Articles

Sistem Tracking Panel Surya Untuk Pengoptimalan Daya Menggunakan Metode Kendali Logika Fuzzy Haq, Alfin Imadul; ., Sumardi; Riyadi, Munawar A
SINERGI Vol 18, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.865 KB)

Abstract

Salah satu jenis energi alternatif yang berkembang pesat dan banyak digunakan adalah energi matahari yang digunakan sebagai pembangkit listrik, dalam bentuk panel surya. Dalam rangka mengoptimalkan penggunaan panel surya tersebut, diperlukan sebuah sistem pengendali yang dapat mengontrol posisi panel surya agar selalu mengikuti arah dan posisi dari matahari secara otomatis. Sistem yang digunakan untuk pengaturan tersebut dinamakan sistem tracking matahari dengan dua derajat kebebasan. Sistem ini bekerja menggunakan perubahan daya yang terbaca oleh panel surya. Kelebihan dari sistem ini dapat mengikuti posisi matahari. Dalam sistem ini digunakan perbandingan daya yang terbaca oleh sistem dan mencari yang paling optimal diantara daya tersebut. Berdasarkan perbedaan daya yang diterima, Kendali Logika Fuzzy akan menggerakkan motor servo untuk melakukan aksi kendali terhadap posisi panel surya supaya selalu  tegak lurus terhadap posisi matahari. Perbandingan respon unjuk kerja antara sistem yang tanpa menggunakan kontroler fuzzy yaitu tegangan =15,40 V, arus = 0,46 A, dan daya = 7.17 W , sedangkan untuk sistem yang menggunakan kontroler fuzzy 2 DOF (Degree Of Freedom) menghasilkan tegangan = 15,54 V, arus = 0,51 A, dan daya = 7.94  W. Sistem yang dibuat sudah mengikuti matahari untuk mencapai daya yang maksimal.
PERANCANGAN DAN ANALISIS ANTENA DELTA LOOP DOUBLE BAND SEBAGAI PENERIMA SIARAN TELEVISI VHF (VERY HIGH FREQUENCY) DAN UHF (ULTRA HIGH FRQUENCY) Pratama, Aditya; Christiyono, Yuli; Riyadi, Munawar Agus
TRANSMISI Vol 16, No 4 (2014): TRANSMISI
Publisher : TRANSMISI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.943 KB)

Abstract

Abstrak   Perkembangan teknologi saat ini sudah semakin pesat, terutama dalam pembuatan antena sebagai penerima siaran televisi, baik siaran televisi analog maupun siaran televisi digital. Antena memiliki banyak sekali jenis dan bentuk guna dapat menerima siaran televsi dengan baik. Dengan semakin berkembangya bentuk antena, maka dibutuhkan kreativitas yang lebih untuk membuat sebuah antena yang dapat menerima siaran televisi analog maupun digital. Pada penelitian ini antena loop double band disimulasikan dan diimplementasikan. Antena tersebut dirancang pada frekuensi 175,4MHz untuk VHF dan 580,1 MHz untuk UHF. Bahan yang digunakan adalah kawat seng dengan ketebalan kawat sebesar 3mm, lalu dibentuk segitiga dengan panjang ketiga sisinya sebesar 56cm. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil untuk antena delta loop-A bekerja pada pita frekuensi VHF =  200 MHz, VSWR = 1,03 dan pada frekuensi UHF = 540 MHz, VSWR = 1,06. Antena delta loop-B bekerja pada pita frekuensi VHF = 200 MHz, VSWR = 1,05 dan pada frekuensi UHF = 540, VSWR = 1,07. Pola radiasi dari kedua antena menunjukkan bahwa antena memiliki pola radiasi berbentuk directional yang dapat diaplikasikan sebagai penerima siaran terestrial TV analog pada rentang frekuensi VHF dan siaran terrestrial TV digital pada rentang frekuensi UHF. Kata kunci: VHF-UHF, antena, delta loop double band,  frekuensi, VSWR, pola radiasi     Abstract   The development of technology is now growing rapidly, especially in the manufacture of television broadcasting antenna as a receiver, either for analog or digital television. Antenna has many types and forms in order to be able to receive broadcasts television well. With the development of antenna’s shape, it needs more creativity to make an antenna that can receive both analog and digital television broadcasts.. In this research, double band loop antenna was simulated and implemented. The antenna was designed for frequency of 175,4 MHz for VHF and 580,1 MHz for UHF. The materials used were zinc wire with 3mm thickness which later be formed in triangle (delta) with the length of 56 cm for each sides. Based on test results, the delta loop antenna-A works on 200 MHz VHF frequency band with VSWR = 1.03 and at 540 MHz UHF frequency band with VSWR = 1.06, while for delta-loop antenna-B works on 200 MHz VHF frequency band with VSWR = 1.05 and at 540 MHz UHF frequency band with VSWR = 1.07. The radiation pattern of antenna revealed directional patterns which can later be applied as a receiver for analog TV for VHF frequencies and digital TV for UHF frequencies.   Keywords; VHF - UHF, antennas, delta loop double band, VSWR, radiation pattern
PERANCANGAN DAN ANALISIS ANTENA J-POLE DUALBAND DENGAN VARIASI BENTUK “T” UNTUK KOMUNIKASI RADIO TRANSCEIVER PADA PITA VHF DAN UHF Krismawardana, Yoga; Christyono, Yuli; Riyadi, Munawar Agus
TRANSMISI Vol 17, No 1 (2015): TRANSMISI
Publisher : TRANSMISI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.937 KB)

Abstract

Abstrak   Radio transceiver merupakan salah satu aplikasi dari sistem telekomunikasi nirkabel yang masih banyak digunakan sampai saat ini. Istilah transceiver digunakan karena radio tersebut dapat berfungsi sebagai transmitter dan receiver. Pada penelitian ini disimulasikan dan diimplementasikan sebuah antena J-Pole dualband untuk komunikasi radio transceiver pada pita VHF dan UHF. Antena tersebut dirancang pada frekuensi 146 MHz dan masih dapat beresonansi dengan baik pada pita UHF dengan menambahkan elemen pengkompensasi berbentuk “T”. Material yang digunakan adalah kawat besi dengan diameter 4 mm. Antena J-Pole-T ini diuji untuk mendapatkan nilai-nilai frekuensi kerja, VSWR, return loss, lebar pita, gain, dan pola radiasi untuk selanjutnya dibandingkan dengan hasil simulasinya menggunakan CST Microwave Studio pada CST Studio Suite 2011. Pengujian juga dilakukan langsung menggunakan radio transceiver dan menggunakan antena radio lain sebagai pembanding. Berdasarkan hasil pengujian, antena J-Pole-T memiliki frekuensi kerja pada 148 MHz dengan nilai VSWR 1;1,1, sementara pada pita UHF didapatkan frekuensi kerja pada 454 MHz dengan nilai VSWR 1:1,05. Pola radiasi antena J-Pole-T menunjukkan pola omnidirectional. Hasil pengujian kualitatif pada skala laboratorium dengan mengimplementasikan antena J-Pole-T  pada radio transceiver juga menunjukkan bahwa antena J-Pole-T dapat memancarkan dan menerima sinyal sejauh 1.470 meter pada pita VHF dan 930 meter pada pita UHF.   Kata Kunci: antena J-Pole-T, VHF-UHF dualband, VSWR, omnidirectional     Abstract   Transceiver radio is a kind of wireless telecommunication system application that still commonly used nowadays. The term transceiver is used due to its function as transmitter and receiver at once. In this research, a dualband J-Pole antenna was simulated and implemented for transceiver radio communication at VHF and UHF band. This antenna is designed at frequency of 146 MHz and still able to resonate well at UHF band by adding a “T” shaped compensating element. The material used is an iron wire with diameter of 4 mm. That J-Pole-T antenna is measured to get the resonance frequency, VSWR, return loss, bandwidth, gain, and radiation pattern then compared to the simulation result using software CST Studio Suite 2011. Based on measurement results, the J-Pole-T antenna is resonating at frequency of 148 MHz with VSWR 1:1,1, while at the UHF band it is resonating at 454 MHz with VSWR 1:1,05. The radiation pattern of J-pole-T antenna is  showing an omnidirectional shape. The measurement result based on the laboratory scale also showed that the J-Pole-T antenna can transmit and receive radio signal as far as 1,470 meters at VHF band and 930 meters at UHF band. Keyword : J-Pole-T antenna, VHF-UHF dualband, VSWR, omnidirectional
SISTEM TRACKING PANEL SURYA UNTUK PENGOPTIMALAN DAYA MENGGUNAKAN METODE KONTROL SELF-TUNING PID DENGAN JST JENIS PERCEPTRON Azmy, Achmad Ulul; Sumardi, Sumardi; Riyadi, Munawar Agus
TRANSMISI Vol 17, No 1 (2015): TRANSMISI
Publisher : TRANSMISI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.329 KB)

Abstract

Abstrak   Energi matahari merupakan salah satu energi  terbarukan. Matahari dapat memacarkan energi sebesar 3,86 x 1026 joule setiap detiknya. Sayangnya, energi matahari masih belum dimanfaatkan secara masal. Hal ini disebabkan karena harga panel surya yang masih terbilang cukup mahal dan efisiensinya yang masih rendah. Selain itu, kurangnya pemanfaatan energi matahari juga dikarenakan ketersediaan sumber energi lain yang masih melimpah dan menghasilkan jumlah energi yang lebih banyak. Dalam rangka mengoptimalkan penggunaan sebuah panel surya, salah satu caranya adalah dengan menambahkan sebuah sistem pengendali yang dapat mengatur posisi panel surya secara otomatis agar selalu mendapatkan nilai daya yang optimal dengan menggunakan metode kontrol self-tuning PID dengan jaringan syaraf tiruan model perceptron yang dilatih secara offline dan ditanamkan di dalam Mikrokontroler ATMega 8535. Sel surya tanpa sistem kendali mampu menghasilkan tegangan sebesar 15,66 V, arus listrik sebesar 0,49 A, daya sebesar 7,479 W, dan energi listrik sebesar 2581,0806 Watt menit atau 32.6453 Wh. Sedangkan sistem dengan kendali menghasilkan tegangan sebesar 15,98 V, arus listrik sebesar 0,57 A, daya sebesar 8,98 W dan energi yang dihasilkan sebesar 2709.6527 Watt menit atau 45.1609 Wh, sehingga sistem mempunyai kenaikan energi sebesar 4,981%. Hasil dari sistem ini adalah panel surya dapat mengikuti posisi matahari sehingga mendapatkan nilai tegangan, arus dan daya yang lebih besar dibandingkan denganpanel surya yang statis. Kata kunci: Panel Surya, Tracking, self-tuning PID, Jaringan Syaraf Tiruan, Perceptron , ATMega 8535     Abstract Solar energy is one of alternative renewable energy. Sun can emitting energy approximately 3,86 x 1026 joule every second. Unhappily, solar energy wasn’t utilize a mass. It’s caused by solar cell’s price are still relative expensive and its efficiency still low. Besides, insufficiently harnessed of solar energy also caused of other energy source accessibility that stills abundant and resulting total more energy a lot of. In order to optimize purpose a solar cell, one of the ways it is by add a control system that can manage solar pane position automatically that always get optimal energy point by use of self-tuning PID with perceptron neural network that imbedded in Microcontroller ATMega 8535. The solar cell without control system can result voltage as big as 15,66V, electric current 0,49A, electricity power 7,479W, and electricity energy 2709.6527 Watt Minutes or 154,8648 KWh. Meanwhile system that using controller result voltage as big as 15,98V, electric current 0,57A, electricity power 8,98W and electricity energy 2709.6527 Watt Minutes or 162,579 Kwh, so the system efficiency was increased by 4,981%. Result of this system is solar pane can track the sun position so is gotten point good voltage, current and also superordinate energy is compared with static solar pane.   Keywords: Solar Cell, Tracking, self-tuning PID, Artificial Neural Network, Perceptron , ATMega 8535
Sistem Tracking Panel Surya Untuk Pengoptimalan Daya Menggunakan Metode Kendali Logika Fuzzy Haq, Alfin Imadul; ., Sumardi; Riyadi, Munawar A
Sinergi Vol 18, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.865 KB)

Abstract

Salah satu jenis energi alternatif yang berkembang pesat dan banyak digunakan adalah energi matahari yang digunakan sebagai pembangkit listrik, dalam bentuk panel surya. Dalam rangka mengoptimalkan penggunaan panel surya tersebut, diperlukan sebuah sistem pengendali yang dapat mengontrol posisi panel surya agar selalu mengikuti arah dan posisi dari matahari secara otomatis. Sistem yang digunakan untuk pengaturan tersebut dinamakan sistem tracking matahari dengan dua derajat kebebasan. Sistem ini bekerja menggunakan perubahan daya yang terbaca oleh panel surya. Kelebihan dari sistem ini dapat mengikuti posisi matahari. Dalam sistem ini digunakan perbandingan daya yang terbaca oleh sistem dan mencari yang paling optimal diantara daya tersebut. Berdasarkan perbedaan daya yang diterima, Kendali Logika Fuzzy akan menggerakkan motor servo untuk melakukan aksi kendali terhadap posisi panel surya supaya selalu  tegak lurus terhadap posisi matahari. Perbandingan respon unjuk kerja antara sistem yang tanpa menggunakan kontroler fuzzy yaitu tegangan =15,40 V, arus = 0,46 A, dan daya = 7.17 W , sedangkan untuk sistem yang menggunakan kontroler fuzzy 2 DOF (Degree Of Freedom) menghasilkan tegangan = 15,54 V, arus = 0,51 A, dan daya = 7.94  W. Sistem yang dibuat sudah mengikuti matahari untuk mencapai daya yang maksimal.
PERANCANGAN SISTEM PEGENDALI SUHU PADA PROTOTYPE GREEN HOUSE DENGAN METODE TUNNING PID MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN Abdurrachman, Ajib; Sumardi, Sumardi; Riyadi, Munawar Agus
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 3, NO. 4, DESEMBER 2014
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Semakin berkembangnya teknologi terutama pada bidang pertanian menuntut adanya sistem kendali yang baik supaya dapat menunjang proses sekaligus untuk dapat meningkatkan efisiensi dalam menghasilkan produk yang unggul. Salah satu perkembangan teknologi dalam dunia pertanian yaitu adanya Green House atau rumah tanaman. Dalam dunia pertanian, lingkungan menjadi faktor terpenting karena kondisi lingkungan akan mempengaruhi keberhasilan kualitas dan kuantitas produksi. Oleh sebab itu kondisi lingkungan pertanian sangat diperhatikan sesuai dengan jenis tanamannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi lingkungan adalah suhu lingkungan. Faktor tersebut bisa direkayasa untuk mendapatkan kondisi lingkungan optimal bagi pertumbuhan tanaman agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Sistem ini menggunakan prinsip heat exchanger yang dimodifikasi sedimikian rupa sehingga menjadi media penghasil udara dingin, yang mana SHT-11 digunakan sebagai sensor pembaca suhu. Berdasarkan suhu yang diterima, kemudian jaringan saraf tiruan akan menetukan parameter PID. Parameter tersebut kemudian digunakan sebagai kendali kecepatan fan DC agar suhu ruangan tetap pada referensi yang diinginkan. Dari berbagai perbandingan pengujian yang dilakukan secara keseluruhan respon sistem plant kendali suhu dengan kendali tuning PID menggunakan jaringan saraf tiruan tipe delta rule menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kendali PID metode Ziegler-Nichols. Kata kunci: Suhu, SHT-11, Jaringan Saraf Tiruan, PID   Abstract Developments in agriculture technology require the existence of good control systems that can support the process and can increase the efficiency for superior production producing. One of the developments in agriculture technology is Green House or Planting Home. In agriculture, environment is the most important factor because environmental condition will influence product’s quality and quantity. Therefore, the environmental condition in agriculture has to be concerned according to different plants. One of factors that can influence environmental condition is ambient temperature. The factor can be engineered, so plants can grow well and it can increase the product’s quality and quantity. The final project used Heat Exchanger principle to produce controlled air temperature, where the SHT-11 was used as the temperature sensor reader. Based on sensed temperature, an artificial neural network will determine PID parameter. Then the parameter was used as a motor cooling fan DC speed controller so that temperature will be in desired reference. Overall, the respond of planting technique that uses temperature controller with tuning PID control that uses artificial neural network shows a better compared to that of PID control with Ziegler-Nichols method.         Keyword: Temperature, SHT-11, Artificial Neural Network, PID 
APLIKASI BUCKBOOST CONVERTER SEBAGAI PENYEDIA DAYA ARUS SEARAH PADA RANGKAIAN TEGANGAN TINGGI IMPULS Wardana, Adam Kusuma; Facta, Mochammad; Riyadi, Munawar Agus
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 3, NO. 4, DESEMBER 2014
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Buckboost Converter merupakan salah satu tipe DC Chopper yang mempunyai nilai tegangan keluaran lebih besar atau lebih kecil dari nilai tegangan masukan. Polaritas tegangan keluarannya berbanding terbalik dengan tegangan masukan. Tegangan keluaran dapat diatur berdasarkan pengaturan duty cycle pada switching MOSFET.Atas dasar karakteristik Bucboost Converter di atas maka pada penelitian ini, Buckboost Converter akan dicoba untuk diaplikasikan sebagai penyedia tegangan DC variabel untuk rangkaian tegangan tinggi impuls. Buckboost Converter dipilih karena memiliki efisiensi yang cukup tinggi dan secara fisik lebih kecil daripada sumber tegangan AC yang dapat diatur (variac) pada umumnya. Buckboost Converter dirancang untuk menyuplai pembangkit tegangan tinggi impuls yang menggunakan trafo flyback. Trafo flyback digunakan karena memiliki struktur yang sederhana tapi mampu menghasilkan tegangan keluaran mencapai 20 kV. Beban yang digunakan berupa plat elektroda yang bisa menghasilkan ozon karena mudah dalam pembuatannya dan memiliki nilai resistansi yang tinggi sehingga dapat meningkatkan tegangan tinggi impuls.Berdasarkan hasil pengujian, tegangan Buckboost Converter yang digunakan untuk mensuplai trafo flyback adalah 5,47 Volt, 8,5 Volt, 12,9 Volt dan 19,6 Volt, tegangan tersebut diatur dengan duty cycle secara berurutan yakni 10%, 20%, 30%, dan 40%. Tegangan tinggi impuls yang dihasilkan dari flyback adalah 4,12 kV, 6,8kV, 14,22kV, dan 20,11 kV. Kata Kunci :Buckboost Converter, flyback, tegangan tinggi impuls  Abstract Buckboost Converter is a type of DC Chopper that has an output voltage magnitude that is either greater than or less than the input voltage magnitude. The output voltage is of the opposite polarity than the input. The output voltage is adjustable based on the duty cycle of the switching MOSFET.Based on the Bucboost Converter characteristics on the above,  so in this research, Buckboost Converter will be attempted to be applied as a variable DC voltage source to a high voltage impulse circuit.Buckboost Converter is chosen because it has a fairly high efficiency and is physically smaller than the AC voltage source that can be set (variac) in general. Buckboost Converter is designed to supply the high voltage impulse generator that uses the flyback transformer. Flyback transformer is used because it has a simple structure but is capable to generate output voltages up to 20 kV. The load to be used is in the form of plate electrodes that can produce ozone because it is easy to make and has a high resistance value so as to increase the high voltage impulse.Based on test results, Buckboost Converter voltageis used to supply the flyback transformer are 5.47 volts, 8.5 volts, 12.9 volts and 19.6 volts, the voltage is adjustable based on the duty cycle in a sequence are 10%, 20%, 30%, and 40%. High voltage impulses generated from the flyback are 4.12 kV, 6,8kV, 14,22kV, and 20.11 kV. Keywords:Buckboost Converter, flyback, high voltage impulse 
PERANCANGAN DAN ANALISIS ANTENA DELTA LOOP DOUBLE BAND SEBAGAI PENERIMA SIARAN TELEVISI VHF (VERY HIGH FREQUENCY) DAN UHF (ULTRA HIGH FRQUENCY) Pratama, Aditya; Christiyono, Yuli; Riyadi, Munawar Agus
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 3, NO. 4, DESEMBER 2014
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi saat ini sudah semakin pesat, terutama dalam pembuatan antena sebagai penerima siaran televisi, baik siaran televisi analog maupun siaran televisi digital. Antena memiliki banyak sekali jenis dan bentuk guna dapat menerima siaran televsi dengan baik. Dengan semakin berkembangya bentuk antena, maka dibutuhkan kreativitas yang lebih untuk membuat sebuah antena yang dapat menerima siaran televisi analog maupun digital. Pada penelitian ini akan disimulasikan dan diimplementasikan antena loop double band yang nantinya dapat diaplikasikan sebagai penerima siaran terestrial TV analog pada rentang frekuensi VHF dan siaran terrestrial TV digital pada rentang frekuensi UHF. Antena tersebut dirancang pada frekuensi 175,4MHz untuk VHF dan 580,1 MHz untuk UHF. Bahan yang digunakan adalah kawat seng dengan ketebalan kawat sebesar 3mm, lalu dibentuk segitiga dengan panjang ketiga sisinya sebesar 56cm. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil untuk antena delta loop-A bekerja pada pita frekuensi VHF =  200 MHz, VSWR = 1,03 dan pada frekuensi UHF = 540 MHz, VSWR = 1,06. Antena delta loop-B bekerja pada pita frekuensi VHF = 200 MHz, VSWR = 1,05 dan pada frekuensi UHF = 540, VSWR = 1,07. Pola radiasi dari kedua antena menunjukkan bahwa antena memiliki pola radiasi berbentuk directional. Kata kunci: VHF-UHF, antena, delta loop double band,  frekuensi, VSWR, pola radiasi  Abstract The development of technology is now growing rapidly, especially in the manufacture of television broadcast antenna as a receiver, either analog television or digital television broadcasts. Antenna has many types and forms in order to be able to receive broadcasts televsi well. With the development of antenna’s shape, it takes more creativity to make an antenna that can receive both analog and digital television broadcasts.. In this research will be simulated and implemented double band loop antenna which can later be applied as a broadcast receiver analog TV for VHF frequencies and digital TV for UHF frequencies. The antenna is designed at a frequency of 175,4 MHz for VHF and 580,1 MHz for UHF. The materials used are zinc wire with 3mm thickness, and then make the wire become triangle (delta) with the length of it`s sides  is 56 cm. Based on test results, obtained results for delta loop antenna-A works on 200 MHz VHF frequency band with VSWR = 1.03 and at 540 MHz UHF frequency band with VSWR = 1.06. B delta-loop antenna works on 200 MHz VHF frequency band with VSWR = 1.05 and at 540 MHz UHF frequency band with VSWR = 1.07. Keywords; VHF - UHF, antennas, delta loop double band, VSWR, radiation pattern
Sistem Load Balancing Menggunakan Least Time First Byte dan Multi Agent System Afriansyah, Muhammad Faizal; Somantri, Maman; Riyadi, Munawar Agus
Jurnal Nasional Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (JNTETI) Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1274.741 KB)

Abstract

Network activity has increased in every year due to rapid growth of internet users. This phenomenon eventually increases the load server. The high load on server makes server down. The proposed system to handle the issue is using Least Time First-Byte algorithm and multi-agent system in distributed load balancing. The agent collects information resources on the backend servers and communicates with the agents. The Least Time First-Byte algorithm is then combined with the information resources from the agent, called as Least Time First Byte with Multi Agent System (LFB-MAS). The simulation results show that LFB-MAS performs load balance efficiently to all server and provides better performance. The LFB-MAS can process 100% from the 1,800 requests, whereas WLC algorithm is only capable of processing 74.50% from 1,800 requests and LFB without agent is only capable of processing 75.61% from 1,800 requests. The results prove that LFB-MAS can handle high tasks or requests and is reliable.
PERANCANGAN PEMBANGKIT TEGANGAN TINGGI IMPULS BERBASIS KONVERTER FLYBACK Prakosa, Johanes Nugroho Adhi; Facta, Mochammad; Riyadi, Munawar Agus
TRANSMISI Vol 17, No 2 (2015): TRANSMISI
Publisher : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik – Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.268 KB)

Abstract

Abstrak Salah satu bentuk  fenomena tegangan tinggi adalah gelombang tegangan tinggi berbentuk impuls. Gelombang impuls tegangan tinggi ini secara teoritik dapat digunakan untuk mekanisne terjadinya surface discharge. Surface discharge adalah fenomena peluahan muatan pada permukaan isolasi padat. Dengan berkembangnya teknologi elektronika daya, tegangan tinggi impuls dapat dibangkitkan. Penggunaan rangkaian flyback dan MOSFET dapat menggantikan rangkaian pembangkit tegangan tinggi impuls konvensional yang dibuat dari trafo dan sela bola sehingga memiliki volume dan berat. Dalam penelitian ini dirancang konverter flyback yang mampu menghasilkan tegangan tinggi impuls. Konverter flyback dipicu oleh IC TL494. Frekuensi osilasi dari IC TL494 mampu mempengaruhi hasil tegangan keluaran konverter flyback. Tegangan suplai konverter flyback adalah 16 V, 24 V, 34 V dan 43 V. Frekuensi osilasi yang digunakan yaitu 1 kHz, 2 kHz, 3 kHz, 4 kHz, dan 5 kHz. Sebagai beban konverter flyback dibuat dua buah plat ozon berbentuk “meander” dan “sisir” yang akan menghasilkan surface discharge khusunya. Ketika diberi beban plat ozon bentuk “meander”, diperoleh tegangan keluaran minimal dan maksimal konverter flyback sebesar 6,98 kV dan 19, 50 kV. Sedangkan untuk plat ozon bentuk “sisir”diperoleh tegangan keluaran minimal dan maksimal konverter flyback sebesar 9,00 kV dan 24,92 kV.   Kata Kunci : Frekuensi osilasi, flyback, tegangan tinggi impuls, surface discharge     Abstract One of high voltage phenomenon is high voltage impulse waveform. High voltage impulse used for surface discharge mechanism. Surface discharge is a discharge phenomenom on the surface of solid insulation. With the development of power electronic technology, high voltage impulse could be generated. Flyback circuit and MOSFET could replaced conventional high voltage impulse generator which created from transformer and air gap. In this project, flyback converter, will be designed. Flyback converter was driven by IC TL494. IC TL494 oscilation frequency could affected the result of converter output voltage. Supply voltage for  flyback converter was 16 V, 24 V, 34 V and 43 V. This project used 1 kHz, 2kHz, 3 kHz,4 kHz, and 5 kHz as oscilation frequency. For flyback converter load, two ozone plates, “meander” and “comb”, were created. They generated surface discharge. When flyback converter was loaded by “meander” ozone plate, it  generated 6,98 kV for minimum value and 19,50 kV for the maximum value. When flyback converter was loaded by “comb” ozone plate, it generated 9,00 kV for minimum value and 24,92 kV for the maximum value.   Keywords : Oscilation frequency, flyback, high voltage impulse, surface discharge
Co-Authors A. Brian Ikhsana P.A.W, A. Brian Ikhsana Achmad Adi Sulistiono, Achmad Adi Achmad Hidayatno Achmad Ulul Azmy Adam Kusuma Wardana Adhi Nugraha Adi Cifriadi, Adi Aditya Aditya Aditya Pratama Ajib Abdurrachman Akbar Kurnia Putra Al-Anshory, Umair Alfin Imadul Haq Aminuddin Rizal, Aminuddin Antonio Christian Simanjuntak, Antonio Christian Arfan, M Arif Rahman Hakim Aris Triwiyatno Benny Raharjo, Benny Budi Setiyono D Sukawati, Irawan Danang Septaditya Hidayat Syah, Danang Septaditya Danniswara, Satya Darjat Darjat Deris Stiawan Destyawan Saputra, Destyawan Dwi Prasetyo Wirawan, Dwi Prasetyo Firman Eka Saputra, Firman Eka Frangky Chandra, Frangky Hanif, Muhammad Harisuddin Holil, Barnas Ilham Akbar Sukmawan, Ilham Akbar Imam Much Ibnu Subroto Indra P. S. Damanik, Indra P. S. Irawan Dharma S., Irawan Dharma Irawan Dharma Sukawati, Irawan Dharma Irvan Aditya Iskandar, Irvan Aditya Iwan Setiawan Johanes Nugroho Adhi Prakosa Karnoto Karnoto Lina Handayani M. Pramuaji Tri Saputro, M. Pramuaji Maman Somantri Marwan M. Obeidat Mehdi Dadkhah Mizanul Haq, Mizanul Mochammad Facta Mohammad Davarpanah Jazi Muhammad Fahmi Awaj Muhammad Faizal Afriansyah, Muhammad Faizal Muhammad Taufiqurrahman, Muhammad Muthouwali, Achmad Ngaqib natanael pandapotan, natanael Perkasa, Dedy Bagus Pradana, Muhammad Ivan Putra, Florian Destito R. Rizal Isnanto Rahmat Rizeki, Rahmat Reza Heryanto S, Reza Heryanto Rio Lenardo Karo Karo, Rio Lenardo Rizka Hendrawan, Rizka Sabri Alimi Sidiq Hidayatulah, Sidiq Sudjadi Sudjadi Sukiswo Sukiswo Sumardi . Sumardi Sumardi Tatas Ardhy Prihanto, Tatas Ardhy Teguh Prakoso Tole Sutikno Trias Andromeda Yoga Krismawardana Yuli Christiyono Yuli Christyono Yusuf H. Hendrayana, Yusuf H. Zeta Hanif Salindri, Zeta Hanif