cover
1.777
P-Index
Tri Hanggono Achmad
Departemen Ilmu Penyakit THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala 3Departemen Biokimia dan Biomolekuler Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
Articles
11
Documents
Embryo Quality: The Most Critical Factor for Pregnancy Rates after day-2, day-3, and day-5 of Embryo Transfer

Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Vol. 34. No. 4. October 2010
Publisher : Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To determine the most critical factor on day-2, day-3, and day-5 of embryo transfer in correlation with pregnancy rates.Method: This research is a retrospective study in Aster Fertility Clinic, IVF program- Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia. One hundred ninety five women enrolled in an IVF program conducted from March 2006 through November 2009 at the Aster Fertility Clinic. Effect of embryo-transfer day and any other factors (including quality of embryo, oocyte quantity, difficulty of embryo transfer technique, and blood or mucus contamination on the catheter) on pregnancy rate in IVF.Results: The mean age of the pregnant group was 34.65 (SD = 3.91), and the mean of the infertility period was 7.25 years (SD = 3.54). There were no siginificant differences in pregnancy rates in the day-2, day-3, and day-5 groups. The most critical factor influencing pregnancy was the total score for the quality of embryos [p = 0.001; OR (CI 95%) = 1.94 (0.91 - 4.08)]. Otherwise, the day of embryo transfer, oocyte quantity, and difficulties in embryo transfer did not affect the pregnancy rate (p > 0.05).Conclusion: Our study suggests that the total score for the quality of the embryos was the most critical factor for the success rate of pregnancy rather than the day of embryo transfer, oocyte quantity, difficulty of embryo transfer technique, or contamination of blood and mucus on the catheter.[Indones J Obstet Gynecol 2010; 34-4: 175-9]Keywords: day of embryo transfer, in vitro fertilization, quality of embryo total score, oocytes quantity, catheter contaminationTujuan: Untuk menentukan faktor yang terpenting pada keberhasilan kehamilan setelah transfer embrio hari ke-2, ke-3 dan ke-5.Metode: Penelitian ini adalah studi retrospektif di klinik Fertilitas Aster, Program IVF- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung, Indonesia. Penelitian ini melibatkan seratus sembilan puluh lima perempuan yang mengikuti program IVF sejak Maret 2006 hingga Nopember 2009. Efek dari waktu (hari) transfer embrio dan faktorfaktor lainnya (termasuk kualitas embrio, jumlah oosit, kesulitan dalam teknik transfer embrio, dan kontaminasi darah atau mukus dalam kateter) terhadap angka keberhasilan kehamilan pada IVF.Hasil: Rata-rata usia perempuan hamil pada penelitian ini 34,65 (SD = 3,91), dan rata-rata periode infertilitas 7,25 (SD = 3,54). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada angka kebehasilan kehamilan setelah transfer embrio baik pada hari ke-2, -3 dan -5. Faktor terpenting yang mempengaruhi keberhasilan kehamilan adalah skor total dari kualitas embrio [p = 0,001; OR (CI 95%) = 1,94 (0,91 - 4,08)]. Dilain fihak, waktu transfer embrio, jumlah oosit, kesulitan dalam teknik transfer embrio tidak mempengaruhi kebehasilan kehamilan (p > 0,05).Kesimpulan: Hasil studi kami menunjukkan bahwa faktor terpenting yang mempengaruhi keberhasilan kehamilan adalah skor total dari kualitas embrio dibandingkan dengan waktu transfer embrio, jumlah oosit, kesulitan dalam teknik transfer embrio, atau kontaminasi darah dan mukus dalam kateter.[Maj Obstet Ginekol Indones 2010; 34-4: 175-9]Kata kunci: hari setelah transfer embrio, fertilisasi in vitro, skor total dari kualitas embrio, jumlah oosit, kontaminasi kateter

Decreased Oxidative Stress and Apoptosis post Intermittent Hypobaric Hypoxia Exposures in Sprague Dawley Male Mice Cardiac Cells

Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 61 No. 7 July 2011
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aviators often experience intermittent hypobaric hypoxia (IHH) which may cause apoptosis. This study was aimed to analyze the effects of IHH on oxidative stress and apoptosis. Experimental study conducted in February-April 2010 consisted of one control group and four exposed groups of male mice Sprague Dawley. Each group consisted of 7 mice. The control group did not have IHH. The exposed groups (with an interval of one week) had once, twice, three, or four times IHH using a chamber flight. All exposed groups were treated hypobaric equivalent to: 35 000 ft altitude (one minutes), 25 000 ft (five minutes), and 18 000 ft (25 minutes). Protein MnSOD and Caspase-3 expression on mice heart cell were detected by Western Blot methods. In regard to protein MnSOD expressions, subjects with four time IHH exposures had likely similar level of oxidative stress (p=0.4057) compared with control groups. However, in term of protein Caspase-3 expressions, subjects with one, two times IHH exposures had increased apoptosis (p=0.0000; p=0.0001 respectively); three and four time exposures had decreased apoptosis (p=0.0187; p=0.0001 respectively). In conclusion, oxidative stress and apoptosis cell started to decrease after three-time IHH exposures in Sprague Dawley male mice. J Indon Med Assoc.2011;61:289-92.Keywords: intermittent hypobaric hypoxia, MnSOD, Caspase-3, Sprague Dawley Male Mice

Pajanan Hipoksia Hipobarik Intermiten Menurunkan Metabolisme Anaerobik pada Tikus Jantan Spraque Dawley

Jurnal Kedokteran Maranatha Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.829 KB)

Abstract

Hipoksia hipobarik intermiten (HHI) sering dialami oleh para penerbang maupun awak pesawat. Jika hipoksia berlanjut, maka terjadi metabolisme anaerobik yang berlebihan dan gangguan pada mitokondria yang menyebabkan apoptosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis efek pajanan HHI terhadap metabolisme anaerobik dengan mengukur ekspresi LDH dan kadar asam laktat sebagai indikator glikolisis serta ekspresi caspase-3 untuk melihat apoptosis sel. Dilakukan penelitian eksperimental selama periode Januari-April 2010 pada tikus jantan Spraque Dawley yang dipajankan HHI satu sampai empat kali dengan interval satu minggu. Satu kelompok kontrol tidak dipajankan hipobarik hipoksia sedangkan empat kelompok perlakuan dipajankan pada hipobarik hipoksia menggunakan type I chamber flight profile (ruang udara bertekanan rendah – RUBR) dengan modifikasi. Tekanan RUBR disesuaikan setara ketinggian 35.000 kaki selama 1-2 menit, 25.000 kaki selama 5 menit, dan 18.000 kaki selama 25 menit. Hasil penelitian menunjukkan kadar asam laktat menurun dengan semakin seringnya tikus terpajan HHI. Ekspresi protein LDH dan Caspase-3 dengan imunohistokimia dan Western Blot juga menurun dengan semakin seringnya tikus terpajan hipoksia hipobarik. Terdapat korelasi antara penurunan ekspresi protein LDH dan Caspase-3 (r = 0,522; p=0,0031). Simpulannya adalah pajanan HHI menurunkan metabolisme anaerobik yang ditandai dengan penurunan glikolisis dan apoptosis pada tikus jantan jenis Spraque Dawley.Kata kunci: hipoksia hipobarik intermiten, metabolisme anaerobik, LDH, asam laktat, Caspase-3

Polimorfisme C1167T Gen Reseptor Tipe II Transforming Growth Factor-â, Kadar Soluble Endoglin, dan Vascular Cell Adhesion Molecule-1 pada Preeklamsia

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 3 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.768 KB)

Abstract

Transforming growth factor-â (TGF-â) diduga berperan pada preeklamsia. Reseptor TGF-â tipe II (TâR-II) dihasilkan dari transkripsi gen TGF-â receptor type II (TGFBR2). Polimorfisme gen TGFBR2 pada basa C1167T dapat menyebabkan hipoksia yang menginduksi iskemia serta meningkatkan produksi solubel endoglin (sEng) dan vascular cell adhesion molecule-1 (VCAM-1). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi polimorfisme gen TGFBR2 pada basa C1167T dengan kadar sEng dan VCAM-1 ibu preeklamsia. Subjek adalah ibu preeklamsia usia kehamilan 28–42 minggu dan kehamilan normal sebagai kontrol, masing-masing 120 orang. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, September 2008–Mei 2009. Sampel berupa darah vena, pemeriksaan polimorfisme dilakukan dengan DNA Wizard® genomic DNA purification, kadar sEng dan VCAM-1 dengan imunoesai. Hasil penelitian menunjukkan polimorfisme CT pada kelompok preeklamsia 92 (76,7%) dan kontrol 70 (58,3%) {p<0,001; OR (95%CI): 2,35 (1,30–4,26)}. Kadar sEng (ng/mL) 12,46 berbanding 10,29 pada kelompok kontrol {p<0,001; OR (95%CI): 3,71 (2,11–6,57)}. Kadar VCAM-1 berbeda bermakna, yaitu 1.218,43 berbanding 705,59 {(p<0,001; OR (95%CI): 7,56 (4,11–14,0)}. Disimpulkan terdapat perbedaan proporsi dan korelasi polimorfisme C1167T gen TGFBR2, kadar sEng, dan VCAM-1 antara preeklamsia dan kehamilan normal. [MKB. 2010;42(3):115-22].Kata kunci: Polimorfisme gen TGFBR2, preeklamsia, sEng, VCAM-1C1167T Type II Transforming Growth Factor-â Receptor Gene Polymorphism, Soluble Endoglin and Vascular Cell Adhesion Molecule-1Levels in PreeclampsiaTransforming growth factor-â (TGF-â) plays a role in preeclampsia. TGF-â receptor type II (TâR-II) is produced from the transcription of the type II TGF-â receptor gene (TGFBR2). Polymorphism of TGFBR2 gene on the base C1167T could cause hipoxia that induces ischaemia and product soluble endoglin (sEng) and vascular cell adhesion molecule-1 (VCAM-1). The aim was to find out the association of C1167T type II TGF-â receptor gene polymorphism with sEng and VCAM-1 levels in preeclampsia. The study was done at Hasan Sadikin Hospital, Bandung, September 2008–May 2009. Indicates that C1167T polymorphism events were found in the preeclampsia that were 92(76.7%) of 120 cases and 70 (58.3%) control of 120 normal pregnancies with the difference in the appearance polymorphism which means p<0.001 OR (95%CI):2,35 (1.30–4.26). There was a difference between sEng (ng/μL) 12.46 for preeclampsia and 10.29 for the control group p<0.001 OR (95%CI): 3.71 (2.11–6.57). There was also a difference between VCAM-1 (ng/μL) 1,218.43 for the preeclampsia and 705.59 for the control group {p<0.001 OR (95%CI): 7.56 (4.11–14.0)}. There was a result that in preeclamptic patient having polymorphism sEng level was 14.19 ng/mL and VCAM-1 level is 961,85 ng/mL. It is concluded that there are difference proportion and association of C1167T type II TGF-â receptor gene polymorphism with sEng and VCAM-1 levels between preeclampsia and normal pregnancy patients. [MKB. 2010;42(3):115-22].Key words: Preeclampsia, sEng, TGFBR2 gene polymorphism, VCAM-1

Perbedaan Kadar Adiponektin, Asimetrik Dimetilarginin Plasma, dan Respons Vasodilatasi Arteri Brakialis antara Dewasa Muda dengan Riwayat Bayi Berat Lahir Rendah dan Normal

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.954 KB)

Abstract

Adiponektin mempunyai efek antiaterogenik, antiinflamasi, sensitizer insulin, dan berperan penting dalam mengatur pertumbuhan janin. Hipoadiponektinemia dapat menyebabkan disfungsi endotel. Risiko penyakit kardiovaskular meningkat pada subjek dengan riwayat bayi berat lahir rendah (BBLR). Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kadar adiponektin, asimetrik dimetilarginin (ADMA) plasma dan respons vasodilatasi arteri brakialis melalui tes flow mediated brachial artery (FMBA) antara dewasa muda dengan riwayat BBLR dan bayi berat lahir normal (BBLN), serta korelasi kadar adiponektin dengan fungsi endotel pada BBLR. Penelitian kohor retrospektif dilakukan periode November 2009–Januari 2010 berasal dari Growth Study Cohort Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Sebanyak 134 subjek dipilih secara simple random, terdiri atas 67 BBLR dan 67 BBLN yang karakteristik umumnya sama. Analisis multivariat melalui Hotelling’s trace menunjukkan FMBA, kadar ADMA, dan adiponektin berbeda bermakna (p<0,001) antara BBLR dan BBLN. Analisis simultaneous confidence interval menunjukkan kadar adiponektin plasma dan FMBA bermakna lebih rendah (p=0,015 dan p<0,001) pada BBLR dibandingkan dengan BBLN. Korelasi tidak bermakna antara kadar adiponektin dan ADMA (r=-0,16; p=0,176) dan FMBA (r=0,13; p=0,281) BBLR. Kecil peran adiponektin pada disfungsi endotel, mungkin variabel lain berperan, seperti tumor necrosis factor α. Simpulan, terdapat perbedaan kadar adiponektin plasma dan FMBA antara dewasa muda dengan riwayat BBLR dan BBLN, tetapi kecil peran adiponektin pada disfungsi endotel dewasa muda dengan riwayat BBLR. [MKB. 2012;44(1):1–6].Kata kunci: Adiponektin, asimetrik dimetilarginin, BBLR, tes flow mediated brachial arteryDifferences of Plasma Adiponectine, Asymmetric Dimethylarginine and Brachial Artery Vasodilatation Response in Young Adult with Low and Normal Birth Weight HistoryBeside an anti-atherosclerotic, anti-inflammation effect, and a sensitizer insulin, adiponectin also play an important role in fetal growth. Hypoadiponectinemia may lead to endothelial dysfunction. Low birth weight (LBW) has increase risk of cardiovascular disease. The aim of this study was to analyze the differences of plasma adiponectin, asymmetric dimethylarginine (ADMA) level and vasodilatation response of brachial artery by doing flow mediated brachial artery (FMBA) test between young adults with LBW and normal birth weight (NBW), and the role ofadiponectin level in endothelial function of the LBW. This was a retrospective cohort study during November 2009– January 2010, 134 subjects were randomly selected from the Growth Study Cohort of Tanjungsari Sumedang. They consisted of 67 LBW and 67 NBW young adults, with similar basic characteristics. A multivariate analysis via Hotelling’s trace showed that there was a significant difference (p<0.001) for FMBA, ADMA, and adiponectin level, but simultaneous confidence interval measurements indicated that the rate of FMBA and the level of plasma adiponectin were significantly lower (p<0.001, p=0.015, respectively) in LBW compared to NBW. The correlation between adiponectin and ADMA level (r=-0.16, p=0.176), and FMBA (r=0.13, p=0.281) in LBW were not significant, suggesting a small role of plasma adiponectin in endothelial dysfunction of young adults with LBW, other variables could play a role such as tumor necrosis factor α. In conclusions, the level of plasma adiponectin and FMBA are different between LBW and NBW, but the role of adiponectin may be small in endothelial dysfunction in young adults with LBW. [MKB. 2012;44(1):1–6].Key words: Adiponectin, asymmetric dimethylarginine, flow mediated brachial artery, LBW test DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.72

Ekspresi Bcl-2 dan Caspase-3 Pascapaparan Hipoksia Hipobarik Intermiten

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.491 KB)

Abstract

Hipoksia hipobarik intermiten sering dialami oleh awak pesawat, karena selama di dalam kabin pesawat bernapas dengan tekanan udara yang lebih rendah. Tubuh akan beradaptasi dengan cara mengikat oksigen lebih banyak dan juga mengurangi dampak hipoksia. Fungsi mitokondria akan terganggu pada hipoksia, yaitu permiabilitas membran luar mitokondria karena protein Bcl-2 menurun. Jika hipoksia berlanjut akan terjadi kebocoran membran mitokondria, pelepasan sitokrom-c, dan proses apoptosis berlangsung. Penelitian ini bertujuan menganalisis protein Bcl-2 sebagai antiapoptosis dan caspase-3 sebagai indikator apoptosis akibat paparan hipoksia hipobarik intermiten. Dilakukan penelitian eksperimental pada tikus jantan Spraque Dawley periode Januari–April 2010 dengan melakukan paparan hipoksia hipobarik intermiten satu sampai empat kali dengan interval satu minggu. Jantung tikus dijadikan spesimen untuk dilakukan pemeriksaan ekspresi protein dengan pulasan imunohistokimia di Departemen Patologi Anatomi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung dan western blot di Bagian Biomolekuler FK Universitas Indonesia Jakarta. Ekspresi protein Bcl-2 meningkat sesuai dengan frekuensi paparan hipoksia hipobarik intermiten, sebaliknya ekspresi protein caspase-3 menurun (rs=-0,448, p=0,013). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan tingkat apoptosis akibat paparan hipoksia hipobarik intermiten, hal ini disebabkan mekanisme adaptasi natural yang ditandai dengan menurunnya apoptosis sel dan secara tidak langsung akan memberi efek kardioprotektif. [MKB. 2011;43(4):166–70].Kata kunci: Apoptosis, Bcl-2, caspase-3, hipoksia hipobarik intermitenBcl-2 and Caspase-3 Expression Post Exposure of Intermittent Hypobaric HypoxiaIntermittent hypobaric hypoxia often suffered by cabin crew due to the fact that they are breathing lower pressured air inside the plane cabin. Human body will adapt by binding more oxygen and reducing hypoxia effect. Mitochondria function will be irritated by hypoxia which affect, outer mithochondrial membrane permeability due to decrease of Bcl-2 protein. Later on if hypoxia continues mitochondrial membrane will leaked cytocrome-c will released and apoptotic pathway will occur. The purpose of this study was to analyze Bcl-2 protein as antiapoptosis and caspase-3 as apoptosis indicator of intermittent hypobaric hypoxia exposure. Experimental study >was subjected to Spraque Dawley male mice during January–April 2010 by exposing them to several intermittent hypobaric hypoxias (one to four treatment) in an interval of one week. Protein expression on mice heart cell were detected by immunohistochemistry in the Department of Pathology Anatomy Padjadjaran University-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung and western blot methods in Department Biomolecullar Indonesia University Jakarta. Bcl-2 protein expressions increased according with the frequency of intermittent hypobaric hypoxia exposures while a reverse trend was found for caspase-3 protein expressions (rs=-0.448, p=0.013). From the study it can be concluded that apoptosis will be decreased as a result of intermittent hypobaric hypoxia exposures, which occurred from natural adaptation mechanism indicated by decrease of cell apoptosis and cardio protective effect will be emerged. [MKB. 2011;43(4):166–70].Key words: Apoptosis, Bcl-2, caspase-3, intermittent hypobaric hypoxia

Asam L Askorbat Meningkatkan Viabilitas HUVEC dalam Kultur P. falciparum yang Diinkubasi dengan Artemisinin Bergantung Konsentrasi

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.609 KB)

Abstract

Artemisinin, antimalaria yang sangat ampuh terhadap parasit multiresisten, bekerja melalui produksi radikal bebas. Oleh karena terjadinya alur permeasi baru pada membran eritrosit yang terparasitisasi, asam L askorbat, suatu antioksidan hidrofilik, diharapkan tidak menembus membran tersebut sehingga tidak mempengaruhi daya antimalaria artemisinin melainkan hanya mempengaruhi sel inang di luar eritrosit yang terparasitisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh asam L askorbat pada viabilitas human umbilical vein endothelial cell (HUVEC) sebagai sel inang, kadar glutation sulfil hidril (GSH), dan kadar malondialdehyde (MDA) dalam kultur Plasmodium falciparum yang diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan asam L askorbat. Penelitian ini dilakukan di Eijkman Insitute for Molecular Biology, Jakarta dari Januari 2007 sampai Januari 2008. Kultur Plasmodium falciparum strain 3D7 diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan berbagai konsentrasi asam L askorbat selama 24 jam dalam candle jar dan inkubator 37oC. Kadar GSH dan MDA pada supernatan diukur dengan spektrofotometri. Viabilitas HUVEC diukur dalam kokultur HUVEC- P. faciparum yang diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan berbagai konsentrasi asam L askorbat. Data dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) dan Tukey honestly significant difference (HSD)/Scheffe. Eksperimen menunjukkan bahwa konsentrasi asam L askorbat 20 μM dan 100 μM dapat meningkatkan viabilitas HUVEC. Disimpulkan bahwa asam L askorbat meningkatkan viabilitas HUVEC dalam kultur P. falciparum yang diikubasi dengan artemisinin bergantung konsentrasi. [MKB. 2011;43(2):66–71].Kata kunci: Artemisinin, asam L askorbat, P. falciparum, viabilitas human umbilical vein endothelial cellL Ascorbic Acid Concentration Dependently Increases HUVEC Viability inP. falciparum Culture Incubated with ArtemisininArtemisinin via overproduction of free radical acts as a potent drug against multi-drug resistant Plasmodium. because of new permeation pathway evidence at parasitized red blood cell membrane, L ascorbic acid as hydrophilic antioxidant hopefully can’t penetrate the membrane so that it won’t interfere the artemisinin antimalarial effect rather it protects the host cell out of parasitized erythrocytes. The aim of this study was to determine its effect against human umbilical vein endothelial cell (HUVEC) viability, glutathione sulfa-hydryl (GSH), and malondialdehyde (MDA) concentration in Plasmodium falciparum culture treated with artemisinin. This experiment was conducted at Eijkman Insitute for Molecular Biology, Jakarta from January 2007 to January 2008. Plasmodium falciparum 3D7 strain culture was incubated with IC50 of artemisinin and a wide concentration range of L ascorbic acid for 24 hours in a candle jar at 37oC incubator. GSH and MDA concentration were measured from the supernatant using spectrophotometer. HUVEC viability was measured in P. falciparum-HUVEC co-cultivation incubated with artemisinin IC50 and L ascorbic acid. The result was examined and analyzed using analysis of variance (ANOVA) and Tukey honestly significant difference (HSD)/Scheffe. It showed that 20 μM and 100 μM L ascorbic acid raised the HUVEC viability. It was concluded that L ascorbic acid concentration dependently increases HUVEC viability in P. falciparum culture incubated with artemisinin. [MKB.2011;43(2):66–71].Key words: Artemisinin, human umbilical vein endothelial cell viability, L ascorbic acid, P. falciparum

HUBUNGAN STATUS INSTABILITAS MIKROSATELIT DAN EKSPRESI P53 DENGAN ETIOPATOLOGI ADENOKARSINOMA KOLOREKTAL PADA ORANG INDONESIA DI KELOMPOK USIA KURANG DARI 40 TAHUN

Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8084.818 KB)

Abstract

Epidemiologically, the percentage of colorectal adenocarcinoma (CRC) in the age group ≤40 years old in Indonesia is higher than in the West European, North American and other developed Asian countries with different clinico-pathological features. In the afromentioned countries, the carcinogenesis pathway of this group is hereditary which show high microsatellite instability (MSI), whereas the age group >40 years old is sporadic of which show chromosomal instability (CIN) with the mutation of p53 gene. To elucidate the carcinogenesis pathway with its molecular characteristics of this group among Indonesians, a cross sectional study was conducted by performing the immunohistochemical detection of MLH1 and MSH2 expression (MSI status), and mutated p53 gene expression (CIN) in the CRC group ≤40 years old and >40 years old at Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, from May 2008 until November 2009. Thirty nine CRC patients, consisting of 22 patients of  ≤40 years old and 17patients >40 years old, were eligible for this study. The CRC patients of ≤40 years old showed 4 MSI high,  1 MSI lowand 17 MSS (microsatellite stable), associated with 10 p53 positive and 12 p53 negative status. In the CRC group of >40 years old, there was no MSI high, but 4 MSI low and 13 MSS were found, associated with 11 p53positive and 6 p53negative status. There was no significant difference with regards to the association between MSI status and p53 expression in both groups (p MSI=0.95, p p53=0.23).

BINDING OF ENDOTHELIN-1 TO HUMAN BLOOD MONOCYTE

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.072 KB)

Abstract

Monocyte attachment to the endothelium and migration into the vessel intima are the initiating steps in atherogenesis. This is thought to be facilitated by endothelin-1 (ET-1) as a potent chemoattractant to human blood monocytes. To explore the presence of ET-1 receptor(s) on the monocyte, we studied the binding of ET-1 to freshly isolated human blood monocytes, in the laboratory of the Institute of Clinical Biochemistry, University of Bon, Germany in 1995. Radioligand binding studies revealed the presence of two distinct subclasses of binding sites with apparent dissociation constants, K s, of 10.3 pM and 3.5 nM and maximal binding capacities, B s, of 0.027 fmol and 0.63 d max fmol/1.5x105 cells. Using monocyte migration as a response to ET-1, and ET-1 receptor antagonists BQ-123, BQ- 18257B and IRL-1038, the presence of two ET receptor subtypes, ET and ET , were detected. These results suggest A B that the chemotactic stimulus introduced by ET-1 can be activated ET-1 specific receptors on the monocytes.Key words: Endothelin-1, monocyte, receptor-bindingIKATAN ENDOTELIN-1 PADA MONOSIT DARAH MANUSIAABSTRAKMenempelnya monosit ke permukaan endotel dan bermigrasi kedalam tunika intima merupakan langkah awal pada aterogenesis. Hal ini diduga diperantarai oleh peran endotelin-1 (ET-1) yang dikenal sebagai chemoattractant poten bagi monosit. Untuk mengungkapkan adanya reseptor ET-1 pada monosit, dilakukan penelitian ikatan ET-1 pada monosit yang diisolasi dari darah manusia, di laboratorium Institute of Clinical Biochemistry, Universitas Bonn, Jerman pada tahun 1995. Penilaian ikatan radioligand menunjukkan adanya dua subkelas berbeda dari tempat ikatan dengan konstanta disosiasi (K ) masing-masing 10,3 pM dan 3,5 nM, serta kapasitas ikatan maksimal (B ) d max masing-masing sebesar 0,027 fmol dan 0,63 fmol/1,5x105 sel. Dari hasil penilaian tingkat migrasi monosit sebagai respons terhadap ET-1 dengan atau tanpa beberapa antagonis reseptor ET-1, BQ-123, BQ-18257B dan IRL-1038,terdeteksi adanya dua subtipe reseptor ET, yaitu ET dan ET . Hasil ini menunjukkan bahwa rangsangan kemotaksis A B yang ditimbulkan ET-1 dapat mengaktifkan reseptor spesifik ET-1 pada monosit.Kata kunci: Endotelin-1, monosit, ikatan-reseptor

GAMBARAN MOTIVASI MENJADI DOKTER PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.133 KB)

Abstract

Dokter adalah profesi yang luhur dan dibutuhkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kedokteran merupakan pendidikan yang tidak mudah dan membutuhkan motivasi yang kuat untuk menyelesaikannya. Motivasi internal maupun eksternal telah diketahui dapat memengaruhi proses belajar maupun hasil belajar mahasiswa. Dengan mengetahui motivasi mahasiswa maka program studi dapat merancang kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi mahasiswa kedokteran memilih pendidikan dokter dan persepsinya terhadap profesi dokter. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Seluruh mahasiswa yang masuk tahun 2014, pada bulan pertamanya ditugaskan menuliskan motivasi memilih program pendidikan dokter. Esai tersebut lalu dianalisis untuk mendapatkan kesamaan tema. Seluruh mahasiswa sebanyak 281 orang (209 perempuan, 72 laki-laki) menyatakan bahwa motivasi menjadi dokter terutama adalah untuk menolong dan menjaga kesehatan masyarakat. Motivasi lain adalah ingin mempelajari tubuh manusia lebih mendalam. Yang lain menyatakan faktor agama dan dorongan keluarga. Hampir semua mahasiswa memandang profesi kedokteran adalah profesi yang selalu dibutuhkan. Beberapa mahasiswa memandang profesi dokter masih menjanjikan kesejahteraan secara finansial. Data ini menunjukkan bahwa mahasiswa tahun pertama masih memiliki motivasi yang luhur untuk menjadi dokter. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menempuh pendidikan. Penelitian lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan motivasi mereka setelah lulus dokter.Kata kunci: motivasi, mahasiswa, profesi dokter