Articles

Aspek Reproduksi dan Daerah Pemijahan Udang Jari (Metapenaeus elegans De Man, 1907) di Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.5 KB)

Abstract

Penelitian aspek reproduksi dan daerah pemijahan udang jari (Metapenaeus elegans) di perairan SegaraAnakan Cilacap, dilakukan sejak Maret sampai Desember 2004. Penelitian bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek reproduksi dan pengkajian musim dan daerah pemijahan udang M. elegans di perairan Segara Anakan. Metode peneltian yang digunakan survei post facto. Daerah penelitian dibedakan menjadi 3 wilayah perairan. Penentuan zona berdasarkan dua aspek, yaitu aspek ekologis dan aspek daerah penangkapan (fishing ground) alat tangkap apong. Pada setiap zona ditentukan tiga lokasi sampling. Sampel udang pada setiap stasiun diambil 30 ekor udang betina terbesar, sehingga terkumpul 270 ekor udang sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. elegans memijah sepanjang tahun, dengan dua puncak musim pemijahanyaitu bulan April/Mei dan November/Desember. Daerah pemijahan udang jari (M. elegans) adalah perairan laguna bagian tengah. Meskipun pada lokasi pemijahan terjadi pendangkalan akibat laju sedimentasi yang tinggi dan menjadikan perairan keruh serta kondisi salinitas yang berfluktuasi tinggi, namun pemijahan tetap terjadi di perairan tersebut.Kata kunci : aspek reproduksi, daerah pemijahan, udang jari, laguna Segara Anakan.Study on the reproduction and spawning ground of Metapenaeus elegans in Segara Anakan Lagoon Cilacap  was conducted from March to December 2004. This study was aimed at investigating some reproductiveaspects and to discover the spawning ground M. elegans. The research was used survey post facto method. The researh area was divided into three waters zone. The zone was determinated based on two aspect, i.e. ecological aspect and fishing ground aspect. Three sampling station determined of each zone. The shrimp  sample was taken from three unit apong (set net) cathces. 30 biggest male shrimp were took off from in each, so 270 male shrimp collected. The result showed that M. elegans spawned along the year with two peaks of spawning season, i.e. April/May and November/December. Spawning ground of fine shrimp (M. elegans) was found in lagoon waters, despite high turbidity, high sedimentation rate and high salinityfluctuation in the water.Key words: reproduction aspect, spawning ground, M. elegans, Segara Anakan Lagoon.

Kajian Aspek Reproduksi Ikan Lais Ompok hypophthalmus di Sungai Kampar, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau

Jurnal Natur Indonesia Vol 12, No 02 (2010)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.146 KB)

Abstract

Lais fish of Ompok hypophthalmus is one of high economic fish in Kampar river. It should be protected fromdecreasing of it population estimated due to decreasing of habitat quality and increasing of exploitation. Theobjectives of the research are to study reproduction biology of lais fish as the basic data for conservation. Thisresearch was conducted from January 2007 to January 2008. The results of O. hypophthalmus reproductionaspect show that the smallest female of maturity is 22,9 cm and male is 22,6 cm; the spawning season onSeptember to November; O. hypophthalmus is more appropriate spawning location to oxbow lake that closerelation with tributary; the spawning pattern indicated total spawner fish; the fecundity ranges from 3111 to 11164eggs and the egg diameter ranges 0,41-1,13 mm.

Genetic Diversity and Phylogenetic Relationship of Kryptoterus limpok and Kryptopterus apogon from Kampar and Indragiri River Based on Cytochrome b Gene

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.833 KB)

Abstract

The utility of cytochrome b gene as a molecular marker to obtain genetic diversity and phylogenetic relationship among Kryptopterus spp. consist of Kryptopterus limpok and Kryptopterus apogon from Riau Province has been studied. The universal primers of (F) L14841 and (R) H15149 were used to amplify the cytochrome b gene. The results of multiple allignment were 159 nt (coding 53 amino acids). Kryptopterus limpok from Kampar and Indragiri River form a phylogeny cluster at 80% bootstrap value. Kryptopterus apogon from Kampar and Indragiri River form a phylogeny cluster at 99% bootstrap value.Keywords : cytochrome b, Kryptopterus limpok, Kryptoperus apogon.

KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.031 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi telur menurut tingkat perkembangannya, rataan jumlah telur per polip dan proporsi polip yang reproduktif pada berbagai bagian cabang karang A. nobilis. Sebanyak 10 koloni A. nobilis yang berdiameter > 15 cm diambil contohnya secara acak di bagian barat laut perairan terumbu karang Pulau Barrang Lompo, Kepulauan Spermonde, Makassar pada tanggal 27 Januari 2002 (satu hari sebelum bulan purnama). Polip dari tiga bagian cabang (apikal, tengah dan basal) diperiksa jumlah telur yang dikandungnya secara histologis. Terdapat interaksi antara pertumbuhan dan reproduksi terhadap alokasi sumber daya pada berbagai bagian koloni karang. Alokasi sumber daya terhadap fungsi biologi tertentu akan mengorbankan fungsi biologi lainnya. Pertumbuhan karang yang terlokalisasi pada bagian tertentu suatu koloni karang berhubungan dengan rendahnya aktivitas reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p < 0.001) distribusi telur menurut tingkat perkembangannya pada berbagai bagian cabang karang. Bagian tengah cabang memiliki proporsi polip karang yang berkaitan dengan lokasi energi untuk pertumbuhan yang lebih reproduktif (100%) dengan kandungan rataan jumlah telur yang lebih tinggi (5.22 butir/potongan polip) dibanding bagian apikal dan basal cabang.Kata kunci: Distribusi, telur, cabang karang, Acropora nobilis

PEMATANGAN GONAD IKAN SIDAT BETINA (Anguilla bicolor bicolor) MELALUI INDUKSI EKSTRAK HIPOFISIS

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.759 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh pemberian ekstrak hipofisis ikan mas terhadap pematangan gonad ikan sidat tropis betina (Anguilla bicolor bicolor). Ikan sidat dengan bobot 600 gram telah digunakan sebagai materi biologis. Ekstrak hipofisis ikan mas dengan tingkat 0, ¼ dan ½ dosis dan tiga tipe frekuensi penyuntikan yakni setiap 1, 2 dan 3 minggu dijadikan sebagai perlakuan. Parameter yang diamati adalah Gonado somatic index (GSI), Hepatosomatic index (HSI), diameter folikel, kadar lemak dalam folikel, serta kadar glikokonjugat dalam folikel dan hati. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penyuntikan ekstrak hipofisis ikan mas dengan ½ dosis yang dilakukan setiap minggu selama 10 minggu memberikan pengaruh yang terbaik.Kata kunci: gonad, sidat, Anguilla bicolor bicolor.

EVALUASI PENEBARAN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DI WADUK DARMA, JAWA BARAT

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.705 KB)

Abstract

Evaluasi keberhasilan penebaran udang galah (Macrobrachium rosenbergii) di Waduk Darma yang memiliki luas genangan 400 ha telah dilaksanakan berdasarkan penebaran dari April 2002 sampai Maret 2003. Udang galah yang ditangkap dengan jaring lempar mencapai 57 - 624 ind/bulan atau sama dengan 1.3 - 35.0 kg/bulan. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan penarikan contoh acak berlapis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan di Waduk Darma baik fisika maupun kimia mendukung pertumbuhan udang galah. Pada kondisi tersebut laju pertumbuhan udang galah cukup tinggi dengan koefisien pertumbuhan K antara 0.88 - 1.59 dan L∞ sama dengan 36.2 cm untuk jantan, K antara 0.87 - 1.55 dan L∞ sama dengan 25.9 cm untuk betina. Kondisi makanan yang tersedia cukup untuk pertumbuhan. Interaksi dengan komunitas ikan lainnya relatif rendah. Keberhasilan penebaran mencapai 10.5% dengan laju eksploitasi antara 0.06 sampai 0.80.Kata kunci: Macrobrachium rosenbergii, penebaran, pertumbuhan, penangkapan, waduk.

KEBIASAAN MAKAN TIRAM MUTIARA Pintada maxima DI PERAIRAN TELUK SEKOTONG, LOMBOK

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.963 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan tiram mutiara Pintada maxima. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2003 sampai Februari 2004 di perairan Teluk Sekotong Propinsi Lombok. Pengambilan contoh fitoplankton di perairan dilakukan setiap 3 jam sekali selama 24 jam antara pukul 06.00 - 03.00 WIB. Pada setiap pemgamatan diambil sebanyak 8 ekor tiram mutiara untuk sekali pengamatan. Untukmemperoleh gambaran kebiasaan makan tiram mutiara dilakukan analisis indeks pilihan. Pintada maxima memakan semua fitoplankton yang ada di lingkungannya. Tiram mutiara tidak melakukan seleksi terhadap jenis makanannya yang terdapat di alam, tetapi menyeleksi makanannya berdasarkan ukuran makanannya. Tiram mutiara menyukai makanan yang memiliki ukuran lebih kecil. Persentase jenis-jenis fitoplanktonyang disukai tiram mutiara berturut-turut adalah kelas Bacillariophyceae, Dinophyceae, Ciliata, Chrisophyta, Cyanophyceae, Chlorophyceae dan moluska.Kata kunci: kebiasaan makan, Pintada maxima, Teluk Sekotong

Substitution time of natural food by artificial diet on survival rate and growth of pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) postlarvae during rearing in low salinity media

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 10, No 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.776 KB)

Abstract

This research was conducted to determine natural food substitution time by artificial diet   after salinity acclimatization from 20 ppt until 2 ppt, which can increase survival and growth of (Litopenaeus vannamei) postlarvae during rearing period. Design experiment was completely randomized design with five treatments and three replications of natural food Chironomus sp.  (60% of crude protein) substitution time by artificial diet (40% of crude protein) at day: 1 (A), 7 (B), 14 (C), 21 (D) and full natural food without artificial diet (E) during 28 days rearing period. White shrimp postlarvae and rearing media in this experiment based from best result of earlier research that is PL25 from acclimatization in media 2 ppt with addition of potassium 25 ppm to freshwater media.  The densities of PL25 white shrimp were 20 PLs/50 liters of 2 ppt media. The result of this experiment showed that the use of artificial diet as soon as after salinity acclimatization (PL25) gave best performance production compared to which only that was given natural food Chironomus sp. during experiment or with treatment by artificial diet substitution at day-7, day-14 or day-21, shown with the highest value of food consumption level, protein retention, energy retention, daily growth rate and food efficiency. Survival rate of PL54 was above 80% and not significant different between treatment. That is supported by chemical-physical value of water quality still in range appropriate to survival rate of white shrimp post larvae during a rearing period. The result of this experiment indicated that requirement nutrient of PL25 in low salinity did not fulfilled if only rely on natural food, so that require artificial diet with nutrition content to support growth and survival rate of white shrimp post larvae more maximal. Key words: salinity, natural food, artificial diet, Pacific white shrimp   ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan yang tepat selama masa pemeliharaan postlarva udang vaname di media bersalinitas rendah setelah melalui masa aklimatisasi penurunan salinitas dari 20 ppt hingga 2 ppt, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Rancangan percobaan berupa rancangan acak lengkap dengan perlakuan yang diterapkan berupa waktu penggantian pakan alami Chironomus sp. (kadar protein 62%) oleh pakan buatan (kadar protein 40%) pada hari ke-1 (A), ke-7 (B), ke-14 (C), ke-21 (D) dan pakan alami (E) selama masa pemeliharaan. Postlarva udang vaname dan media pemeliharaan yang dipergunakan selama percobaan mengacu pada hasil terbaik yang didapatkan dari penelitian pendahuluan yaitu berupa PL25 hasil aklimatisasi di media bersalinitas 2 ppt  dengan penambahan kalium 25 ppm ke media air tawar pengencer. Padat tebar sebanyak 20 ekor/50 liter/wadah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pakan buatan yang diberikan segera setelah masa aklimatisasi salinitas (pada awal pemeliharaan PL25) memberikan performa produksi budidaya terbaik bila dibandingkan dengan yang hanya diberi pakan alami selama masa pemeliharaan maupun waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan pada hari ke-7, ke-14 dan hari ke-21 yang ditunjukkan dengan tingkat konsumsi pakan, retensi protein, retensi energi, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan yang tertinggi.  Kelangsungan hidup di akhir pemeliharaan (PL54)  di atas 80% dan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hal ini ditunjang oleh nilai fisika kimia air yang berada dalam kisaran yang layak selama masa pemeliharaan. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi pada stadia PL25 di media bersalinitas rendah tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan pakan alami sehingga perlu ditunjang dari pakan buatan dengankandungan nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang lebih maksimal. Kata kunci: salinitas, pakan alami, pakan buatan, udang vaname.

Pair replacement on the spawning success of broodstock Seahorse (Hippocampus barbouri)

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 10, No 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.033 KB)

Abstract

Seahorse, (Hippocampus barbouri) is one of marine living resources having high commercial values and has commonly been traded especially as live ornamental aquarium fish, raw material of traditional medicine and as souvenirs. This expriment was conducted to determine the succces of spawning rate by replacing the broodstock pair of seahorse. This study was done experimentally with treatment of replacement of broodstock pair after spawning under control condition. The experiment was designed to apply completely randomize design by using the following treatments: Treatment A, without replacement neither male nor female. Treatment B, spawned female broodstock  was being mated with her unpaired male broodstock.  Treatment C, a male broodstock that still brood was being mated with his unpaired female broodstock.  Treatment D, a spawned male broodstock that has released larva was being mated with his unpaired female broodstock.  Results showed that under control condition the replacement of broodstock pairs of seahorse had significantly influenced the spawning interval, number of eggs released and number of juveniles produced (P0,05).  It can be concluded that seahorse is not monogamous, either male or female after being spawned may accept other pair for the next spawning. Key words: pair replacement, broodstock, success spawning, Hippocampus barbouri   ABSTRAK Kuda laut, (Hippocampus barbouri) merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang memiliki nilai komersial dan telah banyak diperdagangkan terutama sebagai ikan hias, bahan baku obat tradisional dan juga sebagai suvenir. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji tingkat keberhasilan pemijahan dengan penggantian pasangan induk kuda laut pada wadah budidaya. Percobaan ini dilakukan secara ekperimental dengan perlakuan penggantian pasangan induk setelah pemijahan dalam wadah budidaya. Percobaan dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan sebagai berikut: Perlakuan  A, pemijahan   sepasang  induk kuda laut (tanpa pergantian). Perlakuan B, pemijahan induk betina yang telah memijah dengan induk jantan bukan pasangannya. Perlakuan C, pemijahan  induk  jantan  yang telah memijah (mengerami telur) dengan induk betina bukan pasangannya. Perlakuan D, pemijahan induk jantan yang telah melahirkan dengan induk betina bukan pasangannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggantian pasangan induk pada wadah budidaya sangat berpengaruh terhadap interval pemijahan, jumlah telur yang dikeluarkan dan jumlah juwana yang dihasilkan (P0,05). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kuda laut, tidak bersifat monogami, artinya baik jantan maupun betina setelah memijah dapat menerima pasangan lain untuk pemijahan berikutnya. Kata kunci: induk, keberhasilan pemijahan, pergantian pasangan, Hippocampus barbouri

Pemeliharaan Ikan Sidat dengan Sistem Air Bersirkulasi

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol 18, No 1 (2013): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.159 KB)

Abstract

Today, eel resource especially seeds in Indonesia has not been used for eel culture activities. To be able to optimally utilize the seeds that led to the production of eels for consumption needs adequate cultivation technology. This study aimed to obtain performance information of survival rate, growth rate, and feed conversion ratio to support mass production of eel consumption. The experiments were performed using aquarium of (0.8 x 0.4 x 0.4) m3 and concrete tank (1.7 x 1.7 x 1) m3 with circulating water. Eel used were elver (1.2-1.5 g) and fingerlings (15-17 g). Silk worms (Tubifex) and artificial feed in the pasta form were used as feed. The results showed that the elver reared in aquarium or concrete tank with water recirculation system showed high survival rate of 78-79% and 86-96%, respectively. The specific growth rate (SGR) was good (0.6-0.8%), but the feed conversion was still high (33-21) for the elver fed with silk worms and very good (0.6-0.7) for elver fed with artificial feed. The juvenile eel reared in a concrete tank showed SR up to 85-94%, the SGR ranged from 0.8 to 1.2%, and feed conversion from 0.61 to 0.69. It can be concluded that the rearing of seed eel can be done incontainer using water recirculation system with stocking density of 3 individuals/land 1.5 kg/m3 in preparing the seed to be ready tobe cultivated outdoors. Keywords: elver, feed conversion ratio, juvenile, specific growth rate, water recirculation system

Co-Authors , Suharsono . Sulistiono . Syafiuddin . Yonvitner, . ., Jimmi Abdul Rahman Singkam Agus Alim Hakim, Agus Alim Agus Oman Sudrajat Agus Salim Agus Suprayudi, Agus Ahlina, Hadra Fi Akhmad Firmansyah, Akhmad Alimuddin Alimuddin Am Azbas Taurusman Angelika, Iska Arif Wibowo Asbar Laga, Asbar Atminarso, Dwi Azam B. Zaidy Bahiyah, nFN Bakhris, Vera Dewiana Bambang Kiranadi Bambang Widigdo Batu, Djamar Tumpal Floranthus Lumban Benny Heltonika Chair Rani Charles PH Simanjuntak Daniel Djokosetiyanto Daniel R Monintja Daniel R Monintja, Daniel Dedi Jusadi Dedi Soedarma DEDI SOEDHARMA DEDY DURYADI DEDY DURYADI SOLIHIN Dedy Duryadi Solihin Dendi Hidayatullah, Dendi Desrita Desrita Didik Wahju Hendro Tjahjo Dietriech G Bengen Dietriech G Bengen, Dietriech Dinar Tri Soelistyowati Djadja S . Sjafei, Djadja Djamar T.F. Lumban Batu, Djamar T.F. Lumban Eddy Supriyono Efriyeldi, Efriyeldi Enang Harris Enang Harris Surawidjaja, Enang Harris Endah Purnamawati, Endah Epa Paujiah, Epa Etty Riani Fachrudin, Ahmad Farida Nur Rachmawati Fauziah, Rika Ferdinand Hukama Taqwa Harpasis S. Sanusi Haryono . Haryono Haryono Haryono, nFN Hayono, Hayono Hedianto, Dimas Angga Henni Syawal Herdiana, Lella Hukom, F. Damianus Ilham Zulfahmi, Ilham IMAN SUPRIATNA Ing Mokoginta Isdradjad Setyobudiandi Ismudi Muchsin Jack Mamangke, Jack Jusmaldi, . Jusmaldi, Jusmaldi Jusmaldi, nFN Kadarwan Soewardi Kardiyo Praptokardiyo Kartini, Nidya Kasful Anwar Koeswinarning Sigit Kukuh Nirmala Kurnia Faturrohman, Kurnia Kurniawati H Ekosafitri, Kurniawati Latifa Fekri Lenny S Syafei, Lenny Leuwol, Cathrine Ferlianova Lubis, Delismawati Lumban Batu, Djamar Tumpal Floranthus M F Rahardjo M F Rahardjo, M M Mukhlis Kamal, M Mukhlis M. Agus Setiadi M. F. Rahardjo, M. F. M. Zairin Junior M. Zairin Junior Mafatih Devi Safrina, Mafatih Devi Manan, Hardono Mas Tri Djoko Sunarno, Mas Tri Djoko Mennofatria Boer Menofatria Boer Mia Setiawati MOZES R. TOELIHERE Mozes R. Toelihere Mozes Toelihere Muchammad Sri Saeni, Muchammad Muhammad Jamal Muhammad Mukhlis Kamal, Muhammad Mukhlis Mulyadi . Mulyadi Mulyadi Mulyani, Yuli Wahyu Tri Murhum, Mufti Murniarti Brojo Mustakim, Moh Nasmi, Jannesa NASTITI KUSUMORINI Norce Mote, Norce Norman Razieb Azwar Nugroho, Thomas Nur Bambang Priyo Utomo Nurhidayat, nFN Nurlisa A Butet, Nurlisa A Nurlisa Alias Butet, Nurlisa Alias ODANG CARMAN Odilia Rovara Purnamawati, , Rahadjo, M F Rahardjo, MF Rahardjo, MF. Rahmadi Azis, Rahmadi Retno Cahya Mukti Riani H, Etty Riri Ezraneti Rita Rachmawati, Rita Robin, , Ronny Irawan Wahju Roza Elvyra Rudhy Gustiano Saddon Silalahi, Saddon SATA YOSHIDA SRIE RAHAYU Siti Nurul Aida, Siti Nurul Siti Sofiah Sjafei, Djadja S. Sjafei, Djadja Subardja Sjafei, Djadja Subardja Soelistyowati, Dinar Tri Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sudarto Sudarto Sukenda Sukenda Sulistiono . Sulistiono Sulistiono Sulistiono, nFN Suradi Suradi Suradi Wijaya Saputra Sutrisno Sukimin Syarif, Ahmad Fahrul Syarif, Ahmad Fahrul Tarigan, Nurbety Tatag Budiardi Tjahjo Winanto, Tjahjo TRI PRARTONO tri wahyuni Triheru Prihadi, Triheru Triramdani, Nurfitri Tyas, Nanik Mustikaning Utomo, Bambang Priyo Utomo, Nur Bambang Priyo Wahyudi, Setyo Wasmen Manalu Watanabe, Seiichi Wildan Nurussalam, Wildan Yandes, Zulfa Yani Hadiroseyani Yulfiperius, nFN Yulfiperius, Yulfiperius Yulia Sistina Yulintine, Yulintine Yuni Puji Hastuti Yunizar Ernawati Yusfiati, nFN Yusnarti Yus Zairin Junior