Tri Hanggono Achmad
Departemen Ilmu Penyakit THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala 3Departemen Biokimia dan Biomolekuler Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
Articles
19
Documents
Polimorfisme C1167T Gen Reseptor Tipe II Transforming Growth Factor-â, Kadar Soluble Endoglin, dan Vascular Cell Adhesion Molecule-1 pada Preeklamsia

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 3 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transforming growth factor-â (TGF-â) diduga berperan pada preeklamsia. Reseptor TGF-â tipe II (TâR-II) dihasilkan dari transkripsi gen TGF-â receptor type II (TGFBR2). Polimorfisme gen TGFBR2 pada basa C1167T dapat menyebabkan hipoksia yang menginduksi iskemia serta meningkatkan produksi solubel endoglin (sEng) dan vascular cell adhesion molecule-1 (VCAM-1). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi polimorfisme gen TGFBR2 pada basa C1167T dengan kadar sEng dan VCAM-1 ibu preeklamsia. Subjek adalah ibu preeklamsia usia kehamilan 28–42 minggu dan kehamilan normal sebagai kontrol, masing-masing 120 orang. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, September 2008–Mei 2009. Sampel berupa darah vena, pemeriksaan polimorfisme dilakukan dengan DNA Wizard® genomic DNA purification, kadar sEng dan VCAM-1 dengan imunoesai. Hasil penelitian menunjukkan polimorfisme CT pada kelompok preeklamsia 92 (76,7%) dan kontrol 70 (58,3%) {p<0,001; OR (95%CI): 2,35 (1,30–4,26)}. Kadar sEng (ng/mL) 12,46 berbanding 10,29 pada kelompok kontrol {p<0,001; OR (95%CI): 3,71 (2,11–6,57)}. Kadar VCAM-1 berbeda bermakna, yaitu 1.218,43 berbanding 705,59 {(p<0,001; OR (95%CI): 7,56 (4,11–14,0)}. Disimpulkan terdapat perbedaan proporsi dan korelasi polimorfisme C1167T gen TGFBR2, kadar sEng, dan VCAM-1 antara preeklamsia dan kehamilan normal. [MKB. 2010;42(3):115-22].Kata kunci: Polimorfisme gen TGFBR2, preeklamsia, sEng, VCAM-1C1167T Type II Transforming Growth Factor-â Receptor Gene Polymorphism, Soluble Endoglin and Vascular Cell Adhesion Molecule-1Levels in PreeclampsiaTransforming growth factor-â (TGF-â) plays a role in preeclampsia. TGF-â receptor type II (TâR-II) is produced from the transcription of the type II TGF-â receptor gene (TGFBR2). Polymorphism of TGFBR2 gene on the base C1167T could cause hipoxia that induces ischaemia and product soluble endoglin (sEng) and vascular cell adhesion molecule-1 (VCAM-1). The aim was to find out the association of C1167T type II TGF-â receptor gene polymorphism with sEng and VCAM-1 levels in preeclampsia. The study was done at Hasan Sadikin Hospital, Bandung, September 2008–May 2009. Indicates that C1167T polymorphism events were found in the preeclampsia that were 92(76.7%) of 120 cases and 70 (58.3%) control of 120 normal pregnancies with the difference in the appearance polymorphism which means p<0.001 OR (95%CI):2,35 (1.30–4.26). There was a difference between sEng (ng/μL) 12.46 for preeclampsia and 10.29 for the control group p<0.001 OR (95%CI): 3.71 (2.11–6.57). There was also a difference between VCAM-1 (ng/μL) 1,218.43 for the preeclampsia and 705.59 for the control group {p<0.001 OR (95%CI): 7.56 (4.11–14.0)}. There was a result that in preeclamptic patient having polymorphism sEng level was 14.19 ng/mL and VCAM-1 level is 961,85 ng/mL. It is concluded that there are difference proportion and association of C1167T type II TGF-â receptor gene polymorphism with sEng and VCAM-1 levels between preeclampsia and normal pregnancy patients. [MKB. 2010;42(3):115-22].Key words: Preeclampsia, sEng, TGFBR2 gene polymorphism, VCAM-1

Perbedaan Kadar Adiponektin, Asimetrik Dimetilarginin Plasma, dan Respons Vasodilatasi Arteri Brakialis antara Dewasa Muda dengan Riwayat Bayi Berat Lahir Rendah dan Normal

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adiponektin mempunyai efek antiaterogenik, antiinflamasi, sensitizer insulin, dan berperan penting dalam mengatur pertumbuhan janin. Hipoadiponektinemia dapat menyebabkan disfungsi endotel. Risiko penyakit kardiovaskular meningkat pada subjek dengan riwayat bayi berat lahir rendah (BBLR). Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kadar adiponektin, asimetrik dimetilarginin (ADMA) plasma dan respons vasodilatasi arteri brakialis melalui tes flow mediated brachial artery (FMBA) antara dewasa muda dengan riwayat BBLR dan bayi berat lahir normal (BBLN), serta korelasi kadar adiponektin dengan fungsi endotel pada BBLR. Penelitian kohor retrospektif dilakukan periode November 2009–Januari 2010 berasal dari Growth Study Cohort Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Sebanyak 134 subjek dipilih secara simple random, terdiri atas 67 BBLR dan 67 BBLN yang karakteristik umumnya sama. Analisis multivariat melalui Hotelling’s trace menunjukkan FMBA, kadar ADMA, dan adiponektin berbeda bermakna (p<0,001) antara BBLR dan BBLN. Analisis simultaneous confidence interval menunjukkan kadar adiponektin plasma dan FMBA bermakna lebih rendah (p=0,015 dan p<0,001) pada BBLR dibandingkan dengan BBLN. Korelasi tidak bermakna antara kadar adiponektin dan ADMA (r=-0,16; p=0,176) dan FMBA (r=0,13; p=0,281) BBLR. Kecil peran adiponektin pada disfungsi endotel, mungkin variabel lain berperan, seperti tumor necrosis factor α. Simpulan, terdapat perbedaan kadar adiponektin plasma dan FMBA antara dewasa muda dengan riwayat BBLR dan BBLN, tetapi kecil peran adiponektin pada disfungsi endotel dewasa muda dengan riwayat BBLR. [MKB. 2012;44(1):1–6].Kata kunci: Adiponektin, asimetrik dimetilarginin, BBLR, tes flow mediated brachial arteryDifferences of Plasma Adiponectine, Asymmetric Dimethylarginine and Brachial Artery Vasodilatation Response in Young Adult with Low and Normal Birth Weight HistoryBeside an anti-atherosclerotic, anti-inflammation effect, and a sensitizer insulin, adiponectin also play an important role in fetal growth. Hypoadiponectinemia may lead to endothelial dysfunction. Low birth weight (LBW) has increase risk of cardiovascular disease. The aim of this study was to analyze the differences of plasma adiponectin, asymmetric dimethylarginine (ADMA) level and vasodilatation response of brachial artery by doing flow mediated brachial artery (FMBA) test between young adults with LBW and normal birth weight (NBW), and the role ofadiponectin level in endothelial function of the LBW. This was a retrospective cohort study during November 2009– January 2010, 134 subjects were randomly selected from the Growth Study Cohort of Tanjungsari Sumedang. They consisted of 67 LBW and 67 NBW young adults, with similar basic characteristics. A multivariate analysis via Hotelling’s trace showed that there was a significant difference (p<0.001) for FMBA, ADMA, and adiponectin level, but simultaneous confidence interval measurements indicated that the rate of FMBA and the level of plasma adiponectin were significantly lower (p<0.001, p=0.015, respectively) in LBW compared to NBW. The correlation between adiponectin and ADMA level (r=-0.16, p=0.176), and FMBA (r=0.13, p=0.281) in LBW were not significant, suggesting a small role of plasma adiponectin in endothelial dysfunction of young adults with LBW, other variables could play a role such as tumor necrosis factor α. In conclusions, the level of plasma adiponectin and FMBA are different between LBW and NBW, but the role of adiponectin may be small in endothelial dysfunction in young adults with LBW. [MKB. 2012;44(1):1–6].Key words: Adiponectin, asymmetric dimethylarginine, flow mediated brachial artery, LBW test DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.72

Ekspresi Bcl-2 dan Caspase-3 Pascapaparan Hipoksia Hipobarik Intermiten

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipoksia hipobarik intermiten sering dialami oleh awak pesawat, karena selama di dalam kabin pesawat bernapas dengan tekanan udara yang lebih rendah. Tubuh akan beradaptasi dengan cara mengikat oksigen lebih banyak dan juga mengurangi dampak hipoksia. Fungsi mitokondria akan terganggu pada hipoksia, yaitu permiabilitas membran luar mitokondria karena protein Bcl-2 menurun. Jika hipoksia berlanjut akan terjadi kebocoran membran mitokondria, pelepasan sitokrom-c, dan proses apoptosis berlangsung. Penelitian ini bertujuan menganalisis protein Bcl-2 sebagai antiapoptosis dan caspase-3 sebagai indikator apoptosis akibat paparan hipoksia hipobarik intermiten. Dilakukan penelitian eksperimental pada tikus jantan Spraque Dawley periode Januari–April 2010 dengan melakukan paparan hipoksia hipobarik intermiten satu sampai empat kali dengan interval satu minggu. Jantung tikus dijadikan spesimen untuk dilakukan pemeriksaan ekspresi protein dengan pulasan imunohistokimia di Departemen Patologi Anatomi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung dan western blot di Bagian Biomolekuler FK Universitas Indonesia Jakarta. Ekspresi protein Bcl-2 meningkat sesuai dengan frekuensi paparan hipoksia hipobarik intermiten, sebaliknya ekspresi protein caspase-3 menurun (rs=-0,448, p=0,013). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan tingkat apoptosis akibat paparan hipoksia hipobarik intermiten, hal ini disebabkan mekanisme adaptasi natural yang ditandai dengan menurunnya apoptosis sel dan secara tidak langsung akan memberi efek kardioprotektif. [MKB. 2011;43(4):166–70].Kata kunci: Apoptosis, Bcl-2, caspase-3, hipoksia hipobarik intermitenBcl-2 and Caspase-3 Expression Post Exposure of Intermittent Hypobaric HypoxiaIntermittent hypobaric hypoxia often suffered by cabin crew due to the fact that they are breathing lower pressured air inside the plane cabin. Human body will adapt by binding more oxygen and reducing hypoxia effect. Mitochondria function will be irritated by hypoxia which affect, outer mithochondrial membrane permeability due to decrease of Bcl-2 protein. Later on if hypoxia continues mitochondrial membrane will leaked cytocrome-c will released and apoptotic pathway will occur. The purpose of this study was to analyze Bcl-2 protein as antiapoptosis and caspase-3 as apoptosis indicator of intermittent hypobaric hypoxia exposure. Experimental study >was subjected to Spraque Dawley male mice during January–April 2010 by exposing them to several intermittent hypobaric hypoxias (one to four treatment) in an interval of one week. Protein expression on mice heart cell were detected by immunohistochemistry in the Department of Pathology Anatomy Padjadjaran University-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung and western blot methods in Department Biomolecullar Indonesia University Jakarta. Bcl-2 protein expressions increased according with the frequency of intermittent hypobaric hypoxia exposures while a reverse trend was found for caspase-3 protein expressions (rs=-0.448, p=0.013). From the study it can be concluded that apoptosis will be decreased as a result of intermittent hypobaric hypoxia exposures, which occurred from natural adaptation mechanism indicated by decrease of cell apoptosis and cardio protective effect will be emerged. [MKB. 2011;43(4):166–70].Key words: Apoptosis, Bcl-2, caspase-3, intermittent hypobaric hypoxia

Asam L Askorbat Meningkatkan Viabilitas HUVEC dalam Kultur P. falciparum yang Diinkubasi dengan Artemisinin Bergantung Konsentrasi

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artemisinin, antimalaria yang sangat ampuh terhadap parasit multiresisten, bekerja melalui produksi radikal bebas. Oleh karena terjadinya alur permeasi baru pada membran eritrosit yang terparasitisasi, asam L askorbat, suatu antioksidan hidrofilik, diharapkan tidak menembus membran tersebut sehingga tidak mempengaruhi daya antimalaria artemisinin melainkan hanya mempengaruhi sel inang di luar eritrosit yang terparasitisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh asam L askorbat pada viabilitas human umbilical vein endothelial cell (HUVEC) sebagai sel inang, kadar glutation sulfil hidril (GSH), dan kadar malondialdehyde (MDA) dalam kultur Plasmodium falciparum yang diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan asam L askorbat. Penelitian ini dilakukan di Eijkman Insitute for Molecular Biology, Jakarta dari Januari 2007 sampai Januari 2008. Kultur Plasmodium falciparum strain 3D7 diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan berbagai konsentrasi asam L askorbat selama 24 jam dalam candle jar dan inkubator 37oC. Kadar GSH dan MDA pada supernatan diukur dengan spektrofotometri. Viabilitas HUVEC diukur dalam kokultur HUVEC- P. faciparum yang diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan berbagai konsentrasi asam L askorbat. Data dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) dan Tukey honestly significant difference (HSD)/Scheffe. Eksperimen menunjukkan bahwa konsentrasi asam L askorbat 20 μM dan 100 μM dapat meningkatkan viabilitas HUVEC. Disimpulkan bahwa asam L askorbat meningkatkan viabilitas HUVEC dalam kultur P. falciparum yang diikubasi dengan artemisinin bergantung konsentrasi. [MKB. 2011;43(2):66–71].Kata kunci: Artemisinin, asam L askorbat, P. falciparum, viabilitas human umbilical vein endothelial cellL Ascorbic Acid Concentration Dependently Increases HUVEC Viability inP. falciparum Culture Incubated with ArtemisininArtemisinin via overproduction of free radical acts as a potent drug against multi-drug resistant Plasmodium. because of new permeation pathway evidence at parasitized red blood cell membrane, L ascorbic acid as hydrophilic antioxidant hopefully can’t penetrate the membrane so that it won’t interfere the artemisinin antimalarial effect rather it protects the host cell out of parasitized erythrocytes. The aim of this study was to determine its effect against human umbilical vein endothelial cell (HUVEC) viability, glutathione sulfa-hydryl (GSH), and malondialdehyde (MDA) concentration in Plasmodium falciparum culture treated with artemisinin. This experiment was conducted at Eijkman Insitute for Molecular Biology, Jakarta from January 2007 to January 2008. Plasmodium falciparum 3D7 strain culture was incubated with IC50 of artemisinin and a wide concentration range of L ascorbic acid for 24 hours in a candle jar at 37oC incubator. GSH and MDA concentration were measured from the supernatant using spectrophotometer. HUVEC viability was measured in P. falciparum-HUVEC co-cultivation incubated with artemisinin IC50 and L ascorbic acid. The result was examined and analyzed using analysis of variance (ANOVA) and Tukey honestly significant difference (HSD)/Scheffe. It showed that 20 μM and 100 μM L ascorbic acid raised the HUVEC viability. It was concluded that L ascorbic acid concentration dependently increases HUVEC viability in P. falciparum culture incubated with artemisinin. [MKB.2011;43(2):66–71].Key words: Artemisinin, human umbilical vein endothelial cell viability, L ascorbic acid, P. falciparum

BINDING OF ENDOTHELIN-1 TO HUMAN BLOOD MONOCYTE

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Monocyte attachment to the endothelium and migration into the vessel intima are the initiating steps in atherogenesis. This is thought to be facilitated by endothelin-1 (ET-1) as a potent chemoattractant to human blood monocytes. To explore the presence of ET-1 receptor(s) on the monocyte, we studied the binding of ET-1 to freshly isolated human blood monocytes, in the laboratory of the Institute of Clinical Biochemistry, University of Bon, Germany in 1995. Radioligand binding studies revealed the presence of two distinct subclasses of binding sites with apparent dissociation constants, K s, of 10.3 pM and 3.5 nM and maximal binding capacities, B s, of 0.027 fmol and 0.63 d max fmol/1.5x105 cells. Using monocyte migration as a response to ET-1, and ET-1 receptor antagonists BQ-123, BQ- 18257B and IRL-1038, the presence of two ET receptor subtypes, ET and ET , were detected. These results suggest A B that the chemotactic stimulus introduced by ET-1 can be activated ET-1 specific receptors on the monocytes.Key words: Endothelin-1, monocyte, receptor-bindingIKATAN ENDOTELIN-1 PADA MONOSIT DARAH MANUSIAABSTRAKMenempelnya monosit ke permukaan endotel dan bermigrasi kedalam tunika intima merupakan langkah awal pada aterogenesis. Hal ini diduga diperantarai oleh peran endotelin-1 (ET-1) yang dikenal sebagai chemoattractant poten bagi monosit. Untuk mengungkapkan adanya reseptor ET-1 pada monosit, dilakukan penelitian ikatan ET-1 pada monosit yang diisolasi dari darah manusia, di laboratorium Institute of Clinical Biochemistry, Universitas Bonn, Jerman pada tahun 1995. Penilaian ikatan radioligand menunjukkan adanya dua subkelas berbeda dari tempat ikatan dengan konstanta disosiasi (K ) masing-masing 10,3 pM dan 3,5 nM, serta kapasitas ikatan maksimal (B ) d max masing-masing sebesar 0,027 fmol dan 0,63 fmol/1,5x105 sel. Dari hasil penilaian tingkat migrasi monosit sebagai respons terhadap ET-1 dengan atau tanpa beberapa antagonis reseptor ET-1, BQ-123, BQ-18257B dan IRL-1038,terdeteksi adanya dua subtipe reseptor ET, yaitu ET dan ET . Hasil ini menunjukkan bahwa rangsangan kemotaksis A B yang ditimbulkan ET-1 dapat mengaktifkan reseptor spesifik ET-1 pada monosit.Kata kunci: Endotelin-1, monosit, ikatan-reseptor

Aktivitas Polifenol Teh Hijau (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Sebagai Imunomodulator melalui Respons Supresi Imunoglobulin E (IgE) pada Rinitis Alergika

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rinitis alergika adalah kondisi inflamasi mukosa nasal yang diakibatkan oleh interaksi antara alergen dan imunoglobulin E (IgE). Imunomodulator merupakan bagian terpenting dalam pengobatan rinitis alergika dan salah satu tanaman obat yang mempunyai aktivitas imunomodulator adalah teh hijau (Camellia sinensis L.) terutama polifenol. Tujuan penelitian adalah menganalisis aktivitas polifenol teh hijau sebagai imunomodulator pada pasien rinitis alergika. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni–Desember 2011 di laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Unsyiah Banda Aceh dan pemeriksaan IgE dilakukan di laboratorium swasta. Desain penelitian adalah quasi experimental dengan rancangan pretest-posttest with control group. Subjek penelitian adalah 12 pasien rinitis alergika, yaitu 6 orang sebagai kelompok kontrol (diberikan plasebo) dan 6 orang sebagai kelompok perlakuan (diberikan kapsul polifenol teh hijau 2x350 mg/hari, selama 14 hari). Analisis data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar imunoglobulin E sesudah pemberian perlakuan pada kelompok perlakuan lebih rendah dibanding dengan kelompok kontrol (1.475,2±940,7 vs 494,3±366,5 IU), namun tidak bermakna (p=0,05). Simpulan pemberian polifenol teh hijau  menurunkan sekresi IgE, namun tidak bermakna dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.  [MKB. 2015;47(3):160–66]Kata kunci: Imunoglobulin E, imunomodulator, polifenol teh hijau (Camellia sinensis L.), rinitis alergika Activity of Green Tea (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Polyphenols as Immunomodulator through Response of Suppression Immunoglobulin E (IgE) in Allergic RhinitisAbstractAllergic rhinitis is an inflammatory condition of the nasal mucosa caused by  interactions between allergens and immunoglobulin E (IgE). Immunomodulatory is an important part of the treatment of allergic rhinitis. One of the medicinal plants that have immunomodulatory activities is green tea (Camellia sinensis L.), specifically polyphenols. The purpose of this study was to analyze the activity of green tea’s polyphenols as an immunomodulator in patients with allergic rhinitis. This study was conducted in  June to December 2011 in the laboratory of Physiology, Faculty of Medicine Unsyiah with the IgE examinations conducted in private laboratories. This study is a pretest-postest quasi experimental study with control group design. Subjects were 12 patients with allergic rhinitis;  6 people were included in the control group (placebo) and 6 in the treatment group (green tea’s polyphenols 2x350 mg/day, for 14 days). Analysis of the data was performed using the  normality test, homogeneity test, and t-test (p<0.05). The results showed that the levels of immunoglobulin E after the administration of green tea’s polyphenols in the treatment group was lower than the control group (1.475.2±940.7 vs 494.3±366.5 IU), but not significantly (p=0.05). In conclusion, the administration of green tea’s polyphenols can insignificantly decrease the secretion of IgE. Hence, further research is required. [MKB. 2015;47(3):160–66]Key words: Allergic rhinitis, immunoglobulin E,  immunomodulator, green tea’s polyphenols (Camellia sinensis L.)DOI: 10.15395/mkb.v47n3.596

Status Asetilator Gen NAT2 pada Pasien Tuberkulosis dan Tuberkulosis dengan Diabetes Melitus di Kupang, Nusa Tenggara Timur

Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah negara dengan jumlah penderita tuberkulosis (TB) terbanyak kedua  di dunia. Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu komorbid TB. Arylamine N-acetyltransferase 2 (NAT2) adalah enzim yang berfungsi memetabolisir isoniazid (INH) yang disandi oleh gen NAT2. Gen NAT2 memiliki sejumlah polimorfisme dan dapat menentukan kemampuan seseorang untuk memetabolisir obat yang disebut status asetilator. Pada individu dengan status asetilator lambat, INH dimetabolisir dengan lambat sehingga memungkinkan terjadi intoksikasi hati. Pada TB dengan DM (TBDM) status asetilator lambat dapat membuat pengobatan TB maupun DM menjadi kurang optimal. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi status asetilator pasien TBDM di RSUD Prof. WZ Johannes Kupang periode Juni–November 2011. Pada penelitian potong lintang ini DNA dari darah 122 pasien TB diisolasi dan gen NAT2 kemudian diamplifikasi dan disekuensing untuk diketahui status asetilatornya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 pasien yang memiliki glukosa serum >200 mg/dL yang dikategorikan sebagai pasien TBDM. Pada pasien TBDM didapatkan seorang dengan status asetilator cepat (NAT2*4/NAT2*4), 2 orang dengan status asetilator sedang (NAT2*13A/NAT2*6J), dan 2 orang dengan status asetilator lambat (NAT2*5/NAT2*5G, NAT2*6A/ NAT2*6A, NAT2*7B/ NAT2*7B). Pada pasien TB yang dipilih secara random berdasar usia dan jenis kelamin serupa dengan TBDM didapatkan 2 orang dengan status asetilator cepat (NAT2*4/NAT2*4) dan 3 orang dengan asetilator sedang (NAT2*4/NAT2*6A, NAT2*13A/NAT2*6J). TBDM yang memiliki status asetilator lambat berpotensi memiliki masalah ganda dalam terapi, selain dapat terjadi toksisitas hati akibat terapi dengan INH, juga dapat mengakibatkan pengobatan DM menjadi tidak optimal. Perlu dilakukan peneltian lebih lanjut terkait farmakogenetik pada TBDM. [MKB. 2016;49(1):61–6]Kata kunci: Asetilator, isoniazid, NAT2, farmakogenetik, tuberkulosis NAT2 Gene Acetylator Status of Tuberculosis and Tuberculosis with Diabetes Mellitus Patients in Kupang, Nusa Tenggara TimurIndonesia is the second highest country with TB patients in the world. Diabetes mellitus (DM) is a comorbid of TB. Arylamine N-acetyltransferase 2 (NAT2), encoded by the NAT2 gene, is an enzyme that metabolizes isoniazid (INH). NAT2 gene has some polimorphysims that may play a role in INH acetylating process. Those who are slow acetylators may develop liver intoxication as a consequence of slow INH metabolism process. Slow acetylator TBDM patients may complicate both TB and DM treatment, causing them to be less optimal. The aim of this study was to explore the acetylator status of TBDM patients in Kupang, Indonesia. A cross-sectional study was conducted by obtaining DNA of 122 TB patients in Kupang in June–November 2011. NAT2 gene was amplified and sequenced to determine the acetylator status. There were 5 TB patients who had a glucose serum level of >200mg/dL and was catagorized as TBDM. Result showed that there was 1 TBDM patient who was a rapid acetylator (NAT2*4/NAT2*4), 2 patients as intermediate acetylators (NAT2*13A/NAT2*6J), and 2 patients as slow acetylators (NAT2*5/NAT2*5G, NAT2*6A/ NAT2*6A, NAT2*7B/ NAT2*7B). Meanwhile,  there were 2 TB patients who was rapid acetylators (NAT2*4/NAT2*4) and 3 patients as intermediate acetylators (NAT2*4/NAT2*6A, NAT2*13A/NAT2*6J). Slow NAT2 acetylator TBDM patients potentially face more problems during therapy. As INH may cause liver intoxication, these patients may also experience unoptimum DM treatment. Therefore, it is strongly recommended to do a study on the role of pharmacogenomics in TBDM. [MKB. 2016;49(1):61–6]Key words: Acetylator, isoniazid, NAT2, pharmacogenetics, tuberculosis

Deteksi Natrium/Iodide Symporter (NIS) pada Galur Sel Kanker Payudara SKBR3 dengan Imunositofluoresens

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Galur sel SKBR3 adalah model kanker payudara positif human epidermal growth factor receptor2 (HER2). Pemberian kemoterapi memperlihatkan respons lengkap hanya pada 50% pasien kanker payudara dengan tipe positif HER2. Kemampuan jaringan tumor menangkap dan mengakumulasi iodium radioaktif dihubungkan dengan ekspresi natrium/iodide symporter (NIS). Tujuan penelitian ini adalah menilai ekspresi dan distribusi NIS pada galur sel SKBR3 serta menilai efek induksi epidermal growth factor (EGF) pada ekspresi NIS menggunakan imunositofluoresens-ISF. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Sel, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FKUP) mulai bulan September 2013 sampai dengan April 2014. Sel SKBR3 ditumbuhkan pada plat kultur dan ditunggu hingga konfluen 70%. Sel dibagi atas dua kelompok, yaitu kelompok yang diberi induksi dan kontrol. Induksi EGF diberikan dengan dosis 50 ng/mL. Pemeriksaan ISF menggunakan antibodi primer rabbit polyclonal antibody anti NIS dan antibodi sekunder goat anti rabbit IgG polyclonal antibody. Data hasil pengamatan dinilai secara semikuantitatif. Natrium/iodide symporter tampak terekspresi dan terdistribusi di sitoplasma. Sel yang diinduksi dengan EGF memperlihatkan peningkatan ekspresi NIS di sitoplasma dan distribusinya di membran sel secara bermakna. Sel SKBR3 mengekspresikan NIS yang terdapat di sitoplasma. Induksi EGF meningkatkan ekspresi NIS dan distribusinya di membran sel. Temuan ini dapat mengarah potensi kemampuan sel kanker payudara menangkap dan mengakumulasikan iodium radioaktif. [MKB. 2016;48(1):15–8] Kata kunci: Ekspresi NIS , galur sel SKBR3, kanker payudara, imunositofluoresensDetection of Natrium/Iodide Symporter (NIS) in SKBR-3 Breast Cancer Cell Line Using ImmunocytofluoresenceAbstractSKBR-3 cell line is a breast cancer model for human epidermal growth factor receptor2 (HER2) positive. Only 50% of patients of this type have fully responded to chemotherapy. Natrium iodide symporter expression correlates with the uptake and ability of cells to accumulate radioiodine. The aim of this study was to examine natrium/iodide symporter (NIS) expression and its distribution with and without epidermal growth factor (EGF) treatment using immunocytofluoresence (ICF). This study was conducted at the Cell Culture Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran from September 2013 to April 2014. SKBR3 cells were cultured until 70% confluent. Cells were then divided into two groups: treatment group and control group. The treatment group was treated with EGF 50 ng/mL. Cells were incubated with primary antibody rabbit polyclonal antibody anti-NIS, and then were followed with secondary-antibody goat polyclonal antibody to rabbit. Data from the observation were then assessed semi-quantitatively. Natrium/iodide symporter was seen to be expressed and distributed in the cytoplasm. Cells induced by EGF showed significant increase in NIS expression in cytoplasm and its distribution in cell membrane. It is concluded that the SKBR3 cells express NIS in cytoplasm and that EGF induction increases NIS expression and distribution in cell membrane. This finding leads to a potential ability of breast cancer cells to uptake and accumulate radioiodine. [MKB. 2016;48(1):15–8]Key words: Breast cancer, cell line SKBR-3, immunocytofluoresence, NIS expression DOI: 10.15395/mkb.v48n1.728

Modifikasi Metode Isolasi Sel Endotel Pembuluh Darah Otak (EPDO) Tikus: Teknik Dasar Kultur Sel Primer di Bidang Neurosains

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 4 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode konvensional isolasi sel endotel pembuluh darah otak (EPDO) masih tergolong sulit, sehingga upaya mendapatkan populasi murni sel ini adalah tantangan. Pada penelitian ini dilakukan isolasi endotel dari tikus Wistar dan mencit C57/Bl6, berdasarkan protokol the care and use of laboratory animals, Universitas Gunma, Jepang. Modifikasi metode isolasi adalah menggunakan gradasi bovine serum albumin (BSA), bukan Dextran-70 yang umumnya dipakai, untuk memisahkan sel EPDO yang bersatu menjadi sel EPDO tunggal. Penelitian ini dilakukan di laboratorium sel kultur, Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan Universitas Gunma, Jepang, Januari 2008–Juni 2009. Uji hasil isolasi dan karakteristik sel EPDO dilakukan dengan teknik imunofloresen. Ekspresi tight junction ZO-1, menunjukkan sel EPDO membentuk selapis sel utuh, rapat, tidak bertumpuk dan kompak, sesuai dengan karakteristik dinding EPDO. Fenotip sel EPDO dikonfirmasi dengan acethylated LDL, faktor von Willebrand dan CD31. Penghancuran kapiler dengan collagenase/dispase masih menghasilkan populasi sel yang terkontaminasi perisit. Kontaminasi dimurnikan dengan menggunakan puromycin, tingkat pemurnian sel EPDO mencapai 98,3%. Simpulan, teknik modifikasi berhasil mengisolasi sel EPDO tikus dan mencit, tanpa melakukan intervensi genetik. Puromycin dapat digunakan untuk memurnikan sel EPDO. [MKB. 2010;42(4):161–8].Kata kunci: Metode modifikasi isolasi sel EPDO, pembuluh sawar otak, teknik pemurnian Isolation Modified-Method of Mouse-Brain Microvessel Endothelial Cells: Primary Cell Culture Technique in NeuroscienceIsolation method to obtain pure BMVECs is hard to be done consistently and remains a challenge. In this study, we isolated BMVECs from Wistar rat and C57/Bl6 mouse from Japan SLC. All procedures performed according to guidelines for the care and use of laboratory animals of Gunma University, Japan. The modification of isolation method was using bovine serum albumin (BSA) gradation, not Dextran-70 in which generally used, to separate clusters of BMVECs into single cell. This study was done at Universitas Padjadjaran, in colaboration with Gunma University, Japan, January 2008–June 2009. Further,characteristic and purification results were proven by imunofluorescene staining. The results showed that staining of tight junction, ZO-1, formed a monolayer, tightly packed, non-overlapping and contact-inhibited BMVECs, as expected for a vessel wall endothelial. ECs phenotype confirmed by acethylated LDL, von Willebrand and CD31. The digestion of capillaries generated contaminating pericytes. Contamination was purified using puromycin and the results considered satisfactory (98.3%). In conclusion, our modification procedure allows the isolation of primary rat and mouse BMVECs, which form an endothelial-like monolayer in few days. Puromycin can be used for purification of primary rat and mouse BMVECs. [MKB. 2010;42(4):161–8].Key words: Blood brain barrier, isolation modified-method of mouse-BMVECs, purification methods DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n4.30