Pawestri -
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

PERSEPSI GURU AGAMA SMA KOTA SEMARANG TENTANG PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA -, Pawestri
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru merupakan sumber pengetahuan dan sumber informasi, tempat berkonsultasi, mitra kerja bagi orang tua dalam membimbing, mendidik remaja dan berinteraksi 7?8 jam perhari sehingga guru diharapkan memberikan informasi yang utuh tentang pendidikan kesehatan reproduksi remaja supaya siswa tidak mencari tahu sendiri baik dari teman atau internet yang informasinya diragukan kebenarannya. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi guru agama SMA Kota Semarang tentang Pendidikan keseharan reproduksi remaja. Manfaat penelitian untuk pengembangan kurikulum kesehatan reproduksi remaja di SMA.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tehnik pengumpulan data dengan cara Fokus Group Discussion. Subyek dipilih secara proposional dan random sejumlah 8 subyek penelitian dengan kriteria inklusi guru bidang studi agama,yang mengajar di Kota Semarang. Menunjukkan bahwa subyek mempunyai persepsi yang baik tentang pendidikan KRR di SMA dimana masa remaja diwarnai dengan pertumbuhan, perkembangan dan permasalahan kesehatan reproduksi (KTD, seks bebas). Persepsi guru agama tentang materi pendidikan kesehatan remaja diberikan minimal sesuai standart kompetensi pendidikan keseharan reproduksi remaja di SMA, materi tentang kehamilan, KB, hubungan seks tidak perlu diberikan, karena guru masih sungkan dan tabu saat mengajar pendidikan hubungan seks. Media yang digunakan buku LKS, gambar, poster dan kesulitan mencari media audiovisual. Metode yang digunakan ceramah sehingga perlu penambahan media studi kasus. Persepsi guru agama tentang sarana prasarana sudah mendukung tetapi perlu penambahan modul, buku dan CD tentang pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Persepsi guruagama tentang alokasi waktu dalam pendidikan kesehatan reproduksi remaja disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing apabila alokasi waktu yang terlalu banyak akan membebani siswa.Disarankan Dinas Pendidikan untuk membuat modul, LKS yang terdapat kasus tentang kesehatan reproduksi remaja, membuat media audiovisual untuk pembelajaran. Alokasi waktu materi KRR diintegrasikan pada setiap semester. Mengadakan workshop, pelatihan pada guru agama yangterintegrasi materi Pendidikan kesehatan reproduksi remaja.Kata Kunci : Persepsi, Guru agama, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
Persepsi Guru SMA Kota Semarang Tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja -, Pawestri
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2011: PROSEDING SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN PPNI JATENG
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang - Guru merupakan sumber pengetahuan dan sumber informasi, tempat berkonsultasi, mitra kerja bagi orang tua dalam membimbing, mendidik remaja dan berinteraksi 7-8 jam perhari sehingga guru diharapkan memberikan informasi yang utuh tentang pendidikan KRR supaya siswa tidak mencari tahu sendiri baik dari teman atau internet yang informasinya diragukan kebenarannya. Tujuan-Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi guru SMA Kota Sernarang tentang Pendidikan KRR. Manfaat penelitian untuk pengembangan kurikulum KRR di SMA. Metode - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tehnik pengumpulan data dengan cara Fokus Group Discussion Subyek dipilih secara proposional dan random sejumlah 32 orang yang dibagi menjadi 4 kelompok FGD dengan kriteria inklusi guru bidang studi biologi, agama, penjaskes dan BK yang mengajar di Kota Semarang. Hasil - Menunjukkan bahwa subyek mempunyai persepsi yang baik tentang pendidikan KRR di SMA dimana masa remaja diwarnai dengan pertumbuhan, perkembangan dan permasalahan kesehatan reproduksi (KTD, seks bebas). Persepsi guru tentang materi diberikan minimal sesuai standart kompetensi pendidikan KRR di SMA, materi tentang kehamilan, KB, hubungan seks tidak perlu diberikan, karena guru masih sungkan dan tabu saat mengajar pendidikan hubungan seks. Media yang digunakan buku LKS, gambar, poster dan kesulitan mencari media audiovisual. Metode yang digunakan ceramah sehingga perlu penambatan media studi kasus. Persepsi guru tentang sarana prasarana sudah mendukung tetapi perlu penambahan modul, buku dan CD tentang pendidikan KRR. Persepsi guru tentang alokasi waktu dalam pendidikan KRR disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing apabila alokasi waktu yang terlalu banyak akan membebani siswa. Pelatihan guru tentang KRR yang pernah didapat tentang narkoba, HIV/AIDS. Diskusi - Disarankan Dinas Pendidikan untuk membuat modul, LKS yang terdapat kasus KRR, membuat media audiovisual untuk pembelajaran. Alokasi waktu materi KRR diintegrasikan pada setiap semester. Mengadakan workshop, pelatihan pada guru yang terintegrasi materi Pendidikan KRR. Kata Kunci - Persepsi, Guru, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
PERSEPSI GURU AGAMA SMA KOTA SEMARANG TENTANG PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA -, Pawestri
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru merupakan sumber pengetahuan dan sumber informasi, tempat berkonsultasi, mitra kerja bagi orang tua dalam membimbing, mendidik remaja dan berinteraksi 7–8 jam perhari sehingga guru diharapkan memberikan informasi yang utuh tentang pendidikan kesehatan reproduksi remaja supaya siswa tidak mencari tahu sendiri baik dari teman atau internet yang informasinya diragukan kebenarannya. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi guru agama SMA Kota Semarang tentang Pendidikan keseharan reproduksi remaja. Manfaat penelitian untuk pengembangan kurikulum kesehatan reproduksi remaja di SMA.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tehnik pengumpulan data dengan cara Fokus Group Discussion. Subyek dipilih secara proposional dan random sejumlah 8 subyek penelitian dengan kriteria inklusi guru bidang studi agama,yang mengajar di Kota Semarang. Menunjukkan bahwa subyek mempunyai persepsi yang baik tentang pendidikan KRR di SMA dimana masa remaja diwarnai dengan pertumbuhan, perkembangan dan permasalahan kesehatan reproduksi (KTD, seks bebas). Persepsi guru agama tentang materi pendidikan kesehatan remaja diberikan minimal sesuai standart kompetensi pendidikan keseharan reproduksi remaja di SMA, materi tentang kehamilan, KB, hubungan seks tidak perlu diberikan, karena guru masih sungkan dan tabu saat mengajar pendidikan hubungan seks. Media yang digunakan buku LKS, gambar, poster dan kesulitan mencari media audiovisual. Metode yang digunakan ceramah sehingga perlu penambahan media studi kasus. Persepsi guru agama tentang sarana prasarana sudah mendukung tetapi perlu penambahan modul, buku dan CD tentang pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Persepsi guruagama tentang alokasi waktu dalam pendidikan kesehatan reproduksi remaja disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing apabila alokasi waktu yang terlalu banyak akan membebani siswa.Disarankan Dinas Pendidikan untuk membuat modul, LKS yang terdapat kasus tentang kesehatan reproduksi remaja, membuat media audiovisual untuk pembelajaran. Alokasi waktu materi KRR diintegrasikan pada setiap semester. Mengadakan workshop, pelatihan pada guru agama yangterintegrasi materi Pendidikan kesehatan reproduksi remaja.Kata Kunci : Persepsi, Guru agama, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
Persepsi Guru SMA Kota Semarang Tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja -, Pawestri
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2011: PROSEDING SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN PPNI JATENG
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang - Guru merupakan sumber pengetahuan dan sumber informasi, tempat berkonsultasi, mitra kerja bagi orang tua dalam membimbing, mendidik remaja dan berinteraksi 7-8 jam perhari sehingga guru diharapkan memberikan informasi yang utuh tentang pendidikan KRR supaya siswa tidak mencari tahu sendiri baik dari teman atau internet yang informasinya diragukan kebenarannya. Tujuan-Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi guru SMA Kota Sernarang tentang Pendidikan KRR. Manfaat penelitian untuk pengembangan kurikulum KRR di SMA. Metode - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tehnik pengumpulan data dengan cara Fokus Group Discussion Subyek dipilih secara proposional dan random sejumlah 32 orang yang dibagi menjadi 4 kelompok FGD dengan kriteria inklusi guru bidang studi biologi, agama, penjaskes dan BK yang mengajar di Kota Semarang. Hasil - Menunjukkan bahwa subyek mempunyai persepsi yang baik tentang pendidikan KRR di SMA dimana masa remaja diwarnai dengan pertumbuhan, perkembangan dan permasalahan kesehatan reproduksi (KTD, seks bebas). Persepsi guru tentang materi diberikan minimal sesuai standart kompetensi pendidikan KRR di SMA, materi tentang kehamilan, KB, hubungan seks tidak perlu diberikan, karena guru masih sungkan dan tabu saat mengajar pendidikan hubungan seks. Media yang digunakan buku LKS, gambar, poster dan kesulitan mencari media audiovisual. Metode yang digunakan ceramah sehingga perlu penambatan media studi kasus. Persepsi guru tentang sarana prasarana sudah mendukung tetapi perlu penambahan modul, buku dan CD tentang pendidikan KRR. Persepsi guru tentang alokasi waktu dalam pendidikan KRR disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing apabila alokasi waktu yang terlalu banyak akan membebani siswa. Pelatihan guru tentang KRR yang pernah didapat tentang narkoba, HIV/AIDS. Diskusi - Disarankan Dinas Pendidikan untuk membuat modul, LKS yang terdapat kasus KRR, membuat media audiovisual untuk pembelajaran. Alokasi waktu materi KRR diintegrasikan pada setiap semester. Mengadakan workshop, pelatihan pada guru yang terintegrasi materi Pendidikan KRR. Kata Kunci - Persepsi, Guru, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
THE RELATIONSHIP BETWEEN EXERCISE FREQUENCY WITH THE MENSTRUAL CYCLE OF THE ADOLESCENT ON PENCAK SILAT GROUP -, Machmudah; Yanna, Fitri; -, Pawestri
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Proceeding 3rd ISET 2017 | International Seminar on Educational Technology 3rd 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Excessive physical activity is one factor that can cause menstrual disorders. Disorders that can occur include the absence of menstruation (amenorrhea), bone thinning (osteoporosis), irregular menstruation orintermenstrual bleeding, abnormal growth of the uterine lining, and infertility (Asmarani, 2010). Wiarto (2013)explains that in sports discussed about menstruation is an irregular menstrual cycle (oligomenorrhea or reducedmenstrual frequency) or menstruation stops beyond 90 days (amenorrhea or absence of menstrual cycle). Thepurpose of the study: the purpose of the study is to determine the relationship between the frequency of exercise with menstrual cycle in adolescent girls SMAN in Purwokerto who follow the practice of pencak silat. Researchmethod: This research is a descriptive research with quantitative approach with total sample of 126 respondents,sampling technique is by non probability sampling technique that is by purposive sampling technique. Result ofresearch: The result of statistical test by using simple logistic regression shows that there is relationship betweenexercise frequency with menstrual cycle with p = 0,000 (p <0,05). Conclusion: This result suggests that excessive exercise is seen in terms of exercise frequency and duration of exercise leading to dysfunction in the hiothalamus leading to impairment of GnRH pulsatility that may inhibit FSH secretion. Suggestions: The suggestions that can be given here is necessary for further research with a larger sample size and consider the psychological condition and nutritional status of respondents Keywords: Dismenorhea, frequency of exercise
PENGARUH IMD DENGAN PERDARAHAN IBU 2 JAM POST PARTUM DI KOTA SEMARANG -, Pawestri; Khayati, Nikmatul
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Prosiding Seminar Nasional Publikasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problem of postpartum hemorrhage needs to be a serious handling one of them with the increase of hormone oxytocin which has an important role in stimulating uterine smooth muscle contraction so that bleeding can be handled. Oxytocin hormone can be stimulated through Early Breastfeeding Iniaiation (IMD) because early initiation of breastfeeding is one of the factors affecting uterine involution where breastfeedingoccurs stimulation and release of hormones such as oxytocin hormone which causes contraction and retraction of uterine muscle. This will suppress the blood vessels resulting in decreased blood supply to the uterus. This process helps to reduce the site or place of placental implantation and reduce bleeding. The purpose of this study was to determine the effect of IMD on the number of maternal bleeding 2 hours postpartum DiKota Semarang. This type of research is and observational study using a prospective cohort design where this study compares the effects of exposed groups and the effects of unexposed groups. The sample in this study were 90 post partum mothers. Data processing is done by computerization. The data are presented in the form of frequency distribution and then tested by independent t-test, correlation and regression test to determine the effect of the relationship between the two variables. Result of research Amount of mother bleeding 2 hour post partum done initiation feeding Early average 87,20 ml with standarddevias 17,617. Number of 2-postpartum maternal bleeding not initiated 143 ml early initiation with standard deviation of 33.86. The statistical test results showed that there was an effect of IMD with 2 hours post partum bleeding with (p <0,00). There was a significant difference between the number of maternal bleeding 2 hours posr partum performed IMD action with the amount of mother's mother 2 hours post partum that is not done IMD. Efforts to reduce maternal mortality due to post partum hemorrhage by doing IMD ditatanan health services that help childbirth.Keywords: Early Breastfeeding Initiation, Labor, Bleeding