Asnawi Abdullah
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

Perbedaan Tingkat Kepuasan Pasien di Puskesmas Banda Aceh setelah Berlakunya Kebijakan 144 Sarah, Sitti; Abdullah, Asnawi; Adamy, Aulina
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.323 KB)

Abstract

Latar Belakang: Pelayanan kesehatan pada kebijakan 144 (diagnosis penyakit) era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas. Implementasi kebijakan 144 berimplikasi pada peningkatan jumlah kunjungan pasien ke puskesmas yang akan mempengaruhi tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Kota Banda Aceh setelah dan sebelum berlakunya kebijakan 144 (diagnosis penyakit). Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan yang menerima pelayanan kesehatan pada saat penelitian. Sampel diambil dengan tehnik purposive sampling sebanyak 121 orang di Puskesmas Baiturrahman dan 25 orang di Puskesmas Lampaseh. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon matched-pairs signed-rank test dan uji Wilcoxon rank-sum test. Hasil: Terdapat perbedaan tingkat kepuasan pasien sebelum berlakunya kebijakan 144 dengan setelah berlakunya kebijakan 144 di Puskesmas Baiturrahman dan Lampaseh pada dimensi kehandalan (p-value 0,0001), dan secara keseluruhan (p-value 0,0009). Selanjutnya terdapat perbedaan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Baiturrahman dengan Puskesmas Lampaseh setelah berlakunya kebijakan 144 pada setiap dimensi: penampilan fisik (p-value 0,0001), kehandalan (p-value 0,0001), ketanggapan (p-value 0,012), jaminan (p-value 0,002), dan empati (p-value 0,0001). Saran: Puskesmas diharapkan mampu meningkatkan kepuasan pasien secara keseluruhan terutama meliputi kenyamanan ruang pemeriksaan, pemberian informasi kepada pasien, kelengkapan alat-alat kesehatan dan obat-obatan serta memberikan pelayanan yang cepat dan tidak berbelit-belit.
Motivasi Berhenti Merokok pada Pelanggan Warung Kopi di Banda Aceh Jannah, Raudhatul; Abdullah, Asnawi; Usman, Said
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.843 KB)

Abstract

Latar Belakang: Sekitar 12,7% kematian di Indonesia disebabkan merokok. Namun ironinya jumlah perokok cenderung naik dan di Aceh prevalensi merokok mencapai 25,3%. Penelitian ini akan mengkaji tingkat motivasi berhenti merokok pada pelanggan warung kopi di Banda Aceh. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain Cross-sectional.  Populasi dalam penelitian adalah seluruh pengunjung warung kopi yang mengkonsumsi rokok secara aktif di kota Banda Aceh. Jumlah sampel sebanyak 175 orang dari 5 warung kopi teknik pengambilan sampel secara Quota Sampling. Hasil: Hasil  uji model SEM diketahui variabel yang berhubungan dengan motivasi berhenti merokok adalah variabel ekspektasi dengan nilai estimate loading factor 1,20. Variabel ekpektasi ini dipengaruhi oleh sosial dan prestasi. Variabel fisiologi dengan nilai estimate loading factor 0,32, variabel valensi dengan nilai estimate loading factor 0,04, dan  variabel maintenance tidak berhubungan dengan motivasi dimana nilai estimate loading factor 0,13. Kesimpulan: Variabel yang berhubungan dengan motivasi berhenti merokok hanya variabel ekspektasi, sedangkan variabel lain: maintenance, sosial dan valensi tidak berhubungan motivasi berhenti merokok. Saran: Disarankan kepada Provinsi Aceh agar dapat mengeluarkan regulasi Qanun Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap wilayah khususnya wilayah Banda Aceh dengan memperluas wilayah KTR di tempat-tempat umum khususnya warung kopi yang ada di Banda Aceh.
Kesediaan Melakukan Voluntary Counseling and Testing pada Kelompok Resiko HIV/AIDS Putera, Faendi; Abdullah, Asnawi; Imran, Imran
Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Ilmu Keperawatan (JIK) Volume V No.1 Januari-Juni 2017
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.223 KB)

Abstract

Abstrak Konsep sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan dalam Theory of Planned Behavior (TPB) dianggap berkaitan erat dengan kesediaan seseorang untuk melakukan VCT. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor determinan kesediaan melakukan Voluntary Counseling and Testing pada kelompok resiko HIV/AIDS di Kota Lhokseumawe. Rancangan penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross-sectional study pada 97 responden yang dipilih secara accidental sampling  pada populasi lima kelompok resiko HIV/AIDS terdiri dari  Lelaki suka lelaki, Wanita pekerja seks, Waria, Bikers, dan Warga binaan pemasyarakatan. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 18 Januari sampai dengan 13 Pebruari 2016 di Kota Lhokseumawe melalui penyebaran angket Hasil uji regresi logistik berganda didapatkan bahwa faktor determinan  kesediaan melakukan VCT adalah norma subjektif (Exp (β)=0.054; p-value=0.001) dan TPB mampu menjelaskan 21.6% faktor determinan kesediaan melakukan VCT (Nagelkerke R Square=0.216). Sehingga disimpulkan bahwa Theory of Planned Behavior mampu mengidentifikasi faktor determinan kesediaan melakukan Voluntary Counseling and Testing dengan norma subjektif sebagai faktor determinan utamanya. Konselor dan Penjangkau Lapangan hendaknya melakukan pendekatan dengan orang–orang terdekat kelompok sasaran intervensi kesehatan dalam rangka meningkatkan keberhasilan program terkait pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing.Kata Kunci: Kelompok resiko HIV/AIDS, Kesediaan melakukan Voluntary Counseling and Testing, Theory of Planned Behavior.  AbstractConcepts of attitude, subjective norms, and perceived behavior control in the Theory of Planned Behavior considered to have significant correlation to VCT uptake’s intention. This study aimed to identify determinants factors of voluntary and counseling testing uptake’s intention among HIV/AIDS risk groups in Lhokseumawe. This was an analytic with cross-sectional study on 97 respondents selected through accidental sampling technique among five HIV/AIDS risk groups consists of Men who have sex with men, Female sex workers, Transsexual, Bikers, and Prisoners, conducted from January 18 to February 13, 2016 in Lhokseumawe. Data were collected using questionnaire. The results by binary logistic regression test showed that determinant factor of VCT uptake’s intention was subjective norms (Exp (β)=0.054; p-value=0.001) and TPB explained the variability in VCT uptake’s intention by 21.6% (Nagelkerke R Square=0.216). Therefore it concluded that the Theory of Planned Behavior could  identify determinant factor of Voluntary Counseling and Testing uptake’s intention with subjective norms as its main determinant. The counselors and field personals  should assemble with the target group’s significant in order to improve the program success associated to the Voluntary Counseling and Testing service use.Key Words: HIV/AIDS Risk groups, The Theory of Planned Behavior, Voluntary Counseling and Testing uptake’s Intention.
Kemandirian Keluarga Dalam Merawat Klien Skizofrenia Sari, Cut Dian Sukma; Hasballah, Kartini; Abdullah, Asnawi
Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Ilmu Keperawatan (JIK)
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.006 KB)

Abstract

AbstrakSkizofrenia merupakan gangguan psikotik kronis yang memiliki dampak tidak hanya masalah bagi penderita tapi bagi keluarganya juga. Dampak skizofrenia mempengaruhi kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan skizofrenia. Dengan menggunakan metode survey analitik dan dengan pendekatan cross sectional study penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian keluarga dalam merawat klien skizofrenia. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang merawat anggota keluarga dengan skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Batoh kota Banda Aceh berjumlah 42 orang. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan teknik total sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan skala likert dengan metode pengumpulan data secara angket. Data dianalisa secara univariat, bivariat  menggunakan Chi-Square Test dan multivariat menggunakan uji statistik Binary Logistic. Hasil penelitian diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor usia dengan kemandirian keluarga (p value=0,158), tidak terdapat hubungan antara faktor pendidikan dengan kemandirian keluarga (p value=1,000), terdapat hubungan yang signifikan antara faktor struktur keluarga dengan kemandirian keluarga (p value=0,000), terdapat hubungan yang signifikan antara faktor budaya dengan kemandirian keluarga (p value= 0,009) dan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan dengan kemandirian keluarga (p value=0,000). Hasil penelitian ini menunjukkaan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi kemandirian keluarga klien skizofrenia di Wilayah Kecamatan Batoh Kota Banda Aceh adalah struktur keluarga dengan nilai p adalah 0,039 dan nilai odd ratio (OR) sebesar 11,172 serta lingkungan dengan nilai p adalah 0,032 dan nilai odd ratio (OR) sebesar 23,870Kata kunci : kemandirian, keluarga, skizofrenia. AbstractSchizophrenia is a chronic psychotic disorder that affects not only problems for the sufferer but for the family as well. The impact of schizophrenia affects family independence in caring for family members with schizophrenia. By using analytical survey method and with cross sectional study approach, this study aims to determine the factors that influence the family independence in caring for schizophrenic clients. The population in this study is the family who cared for family members with schizophrenia in the work area of Batoh City Health Center Banda Aceh amounted to 42 people. Data collection in this research is done by total sampling technique. Instrument of data collection using likert scale with data collection method by questionnaire. Data were analyzed by univariate, bivariate using Chi-Square Test and multivariate using Binary Logistic statistic test. The result showed that there was no correlation between age factor and family independence (p value = 0,158), there was no correlation between education factor and family independence (p value = 1,000), there was significant correlation between family structure factor and family independence (p value = 0,000), there is a significant correlation between culture factor and family independence (p value = 0,009) and there is significant relation between environmental factor and family independence (p value = 0,000). The results of this study indicate that the most dominant factor influencing the independence of the family of schizophrenic clients in the Batoh sub-district of Banda Aceh is the family structure with p value is 0.039 and the odd ratio (OR) of 11,172 and the environment with p value is 0.032 and the odd ratio OR) of 23.870Keywords : independence, family, schizophrenia
JAMINAN KESEHATAN ACEH (JKA) DAN PENGUATAN SISTEM KESEHATAN DI PROVINSI ACEH Abdullah, Asnawi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asnami Abdullah, PhD*Dosen Kopertis Wilayah I, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh AbstractMany strategies have been implemented to improve health system performance in Aceh since last five years including improving healthcare infrastructure, human resources capacity and financing systems. Since early June 2010, Government of Aceh has introduced a health insurance scheme called JKA. This study analysed to what extent the JKA scheme could strengthen health system performance in Aceh. The analysis was performed using the World Health Organization (WHO) health system framework. Theoretically, JKA could strengthen health system performance, however the balance of financial risk and incentive among implementers are the key success of program that should be taken into account by stakeholders. The scheme should not only focus on clinical curative services but also promotive and preventive services. Regular supervision and monitoring of impact on accessibility, the quality of care and level of satisfaction both patient and providers are key components of sustainability of scheme.Keywords : JKA, healthcare, health care, health insurance
Editorial - Kelebihan Berat Badan: Bukan Lagi Indikator Kemakmuran, namun Indikator Penyakit Abdullah, Asnawi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelebihan berat badan atau obesitas sudah menjadi suatu epidemic baru ditatanan global. Menggunakan definisi World Health Organization (WHO) tentang obesitas (bila seseorang sudah mempunyai Body Mass Index (BMI) atau indeks masa tubuh (IMT) lebih besar sama dengan 30 kg/m2)  , sekarang ini secara global ada sekitar 1,6 milyar orang dewasa sudah masuk dalam kategori kelebihan berat badan (overwight) dan 400 juta diantaranya terindikasi obese secara klinik (clinically obese)[1]. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat (the USA), prevalence obesitas sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan dan telah dianggap suatu ancaman terhadap tatanan system kesehatan nasional negara tersebut[2],[3]. Betapa tidak, di tahun 2007 – 2008 saja, sudah 35.5% penduduk Amerika yang menderita obesitas[4]. Anehnya, epidemic ini tidak hanya terjadi di Negara maju, namun juga sudah merambah ke Negara berkembang. Beberapa Negara berkembang di timur tengah misalnya seperti Arab Saudi Arabia, prevalence obesitas bahkan sudah mencapai 35.6% pada tahun sejak satu decade yang lalu[5]. Di Indonesia, belum ada data yang akurat, namun beberapa survey melaporkan bahwa sekitar 24% wanita Indonesia sudah menderita obesitas[6]. Angka ini diperkirakan akan terus meningkatnya seiring dengan perubahan gaya hidup dan perubahan pola konsumsi makanan dikalangan masyarakat Indonesia.Dulu, kelebihan berat badan sering diasosiasikan sebagai salah satu indicator kemakmuran seseorang. Namun penelitian belakangan ini, terutama di Negara maju, prevalensi obesitas tertinggi justru di kalangan masyarakat dengan social ekonomi rendah. Di Negara berkembang, memang prevalensi obesitas masih dilaporkan lebih tinggi dikalangan masyarakat berpenghasilan tinggi, namun ke depan diperkirakan akan berubah seiring peningkatan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat; peningkatan kesadaran akan pentingnya olah raga dan kebugaran dikalangan masyarakat terutama masyarakat dengan sosial ekonomi tinggi dan masyarakat yang mempunyai daya beli akan makanan-makanan sehat dan gizi seimbang. Makanan siap saji fast food sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat berpenghasilan tinggi, namun sebaliknya masyarakat dengan social ekonomi menengah dan rendah justru baru menikmatinya. Tidak heran pangsa pasar makanan fast food saat ini bergeser ke pinggiran kota dan kota-kota kecil. Tidak akan lama lagi, kegemukan juga akan bergeser ke masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah dan obesitas bukan lagi indicator kemakmuran namun justru indikator kehidupan masih “pas-pasan”.Selain bukan lagi indicator kemakmuran, hal yang menarik, belakangan ini, obesitas sudah dianggap sebagai suatu penyakit. Bila anda gemuk, maka anda sedang menderita penyakit. Hal ini didukung oleh berbagai hasil kajian dan publikasi ilmiah di berbagai jurnal internasional. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa obesitas merupakanfaktor resiko berbagai penyakit kronik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[7] menginventarisir sedikitnya ada 20 jenis penyakit berkaitan dengan obesitas, termasuk: insulin resistensi, dyslipidaemia, type-2 diabetes, tekanan darah tinggi, stroke, osteoarthritis, meningkatnya uricacid dalam darah, kanker, gangguan kesuburan danjanin pada ibu yang menderita obesitas. Sebagai contoh, hasil studi meta-analysis terbaru, menyimpulkan bahwa orang yang mempunyai kelebihan berat badan (obesitas), mempunyai resiko tujuh kali lebih besar untuk menderita type-2 diabetes dari pada orang yang mempunyai berat badan normal (relative risk (RR) 7.19 (95% CI: 5.74 – 9.00)[8]. Overweight mempunyai resiko menderita ischemic stroke 22% kali lebih besar dari pada orang normal, sedangkan obesitas mencapai 64% lebih tinggi dengan RR secara berturut-turut 1.22 (95% CI: 1.05 – 1.41) dan 1.64 (95% CI: 1.36 – 1.99)[9]. Meta-analysis studi dari 33 cohort studi negara-negara Asia Pasifik[10] menyimpulkan bahwa setiap dua unit peningkatan BMI, akan meningkatkan resiko jantung koroner (coronary heart diseases) sebesar 11% (95% CI: 9% - 13%). Disamping itu, masalahnya tidak hanya dengan beberapa berat, namun juga lamanya seseorang obese; makin lamanya seseorang hidup dengan kelebihan berat badan baik overweight mupun obesitas, makin besar resiko untuk menderita berbagai penyakit di atas. Hasil penelitian terbaru disimpulkan bahwa setiap dua tahun seseorang hidup dengan kelebihan berat badan (obesitas), maka resiko menderita type 2 diabetes meningkat sebesar 13% [RR=1.13 (95% CI 1.09 – 1.17)] untuk laki-laki dan sekitar 12% untuk wanita dengan RR 1.12 (95% CI 1.08 – 1.16)[11]. Bahkan beberapa penelitian melaporkan obesitas mempunyai juga resiko kematian dini[12]- [13] - [14]-[15] -[16]. Ini semuanya mengindikasikan bahwa ternyata obesitas sama sekali bukan lagi indicator kemakmuran, namun justru indicator penyakit dan kematian dini.[1] World Health Organization. Fact Sheet: Obesity and Overweight. http://who.int/mediacentre/factsheets/fs311/en/index.html. Accessed 20 May 2010. [2] Task Force on Childhood Obesity. Solving the Problem of Childhood Obesity within a Generation: White House Task Force on Childhood Obesity Report to the President 2010. [3] Gregg EW, Guralnik JM. Is disability obesity’s price of longevity? JAMA : the journal of the American Medical Association. 2007; 298 (17) : 2066 – 2067. [4] Flegal KM, Carroll MD, Ogden CL, Curtin LR. Prevalence and trends in obesity among US adults. 1999-2008. Jan 20 2010;303 (3) : 235 – 241. [5] Low S, Chin MC, M. D – Y. Review on epidemic of obesity. Ann Acad Med Singapore. Jan 2009;38 (1):57-59. [6] Sassi F. Obesity and the Economics of Prevention : Fit not Fat. Vol 2010: OECD; 2010. [7] World Health Organization. Obesity: Preventing and managing the global epidemic. Report of a WHO consultation. WHO Technical Report Series. Geneva;2000. [8] Abdullah A, Peeters A, de Courten M, Stoelwinder J. The Magnitude of association between overweight and obesity and the risk of diabetes: A meta-analysis of prospective cohort studies. Diabetes Research and Clinical Practice. 2010;89 (3) : 309-319. [9] Strazzullo P, D’Elia L, Cairella G, Garbagnati F, Cappuccio FP, Scalfi L. Excess body weight and incidence of stroke: meta-analysis of prospective studies with 2 million participants. Stroke. May 2010;41 (5):e418-426. [10] Ni Mhurchu C, Rodgers A, Pan WH, Gu DF, Woodward M. Body mass index and cardiovascular disease in the Asia-Pacific Region: an overview of 33 cohorts involving 310.000 participants. Int J Epidemiol. Aug 2004;33(4):751-758. [11] Abdullah A, Stoelwinder J, Shortreed S, et al. The duration of obesity and the risk of type 2 diabetes. Public Health Nutrition. Jun 29 2010: Available on JCO 29 Jun 2010; doi: 2010.1017/S1368980010001813.[12] Ringback Weitoft G, Eliasson M, Rosen M. Underweight, overweight and obesity as risk factors for mortality and hospitalization. Scand J Public Health. Mar 2008;36 (2):169-176. [13] McGee DL, Diverse Populations C. Body mass index and mortality: a meta-analysis based on personal-level data from twenty-six observational studies. Ann Epidemiol. Feb 2005;15 (2): 87 – 97.[14] Janssen I, Mark AE. Elevated body mass index and mortality risk in the elderly.Obes Rev. Jan 2007; 8 (1):41-59.[15] Hu FB. Obesity Epidemiology. New York: Oxford University Press; 2008.[16] Abdullah A, Wolfe R, Stoelwinder JU, et al. The number of years lived with obesity and the risk of all-cause and cause-specific mortality. Int J Epidemiol. Feb 27 2011, doi:10.1093/ije/dyr018.
Kesediaan Melakukan Voluntary Counseling and Testing pada Kelompok Resiko HIV/AIDS Putera, Faendi; Abdullah, Asnawi; Imran, Imran
Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Ilmu Keperawatan (JIK) Volume V No.1 Januari-Juni 2017
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.223 KB)

Abstract

Abstrak Konsep sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan dalam Theory of Planned Behavior (TPB) dianggap berkaitan erat dengan kesediaan seseorang untuk melakukan VCT. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor determinan kesediaan melakukan Voluntary Counseling and Testing pada kelompok resiko HIV/AIDS di Kota Lhokseumawe. Rancangan penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross-sectional study pada 97 responden yang dipilih secara accidental sampling  pada populasi lima kelompok resiko HIV/AIDS terdiri dari  Lelaki suka lelaki, Wanita pekerja seks, Waria, Bikers, dan Warga binaan pemasyarakatan. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 18 Januari sampai dengan 13 Pebruari 2016 di Kota Lhokseumawe melalui penyebaran angket Hasil uji regresi logistik berganda didapatkan bahwa faktor determinan  kesediaan melakukan VCT adalah norma subjektif (Exp (β)=0.054; p-value=0.001) dan TPB mampu menjelaskan 21.6% faktor determinan kesediaan melakukan VCT (Nagelkerke R Square=0.216). Sehingga disimpulkan bahwa Theory of Planned Behavior mampu mengidentifikasi faktor determinan kesediaan melakukan Voluntary Counseling and Testing dengan norma subjektif sebagai faktor determinan utamanya. Konselor dan Penjangkau Lapangan hendaknya melakukan pendekatan dengan orang–orang terdekat kelompok sasaran intervensi kesehatan dalam rangka meningkatkan keberhasilan program terkait pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing.Kata Kunci: Kelompok resiko HIV/AIDS, Kesediaan melakukan Voluntary Counseling and Testing, Theory of Planned Behavior.  AbstractConcepts of attitude, subjective norms, and perceived behavior control in the Theory of Planned Behavior considered to have significant correlation to VCT uptake’s intention. This study aimed to identify determinants factors of voluntary and counseling testing uptake’s intention among HIV/AIDS risk groups in Lhokseumawe. This was an analytic with cross-sectional study on 97 respondents selected through accidental sampling technique among five HIV/AIDS risk groups consists of Men who have sex with men, Female sex workers, Transsexual, Bikers, and Prisoners, conducted from January 18 to February 13, 2016 in Lhokseumawe. Data were collected using questionnaire. The results by binary logistic regression test showed that determinant factor of VCT uptake’s intention was subjective norms (Exp (β)=0.054; p-value=0.001) and TPB explained the variability in VCT uptake’s intention by 21.6% (Nagelkerke R Square=0.216). Therefore it concluded that the Theory of Planned Behavior could  identify determinant factor of Voluntary Counseling and Testing uptake’s intention with subjective norms as its main determinant. The counselors and field personals  should assemble with the target group’s significant in order to improve the program success associated to the Voluntary Counseling and Testing service use.Key Words: HIV/AIDS Risk groups, The Theory of Planned Behavior, Voluntary Counseling and Testing uptake’s Intention.
Kemandirian Keluarga Dalam Merawat Klien Skizofrenia Sari, Cut Dian Sukma; Hasballah, Kartini; Abdullah, Asnawi
Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Ilmu Keperawatan (JIK)
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.006 KB)

Abstract

AbstrakSkizofrenia merupakan gangguan psikotik kronis yang memiliki dampak tidak hanya masalah bagi penderita tapi bagi keluarganya juga. Dampak skizofrenia mempengaruhi kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan skizofrenia. Dengan menggunakan metode survey analitik dan dengan pendekatan cross sectional study penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian keluarga dalam merawat klien skizofrenia. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang merawat anggota keluarga dengan skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Batoh kota Banda Aceh berjumlah 42 orang. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan teknik total sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan skala likert dengan metode pengumpulan data secara angket. Data dianalisa secara univariat, bivariat  menggunakan Chi-Square Test dan multivariat menggunakan uji statistik Binary Logistic. Hasil penelitian diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor usia dengan kemandirian keluarga (p value=0,158), tidak terdapat hubungan antara faktor pendidikan dengan kemandirian keluarga (p value=1,000), terdapat hubungan yang signifikan antara faktor struktur keluarga dengan kemandirian keluarga (p value=0,000), terdapat hubungan yang signifikan antara faktor budaya dengan kemandirian keluarga (p value= 0,009) dan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan dengan kemandirian keluarga (p value=0,000). Hasil penelitian ini menunjukkaan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi kemandirian keluarga klien skizofrenia di Wilayah Kecamatan Batoh Kota Banda Aceh adalah struktur keluarga dengan nilai p adalah 0,039 dan nilai odd ratio (OR) sebesar 11,172 serta lingkungan dengan nilai p adalah 0,032 dan nilai odd ratio (OR) sebesar 23,870Kata kunci : kemandirian, keluarga, skizofrenia. AbstractSchizophrenia is a chronic psychotic disorder that affects not only problems for the sufferer but for the family as well. The impact of schizophrenia affects family independence in caring for family members with schizophrenia. By using analytical survey method and with cross sectional study approach, this study aims to determine the factors that influence the family independence in caring for schizophrenic clients. The population in this study is the family who cared for family members with schizophrenia in the work area of Batoh City Health Center Banda Aceh amounted to 42 people. Data collection in this research is done by total sampling technique. Instrument of data collection using likert scale with data collection method by questionnaire. Data were analyzed by univariate, bivariate using Chi-Square Test and multivariate using Binary Logistic statistic test. The result showed that there was no correlation between age factor and family independence (p value = 0,158), there was no correlation between education factor and family independence (p value = 1,000), there was significant correlation between family structure factor and family independence (p value = 0,000), there is a significant correlation between culture factor and family independence (p value = 0,009) and there is significant relation between environmental factor and family independence (p value = 0,000). The results of this study indicate that the most dominant factor influencing the independence of the family of schizophrenic clients in the Batoh sub-district of Banda Aceh is the family structure with p value is 0.039 and the odd ratio (OR) of 11,172 and the environment with p value is 0.032 and the odd ratio OR) of 23.870Keywords : independence, family, schizophrenia
Hubungan Budaya Organisasi dan Insentif Terhadap Kinerja Pegawai di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Munandar, Munandar; Amiruddin, Ridwan; Abdullah, Asnawi
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rumah sakit dihadapkan pada upaya penyesuaian diri untuk merespons dinamika eksternal dan integrasi potensi-potensi internal dalam melaksanakan tugas yang semakin kompleks guna mempertahankan kinerja (pelayanan kesehatan kepada masyarakat). Tingkat kinerja pegawai cenderung dipengaruhi oleh budaya organisasi yang berlaku. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kinerja Pegawai. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Aceh di Banda Aceh sebanyak 1.040 orang dan hanya 852 yang memenuhi syarat. Sampel yang digunakan adalah simple random sampling yang berjumlah 90 orang. Analisis data menggunakan uji Chi-square untuk analisis bivariat dan uji regresi logistik untuk analisis multivariat. Hasil: Uji statistik diperoleh ada hubungan antara budaya organisasi (P-value = 0,001) dan Insentif (P-value = 0,001) dengan kinerja pegawai di RSUZA. Hasil analisis multivariat diperoleh hasil bahwa budaya organisasi (P-value = 0,001 dan OR 7,62) dan insentif (P-value = 0,001 dan OR 7,83) merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kinerja pegawai di RSUZA. Saran: Kepada rumah sakit untuk dapat meningkatkan budaya organisasi dan insentif yang lebih baik untuk tercapainya kinerja pegawai yang baik.
Analisis Faktor Kepatuhan Tenaga Medis Puskesmas dalam Penulisan Resep Obat Berbasis Formularium Nasional di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar Mutia, Rita; Darmawan, Ede Surya; Abdullah, Asnawi
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Formularium obat merupakan pedoman penggunaan obat secara rasional yang diresepkan kepada pasien. Namun faktanya masih ada obat yang tidak sesuai dengan stadar formularium nasional (fornas) dalam resep obat yang diberikan oleh dokter kepada pasien. Di Kabupaten Aceh Besar penggunaan obat di luar fornas sebanyak 80% artinya masih tingginya pemakaian obat di luar fornas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kepatuhan dokter puskesmas dalam penulisan resep obat berbasis formularium nasional. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga medis puskesmas (dokter umum dan dokter gigi) sebanyak 87 orang. Sampel yang digunakan adalah total sampling dan sampel resep sebanyak 870 resep. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner melalui wawancara. Hasil: Ada hubungan antara Pengetahuan (P = 0,028), Informasi (P = 0,0001), dan Beban Kerja (P = 0,005) dengan Kepatuhan Dokter dalam penulisan resep obat berbasis fornas. Berdasarkan analisis multivariat diperoleh hasil bahwa Informasi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap Kepatuhan Dokter dalam penulisan resep obat berbasis fornas (P = 0,0001 dan OR: 9,20). Kesimpulan: Kepada kepala puskesmas agar berupaya meningkatkan kepatuhan tenaga medis dalam penulisan resep obat sesuai formularium dan mengadakan evaluasi terhadap penulisan resep sesuai dengan formularium atau tidak.