Ishak Abdulhak
Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

Desain Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran IPA (Fisika) Sekolah Menengah Pertama Di Kota Bandung

BERKALA FISIKA Vol 13, No 2 (2010): Berkala Fisika, Edisi Khusus
Publisher : BERKALA FISIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.236 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya literasi sains yang mencakup kerja ilmiah dan kemampuan pemecahan masalah khususnya pada mata palajaran IPA (Fisika). Melalui penelitian ini dikaji permasalahan yaitu bagaimana model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran IPA (Fisika) di SMP. Tujuan penelitian adalah untuk mendesain model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada mata pelajaran IPA (Fisika) di SMP kelas VIII. Penelitian dilaksanakan di SMP di Kota Bandung menggunakan pendekatan research and development. Proses dilaksanakan melalui tahapan: studi pendahuluan untuk mendapatkan landasan pengembangan model dan pengembangan untuk mendapatkan model hipotetik melalui dua kali ujicoba. Berdasarkan penelitian ini diperoleh simpulan: Pertama, model pembelajaran Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah (PKPM) dapat diterapkan pada mata pelajaran IPA (Fisika) di SMP kelas VIII dengan karakteristik materi pelajaran bersifat kontekstual dalam bentuk masalah yang harus dipecahkan melalui eksperimen. Metode pembelajaran yang digunakan menempatkan siswa sebagai subjek belajar serta guru sebagai fasilitator belajar. Interaksi pembelajaran dilaksanakan melalui tanya-jawab, penyelidikan/eksperimen, kolaboratif, dan latihan. Implementasi model meliputi: (1) Pendahuluan yang meliputi penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran, pengembangan suasana partisipatif, orientasi masalah kontekstual, dan pengorganisasian siswa; (2) Inti yang meliputi penyelidikan/eksperimen kolaboratif, penyajian hasil karya, pemberian penghargaan, dan latihan pemecahan masalah; serta (3) Penutup yang meliputi analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah dalam bentuk refleksi serta rekonstruksi pemikiran dan aktivitas proses pembelajaran. Kedua, implementasi model pembelajaran PKPM merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran IPA (Fisika) di SMP kelas VIII. Dampak penggunaan model tersebut antara lain: (1) Meningkatnya peran siswa dalam pembelajaran dan membuka peluang bagi siswa untuk melakukan kerja ilmiah; serta (2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah, penguasaan konsep, dan menumbuhkan kebiasaan berpikir dalam menyikapi masalah.   Kata kunci: Model Pembelajaran, Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah, Konstruktivisme, Berpikir Reflektif.

Pembelajaran sebagai Faktor Determinatif dalam Pembentukan Sikap dan Perilaku Wirausaha

Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6, No 3 (1999)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10207.231 KB)

Abstract

This study is to determine the learning factors in the establishment of attitudes and behavioral enterpreneurship which are implemented through individual, group, and mass learning activities. The distributors of PT Centra Nusa Insancemerlang (CNI) which conducted its business using Multi Level Marketing (MLM) were chosen as the object of the study. This study did not use individual or social characteristics and procedure involvement as study requirement. In general, distributors were actively involved in searching for and improving patterns and learning model in order to make more creative and dynamic businesses. As a result, positive attitudes and behavioral enterpreneurship can be gained to increase social and economical status.

URGENSI PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEADAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA CALON GURU AGAMA PADA FAKULTAS TARBIYAH DI PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM

Tadib Vol 17, No 01 (2012): Pendidikan Islam
Publisher : Faculty of Education and Teaching, Raden Fatah State Islamic University of Palembang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.962 KB)

Abstract

Educational challenges requires the improvement of the quality of learning.one of the challenges of learning in teacher education institutions is theweak development of prospective teachers. Shulman mentions that to improve thequality of learning for candidate teachers is through the concept of pedagogicalcontent knowledge (PCK). Tarbiyah Faculty as LPTK that prepares prospectivecandidate teachers of religion is considered important to seek the mastery of  PCK skills through the development model of learning offered at the lecturing session. One of the benefits of PCKconcept is to be able to build the integrity of the candidate teacher’s competencies in mastering the content and pedagogy as a whole. The concept of PCK presents to overcome the problem of incompleteness of thecurriculum presentation that presents the content aspect on the one hand andaspects of pedagogy on the other side of other split aspects.

The Development for School Program in order to Encourage Students’ Spiritual Intelligence

ATIKAN Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Modernity has caused crises of meaning and value. The indictment for productivity, effectiveness and efficiency, material, and instant process is the main characteristic of modern life which has led to the fading of family educational meanings and social values. The development for spiritual intelligence program is expected to decrease the effects of those meaning and value crises. This paper tries to elaborate the roles of educational institution in facing the challenges of modernity in the era of globalization. The research focussed on the Primary School of Al-Azhar Syifa Budi Parahyangan in West Bandung Regency, West Java, Indonesia that has developed a school program named “Mumtaz” School. This program consists of 15 activities relating to the indicators for students’ spiritual intelligence, which are the ability to draw meaning from an event, the willingness to serve in religious activities, expression of gratitude, the ability to develop social values, the implementation of good deeds, finding and determining life goals, honesty, and patience. Advanced spiritual intelligence will result a noble character of students who serve God, perform social responsibity to themselves, people, and their surroundings. Finally, all stakeholders are responsible to build several characters related to spiritual intelligence, namely politeness, happiness, humbleness, respect, spirit, and discipline.KEY WORD: School programs, spiritual quotient, modernity, moral crisis, primary school, teaching-learning process, and nobility values.IKHTISAR: Artikel ini berjudul “Pengembangan Program Sekolah untuk Mendorong Kecerdasan Spiritual Siswa”. Modernitas telah menyebabkan krisis makna dan nilai. Tuntutan terhadap produktivitas, efektivitas dan efisiensi, kekayaan materi, dan proses instan adalah ciri utama kehidupan modern yang telah menyebabkan pudarnya makna pendidikan dalam keluarga dan nilai-nilai sosial. Pengembangan program kecerdasan spiritual diharapkan dapat mengurangi dampak yang timbul dari krisis makna dan nilai tersebut. Tulisan ini mencoba untuk menguraikan peran lembaga pendidikan dalam menghadapi tantangan modernitas di era globalisasi. Penelitian ini difokuskan pada Sekolah Dasar Al-Azhar Syifa Budi Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia yang telah mengembangkan program sekolah bernama Sekolah “Mumtaz”. Program ini terdiri dari 15 kegiatan yang berhubungan dengan indikator kecerdasan spiritual siswa, yang berkemampuan untuk menarik makna dari suatu peristiwa, kesediaan untuk melayani dalam kegiatan keagamaan, ungkapan rasa syukur, kemampuan untuk mengembangkan nilai-nilai sosial, melakukan perbuatan baik, menemukan dan menentukan tujuan hidup, kejujuran, dan kesabaran. Kecerdasan spiritual selanjutnya akan menghasilkan akhlak mulia siswa yang bertakwa kepada Allah, mampu melakukan tanggung jawab sosial untuk diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungan mereka. Akhirnya, semua pihak bertanggung jawab untuk membangun beberapa karakter yang berhubungan dengan kecerdasan spiritual, yaitu kesopanan, kebahagiaan, rendah hati, saling menghormati, semangat, dan disiplin.KATA KUNCI: Program sekolah, kecerdasan spiritual, modernitas, krisis moral, sekolah dasar, proses belajar-mengajar, dan nilai-nilai mulia.    About the Authors: Hadiana is a Doctoral Candidate in Educational Cultural Studies at the Faculty of Humanities UNPAD (Padjadjaran University) Bandung, West Java, Indonesia; Prof. Dr. H. Syarief Hidayat is a Lecturer at the Faculty of Humanities UNPAD Bandung; and Prof. Dr. H. Ishak Abdulhak is a Lecturer at the Faculty of Education UPI (Indonesia University of Education) in Bandung. Corresponding author is: hadiana8@yahoo.co.idHow to cite this article? Hadiana, Syarief Hidayat & Ishak Abdulhak. (2013). “The Development for School Program in order to Encourage Students’ Spiritual Intelligence” in ATIKAN: Jurnal Kajian Pendidikan, Vol.3(2) December, pp.151-160. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung and FKIP UNSUR in Cianjur, West Java, ISSN 2088-1290. Chronicle of the article: Accepted (October 25, 2013); Revised (November 25, 2013); and Published (December 15, 2013).

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK BERVARIASI UNTUK MENINGKATKAN SIKAP NASIONALISME PESERTA DIDIK

SOSIO-DIDAKTIKA: Social Science Education Journal SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal Vol. 5 No. 2 2018
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.969 KB)

Abstract

Salah satu karakter yang dibutuhkan dalam era pendidikan abad 21 adalah  nasionalisme. untuk menciptakan peserta didik yang memiliki nasionalisme yang kuat, maka diperlukan model pembelajaran yang dapat menguatkan sikap nasionalisme.Dalam dokumen kurikulum 2013, salah satu tujuan diajarkan geografi di SMA supaya  peserta didik tetap mampu  menunjukkan perilaku cinta tanah air, bangga sebagai bangsa Indonesia, dan bertanggung jawab terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. Sementara dalam silabus tidak ada materi khusus yang membahas mengenai nasionalisme itu sendiri.  Maka desain model PIKB (Pembelajaran Investigasi Kelompok Bervariasi) ini adalah solusinya. model pembelajaran PIKB ini  mengadopsi konsepnya dari model investigasi kelompok yang dijelaskan oleh  Joyce (2009:319). Model PIKB  merubah dan memaknai   materi pelajaran geografi yang biasa diajarkan  menjadi luar biasa efeknya bagi sikap nasionalisme peserta didik. Berdasarkan  parameter nasionalisme yang dikemukakan oleh Hertz (1944:171) yaitu : 1) Memiliki  rasa ingin  untuk selalu mencapai kesatuan dan persatuan 2) keinginan  untuk mencapai kemerdekaan 3) keinginan  untuk mencapai keaslian 4) keinginan   untuk mencapai kehormatan bangsa. Diperoleh  skor Pengetahuan, sikap dan perilaku nasionalisme peserta peserta didik mengalami kenaikan yang signifkan. 

Peran Penerapan Model Pembelajaran Asuhan Bayi Baru Lahir Terintegrasi Terhadap Motivasi dan Kompetensi Mahasiswa Serta Kepuasan Pasien pada Praktik Klinik Kebidanan

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 2 (2016): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.837 KB)

Abstract

Kualitas lulusan bidan dalam memberikan asuhan bayi baru lahir  cenderung menurun dan belum sesuai harapan masyarakat, perlu perbaikan kualitas dimulai dari proses pendidikan. Proses pembelajaran kebidanan saat ini sebagian besar diberikan secara terpisah antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lain sehingga mahasiswa bersikap pasif dan  tidak dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang holistik. Diperlukan model pembelajaran terintegrasi dengan mengintegrasikan  kebutuhan  masyarakat dan menyesuaikan dimensi fisiologis, psikologis, agama, budaya dengan kompetensi asuhan bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran penerapan model pembelajaran asuhan bayi baru lahir terintegrasi terhadap motivasi dan kompetensi mahasiswa serta kepuasan pasien pada praktik klinik kebidanan. Desain penelitian intervensi  dengan kuasi eksperimental one group pre- post- test design. Subjek penelitian 37 mahasiswa semester IV prodi D-III kebidanan UNS Surakarta. Subjek penelitian diberikan  pre-test untuk penilaian awal dan  post-test setelah diberikan intervensi berupa pemberian materi model pembelajaran asuhan bayi baru lahir terintegrasi selama 4 minggu.Tes dilakukan untuk menilai motivasi dan kompetensi mahasiswa serta efek asuhan yang diberikan oleh mahasiswa terhadap kepuasan pasien yang bayinya mendapat asuhan bayi baru lahir dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara deskriptif dan dilakukan uji statistik menggunakan uji wilcoxon (median skor, rentang), untuk mengetahui hubungan antar variabel menggunakan uji spearman rho. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan motivasi dan kompetensi mahasiswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran dengan median skor motivasi (52,0 vs 76,0, p<0,05). Jumlah mahasiswa yang kompeten sebelum dan sesudah praktik klinik kebidanan (0 vs18). Efek peningkatan kompetensi mahasiswa berpengaruh 21,4% terhadap kepuasan pasien yang bayinya mendapat asuhan oleh mahasiswa, 78,6 % dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulan penelitian ini adalah terdapat efek penerapan model pembelajaran asuhan bayi baru lahir terintegrasi terhadap motivasi dan kompetensi mahasiswa serta kepuasan pasien pada praktik klinik kebidanan namun  perlu dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui faktor lain yang memengaruhi kepuasan pasien.

Pengaruh Penerapan Model Evaluasi Praktik Klinik terhadap Pencapaian Tahapan Kompetensi Asuhan Persalinan Mahasiswa D III Kebidanan

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 1 (2016): Maret
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.203 KB)

Abstract

Setiap mahasiswa akan mampu menguasai kompetensi jika diberi waktu sesuai dengan kebutuhannya. Model evaluasi praktik klinik berdasarkan pembelajaran tuntas dan tahapan pembelajaran motorik dimaksudkan agar dapat mengidentifikasi kompetensi sehingga pembelajaran dilakukan dengan tepat.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penerapan model evaluasi praktik klinik terhadap pencapaian tahapan kompetensi asuhan persalinan (kesiapandiri, sub kompetensi dan kompetensi komprehensif) mahasiswa kebidanan.Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimen dengan posttest-only with nonequivalent control groups.Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 27 orang kelompok perlakuan dan 26 orang kelompok kontrol.Kelompok perlakuan menerapkan model evaluasi praktik klinik, sedangkan kelompok kontrolhanya menggunakan alat evaluasi tanpa menerapkan model evaluasi.Tempat penelitian dilakukan di RSUD Soreang dan RSUD Majalaya padabulan September-Desember 2015.Hasil penelitian mendapatkan pencapaian kompetensi asuhan persalinan pada tahap pemula kelompok perlakuan sebesar 89%, tahap transisi 56% dan tahap mandiri 41%.Sementara pada kelompok kontrol pencapaian kompetensi pada tahap pemula dan transisi adalah 0%, dan pencapaian tahap mandiri hanya 4%.Dengan demikian terdapat perbedaan pencapaian kompetensi yang bermakna pada tiap tahapan pembelajaran antara kelompok perlakuan dan kontrol (p < 0.05).Simpulan pada penelitian ini adalah model evaluasi praktik klinik berpengaruh terhadap pencapaian tahapan kompetensi asuhan persalinan pada mahasiswa D III Kebidanan.

Penerapan Model Pembelajaran Asuhan Kehamilan Terintegrasi untuk Meningkatkan Kompetensi Mahasiswa D-III Kebidanan Di Indonesia

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 3 (2015): September
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompetensi Bidan masih belum sepenuhnya siap untuk terjun ke lahan praktik. Dampak dari kurangnya kompetensi Bidan akan berimbas pada rendahnya mutu pelayanan kebidanan. Model pembelajaran asuhan kehamilan terintegrasi merupakan model pengajaran atau instruksional untuk membantu mahasiswa mengembangkan pemahaman asuhan kehamilan yang mendalam dan sistematis secara bersamaan dan melatih cara berpikir kritis, melibatkan beberapa nilai mata pelajaran antara lain nilai agama, nilai psikologi, nilai budaya, nilai etika hukum kesehatan, dan nilai komunikasi dan konseling yang diperlukan sehingga batas-batas antar mata pelajaran dapat ditiadakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Tujuan dari penelitian ini adalahmenganalisispengaruh penerapan model pembelajaran asuhan kehamilan terintegrasi terhadap pencapaian kompetensi mahasiswa D-III Kebidanan.Desainpenelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperimen terhadap 87 mahasiswa di STIKES Bhakti Pertiwi Indonesia Jakarta yang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu 44 mahasiswa diberi model pembelajaran asuhan kehamilan terintegrasi dan 43 mahasiswa diberi pembelajaran asuhan kehamilan konvensional. Setelah diberi intervensi kedua kelompok diuji kompetensinya yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan tentang asuhan kehamilan.Analisis data menggunakan uji chi-kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran asuhan kehamilan terintegrasi berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi mahasiswa D-III Kebidanan dengan nilai p<0,05, mahasiswa dengan model pembelajaran asuhan kehamilan konvensional memiliki risiko tidak kompeten sebesar 9,3 kali dibandingkan dengan model pembelajaran asuhan kehamilan terintegrasi.Simpulan penelitian ini yaitupencapaian kompetensi mahasiswa dengan model pembelajaran asuhan kehamilan terintegrasi lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa dengan model pembelajaran asuhan kehamilan konvensional, tetapi belum mampu menjadikan seluruh mahasiwa kompeten, dengan demikian masih diperlukan perbaikan sistem pembelajaran terintegrasi sehingga pencapaian kompetensi dapat tercapai sesuai harapan. 

Motivasi dan Kompetensi Mahasiswa serta Kepuasan Pasien setelah Mendapatkan Model Pembelajaran Asuhan Nifas Terintegrasi

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 4 (2015): Desember
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.668 KB)

Abstract

Pendidikan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi kualitas bidan. Didasarkan atas kajian sebelumnya bahwa pendidikan bidan perlu menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pasien,serta melibatkan multi disiplin ilmu.Diharapkan dengan pendekatan tersebut, dapat meningkatkan kompetensi bidan. Penelitian mengenai kurikulum terintegrasi telah banyak dilakukan pada pendidikan kedokteran, dan terbukti efektif meningkatkan kompetensi mahasiswa. Namun, penelitian kurikulum kebidanan terintegrasi di Indonesia masih terbatas. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa penerapan asuhan nifas terintegrasi terhadap peningkatan motivasi dan kompetensi mahasiswa serta kepuasan pasien dalam praktek klinik kebidanan. Penelitian ini menggunakan metodequasi eksperiment dengan pre-post one group design. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester IV program studi DIII Kebidanan UNS dan pasien yang mendapat pelayanan asuhan nifas oleh mahasiswa. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa 37 orang, dan pasien 37 orang yang mendapat pelayanan dari mahasiswa. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juli 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan motivasi dan kompetensi sebelum dan sesudah diberikan model pembelajaran asuhan nifas terintegrasi (p<0,001). Rata-rata peningkatan pengetahuan mahasiswa sebesar 20,27%, peningkatan sikap sebanyak 20,27%, dan peningkatan ketrampilan sebanyak 21,63%. Sebelum diberikan asuhan nifas terinetgrasi, mahasiswa tidak ada yang kompeten, namun sesudahnya terdapat 22 orang mahasiswa yang kompeten. Kompetensi mahasiswa meningkatkan kepuasan pasien sebesar 10,667 kali (OR=10,667). Unsur kompetensi yang paling memengaruhi kepuasan adalah ketrampilan (p<0,001). Kepuasan pasien dipengaruhi oleh ketrampilan mahasiswa sebanyak 40%. Simpulan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran asuhan nifas terintegrasi mampu meningkatkan motivasi dan kompetensi mahasiswa D III Kebidanan, serta meningkatkan kepuasan pasien pada praktik klinik kebidanan.

Peran Penerapan Model Pembelajaran Asuhan Persalinan Kala I dan II Terintegrasi Terhadap Motivasi dan Kompetensi Mahasiswa serta Kepuasan Pasien pada Praktik Klinik Kebidanan

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 4 (2015): Desember
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.465 KB)

Abstract

Asuhan persalinan  yang diberikan bidan sesuai kebutuhan dan menyesuaikan dimensi fisiologis, psikologis, agama, budaya yang dipadukan dengan kompetensi dasar dalam asuhan persalinan. Penerapan model pembelajaran asuhan persalinan kala I dan II terintegrasi diharapkan dapat meningkatkan motivasi, kompetensi dan sesuai harapan masyarakat yaitu memberikan kepuasan pelayanan yang diberikan mahasiswa DIII Kebidanan  pada praktik klinik. Tujuan penelitian ini adalah mengukur perbedaan motivasi, kompetensi mahasiswa, menganalisis hubungan motivasi dan kompetensswsi serta menganalis peranan kompetensi terhadap kepuasan pasien Metode penelitian menggunakan quasy experimental dengan one group pretest-postest design. Subyek penelitian adalah mahasiswa DIII Kebidanan semester IV Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta,  pasien yang diberi asuhan persalinan kala I dan II terintegrasi oleh mahasiswa masing masing sejumlah 37 responden dan memenuhi kriteria inklusi. Perbedaan motivasi, kompetensi dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, uji Rank Spearman untuk menganalisis korelasi motivasi dan kompetensi (pengetahuan, sikap, ketrampilan) dengan kepuasan pasien. Hasil penelitian ini, ada peningkatan rerata nilai motivasi 40,48%, pengetahuan 57,8%, sikap 53,6%, ketrampilan 52,47%, dan kompetensi mahasiswa 64,86% sesudah penerapan model pembelajaran asuhan persalinan kala I dan II terintegrasi. Korelasi motivasi dan kompetensi menunjukkan p>0,485, peranan kompetensi terhadap kepuasan (variabel ketrampilan) mempunyai korelasi sedang sebesar 0,567  (r2=32,14%) terhadap kepuasan pasien. Simpulan dalam penelitian ini adalah terdapat  peningkatan motivasi dan kompetensi motivasi dan kompetensi mahasiswa sesudah penerapan model pembelajaran asuhan persalinan kala I dan II terintegrasi, tidak ada korelasi antara motivasi dengan kompetensi mahasiswa. Kompetensi mahasiswa berperan terhadap kepuasan dengan aspek ketrampilan yang paling berperan terhadap kepuasan pasien pada praktik klinik kebidanan.