Articles

Found 16 Documents
Search

PENAPISAN CENDAWAN ANTAGONIS ASIDOFILIK LIGNOSELULOLITIK DARI TANAH GAMBUT TERHADAP PENYAKIT LAYU FUSARIUM Sadin, Nur; Suswanto, Iman; -, Supriyanto
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1: Desember 2012
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.671 KB)

Abstract

Penyakit layu fusarium merupakan salah satu penyakit yang dapat mengakibatkan kerugian cukup besar khususnya pada tanaman tomat. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian secara mendadak, hal ini disebabkan karena kerusakan pada pangkal batang atau kanker yang menggelang. Tanaman dewasa yang terinfeksi dapat bertahan terus dan membentuk buah tetapi hasilnya sangat sedikit dan kecil-kecil.  Selain disebabkan oleh patogen, kendala budidaya tanaman di lahan gambut adalah adanya substrat pembentuk tanah gambut yaitu lignin dan selulosa yang sulit terdekomposisi secara normal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan cendawan yang terbaik sebagai agen pengendali hayati terhadap F. oxysporum dan mempunyai kemampuan bertahan pada kondisi asam dan mampu menguraikan senyawa lignin dan selulosa. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, bulan Januari sampai Juni 2012. Pelaksanaan penelitian meliputi isolasi cendawan dari tanah gambut, uji antagonisme terhadap perkembangan F. oxysporum, uji hipovirulensi, uji kemampuan menguraikan lignin dan selulosa serta uji asidofilik. Hasil isolasi dari tanah gambut diperoleh 7 isolat cendawan, yaitu Aspergillus brevipes, A. niger, Penicillium corylophillum, P. janthillenum, Rhizopus sp, Trichoderma harzianum dan T. koningii. Hasil uji antagonis terhadap F. oxysporum diperoleh 2 isolat yang mampu berperan sebagai antagonis dan mampu menekan perkembangan F. oxysporum. Kedua isolat tersebut adalah T. harzianum dan T. koningii. Selain mampu berperan sebagai antagonis, kedua isolat tersebut mampu menguraikan lignin menjadi senyawa yang lebih sederhana. Dalam menguraikan selulosa, A. niger mempunyai kemampuan lebih besar dibandingkan isolat lainnya. Hampir semua isolat tergolong kedalam cendawan asidofilik, hanya A. brevipes yang tidak termasuk asidofilik karena diameter pertumbuhan pada pH 3 tidak mencapai 75% dibandingkan dengan pH 6. Kata kunci : Asidofilik, Cendawan antagonis,  Layu fusarium
Pengembangan PGPF menjadi Pupuk dan Pestisida Hayati Berformulasi Sederhana: 1. Pengujian Bahan Pembawa -, supriyanto; sulistyowati, henny
Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 1, No 1 (2011): Perkebunan dan Lahan Tropika
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.644 KB)

Abstract

Penyusutan lahan pertanian yang subur merupakan kendala yang dihadapi dalam budidaya pertanian di Indonesia. Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan memanfaatkan lahan-lahan marginal seperti lahan gambut yang kurang subur dengan memperbaiki kondisi mikrobiologis lingkungan tanaman dengan memanfaatkan mikroorganisme spesifik lokal terutama dari kelompok jamur yang mampu membantu pertumbuhan tanaman. Jamur asal tanah gambut yang diketahui mampu membantu pertumbuhan tanaman adalah Aspergillus sp. Isolat SNTH003 dan Penicillium sp. isolat SNTH001 asal lahan gambut Kuburaya, Kalimantan Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji bahan-bahan berupa limbah yang dapat digunakan sebagai bahan pembawa bagi jamur PGPF. Penelitian telah dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, dari bulan Agustus 2010 sampai Februari 2011, meliputi produksi massal jamur pada Medium Kultur Beras, penyiapan, inokulasi dan evaluasi ketahanan jamur PGPF pada bahan pembawa. Dari empat bahan yang digunakan yaitu dedak, ampas sagu, gambut dan serbuk gergajian kayu, penggunaan bahan dedak mampu menghasilkan pertumbuhan dan produksi spora yang lebih banyak dibandingkan bahan lainnya, yaitu sebesar 133×108 cfu/gr, tetapi kurang mampu medukung daya tahan spora dalam bahan selama 12 minggu pengamatan. Sedangkan  untuk jamur Penicillium sp. isolat SNTH001, bahan yang paling mampu mendukung pertumbuhan dan menghasilkan spora yaitu sebesar 120×108cfu/grserta mampu mempertahankan daya hidup spora  selama 12 minggu adalah bahan gambut.
Status Penyakit Bercak Coklat pada Pembibitan Kelapa Sawit di Kabupaten Sanggau Solehudin, Dede; Suswanto, Imam; -, Supriyanto
Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 1 (2012): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.253 KB)

Abstract

Bercak coklat merupakan penyakit penting pembibitan kelapa sawit. Penelitian bertujuan mempelajari distribusi dan perkembangan penyakit. Pengamatan dilakukan pada lima Kecamatan di Kabupaten Sanggau.Variabel pengamatan terdiri dari  intensitas penyakit, jenis-jenis fungi, faktor cuaca dan konidia di udara. Intensitas penyakit bercak coklat pada lima kecamatan yang diamati berkisar antara 4%-38%. Terdapat dua gejala bercak yang khas yaitu bercak Curvularia dan bercak antraknosa. Bercak Curvularia disebabkan oleh Curvularia sp. Bercak antraknosa disebabkan oleh Glomerella sp. Pada saat  penelitian, perkembangan penyakit melambat pada bibit yang berumur 4 bulan.  Curah hujan, kelembaban, suhu harian, dan konidia di udara mempunyai hubungan yang kurang erat terhadap perkembangan penyakit. Kata kunci: bercak coklat, Curvularia spp, pembibitan kelapa sawit
The Screening of Fungi for Antagonistic Acidofilic Lignocellulolitic on Peat Soil of Fusarium Disease -, Nursadin; Suswanto, Iman; -, Supriyanto
Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 1 (2012): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.873 KB)

Abstract

Fusarium wilt disease is one of disease that considerable losses to the tomato plant. This disease can cause sudden death, this is due to damage to the base of the stem or cancer. Plants infected adults are able to survive and shape but the result is very little fruit and small fruit. Besides caused by pathogens, constraints cultivation in peatsoil is a peat substrate forming the lignin and cellulose are normally difficult to decompose. This study aims to find the best fungi as biological control agents against F. oxysporum and the ability to survive in acidic conditions and was able to decipher the compound lignin and cellulose. The research was conducted at the Laboratory of Plant Diseases Faculty of Agriculture, University of Tanjungpura Pontianak, January to June 2012. Implementation of the study include the isolation of fungi from peat soils, test antagonism towards the development of F. oxysporum, hipovirulensi test, capabilities and outlines the lignin and cellulose asidofilik test. Results isolation from peat obtained 7 isolates of fungi, that is Aspegillus brevipes, A. niger, Penicillium corylophillum, P. janthillenum, Rhizopus sp, Trichoderma harzianum and T. koningii. The test results antagonistic to F. oxysporum isolates obtained 2 are able to act as antagonists and suppressed the development of F. oxysporum. Both of these isolates were T. harzianum and T. koningii. Besides being able to act as antagonists, both isolates are able to decompose lignin into simpler compounds. In describing cellulose, A. niger has a greater ability than other isolates. Almost all isolates were classified into asidofilik fungus, only A. brevipes were not included asidofilik because diameter growth at pH 3 did not reach 75% compared to pH 6. Keywords: Antagonistic fungi, acidofilic, fusarium wilt.
KERANCUAN PENATAAN HAM DALAM SISTEM HUKUM NASIONAL INDONESIA -, Supriyanto
Wacana Hukum Vol 10, No 2 (2011): Wacana Hukum
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.543 KB)

Abstract

AbstractDespite the attention of human rights has existed since long, but the struggle to get legal protection in state constitution looks after the birth of Magna Charta in England in 1215 which is followed by Declaration of Independence in the United States of America in 1776 and Declaration des droits de “I” home et du citoyen in France in 1780. In Indonesia this right has received legal protection in 1945 Constitution, RIS Constitution, or Temporary Constitution, and become much stronger after the birth of MPR Decree Number XVII year 1998 which is followed by Act Number 39 year 1999 on Human Rights, Act Number 26 year 2000 on Human Rights Court which is followed by Amendment of 1945 Constitution which govern specifically Human Rights Chapter in chapter X A which consist of 10 articles. Even though human rights in Indonesia have evolved considerably, but when we look further there is still many weaknesses which contradict one and another. For example: Article 281 Amendment of 1945 Constitution and Article 4 Act of Human Rights which adheres the principle of non retroactive absolutely with Article 43:1 Act of Human Rights Court and Explanation of Article 4 Human Rights Act which adheres the principle of retroactive for gross violation of human rights. Contradiction is also occurs in Article 4 Human Rights Act body and its explanation. Keywords: human rights.
PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA -, Supriyanto
Wacana Hukum Vol 10, No 1 (2011): Wacana Hukum
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.586 KB)

Abstract

Abstract : Law No. 3 Year 1997 on Juvenile Court governing the protection of children by giving preferential treatment on juvenile delinquents, but the imposition of penalty is not the only effort to educate juvenile delinquents. Forward required the criminal justice system for children is not oriented to punishment but rather aim to educate and nurture children for the welfare of juvenile delinquents. Keywords : criminal justice system, child protection  
PENGARUH PENAMBAHAN CANGKANG SAWIT TERHADAP KUAT TEKAN BETON F’c 30 MPa -, SUPRIYANTO
Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil UPP Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil UPP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cangkang sawit merupakan limbah dari hasil pengolahan minyak kelapa sawit yang belumtermanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Oleh karena itu, saat ini perlu dicoba cangkang sawit tersebutsebagai pengganti sebagian agregrat kasar pada campuran beton yang nantinya diharapkan menjadi betonyang memiliki mutu yang baik namun tidak menurunkan nilai kekuatan beton, serta dapat mengurangidampak negatif limbah cangkang sawit terhadap lingkungan.Perencanaan campuran beton menggunakan metode DoE (Departement of Enviroment) yang berlakudi Indonesia. Benda uji yang dibuat untuk masing-masing persentase cangkang sawit adalah sebanyak 3sampel, sampel uji beton menggunakan kubus dengan ukuran 15cm x 15cm 15cm, dan selanjutnya dilakukanpengujian kuat tekan beton pada umur 7 dan 14 hari.Dari hasil perhitungan uji analysis of variance (Anova), diperoleh nilai FHitung = 2,67, biladibandingkan dengan nilai FTabel untuk F0.05Tabel (3.8) = 4,07 dan F0.01Tabel (3.8) = 7,59, maka FHitung < F0,01tabeldan FHitung < F0.05tabel, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi atau tidak pengaruh nyata antarakuat tekan beton dengan penggunaan cangkang sawit terhadap kuat tekan beton f’c 30 MPa.
Evaluasi Dosis Glandular dalam Pemeriksaan Mammografi Yubhar, Yulfiatry; Adi, Rachmat; -, Supriyanto; -, Pawiro; -, Kardinah
Indonesian Journal of Cancer Vol 1, No 3 (2007): Jul - Sep 2007
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.896 KB)

Abstract

Telah dilakukan pengukuran Dosis Rata-rata Glandular (Mean glandular Dose) pada pemeriksaan mammografi dengan menggunakan Thermoluminiscense Dosimeter(7LD) terhadap 49 pasien. Dosis yang terbaca pada TLD adalah Entrance Surface Dose (ESD) dengan nilai rata-rata yang didapat 7.6 ('bl 3.9) mGy. Untuk konversi ke nilai Mean Glandular Dose, nilai ESD dikalikan dengan nilai Dgn (ESD dengan faktor konversi average glandular dose per unit exposure) yang terkonversi dengan memperhitungkan prosentase glandular terhadap adipose. Data Dgn diperoleh dari perhitungan John M Boone yang menggunakan metode Monte Carlo yang masih tergantung dari nilai HVL dan ketebalan payudara. Prosentase glandular terhadap adipose dihitung dengan menggunakan metoda analisa film Nooriah Djamal. Kemudian nilai Dgn 0% glandular untuk kontribusi adipose maupun Dgn 100% glandular untuk kontribusi glandular diperoleh dari Tabel Dgn Boone. Nilai MGD yang diperoleh adalah 1.818 ('bl 0.615) mGy. Nilai masih dibawah limit yang direkomendasikan FDA {Food and Drug Administration) yaitu < 3 mGy.Kata kunci : mean glandular dose (MGD), entrance surface dose (ESD), thermoluminiscense dosimeter (TLD)ABSTRACTMean glandular Dose (MGD) during mammography has been determined for 49 patients using TLD. MGD numbers has been derived from the measured ESD (Entrance Surface Dose) by multiplicating ESD with converted Dp, (ESD with average glandular dose per unit exposure conversion factor) incorporating the glandular percentage to adipose percentage. Dgn data were obtained from Boone's Monte Carlo calculation and generally is a function of HVL values and breast thickness. The glandular percentage to adipose were obtained using Nooriah Djamal's methods of mammography film analysis Both 0% glandular Dgn for adipose contribution and 100% glandular DSu for glandular contribution were then obtained from Boone's table. Average Entrance Surface Dose (ESD) for 49 patients were found to be 7.6 ('bl 3.9) mGy. The average MGD for 49 patients were found to be 1.818 (bl 0.615) mGy. These values were generally below the recommended FDA (Food and Drug Administration) limit of 3 mGy.Key Words : mean glandular dose (MGD), entrance surface dose (ESD), thermoluminiscense dosimeter (TLD)
PENGARUH PENERAPAN METODE COLLABORATIVE LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 RAMBAH SAMO -, Supriyanto; Afri, Lusi Eka; -, Hardianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FKIP Prodi Matematika Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Ilmiah Mahasiswa FKIP Prodi Matematika
Publisher : Universitas Pasir Pengaraian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.113 KB)

Abstract

Learning process in the class still use old paradigm, that is teacher become center learning and student tend to accept what their teacher explain. It cause student more passive ad get low achievement in teaching and learning process. So that, we need a learning model which promote students active and provide students the opportunity to develop their potential maximally. Based on the problem above, then apply Metode Collaborative Learning. The purpose of this research was to observe the effect of metode collaborative learning on student’s mathematic learning outcomes.this research is Quasi experimental with design The Randomized Control Group Only Design. The population in this research were all class 8th grade junior High School 3 Rambah Samo. As a selected sample class is VIII A be experimental class and VIII B be control class. Based on the hypothesis testing performed be t test obtained t = 2,336 and t = 2,01. This means that thitung &gt; ttabel , then H0 is rejected and H1 is accepted. This means that there are differences between the experimental class and the control class. It can be concluded that there are effects of the application of metode collaborative learning to the mathematic learning outcomes of student of 8th grade junior High School 3 Rambah Samo
Evaluasi Dosis Glandular dalam Pemeriksaan Mammografi Yubhar, Yulfiatry; Adi, Rachmat; -, Supriyanto; -, Pawiro; -, Kardinah
Indonesian Journal of Cancer Vol 1, No 3 (2007): Jul - Sep 2007
Publisher : "Dharmais" Cancer Center Hospital

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.896 KB)

Abstract

Telah dilakukan pengukuran Dosis Rata-rata Glandular (Mean glandular Dose) pada pemeriksaan mammografi dengan menggunakan Thermoluminiscense Dosimeter(7LD) terhadap 49 pasien. Dosis yang terbaca pada TLD adalah Entrance Surface Dose (ESD) dengan nilai rata-rata yang didapat 7.6 (±bl 3.9) mGy. Untuk konversi ke nilai Mean Glandular Dose, nilai ESD dikalikan dengan nilai Dgn (ESD dengan faktor konversi average glandular dose per unit exposure) yang terkonversi dengan memperhitungkan prosentase glandular terhadap adipose. Data Dgn diperoleh dari perhitungan John M Boone yang menggunakan metode Monte Carlo yang masih tergantung dari nilai HVL dan ketebalan payudara. Prosentase glandular terhadap adipose dihitung dengan menggunakan metoda analisa film Nooriah Djamal. Kemudian nilai Dgn 0% glandular untuk kontribusi adipose maupun Dgn 100% glandular untuk kontribusi glandular diperoleh dari Tabel Dgn Boone. Nilai MGD yang diperoleh adalah 1.818 (±bl 0.615) mGy. Nilai masih dibawah limit yang direkomendasikan FDA {Food and Drug Administration) yaitu &lt; 3 mGy.Kata kunci : mean glandular dose (MGD), entrance surface dose (ESD), thermoluminiscense dosimeter (TLD)ABSTRACTMean glandular Dose (MGD) during mammography has been determined for 49 patients using TLD. MGD numbers has been derived from the measured ESD (Entrance Surface Dose) by multiplicating ESD with converted Dp, (ESD with average glandular dose per unit exposure conversion factor) incorporating the glandular percentage to adipose percentage. Dgn data were obtained from Boones Monte Carlo calculation and generally is a function of HVL values and breast thickness. The glandular percentage to adipose were obtained using Nooriah Djamals methods of mammography film analysis Both 0% glandular Dgn for adipose contribution and 100% glandular DSu for glandular contribution were then obtained from Boones table. Average Entrance Surface Dose (ESD) for 49 patients were found to be 7.6 (±bl 3.9) mGy. The average MGD for 49 patients were found to be 1.818 (±’bl 0.615) mGy. These values were generally below the recommended FDA (Food and Drug Administration) limit of 3 mGy.Key Words : mean glandular dose (MGD), entrance surface dose (ESD), thermoluminiscense dosimeter (TLD)