Ramlan ,
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 17.5 Sudiang Makassar Sulawesi Selatan
Articles
2
Documents
‚Äč
EFEKTIVITAS PUPUK MAJEMUK DAN ASAM HUMAT PADA BUDIDAYA KENTANG DI KABUPATEN GOWA SULAWESI SELATANFadjry Djufry

Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Effectiveness of Compond Fertilizer and Humid Acid in Potato Cultivation in the Gowa District, South Sulawesi. The organic fertilizer recommendation for potato cultivation ranged 10-30 t/ha. This dose is too high, because the farmers has to bear high cost for other agroinput and labor. Application of humic acid (HA) is one alternative that can replace the function of organic fertilizer. When it is compared to organic manure, HA is faster in fertilizing the soil 10 times or 200 times more efficient than that of manure (50 kg of HA is equivalent to 10 t ha of manure). The use of HA is expected to increase the efficiency use of NPK 25-50%. This study aimed to determine proper doses of Super NPK fertilizer and HA that gave the highest growth and yield of potatoes. The experiment was conducted in the Village Pattapang, District Tinggi Moncong, Gowa regency, South Sulawesi, at an altitude of 1,100 m above sea level on June through December 2011. The research used split plot design with three replications. The main plot consisted three levels of NPK Super, i.e. 300 kg/ha, 450 kg/ha and 600 kg/ha. Subplot HA comprised three levels that were 0, 0.75%, and 1.5%. The results showed that the application of various doses and percentages of Super NPK and HA had no effect on plant height, but it did with the width of the canopy and the production of potato plants. Highest potato production obtained in Super NPK fertilization 300 kg / ha and HA 1.5% (16.47 t/ha). Application of HA on the potato crop fertilization was able to save of NPK fertilizer up to 50%. Application of Super NPK at 300 kg/ha + 1.5% HA was able to give a profit of Rp73.481.339/ha with the RC ratio of 2.75.Keywords: Potato, compound, humic acid, effectiveness, farming analysisABSTRAKRekomendasi pupuk organik untuk usahatani kentang yang berkisar antara 10-30 t/ha dirasakan terlalu berat oleh petani, karena akan membutuhkan biaya cukup tinggi untuk membeli agroinput lainnya. Aplikasi asam humat (AH) merupakan salah satu alternatif yang dapat menggantikan fungsi pupuk organik. Jika dibandingkan dengan pupuk kandang, asam humat lebih cepat menyuburkan tanah 10 kali atau 200 kali lebih efisien dibandingkan pupuk kandang (50 kg asam humat setara 10 t pupuk kandang). Penggunaan AH diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pupuk NPK sekitar 25-50%. Penelitian ini bertujuan, mendapatkan takaran pupuk NPK Super dan AH yang tepat terhadap pertumbuhan dan produksi kentang. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dengan altitud 1.100 m dpl. Penelitian dilaksanakan pada Juni hingga Desember 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama terdiri atas tiga level pupuk NPK Super, yaitu 300 kg/ha, 450 kg/ha, dan 600 kg/ha. Anak petak terdiri atas tiga level HA, yaitu 0; 0,75%; dan 1,5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi berbagai dosis NPK Super dan presentase HA tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, tetapi berpengaruh nyata terhadap lebar kanopi dan produksi tanaman kentang. Produksi kentang tertinggi diperoleh pada perlakuan pemupukan NPK Super 300 kg/ha + AH 1,5%. Penambahan AH pada tanaman kentang dapat menghemat penggunaan pupuk NPK sebesar 50%. Usahatani kentang dengan pemupukan NPK Super 300 kg/ha + AH 1,5% dapat memberikan keuntungan Rp73.481.339/ha dengan RC rasio 2,75.Kata kunci: Kentang, pupuk majemuk, asam humat, efektivitas, analisis usaha tani

PERBUATAN MELAWAN HUKUM PENANAMAN MODAL ASING BIDANG USAHA PERIKANAN DI INDONESIA

YUSTISIA No 94 (2016)
Publisher : YUSTISIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe aim of this study was to determine the forms of tort committed by foreign direct investment companies which engaged in the field of fisheries in Indonesia. Fisheries in Indonesia has been 100 percent controlled by a foreign direct investor company. Ironically, many those companies committed unlawful act. This study was a normative legal research using legislation approached. The data was secondary one. The collection of those data through the library research, then analyzed qualitatively. An unlawful act committed by foreign direct investment company were: the legal status of companies that do not turn into foreign direct invesment company, a fictitious company, they were not building fish proccessing units, fishing gear that does not fit, transiphment, and violations of fishing ground. This act led to over fishing in some areas of Indonesia fisheries management.Keywords: unlawful act, foreign direct investment company, fisheries.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perusahaan penanam modal asing (PMA) yang bergerak di bidang perikanan di Indonesia. Usaha penangkapan ikan di Indonesia 100 persen dikuasai oleh perusahaan penanam modal asing. Namun ironisnya, banyak penanam modal asing yang melakukan perbuatan melawan hukum. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan penelitian perundang-undangan. Data yang digunakan adalah data sekunder. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui bahan kepustakaan, selanjutnya dianalisis secara kualitatif. Perbuatan melawan hukum yang dilakukan perusahaan penanam modal asing adalah: status hukum perusahaan yang tidak berubah menjadi PMA, perusahaan fiktif, tidak membangun UPI, alat tangkap ikan yang tidak sesuai, transiphment, dan pelanggaran fishing ground. Perbuatan ini menyebabkan terjadinya over fishing di beberapa wilayah pengelolaan perikanan Indonesia.Kata kunci: perbuatan melawan hukum, penanaman modal asing, usaha perikanan.