Marzuki -
Jurusan Fisika Universitas Andalas

Published : 7 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Fisika Unand

PENGGUNAAN TRANSFORMASI WAVELET UNTUK MENGANALISIS OSILASI INTRAMUSIMAN CURAH HUJAN DI KOTOTABANG

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 3: Juli 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.287 KB)

Abstract

ABSTRAKTransformasi wavelet telah digunakan untuk menganalisis osilasi intramusiman (Madden-Julian Oscillation-MJO) curah hujan harian selama 11 tahun (2002-2012) yang terekam oleh Optical Rain Gauge di Kototabang, Sumatera Barat, Indonesia dengan tiga mother wavelet, yaitu Mexican Hat, Morlet, dan Paul. Berdasarkan global spektrum, ketiga mother memperlihatkan periode osilasi intramusiman yang tidak konstan setiap tahunnya. Mexican Hat memperlihatkan time series spektrum rata-rata yang lebih mendekati pola indeks MJO, tetapi periode MJO dari global spektrumnya melebihi periode dominan MJO pada literatur (40-60 hari). Untuk periode osilasi, Morlet memberikan hasil yang lebih mendekati literatur. Dengan demikian, tidak ada mother yang paling optimum dalam memodelkan MJO. Hasil penelitian ini memperlihatkan kelemahan transformasi wavelet untuk memodelkan osilasi yang relatif singkat. Untuk osilasi ini, spektrum global dari data pengamatan yang panjang tidak mampu memperlihatkan periode osilasi karena keberadaan osilasi musiman dan tahunan akan mendominasi sehingga menekan osilasi intramusiman. Osilasi intramusiman lebih jelas terlihat ketika data dipersingkat misalnya per tahun.  Kata kunci : transformasi wavelet, Kototabang, curah hujan, MJOAbstractWavelet transform had been used to analyze the intraseasonal oscillation (Madden Julian Oscillation, MJO) of rainfall data that collected by an Optical Rain Gauge aloong 11 years (2002-2012) at Kototabang, West Sumatera, Indonesia with three mother wavelet (Mexican Hat, Paul, dan Morlet). The global spectrum of the three mothers showed that the oscillation period was not constant every year. The time series of Mexican Hat was more similar to that of MJO index than two other  mothers, but its MJO periode of global spectrum was longer than the dominant periode of MJO in the literature (40-60 days). For the oscillation periode, the Morlet provided the result that was closer to literature. Thus, we can not conclude the most optimum mother to model the MJO. This study found a limitation of wavlet transform to analyze high frequency oscillation such as MJO in which global spectrum of long data record can not visualize the periode of such oscillation. This phenomenon was due to the lower frequency oscillation such as seasonal and annual oscillations dominating the global spcetrum and supressing the high frequency oscillation. The high frequency oscillation was  more robust when the data period was shorther for example one year.Keywords: wavelet transform, Kotabang, rainfall, MJO

TINJAUAN KEADAAN METEOROLOGI PADA BANJIR BANDANG KOTA PADANG TANGGAL 24 JULI 2012

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.276 KB)

Abstract

ABSTRAKKeadaan meteorologi selama banjir bandang di Kota Padang tanggal 24 Juli 2012telah dianalisa. Analisa berdasarkan kepada data curah hujan yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Sicincin (BMKG), Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumatera Barat, satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), pergerakan awan dari Multi-functional Transport Satellite (MTSAT) dan data meteorologi dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) danNational Center for Atmospheric Research (NCAR). Penelitian ini memperlihatkan bahwa banjir bandang yang terjadi di Padang pada tanggal 24 Juli 2015 tidak disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Hujan yang terjadi hanya berkisar 13 mm/hari. Hujan ini tidak disebabkan oleh faktor global seperti Madden–Julian oscillation (MJO), El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan monsun. Dengan demikian, hujan ini kemungkinan disebabkan oleh sirkulasi lokal (land-sea breeze). Sebelum terjadinya banjir bandang kemungkinan telah terbentuk bendungan alami di sekitar bukit pada kawasan banjir bandang. Dengan sedikit saja tambahan air, bendungan ini menjadi longsor yang menyebabkan banjir bandang.Kata kunci : banjir bandang Padang,land-sea breeze, Madden–Julian oscillationAbstractMeteorological condition during the Padang flash flood occurred on July 24, 2012 has been analyzed. The analysis was based on the rainfall data from Indonesian Agency for Meteorological, Climatological and Geophysics, West Sumatra Agency for Water Management, Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) satellite, cloud propagation from Multi-functional Transport Satellite (MTSAT) and meteorology data from the National Centers for Environmental Prediction (NCEP) and National Center for Atmospheric Research (NCAR) reanalysis. It was found that the flash flood was not due to the heavy rain. The rainfall intensity during theflash flood was only about 13 mm/h. This rain was not from the global phenomena such as Madden–Julian oscillation (MJO), El Niño Southern oscillation (ENSO) and monsoon. It may be formed by the local phemomenon such as land-sea breeze. A natural dam may have been created before the flash flood and it would be easily broken when the light rain occurred.Keywords :Padang flash flood, land-sea breeze, Madden–Julian oscillation

PENGAMATAN ANOMALI TEMPERATUR DAN AWAN GEMPA YANG MENGIRINGI GEMPA ACEH 2004 DAN GEMPA SUMATERA BARAT 2007

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 3: Juli 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.113 KB)

Abstract

ABSTRAKAnomali temperatur dan awan gempa yang mengiringi gempa bumi yang terjadi di  Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 dan di Sumatera Barat pada tanggal 6 Maret 2007 telah diteliti menggunakan data temperatur tanah dan permukaan air laut  dari Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) dan data awan dari Multi-functional Transport Satellite (MTSAT). Data temperatur udara dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) dan National Center for Atmospheric Research (NCAR) juga digunakan untuk memastikan bahwa anomali temperatur tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas cuaca. Anomali temperatur diamati selama 5 tahun sebelum terjadinya gempa dan awan gempa diamati menggunakan data selama 3 bulan sebelum gempa.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kenaikan temperatur permukaan air laut dan tanah baik untuk gempa Aceh maupun gempa Sumatera Barat terjadi setelah gempa. Nilai anomali temperatur pada gempa Aceh masih lebih rendah dari batas nilai sebagai prekursor gempa bumi (< 2 K). Untuk gempa Sumatera Barat, nilai anomali temperatur berada dalam batas nilai sebagai prekursor gempa bumi (> 2 K), tetapi anomali temperatur tersebut terjadi hampir setiap tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa anomali temperatur yang terjadi bukan disebabkan oleh aktivitas seismik, melainkan sebuah siklus tahunan. Untuk kasus awan gempa, pada kedua gempa tidak ditemukan adanya kemunculan awan gempa sebelum gempa terjadi. Namun, pada gempa Aceh terlihat pola awan yang agak mirip dengan awan gempa, tetapi setelah diamati lebih detil awan ini merupakan sisa dari awan konvektif yang terjadi sebelumnya.Kata kunci : anomali temperatur, awan gempa, gempa Aceh 2004, gempa Sumatera Barat 2007AbstractTemperature anomaly and earthquake cloud associated with the Aceh earthquake occurred on December 26, 2004 and the West Sumatra earthquake occurred on March 6, 2007 had been studied by using the land and the sea surface temperature data from the Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) satellite and cloud propagation data fromMulti-functional Transport Satellite (MTSAT). The atmosphere temperature from National Centers for Environmental Prediction (NCEP) and National Center for Atmospheric Research (NCAR) reanalysis data were also used to confirm that temperature anomaly was not caused by a weather activity. The data during 5 years and 3 months, for temperature and cloud respectively, before the earthquake were analyzed.  The results showed that the increases of land and sea surface temperatures for the two earthquakes occurred after the earthquake. The value of temperature anomaly for Aceh earthquake were still lower than the limit value for the earthquake precursor (< 2 K). For the West Sumatra earthquake, the value of temperature anomaly was in the limit value for the earthquake precursor (> 2 K). However, this characteristic was also observed in other periods not only during the year of the earthquake. It indicated that such temperature anomaly was not due to the seismic activity. The results also showed that the earthquake cloud was not observed before the two earthquakes.  Before the Aceh earthquake, an earthquake cloud-like was observed. However, more detailed investigation on this cloud showed that this cloud was a residual of convective cloud that occurred before.Keywords: temperature anomaly, earthquake cloud, Aceh earthquake 2004, West Sumatra earthquake 2007

PENGARUH BADAI TROPIS HAIYAN TERHADAP POLA HUJAN DI INDONESIA

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2234.729 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menganalisis dampak tidak langsung badai tropis Haiyan (4 – 11 November) terhadap pola curah hujan di Indonesia dengan menggunakan data temperatur, kelembaban relatif (RH), dan pergerakan udara vertikal (omega) dari National Centers for Environmental Prediction and the National Center for Atmospheric Research (NCEP-NCAR) Reanalysis, data curah hujan dari satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), dan radiasi gelombang panjang (Outgoing Longwave Radiation, OLR) dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa badai tropis Haiyan mempengaruhi sebagian wilayah Indonesia, terutama Papua. Kondisi meteorologis dan awan memperlihatkan bahwa hujan di daerah Papua selama periode 4 – 11 November dipengaruhi oleh badai tropis Haiyan dimana puncak total curah hujan teramati selama badai dan menunjukkan penurunan sebelum dan sesudahnya. Untuk kawasan Indonesia bagian barat seperti Jawa dan Sumatera, pengaruh badai terhadap total curah hujannya tidak teramati dengan jelas. Oleh karena itu peningkatan curah hujan selama periode 4 – 11 November untuk kawasan ini bukan disebabkan oleh badai tropis Haiyan tetapi kemungkinan disebabkan oleh faktor lain seperti monsun, Madden – Julian Oscillation dan fenomena lokal.Kata kunci : Haiyan, TRMM, BMKG, hujan.AbstractIn this work the indirect impact of tropical storm Haiyan (November 4 to 11) on the Indonesian rainfall pattern was investigated by using the temperature, relative humidity, and vertical velocity data of National Centers for Environmental Prediction and the National Center for Atmospheric Research (NCEP-NCAR) Reanalysis, ranfall data from Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) satellite, and outgoing longwave radiation (OLR) from National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). It was found that tropical storm Haiyan partially influenced the Indonesian rainfall pattern particularly around Papua in which the peak of rainfall was observed during the mature stage of the storm. For the western region of Indonesia such as Java and Sumatra, the influence of the storm on the total rainfall was not observed clearly. Therefore, an increase in rainfall during November 4 - 11 for such regions was not caused by the tropical storm but may be caused by other factors such as the monsoon, the Madden-Julian Oscillation and local phenomenon.Keywords : Haiyan, TRMM, BMKG, Indonesia rainfall.

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI UKURAN BUTIRAN HUJAN DI PADANG DAN DI KOTOTABANG

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 3: Juli 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3569.084 KB)

Abstract

ABSTRAKDistribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (RDSD) di Padangdan di Kototabang, Sumatera Barat,  telah dibandingkan.  Perbandingan dilakukan melalui pengamatan particle size velocity (Parsivel) selama Maret 2014 – Mei 2015 untuk Padang dan Januari 2014 – Januari 2015 untuk Kototabang.  RDSD dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen.  Terlihat bahwa intensitas curah hujan yang tinggi lebih banyak di Padang daripada di Kototabang.  Selain itu, butiran hujan yang berukuran besar di Padang lebih banyak daripada di Kototabang.  Banyaknya butiran hujan yang berukuran besar ini berdampak pada nilai radar reflectivity (Z) di Padang yang sedikit lebih besar dari Kototabang untuk intensitas curah hujan yang sama.  Karena itu nilai koefisien A yang ada dalam persamaan Z-R di Padang juga sedikit lebih besar dari Kototabang.  Sedikitnya perbedaan karakteristik RDSD antara Padang dan Kototabang, disebabkan oleh hujan yang terjadi  di Padang dan di Kototabang kemungkinan berasal dari awan konvektif yang sama, yaitu awan dari Samudra Hindia.  Awan tersebut mengalami proses yang berbeda di Kototabangdisebabkan oleh adanya pegunungan di sekitar daerah ini sehingga menimbulkan hujan dengan RDSD yang agak berbeda dengan di Padang. Kata kunci: raindrop size distribution, metode momen, Parsivel, Padang, KototabangAbstractCharacteristics of raindrop size distribution (RDSD) in Padang and Kototabang have been compared through particle size distribution (Parsivel) observation during March 2014 – May 2015 for Padang and January 2014 – January 2015 for Kototabang.  The RDSD was parameterized by the modified gamma distribution and its parameter was calculated by the moment method.  It was found that the occurrence frequency of heavy rain in Padang is higher than Kototabang.  Moreover, rains in Padang have more large-sized drop than Kototabang.  As consequence, the radar reflectivity factor (Z) in Padang was slightly larger than Kotabang for the same rainfall rate.  A small difference in the RDSD between Padang and Kototabang may indicate that the precipitating cloud of the two regions is the same, i.e., same origin (Indian Ocean).  However, the cloud will undergo different process when it reaches Sumatera.  At Kototabang, it will be influenced by the mountain around this region which can cause orographic precipitation.  The orographic precipitation is characterized by the large concentration of small size drops as found at Kototabang in this study.Keywords: raindrop size distribution, moment method, Parsivel, Padang, Kototabang

ANALISIS PENGARUH EL NINO SOUTHERN OSCILATION (ENSO) TERHADAP CURAH HUJAN DI KOTO TABANG SUMATERA BARAT

Jurnal Fisika Unand Vol 3, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.775 KB)

Abstract

ABSTRAKCurah hujan merupakan parameter yang tingkat variabilitasnya tinggi terhadap lokasi maupun waktu yang disebabkan oleh faktor lokal maupun global. Di dalam tugas akhir ini diteliti pengaruh El Nino Southern Oscillation (ENSO) terhadap curah hujan di Koto Tabang, Sumatera Barat tahun 2002-2012 yang terekam oleh Optical Rain Gauge (ORG). Pengaruh ENSO terlihat jelas dari hujan bulanan yang menyebabkan dua puncak hujan yaitu pada Oktober-November dan Maret-Mei. Lebih dari 70% total curah hujan yang terjadi di Koto Tabang berasal dari hujan jam 12-24 dengan puncak pada jam 16-17 WIB. Secara keseluruhan nilai intensitas curah hujan dari hasil pengamatan untuk persentase <0,01% lebih kecil dari rekomendasi ITU-R. Kesesuaian antara hasil pengamatan dan rekomendasi ITU-R hanya terlihat pada fasa La Nina kuat. Untuk fasa El Nino, perbedaan intensitas curah hujan hasil pengamatan dengan rekomendasi ITU-R menjadi lebih besar untuk persentase <1%.Kata kunci : El Nino Southern Oscilation (ENSO), Optical Rain Gauge (ORG),  ITU-RAbstractRainfall has strong variability both spatial and temporal which is due to local and global factors. This thesis is devoted to investigate the impact of El Nino Southern Oscillation (ENSO) on the rainfall at Koto Tabang, West Sumatera using data 2002-2012 recorded by an Optical Rain Gauge (ORG). The effect of ENSO on Koto Tabang rainfall can be observed clearly from monthly data in which ENSO generates two peaks of rainfall, i.e., October-November and March-May. Approximately 70% of the rainfall amount comes from 12-24 local time with a peak around 16-17. In general, the cumulative distribution of measured rain rates at small time percentages (<0,01%)  is smaller than that obtained from the ITU-R model. A fairly good agreement between measurement and ITU-R model was observed during strong La Nina phase. Significant differences between the recorded data and the ITU-R model are seen during El Nino phase.Keywords : El Nino Southern Oscilation (ENSO), Optical Rain Gauge (ORG), ITU-R