R. Affandi
Bogor Agricultural University, Department of Aquaculture

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Ovarian development of female mud crab, Scylla serrata supplemented with cholesterol and injected with serotonin

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.38 KB)

Abstract

Cholesterol is known to play an important role in nutrition of crustacean and function as a precursor for steroids synthesis, while neurohormone of serotonin could induce ovarian maturation in crustacean. Ovarian development of adult females Scylla serrata was induced by adding cholesterol in the diet and serotonin injection. This research was designed to study the effectiveness of cholesterol supplementation and serotonin injection in ovarian development. Broodstocks were stocked in nine experimental units in three fiber tanks. The fiber tank was equipped with sands substrate and flow through seawater system. The experimental crabs were assigned into a completely randomized design with a 3 x 3 factorial arrangement. The first factor was cholesterol supplementation in the diet with 3 levels (0, 0,5 and 1,0%). The second factor was serotonin injection with 3 levels (0, 5 and 10 μg/g BW). Samples of broodstock were taken every four days to evaluate the stages of ovarian maturity and parameters were used to evaluate the ovarian maturation stage are gonad index (GI) and oocyte diameter, concentration of estradiol 17β, yolk protein concentrations, and fecundity. Results showed that female crabs supplemented with 0,5% cholesterol and a combination of cholesterol 0,5% supplementation and injection serotonin with a dose of 10 μg/g BW had better reproduction development. It is concluded that ovarian development of Scylla serrata could be improved by cholesterol supplementation and serotonin injection. Key words: Cholesterol, serotonin, ovarian development, Scylla serrata   ABSTRAK Kolesterol diketahui merupakan nutrien spesifik yang berperan dalam sisntesis hormon steroid dan mengontrol reproduksi, sementara serotonin merupakan salah satu neurohormon yang dilaporkan dapat merangsang pematangan ovari dan pemijahan pada krustase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pemberian kolesterol yang optimal dalam pakan buatan, serta dosis penyuntikan serotonin yang efektif untuk mempercepat proses perkembangan dan pematangan ovarium induk kepiting bakau Scylla serrata. Pemeliharaan induk dilakukan dengan menggunakan tiga buah bak fiber. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan substrat pasir dan sistim air laut mengalir. Eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial, dengan 9 satuan percobaan. Faktor pertama, suplemen kolesterol didalam pakan dengan 3 tingkat dosis (0; 0,5; dan 1%) dan faktor kedua, injeksi serotonin dengan 3 tingkat dosis (0, 5, dan 10 μg/g bobot tubuh). Pengamatan terhadap tingkat kematangan ovari dilakukan setiap 4 hari sekali. Paramater pengambilan sampel meliputi  tingkat kematangan ovari, indeks gonad dan diameter oosit, konsentrasi estradiol 17β, konsentrasi protein yolk, dan fekunditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk kepiting yang disuplementasi dengan dosis kolesterol 0,5% dan induk kepiting yang mendapat perlakuan kombinasi, suplementasi kolesterol 0,5% dan injeksi serotonin dosis 10 μg/g bobot tubuh dapat menghasilkan perkembangan ovari yang terbaik. Jadi kolesterol dan serotonin dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan ovari. Kata-kata kunci: Kolesterol, serotonin, perkembangan ovari, Scylla serrata

Requirement of n-6 and n-3 Fatty Acid in Broodstock Diets on Reproductive Performance of Green catfish, Hemibagrus nemurus Blkr.

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.829 KB)

Abstract

This experiment was conducted to determine the optimum dietary level of n-6 and n-3 fatty acids on reproduction performance of green catfish. Four experimental diets with different level of n-6 and n-3 fatty acid (diet A: 0.77% n-6 fatty acid, 0.07% n-3 fatty acid; diet B: 1.56%,0.10 %; diet C: 1.74%, 0.13 % and diet D: 2%, 0.28%) were used in this experiment during seven month. Diets given twice every day in the morning and evening. The 28 broodstock used in this research with density every waring seven broodstock. Samples of eggs were analyzed for fatty acid composition. The diameter of eggs, fecundity, hatching rate of the eggs, survival rate and percentage of abnormal larvae were determined. Results showed that different dietary level of n-6 and n-3 fatty acids of the broodstock significantly affect the reproductive performance especially fecundity and hatching rate of eggs. The maximum fecundity, egg diameter, and hatching rate were produced broodstock fed on 1.56% n-6 fatty acid and 0.10 % n-3 fatty acid in diet by at the level of 12.29% lipid. Keywords : n-6 and n-3 fatty acids, reproduction performance, green catfish, Hemibagrus nemurus.   Abstrak Penelitian ini dilakukan pada berbagai level asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan untuk melihat pengaruhnya terhadap penampilan reproduksi dari ikan baung. Penelitian dilaksanakan selama 7 bulan.  Empat jenis pakan  digunakan dalam percobaan ini dengan perbedaan kandungan asam lemak n-6 dan n-3 (pakan A: 0,77% asam lemak n-6, 0,56% asam lemak n-3; pakan B: 1,56%, 0,78%; pakan C: 1,74%, 1,00% and pakan D: 2,03%, 1,82%). Dalam penelitian ini 28 ekor induk digunakan dan ditebarkan kedalam waring dengan kepadatan 7 ekor tiap waring. Pakan diberikan pagi dan sore hari secara at satiation.  Sampel telur dan larva dianalisa komposisi asam lemak. Penampilan reproduksi yang diamati adalah diameter telur, fekunditas, derajat penetasan telur, derajat kelangsungan hidup larva dan persentase larva abnormal. Hasil penilitian menunjukan bahwa perbedaan kandungan asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan berpengaruh pada komposisi asam lemak n-6 dan n-3 telur dan juga memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap penampilan reproduksinya khusus pada fekunditas dan derajat penetasan telur. Lama waktu matang yang dicapai oleh tiap induk relatif sama antar perlakuan.  Fekunditas, diameter telur, derajat penetasan telur dan derajat kelangsungan hidup larva tertinggi diperoleh pada induk yang memperoleh pakan yang mengandung 1,56% asam lemak n-6 dan 0,78% asam lemak n-3. Kata kunci:  Asam lemak n-6 and n-3, penampilan reproduksi, ikan baung, Hemibagrus nemurus.

Dietary Zinc Requirement of Young Giant Gouramy (Osphronemus gouramy, Lac.)

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.885 KB)

Abstract

This experiment was conducted to determine the dietary zinc requirement of young giant gouramy. Five experimental diets were used in this experiment containing iso-nitrogenous and iso-energy with different levels of zinc (0, 25, 50, 100, and 200 mg per kg). The initial means of body weight of body the fishes was 0.82 g per individual. The fishes were fed upon the diets at satiation, three times daily, for 12 weeks. The results indicated no zinc deficiency symptoms in this experiment. The daily growth rate, feed efficiency, survival rates and protein and lipid retention were not significantly different from all the diets. However, fish fed upon 25 mg Zn/kg diets produced the highest protein and total digestibility. The zinc contents of 25 mg Zn/kg diets gave the highest value in zinc accumulation in the bone, blood serum and eyes. The highest accumulation of the zinc in the liver occurred in 50 mg Zn/kg diets. There was increase in zinc content of the tissues after increasing levels of dietary zinc. Thus, Zn requirement for juvenile of giant gouramy was 25-50 mg/kg diets. Keywords: Osphronemus gouramy, Zinc, diet   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan seng dalam pakan untuk benih ikan gurame.  Lima jenis pakan percobaan yang diuji mengandung iso-nitrogen dan iso-energi dengan kadar seng (Zn) yang berbeda (0, 25, 50, 100, and 200 mg per kg).  Bobot rata-rata benih yang digunakan adalah 0,82 g per ekor.  Ikan dipelihara selama 12 minggu dan diberi pakan 3 kali sehari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada gejala defisiensi Zn.  Laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, kelangsungan hidup dan rentesi protein dan lemak tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan.  Namun demikian, ikan yang diberi Zn sebanyak 25 mg/kg pakan menghasilkan kecernaan total dan protein tertinggi.  Perlakuan tersebut juga menghasilkan akumulasi Zn tertinggi dalam tulang, serum darah dan mata.  Akumulasi Zn tertinggi dalam hati diperoleh pada perlakuan 50 mg Zn/kg pakan.  Kandungan Zn dalam jaringan meningkat sejalan dengan meningkatnya kadar Zn dalam pakan. Dengan demikian, kebutuhan Zn bagi benih ikan gurame adalah sebanyak 25-50 mg /kg pakan. Kata kunci: Osphronemus gouramy, seng, pakan

(Study on Stomach Contents of Opudi Fish (Telmatherina celebensis) in Towuti Lake, South Sulawesi)

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 5, No 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.494 KB)

Abstract

Study on food habits of opudi fish (T. celebensis) was conducted in Towuti Lake, South Sulawesi, from October 2002 to April 2003.  The objective of this study was to investigate food habits of the fish.  Samples were collected by using experimental gill net, mesh size  0,75; 1; 1,25 and 1,5 inches. The fish (N=273) was consisted of 141 males and 132 females, varied in total body length (55.8-94.7 mm).  Stomach content was analyzed using Index of preponderance.  Stomach contents of the fish was consisted of 4 kinds of foods such as insect, part of organism,  debris and  zooplankton.  Main food of the fish was insect (IP 51.22% for male, 43.26% for female,  suplement food was part of insect (IP 26.99% for male, 30.27% for female) and debris (IP 14.06% for male, 15.83% for female), while additional food was zooplankton consisted of Closterium (IP 2.93% for male, 4.62% for female), Pinnularia (IP1.79% for male, IP 1.39% for female), Navicula (IP 1.19%, for male, 1.41% for female) and Nitzschia (IP 0.74% for male,  1.08% for female).  Food kind between male and female fish was similar. Keywords : Stomach contents, opudi fish (T.celebensis), Towuti Lake.   ABSTRAK Penelitian makanan ikan opudi (T.celebensis) dilakukan di Danau Towuti, Sulawesi Selatan pada bulan Oktober 2002-April 2003. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui isi lambung ikan opudi. Ikan contoh diambil dengan experimental gill net dengan ukuran mata jaring 0,75; 1; 1,25 dan 1,5 inchi.  Ikan yang tertangkap (N=273) terdiri atas Jantan (141) dan betina (132), yang memiliki variasi ukuran panjang tubuh (55,8-94,7 mm). Isi lambung dianalisis dengan menggunakan Index of preponderance (IP).  Isi lambung terdiri dari 4 jenis makanan yaitu insekta, potongan tubuh insekta, serasah dan zooplankton. Makanan utama ikan opudi adalah insekta (IP 51,22% untuk jantan,  43,26% untuk betina), makanan pelengkap adalah potongan insekta (IP 26,99% untuk jantan, 30,27% untuk betina) dan serasah (IP 14,06% untuk jantan, 15,83% untuk betina), sedangkan makanan tambahan berupa zooplankton yang terdiri atas Closterium (2,93% untuk jantan, 4,62% untuk betina), Pinnularia (1,79% untuk jantan, 1,39% untuk betina), Navicula (1,19% untuk jantan, 1,41% untuk betina) and Nitzschia (0,74% untuk jantan, 1,08% untuk betina). Berdasarkan indeks similaritas, jenis makanan untuk ikan jantan dan ikan betina adalah mirip. Kata kunci : Isi lambung, ikan opudi (T.celebensis), Danau Towuti.

Increasing Thai Catfishs Immunity (Pangasius hypophthalmus Fowler) Using Ascorbic Acid

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 1, No 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.629 KB)

Abstract

An experiment to determine Thai catfishs (Pangasius hypophthalmus Fowler) immunity was carried out using different levels of ascorbic acid (0, 1.000, 2.000 and 3.000 mg/kg feed).  Fish of 15-20 g in weight were kept in aquaria for 6 weeks with density of 15 fish/aquaria.  Feed was given at 5-10 % of total biomass with frequency of three times a day.  The blood sampling was taken every week and the challenge test with Aeromonas hydrophila (106cells/mm3) injection intramuscular was done on the 30th day.   The result of this experiment shown that feed with ascorbic acid of 2.000 mg/kg was elevated the cellular responses such as: leucocyte total (34.850 cels/mm3), differential of leucocyte (lymphocyte: 72,2%, monocyte: 8,0%, neutrophyl: 7,8%), phagocytic index (13%) and humoral response (titre antibody: 0.829 serum aglutination unit), which at the same time proves high level of survival rate against the artificial injection using A. hydrophila. Key words :  Ascorbic acid, fish immunity, Thai catfish, Pangasius hypophthalmus.   ABSTRAK Suatu penelitian telah dilakukan di laboratorium dengan menggunakan ikan jambal Siam (Pangasius hypophthalmus Fowler) untuk melihat tingkat kekebalan ikan dengan menambahkan vitamin C pada pakan (0, 1.000, 2.000 dan 3.000 mg/kg pakan).  Ikan jambal Siam ukuran 15-20 g dipelihara dalam aquarium selama 6 minggu dengan kepadatan 15 ekor/wadah.  Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari sebanyak 5-10% dari bobot biomasa, pengambilan contoh darah dilakukan setiap minggu dan uji tantang dilakukan pada hari ke-30 dengan bakteri Aeromonas hydrophila (106 sel/mm3) secara intramuskular.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C sebanyak 2.000 mg/kg pakan menyebabkan meningkatnya respon seluler antara lain: total lekosit (34.850 sel/mm3), jenis lekosit (limfosit: 72,2%, monosit: 8,0%, netrofil: 7,7% dan trombosit: 17,6%) indeks fagositik 13% dan respon humoral (titer antibodi: 0,829 unit serum aglutinasi).  Kelangsungan hidup ikan jambal Siam dengan respon seluler demikian mencapai 100%. Kata kunci :  Vitamin C, imunitas ikan, ikan jambal Siam, Pangasius hypophthalmus.

Dietary Zinc Requirement of Young Giant Gouramy (Osphronemus gouramy, Lac.)

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.885 KB)

Abstract

This experiment was conducted to determine the dietary zinc requirement of young giant gouramy. Five experimental diets were used in this experiment containing iso-nitrogenous and iso-energy with different levels of zinc (0, 25, 50, 100, and 200 mg per kg). The initial means of body weight of body the fishes was 0.82 g per individual. The fishes were fed upon the diets at satiation, three times daily, for 12 weeks. The results indicated no zinc deficiency symptoms in this experiment. The daily growth rate, feed efficiency, survival rates and protein and lipid retention were not significantly different from all the diets. However, fish fed upon 25 mg Zn/kg diets produced the highest protein and total digestibility. The zinc contents of 25 mg Zn/kg diets gave the highest value in zinc accumulation in the bone, blood serum and eyes. The highest accumulation of the zinc in the liver occurred in 50 mg Zn/kg diets. There was increase in zinc content of the tissues after increasing levels of dietary zinc. Thus, Zn requirement for juvenile of giant gouramy was 25-50 mg/kg diets. Keywords: Osphronemus gouramy, Zinc, diet   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan seng dalam pakan untuk benih ikan gurame.  Lima jenis pakan percobaan yang diuji mengandung iso-nitrogen dan iso-energi dengan kadar seng (Zn) yang berbeda (0, 25, 50, 100, and 200 mg per kg).  Bobot rata-rata benih yang digunakan adalah 0,82 g per ekor.  Ikan dipelihara selama 12 minggu dan diberi pakan 3 kali sehari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada gejala defisiensi Zn.  Laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, kelangsungan hidup dan rentesi protein dan lemak tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan.  Namun demikian, ikan yang diberi Zn sebanyak 25 mg/kg pakan menghasilkan kecernaan total dan protein tertinggi.  Perlakuan tersebut juga menghasilkan akumulasi Zn tertinggi dalam tulang, serum darah dan mata.  Akumulasi Zn tertinggi dalam hati diperoleh pada perlakuan 50 mg Zn/kg pakan.  Kandungan Zn dalam jaringan meningkat sejalan dengan meningkatnya kadar Zn dalam pakan. Dengan demikian, kebutuhan Zn bagi benih ikan gurame adalah sebanyak 25-50 mg /kg pakan. Kata kunci: Osphronemus gouramy, seng, pakan

Pengaruh berbagai pemacu pertumbuhan pada pakan terhadap kelangsungan hidup mikroflora saluran pencernaan ikan mas, Cyprinus carpio L. [Effect of several growth promoters to intestinal microflora survival of common carp, Cyprinus carpio L.]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.623 KB)

Abstract

The research had determined the effect of antimicrobial growth promoter and prebiotics to intestinal microflora population of common carp (Cyprinus carpio). The experiment was used completely randomized design, the treatment were several mixing pellet contains antibiotic and prebiotics. There were six treatments in this research; T0: control, T1: streptomicyne (S200), T2: tetracycline (T200), T3: amphicyline (A200), T4: commercial prebiotic, and T5: 2% MOS. Each treatment were replicated three times. The treatments were observed in two ways in vitro and in vivo. Tripticase Soy Broth (TSB) which already contains treatments was used as media to culture the microflora (in vitro). Feed treatments were given to common carp size 15-25 g for 8 days (in vivo). Both in vitro and in vivo microflora assessments use two different media TSA (Tripticase Soy Agar) and MRSA. The in vitro showed that tetracycline 200 ppm (T200) highly significant (P<0.05) decreased microflora population. Death microflora percentage in vitro showed tetracycline 200 significantly (P<0.05) destroyed 99.8% (P<0.05). Therefore, commercial prebiotic 2% and MOS 2% gave the best performance in increasing microflora population significantly (P<0.05) both in TSA and MRSA media. The in vivo also showed that tetracycline 200 (T200) highly significant (P<0.05) decreased microflora population of intestine. The best growth of microflora intestine profile was shown by commercial prebiotic 2% and MOS 2% (P<0.05). This research prove that prebiotic is better and saver than antibiotic to be apply in aquaculture. AbstrakPenelitian bertujuan untuk melihat efek zat pemacu pertumbuhan yang bersifat antimikroba dan prebiotik terhadap po-pulasi mikroflora saluran pencernaan ikan mas. Metode analisis data yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), perlakuan merupakan pelet yang telah dicampur dengan beberapa antibiotik dan prebiotik. Terdapat enam perlakuan dalam penelitian ini; T0: kontrol, T1: streptomisin (S200), T2: tetrasiklin (T200), T3: amfisilin (A200), T4: prebiotik komersial, dan T5: 2% MOS, masing-masing terdapat tiga ulangan. Pengamatan dilakukan dengan dua cara yaitu, in vitro dan in vivo. Media yang digunakan untuk memperbanyak mikroflora (in vitro) adalah Tripticase Soy Broth (TSB) yang telah terdapat perlakuan di dalamnya. Pakan uji diberikan pada ikan mas ukuran 15-25 g selama delapan hari (in vivo). Pengamatan pertumbuhan mikroflora secara in vitro dan in vivo, menggunakan dua media yang berbeda Tripticase Soy Agar (TSA) dan the Man Rogossa Sharp Agar (MRSA). Hasil penelitian secara in vitro menunjukkan bahwa antibiotik tetrasiklin 200 ppm (T200) secara nyata (P<0,05) menurunkan populasi mikroflora saluran pencernaan. Persentase kematian mikroflora secara in vitro memperlihatkan antibiotik tetrasiklin 200 ppm (T200) dapat mematikan mikroflora hingga 99,8% (P<0,05). Prebiotik komersial 2% dan MOS 2% memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan populasi mikroflora saluran pencernaan (P<0,05) baik pada media TSA atau MRSA. Hasil pengamatan secara in vivo juga menunjukkan bahwa antibiotik tetrasiklin 200 ppm (T200) secara nyata menurunkan populasi mikroflora saluran pencernaan. Pertumbuhan mikroflora saluran pencernaan secara in vivo yang terbaik ditun-jukkan oleh perlakuan yang mengandung prebiotik komersial 2% dan MOS 2% (P<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan prebiotik lebih baik dan aman dibandingkan antibiotik untuk diterapkan dalam budi daya perairan.