Fauziyah .
Program Studi Pengelolaan Lingkungan Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

PEMBINAAN DAN PELATIHAN KELOMPOK USAHA KERAJINAN HANGER KAWAT, DI DESA NGEBRAK, KECAMATAN GAMPENGREJO, KABUPATEN KEDIRI ., Fauziyah; Solichin, Ustadus; Ari, Diah
Jurnal Dedikasi Vol 11 (2014): Mei
Publisher : Jurnal Dedikasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.423 KB)

Abstract

Fauziyah1, Ustadus Solichin2 & Diah Ari3Staf Pengajar. 1,2&3Fakultas Ekonomi Universitas Islam KadiriEmail: 1) fauziyah_rahman@ymail.comABSTRAKKelompok Usaha di daerah Desa Ngebrak Kabupaten Kediri, aktivitasnya membuat HangerKawat namun ada yang bekerja sebagai petani dan buruh pabrik. Kepemilikan perusahaan ini masihperorangan, ada beberapa kelompok usaha yang membuat hanger kawat, perusahaan ini berdirihampir bersamaan waktunya yaitu sekitar tahun 2005, sebelumnya masyarakat tidak ada yang membuathanger. Munculnya ide pembuatan hanger kawat adalah adanya limbah kawat dari pabrik Zig Zagdan Pamenang yang merupakan anak perusahaan PT. Gudang Garam. Limbah kawat dari pabriktersebut berupa kawat gulungan dari sisa packaging, kemudian gulungan tersebut dibeli oleh kelompokusaha dan diproses menjadi produk hanger kawat. Gulungan kawat dari limbah pabrik tersebut olehmasyarakat sekitar ditampung dan dimanfaatkan untuk pembuatan Hanger Pakaian. Jadi bahan bakupembuatan hanger kawat masih ketergantungan dari limbah pabrik.Pada umumnya kelompok usaha tidak mempunyai alat pelurus kawat, pemotong kawat, laspen, alat bentuk kawat, karena alat tersebut cukup mahal disamping itu kelompok usaha tidak pernahmenerima pengetahuan dan keterampilan khusus dalam pembuatan tempat minum, tempat cangkir,tempat gelas dan perabotan rumah tangga lainnya. Sehingga produk hanya terbatas pada hangerkawat dan tataan panci saja, walaupun sebenarnya ingin mengembangkan produk yang bervariasi.Berkat adanya bantuan dana pengabdian masyarakat dari Dikti program IbM Kelompok Usahahanger kawat di Desa Ngebrak mendapatkan bantuan alat-alat produksi seperti Las Elektroda, Alatpelurus kawat/Pleser, Alat pemotong kawat, Alat bentuk Hanger, Las Pun, Bahan Kawat. Disampingitu juga mendapatkan Pembinaan dan Pelatihan manajemen produksi, manajemen pemasaran,manajemen keuangan dan bagaimana membuat laporan keuangan dan akuntansi menghitung hargapokok produksi dan menentukan harga jual. Sebelumnya kelompok usaha tidak mengerti manajemendan akuntansi.Diharapkan dengan pemberian bantuan alat-alat dan bahan kepada kelompok usaha dapatmeningkatkan kinerja, mengembangkan produksi dengan diversifikasi produk, memahami ilmumanajemen dan akuntansi, memperluas area pemasaran serta dapat meningkatkan pendapatanmasyarakat desa Ngebrak.Kata Kunci : Limbah Kawat Pabrik, Diversifikasi Produk, Pleser, Las Elektroda, Las Pun
Aktivitas Antioksidan Daun dan Biji Buah Nipah (Nypa fruticans) Asal Pesisir Banyuasin Sumatera Selatan Dengan Metode DPPH Putri, Ika Juniawati; ., Fauziyah; ., Elfita
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 5, No 1 (2013): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTS Nipa (Nypa fruticans) is one of the most widely distributed and useful palm in the mangrove forests of South Sumatera. Nipa has a wide traditional medicinal diversity of use and constitute one of plants can be used as an antioxidant.. The  aims of this research to find the antioxidant activity of  Nypa fruticans   leave and fruit were the endosperm from extracts with increasing solvent polarity of  hexane, ethyl acetate and methanol. The antioxidant activity were measure by free radical scavenging method with DPPH and the control used vitamin C.The result of this research shows leave extract of nipa with increasing solvent polarity has an actives antioxidant  than fruit were the endosperm extract. Antioxidant activity of leave extract has  IC50 value of 52.86±2.849 ppm with heksan solvent , ethyl acetate solvent of 26.81±1.755 ppm and methanol  solvent of 17.76±0.107. Vitamin C as a control has a IC50  value  14.82 ± 0624 ppm. Leaf extract in the polar solvent methanol has a value IC50 close to the standar antioxidant vitamin C  which is a pure compound. This suggests that the nipa palm has potential as a source of antioxidants from the coastal region. Keywords: Nypa fruticans, antioxidant activity, DPPH, South Sumatera ABSTRAKNipah (Nypa fruticans) merupakan tumbuhan palem yang memiliki kelimpahan tinggi  dan peranan penting di kawasan hutan mangrove Sumatera Selatan, Indonesia. Nipah memiliki manfaat sebagai obat tradisional dan  kandungan dari tumbuhan ini salah satunya dapat digunakan sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk menentukan potensi aktivitas antioksidan dari daun dan biji buah Nipah (Nypa fruticans) dengan menggunakan pelarut kepolaran meningkat yaitu heksan, etil asetat dan metanol. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan peredaman radikal bebas menggunakan metode DPPH dan kontrol digunakan vitamin C.Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun nipah  dengan kepolaran meningkat aktif sebagai antioksidan dibandingkan ekstrak biji buah nipah. Aktivitas antioksidan daun nipah memiliki nilai IC50 52.86±2.849 ppm pada pelarut n-heksan, pelarut etil asetat 26.81±1.755 ppm dan pelarut metanol 17.72±0.107. Vitamin C sebagai kontrol memiliki nilai IC50 14.82±0.624 ppm. Ekstrak daun nipah dalam pelarut metanol memiliki nilai IC50 yang mendekati standar antioksidan vitamin C yang merupakan senyawa murni. Hal ini berarti bahwa tumbuhan nipah memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang berasal dari  kawasan pesisir. Kata kunci : Nypa fruticans, aktivitas antioksidan, DPPH, Sumatera Selatan
Efisiensi Teknis Unit Penangkapan Bottom gillnet di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat Afridanelly, Tuti; ., Fauziyah; Agustriani, Fitri
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 2, No 1 (2011): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bottom Gillnet is one of fishing unit used to the advantage of resource demersal fishes.This examination in order to know useful of input(trip, GT ship, BBM, ABK, and the long of net size that used) and output(production) suitable until got maximal productivity technically. This examination was accomplished on November- December 2009 in Nusantara Fishery Port Sungailiat used interview method, cluster analysis, discriminate, and scoring. According to result of cluster analysis got 2 groups of Bottom Gillnet fishing unit consists of group 1 n 2. Group 1 divided by 1A, 1B, and 1C. The result of discriminate showed factor which has influence in forming the group is size of dimention ship (GT), amount of ABK and long of of net was used. Ship Bottom Gillnet which efficient technically those were, first KM Ratulangi with score 3,082, second KM Lingga with score 2,904, and third KM Pusara with score 2,774. The specification of efisien ship was were fishing trip 32 times in a year, the size of ship dimention 4-6 GT, the using of solar 150-210 liter/trip, used ABK 3-4 humans and long of net which used 45-50 pieces. Keywords : Bottom Gillnet, Efficiency, Nusantara Fishery Port Sungailiat. ABSTRAK Bottom Gillnet adalah salah satu alat tangkap yang digunakan untuk pemanfaatan sumberdaya ikan demersal di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat.Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan input (trip, GT kapal, BBM, ABK dan panjang ukuran jaring yang digunakan) dan output (produksi) yang sesuai sehingga dapat menghasilkan produktivitas yang optimum secara teknis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November???Desember 2009 di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat dengan menggunakan metode wawancara dan analisis cluster, diskriminan serta skoring. Berdasarkan hasil analisis cluster terdapat 2 kelompok unit penangkapan bottom gillnet yaitu kelompok 1 dan 2. Kelompok 1 terbagi menjadi 1A, 1B dan 1C. Hasil diskriminan menunjukan faktor yang berpengaruh dalam pembentukan kelompok adalah ukuran dimensi kapal, (GT), jumlah ABK dan panjang jaring yang digunakan. Kapal bottom gillnet yang efisien secara teknis yaitu pertama KM Ratulangi dengan skor  3,082, kedua KM Lingga 2,904 dan ketiga KM Pusaka skor 2,774. Kata kunci : Bottom gillnet, Efisiensi, Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat
Pendeteksian Suara Ikan Lepu Ayam (Pterois Volitans)Pada Periode Makan Dengan Skala Laboratorium Susmiarni, Rika Dwi; ., Fauziyah; Surbakti, Heron
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 6, No 1 (2014): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.913 KB)

Abstract

Penelitian  mengenai  pendeteksian  karakteristik  menggunakan  metode  hidroakustik  telah dilaksanakan  pada  bulan  Juni  2011  sampai  Januari  2012  di  laboratorium  Inderaja,  Akustik  dan Instrumentasi serta Laboratorium Oseanografi Program Studi Ilmu Kelautan. Tujuan dari penelitian ini  adalah  untuk  mendeteksi  karakteristik  suara  ikan  lepu  ayam  (Pterois  volitans).  Penelitian  ini dilakukan menggunakan metode  passive soundingdengan cara merekam suara yang dihasilkan ikan saat periode makan. Perekaman dilakukan pada ikan jantan, betina, dan berpasangan. Karakteristik dari  ikan  lepu  ayam  (Pterois  volitans) menghasilkan  frekuensi  pulsa  antara  149,5  Hz  ???  765,7  Hz dengan kisaran intensitas (-78,8) dB ??? (-11,6) dB.  Ikan lepu ayam betina memiliki rentang intensitas paling  panjang  (-78,8)  dB  ???  (-11,6)  dB  dibandingkan ikan  jantan  (-71,5)  dB  ???  (-12,4)  dB  dan  saat berpasangan  (-69,4)  dB  ???  (-31,5)  dB.  Ikan  jantan  lebih  aktif  saat  sebelum  dan  setelah  makan, sedangkan  ikan  betina  lebih  aktif  saat  makan,  dan  ikan  berpasangan  aktif  saat  makan  dan  setelah makan.
PENENTUAN KARAKTERISTIK KAWANAN IKAN PELAGIS DENGAN MENGGUNAKAN DESKRIPTOR AKUSTIK ., Fauziyah; Jaya, Indra
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.96 KB)

Abstract

Tulisan ini memaparkan tentang penentuan karakteristik kawanan ikan pelagis dengan menggunakan deskriptor akustik energetik, morfometrik dan batimetrik pada kawanan ikan pelagis. Perangkat lunak ADA versi 2004 (Acoustic Descriptor Analyzer version 2004) yang telah kami kembangkan sebelumnya digunakan untuk menentukan ciri-ciri (karakteristik) kawanan ikan pelagis dari tiga survei akustik di Perairan Selat Bali. Hasil matrik korelasi menyatakan bahwa kawanan setiap spesies dapat dibedakan berdasarkan deskriptor akustik.Beberapa peubah dari deskriptor akustik energetik, morfometrik dan batimetrik yakni tinggi, panjang, area, perimeter, relative altitude, skewness dan simpangan baku menunjukkan perbedaan yang nyata sebagai faktor penentu dalam pengelompokan spesies kawanan ikan pelagis.Kata kunci: karakteristik kawanan, ikan pelagis, ADA versi 2004, deskriptor akustik.
IbM KELOMPOK PENGRAJIN TENUN IKAT KHAS KEDIRI ., Fauziyah; Suharto, H. Ahmad; Yuni Astuti, Indah
Jurnal Dedikasi Vol 13 (2016): Mei
Publisher : Jurnal Dedikasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4048.111 KB)

Abstract

IbM KELOMPOK PENGRAJIN TENUN IKAT KHAS KEDIRIFauziyah1 , H. Ahmad Suharto2, Indah Yuni Astuti31,2,3Fakultas Ekonomi Universitas Islam KadiriE-mail : 1)fauziyah_rahman@ymail.comABSTRAKTenun ikat merupakan salah satu kain tradisional Indonesia yang diproduksi di berbagai daerah di Indonesia.  Tenun ikat sebagai kebanggaan bangsa dan mencerminkan identitas nasional. Oleh karena itu, tenun ikat perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya, serta dipromosikan secara berkelanjutan.  Desa Bandar, Kediri, Jawa Timur, terdapat Tenun Ikat Craft Center bukan mesin yang sudah ada sejak lama. Kerajinan tenun ikat ini turun-temurun yang awalnya dimulai oleh warga Desa Airport. Sekitar 15 tahun silam tenun tradisional di Kediri sangat maju pesat. Tapi saat ini jumlah pengrajin semakin berkurang, disebabkan pengrajin beralih profesi, selain kurangnya alat tenun yang dimiliki karena sebagian alat tenun rusak dan tidak diremajakan. Tenun ikat bukan mesin harganya cukup mahal dibandingkan dengan kain bukan tenun, karena biaya produksi yang tinggi. Tenun ikat kalah bersaing dengan produk kain impor dan dapat mengancam kekayaan budaya bangsa, oleh karena itu harus dilestarikan. Sementara ini produk yang dihasilkan pengrajin tenun tradisional Desa Bandar Kediri hanya satu jenis produk yaitu kain ikat untuk pakaian dan sarung tangan. Kelompok Mitra ini belum mampu membuat diversifikasi berbagai produk dan inovasi dari sisi desain. Kelompok Mitra sulit untuk tumbuh pesat karena kurangnya variasi, inovasi produk dan kemampuan yang terbatas dalam pengetahuan dan manajemen usaha serta kualitas sumber daya manusia yang masih rendah. Oleh karena itu Kelompok Mitra mendapatkan pendampingan berupa : manajemen keuangan, produksi, pemasaran dan akuntansi. Melalui program IbM, Kelompok Mitra telah mampu menghasilkan produk yang bervariasi dan inovasi desain sehingga mampu bersaing dan pendapatan meningkat. Kata Kunci : Sentra Tenun Ikat, Diversifikasi dan Inovasi.
Pendeteksian Suara Ikan Badut (Amphiprion ocellaris) pada Periode Makan Skala Laboratorium Yuniardi, Delas; ., Fauziyah; Agustriani, Fitri
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 7, No 1 (2015): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.761 KB)

Abstract

Penelitian  mengenai  pendeteksian  suara  ikan  badut  (Amphiprion ocellaris) menggunakan  metode  hidroakustik  telah  dilaksanakan  pada  bulan Juni  2011  sampai Januari  2012  di  laboratorium  Inderaja,  Akustik,  dan Instrumentasi  Kelautan  dan laboratorium  Oseanografi  Program  Studi  Ilmu Kelautan.  Tujuan  dari  penelitian  adalah untuk  mendeteksi  karakteristik suara  ikan  badut  skala  laboratorium.  Metode  passive sounding digunakan untuk merekam suara ikan yang dihasilkan saat periode makan yakni sebelum makan,  saat  makan,  dan  sudah  makan  baik  pada  ikan  single, berpasangan,  dan bergerombol  (3-4  ekor).  Hasil  penelitian  menunjukkan Frekuensi  pulsa  ikan  badut  yang terdeteksi  pada  periode  makan  adalah 173  ???  785  Hz.  Rentang  frekuensi  pulsa  paling panjang  dihasilkan  saat setelah  makan  yaitu  205  Hz  ???  785  Hz.  Kisaran  frekuensi  pulsa paling pendek yang dihasilkan saat belum makan yaitu 173 Hz  ???  668 Hz, dan saat makan menghasilkan  kisaran  antara  195  Hz  ???  696  Hz.  Adapun karakteristik  suara  ikan  badut (Amphiprion  ocellaris)  adalah  memiliki rentang  intensitas  (-85)  ???  (-31)  dB.  Rentang intensitas paling panjang dihasilkan saat makan pada 1 ekor ikan.KATA KUNCI: Ikan badut, karakteristik suara, passive sounding, periode pakan. 
Pertumbuhan Semai Rhizophora apiculata di Area Restorasi Mangrove Taman Nasional Sembilang Sumatera Selatan Rahmat, Dian; ., Fauziyah; ., Sarno
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 7, No 2 (2015): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.374 KB)

Abstract

Mangrove  merupakan  suatu  komunitas  vegetasi  pantai  yang  di  dominasi oleh  beberapa spesies  pohon  –  pohonan  yang  khas.  Salah  satu  kerusakan mangrove  disebabkan  oleh kegiatan manusia yaitu penebangan liar dan konversi lahan menjadi tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan semai  Rhizophora apiculata serta menentukan tingkat keberhasilan  semai  Rhizophora  apiculata  pada  usia  1,5  tahun  di  area restorasi Taman Nasional Sembilang, Banyuasin Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah eksperimen lapangan dengan kombinasi perlakuan antara jarak tanam (4 x 4 dan 5 x 5) dengan  cara  tanam  polibag  dan propagul.  Hasil  analisis  sidik  ragam  ANOVA memperlihatkan,  tidak  ada pengaruh  nyata  pertumbuhan  semai  mangrove  Rhizhophora apiculata, yang ditunjukkan dengan pertumbuhan tinggi tunas, diameter tunas, dan jumlah akar pada setiap kombinasi perlakuan. Rata- rata laju pertumbuhan tinggi tunas adalah 16 cm,  diameter  tunas  adalah  1  cm,  dan  rata-rata  jumlah  akar adalah  10.  Akan  tetapi, Persentase  kelulusan  hidup  dengan  cara  tanam propagul  lebih  baik  yaitu  75%  di bandingkan dengan propagul yaitu 61,5 %.KATA KUNCI: Pertumbuhan, restorasi, Rhizophora apiculata, semai , TNS.
Pola Sebaran Salinitas dengan Model Numerik Dua Dimensi di Muara Sungai Musi Sari, Christie Indah; Surbakti, Heron; ., Fauziyah
Maspari Journal Vol 5, No 2 (2013): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.572 KB)

Abstract

The aim of this research is to describe the spread salinity with two dimensions numerical model at the Musi River’s estuary, and also to determined relationship of spread salinity with hydrodynamic unsure in water. The research has been done at Juli – Agustus 2011 at Musi River’s estuary, South Sumatra. Determination of sampling points is done by using purposive sampling method. The sample is measured by in-situ method and the data is proceed using Surface Water Modelling System (SMS 8.1) software, then verified with field measurement. The result of this research indicated that when the condition of sea-water tidal waters not too far into the river, the concentration of salinity in the surface layer (0.2 D) ranged between 6 - 28o/oo, in the water column (0.5 D) between 6 - 27o/oo, and in the deep waters (0.8 D) between 5 - 27o/oo. In other hand, at low tide condition, the influence of river moved farther out to the sea, with the concentration of salinity in the surface layer (0.2 D) ranged between 5 - 26o/oo, the salinity in the water column (0.5 D) and in the deep waters (0.8 D) between 4 - 27 o/oo. The result of spread salinity of the model simulation shows that the salinity distribution patterns follow the formed of the flow so that it can be said that the flow will affect the distribution of salinity in the waters. Based on the results of the flow simulation and salinity with or without the effects of wind’s flow and salinity patterns are the same, in the range 0.9 to 23.9o/oo. The verified average error result of measurement and simulation the model (MRE) with or without wind is 3,163 E-11%. So, factor of the wind did not significantly affect the movement of flow on the research.Keywords: Salinity distribution, Numerical models, SMS, Estuary
HUBUNGAN NITRAT, FOSFAT DAN AMMONIUM TERHADAP KEBERADAAN MAKROZOOBENTOS DI PERAIRAN MUARA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR SUMATERA SELATAN ., Kurniawan; Purwiyanto, Anna Ida S; ., Fauziyah
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 8, No 2 (2016): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.329 KB)

Abstract

Perairan  Sungai  Lumpur   telah  banyak  dimanfaatkan  oleh  penduduk sekitar  untuk berbagai aktivitas yaitu daerah pemukiman, pertambakan, transportasi dan penangkapan ikan.  Selain  itu  di  hulu  sungai  terdapat industri  pengolahan  sawit.  Berbagai  bahan buangan yang berasal dari aktivitas tersebut menyebabkan terjadinya penurunan kualitas perairan  yang dapat  berdampak  langsung  pada  biota  perairan,  salah satunya makrozoobentos. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan nutrien (nitrat, fosfat, amonium) dan parameter lingkungan terhadap keberadaan makrozoobenthos. Penentuan titik sampling menggunakan metode purposive sampling  sebanyak 9 stasiun. Sampel air dan makrozoobentos diambil di dasar perairan menggunakan  water sampler  dan  ekman grab. Analisis  sampel  dilakukan  di  Laboratorium   Oseanografi  Program  Studi Ilmu Kelautan Universitas Sriwijaya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan rata-rata nutrien di perairan Muara Sungai Lumpur berkisar antara 0,225 – 1,329 mg/L untuk nitrat (NO3-), fosfat (PO4+)  berkisar antara 0,007  –  0,029 mg/L, serta amonium (NH4+) berkisar antara  0,026  –  0,242 mg/L. Makrozoobentos  yang  ditemukan  pada  penelitian  ini  terdiri dari dua kelas yakni kelas Gastropoda terdiri atas  Nassarius  sp.;  Murex  sp.;  Tomlinia sp.; Cerithidea  sp.;  dan  kelas  Bivalvia  terdiri  atas  Mactra  sp.;  dan Anadara  sp.  dengan komposisi  tidak  ada  yang  mendominasi.  Berdasarkan hasil  Analisis  Komponen  Utama (AKU) menunjukkan bahwa nitrat (NO3-), fosfat (PO4+) dan amonium (NH4+) memiliki nilai korelasi/hubungan  yang sangat  rendah  terhadap  keberadaan   makrozoobentos. Berdasarkan   KEPMENLH  No.  51  Tahun  2004  kualitas  perairan  Muara  Sungai Lumpur ditinjau dari parameter diatas masih baik untuk kehidupan biota perairan.KATA KUNCI: Amonium, fosfat, makrozoobentos, nitrat, Sungai Lumpur.