefore it is necessary to conduct a study on isolation and identification of coprostanol-degrading bacteria in river, estuarine, and coastal environments of Banjir Kanal Timur Semarang during dry season. The research had been carried out from July to August 2003 at environmental of river, estuarine, and coastal of Banjir Kanal Timur Semarang. Isolation of bacteria from water and sediment samples were conducted atMicrobiogenetics Laboratory, Faculty of Mathematics and Natural Sciences Diponegoro University, meanwhile identificaton of coprostanol-degrading bacteria selected was conducted by at Pest and Diseases Laboratory,Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. The result showed that coprostanol-degrading bacteria obtained from Banjir Kanal Timur Semarang at various environments and habitat were 69 bacterial isolates (83,13%) from 83 isolat tested. Identification revealed that (three) genus were found to degrade coprostanol, namely Achromobacter, Bacillus, and Branhamella. From 3 genus of coprostanol-degrading bacteria identified, 2 of them : Achromobacter, and Branhamella have not been reported so far.Key words : Coprostanol, Domestic Waste, Pollution Indicator, Isolation, Identification, Bacteria
GONAD MATURATION OF TWO INTERTIDAL BLOOD CLAMS Anadara granosa (L.) AND Anadara antiquata (L.) (BIVALVIA: ARCIDAE) IN CENTRAL JAVA Afiati, Norma
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 10, No 2 (2007): Volume 10, Number 2, Year 2007
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The reproductive cycles of male and female Anadara granosa and Anadara antiquata which have been studied and compared by histological techniques showed great anatomical similarity. Gametogenesis is associated with a system of follicle cells which break down as the gametes approach maturity. The arrangement of follicle cells is characteristics of the sex. In the female, gametogonia are peripheral to the follicle cells, whilst in the male they are interstitial. The process of spermatogenesis parallel the classical vertebrate pattern, i.e. successive layers of spermatogenic cells (spermatogonia, primary and secondary spermatocytes, spermatids, and spermatozoa) occurring more or less regularly in succession toward the centre of the follicle. The diameter of the maximum size oocytes is 75mm for A. granosa and 65mm for A. antiquata. Spawning in both A. granosa and A. antiquata is progressing gradually throughout the year as indicated by the availability of various stages of oogonia and spermatogonia; for which the highest number of oogonia were those of 25-40mm diameter. The histological study indicated that both species are iteroparous with planktotrophic type of development, yet performing a short period of pelagic life (ca 1 month).
STUDI MORFOMETRI DAN FAKTOR KONDISI SOTONG (Sepiella inermis: Orbigny, 1848) YANG DIDARATKAN DI PPI TAMBAKLOROK, SEMARANG Rochman, Nur; Afiati, Norma; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.786 KB)

Abstract

S. inermis merupakan spesies kompleks dan umumnya memiliki ukuran yang kecil dengan sirip yang sempit. S. inermis dapat ditemukan pada perairan dengan kisaran kedalaman 10-20 meter. Sifat pertumbuhan penting untuk dipelajari baik melalui studi panjang berat, faktor kondisi, dan morfometri karena dapat digunakan untuk upaya pengelolaan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dimana pelaksanaannya melalui teknik survei dan pengambilan sampel menggunakan metode systematic random sampling. Data yang digunakan adalah data panjang mantel (mm) dan berat (gram) dari S. inermis serta pengukuran beberapa variabel morfometri (mm). Dari hasil penelitian hubungan panjang berat S. inermis mengikuti persamaan W = 0,00129 L2,4978. Hal tersebut menunjukkan bahwa sifat pertumbuhan dari S. inermis adalah allometrik negatif. Itu berarti bentuk tubuhnya kurus dan pertambahan panjangnya lebih cepat dari pertambahan berat. Sementara itu berdasarkan hasil pengukuran morfometri menunjukkan variasi sifat pertumbuhan antara variabel-variabel yang diperbandingkan. Lengan memiliki kecepatan tumbuh yang lebih cepat dibandingkan dengan mata, kepala, dan tentakel. Hal itu karena peran lengan yang sangat penting dalam proses kehidupannya untuk menangkap dan menaklukkan buruannya.
HUBUNGAN NISBAH C/N DENGAN JUMLAH TOTAL BAKTERI PADA SEDIMEN TAMBAK DI AREAL BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR PAYAU, JEPARA Vrananta, Surya Dwi; Afiati, Norma; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.743 KB)

Abstract

Aktivitas pertambakan mengalami penurunan kualitas air tambak akibat dari masukan bahan organik terutama sisa pakan yang tidak dimakan oleh organisme kultivan, serta kotoran yang dikeluarkan oleh kultivan budidaya, sehingga dapat mempengaruhi produktifitas tambak yaitu proses dekomposisi. Keberlangsungan proses dekomposisi ditandai dengan nisbah C/N, dimana nisbah C/N yang tinggi menunjukkan kecilnya kandungan N (N-Organik dan N-Amoniak) dan sebaliknya nisbah C/N yang rendah menunjukkan proses dekomposisi bakteri berjalan cepat menghasilkan N besar. Pada sedimen tambak terjadi banyak proses, salah satunya adalah bakteri sedimen yang mempunyai kemampuan mengikat nitrogen dari udara dan mengubah amonium menjadi nitrat. Bakteri sedimen mempunyai fungsi untuk mengfiksasi nitrogen dalam keadaan anaerob dan mengikat nitrogen dalam keadaan aerob. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara nisbah C/N dengan jumlah bakteri sedimen. Adapun manfaat yang diperoleh memberikan gambaran tentang tingkat dekomposisi berdasarkan nisbah C/N dengan jumlah bakteri sedimen, sehingga dapat diketahui cara budidaya perairan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini dilaksakan pada bulan Agustus-Oktober 2010 di BBPBAP Jepara. Penelitian ini menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengambilan sampel dan pengukuran parameter kualitas tanah dan air dilakukan di tiga stasiun yaitu stasiun F1, stasiun F2, stasiun F3, yang masing stasiun terdiri satu titik sampling di plataran dekat pintu outlet. Sampling dilakukan empat kali ulangan. Pengujian nisbah C/N dan penghitungan jumlah bakteri sedimen dilakukan di Laboratorium BBPBAP Jepara. Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa nisbah C/N pada stasiun F1 18,87 - 38,93%, stasiun F2 22,25 – 41,59 %, stasiun F3 24,31 – 61,90 %. Sedangkan jumlah bakteri sedimen pada stasiun F1 10x105 – 42x105 cfu, stasiun F2 4x105 – 34x105 cfu, dan stasiun F3 8,1x105 – 29x105 cfu. Uji korelasi antara nisbah C/N dengan jumlah bakteri sedimen menunjukkan hubungan yang cukup erat, dimana 32,6% bakteri mempengaruhi nisbah C/N sedangkan sisanya 67,4% dipengaruhi oleh faktor lain.
Analisis Morfometri dan Faktor Kondisi pada Cumi-Cumi Photololigo chinensis dan Photololigo duvaucelii yang Didaratkan di Beberapa TPI Pantai Utara Jawa Tengah Nuzapril, Mulkan; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.705 KB)

Abstract

Salah satu hasil laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi setelah ikan dan udang adalah cumi-cumi. Cumi-cumi merupakan salah satu jenis sumberdaya perikanan yang berperan nyata dalam sektor perikanan laut dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi melalui kegiatan penangkapan sudah saatnya disertai dengan upaya pengaturan penangkapan. Upaya ini dapat memperbaiki kerusakan sumberdaya cumi-cumi, karena stok dapat diperkaya untuk memperbaiki dan mempertahankan kelestarian sumberdaya cumi-cumi. Studi mengenai morfometri dari cumi-cumi sangat diperlukan guna selektivitas ukuran bagi kegiatan penangkapan. Selektivitas alat tangkap sangat penting dilakukan untuk menghindari terjadinya overfishing. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik morfometri dan faktor kondisi dari cumi-cumi P.chinensis dan P. duvaucelii yang didaratkan di TPI sekitar Pantai Utara Jawa Tengah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yang dalam pelaksanaannya dilakukan melalui teknik survei yaitu melakukan kegiatan pengamatan secara langsung dilapangan dengan bertanya terhadap nelayan sebagai data primer dan pengambilan sampel menggunakan metode random sampling yaitu bahwa semua anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dimasukkan sebagai anggota sampel. Hasil penelitian ini adalah mengidentifikasi 2 jenis cumi-cumi yaitu P.chinensis dan P. duvaucelii. Ukuran yang mendominasi untuk P. duvaucelii  yaitu berkisar antara 25 – 40 mm dan P. chinensis  yaitu antara ukuran 55 – 70 mm. Hubungan panjang berat P.chinensis dan P. duvaucelii mempunyai persamaan W = 0,0024 L2,055dan W = 0,00129 L2,213. Karakteristik alometri pada cumi-cumi  P.chinensis dan P.duvaucelii mempunyai sifat pertumbuhan alometrik positif, alometrik negatif dan isometrik. Nilai faktor kondisi dari P.chinensis dan P. duvaucelii dengan rumus K= W/ aLb masing- masing adalah 1,007 dan 1,082. Hal tersebut menunjukkan bahwa tubuh dari kedua cumi-cumi yaitu kurang pipih. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa pertumbuhan panjang mantel kedua spesies tumbuh lebih cepat dibanding organ tubuh lain dan pertumbuhan panjang mata P. chinensis lebih cepat dibanding tinggi mata, sedangkan panjang mata   P. duvaucelii tumbuh seimbang terhadap tinggi mata.
KAJIAN KANDUNGAN LOGAM BERAT BESI (Fe) DAN SENG (Zn) PADA JARINGAN LUNAK KERANG DARAH (Anadara granosa (L.)) DI PERAIRAN TANJUNG MAS, SEMARANG DAN PERAIRAN WEDUNG, DEMAK Taurusiana, Savitri; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.181 KB)

Abstract

Sebagian besar masyarakat Tanjung Mas, Semarang dan Wedung, Demak menjadikan kerang, terutama kerang darah (Anadara granosa (L.)) sebagai salah satu produk perikanan yang bernilai ekonomis tinggi. Peningkatan jumlah industri akan selalu diikuti oleh pertambahan jumlah limbah. Limbah yang dihasilkan diantaranya adalah limbah logam berat Fe dan Zn. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang kandungan logam berat Fe dan Zn pada kerang darah (A. granosa (L.)) di perairan Tanjung Mas, Semarang dan perairan Wedung, Demak guna memberikan informasi tentang kandungan logam Fe dan Zn di dalam  kerang darah (A. granosa (L.)) yang umumnya dikonsumsi oleh masyarakat setempat.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kandungan kadar logam berat Fe dan Zn pada Kerang Darah (A. granosa (L.)) di Perairan Tanjung Mas, Semarang dan Perairan Wedung, Demak. Selain itu, juga mengetahui Maximum Tolerable Intake (MTI) dari logam berat Fe dan Zn yang mengacu pada ketetapan JEFCA. Materi yang digunakan adalah jaringan lunak kerang darah (A. granosa (L.)) yang berasal dari perairan Tanjung Mas, Semarang dan perairan Wedung, Demak. Metode penelitian yang digunakan adalah cara pengambilan sampel secara purposive sampling dan analisis laboratorium dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berat  besi (Fe) dalam A. granosa (L.) di perairan Tanjung Mas dan perairan Wedung rata-rata antara 563,32 – 1.305,05 mg/kg berat basah. Sedangkan kandungan logam berat seng (Zn) dalam A. granosa (L.) di perairan Tanjung Mas dan perairan Wedung rata-rata berkisar antara 68,13 – 94,22 mg/kg berat basah. Maximum Tolerable Intake (MTI) ) dengan asumsi untuk orang dengan berat badan 60 kg menurut ketetapan JEFCA. Logam Fe sebesar 0,037 kg/hari untuk perairan Tanjung Mas dan perairan Wedung sebesar 0,043 kg/hari. Logam Zn sebesar 0,705 kg/hari untuk perairan Tanjung Mas dan 0,637 kg/hari untuk perairan Wedung.
KAJIAN KANDUNGAN NATRIUM (Na) DAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) PADA JARINGAN LUNAK KERANG DARAH (Anadara granosa (L.)) DARI PERAIRAN TANJUNG EMAS SEMARANG DAN PERAIRAN WEDUNG DEMAK Barik, Fahmy; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.823 KB)

Abstract

Kerang darah (A. granosa) merupakan komoditas laut yang dihasilkan dari perairan Tanjung Emas Semarang dan Wedung Demak. Melihat dari keadaan fisik kedua lokasi tersebut, diperkirakan perairan Tanjung Emas relatif lebih banyak menerima berbagai cemaran industri maupun limbah kota daripada di perairan Wedung Demak. Oleh karena itu, pada penelitian ini ingin diketahui kandungan  natrium (Na)  dan  logam  berat  timbal (Pb)  jaringan lunak   kerang  darah  dari kedua perairan tersebut ditinjau dari kelayakan baku mutu standar aman konsumsi oleh WHO tahun 2004 dan BPOM No. HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009 untuk penetapan batas-maksimal-aman-konsumsi-mingguan kerang A. granosa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2012. Lokasi sampling ditetapkan secara purposive, kandungan natrium dan timbal dianalisis menggunakan AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometry), sedangkan penetapan batas-maksimal-aman-konsumsi-mingguan dihitung menggunakan rumus MTI (Maximum Tolerable Intake). Kandungan natrium pada daging kerang darah dari Tanjung Emas Semarang adalah 36,12-47,32 gr/kg berat basah. Bila kerang dari perairan Wedung Demak adalah berkisar 41,32-43,03 gr/kg berat basah. Kandungan timbal pada daging kerang darah dari Tanjung Emas Semarang adalah 0,268-0,401 gr/kg berat basah. Bila kerang dari perairan Wedung Demak adalah berkisar  0,067-0,183 gr/kg berat basah. Untuk orang dengan rerata berat badan 60 kg, batas aman konsumsi natrium dan timbal dari kerang darah yang dianjurkan bila dari Tanjung Emas Semarang adalah hanya 3,6 gram berat basah/minggu/orang. Namun, bila kerang berasal dari Wedung Demak angka maksimum tersebut dapat sedikit lebih tinggi yaitu 7,2 gram berat basah/minggu/orang.
KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN CUMI KUPING (Euprymna morsei, Verrill) YANG DIDARATKAN DI PPI TAMBAKLOROK, SEMARANG Wahyuningrum, Martha; Afiati, Norma; Harwanto, Dicky
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.362 KB)

Abstract

 Euprymna morsei masuk dalam famili sepiolidae. Jenis ini tidak memiliki cangkang dalam atau yang biasa disebut dengan gladius seperti pada jenis cumi-cumi lain pada umumnya. E. morsei hidup di daerah benthopelagic, biasanya banyak ditemukan di perairan pantai yang memiliki dasar berpasir. Spesies ini banyak dijumpai di perairan Indonesia, Malaysia, Filipina dan tersebar di seluruh Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfometri E. morsei, hubungan panjang berat dan pertumbuhan allometrik pada E. morsei. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 – Februari 2013 di PPI Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah yang dilanjutkan dengan identifikasi dan pengukuran di Laboratorium Hidrobiologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistematik random sampling, yaitu penarikan sampel secara sistematik (pengambilan sampel pada tempat dan selang waktu yang sama) pada suatu populasi yang homogen. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah Panjang Mantel (PM), Panjang Mata (PM), Tinggi Mata (TMt), Panjang Kepala (P), Panjang Lengan (PL), Panjang Tentakel (PT), Panjang Sirip (PS), Lebar Sirip (LS), Lebar Badan (LB), dan Berat Basah (Bb). Nilai hubungan panjang berat E. morsei mempunyai persamaan W = 0,00285L2,416 dengan nilai slope (b) adalah sebesar 2,416. Nilai slope (b) tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan E. morsei bersifat allometrik negatif. Nilai faktor kondisi pada penelitian ini adalah sebesar 1,019, kisaran faktor kondisi tersebut menunjukkan bahwa jenis ini memiliki bentuk tubuh yang agak gemuk.
The Potential of Tiger Prawn Fry from Delta Mahakam, East Kalimantan Indonesia Suroso, Bob; Hutabarat, Johannes; Afiati, Norma
International Journal of Science and Engineering Vol 6, No 1 (2014)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12777/ijse.6.1.43-46

Abstract

Most of the life cycle of tiger prawns were estuarine (Delta Mahakam). In the juvenile stage life in estuarine and the adult stage in marine. The research objective is to assess the potential of the tiger prawn fry catches in the Mahakam Delta, as a source of tiger prawn fry in the Mahakam Delta area farms. Research using interviews and descriptive analysis through monitoring with fishermen. The results showed that the fry tiger prawn from the Delta Mahakam there on the beaches or the edge of the sea where the water is shallow and slightly brackish, as in the Delta Mahakam. Fry can be captured by using rumpon. Tiger prawns fry from Delta Mahakam durability is relatively higher than fry from the hatchery. However, the number and continuity of fry very limited because it depends on the season. Abundance of fry is determined by the number of larvae produced in the wild and their survival is greatly influenced by the availability of food. Doi: 10.12777/ijse.6.1.43-46 [How to cite this article: Suroso, B., Hutabarat, J., and Afiati, N. (2013). The Potential of Tiger Prawn Fry from Delta Mahakam, East Kalimantan Indonesia, International Journal of Science and Engineering, 6(1),43-46. Doi: 10.12777/ijse.6.1.43-46